Rabu, 17 Januari 2018

Latihan Lari Interval

Dua minggu telah berlalu sejak saya menetapkan niat ikut Training Plan Full Marathon.

Dua minggu ini mood terasa low banget, susah untuk ngumpulin semangat buat lari. Ditambah lagi kebiasaan makan (agak) sehat sudah beberapa bulan ini ditinggalkan, makan kembali gak teratur dan sembarangan. Berat badan gak naik sih, tapi sejak mulai program training rasanya lapar terus, apalagi hari minggu setelah long run dan hari seninnya. Minggu kedua malahan udah mulai lapar terus sejak hari jumat pagi, mungkin jumlah kalori yang masuk kurang, atau bisa juga sebenarnya saya kurang minum. Yang jelas perut gak enak banget karena kurang serat dari buah dan sayur. 

Vlog part 2 juga sudah di publish. Saya cerita soal interval training disitu. Lari interval itu termasuk program latihan lari marathon yang ada dimanapun. Salah satu efeknya adalah peningkatan kecepatan lari atau Pace. Dari hasil riset, browsing sana sini saya berhasil merangkum kegunaan interval training. 

Pertama-tama definisi Interval Training yang saya dapat dari wikipedia kayak gini:

a type of training that involves a series of low - to high - intensity workouts interspersed with rest or relief periods.

Jadi interval training itu adalah latihan dimana kita melakukan gerakan yang bisa berintensitas rendah hingga intensitas tinggi, diselingkan dengan periode istirahat atau rest. Kalau dalam hal lari berarti intensitas tinggi adalah lari pake usaha, rest nya bisa jogging, bisa jalan, bisa juga berhenti. 

Kegunaan Interval Training yang berhasil saya kumpulin dan rangkum dari berbagai sumber kira-kira sebagai berikut:

1. Meningkatkan Level of Fitness  

Level of Fitness biasanya diukur sama yang namanya VO2Max. Makin tinggi nilai Vo2Max maka makin fit. Yang diukur adalah Oksigen atau 02, satuannya adalah ml/min/kg, jadi seberapa banyak oksigen yang mengalir dalam tubuh dengan berat badan sekian dalam waktu 1 menit. Makin tinggi jumlah oksigen yang ada dalam tubuh, maka orang itu makin fit. 

Kalau mau ukur Vo2Max biasanya orang lari di treadmill pakai masker oksigen, dari situ akan ketauan nilainya. Tapi  kebetulan sportwatch Garmin saya ada fiture Vo2Max, saya gak tau seberapa akuratnya, tapi kalau diperhatikan angkanya akan naik kalau pace lari saya naik, mungkin ada rumus hitung-hitungan dengan berat badan dan detak jantung juga. 

Kalau kita melakukan high intensity workout, kayak sprint atau lari cepet gitu, detak jantung atau heart rate akan langsung meningkat. Kemudian turun lagi di fase istirahat atau rest. Repetisi atau pengulangan naik turun detak jantung itu katanya semacam latihan buat jantung supaya makin kuat. Jantung kan tugasnya memompa darah ke seluruh tubuh. Darah itu membawa oksigen untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Jadi kalau jantung makin kuat memompanya, aliran darah akan makin lancar, supply oksigen ke seluruh tubuh juga makin banyak. Secara logika dan matematis, maka angka vo2max akan meningkat kalau jantung makin kuat. 

2. Tubuh terbiasa dengan gerakan sprint atau lari cepat. 

Tubuh kita sebenarnya punya memory sendiri yang kadang gak sepenuhnya dikontrol oleh otak. Pernah gak kita jalan dari rute yang tiap hari kita lalui, misalnya dari parkiran mobil ke meja kantor, sementara itu otak kita mikirin hal lain tiba-tiba pas sadar udah sampai di meja. Kita gak ingat momen perjalanan menuju ke meja karena tubuh kita udah otomatis bergerak tanpa harus disuruh otak. 

