Senin, 02 Januari 2017

Catatan Akhir Tahun 2016

Hmmm.. mau nulis apa ya?

Biasanya setiap akhir atau awal tahun saya akan merangkum apa saja yang terjadi di tahun tersebut, pergi kemana saja dan apa saja yang terjadi dalam hidup saya, tapi tahun kemarin rasanya terlalu complicated untuk dirangkum, ini adalah tahun dimana saya merasa tertekan karena suatu hal tapi memilih untuk mengalah dan menghindari drama karena saya tahu masalahnya bukan di saya. Jadi untuk efisiensi energi saya memilih untuk menghindar dan move on.

Ternyata setiap tahun keadaan tidak jadi makin mudah. Sama seperti waktu sekolah, makin tinggi kelasnya pelajarannya makin rumit dan makin banyak. Mendekati akhir tahun 2016 saya sempat mengalami breakdown, merasa hilang arah sendirian tanpa google maps yang kasih tau harus turn left atau turn right. 

Di penghujung tahun 2016 saya kembali berada di persimpangan dalam hidup ketika pertanyaan batin itu terlontar secara lisan dan retoris, "Aku mau kemana tahun depan?" Sampai tulisan ini dibuat saya masih melangkah tanpa tahu pasti mau kemana, just living the day by day.

Saya telah belajar untuk live in the moment, bersukur dan menikmati yang saya miliki dan tidak berusaha bikin benchmark kehidupan saya dengan orang lain, karena saya masih percaya bahwa jalan hidup setiap orang berbeda-beda dan tidak ada standard khusus yang bisa bikin kategori mana hidup yang baik dan mana yang buruk. Tapi perasaan tidak tahu arah ini lumayan bikin resah, saya jadi berpikir mungkin itu kenapa manusia bikin benchmark, supaya mereka bisa ikut arah orang-orang sebelumnya atau sekitarnya, tapi apa kita semua harus pergi ke arah yang sama?

Tahun ini saya tidak banyak jalan-jalan. Awal tahun sempat ke Bangkok. Kemudian bulan Agustus saya ke Bali ikut Maybank Bali Marathon, berhasil finish Half Marathon pertama saya dan pergi ke Nusa Penida. Tahun depan, walaupun belum tahu mau kemana, yang jelas saya akan terus lari. 

Mulai pertengahan tahun kemarin adalah bencana bagi tanaman-tanaman saya. Musim hujan terlalu lama bikin tanaman saya jadi menderita, hama-hama makin banyak dan akar-akar tanaman busuk akibat tanah selalu basah. Mungkin akan saya ceritakan di postingan khusus kapan-kapan.

Mungkin hal akan berubah drastis untuk saya di tahun 2017. Let's see. Yang jelas sekarang saya sudah mulai pakai krim malam untuk mencegah keriput.


Instagram best nine 2016 

Jumat, 23 Desember 2016

Four Points by Sherraton Bandung

Saya menginap di hotel ini karena faktor kebetulan waktu lagi ke Bandung urusan kerjaan. Beberapa waktu lalu saya kedatangan tamu dari luar negeri yang berencana mau mengerjakan proyek di Indonesia, lokasinya kebetulan di sekitar Bandung. Jadi setelah ketemu saya di Jakarta, mereka berangkat ke Bandung duluan. Saya masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal di Jakarta, maka saya menyusul mereka keesokan harinya. 

Awalnya mereka hanya bilang menginap di Hotel Sherraton di Dago. Saya langsung menuju Hotel Sherraton di kawasan Dago Atas. Beberapa kali saya menginap disana karena salah satu hotel favorit saya, walaupun sejak di renovasi saya belum sempat menginap disana lagi. Ketika sudah dekat Hotel Sherraton saya dapat sms kalau mereka ada di Hotel Sherraton yang baru, bukan yang lama. Bandung itu memang pertumbuhan hotel barunya luar biasa, kayaknya tiap minggu ada hotel baru disana. Saya waktu itu baru tahu kalau ada lagi Hotel Sherraton lain di Dago. Ketika tanya sama security di depan gerbang Hotel Sherraton, saya diarahkan ke Four Points hotel by Sherraton yang ada di sebelah Dukomsel.

