Kamis, 22 September 2016

Race Pertama, HM Pertama, Medali Finisher Pertama di Bali Marathon

Sebelumnya saya tidak pernah punya rencana mau lari sampai 20 km, awalnya saya rutin lari supaya fit dan tujuannya untuk mengurangi berat badan berlebih supaya punya stamina yang prima untuk travelling. Saya cuma pingin bisa snorkeling lama dan mengejar ikan nemo tanpa kehabisan nafas atau kecapekan di tengah jalan. Saya juga pingin kuat trekking di alam, manjat-manjat batu, mendaki jalan curam dan berjalan kaki berjam-jam tanpa merasa cepat lelah. Traveling di daerah perkotaan juga perlu stamina kuat untuk banyak jalan, kalau tidak cepat lelah akan semakin banyak tempat yang bisa dikunjungi. 

Sebenarnya saya bisa lari hingga lebih dari 5 km itu tidak sengaja. Selama 1,5 tahun mentok lari paling jauh 5km, pada suatu saat saya merasa masih kuat lanjut. Lanjutlah saya jadi 6 km. Lalu beberapa waktu lagi tiba-tiba saya sudah lari 8 km. Menjelang ulang tahun ke 33 saya punya ide mau genapin jarak lari saya jadi 10km. Lalu seperti yang sudah saya ceritakan di postingan yang lalu, momen spontan mendaftar race Half Marathon. 

Efektifnya saya hanya latihan selama 2 bulan, karena sebulan sebelumnya adalah bulan puasa dan jadwal lari saya acak-acakan. Target saya kali ini pokoknya hanya mau finish 21 km. Dua minggu sebelum race saya trial lari dengan jarak 21 km di jalur Car Free Day, cuma kuat lari sampai 13 km setelah itu kombinasi jalan dan lari. 

Saya beli air mineral ketika 8 km, kemudian beli pocari di 13 km, setelah itu masih beli minum air mineral 1 botol lagi di km 16. Badan saya sudah basah kuyup di km 16, gerah banget rasanya mau lepas baju. Matahari juga mulai panas karena sudah lewat jam 8 pagi. Tapi saya masih terus lari – jalan cepat – lari hingga sampai juga 21 km. Butuh waktu 3 jam 15 menit untuk saya menyelesaikannya di CFD. Konon kata orang-orang jalur di Bali Maraton lebih menantang karena tanjakannya dasyat. 

Punggung dan pundak saya pegal sejak km 16, saya juga bingung, lari kan pakai kaki kenapa pundak yang pegal yah. Mungkin karena gerakan ayunan tangan ketika lari. Kaki saya pegal juga, tapi untungnya tidak ada bagian yang nyeri. Keesokan harinya saya kira jalan bakal jalan seperti robot karena pegal, ternyata enggak loh. Syukurlah. Padahal sudah sedia counterpain di samping tempat tidur. 

Ketika mandi badan saya perih-perih, di punggung, lingkaran dada diatas perut dan bagian perut. Ternyata kulit saya luka lecet dibagian yang bergesekan sama baju. Garis sport bra dan garis karet celana pendek. Ternyata bukan hanya saya, omith dan nico juga mengalami hal sama kalau long run. 

Trial 21 km CFD itu adalah Half Marathon pertama saya seumur hidup. Satu minggu sebelum lomba namanya Taper week, gak ada long run. Jadi siap – tidak siap pas tanggal 28 harus lari 21 km sampai finish. Waktu itu saya mikirnya kalau bisa finish kurang dari 3 jam yang bagus banget kalau tidak ya tidak apa-apa, gak ambisius. 

Hari H, saya bangun jam 2.30 dini hari. Cuci muka, gosok gigi, gak perlu mandi karena nanti kan keringetan lagi, minum milo satu kotak sambil pakai sepatu. Jam 3 tepat sopir taksi yang sudah janjian mau antar saya ke Gianyar telpon mengabari kalau sudah di depan hotel. Saya pun langsung berangkat. 

Hotel saya di Sanur ternyata tidak jauh dari lokasi lomba, tidak sampai 15 menit sudah sampai. Waktu saya tiba di lokasi belum begitu ramai karena bus-bus shuttle belum datang. Saya langsung ke penitipan tas untuk titip tas saya yang berisi baju ganti kemudian antri toilet. Jam 5.00 peserta Full Marathon sudah start. Peserta Half Marathon dipanggil untuk mulai bersiap-siap di garis start, saya santai saja jalan. 