Kurang lebih itu yang terjadi waktu kita lari. 

Karena gerakan repetitif dalam jangka waktu yang lumayan, lama-lama gerakan itu terekam dalam memory tubuh. Gerakan jogging untuk lari jarak jauh dan lari sprint pasti beda karena kalau lari jarak jauh kecepatan lari kita pelankan supaya hemat energi, sementara di lari sprint kita gak mikir mau hemat energi buat nanti-nanti jadi akan lari secepat-cepatnya. Tubuh kita bisa otomatis menyesuaikan gerakan kayak gitu tanpa perintah khusus dari otak.  

Kalau terlalu lama terbiasa lari di kecepatan hemat energy mungkin lama-lama tubuh kita jadi terlena dan makin lama makin “malas” untuk menambahkan effort lebih untuk memacu kecepatan. Teorinya dengan menyelipkan interval training ke training plan untuk long distance running, tubuh dan otot-otot kita jadi “ingat” gimana caranya untuk lari lebih cepat. 

3. Supaya tidak bosan 

Lari dengan kecepatan konstan, apalagi jarak jauh, bisa bikin kita bosan. Kalau training plan kita isinya cuma target jarak, makin lama bisa bosan karena gak ada variasi, akhirnya demotivasi. Beberapa orang berusaha mendapatkan motivasi lagi dengan cara beli baju baru, sepatu baru, bahkan gear baru demi untuk melanjutkan training plan hingga selesai. Tapi kalau belanja melulu tiap bosan kan lumayan boros. Padahal katanya olah raga lari adalah olahraga paling hemat karena modalnya cuma dengkul (literary). 

Dengan menyelipkan interval training ke training plan, bisa menambah variasi dalam latihan jadi gak bosen. Orang swedia menemukan istilah fartlek untuk latihan lari semacam ini,.Kadang tidak perlu pakai rumus berapa menit kali berapa kali, kita hanya memilih satu titik –misalnya tiang listrik di depan kita atau perempatan, dimana kita akan lari secepat-cepatnya menuju titik itu ketika kita lagi di easy pace, kemudian kembali ke easy pace setelah mencapai titik itu.

Nah sekarang, jangan lupa nonton Vlog nya ya. Like dan Subscribe! 



Jumat, 12 Januari 2018

Nostalgia Lari di Sabuga, Menemukan Tempat Asik di Lebak Siliwangi

Ini adalah throwback story tentang throwback memory. 

Balik ke tahun 2017 lalu, waktu saya ikut acara ITB Ultramarathon Jakarta - Bandung yang pernah saya ceritakan beberapa waktu lalu. Selepas acara, hari minggu saya masih tinggal di Bandung. Senin pagi saya memang rencana mau recovery run di Lapangan Sabuga (Sasana Budaya Ganesha). 

Sabuga itu adalah stadium olah raga yang letaknya bersebrangan dengan kampus saya dulu, bersebrangan juga dengan tempat kos saya dulu. Di dalam Sabuga sebenarnya ada beberapa sarana olahraga selain track lari. Ada lapangan sepak bola, lapangan basket, lapangan tennis, kolam renang. Di tahun pertama kuliah, di kampus saya ada mata kuliah olah raga. Ujiannya tes lari di track Sabuga. Demi lulus ujian mata kuliah olahraga dan ditambah dengan tuntutan harus kuat lari-lari malam waktu ospek, saya jadi sering latihan lari di Sabuga. 

Kalau dipikir-pikir waktu muda dulu, kegiatan fisik saya lumayan aktif. Selain lari, dari tempat kos ke kampus jalan kaki, ikut klub karate di kampus, ospek, dugem. Oooh masa muda, entah energi dari mana bisa punya kekuatan melakukan itu semua, padahal kalori yang masuk mayoritas asalnya cuma dari mie instant dan telur. Begadang 3 hari juga kuat. Sekarang mah boro-boro, jam 10 aja udah abis energinya kayak handphone yang baterenya udah tua, cepet low bat. 

