Sabtu, 06 Februari 2010

Ikan Patin dalam Bambu

Salah satu blog favorit yang rutin saya kunjungi adalah Jenzcorner.com, disini tempatnya buat yang doyan petualangan kuliner. Salah satu tempat yang saya kunjungi karena "teracuni" oleh review di blog ini adalah Pondok Ikan Patin Bakar khas Kalimantan.

Lokasinya rada jauh dari Jakarta, agak lewat sedikit dari kawasan Cibubur dan letaknya agak sedikit terpencil. Anehnya kog rame aja ya? Kebetulan waktu saya tiba disana belum jam makan siang jadi saya dapat meja tanpa harus mengantri, tapi yang datang setelah saya harus rela menunggu giliran mendapat meja dengan sabar.


Tapi jauh-jauh dibela-belain dateng kesini ga kecewa deh. Ikan Patin nya dibumbui dan dibakar di dalam bambu, disajikannya juga masih di dalam bambunya. Baunya saja sudah bikin perut berontak dan rasanya juga enak banget. Bumbunya gurih, ikannya lembut, nyam..nyam.. Harganya memang lumayan, Rp.100ribu per porsi Ikan Patin Bakar, tapi memang porsinya besar. Ikan patinnya beda dari ikan-ikan patin yang banyak di temui di rumah makan padang, yang ini rasanya mirip seperti ikan patin yang pernah saya cicipi di Pekanbaru, nyaris ga berasa seperti ikan air tawar.

Selain itu Sup Guramenya juga enak, di sajikan di mangkok yang besaaaaar. Bahkan Es Kelapa Mudanya pun dalam porsi gelas yang besar. Pokoknya disini semuanya porsi besar.
Beberapa pengunjung juga memesan Ikan Patin Bakar ini untuk dibawa pulang. Dan uniknya Ikan Patin Bakar ini di kemas masih di dalam bambunya dan diikat dengan tali plastik buat tentengannya kalau kita pesan untuk dibawa pulang. Unik.

Senin, 01 Februari 2010

My Best Travelmate


Namanya Suaib, entah kenapa bisa jadi Cipu. Awalnya saya terperangkap di tempat kerja yang sama dengan cipu pada tahun 2007-an. Di beberapa kesempatan kita sering di tugaskan bersama, tapi siy seringnya saya sibuk dengan urusan saya berlari-larian kesana kemari dan Cipu sibuk dengan urusannya sebagai babysitter hihihii *piss ah*

Tugas dinas pertama saya bersama cipu kebetulan ke Makassar, yang merupakan wilayah jajahan Cipu yang asli berasal dari SidRap, suatu kabupaten somewhere di Sulawesi Selatan. Di waktu senggang, dikala tidak bekerja.... Cipu & keponakannya yg seumuran (Shinta) mengajak daku keliling-keliling Makassar dan menularkan virus OKKOTs kepada diriku ini *sigh* dan mendapatkan award karena ke-OKKOTs-an saya *tepok jidat*
Salah satu petualangan saya & Cipu yang paling berkesan adalah waktu kita tugas ke Palembang. Waktu itu kerjaannya agak santai sehingga kita banyak waktu luang. Cipu dengan suksesnya mempengaruhi saya untuk membeli baju renang norak di Carefour (soalnya ga ada pilihan lain) dan berenang malem-malem buta. Lumayan.. dapat ilmu banyak, cara berenang ala Cipu.. seperti gaya "berenang korban banjir", "ikan paus mabok", "ikan teri kelelep", dst..dst.. Kita juga berpetualang kuliner malem-malem, ke martabak Har (nyam..nyam..). Bersama-sama membajak live music di cafe hotel, walaupun akhirnya saya menyerah karena sudah terlalu malam dan tidur duluan sementara Cipu masih belum rela melepaskan microfon nya dan terus bernyanyi.