Sampai di garis start kaget banget karena sudah tampak seperti lautan manusia. Karena takut terinjak-injak saya lebih baik di belakang saja. Jam 5.30 start untuk lari Half Marathon. Ketika aba-aba start massa mulai bergerak maju tapi gak bisa lari, karena sesak banget sama manusia. Saya cuma bisa jalan, itu juga nyaris desak-desakan. Beberapa saat baru kerumunan mulai longgar, saya mulai bisa lari dan pelan-pelan mulai melewati pelari yang lebih lambat. 

Saya melihat segerombolan pelari yang sepertinya pacenya sama dengan saya, saya ikut lari dibelakang mereka beberapa waktu tapi kog rasanya terlalu lambat. Saya bergerak maju lagi melewati mereka, setelah lewat water station pertama saya lihat dua orang cewek lari barengan, sepertinya cocok pacenya dengan saya. Saya ikut lari dibelakang mereka, ternyata memang pas, tidak terlalu lambat tapi juga tidak sampai ngos-ngosan. 

Lewat km 6 jalur lari belok ke kiri dan tanjakannya mulai terlihat menukik dasyat. Ketika saya baru belok, pelari full marathon dari Kenya sudah melewati saya padahal buat mereka itu sudah nyaris setengah jalan menuju finish, sementara itu baru sekitar satu jam sejak full maraton (42km) start. Saya tidak sempat lihat muka-muka pelari Kenya itu, hanya merasakan anginnya berhembus di sebelah saya. 

Walaupun tanjakannya minta ampun tapi ketika mulai memasuki kawasan ini mulai menarik karena penduduk di sepanjang jalan menyambut dan memberi semangat. Malahan ada anak-anak yang pakai baju penari Bali. Saya jadi banyak foto-foto. Selain itu pemandangan sekitar juga bagus, larinya di sebelah sawah, terus ada siluet gunung di kejauhan. Indah nian. Sekitar km 9 atau 10 dua cewek yang saya ikutin mulai melambat. Saya juga sudah tidak kuat lari setelah lewat water station di km 9. Orang-orang di depan saya banyak yang minta kantong es ke mobil medic disitu untuk mengompres kaki dan lutut. Saya terpaksa jalan mendaki tanjakan hingga jalan mulai datar dan sudah kuat lari lagi. Dua cewe yang saya ikuti masih jalan ketika saya memutuskan lari lagi. Saya melanjutkan dengan lari-jalan-lari-jalan. 

Sekitar km 16 saya ketemu teman saya, Astrid, sempat ngobrol sambil jalan beberapa saat kemudian saya lanjut lari. Lewat km 19 Astrid mendahului saya, saat itu saya lagi lari tapi tertatih-tatih. Ketika mau sampai di km 20 saya whatsapp Tince untuk mengabari kalau saya sudah dekat, setelah itu saya coba mengerahkan sisa tenaga saya untuk berlari. Headset di telinga yang memutar playlist yang selama ini menemani saya latihan saya lepas. Pokoknya saya hanya terus melangkah menuju gerbang finish. Saya berlari melewati pelari-pelari lain. Mendekati finish gak lupa memutar arah topi saya jadi kalau difoto muka saya terlihat. Saya finish 3 jam 13 menit, sementara teman-teman saya yang lain standarnya bisa finish 2 jam hingga 2,5 jam. Bodo amat, yang penting finishnya tetap bergaya. 


Mendekati garis finish

Finish 


Kamis, 15 September 2016

Menanam Jagung [Failed]

Tidak semua tanaman yang saya coba tanam langsung berhasil. Beberapa ada yang gagal. Ada yang gagal dari sejak ditanam, bijinya tidak berkecambah, seperti biji seledri dan beberapa jenis bunga-bungaan. Ada yang sudah berhasil berkecambah, tapi beberapa hari setelahnya layu sebelum sempat besar, biasanya sih tanaman yang saya sudah tahu tumbuhnya di tempat dingin tapi saya iseng coba-coba tanam karena benih sayur yang saya beli kan paketan, nah di dalam paket itu dicampur juga ada sayuran tempat dingin seperti kol dan brokoli. 

Dalam hal menanam jagung, saya tidak mengira kalau ternyata susah juga. Karena saya lihat orang tanam jagung dimana-mana, kayaknya tinggal lempar biji saja langsung tumbuh. Saya tidak tanam biji jagung langsung di tanah, karena takut bijinya dimakan tikus atau hanyut kena air hujan, jadi awalnya biji jagung saya semai di wadah gelas plastik. Tidak sampai 3 hari semua biji jagung yang saya tanam berkecambah, kemudian gelas-gelas plastik itu saya letakan di tempat yang kena sinar matahari langsung. 