Kebetulan saya menginap di Hotel Royal Dago yang tidak jauh dari Sabuga, jadi dari hotel saya lari ke sana, ke pintu yang dulu saya biasa masuk. Ternyata ditutup. Saya lari memutar jalan ke bagian belakang Sabuga, ada ibu-ibu jualan sarapan yang memberi tahu saya kalau pintu masuk ke track lari sekarang melalui Lebak Siliwangi. Saya lari lagi ke Lebak Siliwangi hingga ketemu jalan masuk ke track lari dan lari beberapa keliling. Target saya lari 5 kilometer, pace nya sudah tentu pace nostalgia.



Dulu saya biasa lari 3 hingga 5 keliling lapangan Sabuga, satu keliling 400m. jarak lari maksimal saya dulu hanya 5 keliling sabuga, jadi sebenarnya hanya 2 kilometer. Kalau dibandingkan dengan sekarang, 2 km itu buat saya kurang banget, short run saja 5km. Tapi memang gak instant sih, kalau buat saya untuk naik dari jarak standard 2km ke 5km memang butuh waktu satu tahun. Dulu boro-boro kepikiran bisa lari sampe 20an km, apalagi 40an km. 

Selesai lari nostalgia, sebelum gerbang melewati parkiran Lebak Siliwangi saya melihat sesuatu yang menarik. Ada semacam elevated structure, semacam jembatan mirip seperti yang di atas jalan cihampelas. Nah, tapi ini dibawahnya tanam-tanaman, jadi seru seperti jalan di jembatan yang menerobos hutan-hutan. Mungkin karena hari senin jadi tempatnya sepi, kalau weekend pasti rame. Sayangnya ide buat bikin kayak gitu terlambat 17 tahun (buat saya). 





Jumat, 05 Januari 2018

Birthday Trip ; Naik Angkot ke Savana Baluran

Saya nulis postingan ini sambil bersenandung lagu Camila Cabello yang judulnya Havana, tapi H nya diganti S. "Savana..o..na..na..."

Kata orang-orang Baluran itu seperti miniatur Afrika, mudah-mudahan sih kata orang yang pernah ke Afrika karena saya belum pernah. Hutan Nasional Baluran yang terletak di ujung timur pulau Jawa itu merupakan Hutan Savana. Perbedaan signifikan dengan hutan tropis yang kebanyakan ada di Indonesia adalah Savana ini merupakan padang rumput luas yang jarang pepohonannya, sementara kebanyakan hutan tropis di Indonesia pohon nya padat-padat. Jenis pohon atau vegetasinya juga beda. Sementara itu Afrika terkenal dengan Savana-nya.

Ada beberapa teori evolusi manusia yang berpendapat bahwa evolusi homo sapien dari generasi pertama sampai yang modern kayak sekarang itu erat kaitannya dengan savana. Ketika masa pra-sejarah, nenek moyang kita Homo Sapien generasi pertama, sebelum bermigrasi dan menguasai seluruh dunia ini berasal dari daerah yang sekarang kita kenal dengan Afrika. Diduga karena suatu peristiwa yang hingga kini masih menjadi misteri, homo sapien (mungkin terpaksa) menjelajah keluar dari tempat asalnya. 

Penjelajahan itu menyebabkan Homo Sapien harus melintasi dan hidup di savana yang kondisinya sangat kejam dan dipenuhi hewan-hewan predator yang mencari mangsa. Karena kebutuhan alias kepepet bertahan hidup itulah - di antara perjuangan mencari makanan dan perjuangan agar tidak jadi makanan hewan, Homo Sapien nenek moyang kita mulai berinovasi dan berevolusi. 