Lokasi Four Points merupakan lokasi yang bersejarah untuk saya karena jaman dulu pernah kecopetan handphone dalam angkot persis di depan jalan itu. Letaknya bersebelahan dengan Superindo Dago, bersebrangan dengan Plaza Dago, jadi sangat strategis. Gak jauh juga dari jajaran Factory Outlet di Jl. Riau atau Distro gaul di Jl Trunojoyo - Jl Sultan Agung. Saya juga baru sadar kalau tiba-tiba ada bangunan tinggi disitu. Seingat saya, sebelumnya itu adalah bangunan rumah tua yang digunakan Bank Niaga. 

Hotelnya tampak masih baru banget, pintu gerbang exitnya saja belum selesai dikerjakan. Paling depan bukan lobby hotel, melainkan pintu masuk cafe dan restoran. Lobbynya ada disebelah belakang restoran. Saya suka desain interior hotel yang simple tapi chick, didominasi warna putih jadi walaupun sebenarnya tidak terlalu luas tapi kesannya tidak sempit. Petugas resepsionis sangat ramah dan sangat membantu ketika saya berusaha menghubungi rekan kerja saya yang ternyata handphonenya ditinggal di kamar sementara mereka ngobrol di restoran hotel tempat breakfast. 





Saat itu saya belum berencana menginap di Bandung, karena pinginnya setelah urusan survei lapangan selesai, saya mau langsung pulang ke Jakarta. Ternyata survei lapangan sampai sore sekali, malamnya masih ada janji makan malam dan keesokannya ternyata kami ditunggu di suatu tempat juga di Bandung. Jadi dengan sepatu dan celana belepotan lumpur, muka kucel bau keringat, saya menghadap resepsionis - yang masih sangat ramah, dan menanyakan rate kamar - dijawab dengan ramah dan sangat membantu, jadi saya langsung check-in saat itu juga. Kalau punya Member Starwood Preferred Guest bisa dapat point disini.

Kamarnya cukup luas dan desainnya juga simple dan chick, dominasi warna putih. Saya suka karena kesannya jadi terang dan bersih. Yang keren adalah di kamar ada dock iPhone untuk iPhone 5 dan 6, tapi karena iPhone saya masih tipe 4s jadi tidak bisa dipakai disitu.  Menu breakfastnya juga bervariasi, ada lokal dan western, standar hotel bintang 4. Sayangnya saya tidak sempat menikmati semua fasilitas disana karena waktu yang terbatas, padahal kalau lihat difoto, pool areanya keren di rooftop. Saya pasti akan balik lagi ke Four Points kalau ada kesempatan. 

Pagi harinya ketika akan keluar dari parkir, saya lupa minta cap bebas parkir di resepsionis. Harusnya saya bayar parkir, tapi penjaga parkir sangat helpfull dan memperbolehkan saya lewat tanpa bayar walaupun tiket saya belum di cap, katanya dia akan bantu mengurusnya. Ketika dikirim e-mail kepuasan pelanggan saya harus kasih poin sangat puas atas keramahan staffnya.

Alamat:
Four Points Hotel By Sherraton
Jl. Ir. H. Djuanda No.46 (Dago)
Bandung
www.fourpointsbandung.com

Selasa, 13 Desember 2016

Keliling-keliling di Dalam Kompleks Wat Pho (Lagi)

Lima tahun lalu saya ke Bangkok dengan tujuan lihat patung Sleeping Budha di Wat Pho. Salah satu alasanya karena pernah lihat foto Papa Said waktu lagi bisnis trip ke Bangkok, sempat jalan-jalan dan foto di depan patung itu. Tahun ini saya balik kesana, bareng keluarga. Seperti yang pernah saya bilang di postingan sebelum-sebelumnya, harga tiket masuk ke Wat Pho ini naik dari 50 bath menjadi 100 bath.

Saya ke Bangkok kemarin bulan Februari, beberapa bulan sebelum Raja Bhumibol wafat dan Thailand berkabung selama satu tahun. Raja Bhumibol adalah Raja Thailand yang paling lama bertahta. Menurut Tince yang baru-baru ini dari sana, selama masa berkabung satu tahun itu rakyat Thailand harus pakai baju warna gelap atau warna putih.

