Rabu, 23 Juli 2014

Nenek Tikungan

Sebelumnya, ini bukan cerita horor dan tidak ada hubungannya sama film Nenek Gayung walaupun ada bumbu-bumbu misteri nya. Saya tidak  tahu nama nenek ini, tapi karena setiap sore saya hampir selalu melihatnya berdiri di tikungan exit toll Jatiwaringin ke arah Pondok Gede, saya menyebutnya dengan nama Nenek Tikungan. 

Nenek ini perawakannya kurus dan kecil. Gaya berpakaiannya setiap hari selalu sama, daster tipis, blazer kegedean dan jilbab yang model langsung pake kayak mukena gitu, ga tau apa namanya. Nenek ini belum lama ada di tikungan itu, mungkin sekitar 2-3 tahun. Di awal kemunculannya nenek itu berkulit terang dan bersih, wajahnya juga ga jelek-jelek amat sih. Saya yakin waktu mudanya lumayan manis karena udah tua aja masih kliatan bentuk mukanya mungil, hidung mancung dan bibir tipis. 

Setiap sore nenek itu berdiri di pinggir jalan memegang gelas bekas air mineral. Nenek itu tidak pernah pasang muka minta dikasihanin kayak kebanyakan pengemis di jalanan yang sengaja pakai baju compang camping, malahan pura-pura cacat dan pasang muka memble mau nangis. Nenek itu mengharapkan sumbangan dari pengendara mobil yang lewat di jalan itu dengan gaya berkelas, berpakaian rapi dan tidak memelas. Nenek itu melakukannya dengan gaya sophisticated.  

Selang beberapa bulan nenek tikungan itu kulitnya mulai tampak gelap dan kumal, tapi pakaiannya tetap sama, daster dibalut blazer dan jilbab yang tidak pernah terlihat compang-camping walaupun bukan baju bagus. Belakangan nenek itu sering tampak berdiri dengan wajah yang lebih pucat dari hari-hari yang lain dan terbatuk-batuk. 

Tahun lalu di hari Jum'at, saya dan Chacha lagi duduk-duduk di Masjid Nabawi, Madinnah menunggu waktu sholat. Kemudian datang di sebelah kami rombongan perempuan-perempuan mengenakan abaya hitam yang menandakan rombongan dari daerah Arab dan sekitarnya. Di sebelah saya duduk seorang nenek, kecil mungil. Nenek itu ngeliatin saya, trus saya senyumin. Nenek itu nunjuk-nunjuk hidung saya sambil bicara dengan bahasa arab yang saya artikan dengan bahasa kalbu nanya asal saya dari mana. 

Saya menjawabnya, "Indonesia." 

Nenek itu kemudian bilang," Yaman? Yaman?" masih nunjuk-nunjuk hidung saya.

Di Madinah kalau lagi jalan di toko-toko, saya dan Papa Said memang suka diteriakin Yaman. Mungkin karena mereka lihat tipe wajah saya begini, kemudian liat gaya pakaian saya yang jamaah Indonesia banget. Nah karena tipe muka kayak saya dan Papa Said yang banyak di Indonesia itu adalah dari keturunan orang Yaman maka mereka langsung menebak kayak gitu.

Dengan bahasa Arab sepatah-patah yang saya gabung dari penggalan-penggalan kata yang saya tau saya berusaha menjelaskan kalau, iya memang kakek saya dari yaman, tepatnya dari Hadramut.

Eh tiba-tiba tu nenek langsung memeluk saya terus mengusap-ngusap kepala. Parahnya lagi dia mulai nyerocos ngomong panjang lebar bahasa Arab, saya cuman bisa ngeliatin sambil nyengir. Chacha duduk disebelah saya dengan muka ngantuk-ngantuk cuman ngelirik ga minat ketika saya melihatnya dengan tatapan minta tolong, "sukurin lo kak, lagian cari gara-gara sok ngomong arab. Gw ga ikut-ikut," katanya acuh tak acuh.

Nenek itu masih terus berbicara panjang lebar, asik bercerita. Saya memasang muka 'seolah-olah mengerti' sambil mengangguk-angguk.