Sama seperti nenek moyang kita - saya, Pagit dan Susi terpaksa berinovasi dalam mencari transportasi dari Hotel Watu Dodol Resort ke Taman Nasional Baluran. Sebelumnya saya pikir Baluran itu termasuk wilayah Banyuwangi karena selama ini pariwisata di Baluran gencar dari area Banyuwangi. Ternyata Baluran itu beda kabupaten, masuknya ke wilayah Kabupaten Situbondo. Untuk menuju Baluran dari hotel kami jaraknya sekitar 30km, lumayan jauh juga. Itu baru sampai di pintu gerbang, dari pintu gerbang ke savana-nya, tempat kami menginap, masih butuh waktu sekitar 1 jam lagi karena jalannya rusak dan memang jauh masuk ke dalamnya, mungkin ada 10km-an lagi kali.

Seperti biasa, saya males riset sebelum berangkat, jadi modal tanya sana sini ketika sudah sampai Banyuwangi. Salah satu yang saya tanya adalah supir angkot yang mengantar kami dari stasiun ke hotel ketika baru tiba di banyuwangi. Iseng-iseng saya tanya kalau carter angkot dia untuk antar ke Baluran berapa. Kami pun saling bertukar nomor handphone. 

Waktu itu saya belum pasti carter bapak itu karena masih mau cari alternatif lain. Setelah tanya sana sini rupanya untuk menuju dan masuk ke dalam kawasan baluran cara yang paling feasible adalah rental motor dan rental mobil. Karena diantara kami tidak ada yang bisa bawa motor dan punya sim motor maka terpaksa harus rental mobil. Akhirnya kami memutuskan carter angkot, karena lebih murah dari sewa mobil, anginnya alami soalnya. Sebelum saya menghubungi bapak supir angkot, bapak itu sudah berinisiatif duluan menghubungi saya. 

Pagi-pagi kami dijemput angkot, berangkat menuju Baluran. Tidak lupa mengabadikan perjalanan kami bersama pak supir angkot dan angkotnya. Perjalanan carter angkot ini semacam nostalgia dari beberapa tahun lalu disaat saya, pagit dan susi juga melakukan perjalanan ke air terjun di bogor dengan carter angkot. Waktu itu susi memasak dan bawa makanan, rencananya mau piknik makan siang di outdoor. Tapi entah kenapa waktu itu kami malah dibawa oleh sopir angkotnya ke teras rumah warga yang kami tidak kenal dan akhirnya kami piknik di teras rumah. Sementara penghuni rumahnya ada di ruang tamu menonton televisi, mungkin juga sambil nonton sekelompok cewe-cewe aneh yang numpang piknik di teras mereka.

Sabar ya, kali ini  ceritanya agak panjang.

Saya dan Susi di depan loket pintu masuk Taman Nasional
Sebelum berangkat ke Banyuwangi, saya sudah booking penginapan di dalam Taman Nasional Baluran. Nomor telepon orang Taman Nasional saya dapat dari browsing-browsing di Google. Buat yang kali aja berminat mau menginap di dalam kawasan Baluran bisa menghubungi Pak Tri Hari (HP 082332213114). Untuk harga tiket masuk, kami membayar 15ribu per orang, tarif wisatawan lokal.

Setelah mendaftar dan membayar biaya masuk petualangan naik angkot melintasi hutan savana baru dimulai. Sepertinya waktu kami kesana bulan Agustus baru masuk musim kering, jadi daun-daunan dan rumput-rumput sudah pada menguning tapi masih ada yang hijau. Jalan masuk yang bergelombang membuat angkot terguncang-guncang dan pantat kami lompat-lompatan di atas jok angkot yang keras. Saya duduk di depan di samping pak supir, sementara Pagit dan Susi duduk sambil berpegangan erat ke apa pun yang bisa di pegang dibangku belakang angkot agar tidak terhempas. 