Dari hotel Silom Village di daerah Silom, kami naik tuktuk ke pier Oriental, kemudian naik express boat sampai ke kawasan Rattanakosin. Tujuan pertama adalah ke Wat Phra Kew atau Grand Pallace, tapi mungkin pas itu adalah musim libur turis dari China jadi banyak banget rombongan turis komplit dengan tour guide nya yang angkat-angkat bendera sambil teriak-teriak. Ramainya itu sudah seperti satu provinsi rakyat China ada disitu. Kami sempat masuk ke halaman Wat Phra Kew dengan penuh perjuangan, mungkin mirip jalan di terowongan mina pas musim haji. Ketika lihat antrian loket beli tiket masuk yang mengular, langsung hilang minat untuk masuk. Akhirnya kami melipir ke Wat Pho.

Wat Pho tidak seramai Wat Phra Kew, mungkin karena masih pagi jadi rombongan turis belum sampai kesitu jadwalnya. Di halaman Wat sedang ada acara, orang-orang lokal mengantri di depan Biksu, di doakan, diciprat air suci, kemudian dipasangkan gelang. Turis-turis asing mengelilingi sambil foto-foto, beberapa bahkan ikut antri dan didoakan juga. 



Setelah lihat Patung Sleeping Budha, kami ke kompleks wat yang ada di halamannya. Dulu waktu saya pertama kali ke Wat Pho sendirian, saya sempat nyasar di kompleks itu sebelum akhirnya menemukan lokasi Sleeping Budha. Dulu lagi ada renovasi sehingga pintu utama yang langsung menuju ke Sleeping Budha ditutup, dan tempat itu sepi jadi ya saya muter-muter keliling sendirian. 

Kemarin saya muter-muter kompleks lagi itu sendirian, mengulang masa lalu. Kali ini bukan karena nyasar tapi karena cariin Mama Said yang tiba-tiba hilang waktu saya dan Anissa, adik saya yang bungsu, lagi foto-foto. Akhirnya Anissa tunggu di pintu exit, kita sms ke henponnya Mama Said dan saya keliling kompleks wat yang masih sepi aja kayak dulu, tapi gak ketemu juga. Waduh kalau nyasar gawat tuh, nanti pada gak bisa pulang. Setelah keringetan bolak balik saya kembali ke tempat Anissa menunggu, di dekat pintu exit. Saya berdua Anissa duduk-duduk aja disitu sampai kemudian muncul yang lain dengan wajah tanpa dosa. 

Sebetulnya rencana awal mau ke Wat Phra Keow, Wat Pho kemudian Wat Arun. Wat Phra Keow gagal kan tadi. Wat Arun juga gagal karena lagi direstorasi dan ditutup sementara. Sementara itu Mama Said juga udah gelisah gak sabaran kepingin shopping lagi, akhirnya kami naik taksi langsung ke mall.


Rabu, 30 November 2016

Hello Kitty Run

Ini adalah race kedua buat saya dan race pertama untuk adik saya, Anissa. Ini juga 5k pertama Anissa. Awalnya saya lihat tentang Hello Kitty run di Instagram, acara race ini sudah diselenggarakan di Jepang, Singapura, Malaysia, Bangkok, tahun ini pertama kali di Jakarta. Melihat postingan peserta Hello Kitty run yang sebelumnya unyu-unyu dan cute, saya jadi tertarik untuk ikut. Ketika saya ajak adik saya untuk ikutan, dia langsung setuju. Kategori Hello Kitty Run hanya ada 5 k.

Hari Sabtu, satu hari sebelum acara, saya dan Anissa ke Ratu Plaza untuk mengambil race kit. Kami ketemu sama Grace, kawan yang beberapa bulan lalu sering lari bareng di senayan. Grace adalah penggemar berat Hello Kitty, waktu lagi agak mabok soju dia sempat mengakui kalau kelak punya mobil kepingin tempel sticker Hello Kitty yang guwede buwaanget di body dan kap mobil. Pagi itu Grace tampak galau karena sempat daftar tapi sepertinya nyangkut, waktu ditanya ke panitia ternyata memang belum terdaftar dan belum ada charge ke kartu kreditnya. 