Saya diselamatkan oleh Adzan yang berkumandang. Nenek itu langsung menarik lengan saya untuk merapatkan barisan dengan perempuan-perempuan dari kelompoknya. Bahkan ketika ujung bawah kain mukena saya tertiup angin dan ujung jempol saya yang terbungkus kaus kaki tipis tersingkap, nenek itu menginjakan ujung kakinya di atas ujung jempol saya untuk menutupinya dengan kain abayanya. Ketika selesai sholat dan mau bersiap meninggalkan Masjid, saya dan nenek misterius itu mengucapkan perpisahan, nenek itu masih memeluk saya sambil berkata berulang-ulang, "Barakallah, Barakallah."

Selepas kepergian nenek itu dan rombongannya saya dan Chacha cuman bisa liat-liatan. 

Klimaks dari cerita ini adalah ketika saya sudah kembali di Jakarta, ketika di jalan pulang dari kantor menuju rumah saya melewati tikungan tempat Nenek Tikungan biasa berdiri kemudian saya tersentak tidak percaya. Ketika saya lihat wajah Nenek Tikungan itu mirip sama Nenek yang saya ketemu di Nabawi waktu hari Jum'at itu. Saat itu saya pengen nangis, antara berasa aneh dan merinding. Sejak Nenek itu mulai berdiri di tikungan itu saya merasa tertarik untuk bersedekah sama si nenek karena profilnya. Saya ga pernah kepikiran bakal ketemu nenek yang mirip Nenek Tikungan di Arab yang mem- Barakallah - in saya di halaman Masjid Nabawi waktu hari Jumat. 

Ga tau itu pertanda atau kebetulan, yang jelas buat saya ini adalah peristiwa yang bikin merinding dan misterius, yang entah kenapa buat saya kayak semacam pembenaran dalam diri bahwa Tuhan itu tahu apa yang kita perbuat walaupun orang lain ga ada yang tau dan Dia punya caranya sendiri untuk 'menyentuh' hati kita di saat kita ga akan pernah bisa menduganya.

Senin, 14 Juli 2014

Lembang Floating Market

Selalu ada yang baru di Bandung (dan sekitarnya). Sejak adanya toll Cipularang, kota yang pernah jadi lautan api ini progresif banget perkembangannya. Rumah-rumah jaman Belanda jaman kolonial yang kokoh dan dingin dengan halaman yang luas dan rindang satu persatu mulai tumbang digantikan dengan model rumah modern. Buat yang ada di atau dekat jalan sibuk berubah fungsi menjadi Factory Outlet atau Cafe/Restoran. Saya curiga jangan-jangan tiap satu minggu ada saja cafe baru, rumah makan baru, hotel baru yang buka di sana. 

Tempat kos saya waktu di Bandung dulu berada tidak jauh dari kawasan Dago, nah tidak jauh dari Kos saya, di pojokan jalan ada rumah tua yang katanya sempat masuk di 10 scariest place on .... saya lupa on apa. Tapi bahkan rumah tua yang angker pun harus mengalah dengan kemajuan, beberapa waktu lalu saya lihat rumah itu sudah berubah jadi bangunan baru. Entah bagaimana nasib tante kunti / teteh juju jurig / mbah genderuwo yang pernah tinggal disitu. Kasian banget kuburan digusur, jadi setan pun masih kena gusur *puk puk dedemit* 

"Cha, ini baru nih di Bandung," kata saya sembari menunjukan foto salah satu teman saya di Path.  

Lembang Floating Market.




Di jalan menuju Lembang saya dan Chacha masih sibuk meng google posisinya karena papan penunjuk menuju tempatnya jarang terlihat. Kami menuju ke arah pasar Lembang, memutarinya mengikuti arah satu jalur ke arah kembali ke Bandung, nanti baru ada papannya besar di kiri jalan.

Parkirannya luas sekali dan waktu kami tiba disana sekitar pukul 11, sudah banyak mobil parkir dan ada banyak Bus juga karena hari itu hari libur. Di pintu masuk parkiran dikenakan charge per orang untuk masuk ke Floating Market nya. "Kupon nya bisa ditukar satu free drink di dalam ya, kak," kata petugas karcis yang mengenakan topi caping dan baju hitam seperti orang-orangan sawah.

Kalau pernah ke Kampung Daun pasti menemukan kesamaan konsep disini. Bedanya disini dibuat semacam food court, kita beli koin untuk ditukarkan dengan makanan yang mau kita beli. Nah, sama seperti di Ah-Poong yang ada di Sentul City.  Uniknya di sana kios penjual makanannya berupa perahu yang bersandar di pinggir danau, jadi kita belinya langsung di perahu. Ati-ati nyebur ya. Koin-koin itu juga bisa ditukar untuk naik perahu, sepeda air, pijat refleksi terapung.






