Rabu, 30 November 2016

Hello Kitty Run

Ini adalah race kedua buat saya dan race pertama untuk adik saya, Anissa. Ini juga 5k pertama Anissa. Awalnya saya lihat tentang Hello Kitty run di Instagram, acara race ini sudah diselenggarakan di Jepang, Singapura, Malaysia, Bangkok, tahun ini pertama kali di Jakarta. Melihat postingan peserta Hello Kitty run yang sebelumnya unyu-unyu dan cute, saya jadi tertarik untuk ikut. Ketika saya ajak adik saya untuk ikutan, dia langsung setuju. Kategori Hello Kitty Run hanya ada 5 k.

Hari Sabtu, satu hari sebelum acara, saya dan Anissa ke Ratu Plaza untuk mengambil race kit. Kami ketemu sama Grace, kawan yang beberapa bulan lalu sering lari bareng di senayan. Grace adalah penggemar berat Hello Kitty, waktu lagi agak mabok soju dia sempat mengakui kalau kelak punya mobil kepingin tempel sticker Hello Kitty yang guwede buwaanget di body dan kap mobil. Pagi itu Grace tampak galau karena sempat daftar tapi sepertinya nyangkut, waktu ditanya ke panitia ternyata memang belum terdaftar dan belum ada charge ke kartu kreditnya. 

Sebagai penggemar berat Hello Kitty, matanya tampak berkaca-kaca karena tidak bisa ikut acara ini. Tapi Grace pantang menyerah, dia bertekad cari orang yang sudah daftar tapi tidak bisa lari keesokan harinya. Hampir tengah malam dia pun berhasil menemukan orang yang mau menjual race kitnya, keesokan harinya dia pun berhasil ikut lari.

Jam 3 subuh, saya dan Anissa berangkat dari rumah kami menuju AEON Mall di daerah Alam Sutera, Tangerang. Dengan itu kami melintasi 3 propinsi, Bekasi - Jakarta - Tangerang. Jam setengah 5 subuh kami sudah tiba di AEON dan langsung masuk ke parkiran mall. Tidak lama ada pesan masuk dari Goiq, katanya dia juga sudah tiba di lokasi.

Saya, Goiq dan Cipu sebenarnya sudah lama merencakan mau lari bareng, tapi selama ini hanya merupakan wacana belaka. Akhirnya di Hello Kitty Run ini saya dan Goiq berhasil lari bareng, tapi belum bareng sama Cipu. Omith alias Mita juga ikut! Setelah debutnya di Bali Marathon, Omith semakin semangat ikut event lari yang lainnya. Sementara saya tidak pernah ikut event lari lagi setelah Bali Marathon dan sebelum Hello Kity Run ini.


Dengan penuh perjuangan, Anissa akhirnya berhasil finish 5 k perdananya dan dapat medali. Sebenarnya saya agak kecewa sih sama medalinya karena biasa banget, bundar warna gold gambar Hello Kitty ditengah. Bayangan saya medalinya akan cute dan warna-warni seperti medali finisher yang saya lihat di acara Hello Kitty Run Singapura, Malaysia dan Bangkok. 

Ketika saya tanya Anissa bagaimana rasanya finish 5k, dia cuma jawab: kapok!


Jumat, 11 November 2016

Pindah-Pindah Hotel di Sanur

Beberapa hari sebelum berangkat ke Bali bulan Agustus kemarin saya masih belum memutuskan akan menginap dimana. Ada kawan yang menawarkan tempat untuk numpang di tempat kos-nya, saat itu saya belum cari-cari hotel karena rencananya memang kalau saya pergi sendiri saya mau nebeng saja di tempat kawan saya, ngirit.

2 minggu sebelum hari keberangkatan, Tince dan Omith memastikan diri akan ikut ke Bali bareng saya. Omith ikut HM di Bali Marathon juga, sementara Tince memutuskan mau ikut sebagai suporter atas nama persahabatan. Setelah diskusi sama Tince akhirnya kami pilih lokasi menetap di Sanur, dengan pertimbangan lebih dekat ke area race tapi tidak terlalu jauh dari mana-mana. 