Setelah tanaman jagung di wadah plastik cukup besar, kira-kira umur 6 minggu, dipindahkan ke tanah. Karena kandang tanaman saya tempatnya terbatas jadi tidak bisa tanam banyak. Di Plot Plan bulan agustus, saya memang sudah alokasikan tempat di kandang tanaman untuk jagung, yang ternyata hanya cukup untuk 4 tanaman saja. Yah untuk eksperimen coba-coba 4 juga sudah cukup, kalau ternyata percobaan pertama sukses, berikutnya saya akan cari tempat di kebun papa said yang tidak terpakai untuk tanam lebih banyak jagung.

Beberapa hari setelah dipindahkan ke tanah tanaman-tanaman jagung tersebut menunjukan prospek yang bagus, mereka cepat sekali tumbuh besar dan tinggi. Kurang dari satu bulan jagung-jagung itu tingginya sudah lebih besar dari saya. Keempat jagung yang ditanam di kandang tanaman tingginya tidak sama besar, karena ada tragedi yang terjadi selang 2 minggu sejak jagung-jagung itu saya pindah ke kandang tanaman. Salah satu ayam Papa Said berhasil terbang dan masuk ke kandang tanaman kemudian memporak-porandakan tanaman yang ada disitu, mencerabut kacang panjang, mengoyak-ngoyak pohon terong dan 2 batang tanaman jagung saya patah. Jagung yang patah segera saya ganti dengan cadangan jagung yang masih ada di wadah gelas plastik. 

Bersamaan dengan makin tingginya tanaman jagung, dibagian pucuk tanaman tumbuh bunga serbuk sari yang nantinya akan berjatuhan membuahi bunga betina (putik) yang ada di pangkal-pangkal daun yang kemudian akan tumbuh jadi jagung. Hingga saat itu jagung-jagung saya masih tampak bagus dan sehat. 

Datanglah musim hujan. Tiba-tiba jadi banyak capung berterbangan di kebun, entah darimana. Selain capung, ternyata hujan membuat banyak hewan-hewan kecil yang hidup di tanah jadi segar. Belalang, ulat bulu, lalat, semacam rayap yang hidup ditanah tiba-tiba juga jadi banyak. Tadinya saya senang ketika musim hujan datang, karena itu artinya mengurangi pekerjaan saya menyiram tanaman. Ternyata itu mimpi buruk.

Hujan dan kurang sinar matahari mengakibatkan tanaman terong saya kena penyakit sehingga daun-daunnya membusuk, saya terpaksa mencabutnya. Black aphids (kutu) kembali menyerang tanaman kacang panjang yang saya tanam dekat tanaman jagung mengikuti prinsip three sisters. Bunga-bunga marigold yang ditanam sebagai companion planting jadi berantakan dan lusuh karena terus-terusan tergenang air. Tanah di kebun saya memang masih dominan tanah merah, jadi kalau hujan terus-terusan jadi jenuh dan air akan menggenang. Yang paling parah adalah, pasukan belalang memakan daun bunga matahari dan daun jagung.

Daun tanaman jagung jadi compang-camping karena gigitan belalang-belalang ganas. Saat itu mulai terlihat ada bongkol yang tumbuh di ketiak daun. Ternyata hujan juga mengakibatkan serbuk sari yang ada di puncak tanaman jadi lengket sehingga tidak bisa menyerbuki putik dengan sempurna. Ketika saya petik jagung di bulan Mei, ukurannya kecil dan biji-biji jagungnya tidak rapi tumbuhnya. Tapi ketika dimakan rasanya manis sekali.

Tanaman jagung usia 2 bulan

Bongkol jagung yang masih kecil, tanaman jagungnya juga sebagai penyangga kacang panjang disebelahnya

Tanaman jagung adalah tanaman monokotil yang mati setelah berbuah, batangnya lambat laun akan berubah warna jadi coklat dan mengering. 2 tanaman jagung yang ditanam belakangan sebagai pengganti jagung yang dirusak ayam bahkan tidak sempat berbuah sempurna, ada bongkol tapi masih kecil sekali, tapi karena umurnya sudah lebih dari 3 bulan tetap mati. 

Karena akhir-akhir ini sudah tidak terlalu sering hujan saya akan coba lagi tanam jagung. Mudah-mudahan kali ini berhasil. Oia, sekarang saya akan sering share di instastory perkembangan tanaman -tanaman yang saya tanam, follow IG @milasaid yah. 


