Jumat, 30 Agustus 2013

Semacam Duta Pariwisata

Saya menyeret langkah lunglai menuju pesawat Jetstar dari Darwin menuju Denpasar, Bali. Setelah melalui perjalanan nyaris 7 jam dari Sydney menuju Darwin ditambah akumulasi kegiatan fisik yang maksimal selama 2 minggu membuat otot-otot di sekujur tubuh saya menjerit kaku dan ngilu.

Di lorong pesawat, pramugari berwajah oriental membantu mengantar saya ke tempat duduk, diantara dua orang lelaki bule. Di sebelah kanan saya ada seorang lelaki yang tampaknya sangat tinggi sampai-sampai kelihatan kesulitan menekuk kakinya diantara ruang bangku yang sempit. Wajahnya tampan dengan struktur yang menimbulkan kesan macho gitu, kulitnya kecoklatan akibat terpapar matahari. Di sebelah kiri saya ada seorang lelaki yang mukanya Australia banget, rambut pirang, berkulit putih pucat dengan flek-flek coklat. Bau bir nya itu seakan-akan dia habis mandi berendam dalam 3 galon bir.

Saya mulai mengeluarkan iPad dan main game sembari melirik-lirik ke sebelah kanan saya, ke arah pria ganteng itu. Dia hanya tampak melamun memandang jauh keluar jendela yang gelap, saat itu waktu sudah menunjukan sekitar pukul setengah 7 malam waktu Darwin. Sementara di sebelah kiri saya, si pria Australia tampak gelisah membolak-balik majalah sambil kakinya tak henti-henti goyang-goyang.

Di tengah perjalanan pramugari membagi-bagikan selembar formulir Custom Declaration. Pria tampan di sebelah kanan saya akhirnya bicara, mau pinjam bolpoin. Saya segera menyerahkan bolpoin saya, berikut bonus senyuman termanis. Kalau saja dia meminta saya memberikan jiwa raga ini saya pasti bersedia, sayangnya tidak.

Pria pirang di sebelah kiri saya juga tiba-tiba ikut nimbrung, mau pinjem bolpoin juga. Aksen Ausie nya kental sekali dan bau bir nya semakin pekat tercium ketika dia berbicara, saya yang tidak suka banget bau bir jadi sebel. Kenapa sih si cowok ini menganggu aja, bisa ga sih dia pergi saja dan meninggalkan saya berdua dengan si cowok kece yang tinggi dan berkulit tanning persis seperti prince charming dambaan saya ini?

Tapi saya tetap mengangguk tanda setuju meminjamkan bolpoin saya.

“Where do you come from?” tanya saya membuka percakapan dengan cowo kece itu.

“France,” katanya dengan logat perancis yang kental.

“Wow,” ucap saya sambil membayangkan diri saya berjalan berdua bergandengan tangan dengan pria tampan dihadapan saya ini di depan menara Eifel. Tiba-tiba muka saya jadi merah sendiri,” Saya pernah kursus bahasa prancis 6 bulan, tapi satu-satu nya kata yang saya bisa cuman Je Mapele Mila.”

Pria ganteng itu pun mengalihkan pandangannya dari formulir CD yang lagi di oret-oretnya dan tertawa dengan manis di depan muka saya,”Hahaha.. nice,” katanya sambil mengulurkan tangan, “Hi Mila, my name is nick”

Saya meleleh.

“I’m Mark,” tiba-tiba dari sebelah kiri saya ada celetukan,” ini pertama kali saya naik pesawat makanya saya nervous sekali.” Kakinya terus goyang-goyang gelisah.

Dalam hati saya, gue harus bilang wow gitu kalo ini pertama kalinya lu naik pesawat?

Si cowok ganteng itu ternyata berasal dari suatu desa kecil di perbatasan Perancis, dia menunjukan posisi desa nya di peta prancis yang ada di paspornya. Saya menduga dengan kesoktau-an tingkat kelompencapir mungkin dia masih ada keturunan Algeria gitu, karena bentuk-bentuk mukanya cowok ini setipe sama pemain bola Perancis Zinedine Zidane yang juga keturunan Algeria.