Senin, 30 Juni 2014

Petualangan sebelum Sop Duren

Salah satu kawan saya yang sebaiknya namanya tidak saya publikasikan disini pada suatu hari berkeinginan mencicipi Sop Duren yang (katanya) lagi happening, terletak di kota Bogor. Seperti seorang calon ibu yang hamil muda, ngidam sop duren nya diiringi syarat tak beralasan kalau harus sambil bolos kerja. Kalau saya sih bebas aja berkeliaran di jam kerja. Maka berangkatlah saya dan kawan saya itu di hari Jum'at.

Kami berangkat pagi-pagi dari Jakarta, di persimpangan antara arah Bogor dan Cisarua di toll Jagorawi dengan impulsif kami memutuskan untuk lurus dulu ke arah puncak. Tujuannya ke Curug Cilember, inspirasi yang baru saja didapat kawan saya dari hasil google nya beberapa saat sebelumnya, ketika baru memasuki toll jagorawi.

"Di sini ditulis setelah Cimory belok kiri," ujarnya mengacu kepada sumber yang dia baca di smartphone nya mengenai lokasi curug tersebut.

Belok kiri dari jalan Cisarua puncak itu jalan yang lebarnya kurang dari 5 meter dan di kiri-kanannya rumah-rumah penduduk padat berhimpit-himpitan. Kalau ada mobil dari arah berlawanan Blue On saya harus melipir mepet ke pagar atau tembok rumah orang dengan spion terlipat. Walaupun jalannya sempit tapi terasa terus menanjak, kami terus menyusuri jalan dengan rumah-rumah mungil yang rapat hingga jarak antara rumah makin jarang. di kiri- kanan jalan pemandangannya sawah menghampar, beberapa kali kawanan bebek menyebrang jalan. 

Makin ke atas suasana makin sepi, tidak ada rumah lagi, tidak ada sawah, jalanan mulai berbelok-belok, tanjakan makin tajam. Kami sudah makin jauh berjalan tanpa ada penunjuk atau tanda-tanda bahwa kita menuju curug. 

Jalan semakin menanjak dan semakin sepi. Pemandangan mulai berganti pepohonan, lembah dan villa dengan pagar yang megah dan tinggi, belum ada tanda-tanda kemana akhir dari jalan yang semakin lama semakin menyempit itu. 

Tiba-tiba di tengah-tengah sepi itu ada gerbang parkiran yang merupakan pintu masuk ke sebuah lapangan luas, di dalamnya seperti ada tenda besar sekali berwarna putih. Di papan yang terpancang di gerbang nya terdapat logo Matahari Departemen Store. 

"Coba aja kita masuk situ sekalian nanya dimana curug cilember nya," usul saya yang sudah mulai curiga bahwa kami tersesat.

Ternyata ada dua kali bayar tiket untuk masuk tempat ini. Yang pertama pada saat ambil tiket parkir, bayar 5,000 rupiah. Kami sempat bertanya sama mas di dalam booth tiket parkir. "Curug Cilember sebelah mana, mas?"

"ooo itu mah masih jauh keatas," anak laki-laki muda yang tampak belum mencapai usia 20 itu tampak menunjuk suatu tempat di awang-awang.

"mas nya belum pernah kesana ya?"

"belum hehehe"

Saya sudah hampir punya niat cuma mau puter balik di tempat itu dan melanjutkan lagi perjalanan ke arah atas, tapi lepas dari mas petugas parkir yang belum pernah ke curug Cilember kami langsung ditangkap oleh teteh petugas tiket masuk arena hiburan dan diminta 15,000 rupiah per orang untuk bayar tiket masuk.

"Di dalem ada apa sih, mba?"

"ya ada macem-macem, ada naik perahu, spa ikan...coba deh spa ikannya,"anjuran dari si teteh. 

Kami pun pasrah dan mencoba mengitari area taman hiburan yang ternyata luas nya berhektar-hektar dengan mobil, berusaha menerka-nerka, mengumpulkan data dari hasil survei dan mencoba menarik kesimpulan tentang tempat wisata itu. Di dalamnya ada taman bermain anak-anak, danau yang luas, waterboom, area foodcourt yang luas, papan penunjuk lokasi outbond dan rafting. Terus terang saya cukup terpesona bahwa ternyata di area puncak yang selama ini saya pikir cuma ada kebun teh ternyata ada tempat wisata keluarga yang luas seperti itu.