Minggu, 04 September 2016

Birthday Trip

Kalau mau jujur saya adalah orang yang lost in life, alias nyasar di dalam ruang waktu kehidupan ini. Kalau ditanya apa yang saya lihat dalam hidup saya 5 tahun ke depan, atau bahkan satu tahun ke depan, jawabannya : saya gak tau. Yang saya tahu pokoknya sekarang hanya ingin membuat setiap tahun yang saya jalani memorable, wherever it may leads.

Dipostingan sebelumnya saya sempat bilang awal saya mulai semua ini dan pada akhirnya bikin saya sadar bahwa hal yang terpenting dalam hidup adalah menikmati dan mensyukuri apa yang kita punya sekarang. Kita gak akan pernah bisa kabur dari rasa sedih atau kecewa atau emosi negatif lainnya, tapi selama kita masih bisa bahagia dan tertawa, just do it. Habisin kuota kita untuk bahagia hari ini juga karena gak bisa di akumulasi buat besok-besok.

Karena itu saya ingin selalu melakukan hal yang belum pernah saya lakukan, yang membuat saya selalu mengingat saat itu dan ketika mengingatnya saya akan berpikir: "wooww.. gw ga nyangka gw bakal ngelakuin hal itu." Backpacking solo, cari komodo, mendaki Rinjani, melintas batas negara ke Timor Leste adalah beberapa hal yang memorable buat saya karena butuh kekuatan to push my self off my limit untuk melakukan semua itu. Tahun ini saya coba untuk ikut race half marathon pertama dalam hidup saya, kebetulan waktunya bertepatan dengan ulang tahun.

Awalnya saya daftar race bareng sama Nico, tapi di akhir-akhir Nico malah tidak jadi berangkat. Justru di saat-saat terakhir salah satu teman yang saya kenal dari Plurk dan blog, Mita atau yang lebih dikenal dengan Omith, malah memutuskan mau ikut race. Omith tergolong hebat banget sih, saya salut. Buat dia hanya butuh waktu kurang dari 3 bulan untuk persiapan half marathon, sementara saya butuh waktu lebih dari 3 tahun hingga akhirnya memberanikan diri untuk lari sejauh 21 km. 

Ya tapi kalau bukan gara-gara dijerumusin nico sih kayaknya saya sampai sekarang juga belum akan pernah ikut race dan belum akan sampai lari lebih dari 10 km. Martin yang selalu kompetitifan sama Nico juga ikut Bali Marathon, dia ambil Full Marathon dan berhasil finish. Salut juga sih saya, karena medannya itu berbukit-bukit, saya aja yang cuma lari jarak setengahnya sempat menyesal di tengah jalan. Soal lari nanti saya ceritakan komplit di postingan khusus ya.

Liburan yang bertepatan dengan ulang tahun kemarin tidak hanya khusus untuk lari, saya juga sempat main-main di pantai sanur sama Tince, yang pernah jadi partner jalan-jalan ke Dieng cari innerpeace waktu itu. Sebelum acara race saya sudah di Bali. Hari Jum'at saya, Omith dan satu kawannya ambil race pack ke Westin Resort di Nusa Dua. Malamnya saya, Omith, Tince dan Rio makan di Massimo Pizza di Jl. Danau Tamblingan, Sanur. 

ambil race pack
Sebenarnya saya tidak sengaja menemukan resto itu. Malam sebelumnya lewat situ lihat antrian orang beli gellato ramai di depannya, lalu saya tergiur sama wangi pizza yang lagi dipanggang di dapur yang letaknya juga di depan restoran itu. Keesokan harinya saya ajak kawan-kawan saya makan pizza disitu. Baru tahu setelah posting di socmed ada beberapa kawan saya yang komen, ternyata Massimo Pizza itu terkenal banget, terutama Gellato-nya. Tapi makanannya yang lain juga enak semua. Saya suka.

Waktu kita lagi order Omith sempat menyinggung-nyinggung soal ulang tahun, mba-mba yang catat orderan kita dengar dan sempat tanya siapa yang ulang tahun terus semuanya nunjuk saya. Waktu itu mba nya kesannya cool aja. 

Selanjutnya kami makan seperti biasa, dapat starter gorengan bentuk bola yang kenyal seperti cilok rasa keju yang digoreng. Pizza yang kami pesan, dipesan oleh Tince yang doyan banget sama quatro-apalah-pizza-cuma-dia-yang-bisa-ngomongnya-karena-pernah-lama-tinggal-di-Itali, pokoknya artinya pizza yang toppingnya 4 macam keju. Pizza nya enak, crustnya tipis tapi gak keras, gurih dan pinggirnya renyah. Selain itu Tince juga pesan calamari, sementara saya dan Omith yang lagi carbo loading pesan pasta bollognaise juga. Bollognaisenya enak, dagingnya banyak dan saus tomatnya ada chunks tomatnya. 