Dia bukan sekedar traveling ke Australia, tapi juga sekalian mau mengadu nasib mencari pekerjaan dan kalau bisa tinggal lama di Australia. Menurutnya Benua yang terletak ratusan kilometer dari desa kecilnya itu lebih prospektif dibandingkan di Perancis. Eropa sudah terlalu padat penduduk sehingga persaingannya ketat, mencari pekerjaan dengan upah yang layak pun menjadi semakin sulit disana.

Sementara di Australia, menurut dia, walaupun biaya hidup lebih tinggi tapi lebih banyak pekerjaan tersedia dengan upah yang reasonable sehingga bisa menutup biaya hidup yang tinggi itu.

“Jadi, biaya hidup di Australia lebih tinggi dibandingkan di Eropa?” saya agak terkejut mendengarnya.

“Ya, Australia is very very expensive,” katanya.

Oke, pernyataan ini membuat saya semakin memantapkan niat untuk nekat ke Eropa.

Nick sudah pernah keliling benua Eropa, tempat favoritnya adalah Itali. Orang nya ramah-ramah, makanannya enak-enak dan relatif lebih murah dibandingkan Perancis. Baiklah, Itali officialy  masuk ke dalam list Eurotrip saya nanti. “But, this is my first time to Bali,” katanya dengan bahasa Inggris aksen Perancisnya.

Hmm.. saya mulai iri dengan orang-orang yang beraksen gitu, menurut saya kalau bahasa Inggris dicampur aksen dari bahasa eropa sana, kesannya jadi sophisticated. Saya pernah bertemu dengan orang Amerika di Thailand yang menanyakan kenapa beberapa orang-orang dari Indonesia, khususnya yang muda-muda (berarti tidak termasuk saya) bahasa Inggrisnya bergaya Amerika.

Saya berusaha menjawab walau kurang yakin, “Ya mungkin karena sebagian besar anak-anak muda jaman sekarang di tempat saya pada kursus bahasa Inggris di Lembaga Inggris Amerika dan nonton Glee?” 

Nick ternyata mau liburan ke Bali bersama teman-temannya, tapi teman-temannya sudah duluan disana.

“Ini pertama kalinya saya ke Bali juga,” si Aussie di sebelah kiri saya yang sedari tadi tampak menguping pembicaraan dan menunggu momen untuk menyelak masuk tiba-tiba mengeluarkan suara. Kakinya tetap masih bergoyang-goyang gelisah. “Kamu liburan juga ke Bali?” tanyanya.

“Oh, saya hanya transit di Bali, sebenarnya saya mau pulang ke Jakarta”

“Jakarta, dimana itu?”

Sabar..sabar..elus-elus dada..

“Jakarta itu ibukota nya Indonesia.”

“Oh..,” katanya mengangguk-angguk sembari menatap kosong kursi didepannya, kemudian kembali  mengalihkan pandangannya ke saya,”Dimana itu Indonesia?”

Hwaaaaaah… gue tendang juga nih bule.

“Indonesia itu adalah suatu negara. Bali itu adalah suatu pulau bagian dari negara Indonesia. Dan Ibukotanya negara Indonesia itu adalah kota Jakarta,” saya berbicara lambat-lambat menyesuaikan dengan spesifikasi prosesor di otak si bule dongdong di kiri saya yang kayaknya belom pentium.

“Saya punya teman di Jakarta,” Nick menyambung pembicaraan saya, sementara Mark masih dengan tatapan kosong berusaha mencerna ucapan saya. “Katanya disana macetnya parah.”

Sekalinya ada yang tau Jakarta yang pertama terlintas adalah soal kemacetannya. Oh well, semua orang juga berpikiran begitu kan kalau lagi berbicara tentang New York?