Tawaran nebeng dari kawan saya terpaksa dipending karena kos-nya dia lebih dekat ke daerah kuta-legian. Saya dan Tince pun mulai cari-cari hotel di website Agoda. Setelah mengumpulkan beberapa kandidat, pilihan kami jatuh ke Sanur Guest House. Tapi karena masih ragu apakah lokasinya cukup dekat dengan shuttle terdekat maka kami hanya booking untuk 2 malam, nanti kedepannya akan ditentukan setelah pengambilan race pack.

Lokasi Sanur Guest House ternyata agak jauh dari pusatnya Sanur, enak sih kalau mau liburan menyepi karena bebas dari hiruk pikuk kegiatan turis. Ke pantai harus jalan kaki, tapi tidak sampai 10 menit kalau jalan santai. Nama pantainya Pantai Sudamala, lebih tenang dan nyaman daripada Pantai Sanur. Tapi untuk lebih mendekatkan diri ke pusat keramaian dan ke jalan raya supaya akses dini hari ke race lebih mudah saya dan tince memutuskan pindah hotel ke Indi Hotel. 

Di Indi Hotel selama 2 malam, setelah itu Tince harus berangkat lagi ke Bangkok untuk kerja dan saya pindah hotel lagi yang dekat dengan kapal untuk menyebrang ke Nusa Penida. Akhirnya saya pindah lagi ke Hotel Sanur Paradise Plaza hanya untuk semalam karena subuh-subuh saya sudah check-out dan menyebrang ke Nusa Penida.

Dari sekian banyak hotel yang tersebar di daerah Sanur, mungkin tiga darinya yang kebetulan saya tempati kemarin bisa jadi rujukan. Untuk ratenya bisa dilihat langsung di Agoda.com atau Booking.com atau website hotelnya langsung.

SANUR GUEST HOUSE 

Sanur Guest house terletak di bagian sepi dari daerah Sanur. Walaupun begitu cari makanan tidak susah dan ada minimarket, guardian dan ATM tidak jauh dari situ. Pantai terdekat adalah Pantai Sudamala, jalan kaki santai tidak sampai 10 menit dari hotel. Disekitar situ juga ada beberapa operator diving, bahkan masih satu lokasi dengan guest house ada juga operator diving, dua kali saya lihat ada yang latihan diving di kolamnya selama saya disitu.

Sanur Guest House hanya memiliki 8 kamar, 4 di lantai bawah dan 4 di lantai atas. Kamar dan kamar mandinya bersih walaupun dekornya sederhana. Kolam renangnya juga bersih. Staff hotel yang saya lihat selama disitu hanya 4 orang yang bergantian jaga, termasuk memasak sarapan. Sarapan setiap hari beda-beda dan sempat aja ditata cantik. Kalau tidak diminta kamar tidak akan dibersihkan, handuk juga kalau tidak kita minta tukar tidak akan otomatis diganti dengan yang baru. Tapi overall saya betah disini, suasananya lebih kekeluargaan daripada hotel besar dan mas-masnya selalu siap membantu. 

Salah satu sarapan di Sanur Guest House
Malam terakhir saya di Bali, pulang dari Nusa Penida saya belum booking penginapan. Setelah ditolak oleh Sanur Paradise, akhirnya saya kembali lagi ke Sanur Guest House, untungnya masih ada kamar. Staffnya langsung menyambut dengan riang ketika saya muncul kembali. Kalau ada urusan di Sanur lagi pasti saya akan kembali menginap di Sanur Guest House.

Alamat:
Jl. Danau Poso No. 53A
Sanur, Bali


HOTEL INDI

Next stop adalah Hotel Indi. Sepertinya hotel ini baru ganti nama dan ganti manajemen, atau mungkin baru ganti pemilik, soalnya di belakang namanya selalu dicantumkan dalam tanda kurung (ex. Rani Hotel). Dari depan terlihat bagus dan modern, tampak baru direnovasi. Tapi ketika masuk lihat kamarnya masih bangunan lama. 

