Jumat, 28 April 2017

Jalan-jalan di Ibukota sama Mommy Bule

Mommy bule keturunan Viking dari Norwegia ini orangnya luar biasa, saya nge-fans. Di tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya, beliau sudah bikin perusahaan sendiri untuk menegerjakan pekerjaan konstruksi terowongan menggunakan metode yang dikembangkannya pada saat penelitian Doktor. Usianya sepantaran Papa Said, tapi saya aja kalah lincah sama beliau. Masih semangat manjat-manjat bukit sendirian di lokasi proyek sementara saya ngopi di warung. 

Kisah awal saya bisa kenal dengan mommy bule ini bermula 4 tahun lalu. Berawal dari perkenalan saya dengan Felicity, blogger yang menikah dengan orang Norwegia dan tinggal disana. Saya sudah beberapa kali kopdar sama dia ketika pulang ke Indonesia, hingga suatu ketika Feli datang bersama suaminya, T, dan dikenalkan ke saya. Ngobrol-ngobrol ternyata bidang pekerjaan kita berkaitan, sama-sama di bidang konstruksi. T sempat mampir ke kantor saya juga waktu itu.

Saya lupa kapan tepatnya setelah pertemuan dengan Feli dan T, dia menghubungi saya melalui e-mail. Katanya ada rekan ayahnya, T Senior, yang lagi sendirian di Indonesia. Kalau ada waktu dia minta saya menengok keadaan rekan T Senior, saya diberikan kontaknya. Ternyata yang bersangkutan lagi di Bandung untuk dalam rangka mengejar suatu pekerjaan pembangunan terowongan. Kebetulan waktu itu lagi ada waktu luang jadi saya menghampiri ke Bandung dan sejak itu hubungan kami berlanjut hingga sekarang saya sudah anggap beliau mommy saya sendiri, mommy bule. Saya udah kayak anak angkatnya. 

Malahan tahun lalu Mommy bule dua kali berkunjung ke Indonesia membawa anak laki-lakinya. Waktu baru datang anaknya kaku dan dingin banget. Senyum aja pelit. Setelah 3 hari kena sinar matahari tropis yang hangat, sate, nasi padang dan gurame bakar, jadi cengengesan melulu. 

Awal tahun lalu Mommy bule kembali ke Jakarta sendirian. Kami sempat ke Bandung untuk melihat lokasi proyek, kemudian balik ke Jakarta. Sebelum pulang ke Norwegia saya sempat mengajak beliau jalan-jalan sore di Jakarta dengan fasilitas umum. Kita ke Kota Tua. Perginya naik Bus Transjakarta dari hotel Bidakara. Pulangnya naik Kereta Commuter Line dari Stasiun Kota ke Stasiun Cawang, Makan bakso di TIS, kemudian naik Bajaj kembali ke hotel.

Di Kota Tua

Naik Commline
Beberapa tahun belakangan ini saya merasakan kemajuan yang berarti dari sistem transportasi umum di Jakarta. Walaupun masih banyak kekurangan dan komplain tapi sudah mulai kelihatan terkoneksi. Lebih baik terlambat daripada tidak kan? 

Di Stasiun Kota waktu mau beli tiket commuter line saya sempat norak lihat mesin beli kartu seperti di Singapura. Mommy bule juga tampak kagum. Beliau tampak senang dan memuji adanya tempat khusus perempuan di Bus Transjakarta dan gerbong khusus perempuan di Commline. Kebetulan aja waktu itu perginya pas hari libur, jadi berasa nyaman. Kalau pergi di hari kerja di jam rush hour mana bisa selfie sambil nyengir di dalem kereta. 

Rabu, 26 April 2017

Jangan-Jangan Masalahnya di Gue

Tahun lalu saya merasa mulai bisa menata hidup. Punya kegiatan berkebun yang menyenangkan di waktu luang. Mulai bisa mengatur pola makan sehingga badan terasa jauh lebih bugar, lebih ringan dan segar. Punya energi lebih untuk lari minimal dua kali seminggu, kadang diselingi sama berenang, Yoga. Saya juga baca banyak buku dari Scribd.com. Ikut Online course gratisan di Coursera. 

Saat itu memang ada negative vibe yang sedang saya perangi dengan positivity, walaupun struggling tapi saya tetap bisa survive dari hal negatif tersebut. Kemudian datanglah suatu momen secara tiba-tiba, yang saya pikir bisa membebaskan dari struggle itu. Saya pikir, this is it, akhirnya saya bisa meninggalkan kenegatifan yang ada di hidup saya, bisa mulai menata hidup, memikirkan masa depan sambil terus mempertahankan kebun, pola makan dan aktifitas lain. 