Petualangan kita yang paling seru pastinya petualangan Backpacking Singapore-Malaysia. I'm sure he's gonna be The Best Travelmate ever for every traveler in the whole world.


And Girls.... the good news is... he's still single *wink-wink*. Bagi yang berminat bisa langsung menghubungi saya sebagai agen resminya *ampooooon Cipuuuu* huahahaaa...

Jumat, 29 Januari 2010

Ragusa

Udah lama kayaknya ga posting kuliner disini hehee.. sebenernya ini udah agak lama siy, kembali ke tahun 2009, dimana pada akhirnya saya berkesempatan mengunjungi Es Krim Ragusa yang terletak di Jakarta Pusat setelah sekian lama punya niatan untuk mencicipi es krimnya yang terkenal sejak jaman dahulu kala.

Kedai ini dibuka tahun 1932 (berarti sebelum Indonesia merdeka) dan sejak itu resep es krim nya maupun interior nya tidak berubah.

Kedai ini berlokasi di Jln. Veteran I no.10, dan sebagai ratunya disorientasi, saya sempat muter-muter sekitar kawasan stasiun kereta Gambir, Monas dan Patung Pak Tani demi untuk menemukan Toko Es Krim kondang ini. Malahan sempat-sempatnya di cegat polisi karena terjebak jalur busway. Maklum, jarang-jarang saya ke kawasan ini dan kebetulan waktu itu Minggu pagi, jalanan sepi. Dan terjebaklah saya di jalur Busway, kemudian entah dari mana munculah Pak polisi yang mengisyaratkan mobil saya untuk menepi.

Saya: Aduh, Maaf Pak.. saya jarang lewat sini. Jadi ga tau kalau jalur Busway-nya di tengah *sambil nyengir*

Pak Polisi: aduh.. gimana ini ya mba? bisa minta surat-suratnya?

Saya: *memberikan SIM dan STNK di selipi uang 50ribuan, sambil nyengir* ini, Pak.

Pak Polisi: waduh.. gimana ya? kalau dua lembar boleh lah, mbak.

Saya: *bingung karena uang di dompet tinggal selembar 100rb-an* yauwdahlah Pak. Tuker aja selembar itu sama selembar ini. uang saya tinggal segitu-gitunya *sambil nunjukin isi dompet yang kosong*

Pak Polisi: iyalah, boleh.

Saya: ngomong-ngomong, kalau mau ke Jl. Veteran ke arah mana ya?

Setelah menunjukan jalan, akhirnya saya lolos dari tilang dengan cara damai yang sangat tidak terpuji dan tidak patut untuk dicontoh *malu*.

Akhirnya sampai juga di tempat yang dituju. Kedai dengan nuansa klasik, bahkan pengamennya juga menyanyika lagu-lagu nostalgia. Di luar lokasi ternyata sudah ada antrian panjang untuk menunggu tempat duduk. Padahal waktu itu masih sekitar jam 10 pagi. Sambil mengantri, saya memesan jajanan yang mangkal di luar kedai ini. Ada otak-otak, asinan juhi, sate ayam dan saya memesan semua hehee...

Tidak berapa lama saya, yang waktu itu bersama adik saya mendapat giliran duduk dan langsung memesan Es krim spageti nya yang terkenal dan cassata siciliana. Rasanya agak beda dengan es krim lain, lebih ringan. Saat es krim saya sudah habis rasanya masih pengen pesen satu lagi, tapi mengingat tempatnya yang penuh, antrian yang semakin panjang untuk menunggu giliran dan lamanya pesanan datang akhirnya saya mengurungkan niat untuk memesan lagi. Tapi berniat, lain kali kesana lagi saya mau langsung memesan dua porsi es krim.

Selain es krimnya, jajanan di luar itu juga tidak kalah Yummy nya. Asinan juhi nya enak, malahan saya memesan kerupuknya saja terpisah di siram bumbunya *jadi ngacai*. Sate ayam nya empuk dan bumbunya juga pas.... enak. Otak-otaknya lumayan, walaupun agak mahal. Jadi pengen lagiiii.....