Furniture, ubin, model jendela, model pintu, kamar mandi, model jadul. Di kamar mandinya masih ada bak mandi kayak jaman saya kecil, fiuh sudah lama banget gak lihat yang seperti itu rasanya kayak kembali ke masa lalu. Kalau lihat ke atas eternitnya sudah compang-camping. Pintu kamar mandi di kamar yang kami tempati pun bermasalah, pertama kali saya masuk kamar mandi dan mengunci pintu, saya terkunci di dalam karena handle pintunya nyangkut.

Area kolam renangnya dan tamannya sih lumayan

Kamarnya jadul
Tapi dengan rate yang saya bayar, ya kasian juga kalau saya protes. Ratenya nyaris setengahnya Sanur Guest House, padahal lokasi hotel ini ada di pinggir jalan raya dan tinggal menyebrang perempatan ke Pasar Sanur.  Staffnya semua helpfull dan ramah. Atau setidaknya berniat helpfull. Mereka bolak-balik mencoba memperbaiki handle pintu tersebut, walaupun tidak berhasil namun saya tetap kasih point positif untuk niat baiknya. 

Alamat:
Jl. Danau Buyan no.33
Bali

SANUR PARADISE PLAZA HOTEL

Hotel ini adalah hotel yang bintangnya paling banyak diantara dua hotel diatas, tapi paling tidak saya rekomen. Sebenarnya fasilitas kamar dan hotelnya sendiri bagus, sesuai dengan bintang dan rate yang saya bayar. Kolam renangnya luas dan panjang sekali. Saya pilih hotel ini karena dekat dengan lokasi express boat untuk menyebrang ke Nusa Penida. Dekat juga dengan rumah makan Mak Beng, jalan kaki hanya 5 menit. Yang bikin saya kurang menyukai hotel ini karena kesan pertama yang ditunjukan staff di bagian depan hotel.

Saya datang memang lebih awal dari jam check-in, memang niatnya hanya mau titip tas dulu kemudian jalan-jalan di pantai belakang hotel. Mungkin karena saya dan Tince jalan kaki dari gerbang masuk ke lobby, kami dicuekin sama satpam dan petugas yang ada di depan pintu masuk. Kalau pengalaman saya di hotel lain biasanya petugas di depan akan langsung menyambut dan kalau kita keliatan celingak-celinguk pasti ditunjukan posisi meja resepsionis. Lah ini mau saya samperin malah melengos, pura-pura tidak lihat. Walaupun belum sempat bertanya, sudah ketemu sendiri posisi meja resepsionis.

Saya berdiri di depan meja resepsionis cukup lama sampai mati gaya buka-buka handphone, saat itu mbak nya sedang sibuk berargumen dengan salah satu bapak customer yang lagi marah-marah. Saya juga kurang mengerti sih marah-marah kenapa, yang jelas sampai adu argumen. Setelah bapak itu pergi, masih dengan muka emosi, mba itu melayani saya. Wajahnya saat itu tanpa senyum, saya maklum karena mungkin dia masih emosi sama bapak-bapak. Saya menunjukan booking-an saya di handphone kemudian dia langsung cek di komputer. Saya langsung menjelaskan kalau saya hanya ingin titip barang, karena memang belum jam check-in. Tapi mba nya bilang akan proses dulu, jadi saya registrasi dulu saja walaupun baru bisa check in setelah jam 1 siang.

Setelah jam 1 siang saya kembali untuk check-in. Sempat lama juga menunggu di depan meja resepsionis walaupun saat itu ada 3 orang disitu, salah satunya lagi melayani ibu-ibu sasakan yang dandanannya seperti ibu pejabat jaman orde baru lagi complaint. Dua staff lagi gak jelas lagi apa. Setelah nunggu lama, sempat mengalihkan perhatian ke handpone, buka instagram, path, facebook, akhirnya ada juga yang mendatangi saya, melihat copy form yang saya bawa dan memberikan kunci kamar. Staff hotel yang mengantar saya ke kamar sih ramah, sembari jalan menjelaskan jumlah kamar di hotel ini dan fasilitas-fasilitas yang ada.   