Di tiketnya ada 3 kupon gratis, untuk naik sepeda air, naik perahu karet dan sewa sepeda gratis. Kami memarkir mobil dan menuju ke tempat penyewaan sepeda, ternyata sepedanya hanya boleh di sewa untuk berputar-putar di sebuah pelataran kosong, tidak boleh dibawa keluar untuk dipakai di kompleks wisata. Kami pun mengurungkan niat dan melanjutkan keliling tempat itu jalan kaki. Masih dalam usaha menerka-nerka konsep dari taman wisata itu.

Anehnya loket-loket permainan yang ada di danau kelihatan sepi dan kios loketnya tutup tak berpenghuni. Kamipun mencoba mau naik ke atas menara lookout - yang gratis juga, tapi pintu masuk ke menaranya masih terkunci. Padahal saat itu sudah jam 11 siang lewat. 

Pengunjungnya juga sepi sekali, mungkin karena bukan hari libur. Yang banyak kami temui adalah keluarga-keluarga yang tampaknya berasal dari Arab, karena ibu-ibunya mengenakan Abaya hitam bercadar. Saya pun mengambil kesimpulan, mungkin tempat wisata ini target segmennya orang Arab, jadi di sana di iklanin besar-besaran sementara disini malah orang-orang (paling tidak saya dan kawan saya itu) tidak tahu tentang keberadaan tempat itu. 

Jangan-jangan tujuan utama turis-turis Arab itu ke Indonesia semata-mata adalah untuk ke tempat wisata berlogo Matahari Dept Store itu, layaknya turis Indonesia ke Singapura semata-mata untuk berkunjung ke Universal Studio. Mereka dengan riang gembira naik sepeda keliling-keliling pelataran kosong, yaelaaaah kalo naik sepeda kayak gitu doang sih saya meningan di rumah aja.



Dari rencana mulia ke Curug Cilember, kami terdampar di Taman Wisata berlogo Matahari Dept Store. Untungnya tujuan awal mencicipi Sop Duren Bogor yang happening terlaksana juga. Semoga kalau kawan saya itu benar-benar hamil muda, anaknya kalau lahir ga ileran.



Senin, 23 Juni 2014

One Million Dollar View

"Orang Jawa manja-manja," seru Wawan sembari mengemudikan APV hitam di jalan penuh tikungan tajam yang berlubang-lubang. Sesekali badan saya, pagit dan mba efa terpental-pental ketika mobil tersebut tidak berhasil menghindar di retakan aspal yang menganga.

"BBM baru naik jadi 6,500 rupiah saja sudah demonstrasi, protes dimana-mana," jari kurusnya memantik tongkat lampu sign, APV pun meraung melewati sebuah mobil tua yang kehilangan daya merayap di tanjakan yang terjal. 

Tangan sebelah kirinya mengangkat dengan gestur berapi-api,"harga BBM disini bisa mencapai 10 ribu seliter, itu pun terkadang harus mengantri di SPBU agar tidak kehabisan stok, tapi kami disini tertawa-tawa saja." Lubang jalan yang tiba-tiba muncul di depan tak sanggup dihindari lagi oleh Wawan sehingga membuat seisi mobil terlontar dari jok masing-masing.

Sistem pemerintahan sentralisasi yang terpusat di ibukota Jakarta membuat daerah yang jauh dari ibu kota semakin merasa terlupakan. Semakin jauh dari ibukota, semakin terlupakan.

"Cabut saja subsidi, naikkan saja harga bensin jadi 10ribu rupiah, kami disini tidak akan keberatan asal stok bahan bakar dijamin selalu ada oleh pemerintah," semakin berapi-api ucapan yang keluar dari bibir Wawan, anak muda Flores yang kurus mungil tapi lincah seperti kijang. Kijang berambut keriting. "Toh selama ini juga kami beli seharga itu."

Kami berada beberapa kilometer dari Labuan Bajo, menuju suatu tempat yang menurut Wawan punya pemandangan seharga 1,000,000 dollar. Dollar Amerika. Luar biasa banyak nol nya jika di rupiah kan.

Jadi ceritanya pada suatu hari ada seorang warga asing yang jatuh cinta pada tanah yang terletak diatas bukit itu dan menawarkan akan membeli sebidang tanah itu seharga satu juta dollar. Tapi si pemilik tanah menolak dengan halus, tanah itu tidak dijual (paling tidak belum akan dijual untuk waktu sekarang), berapapun harga yang ditawarkan. 