Setelah beberapa lama melewati hutan yang kanan-kirinya tampak kering tiba-tiba angkot mulai memasuki area hutan yang hijau, rimbun dan sejuk. Ternyata ada area hutan tropis ditengah-tengah hutan savana. Kami baru tahu ketika mau pulang lewat area hutan ini lagi, katanya di kawasan ini adalah rumahnya macan loreng dan macan kumbang yang warna hitam alias phanter. Kami gak lihat macan, tapi di tengah-tengah jalan sepanjang hutan yang hijau banyak banget kupu-kupu terbang. Jadi angkot nya menembus kawanan kupu-kupu sepanjang jalan. aaaaahhh... indah banget, rasanya kayak pintu masuk menuju alam fantasi apa gitu.

Selanjutnya saya akan cerita ngapain aja di dalam kawasan hutan nasional Baluran (selain lari pagi) dan gimana rasanya tidur di gubuk di tengah-tengah savana diantara hewan-hewan liar. 




Selasa, 02 Januari 2018

Journey to Full Marathon

Postingan pertama di 2018.

Dua tahun lalu saya menghabiskan malam tahun baru di UGD RS Persahabatan Rawamangun. Kejadiannya mengerikan waktu dialami tapi agak konyol kalau diingat-ingat sekarang. Waktu itu Papa Said iseng main petasan sendirian pas malam tahun baru, sementara itu saya sudah terlelap di dalam tenda yang didirikan di kebun setelah kekenyangan menyantap sate kambing, plus kelelahan ngipas-ngipas satenya. Tiba-tiba saya terbangun oleh bunyi petasan yang sangat keras dan bunyi alarm mobil yang masif. Saya langsung terbangun dan keluar tenda lari ke arah mobil yang alarmnya bunyi, disitulah saya menemukan Papa Said dengan tangan dan baju berlumuran darah. 

Singkat cerita, saya dan Chacha langsung bergegas membawa Papa Said ke RS naik mobil Chacha. Tapi pas tengah malam pergantian tahun baru, jalan utama dari rumah say ake arah jalan raya penuh dengan kerumunan massa. Saya langsung turun berusaha membelah kerumunan tapi sia-sia. Sementara itu Chacha di belakang langsung putar balik dan ketika saya sadar hampir saja saya ditinggal. Saat itu saya merasa latihan lari saya membuahkan hasil, saya lari mengejar mobil hingga chacha sadar dan menghentikan mobilnya, saya langsung naik.

Pertama kami pergi ke RS Harum, yang terdekat dari rumah. Disitu Papa Said mendapat pertolongan pertama dan disitu kami baru tahu kalau satu ruas jari manis sebelah kanannya hilang. Tapi di RS Harum tidak ada dokter bedah yang bisa menjahit, satu-satunya dokter bedah yang ada 24 jam yang terdekat ada di RS Persahabatan Rawamangun. Dokter bilang akan lebih cepat kaalu naik mobil sendiri daripada naik ambulance. Di jalan keluar UGD RS Harum, saya melihat ada satu lagi korban petasan yang lebih parah dari Papa Said.

Sampai di UGD RS Persahabatan kondisinya lebih parah. Rasanya kayak ada di bangsal rumah sakit pas lagi perang, yang saya suka liat di film-film. Pasien di UGD sudah penuh, hampir semua berlumuran darah. Sementara itu masih banyak lagi yang terus berdatangan, berdarah-darah juga. Kebanyakan korban kecelakan motor dan petasan, ditambah lagi ada korban-korban tawuran warga yang kejadiannya tidak jauh dari Rawamangun. Dibandingkan dengan yang lain, ternyata cedera Papa Said masih belum parah-parah amat. Mungkin itu kenapa setelah luka dibersihkan dan diberi infus, Papa Said dibiarkan menunggu. Katanya ruang operasi dan dokter bedahnya sibuk, pasien antri. Kami baru dapat giliran jam 8 pagi, itu pun operasi menjahitnya dilakukan di ruang klinik, bukan ruang operasi. 