Saya check-out subuh-subuh dan langsung menyebrang ke Nusa Penida. Saat itu saya tidak booking hotel karena belum tahu akan berapa lama di Nusa Penida dan apakah harus menginap di pulau itu. Tapi saya pikir kalau kembali hari itu juga pasti di Sanur Paradise Plaza masih akan ada kamar, karena ketika saya tinggal disitu bukan weekend dan memang hotel tampak sepi. 

Ketika saya kembali ke situ sore harinya, saya kembali ke depan meja resepsionis disambut oleh mbak yang lumayan ramah, saat itu tampak sepi jadi saya hanya satu-satu orang di lobby sore itu. Tapi ketika saya menanyakan kamar, mbak resepsionis yang ramah melirik ke mba yang memproses check-in saya di hari pertama. Tanpa melihat ke saya maupun tanpa cek ke komputernya, mba yang judes itu hanya bilang, "semua kamar full hari ini." Saya langsung pergi dan kembali ke Sanur Guest House. Rasanya beda banget, baru masuk ke Sanur Guest House saja semua staff wajahnya langsung senyum menyambut saya dengan hangat, menanyakan bagaimana race yang saya ikuti.

Ternyata ketika saya iseng lihat review pengunjung di agoda.com, tamu lokal yang menerima perlakuan 'dingin' bukan hanya saya saja. Review bagus dari tamu asing, yang bilang staff nya ramah. Jadi kesimpulan saya, hotel ini adalah hotel yang bule-friendly. Tapi kalau tidak begitu perduli sama pelayanan sih sebenarnya hotel ini lumayan bagus, lokasinya bagus dan kolam renangnya asik. 

Alamat:
Jl. Hang Tuah 46
Sanur, Bali

Selasa, 11 Oktober 2016

Damnoensaduak Floating Market

Sudah cukup lama saya tidak update blog walaupun sebenarnya rencana postingan ini sudah cukup lama juga. Kali ini bukan karena sibuk. Template New Blog Post ini aja sudah berkali-kali saya buka dan terpampang di layar laptop, tapi untuk mulai nulis berat. Semacam mengalami Brain Fog. Badan juga kurang delicious, akhir-akhir ini lemes banget pinginnya tidur terus. Tapi sekarang saya sudah merasa mulai normal, setelah browsing sana sini akhirnya ketemu masalah kenapa saya lemes terus dan ternyata sepele. Nanti deh saya cerita di postingan khusus.

Sekarang saya mau cerita tentang Floating Market yang sempat dikunjungi waktu ke Bangkok awal tahun ini.

Hari terakhir di Bangkok kami masih ada waktu setengah hari untuk jalan-jalan karena pesawatnya sore, gak mau rugi. Memang rencana dari awal mau rent mobil untuk jalan-jalan dan langsung diantar ke airport. Salah satu tujuan yang ditargetkan adalah Floating Market, tapi belum tau yang mana, pokoknya yang sempat didatangi setengah hari itu.

Rental mobil belum ada, tapi saya yakin mestinya sih banyak di Bangkok. Harganya sih saya sudah survei di internet kira-kira kalau sewa mobil satu hari berapa ratenya. Kebetulan waktu mau ke Madame Tussaud Museum kami naik tuk tuk. Pengendara tuk tuk nya menanyakan rencana mau kemana aja, iseng-iseng saya tanya-tanya soal floating market. Seperti yang sudah saya duga, supir tuk tuk menawarkan, untuk mengantar. Sekalian saja saya nego untuk sewa mobil mengantar ke Floating Market sekalian drop di airport. Waktu itu rate yang disepakati adalah 2000 Bath, biaya toll dan bensin ditanggung supir. Saya memberikan nama saya, nama hotel dan nomor kamar. 

