Sabtu, 16 Desember 2017

Birthday Trip: Lari di Baluran

Mengobati batal lari HM di Lombok Marathon bulan ini saya bakal tulis postingan tentang lari di Baluran bulan Agustus kemarin. Yah postingan-postingan tentang birthday trip ke Baluran dan Ijen juga masih banyak yang pending sih, kayaknya akhir-akhir ini saya sulit menemukan mood untuk menulis blog, untuk lari, untuk berkebun. Gak berasa tahun 2017 sudah mau berakhir aja nih.

Setelah ketemu sunrise di Watu Dodol Banyuwangi, saya dan tim baluran yang terdiri dari Pagit dan Susi langsung berangkat ke Taman Nasional Baluran yang dikenal sebagai Little Africa of Java. Disebut demikian karena Taman Nasional Baluran merupakan hutan savana yang berbeda dengan hutan tropis yang kebanyakan terdapat di Indonesia. Kalau hutan tropis kan padat sama pohon-pohon besar, kalau savana mirip padang rumput yang luas, pohon-pohon ada tapi jarang-jrang dan bergerombol. Di musim kemarau savana berubah warna jadi kekuningan dan pohon-pohonnya meranggas, di musim hujan berubah warna jadi hijau lagi. 

Kami menginap semalam di dalam kawasan taman nasional baluran, di sana memang ada kamar-kamar yang disewakan untuk menginap. Saya memang sudah berencana mau lari pagi di savana. Rencananya saya mau lari agak jauh, tapi nyatanya hanya kuat lari 4 km. Bulan-bulan itu memang kondisi lagi tidak fit banget, jasmani dan rohani. Sekembalinya dari Birthday trip kondisi lebih drop lagi, tapi setelah beberapa lama akhirnya sekarang sudah mulai get back on track, walaupun masih tertatih-tatih.

Terlepas dari kondisi yang lagi gak fit, lari pagi kali ini bikin saya sadar kalau kesendirian itu ternyata bikin ngeri dan merinding, apalagi kalau gak ada suara apa-apa selain suara sendiri. Padahal awalnya saya sok tau pingin bikin trip ini solo trip untuk membiasakan diri dengan hidup sendirian, walaupun akhirnya gak jadi solo trip juga sih. Semakin jauh saya lari, padahal belum sampai 3 km, keadaan makin sepi, saat itu tiba-tiba saya jadi sadar kalau i don't wanna be alone, trus puter balik dan lari balik ke penginapan. 

Selain ngeri karena sepi banget, saya juga takut nyasar dan takut dikejar satwa liar semacam macan atau banteng. Ini perdana saya lari di hutan yang beneran, ternyata gak semudah yang saya lihat di film atau youtube orang-orang yang lari trail sendirian di tengah hutan, nanjak-nanjak bukit, tembus hutan. Tapi sejak kembali dari pengalaman lari sebentar di Baluran, walaupun disana ketakutan, anehnya saya jadi pingin punya sepatu trail dan pingin lari di alam bebas lagi. 

Setelah putar balik, di jalan lari balik ke penginapan saya melihat matahari terbit di seberang savana, mataharinya kelihatan lebih besaaaarrr dan dekaattt. Cantik banget. Sayangnya saya sendirian jadi gak bisa minta tolong siapa-siapa buat fotoin. Mau selfie juga jadinya backlight. 

Lari jalur kendaraan di baluran pagi-pagi sepi banget sampe merinding

Matahari terbit di seberang savana
Setelah lari 4km saya jalan mendaki ke arah menara pandang dan naik keatasnya. Dari menara pandang bisa kelihatan area padang rumput dari atas, rombongan rusa dan kerbau baru keluar cari makan di padang rumput. Saya sempat ketemu sama mahasiswa asal lombok yang lagi penelitian di Baluran, dia sudah tinggal selama beberapa minggu mengamati aktifitas rusa. Saya sempat dijelaskan mengenai satwa-satwa yang ada di Baluran dan rutinitas rusa-rusa yang ada disana. Gak kebayang sih beberapa minggu tinggal dalam hutan, tapi kayaknya asik juga.


Menara pandang di Baluran

View dari atas menara pandang


Kamis, 30 November 2017

Force Majeure

Jadwal race saya berikutnya semestinya berlokasi di Lombok. Sejak ikut race pertama di Bali tahun lalu, saya punya rencana  mau ikut race keliling kota-kota di Indonesia. Tahun ini pilihan saya adalah Jakarta Marathon dan Lombok Marathon. Slot untuk kedua event tersebut sudah saya amankan sejak awal-awal tahun 2017. Tapi manusia kan hanya boleh berencana. Seminggu sebelum event Lombok Marathon akhirnya terjadilah erupsi Gunung Agung setelah beberapa lama galau berstatus siaga, naik ke awas, balik lagi ke siaga, hingga sekarang kembali awas. 

Pulau Lombok yang berada tidak jauh dari Pulau Bali ternyata mengalami dampak dari peristiwa tersebut. Malahan waktu awal-awal Gunung Agung mengeluarkan abu, bandara Lombok sempat ditutup karena arah angin menuju kesana berpotensi membawa abu vulkanik. Karena itulah acara Lombok Marathon ini diundur oleh Organizer. Tadinya acara ini akan diselenggarakan tanggal 3 desember 2017, kemudian diundur menjadi 28 Januari 2018. Menurut saya sih merupakan keputusan tepat, kalau ada abu vulkanik ya mana mungkin lari, nafas biasa saja harus pakai masker. 