Menurut Wawan pemandangan yang bisa dilihat dari atas bukit itu memang bagus sekali, karena itulah dia bilang ini adalah Bukit One Million Dollar View.

Mungkin beberapa tahun lagi, ketika si pemilik tanah berubah pikiran merelakan tanahnya demi lembaran jutaan dollar, yang ada disitu mungkin seonggok resort mewah dengan view jutaan dollar. Seperti wajah gadis yang cantik natural kemudian jadi OKB (Orang Kaya Baru) tiba-tiba dipoles macam-macam make up mahal yang menor, orang-orang pun jadi lupa dengan kecantikan sederhana nya yang natural karena yang terlihat adalah kemenoran yang glamor belaka. 

Di tengah jalan kami sempat berhenti di pinggir jalan atas arahan Wawan, guide kami di Flores. "Pemandangan dari sini bagus, kak," katanya penuh percaya diri, memaksakan mobil kotak ber ban kecil melipir di pinggir jurang, di jalan yang sudah tak lagi beraspal. Kami pun turun dari mobil berusaha melihat pemandangan yang dimaksud dari pinggir, berjingkat-jingkat karena pandangan tertutup oleh daun-daun dari ujung pohon yang rimbun. 

Wawan tak ingin saya, Pagit dan Mba Efa kecewa, dia pun mengambil alih kamera saya dan memanjat ke atas kap mobil untuk mengambil gambar pemandangan yang dimaksud. Tapi hasil fotonya pun tertutup pemandangan pohon dan belukar yang lebat.

Akhirnya tiba juga di tempat yang dimaksud, Wawan memarkir mobilnya di pinggir jalan raya begitu saja. 

Saya pun bertanya, "dimana tempatnya?"

"Kita harus naik dulu sedikit."

Naiknya memang sedikit, tapi tingginya lumayan bikin betis langsung berasa kencang. 

Di puncaknya terdapat satu rumah panggung sederhana, kata Wawan rumah panggung itu memang sengaja dibuat untuk wisatawan yang mau mengenal rumah suku asli di Flores. Dari jendela nya melongok sesosok wajah pria Flores yang chubby nan jenaka. Wawan memperkenalkannya sebagai Valen. Senyumnya Valen selalu malu-malu dan suara pelan sekali, kebalikan dari Wawan yang senantiasa bersemangat. Bahkan beberapa kali Wawan berusaha mengambil alih tugas Valen menjelaskan tentang rumah adat itu, yang disambut dengan senyuman bermakna 'sok tau banget sih lo' dari Valen. 

Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah panggung terbuat dari kayu, masing-masing di berikan semacam bantal berbentuk kotak, katanya untuk di duduki di atasnya. Sementara Valen dan Wawan bergantian menjelaskan tentang kebudayaan Flores.

Valen

Alat Musik 

perlengkapan tari-tarian

Wawan & Pagit lagi ngobrol apa tuuu.. serius banget

Foto bareng tuan rumah

One Million Dollar View

Minggu, 15 Juni 2014

Pertama Kali


There will always be the first times in life. Selama apapun manusia hidup ga akan mungkin mengetahui semua hal yang ada di dunia karena banyak banget. Malahan menurut saya kalaupun ada manusia yang umurnya ribuan tahun, ga mati-mati kayak Buffy the Vampire Slayer tetap saja dia tidak akan mungkin tahu semua yang ada di dunia dan mengalami/mencoba semua yang ada, soalnya selain banyak banget, akan selalu ada penemuan dan perkembangan baru. 

Sebagai orang yang terdaftar sebagai penduduk Jakarta dan sudah tinggal di kota ini melampaui beberapa dekade, masih banyak aja daerah-daerah di Jakarta yang saya belum pernah datengin. Banyak hal yang dilakukan penduduk Jakarta sehari-hari yang belum pernah saya lakukan, misalnya nih: naik commuter line.



Kawan baik saya, Neng Pagit setiap hari menggunakan sarana transportasi ini dari rumahnya di kawasan bogor menuju pusat ibukota jakarta. Sering banget kalau janjian sama pagit janjian di sekitar stasiun kereta, bahkan hampir selalu nge drop dia di stasiun kereta. Tapi saya sendiri belum pernah naik commuter line itu. Walaupun kalau denger ceritanya pagit naik kereta itu enak karena cepet (dengan asumsi ga ada masalah kerusakan sinyal atau masalah teknis lainnya), tapi kalau saya naik comline ke kantor ga efektif, stasiun kereta paling deket dari rumah saya jaraknya nyaris sama kayak jarak ke kantor. 