Beberapa kali saya bertemu orang asing di perjalanan yang tidak mengerti Indonesia itu ada dimana, kadang sebagai orang Indonesia saya sebel juga karena tanah tumpah darah saya ternyata tidak terkenal sedunia. Kadang saya jadi semacam duta pariwisata yang berusaha menjelaskan bahwa tidak hanya Bali yang ada di Indonesia, tapi 5 ada pulau besar dan Bali itu hanya pulau kecil di Indonesia. Sekaligus saya ceritakan macam-macam objek wisata menarik di darat maupun di lautan.

Teman saya yang orang kanada, sepupu nya sekolah di Amerika, katanya orang-orang Amerika itu sangking sombongnya jadi ignorant gitu, di sekolah dasar nya yang dipajang hanya peta Amerika doang, floating out of nowhere. Tapi itu kan kata dia, saya yang belum pernah ke Amerika ya percaya aja katanya begitu. Sebelum saya menuduh orang itu ignorant karena tidak tahu negara asal saya, yah saya positif thinking aja mungkin orang-orang yang tidak tahu Indonesia itu tertidur pas pelajaran geografi ketika lagi membahas negeri-negeri di South East Asia.

Sama seperti saya, yang selalu tertidur pas pelajaran geografi dan akhirnya jadi buta peta.

Pada suatu hari ada fiancé nya teman saya dari Amerika yang bilang kalau dirinya bukan asli dari Amerika tapi dia sebenarnya Hispanic. Asalnya dari Puerto Rico. Waktu itu saya berusaha memetakan dalam bayangan dimana lokasi Puerto Rico dan gagal total, atau kalo istilah Justin Bieber nya Epic Fail.

Kemungkinan besar itu yang terjadi pada cowok yang baru pertama kali naik pesawat dan baru pertama kali keluar dari tempurung pulau raksasa tempat tinggalnya, buta peta. Dia mungkin akan menjadi orang Aussie yang liburan ke Bali tanpa tahu tahu lokasi nya dipeta, pokoknya tempat dimana dia bisa minum bir sepanjang hari di suatu pulau eksotis.

Tapi mudah-mudahan dengan dia bertemu saya di pesawat setidak-tidaknya ilmunya nambah, kalau pulau Bali itu ada di negara Indonesia. Teman saya pernah bilang, “Dengan traveling itu, mau ga mau wawasan kita mesti bertambah. Suka atau tidak.”

Nah Mark, sekarang wawasan mu bertambah, suka atau tidak.

Pengumuman dari pilot yang menginformasikan ketinggian pesawat, kecepatan pesawat, kondisi cuaca dan perbedaan waktu menandakan bahwa sebentar lagi kita sampai di Bali.

Iseng-iseng saya mengajarkan sedikit bahasa Indonesia kepada mereka. “Se la mat da tang, artinya ‘Welcome’.”

Mereka pun mencoba mengikuti dengan terbata-bata, “Se la …..”

“Se la mat,” ucap saya lebih pelan, “da tang”

“Se la mat da tang,” ucap keduanya nyaris berbarengan.

“Selamat datang,” dan kita bertiga pun bertepuk tangan, sementara penumpang-penumpang lain memperhatikan tiga orang yang berisik di bangku tengah.

“Oke, sekarang ‘Thank You’ bahasa Indonesianya…….” Saya pun melanjutkan kursus singkat Bahasa Indonesia kepada kedua teman baru saya itu. 

Senin, 12 Agustus 2013

Masjid Demak, Pertama di Pulau Jawa

Sejarah Modern Indonesia dimulai sejak masuknya Islam ke wilayah kepulauan ini. Masa sebelum-sebelumnya, ketika kerajaan Hindu Buddha berjaya itu namanya jaman sejarah klasik. Umumnya ajaran Islam menyebar melalui kegiatan perdagangan, jadi mulainya biasanya selalu dari wilayah pesisir yang banyak interaksi dengan pedagang muslim dari belahan dunia lain. Kerajaan Islam pertama adalah Samudra Pasai yang terletak di ujung utara Sumatera. Sedangkan di pulau Jawa, kerajaan Islam pertama muncul di wilayah Kerajaan Majapahit di masa-masa keruntuhannya bernama Kerajaan Demak. 