Sabtu, 23 Januari 2010

Nyicipin Rasanya Backpacker Hotel

Salah satu target yang memang dicanangkan dalam perjalanan bekpeking perdana Singapura-Malaysia bersama Cipu, Lenia dan Gunard adalah mencoba Backpacker Hotel. Hotel yang ini beda dari hotel-hotel yang biasa nya saya temui, bayarnya per-orang, dalam satu kamar bisa terdiri dari empat sampe belasan orang, lebih mirip asrama. Dan yang paling penting, harga nya terjangkau dan biasanya terletak di lokasi strategis.

Yang namanya murah, tadinya saya tidak mengharapkan bakal enak kondisinya. Dari sebelum berangkat sudah mempersiapkan diri buat kemungkinan terburuk. Tapi entah karena kebetulan atau memang orang yang survei buat perjalanan ini *yang jelas bukan saya* pilihannya memang tepat.

Selama di Singapura dan Malaysia, hotel bacpakers yang kita tempati lumayan nyaman, bersih, dan terletak di lokasi strategis sehingga kita ga susah kalau mau kemana-mana. Bahkan kalau mau jalan sampai tengah malam. Orang-orangnya pun, dari mulai penjaga hotel sampai sesama backpacker ramah-ramah.

Di singapura, Penginapan kita terletak di lokasi strategis, Bugis Corner. mau naik MRT tinggal nyebrang, bisa kemana aja. Mau ke Merlion Park dan Esplanade juga tinggal jalan. Tempatnya di tengah-tengah ruko dan berada di lantai atas rumah makan India.

Selama saya hidup 27 thn ini, baru kali ini ngerasain tidur satu kamar bersama 5 orang cowok hehehe.. Kesannya: Beuh.. berisik banget, kayak pada lomba ngorok *tepok jidat*. Kamarnya sendiri bersih, ada AC nya, trus ada kunci otomatis yang pake password kalau mau masuk kamar. Rate nya $14 semalem, dapet breakfast, ada tiga komputer yang menyediakan internet gratis buat yang menginap (asal tau diri aja buat gantian ama yang lain hihihi), kamar mandinya bersih dan ada air hangatnya.





Tidak semua yang menginap disitu ternyata backpacker. Salah satu orang yang sekamar sama saya, mantan pengajar bahasa inggris di salah satu lembaga kursus di indonesia, yang ngakunya orang Jerman yang lama tinggal di Amerika jadi udah ga ngerti lagi sama bahasa Jerman. Dia sudah tinggal selama dua minggu di hotel tersebut dalam rangka mencari pekerjaan yang lebih baik di Singapura. Dalem hati saya berpikir, bule ada juga toh yang sengsara gitu *turut prihatin*

Ada lagi yang seru, yang ini sohiban sama Cipu. Pekerjaannya air photographer (tukang potret dari udara) tapi dia udah 7 tahun tinggal di Lombok. Bahasa Indonesianya juga lumayan. Dia bilang, " kalau saya... kerja apa saja," pake logat Cinta Laura,"yang penting HalaL." Walaaah.. bule juga ternyata tau-tau-an halal yak?

Di Kuala Lumpur, hotel kita bahkan lebih bagus lagi. Bangunannya kelihatan masih baru. Satu kamar lebih banyak isinya, mungkin sekitar 10-an orang. Ada AC dan air panas untuk mandi juga. Tapi kalau disini internetnya ga gratis a.k.a warnet mode ON. Ratenya RM32 semalem dan ternyata mbak-mbak yang jaga disana orang Indonesia (pahlawan devisa nih ceritanya).