Selesai makan saya minta bill, tapi lama banget keluarnya. Kawan saya mulai gelisah pingin cepat-cepat pulang. Saya panggil lagi salah satu waiter untuk minta bill, kemudian muncul billnya dan saya langsung kasih kartu kredit. Tapi masih lama lagi diprosesnya sampai kawan saya hampir cek ke kasir. Tiba-tiba lampu padam satu per satu dan suasana jadi gelap. Para pengunjung yang lagi makan langsung berhenti dan suasana jadi sepi. Sepi dan gelap. Kami semeja juga sempat bingung dan mikir kalau mati lampu. 

Tiba-tiba mba-mba waiters yang ada disitu pada nyanyi lagu Happy Birthday. Dari dalam dapur muncul mba yang catet orderan kami membawa mangkok kecil yang atasnya ada payung kecil dan lilin. Mba itu jalan menjauh dari meja kami, jadi saya juga sempat cari-cari siapa yang ulang tahun. Ternyata setelah berputar mba-nya menghampiri saya dan meletakan mangkok kecil berisi 4 scoop gelato di depan saya. Sementara waiters yang lain tiba-tiba mendekat dan mengerubungi, muka saya langsung panas rasanya. Terharu banget. Ini salah satu momen ulang tahun yang gak akan saya lupa, mengejutkan soalnya.

surprise dari mba Massimo Pizza yang cukup bikin kaget
Satu hari sebelum race saya sempat pemanasan morning run di pantai Sanur, ditemani Tince. Terus kami berdua menyaksikan matahari terbit dan berenang-renang di pantai Sudamala, Sanur. Bagian pantai yang ini cenderung lebih sepi, jadi lebih enak untuk leyeh-leyeh. Waktu lagi berenang saya tiba-tiba teringat kamera underwater saya yang rusak, "coba kamera gw gak rusak, asik nih bisa foto-foto." kata saya ke Tince.

Tiba-tiba tince terpaku, kemudian mukanya seperti mengingat sesuatu,"eh kamera gw kan bisa dipake underwater."

Yihaaa... kami pun sukses foto-foto gaya model, gaya mengapung dan gaya duyung.

nunggu sunrise di Pantai Sudamala, Sanur sama Tince
Setelah race, saya dan Tince kembali ke Sanur untuk jalan-jalan, kali ini ke kawasan Pantai Sindhu yang lagi ramai karena ada acara Sanur Festival. Saya sempat tidur siang sebentar karena di hari itu bangun jam 2 pagi untuk siap-siap race. Bangun tidur siang saya kelaparan, baru ingat kalau sebelum dan sesudah race hanya makan roti sobek sari roti dan minum susu kotak. Saya dan Tince makan seafood di Pantai Sindhu, ikan dan cumi bakar yang enak banget mungkin karena ada faktor kelaperan. 

Setelah itu kami berdua duduk-duduk santai di tempat nongkrong lucu disitu, namanya Sanur Beach Groove, semacam food court tapi ada area berumput yang bisa dipakai duduk-duduk ala piknik. Tince beli dessert brownies yang diatasnya ada es krim vanila yang dikasih hiasan bunga-bunga mungil lucu warna biru. Malamnya kami sempat lihat pawai ogoh-ogoh dalam rangka penutupan Sanur Festival.

Ala Piknik di rumput sore-sore di Sanur Beach Groove

Rencana saya untuk liburan kali ini selain ikut Bali Marathon, saya juga pingin ke Nusa Penida lihat Angel's Billabong yang lagi trend di Instagram. Billabong itu adalah ujung dari sungai yang bertemu lautan, bisa dibilang jalan buntu nya sungai - the end of the road. Ternyata the end of the road gak mesti sendu dan sedih kayak lagunya boys II men (ketauan umur udah tua deh), jalan buntu yang ini cantik sekali. Nanti saya juga akan posting khusus tentang Nusa Penida. 

Karena tidak bisa nyetir motor sendiri jadi saya sewa ojek disana. Bli ojek, kita sebut saja namanya I Wayan Berto. Mas Berto itu sebenarnya nama yang diberikan oleh Tince ketika lihat foto selfie saya berdua dia, Mas berto = mas mas bertato. Mukanya memang tampak garang tapi orangnya periang, insiatifnya untuk jadi fotografer dan pengarah gaya tinggi banget. Waktu lagi foto saya di Bukit Kelingking tiba-tiba dia tanya, "Mba, ada keturunan Itali ya?" 

ehem.. ehem.. saya langsung keselek, untung gak kepleset dari atas tebing. Langsung ingat kejadian 3 hari sebelumnya, pasti gara-gara abis makan pizza topping 4 keju sama pasta langsung terlihat aura-aura Italia.