Beberapa kali saya pernah naik KRL, itu udah lama banget sebelum ada yang namanya commuter line. Itu pun bukan untuk kegiatan rutin, cuma dalam rangka jalan-jalan. Sejak mulai ada comline yang merupakan perkembangan dari KRL saya belum pernah naik kereta dalam kota dan sekitarnya lagi. 

Akhirnya bulan lalu ada kesempatan untuk pertama kali merasakan naik moda transportasi umum ini. Tujuannya adalah ke Stasiun Kota untuk menukar tiket KA ke Jogja yang saya pesan online dari website PT KAI. Hari Jumat, berangkat dari kantor saya di bilangan pancoran sekitar jam 11, jalan kaki menuju stasiun cawang. Sebelumnya saya sudah browsing peta comline dan jadwalnya di internet. Saya langsung menuju loket dan dikasih kartu untuk satu kali perjalanan. 

Dengan penuh percaya diri saya menuju pintu masuk dan meletakan kartu tiket saya di sensor, tapi ketika jalan maju besi penahan pintunya ga muter. Terus ada satpam langsung menghampiri, ternyata saya meletakan kartu di sisi sensor yang salah - bukan pasangan pintu nya. Untung waktu itu sepi, jadi saya cuma sendiri di situ, malu nya jadi ga seberapa. "hehee maklum pak, baru pertama nih,"ujar saya ke satpam yang pandangannya seolah-olah berkata 'kemana aja, neng?'

Misi menukar tiket Kereta Api pun sukses dengan gemilang dan hanya memakan waktu sekitar 1 jam hingga kembali lagi ke Stasiun Cawang. 

Keesokan harinya saya pun kembali melakukan sesuatu untuk pertama kalinya dalam hidup: Naik Kereta ke luar kota dari Stasiun Senen. Biasanya kalau mau naik KA luar kota di Jakarta saya selalu memilih Stasiun Jatinegara yang paling dekat dengan posisi rumah. Tapi sejak ada peraturan kalau di Stasiun Jatinegara sudah tidak melayani pemberangkatan keluar kota, saya naik dari Stasiun Gambir. Tapi peraturan baru, Stasiun Gambir pun sekarang hanya melayani pemberangkatan kereta eksekutif dan Argo. Sedangkan kereta Bisnis dan ekonomi AC berangkat dari Stasiun Senen.  Tiket KA saya ke Jogja bulan lalu adalah Fajar Utama, jadi berangkatnya harus dari Stasiun Senen.

Dini hari, saya mengawali sejarah pertama kali memasuki Stasiun Senen dengan tatapan galak penjaga tiket masuk. Saya tiba di Stasiun jam 5.55, karena kereta saya jadwalnya jam 6.30 saya dengan polosnya ikut di antrian masuk. Pas sampe giliran saya mengajukan selembar tiket dan selembar KTP, pandangan petugas tiket tiba-tiba judes menusuk kalbu tapi saya tetap diperbolehkan lewat. Tapi setelah itu dia teriak ke arah antrian, "Tawangjaya Tawangjaya". Oalaaa ternyata itu antrian masuk masih giliran Tawangjaya, belum giliran Fajar Utama. 

Saat itu juga pertama kali nya saya naik KA Bisnis lagi setelah terakhir kali tahun lalu saya naik KA bisnis dari Jogja ke Jakarta dalam rangka perjalanan innerpeace ke Dieng. Ternyata KA Bisnis sekarang ada AC nya. AC split kayak di rumah-rumah, merk panasonic, yang ditempel di atas langit-langit gerbong kereta. Semuanya berjalan menyenangkan di dalam gerbong yang dingin hingga kereta melewati Cirebon, di gerbong saya AC nya mulai ga berasa. Sampai ada ibu-ibu yang duduk di barisan ga jauh dari saya marah-marah ke petugas keretanya sambil kipas-kipas. 

AC Di gerbong kereta api bisnis
Saya pun mulai kegerahan dan berinisiatif buka jendela - untung jendelanya masih bisa dibuka. Yang bikin saya makin gerah pasangan yang duduk di baris sebelah saya, udah tau panas, gerah, sumuk masih aja peluk-pelukan, sambil mesra-mesra ketawa-ketawa bahagia gitu. Jadi pengen teriakin woooii panas wooii *tunjuk dada* *lemparin es balok*









Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...