Tahun ini malam tahun baru saya tidak memacu adrenalin seperti dua tahun lalu itu. Saya menghabiskannya di kamar, membaca buku Memoar pendiri Brand olahraga terkenal, Nike. Namanya Philip Knight. Buku itu bercerita bagaimana Philip Knight mengejar passionnya untuk jualan sepatu olahraga di tahun 1960-an, hingga jadi distributor sepatu jepang Onitsuka di US, hingga akhirnya mendirikan salah satu perusahaan sepatu dan pakaian olahraga terbesar di dunia, Nike. 

Dulu saya pernah ngobrol dan bilang ke salah satu kawan saya. "coba deh lo baca buku biografi orang-orang pendiri perusahaan-perusahaan besar. Chapter yang menceritakan saat dia berhasil mencapai impiannya atau tujuannya atau goal-nya palingan cuma satu chapter, paling banyak dua chapter. Tapi belasan bahkan bisa puluhan chapter sebelumnya isinya cerita tentang kegagalan, perjuangan, kegalauan."

"Kalau misalkan kita sukses dan kelak bikin buku biografi, mungkin hidup kita sekarang masih ada di chapter-chapter awal, kita masih belum tau berapa chapter lagi sampai kita mencapai chapter terakhir yang isinya menceritakan tentang impian kita yang sudah tercapai." Mungkin juga chapter itu gak akan pernah ada, selalu ada kemungkinan buat itu. Tapi bisa juga chapter terakhir itu ditulis saat kita udah gak ada untuk bisa cerita sendiri - itu kalau apa yang kita lakukan bisa jadi inspirasi buat orang lain. 

Sebenarnya saya takut mau lari full marathon, 42.2 km itu jauh banget. Untuk lari half marathon yang 21 km aja buat saya sudah penuh perjuangan, terutama lewat dari 17km, itu kayaknya semua badan rontok seketika. Tapi ya kayak saya bilang, saya terinspirasi. Ketika ikut race saya selalu mupeng sama orang-orang yang berhasil finish Full Marathon, begitu pula waktu saya riset tentang lari dan menemukan pengalaman first marathon orang-orang di youtube. Tapi gak tau kenapa yang paling memotivasi dan membulatkan tekad saya adalah Karlie Kloss, model victoria secret, pilihan motivasi yang aneh sih buat ikut Full Marathon. 

Selain itu saya juga terinspirasi ketika baca buku tentang Kara Goucher. Saya terinspirasi ketika baca-baca dan nonton youtube tentang Paula Redcliff. Saya terinspirasi ketika nonton film dokumenter tentang founder New York Marathon. Saya terinspirasi oleh musisi idola masa muda saya Alanis Morissette. Saya terinspirasi sama Oprah Winfrey. Saya terinspirasi sama kisah senior-senior usia 70an yang masih mampu finish full marathon. Dan tahun 2018 ini saya mau coba menaklukan jarak 42.2km itu. 

Saya akan share pengalaman saya di channel youtube saya, mudah-mudah sempat update terus dan lebih memotivasi saya untuk latihan. 



Rabu, 27 Desember 2017

Catatan Tahun 2017

Saya pernah lihat acara di National Geographic tentang Project-nya Nike berusaha untuk membuktikan apakah mungkin seorang manusia menyelesaikan Marathon (42,2 km) dalam waktu kurang dari 2 jam. Record tercepat hingga tahun 2017 adalah 2 Jam 2 menit, itu jauh lebih cepat daripada waktu yang saya butuhkan buat finish Half Marathon yang jaraknya setengah dari Marathon.

Nike mensponsori 3 orang atlit, satu tim yang terdiri dari banyak ahli dari bidang nutrisi, fisiologi manusia, olahraga dan tentunya ahli sepatu. Ahli-ahli itu melakukan analisa dan perhitungan-perhitungan pakai rumus-rumus dan grafik mengenai latihan apa yang harus dilakukan atlit, makanannya, pokoknya segala macemnya untuk berusaha mencapai kondisi ideal yang diperlukan agar hitung-hitungan rumusnya berhasil. Rumus kan biasanya pakai kondisi ideal. Track lari nya pun dicari di lokasi dan dibuat dalam kondisi yang se-ideal mungkin, misalnya jalurnya rata, gak banyak belokan, temperatur gak terlalu panas atau dingin, kondisi angin dibuat ideal dan seterusnya. 