Di hari yang disepakati, jam 8 kurang ada telpon ke kamar saya di hotel. Supir tuktuk sudah datang menjeput dengan mobil. Saya turun untuk menemuinya. Supir tuktuk tampak segar pagi itu dengan wajah yang putih karena bedak dan bibir yang dipoles lipstik warna magenta. Dia berdiri di depan mobil minivan bersama seorang laki-laki lagi. "Kenalkan ini sepupu saya yang punya mobil dan yang akan menjadi supir," katanya memperkenalkan pria disebelahnya.

Menurut rekomendasinya kami pergi ke Damnoensaduak Floating Market, memang jauh tapi waktunya cukup. Floating market itu merupakan salah satu yang tertua dan terluas di Bangkok. Kami diturunkan di suatu tempat, masih ada beberapa km hingga ke Floating Marketnya. Tempat itu adalah penyewaan boat. Kami sewa boat 1 jam untuk keliling-keliling Floating Market, saya agak lupa mungkin sekitar 1000 bath.

Awalnya kami ditawarkan macam-macam paket dengan boat, ada yang ke floating market dan ke wat, macam-macam deh. Waktu saya tanya hanya mau ke floating market saja dia pura-pura tidak mengerti, sampai akhirnya saya bilang tidak jadi karena kalau ke macam-macam tempat tidak akan keburu mengejar pesawat. Waktu saya berdiri dari duduk baru deh dia keluarin tiket sewa perahu saja selama satu jam.

Saya membayangkan kalau Floating Market itu jualannya di perahu, ternyata tidak juga. Toko-tokonya ada di pinggiran sungai, yang beli dari perahu. Ada juga sih yang jualan langsung di perahu tapi tidak banyak. Salah satunya ada nenek-nenek mungil yang tampak sudah sangat tua tapi kuat mendayung sendiri perahunya yang berisi buah-buahan. Saya pernah coba belajar mendayung di sungai dan sama sekali tidak semudah kelihatannya. Saya jadi minder sama nenek.

Barang-barang yang dijual adalah souvenir, makanan dan minuman. Sepertinya Floating Market ini memang khusus untuk turis. Tidak luar biasa sih kalau menurut saya, tapi kalau yang memang suka atraksi yang touristy banget kayaknya bakal suka.

Damnoensaduak Floating Market

Gerbang masuk pasar

Para penjual, ada yang di toko, ada yang di perahu

Nenek mungil tapi perkasa 

Kamis, 22 September 2016

Race Pertama, HM Pertama, Medali Finisher Pertama di Bali Marathon

Sebelumnya saya tidak pernah punya rencana mau lari sampai 20 km, awalnya saya rutin lari supaya fit dan tujuannya untuk mengurangi berat badan berlebih supaya punya stamina yang prima untuk travelling. Saya cuma pingin bisa snorkeling lama dan mengejar ikan nemo tanpa kehabisan nafas atau kecapekan di tengah jalan. Saya juga pingin kuat trekking di alam, manjat-manjat batu, mendaki jalan curam dan berjalan kaki berjam-jam tanpa merasa cepat lelah. Traveling di daerah perkotaan juga perlu stamina kuat untuk banyak jalan, kalau tidak cepat lelah akan semakin banyak tempat yang bisa dikunjungi. 

Sebenarnya saya bisa lari hingga lebih dari 5 km itu tidak sengaja. Selama 1,5 tahun mentok lari paling jauh 5km, pada suatu saat saya merasa masih kuat lanjut. Lanjutlah saya jadi 6 km. Lalu beberapa waktu lagi tiba-tiba saya sudah lari 8 km. Menjelang ulang tahun ke 33 saya punya ide mau genapin jarak lari saya jadi 10km. Lalu seperti yang sudah saya ceritakan di postingan yang lalu, momen spontan mendaftar race Half Marathon. 

Efektifnya saya hanya latihan selama 2 bulan, karena sebulan sebelumnya adalah bulan puasa dan jadwal lari saya acak-acakan. Target saya kali ini pokoknya hanya mau finish 21 km. Dua minggu sebelum race saya trial lari dengan jarak 21 km di jalur Car Free Day, cuma kuat lari sampai 13 km setelah itu kombinasi jalan dan lari. 