Angel's Billabong, Billabong itu ujung sungai yang ketemu laut, Angel-nya yang baju biru

Fotografer dan pengarah gaya saya di nusa penida, I Wayan Berto
Rejeki anak soleh yang lagi ulang tahun, hari terakhir di Bali saya ditraktir Mak Beng dan diantar sampai ke airport. Pas banget, memang di hari sebelumnya saya sempat kepikiran kepingin makan Mak Beng lagi sebelum pulang karena suka banget sama sup ikannya. Waktu itu dibilang mau diajak makan di tempat yang banyak didatengin artis, emosi saya standar-standar aja. Tapi ketika mobil belok ke arah mak beng saya langsung senang, yaayyy.... emang kalo rejeki gak akan kemana-mana. 

Mak Beng..paforit pisan..slurup

Akhir kata, wabillahi taufiq wal hidayah, travel live light, don't overthink because it's not worth the time you wasted, run, make art, create, swim in the ocean, swim in the rain, makes mistakes, learn, love fiercely, forgive quickly, let go of what doesn't make you happy, grow. 

Jumat, 19 Agustus 2016

Catatan di Tahun ke-34

Ada orang yang senang jalan-jalan karena suka petualangan, senang melihat tempat baru, ketemu orang baru, foto-foto untuk kenang-kenangan. Ada orang yang perjalanan travelingnya berawal dari perasaan sedih, dari perasaan tersesat dalam hidup dan keinginan untuk mencari jawaban. Ada orang yang perjalanannya dimulai karena kehilangan sesuatu dan berusaha mencari gantinya. Tapi intinya sama, orang traveling karena kepingin bahagia. 

Banyak yang bilang kalau kita gak perlu cari kebahagiaan jauh-jauh, karena bahagia itu ada di dalam diri kita. Tapi kadang untuk menemukan sesuatu yang ada di dekat atau di dalam diri kita, kita perlu melihat keluar dan pergi jauh dulu. 

Kalau ada yang pernah baca buku Alchemist-nya Paulo Coelho, si pemeran utama menghabiskan waktu bertahun-tahun dan perjalanan jauh yang berliku hanya karena mimpi lihat piramida di mesir dan menemukan harta karun. Tapi ketika akhirnya dengan segala macam perjuangan dia sampai di mesir, ternyata harta yang dia cari ada di bawah pohon tempat dia tidur siang pas lagi mimpi itu. 

Walaupun tidak se-ekstrim pengalaman hidup Elizabeth siapa itu di buku Eat, Pray, Love yang merasa depresi dalam hidupnya kemudian pisah dari suami dan traveling sendiri selama berbulan-bulan. Gak juga mendekati pengalaman hidup Cheryl Strayed di buku Wild yang ketika ibunya meninggal karena penyakit kanker kemudian memutuskan hiking sendirian di gunung selama 4 bulan. Tapi ada miripnya sedikit dengan kedua perempuan itu, saya memulai jalan-jalan ini karena sedih. Saya pergi karena sedih dan mau cari sesuatu yang bisa bikin saya bahagia, hingga akhirnya saya sadar kalau tidak perlu kemana-mana untuk bahagia, semua itu ada di dalam diri kita sendiri.

Yup, waktu kawan saya dulu pertama ngajak saya backpacking perdana ke Singapura, saya langsung meng-hayuk-kan tanpa pikir dua kali karena saya lagi sedih dan tidak stabil secara emosional. Waktu itu umur saya 26 tahun. Memang sebelumnya pekerjaan saya banyak travelingnya, tapi ketika memutuskan untuk backpacking pertama itu saya lagi sedih, bukan karena aslinya saya adalah orang yang suka adventure dan berpetualang. Selama ini memang saya selalu denial tentang alasan asli saya pergi waktu itu, tapi kalau saat situasinya beda mungkin saya akan menunda pengalaman backpacking pertama saya dengan alasan tidak punya cukup uang. Apalagi saat itu saya juga baru saja berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan belum dapat yang baru. 

Waktu itu ketika saya menulis tentang pengalaman backpacking pertama ke Singapura dan kuala lumpur itu saya mengutip kalimat Paulo Coelho yang diambil dari buku Alchemist itu, "when you want something all the universe conspire to help you." Beberapa tahun berlalu, setelah melalui banyak hal, belajar banyak, dan mengalami proses evolusi dalam cara berpikir, sekarang saya gak percaya hal itu sama sekali. 