Hari pertama di hari yang saya pikir adalah awal dari masa depan yang lebih baik saya mulai punya perasaan gak enak. Kayak ada sesuatu yang salah. Satu bulan saya jalani, saya yakin kalau memang ini sesuatu yang salah. Ibarat lompat dari mulut buaya ke mulut singa, negative vibe tahun ini jauh lebih berat dari tahun lalu. 

Saya jadi berpikir, ini jangan-jangan masalahnya ada di gue. 

Tapi, apa?

Apa masalah yang ada di diri saya?

Itu pertanyaannya.

Untuk menjawabnya sepertinya saya harus mulai menganalisa apa yang menyebabkan saya melakukan hal yang saya sedang jalani sekarang. Saya juga perlu menganalisa hal apa yang menyebabkan saya sedih, apakah karena perubahan hormon, karena makanan atau simply karena lelah dengan kemacetan yang semakin gila. 

"Happy is he who has overcome his ego" - Siddhartha Gautama

To be continued.....

Rabu, 19 April 2017

Synergy Run

Acara lari ketiga yang saya ikuti. Kebetulan saya berteman di Path sama Race Director nya yang share link untuk daftar di socmed nya tersebut. Iseng-iseng saya klik link nya, ternyata biaya pendaftarannya murah, 150 ribu saja untuk kategori 10k. Di acara ini hanya ada 2 kategori, 5k dan 10k. Lokasinya juga tidak jauh, start di FX, lari sekitar Jl. Sudirman, finish di FX. Ya saya langsung daftar. 

Sejak awal tahun 2017, dengan adanya pekerjaan baru, jadwal latihan lari saya berantakan. Bahkan saya sudah tidak punya cadangan energi untuk berkebun lagi, semuanya terkuras di jalanan. Dengan sisa-sisa energi yang ada saya mencoba untuk tetap lari di sabtu atau minggu, walaupun stamina jauh berkurang. Saya juga belum mampu mengatur lagi pola makan saya sehingga badan saya balik terasa enggak fit dan sluggish. Bahkan saat bangun tidur saya merasa seluruh badan sakit semua kayak abis lari marathon. 

Hampir saja saya kelewatan acara ini. Seingat saya event Synergy Run ini akan dilaksanakan akhir April, ternyata bulan Maret. What?! Saya belum sempat latihan serius, malahan banyak saat dimana satu minggu penuh saya gak lari karena saat weekend tubuh saya menolak bangun pagi karena di hari-hari lain bangun jam 4 subuh. Saya baru sadar ketika ada notifikasi untuk mengambil Race Pack.

Yah karena larinya jarak 10k saya masih percaya diri untuk tetap ikut walaupun waktunya menyedihkan banget. Jauh lebih jelek dari waktu saya latihan lari menghadapi HM tahun lalu, padahal lokasinya sama, di Jl. Sudirman (Car Free Day). Di luar waktu finish saya yang jelek, kaosnya bagus dan medalinya bagus - medali 10k pertama saya. 

Yang unik dari synergy run adalah ada kategori lari pakai kostum nusantara. Jadi pagi-pagi sebelum start saya lihat sudah banyak peserta berkostum baju daerah. Kostumnya juga gak tanggung-tanggung, komplit kayak acara pawai 17 Agustusan jaman saya kecil dulu. Sayangnya yang 10k start duluan jadi saya tidak sempat lihat peserta berkostum lari-lari.

Saya ketemu Astrid, teman yang ketemu di HM Bali Marathon. Reaksi saya pertama pas lihat dia langsung, "woooow.. lu kurus banget." Emang iya! kurusnya drastis dari terakhir saya ketemu di Bali bulan Agustus. Dia aktif banget ikut event lari, malahan tahun ini katanya sudah mau coba lari Full Marathon. Whoaaa... saya kapan? hiks.






Sabtu, 15 April 2017

Sehari di Nusa Penida

Nusa Penida adalah pulau kecil dekat Pulau Bali, sekitar 45 menit - 1 jam naik boat dari Sanur. Awalnya saya tertarik ke Nusa Penida karena lihat postingan foto Angel's Billabong di Instagram. Di foto itu tampak semacam danau yang berbatasan langsung dengan laut, airnya sangat bening sampai-sampai batuan di dasarnya terlihat. Di foto itu juga ada orang floating di atas nya, keren banget saya jadi kepingin.