Semua hotel itu kita booking secara on-line beberapa hari sebelum kita berangkat dan banyak info-info tentang hotel-hotel beginian di seluruh dunia asal kita rajin browsing-browsing. Salah satu cara yang jitu kita juga bisa tanya-tanya ke orang yang udah lebih pengalaman atau dari forum-forum milis backpacking.

Walaupun begitu, menginap di hotel begini musti extra hati-hati, terutama sama belongings. Dari dua hotel yang saya tempati itu, mereka menyediakan loker untuk menaruh barang-barang kita, tapi jangan lupa untuk selalu menggemboknya. Karena kan namanya kita sekamar sama orang-orang yang ga kenal, jadi jaga-jaga aja.


Selasa, 19 Januari 2010

Minum Sepuasnya

Sebagai turis dengan budget terbatas kita memang harus pintar-pintar mensiasati agar pengeluaran menjadi seminim mungkin. Salah satu caranya bisa dengan penghematan dalam membeli air minum.

Di negara-negara maju seperti Singapore, kita bisa langsung minum air dari keran tanpa dimasak dulu. Menurut yang saya pernah baca, lupa entah dimana, di Singapore dilakukan kurang lebih 8000 tes setiap hari untuk menjamin kualitas dan kebersihan air kerannya.

Pun begitu sebagai orang Indonesia yang kebetulan tinggal di dekat Kalimalang (yang katanya merupakan sumber air PAM) rasanya tetap aneh dan ga biasa kalau disuruh minum air keran, membayangkan warna, bau dan benda-benda asing yang mengambang di kali di Indonesia. Kemana pun saya pergi, yang kebayang tetap sama.... Padahal dengan meminum air keran, sebenarnya kita bisa menghemat secara signifikan karena disana air mineral botol harganya bisa hampir 20 ribu sebotol. Sedangkan minum air dari keran ga usah bayar, bisa minum sepuasnya sampe kembung.

Jadi inget, waktu jaman kuliah di Bandung dulu sempat mengalami terobosan teknologi dalam hal penyediaan air minum di kampus. Konon dulu di kampus saya sempat disediakan keran-keran air di beberapa titik. Air tersebut telah diproses sedemikian sehingga aman untuk diminum. Namanya mahasiswa yang kebanyakan anak kos, pada ga mo rugi. Jadilah keran-keran tersebut jadi laku sebagai tempat isi minum refill gratis, kita tinggal bawa botol kosong aja. Tapi sayang, tidak berapa lama air tersebut menunjukan gejala-gejala aneh yang membuat orang jd ragu buat minum, yaitu berwarna kekuningan dan berbau. Apakah teknologi air bersih aman diminum masih terlalu canggih untuk di terapkan di Indonesia ya?

Suka perhatikan ga di hotel-hotel Indonesia, di kerannya ada tulisan "air dari keran tidak aman untuk diminum". Mungkin banyak kejadian kali ya pendatang dari negara-negara lain yang nekat minum air langsung dari keran karena di negaranya biasa langsung glek ga pake di masak-masak dulu. Yah.. paling juga akibatnya pada sakit perut diserang bakteri hehehee....

Kurang lebih seperti itulah yang terjadi kepada saya yang ndeso ini ketika di Singapore. Walaupun saya yakin akan kebersihan air kerannya, tetap aja ga bisa minum nya karena ga biasa. Beda sama rekan seperjalanan saya, Cipu, yang ga bisa liat keran nganggur langsung refill botol minumnya *tipe-tipe anak kos yang ga mo rugi dunk*

Anehnya, kalau makan di pinggir jalan yang jelas-jelas terkontaminasi saya mah cuek-cuek aja. Malahan makan siang favorit saya nasi bungkus 5000-an dari warteg pinggir jalan, yang ga jelas itu bahan nya & masak nya gimana sampe bisa murah gitu. Pokoknya perut kenyang. Dan sampe sekarang belum pernah kejadian *dan jangan sampe deh* sakit perut gara-gara makan sembarangan, jadi terbukti lah kalau perutnya tahan banting.