Saya beli air mineral ketika 8 km, kemudian beli pocari di 13 km, setelah itu masih beli minum air mineral 1 botol lagi di km 16. Badan saya sudah basah kuyup di km 16, gerah banget rasanya mau lepas baju. Matahari juga mulai panas karena sudah lewat jam 8 pagi. Tapi saya masih terus lari – jalan cepat – lari hingga sampai juga 21 km. Butuh waktu 3 jam 15 menit untuk saya menyelesaikannya di CFD. Konon kata orang-orang jalur di Bali Maraton lebih menantang karena tanjakannya dasyat. 

Punggung dan pundak saya pegal sejak km 16, saya juga bingung, lari kan pakai kaki kenapa pundak yang pegal yah. Mungkin karena gerakan ayunan tangan ketika lari. Kaki saya pegal juga, tapi untungnya tidak ada bagian yang nyeri. Keesokan harinya saya kira jalan bakal jalan seperti robot karena pegal, ternyata enggak loh. Syukurlah. Padahal sudah sedia counterpain di samping tempat tidur. 

Ketika mandi badan saya perih-perih, di punggung, lingkaran dada diatas perut dan bagian perut. Ternyata kulit saya luka lecet dibagian yang bergesekan sama baju. Garis sport bra dan garis karet celana pendek. Ternyata bukan hanya saya, omith dan nico juga mengalami hal sama kalau long run. 

Trial 21 km CFD itu adalah Half Marathon pertama saya seumur hidup. Satu minggu sebelum lomba namanya Taper week, gak ada long run. Jadi siap – tidak siap pas tanggal 28 harus lari 21 km sampai finish. Waktu itu saya mikirnya kalau bisa finish kurang dari 3 jam yang bagus banget kalau tidak ya tidak apa-apa, gak ambisius. 

Hari H, saya bangun jam 2.30 dini hari. Cuci muka, gosok gigi, gak perlu mandi karena nanti kan keringetan lagi, minum milo satu kotak sambil pakai sepatu. Jam 3 tepat sopir taksi yang sudah janjian mau antar saya ke Gianyar telpon mengabari kalau sudah di depan hotel. Saya pun langsung berangkat. 

Hotel saya di Sanur ternyata tidak jauh dari lokasi lomba, tidak sampai 15 menit sudah sampai. Waktu saya tiba di lokasi belum begitu ramai karena bus-bus shuttle belum datang. Saya langsung ke penitipan tas untuk titip tas saya yang berisi baju ganti kemudian antri toilet. Jam 5.00 peserta Full Marathon sudah start. Peserta Half Marathon dipanggil untuk mulai bersiap-siap di garis start, saya santai saja jalan. 

Sampai di garis start kaget banget karena sudah tampak seperti lautan manusia. Karena takut terinjak-injak saya lebih baik di belakang saja. Jam 5.30 start untuk lari Half Marathon. Ketika aba-aba start massa mulai bergerak maju tapi gak bisa lari, karena sesak banget sama manusia. Saya cuma bisa jalan, itu juga nyaris desak-desakan. Beberapa saat baru kerumunan mulai longgar, saya mulai bisa lari dan pelan-pelan mulai melewati pelari yang lebih lambat. 

Saya melihat segerombolan pelari yang sepertinya pacenya sama dengan saya, saya ikut lari dibelakang mereka beberapa waktu tapi kog rasanya terlalu lambat. Saya bergerak maju lagi melewati mereka, setelah lewat water station pertama saya lihat dua orang cewek lari barengan, sepertinya cocok pacenya dengan saya. Saya ikut lari dibelakang mereka, ternyata memang pas, tidak terlalu lambat tapi juga tidak sampai ngos-ngosan. 