Sebelum matahari terbit saya sudah siap-siap check-out dari hotel di daerah Sanur, jalan kaki 5 menit saja ke dermaga tempat naik boat ke Nusa Penida. Sebenarnya saya merasa agak kurang fit waktu itu, hampir saja saya membatalkan rencana nyebrang ke pulau itu tapi setelah dipikir-pikir, kapan lagi? 

Sampai di tempat penyebrangan sudah banyak orang, kebanyakan sih orang lokal (orang Bali). saya langsung ikut mengantri di meja yang ada tulisan kapal ke Nusa Penida, bayar, dikasih tiket dan disuruh menunggu kapal berangkat. Sementara itu matahari terbit di ufuk Sanur, membuat langit dan pantulan laut berwarna keemasan. 

Sehabis melihat sunrise dan terkena hangat matahari pagi, badan saya berasa agak meningan. Sehari sebelumnya saya habis ikut Half Marathon, mungkin itu salah satu penyebab ketidak-fit-an saya. Tapi beberapa menit setelah kapal berangkat saya mulai merasa mual seperti mabuk laut, padahal seumur-umur belum pernah saya mabuk laut. Sampai di Nusa Penida kepala saya masih pening dan kurang balance.

Turun dari boat langsung banyak yang menawarkan motor untuk disewa. Saya tidak bisa nyetir motor. Dulu pernah belajar, tapi baru beberapa menit sudah jatuh dan tertiban motor, sampai sekarang masih belum punya nyali untuk mencoba lagi. Jadi saya sewa motor plus tukang ojeknya. Sebenarnya kalau hanya punya waktu satu hari lebih efektif cara begini sih, soalnya kalau pun bisa bawa motor dan jalan sendiri saya pasti bakal banyak nyasar dan nyusruk di jalan karena tanda-tanda arah jalan tidak jelas dan tidak semua jalanan beraspal, belum lagi jalanan disana berbukit-bukit, berkelok-kelok, dan sepi.

Pantai Kelingking


Pertama saya diantar ke Pantai Kelingking, karena menurut bli ojek lokasi ini paling jauh dari lokasi lain yang mau kita datangi. Saya juga penasaran kenapa namanya kelingking, soalnya sama sekali gak ada yang mirip jari kelingking disana. Katanya kalau lagi musimnya dari atas tebing bisa kelihatan Manta lagi berenang di bawah situ. Manta nya pasti gede banget kalau sampai bisa terlihat dari atas tebing, karena tinggi banget. 

Pasih Andus


Di  tempat ini ombaknya menghantam karang sampai kelihatan kayak meledak dan menimbulkan suara unik. Saya duduk cukup lama disini bareng bli ojek, nonton ledakan ombak sambil nebak-nebak ledakannya bakal besar atau biasa aja. Kayaknya saya bisa loh cuma nonton itu saja seharian, rasanya relaxing banget.

Pasih Uug 


Pasih Uug beken juga dengan nama broken beach. Mungkin karena ada bagian karang yang bolong atau broken. Mengingatkan saya sama tebing London Bridge yang pernah saya lihat di Great Ocean Road Australia. Mirip banget. Hmm.. tebing yang di bukit kelingking juga mirip sama twelve apostles yang di Great Ocean Road sih. Mungkin tempat-tempat itu mengalami fenomena geologi (entah apa itu bener atau enggak sebutannya) yang mirip. 

Angel's Billabong


Jalan sedikit dari Pasih Uug, disitulah akhirnya saya menemukan tujuan utama saya datang ke Nusa Penida. Angel's Billabong. Lebih cantik dari di foto. Dan ternyata itu adalah ujungnya sungai, bukan danau. Tapi saya gak bisa foto mengambang disitu karena ombaknya lagi besar. Ombak datang dari arah laut dan masuk melalui celah hingga memenuhi Billabongnya. Ngeri juga kalau lagi dibawah ada ombak masuk, bisa-bisa saya kebawa arus terhempas ke dinding-dinding karang di Billabong.

Crystal Bay


Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Crystal Bay. Di pantai ini ada warung-warung yang jual makanan. By the way, perasaan kurang fit saya ketika berangkat sudah lama hilang, kemungkinan besar ketika di Pasih Andus. Akibat takjub sama ledakan ombak saya jadi merasa segar bugar. Ketika melihat warung-warung saya baru sadar kalau belum sempat makan apa-apa sejak bangun tidur. Saya makan indomi ditemani dua orang cowo yang lagi makan juga disitu, mereka juga ternyata habis ikut Bali Marathon. Di Crystal Bay bisa snorkelling, tapi saya lagi gak semangat berenang. 

Petualangan saya di Nusa Penida berakhir di Crystal Bay jam 3 sore karena mau mengejar boat balik ke Sanur.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...