Kerajaan Demak yang terletak di wilayah pesisir utara Pulau Jawa adalah kerajaan maritim yang maju di bidang perdagangannya. Raja-rajanya yang terkenal ada Raden Patah, Sultan Trenggana dan Pati Unus. Di jaman Sultan Trenggana, Demak mengirimkan Fatahilah dan Maulana Hasanuddin untuk merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis dan berhasil. Maulana Hasanuddin, yang masih keponakannya Sultan Demak membangun Kerajaan Islam baru di bagian barat pulau Jawa, bernama Kerajaan Banten.

Tidak seperti Kerajaan Banten yang masih ada sisa-sisa reruntuhan keratonnya, Kerajaan Demak keraton nya masih merupakan teka teki besar. Yang masih megah berdiri di Demak adalah Masjid pertama di Pulau Jawa yang dibangun oleh 9 orang tokoh penyebar Islam di Indonesia yang bernama Wali Songo. Kisah penyebaran Islam oleh para Sunan yang tergabung dalam Wali Songo ini sering di bumbui oleh kisah mistis dan supranatural, jadi konon katanya Masjid ini dibangun oleh ke-9 orang sakti ini hanya dalam waktu satu malam. 

Masjid Gaya Jawa

Menara Masjid

Dari Depan

Situs Kolam Wudlu, gak ngerti juga apa maksudnya

Karena kebetulan beberapa bulan belakangan ini saya ada kerjaan di daerah Jepara dan selalu berangkat dari arah Semarang, jadi sering melewati Masjid Agung Demak ini. Masjidnya kelihatan humble dan sederhana, di depannya terbentang alun-alun kota yang ramai di sore hari. Kota Demak sendiri itu kalau sekarang sih saya bilang termasuk kota kecil. Tapi di sini - di Masjid sederhana di pojok kota kecil ini, ternyata titik awal merambatnya pengaruh Islam hingga ke ujung barat dan ujung timur Pulau Jawa. 500 tahun kemudian Pulau Jawa telah menjadi salah satu pulau  yang terpadat penduduknya  di dunia dengan populasi muslim mayoritas banget.
 
Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir batin ya teman-teman blogger sekalian. *kecupjawuh
 

Selasa, 30 Juli 2013

Lebih baik dapat Kurma daripada dapat Karma

Banyak yang bilang kalau di Tanah Suci itu musti hati-hati sama perilaku dan ucapan, gak boleh sembarangan karena niscaya cepet dapet balesan disana. Jangankan yang dilakukan disana, banyak juga kan kita denger cerita orang-orang pulang dari melaksanakan ibadah Haji yang intinya apa yang di tanam di kehidupan sehari-hari itu yang bakal dituai disana.

Percaya gak percaya tapi saya sudah buktikan sendiri.

Ceritanya musti dari awal banget, supaya ga bingung.

Saya, Chacha dan Papa Said berada dalam rombongan umroh yang berjumlah sekitar 20-an orang. Hampir setengah dari anggota rombongan itu masih saudara Papa Said. Jadi mulai di hari pertama kita kumpul bareng-bareng sekeluarga itu. Tapi ada satu peserta yang ikut umroh sendiri, bapak-bapak dari daerah Jawa yang bahasa Indonesia nya kurang lancar.

Dari pertama muncul bapak itu mengenakan handuk kecil warna pink dilingkarkan di lehernya. Mulai berangkat dari Jakarta hingga tiba di Madinah. Ketika pembagian kamar hotel, bapak itu dapat satu kamar dengan salah satu famili Papa Said, sejak itu kemana-mana bapak itu ikut sama kita-kita. Hari kedua, bapak itu masih konsisten dengan handuk pink nya di leher. Kemudian salah satu om saya berinisiatif memberinya selendang kotak-kotak yang suka dipake orang arab itu, katanya untuk menggantikan handuk pink nya yang belel itu. "Mulai besok jangan pakai-pakai handuk lagi, dosa," kata om saya itu. Kita semua yang denger pun ketawa.