When you want something, the universe will not conspire to help you. They will against you. Mereka akan merintangi, menghalangi, mencoba menjauhkan kita dari hal yang kita inginkan itu. Yang bisa membuat kita mendapatkannya hanyalah seberapa besar kita menginginkannya dan rela berusaha mendapatkannya. Hidup ga semudah itu.

Tapi ada saatnya kapan kita harus usaha, ada saatnya kita hanya harus menunggu waktu yang tepat. Bahkan cowo di buku itu juga ada saat dimana dia harus nunggu beberapa tahun kerja di toko sebelum melanjutkan perjalanannya lagi lihat piramida. Tantangannya adalah, bagaimana kita tahu kapan harus berusaha, kapan harus menunggu dan kapan harus merelakan sesuatu yang kita inginkan.

Yang membuat saya kepikiran menulis ini karena beberapa hari lalu saya dan salah satu kawan terlibat diskusi. Berawal dari kawan saya suruh saya supaya berusaha cari jodoh. "Cari donk!" katanya, "berdoa kek, tahajud gitu." Saya jawab, iya saya doa kog, doa saya agar diberi yang terbaik dalam hidup. Saya percaya apabila saat ini saya belum dikasih jodoh berarti ini jalan hidup yang terbaik dan saya sudah dikasih lebih banyak hal selain itu dalam hidup saya. Apa yang saya dapat kan tidak harus sama seperti yang didapat orang lain. Jalan hidup orang tidak harus sama semua, ini bukan eropa abad ke-18 atau ke-19 dimana kita harus mencapai standard kehidupan tertentu supaya bisa diterima society. 

Ketika kelas 5 sd, saya pernah tanya sama papa saya. Kalau misalnya orang ditakdirkan kaya dia gak usah kerja bakal tetap jadi kaya donk, sementara orang yang ditakdirkan miskin mau kerja bagaimana pun tetap miskin. Entah di titik mana dalam perjalanan ini saya mulai mengerti bahwa ada takdir yang tidak bisa kita ubah seperti lahir dan mati, kita gak bisa pilih kapan kita lahir atau kapan kita mati. Tapi kita dikasih hidup bukan hanya untuk kemudian mati, kita dikasih pilihan mau jadi apa dalam hidup. Jadi kita bisa pilih mau jadi jahat atau baik, mau jadi kaya atau miskin, walaupun di dunia ini gak ada yang betul-betul hitam atau putih.

Misalnya kaya atau miskin, itu relatif bagaimana kita memilih untuk memandangnya. Ada orang yang punya segalanya, punya uang banyak, tapi tetap merasa kurang karena belum punya ini itu. Ada orang yang walaupun gak punya banyak tapi merasa cukup kaya. Ukuran seberapa kaya pun relatif. Buat orang yang gak punya mobil, orang yang punya Avanza dibilang kaya. Buat orang yang punya Avanza, kaya itu kalau udah punya Mercedes. Sementara orang yang punya Mercedes tetap saja merasa uangnya gak pernah cukup dan berusaha supaya uangnya makin banyak. Dan semakin banyak uangnya, hidupnya makin gak tenang karena makin takut kehilangan semua yang dia punya.

Jadi kita tidak bisa memilih kapan dan dimana kita dilahirkan. Kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kita akan mati. Tapi diantara itu kita kan harus hidup. Nah disinilah kita bisa memilih mau dijalanin seperti apa. Satu, kita bisa pilih untuk menyadari dan menikmati apa yang kita punya saat ini. Atau dua, menginginkan sesuatu yang kita gak punya saat ini hanya karena semua orang yang kita kenal punya sehingga waktu yang kita punya saat ini dihabiskan untuk usaha sehingga kita gak sadar sama apa yang kita punya sekarang dan gak sempat menikmatinya. Saya pilih nomor satu.

Bagaimana dengan orang-orang yang hadir dan pergi semasa hidup kita? Kita juga gak bisa memilih siapa yang akan kita temui dalam hidup ini kan? Apakah orang yang kita temui itu akan bikin kita bahagia. Atau orang yang kita temui akan melukai kita dan bikin kita sedih. Apakah orang yang kita temui itu akan jahat sama kita atau malahan akan jadi penolong disaat kita susah. Kita tidak bisa memilih dan tidak akan pernah tahu orang datang dalam hidup kita akan jadi apa, bisa jadi suatu saat orang yang datang ke hidup saya akan jadi jodoh saya atau bisa jadi orang itu sudah ada disekitar saya tapi memang belum waktunya.