Sebagai penggemar berat Hello Kitty, matanya tampak berkaca-kaca karena tidak bisa ikut acara ini. Tapi Grace pantang menyerah, dia bertekad cari orang yang sudah daftar tapi tidak bisa lari keesokan harinya. Hampir tengah malam dia pun berhasil menemukan orang yang mau menjual race kitnya, keesokan harinya dia pun berhasil ikut lari.

Jam 3 subuh, saya dan Anissa berangkat dari rumah kami menuju AEON Mall di daerah Alam Sutera, Tangerang. Dengan itu kami melintasi 3 propinsi, Bekasi - Jakarta - Tangerang. Jam setengah 5 subuh kami sudah tiba di AEON dan langsung masuk ke parkiran mall. Tidak lama ada pesan masuk dari Goiq, katanya dia juga sudah tiba di lokasi.

Saya, Goiq dan Cipu sebenarnya sudah lama merencakan mau lari bareng, tapi selama ini hanya merupakan wacana belaka. Akhirnya di Hello Kitty Run ini saya dan Goiq berhasil lari bareng, tapi belum bareng sama Cipu. Omith alias Mita juga ikut! Setelah debutnya di Bali Marathon, Omith semakin semangat ikut event lari yang lainnya. Sementara saya tidak pernah ikut event lari lagi setelah Bali Marathon dan sebelum Hello Kity Run ini.


Dengan penuh perjuangan, Anissa akhirnya berhasil finish 5 k perdananya dan dapat medali. Sebenarnya saya agak kecewa sih sama medalinya karena biasa banget, bundar warna gold gambar Hello Kitty ditengah. Bayangan saya medalinya akan cute dan warna-warni seperti medali finisher yang saya lihat di acara Hello Kitty Run Singapura, Malaysia dan Bangkok. 

Ketika saya tanya Anissa bagaimana rasanya finish 5k, dia cuma jawab: kapok!


Jumat, 11 November 2016

Pindah-Pindah Hotel di Sanur

Beberapa hari sebelum berangkat ke Bali bulan Agustus kemarin saya masih belum memutuskan akan menginap dimana. Ada kawan yang menawarkan tempat untuk numpang di tempat kos-nya, saat itu saya belum cari-cari hotel karena rencananya memang kalau saya pergi sendiri saya mau nebeng saja di tempat kawan saya, ngirit.

2 minggu sebelum hari keberangkatan, Tince dan Omith memastikan diri akan ikut ke Bali bareng saya. Omith ikut HM di Bali Marathon juga, sementara Tince memutuskan mau ikut sebagai suporter atas nama persahabatan. Setelah diskusi sama Tince akhirnya kami pilih lokasi menetap di Sanur, dengan pertimbangan lebih dekat ke area race tapi tidak terlalu jauh dari mana-mana. 

Tawaran nebeng dari kawan saya terpaksa dipending karena kos-nya dia lebih dekat ke daerah kuta-legian. Saya dan Tince pun mulai cari-cari hotel di website Agoda. Setelah mengumpulkan beberapa kandidat, pilihan kami jatuh ke Sanur Guest House. Tapi karena masih ragu apakah lokasinya cukup dekat dengan shuttle terdekat maka kami hanya booking untuk 2 malam, nanti kedepannya akan ditentukan setelah pengambilan race pack.

Lokasi Sanur Guest House ternyata agak jauh dari pusatnya Sanur, enak sih kalau mau liburan menyepi karena bebas dari hiruk pikuk kegiatan turis. Ke pantai harus jalan kaki, tapi tidak sampai 10 menit kalau jalan santai. Nama pantainya Pantai Sudamala, lebih tenang dan nyaman daripada Pantai Sanur. Tapi untuk lebih mendekatkan diri ke pusat keramaian dan ke jalan raya supaya akses dini hari ke race lebih mudah saya dan tince memutuskan pindah hotel ke Indi Hotel. 

Di Indi Hotel selama 2 malam, setelah itu Tince harus berangkat lagi ke Bangkok untuk kerja dan saya pindah hotel lagi yang dekat dengan kapal untuk menyebrang ke Nusa Penida. Akhirnya saya pindah lagi ke Hotel Sanur Paradise Plaza hanya untuk semalam karena subuh-subuh saya sudah check-out dan menyebrang ke Nusa Penida.