Dari Madinah kita menuju ke Mekkah. Di Mekkah sekeluarga Papa Said dapat semacam paviliun yang berisi 4 kamar. Plus bapak dari Jawa itu - yang kini sudah diganti namanya jadi Abdullah dan dikasih marga Al-Katiri sama om saya, ikut di dalam paviliun itu. Letak paviliun itu di lantai paling atas hotel yang kita tempati dan sepertinya punya manajemen terpisah dengan hotelnya walaupun berada di satu gedung. Kita tiba di Mekkah hampir tengah malam, saat itu di dalam kamar kita tidak ada handuk. Karena sudah malam, hotelnya menjanjikan akan mengantar handuk keesokan harinya.

Esok harinya ditunggu, handuk tidak datang-datang. Celakanya karena menganggap tinggal di hotel jadi kita gak bawa handuk dari rumah. Pihak penyelenggara travel pun ikut repot memintakan kita handuk ke hotel, tapi hari itu tetap tidak ada handuk yang datang. Begitu pula keesokan harinya. Saya terpaksa mengeringkan badan dengan kaos. hiks. 
 
Hingga di malam hari, di hari kedua itu Chacha menyadari jangan-jangan kita gak dapet handuk gara-gara di madinah kita ngetawain bapak itu pake handuk pink kemana-mana.

Tiba-tiba ada suara pintu di ketuk. Handuk pun datang.
 
Sehari sebelum pulang, ketika kita lagi di Gua Hira, Papa Said ngobrol-ngobrol sama bapak itu yang menggunakan bahasa Indonesia sepotong-potong dicampur bahasa Jawa. Ternyata di kampungnya, bapak itu termasuk salah satu orang yang berpengaruh, semacam tetua kampung gitu. Bapak itu juga ternyata seorang juragan yang punya lahan kebun luas banget. Saat itu juga kita denger dia telepon ke anaknya di kampung untuk menyiapkan acara penyambutan kepulangannya pake acara potong sapi segala. 

Walopun sekarang kalo diinget-inget, saya dan Chacha malah jadi ketawa ngakak gara-gara pengalaman itu, ya tetep aja gak enak dapet karma kayak gitu. Meningan juga dapet kurma. 

Kebon Kurma

Kurma belom mateng di pohon

Toko kurma boleh cobanin all you can eat

Jajan Kurma

Kamis, 18 Juli 2013

Perjalanan menuju Gua Hira

Amazing banget akhirnya saya bisa sampai dan melihat dengan mata kepala sendiri yang namanya Gua Hira. Disinilah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Kisah yang penting banget bagi sejarah Islam ini sudah saya dengar berkali-kali sejak kecil, akhirnya bisa melihat sendiri dengan langsung lokasi kejadiannya.

Bentuk gua nya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, lebih mirip batu-batu-an besar yang saling bertumpukan membentuk celah kecil di bawahnya. Letaknya juga tersembunyi di balik bukit, Jabal Nur. Kita harus mendaki bukit tersebut sampai puncak, kemudian turun lagi, masuk ke dalam celah sempit, baru tiba di Gua Hira. 

Sebenarnya berkunjung ke Gua Hira tidak ada dalam itinerary dari travel penyelenggara umroh kita. Namun salah satu anggota rombongan yang juga masih kerabat Papa Said bilang rugi banget kalau sudah sampai di Makkah gak lihat Gua Hira. Papa Said yang kaki gatel (bener kan turunan) langsung meng-iya-kan ajakan itu. Beliau sudah sering bolak-balik Arab dan sudah beberapa kali mengantar orang ke tempat itu, sebelumnya sudah diperingatkan kalau jalan menuju kesana berat banget tapi capeknya langsung hilang begitu sampai di Gua nya. 