Yang pasti menurut saya semua orang yang kita temui adalah pelajaran dalam hidup dan kita bisa memilih pelajaran itu akan kita gunakan untuk hal berguna apa di hidup kita kemudian harinya.

Kalau saya tidak ketemu sama orang yang bikin sedih mungkin saya tidak akan jadi pribadi yang seperti sekarang, mungkin saya pada akhirnya tidak akan pernah kemana-mana, tidak lihat banyak hal, tidak ketemu banyak orang baru, tidak belajar hal baru sebanyak sekarang ini. Yang terpenting adalah, mungkin saya tidak akan pernah ketemu dengan diri saya sendiri sehingga saya tidak akan pernah tahu apa saja yang mampu saya lakukan - what i'm capable of.

Saya memang gak bisa memilih akan bertemu siapa. Apakah orang yang saya temui akan bikin saya bahagia atau membuat saya sedih. Tapi sekarang saya malah harus berterima kasih sama orang yang bikin saya sedih waktu itu, because when you pushed me off the cliff, i didn't fall and die, i was flying.

Jumat, 12 Agustus 2016

Silom Village Inn, Bangkok

Ada 3 hal yang saya pertimbangkan dalam memilih hotel waktu trip ke Bangkok tahun ini. Pertama, ada rumah makan halal dekat dengan lokasi hotel. Kedua, lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi yang mau dikunjungi dan akses kendaraan mudah. Ketiga, walaupun saya cari hotel yang lokasinya tidak jauh dari pusat keramaian tapi saya menghindari lokasi hotel yang berada di pusat keramaian, karena untuk masuk dan keluar hotel biasanya agak ribet karena terhalang macet. Bangkok macetnya nyaris sama seperti Jakarta.

Atas dasar pertimbangan diatas saya pilih lokasi daerah Silom. Di daerah ini ada tiga stasiun BTS yaitu Chong Nongsi, Surasak dan Saphan Taksin. Dekat juga dengan dua dermaga (pier) untuk naik Chao Praya Express,  yaitu Sathorn pier dan Oriental pier. Kalau mau ke daerah pusat pertokoan seperti Siam square dan Pratunam juga tidak jauh, bisa naik taksi. Bahkan ketika disana sempat juga naik tuktuk dari MBK ke hotel di Silom karena antrian taksi panjang, ongkosnya memang sama seperti taksi tapi naik tuktuk ternyata lebih cepat sampai walaupun pakai olahraga jantung.

Di Silom banyak hotel yang bagus-bagus dan tidak mahal. Yang letaknya dekat sungai Chao Praya adalah hotel-hotel mahal bintang 5. Setelah lihat-lihat banyak pilihan hotel di Agoda, saya tertarik dengan Silom Village Inn. Menurut websitenya, bangunan hotel ini desainnya bangunan tradisional thailand yang dibangun di tahun 1900-an menggunakan teak wood. 

Sampai disana ternyata di dalam lokasi Silom Village Inn juga ada restoran, panggung pertunjukan, kios-kios merchandies khas thailand, spa & thailand massage. Saya booking kamar deluxe yang berada di bangunan lama yang dibangun dari teak wood, tapi karena bangunan lama jadi tidak ada lift, harus naik tangga. Kamarnya luas dan bersih, desainnya klasik dan sederhana. Lumayanlah, sesuai dengan rate yang dibayar.

Saya ambil paket kamar yang tidak termasuk sarapan karena biasanya juga percuma karena sarapannya tidak halal. Tapi pas disebelah hotel ada seven-eleven jadi gampang kalau pagi-pagi mau beli kopi. Selain itu juga tidak jaug dari hotel ada pasar yang pagi-pagi sudah ramai jual sarapan. Di ujung pasar ada mesjid kecil, jadi disekitar situ banyak ibu-ibu pakai kerudung yang jualan. 

Malam hari dari hotel bisa jalan kaki ke Patpong Night Market. Ke Ratanakosin, tempatnya Grand Palace (Wat Phra Kew) dan Sleeping Buddha bisa naik Chao Praya Express dari dermaga, kami waktu itu naik tuktuk ke oriental pier untuk naik express boat. Cari makanan halal juga tidak sulit disekitar situ, bisa dilihat di postingan saya yang Edisi Ngiler [Part 3].

Silom road sepertinya termasuk jalan yang sibuk, di pagi hari dan malam hari jalanannya padat merayap, motor-motor jalan di trotoar juga persis kayak di Jakarta. Tapi untungnya disana hanya macet ketika rush hour, selain itu cukup lenggang. Pagi-pagi banyak orang kantor yang take away sarapan di seven-eleven dan gerobak-gerobak di pinggir jalan. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...