Dari sekian banyak hotel yang tersebar di daerah Sanur, mungkin tiga darinya yang kebetulan saya tempati kemarin bisa jadi rujukan. Untuk ratenya bisa dilihat langsung di Agoda.com atau Booking.com atau website hotelnya langsung.

SANUR GUEST HOUSE 

Sanur Guest house terletak di bagian sepi dari daerah Sanur. Walaupun begitu cari makanan tidak susah dan ada minimarket, guardian dan ATM tidak jauh dari situ. Pantai terdekat adalah Pantai Sudamala, jalan kaki santai tidak sampai 10 menit dari hotel. Disekitar situ juga ada beberapa operator diving, bahkan masih satu lokasi dengan guest house ada juga operator diving, dua kali saya lihat ada yang latihan diving di kolamnya selama saya disitu.

Sanur Guest House hanya memiliki 8 kamar, 4 di lantai bawah dan 4 di lantai atas. Kamar dan kamar mandinya bersih walaupun dekornya sederhana. Kolam renangnya juga bersih. Staff hotel yang saya lihat selama disitu hanya 4 orang yang bergantian jaga, termasuk memasak sarapan. Sarapan setiap hari beda-beda dan sempat aja ditata cantik. Kalau tidak diminta kamar tidak akan dibersihkan, handuk juga kalau tidak kita minta tukar tidak akan otomatis diganti dengan yang baru. Tapi overall saya betah disini, suasananya lebih kekeluargaan daripada hotel besar dan mas-masnya selalu siap membantu. 

Salah satu sarapan di Sanur Guest House
Malam terakhir saya di Bali, pulang dari Nusa Penida saya belum booking penginapan. Setelah ditolak oleh Sanur Paradise, akhirnya saya kembali lagi ke Sanur Guest House, untungnya masih ada kamar. Staffnya langsung menyambut dengan riang ketika saya muncul kembali. Kalau ada urusan di Sanur lagi pasti saya akan kembali menginap di Sanur Guest House.

Alamat:
Jl. Danau Poso No. 53A
Sanur, Bali


HOTEL INDI

Next stop adalah Hotel Indi. Sepertinya hotel ini baru ganti nama dan ganti manajemen, atau mungkin baru ganti pemilik, soalnya di belakang namanya selalu dicantumkan dalam tanda kurung (ex. Rani Hotel). Dari depan terlihat bagus dan modern, tampak baru direnovasi. Tapi ketika masuk lihat kamarnya masih bangunan lama. 

Furniture, ubin, model jendela, model pintu, kamar mandi, model jadul. Di kamar mandinya masih ada bak mandi kayak jaman saya kecil, fiuh sudah lama banget gak lihat yang seperti itu rasanya kayak kembali ke masa lalu. Kalau lihat ke atas eternitnya sudah compang-camping. Pintu kamar mandi di kamar yang kami tempati pun bermasalah, pertama kali saya masuk kamar mandi dan mengunci pintu, saya terkunci di dalam karena handle pintunya nyangkut.

Area kolam renangnya dan tamannya sih lumayan

Kamarnya jadul
Tapi dengan rate yang saya bayar, ya kasian juga kalau saya protes. Ratenya nyaris setengahnya Sanur Guest House, padahal lokasi hotel ini ada di pinggir jalan raya dan tinggal menyebrang perempatan ke Pasar Sanur.  Staffnya semua helpfull dan ramah. Atau setidaknya berniat helpfull. Mereka bolak-balik mencoba memperbaiki handle pintu tersebut, walaupun tidak berhasil namun saya tetap kasih point positif untuk niat baiknya. 

Alamat:
Jl. Danau Buyan no.33
Bali

SANUR PARADISE PLAZA HOTEL

Hotel ini adalah hotel yang bintangnya paling banyak diantara dua hotel diatas, tapi paling tidak saya rekomen. Sebenarnya fasilitas kamar dan hotelnya sendiri bagus, sesuai dengan bintang dan rate yang saya bayar. Kolam renangnya luas dan panjang sekali. Saya pilih hotel ini karena dekat dengan lokasi express boat untuk menyebrang ke Nusa Penida. Dekat juga dengan rumah makan Mak Beng, jalan kaki hanya 5 menit. Yang bikin saya kurang menyukai hotel ini karena kesan pertama yang ditunjukan staff di bagian depan hotel.