Di suatu sore yang agak senggang di Makkah, saya, Chacha, Papa Said dan 5 lagi anggota rombongan umroh yang semua masih kerabat Papa Said berangkat naik taksi menuju Jabal Nur. Mendekati kaki bukit jalanan sudah mulai menanjak tajam tapi masih bisa di lewati taksi itu. Hingga di tempat yang tanjakannya super curam taksi yang mobilnya semacam Innova berisi penumpang 9 orang (termasuk sopir) sudah tidak mampu mendaki jalanan beraspal itu. Kami pun turun, sebelumnya janjian sama supir taksi untuk menjemput kita di tempat itu setelah Magrib. 

Tanjakan curam bukan kepalang itu gak nanggung-nanggung derajat kemiringannya. Memang sih palingan cuman 100 meter-an gitu tapi rasanya bener-bener pengen nerusin nanjaknya dengan merayap di aspal. Sampai di kaki bukit Jabal Nur, kita disambut rangkaian tangga berkelok-kelok hingga ke puncak. Tinggi nyaaaah, ampun. Saya hanya berharap semoga latihan fisik - jogging 5 km tiap minggu, yang telah saya lakukan beberapa bulan belakangan akan membantu saya disini.

Papa Said menyerah di sepertiga jalan mendaki tangga dan mempersilahkan yang muda-muda jalan duluan. Sementara di sepanjang jalan saya temui banyak orang yang kepayahan tapi tetap berusaha mengatur nafasnya dan menjejakkan kaki di anak-anak tangga batu yang kejam itu walaupun dengan betis yang keram dan kaku. Untungnya waktu itu sudah sore hari dan tidak terlalu panas, jadi saya masih bisa bertahan sambil sesekali memberi semangat kepada anggota rombongan lain. Dan untungnya lagi saya kesini pas udah dibikin tangga-tangga, sebelumnya tidak ada tangganya, jadi kalau mau naik harus memilih jalan sendiri di atas batu-batuan tajam, curam dan kering.

Kalau buat saya, mendaki banyak tangga model begini itu sebenarnya mirip sama kayak lari, yang penting gimana menjaga kecepatan konstan dan napas nya juga diusahakan konstan. Kadang karena terlalu konsentrasi mengatur kecepatan saya sadar kalau jarak saya sudah terlalu jauh sama rombongan yang masih terengah-engah nun jauh di bawah sana. Saat-saat itu dimana saya memutuskan duduk beristirahat, menunggu yang lain sambil menikmati pemandangan spektakuler dari atas bukit.

Pemandangan dari atas bukit

Sempat lihat sunset

Sunset nya cerah banget
Monyet menikmati sunset sambil minum softdrink

Sempet ada kejadian lucu di puncak bukit. Sunsetnya bagus banget, jadi saya dan Chacha yang sampai duluan foto-foto dulu sambil nunggu rombongan lain yang masih dibawah. Terus kita minta tolong difotoin sama Om-om India yang datang sama istrinya. Om India lagi bawa minuman softdrink gitu. Pas mau fotoin kita minumannya di taro diatas batu. Terus ada monyet dateng dengan muka polos gak berdosa, mengambil botol minuman yang terletak di atas batu itu, duduk dengan santai, kemudian membuka tutup botol dan menenggak isinya. Sementara Om India masih sibuk sama kamera buat motret kita ga nyadar minumannya udah diserobot monyet, kita pun hanya bisa speechless sambil nunjuk-nunjuk ke arah belakang si Om.

Sebenernya ketika kita sudah hampir sampai di puncak bukit, ada beberapa orang yang memperingatkan supaya menjaga barang bawaan kita soalnya ada monyet-monyet di atas. Saya langsung ngantongin kamera saya. Tapi karena pas kita sampai di puncak itu gak ngeliat ada monyet jadi bebas deh foto-foto. Setelah insiden monyet yang nyerobot minuman om-om India itu, baru deh banyak keluar monyet-monyet lain entah dari mana. Malahan salah satu dari kawanan monyet itu ada yang nyamber plastik isi makanan ringan yang dibawa sama istri Om India. Apes bener pasutri itu.