Lewat km 6 jalur lari belok ke kiri dan tanjakannya mulai terlihat menukik dasyat. Ketika saya baru belok, pelari full marathon dari Kenya sudah melewati saya padahal buat mereka itu sudah nyaris setengah jalan menuju finish, sementara itu baru sekitar satu jam sejak full maraton (42km) start. Saya tidak sempat lihat muka-muka pelari Kenya itu, hanya merasakan anginnya berhembus di sebelah saya. 

Walaupun tanjakannya minta ampun tapi ketika mulai memasuki kawasan ini mulai menarik karena penduduk di sepanjang jalan menyambut dan memberi semangat. Malahan ada anak-anak yang pakai baju penari Bali. Saya jadi banyak foto-foto. Selain itu pemandangan sekitar juga bagus, larinya di sebelah sawah, terus ada siluet gunung di kejauhan. Indah nian. Sekitar km 9 atau 10 dua cewek yang saya ikutin mulai melambat. Saya juga sudah tidak kuat lari setelah lewat water station di km 9. Orang-orang di depan saya banyak yang minta kantong es ke mobil medic disitu untuk mengompres kaki dan lutut. Saya terpaksa jalan mendaki tanjakan hingga jalan mulai datar dan sudah kuat lari lagi. Dua cewe yang saya ikuti masih jalan ketika saya memutuskan lari lagi. Saya melanjutkan dengan lari-jalan-lari-jalan. 

Sekitar km 16 saya ketemu teman saya, Astrid, sempat ngobrol sambil jalan beberapa saat kemudian saya lanjut lari. Lewat km 19 Astrid mendahului saya, saat itu saya lagi lari tapi tertatih-tatih. Ketika mau sampai di km 20 saya whatsapp Tince untuk mengabari kalau saya sudah dekat, setelah itu saya coba mengerahkan sisa tenaga saya untuk berlari. Headset di telinga yang memutar playlist yang selama ini menemani saya latihan saya lepas. Pokoknya saya hanya terus melangkah menuju gerbang finish. Saya berlari melewati pelari-pelari lain. Mendekati finish gak lupa memutar arah topi saya jadi kalau difoto muka saya terlihat. Saya finish 3 jam 13 menit, sementara teman-teman saya yang lain standarnya bisa finish 2 jam hingga 2,5 jam. Bodo amat, yang penting finishnya tetap bergaya. 


Mendekati garis finish

Finish 


Kamis, 15 September 2016

Menanam Jagung [Failed]

Tidak semua tanaman yang saya coba tanam langsung berhasil. Beberapa ada yang gagal. Ada yang gagal dari sejak ditanam, bijinya tidak berkecambah, seperti biji seledri dan beberapa jenis bunga-bungaan. Ada yang sudah berhasil berkecambah, tapi beberapa hari setelahnya layu sebelum sempat besar, biasanya sih tanaman yang saya sudah tahu tumbuhnya di tempat dingin tapi saya iseng coba-coba tanam karena benih sayur yang saya beli kan paketan, nah di dalam paket itu dicampur juga ada sayuran tempat dingin seperti kol dan brokoli. 

Dalam hal menanam jagung, saya tidak mengira kalau ternyata susah juga. Karena saya lihat orang tanam jagung dimana-mana, kayaknya tinggal lempar biji saja langsung tumbuh. Saya tidak tanam biji jagung langsung di tanah, karena takut bijinya dimakan tikus atau hanyut kena air hujan, jadi awalnya biji jagung saya semai di wadah gelas plastik. Tidak sampai 3 hari semua biji jagung yang saya tanam berkecambah, kemudian gelas-gelas plastik itu saya letakan di tempat yang kena sinar matahari langsung. 

Setelah tanaman jagung di wadah plastik cukup besar, kira-kira umur 6 minggu, dipindahkan ke tanah. Karena kandang tanaman saya tempatnya terbatas jadi tidak bisa tanam banyak. Di Plot Plan bulan agustus, saya memang sudah alokasikan tempat di kandang tanaman untuk jagung, yang ternyata hanya cukup untuk 4 tanaman saja. Yah untuk eksperimen coba-coba 4 juga sudah cukup, kalau ternyata percobaan pertama sukses, berikutnya saya akan cari tempat di kebun papa said yang tidak terpakai untuk tanam lebih banyak jagung.