Salah satu pelarinya yang namanya Eliud Kipchoge saat di interview bilang kalau selama ini gak ada yang lari Marathon dibawah 2 jam. Banyak yang percaya kalau lari Marathon dibawah 2 jam, orang bisa mati. Misalnya aja nih ya kalaupun pas 2 jam, untuk menempuh 42km berarti orang harus lari dengan kecepatan rata-rata diatas 20km/jam selama 2 jam. Naik becak aja 20km/jam cepet, bayangin aja kalau lari. 

In fact, orang pertama yang tercatat dalam sejarah lari sejauh jarak itu, mati. Pasti udah banyak yang familiar sama ceritanya. Itu di jaman Yunani Kuno, ada orang namanya Pheidippides lari dari kota yang namanya Marathon ke Athena untuk kasih kabar kalau pasukan yunani menang di perang yang namanya Battle of Marathon. Jaraknya katanya sekitar 25miles (Marathon yang sekarang sudah berevolusi jadi lebih jauh 26,2 miles atau setara 42,2 km). 

Di tahun 1896, pertama kali ada orang yang memecahkan rekor lari Marathon dibawah 3 jam. Sekarang pemenang-pemenang Marathon semuanya pasti dibawah 2 jam 10 menit. Apakah manusia berevolusi jadi makin cepat dan kuat? Pertanyaan itu mungkin akan saya tulis di postingan lain. Anyway, balik ke tahun 2017- lebih dari 1 abad kemudian, tim Nike berusaha membuktikan apakah bisa seorang manusia memecahkan rekor lari Marathon dibawah 2 jam. 

Satu-satunya pelari yang bisa finish mendekati 2 jam adalah Kipchoge, 2 jam 25 detik!

Memang belum berhasil membuktikan bahwa dalam kondisi ideal manusia bisa lari marathon dibawah 2 jam, tapi kata-kata Kipchoge yang keren. Katanya, buat Kipchoge untuk mencapai itu mungkin adalah hal yang sulit, tapi kini dunia hanya punya 25 detik untuk bisa mencapai mimpi marathon dibawah 2 jam, orang lain pasti bisa. 

Hal yang saya pelajari dari nonton dokumenter itu, terutama dari Kipchoge adalah bahwa segala sesuatu dalam hidup intinya adalah state of mind. Hal paling berat dari lari jarak jauh adalah mengalahkan state of mind kita sendiri. Kadang mau mulainya aja berat, seringnya ketika niat mau lari 15km tapi ditengah jalan menyerah cuma selesai 10km. Bagaimana kita bertahan itu adalah kekuatan pikiran. kalau pikiran kita bilang gak bisa, pasti seluruh tubuh ikut falling apart. Kalau pikiran kita bilang bisa, kita pasti bertahan. Bahkan kalaupun gagal, kita tetap akan percaya kalau pasti bisa, tapi belum sekarang. 

Ketika di beberapa bulan terakhir ini saya merasakan ada di level rock bottom, tiba-tiba saya ingat film dokumenter itu dan coba cari lagi di google, ternyata ada di youtube. Ini linknya kalau mau cekidot sendiri Breaking2, Documentary special.