Sudah sampai di paling atas, kita harus turun lagi untuk ke Gua Hira nya. Dari atas sih sudah terlihat Gua nya. Tapi jalan masuk nya donk, ngeri. Kalau tidak ada tandanya pasti banyak orang bakal kelewat pintu masuknya. Itu cuman berupa celah sempit diantara tumpukan batu-batu yang kalau lewat musti dengan posisi ajaib jalan miring sambil nunduk-nunduk. Baru kemudian ada semacam ruang terbuka, mirip teras gitu di hadapan Gua Hira. 

Gua nya sendiri ukurannya kecil sekali. Saya lihat ada orang Sholat itu pas banget seukuran badannya. Dan katanya itu menghadap langsung ke Ka'Bah. Tapi saya tidak sempat masuk karena antrian nya panjang. Setelah foto-foto, saya dan Chacha balik duluan, nyusulin Papa Said yang ternyata lagi leyeh-leyeh di warung. Gak lama kita sampai di warung itu, Magrib dan kita sholat di situ. Warung nya keren banget, ke tidak matching-an perabotan di dalemnya justru semakin membuat ke eksotisan Timur Tengah nya berasa banget.

Gua Hira

Jalan masuknya

Di dalam warung

Pemandangan dari dalam warung

Arabian Night

Minggu, 14 Juli 2013

Minum Susu Unta

Dalam bus yang membawa rombongan umroh saya dari Jeddah menuju Madinah, melalui jendela yang saya lihat kanan kiri hanya pasir, batu-batu dan bukit-bukit batuan. Tidak ada pohon-pohon rindang, tidak ada pegunungan yang tampak hijau dari kejauhan, tidak ada aliran sungai yang sesekali membelah jalan raya di bawah jembatan. Hanya batu dan pasir. Dan serpihan debu-debu pasir yang terangkat oleh angin, berterbangan di atas permukaan aspal yang mulus. Ada sih jumputan-jumputan semak yang tersebar jarang-jarang di atas permukaan pasir, tapi itu tidak membantu mengurangi kesan tandus dan kering.

Di bawah langit yang biru cerah tanpa awan segalanya tampak stagnan, kosong dan luas. Di tengah-tengah hamparan pasir itu tampak sekumpulan hewan bergerak-gerak. Unta. Asli. Komplit sama punuk-punuknya. 

Ternyata nasib baik, saya tidak hanya bisa melihat Unta-unta itu dari dalam jendela bus saja. Di suatu hari ketika lagi di Madinah, rombongan diajak jalan-jalan ke peternakan Unta. Konon katanya Unta itu adalah hewan yang paling penurut dan jinak. Bahkan saat Hari Raya Kurban, unta yang jadi kurban akan dengan pasrah menyerahkan dirinya untuk disembelih tanpa ada acara berontak-berontak. 

Tapi hal itu gak terjadi ketika saya mau berusaha berfoto sama anak unta yang lagi sama ibunya. Si anak unta itu kabur-kabur waktu saya ajak foto bareng. Saya kejar, eh dia malah ngumpetin muka di balik ibunya. Kayaknya unta abg kelakuannya sama kayak manusia abg yang ogah di foto, soalnya adek saya yang abg suka susah gitu kalo mau diajak potoan. 

Kandang Unta

Unta Cantik yang Putih

Ngejar anak unta

Tetep gak mau di foto

masih banyak lagi untanya

Ruang tamu nya suku Bedouin
Suku yang beternak unta ini namanya suku Bedouin, sebenarnya jaman dulunya mereka hidup nomaden, sekarang sepertinya sudah berkurang ke-nomadisannya. Tapi mereka tetap tinggal di dalam tenda yang gak permanen gitu. Walaupun begitu mereka kelihatannya sudah mengembangkan konsep living room pake sofa dan tea table, tapi tetep di outdoor. 

Kita bisa mencoba susu unta fresh yang baru di peras, di masukan ke dalam botol bekas air mineral kecil, seharga 5 real. Rasanya lebih "rich" dari susu sapi, lebih kental dan lebih gurih. Enak. Coba waktu kecil saya sering dikasih susu unta begini, pasti gedenya tinggi kayak unta yak.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...