Beberapa hari setelah dipindahkan ke tanah tanaman-tanaman jagung tersebut menunjukan prospek yang bagus, mereka cepat sekali tumbuh besar dan tinggi. Kurang dari satu bulan jagung-jagung itu tingginya sudah lebih besar dari saya. Keempat jagung yang ditanam di kandang tanaman tingginya tidak sama besar, karena ada tragedi yang terjadi selang 2 minggu sejak jagung-jagung itu saya pindah ke kandang tanaman. Salah satu ayam Papa Said berhasil terbang dan masuk ke kandang tanaman kemudian memporak-porandakan tanaman yang ada disitu, mencerabut kacang panjang, mengoyak-ngoyak pohon terong dan 2 batang tanaman jagung saya patah. Jagung yang patah segera saya ganti dengan cadangan jagung yang masih ada di wadah gelas plastik. 

Bersamaan dengan makin tingginya tanaman jagung, dibagian pucuk tanaman tumbuh bunga serbuk sari yang nantinya akan berjatuhan membuahi bunga betina (putik) yang ada di pangkal-pangkal daun yang kemudian akan tumbuh jadi jagung. Hingga saat itu jagung-jagung saya masih tampak bagus dan sehat. 

Datanglah musim hujan. Tiba-tiba jadi banyak capung berterbangan di kebun, entah darimana. Selain capung, ternyata hujan membuat banyak hewan-hewan kecil yang hidup di tanah jadi segar. Belalang, ulat bulu, lalat, semacam rayap yang hidup ditanah tiba-tiba juga jadi banyak. Tadinya saya senang ketika musim hujan datang, karena itu artinya mengurangi pekerjaan saya menyiram tanaman. Ternyata itu mimpi buruk.

Hujan dan kurang sinar matahari mengakibatkan tanaman terong saya kena penyakit sehingga daun-daunnya membusuk, saya terpaksa mencabutnya. Black aphids (kutu) kembali menyerang tanaman kacang panjang yang saya tanam dekat tanaman jagung mengikuti prinsip three sisters. Bunga-bunga marigold yang ditanam sebagai companion planting jadi berantakan dan lusuh karena terus-terusan tergenang air. Tanah di kebun saya memang masih dominan tanah merah, jadi kalau hujan terus-terusan jadi jenuh dan air akan menggenang. Yang paling parah adalah, pasukan belalang memakan daun bunga matahari dan daun jagung.

Daun tanaman jagung jadi compang-camping karena gigitan belalang-belalang ganas. Saat itu mulai terlihat ada bongkol yang tumbuh di ketiak daun. Ternyata hujan juga mengakibatkan serbuk sari yang ada di puncak tanaman jadi lengket sehingga tidak bisa menyerbuki putik dengan sempurna. Ketika saya petik jagung di bulan Mei, ukurannya kecil dan biji-biji jagungnya tidak rapi tumbuhnya. Tapi ketika dimakan rasanya manis sekali.

Tanaman jagung usia 2 bulan

Bongkol jagung yang masih kecil, tanaman jagungnya juga sebagai penyangga kacang panjang disebelahnya

Tanaman jagung adalah tanaman monokotil yang mati setelah berbuah, batangnya lambat laun akan berubah warna jadi coklat dan mengering. 2 tanaman jagung yang ditanam belakangan sebagai pengganti jagung yang dirusak ayam bahkan tidak sempat berbuah sempurna, ada bongkol tapi masih kecil sekali, tapi karena umurnya sudah lebih dari 3 bulan tetap mati. 

Karena akhir-akhir ini sudah tidak terlalu sering hujan saya akan coba lagi tanam jagung. Mudah-mudahan kali ini berhasil. Oia, sekarang saya akan sering share di instastory perkembangan tanaman -tanaman yang saya tanam, follow IG @milasaid yah. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...