Saya datang memang lebih awal dari jam check-in, memang niatnya hanya mau titip tas dulu kemudian jalan-jalan di pantai belakang hotel. Mungkin karena saya dan Tince jalan kaki dari gerbang masuk ke lobby, kami dicuekin sama satpam dan petugas yang ada di depan pintu masuk. Kalau pengalaman saya di hotel lain biasanya petugas di depan akan langsung menyambut dan kalau kita keliatan celingak-celinguk pasti ditunjukan posisi meja resepsionis. Lah ini mau saya samperin malah melengos, pura-pura tidak lihat. Walaupun belum sempat bertanya, sudah ketemu sendiri posisi meja resepsionis.

Saya berdiri di depan meja resepsionis cukup lama sampai mati gaya buka-buka handphone, saat itu mbak nya sedang sibuk berargumen dengan salah satu bapak customer yang lagi marah-marah. Saya juga kurang mengerti sih marah-marah kenapa, yang jelas sampai adu argumen. Setelah bapak itu pergi, masih dengan muka emosi, mba itu melayani saya. Wajahnya saat itu tanpa senyum, saya maklum karena mungkin dia masih emosi sama bapak-bapak. Saya menunjukan booking-an saya di handphone kemudian dia langsung cek di komputer. Saya langsung menjelaskan kalau saya hanya ingin titip barang, karena memang belum jam check-in. Tapi mba nya bilang akan proses dulu, jadi saya registrasi dulu saja walaupun baru bisa check in setelah jam 1 siang.

Setelah jam 1 siang saya kembali untuk check-in. Sempat lama juga menunggu di depan meja resepsionis walaupun saat itu ada 3 orang disitu, salah satunya lagi melayani ibu-ibu sasakan yang dandanannya seperti ibu pejabat jaman orde baru lagi complaint. Dua staff lagi gak jelas lagi apa. Setelah nunggu lama, sempat mengalihkan perhatian ke handpone, buka instagram, path, facebook, akhirnya ada juga yang mendatangi saya, melihat copy form yang saya bawa dan memberikan kunci kamar. Staff hotel yang mengantar saya ke kamar sih ramah, sembari jalan menjelaskan jumlah kamar di hotel ini dan fasilitas-fasilitas yang ada.   

Saya check-out subuh-subuh dan langsung menyebrang ke Nusa Penida. Saat itu saya tidak booking hotel karena belum tahu akan berapa lama di Nusa Penida dan apakah harus menginap di pulau itu. Tapi saya pikir kalau kembali hari itu juga pasti di Sanur Paradise Plaza masih akan ada kamar, karena ketika saya tinggal disitu bukan weekend dan memang hotel tampak sepi. 

Ketika saya kembali ke situ sore harinya, saya kembali ke depan meja resepsionis disambut oleh mbak yang lumayan ramah, saat itu tampak sepi jadi saya hanya satu-satu orang di lobby sore itu. Tapi ketika saya menanyakan kamar, mbak resepsionis yang ramah melirik ke mba yang memproses check-in saya di hari pertama. Tanpa melihat ke saya maupun tanpa cek ke komputernya, mba yang judes itu hanya bilang, "semua kamar full hari ini." Saya langsung pergi dan kembali ke Sanur Guest House. Rasanya beda banget, baru masuk ke Sanur Guest House saja semua staff wajahnya langsung senyum menyambut saya dengan hangat, menanyakan bagaimana race yang saya ikuti.

Ternyata ketika saya iseng lihat review pengunjung di agoda.com, tamu lokal yang menerima perlakuan 'dingin' bukan hanya saya saja. Review bagus dari tamu asing, yang bilang staff nya ramah. Jadi kesimpulan saya, hotel ini adalah hotel yang bule-friendly. Tapi kalau tidak begitu perduli sama pelayanan sih sebenarnya hotel ini lumayan bagus, lokasinya bagus dan kolam renangnya asik. 

Alamat:
Jl. Hang Tuah 46
Sanur, Bali

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...