It has been a rough year for me, sepanjang 2017 ini. Enam bulan pertama di 2017 saya habiskan dengan terombang-ambing diantara dua pekerjaan. Kenapa dua pekerjaan? Karena di akhir 2016 saya merasa tertekan, kemudian ada yang menawarkan sesuatu yang baru. Saya putuskan untuk coba yang baru, tapi sebagai jaminan kalau saya masih punya safety net ketika hal yang baru gak berhasil, saya gak sepenuhnya melepaskan yang lama. Ternyata di tempat baru yang perubahannya terlalu ekstrim saya malah lebih banyak kehilangan hal-hal yang saya suka, seperti teman-teman, comfort zone buat hang out, lari, berkebun, prepare my own food. Saya menghabiskan terlalu banyak waktu dijalan karena lokasinya sangat jauh dari rumah ke tempat kerja dan macet. Hal baru ini gak bikin saya terlepas dari beban batin akhir 2016, malah bikin saya tambah sedih dan rapuh dan sepi.

Ketika rombongan yang saya ikut waktu ke Merbabu tahun lalu mengajak saya naik gunung lagi ke Gunung Sumbing saya langsung bilang iya. Upaya menyesuaikan diri dengan kehidupan baru beneran bikin saya pingin lari ke gunung. Pasca trip ke Gunung Sumbing saya jadi lumayan sering hang out sama temen-temen ini, apalagi tempat kumpul mereka dekat rumah jadi gak perlu banyak effort untuk keluar dari jalur harian saya yang sudah panjang, berliku dan melelahkan. Dari gunung, kami iseng ke pantai, trip aneh dadakan. Selain perjalanan karena bisnis trip, sepertinya tahun 2017 acara jalan-jalan selain birthday trip cuma itu.

Setelah masa percobaan 6 bulan di tempat kerja baru selesai, saya memutuskan untuk berhenti. Saya mulai hubungi kawan-kawan lama di tempat nongkrong lama, merancang itinerary buat birthday trip bulan Agustus dan mulai mengatur jadwal rutin lari. Tapi tantangan hidup di 2017 belum berakhir buat saya. Setelah Birthday trip bulan agustus ke Banyuwangi dan Baluran saya mengalami breakdown. Mungkin ini adalah saat-saat terlemah saya atau bahasa kerennya my weakest moment. Setelah beberapa minggu tenggelam dalam momen itu, saya ingat Kipchoge dan state of mind-nya. Sesulit apa pun hidup kita, yang bisa membuat kita bertahan adalah kekuatan pikiran. Tapi mengendalikan pikiran kita sendiri gak semudah membalikan telapak tangan. Control your mind, or your mind will control you. 

Untungnya masih ada hal yang masih bisa bikin saya timbul sedikit dari ketenggelaman (hah, gimana itu bahasanya?). Di awal tahun saya mendaftar dua event Half Marathon, yaitu Jakarta Marathon dan Lombok Marathon. Tapi sekitar bulan april atau mei, saya diajak oleh senior alumni kuliah saya untuk ikut jadi panitia dalam acara Ultramarathon yang diselenggarakan alumni universitas saya. Setelah beberapa bulan, konten dan tema acara ultramarathonnya berevolusi dan saya akhirnya udah bukan hanya panitia tapi juga ikut lari. Sebulan kemudian saya lari Half Marathon kedua saya di Jakarta Marathon. Kondisi fisik saya acak-acakan, gak seperti tahun lalu waktu ikut Bali Marathon, tapi saya finish juga. 

Bulan Desember 2017 harusnya saya ikut Half Marathon lagi di Lombok Marathon, tapi acaranya diundur karena kondisi Gunung Agung yang lagi erupsi dan abu vulkaniknya terbang sampai kawasan Lombok. 

Keadaan buat saya belum banyak berubah selama 2017. Saya yakin suatu hari nanti, mungkin di 2018 atau mungkin di tahun-tahun berikutnya, saya akhirnya bisa mengerti pelajaran hidup apa yang telah saya dapat di tahun ini. Sekarang saya tidak punya ekpektansi apa-apa dan resolusi apa pun untuk tahun depan. Kayak kata Kara Goucher, pelari idola saya:

"In the end, just remember: one foot in front of the other, and repeat"


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...