Sebenarnya saya merasa persiapan saya untuk race ini lebih baik daripada ketika Jakarta Marathon. Pace lari saya pun mulai kembali seperti tahun lalu saat sebelum ikut Maybank Bali Marathon. Minggu lalu saya sudah mulai mengatur strategi dengan memetakan rute race dan memperkirakan waktu dan pace saya per-5km sehingga didapat perkiraan waktu finish yang paling optimal. Target saya di Lombok Marathon mau finish di 2 jam 45 menit. Kalau sudah berhasil finish sesuai target, awal tahun depan saya akan mulai latihan untuk ikut Full Marathon.

Tiket pesawat dan hotel pun sebenarnya baru saya booking 3 hari sebelum peristiwa erupsi Gunung Agung. Untungnya saya booking hotel melalui Agoda pakai fitur Pay Later, jadi kalau dicancel sebelum tanggal 1 desember belum bayar apa-apa. Tiket pesawat Lion Air pun masih bisa dicancel dan refund. Tidak kembali 100 persen sih. Mengurus refundnya juga mudah, cuma harus sabar menunggu saja waktu menelpon call center nya. Mungkin juga karena sekarang-sekarang ini call center lagi pada sibuk karena banyak flight yang di cancel. 

Cara cancelnya seperti ini: pertama, telpon call center, kemudian dikasih nomor telepon khusus whatsapp dimana kita harus mengirimkan foto KTP dan kode booking. Kemudian setelah kita Whatsapp datanya, telpon lagi ke call center, nanti langsung di proses cancel dan kita disuruh ke kantor Lion Air di Jalan Gajahmada untuk mengurus refund paling lambat 3 bulan setelah cancelation. Nah, tadi siang saya ke kantor Lion Air untuk mengurus refund, hanya kasih printout booking dan fotokopi KTP, katanya 30 hari dana akan kembali ke rekening/ limit kartu kredit sesuai dengan cara bayar kita pas beli. 

Sepertinya bulan ini memang bukan bulan yang bagus untuk berpergian jalan-jalan karena bukan hanya bencana erupsi Gunung Agung, tapi cuacanya lagi mengerikan. Hujan dan anginnya ngeri. Kapok saya pergi-pergi saat cuaca lagi ekstrim seperti sekarang, nanti takut gak bisa pulang lagi kayak waktu dulu pas ke Timor Leste




Kamis, 23 November 2017

Watu Dodol Hotel, Banyuwangi

Saya pilih hotel ini karena ketika riset tentang tempat melihat matahari terbit di Banyuwangi, nama daerah Watu Dodol yang sering muncul dan satu kali pernah saya lihat nama Watu Dodol Hotel. Ketika saya cari di web booking hotel ternyata rate-nya cocok dengan budget saya. Tapi waktu itu saya tidak langsung booking. Kira-kira seminggu sebelum berangkat, ketika Pagit dan Susi sudah memutuskan ikut saya baru booking. 

Jarak resort ini tidak jauh dari Stasiun KA Banyuwangi Baru, tapi jauh kalau ke pusat kota. Kami bertiga naik angkot kuning yang sudah menguntit kami sejak keluar dari stasiun dan sempat makan siang depan stasiun. Tapi kalaupun tidak ada angkot itu kami juga bingung mau naik apa (waktu itu belum tahu kalau di Banyuwangi sudah ada Uber dan Grab), karena jalur itu tidak dilalui angkot. Kami membayar 20,000 / orang, yang memang mahal banget sih tapi yah daripada jalan kaki siang bolong bawa-bawa gembolan. Walaupun pada akhirnya yang mengantarkan kami bertiga ke baluran ya angkot itu juga. 

Ketika memasuki kawasan resort, saya senang sekali karena diatas ekspektasi. Tempatnya enak, nyaman, hommy banget. Kami dapat kamar yang menghadap kolam renang dan laut. Kamarnya juga luas dan bersih, bergaya arsitektur resort di Bali yang kamar mandinya ada open space-nya. Bedanya kalau di Bali, untuk mendapatkan resort macam begitu yang posisi dipinggir pantai, harus keluar uang paling tidak dua kali lipat. 

Waktu kami datang resortnya sepi, karena waktu itu hari Jumat. Tapi di halaman resort yang pas bersisian dengan pantai sedang dipasang dekor pernikahan. Rupanya ada yang mau menikah disitu keesokan harinya. Saat kami tiba hanya ada kami bertiga dan sekeluarga bule, jadi puas main-main dan foto-foto di kolam renangnya. 

View from our room
Dari halaman hotel di sebelah kanan terlihat Pelabuhan Ketapang dan kapal-kapal yang sedang menyebrang menuju Pulau Bali. Sosok Pulau Bali tampak pas di depan, bersebrangan dipisahkan laut. Di spot inilah keesokan pagi kami menyaksikan matahari terbit. Di sebelah kiri kami bisa lihat patung Penari Gandrung ikon Banyuwangi. Konon disitu terdapat Watu Dodol. Seperti biasa saya selalu kurang riset kalau jalan-jalan, jadi ketika Pagit bertanya seperti apakah Watu Dodol say atak bisa jawab.

Pertanyaan terjawab ketika kami bertiga makan malam di restoran hotel. Di kotak tissue meja makannya terdapat gambar batu lonjong warna hitam dibawahnya ada tulisan Watu Dodol. Ternyata Watu Dodol adalah Batu yang warnanya hitam dan bentuknya lonjong seperti dodol. Tapi anehnya Watu Dodol letaknya di tengah-tengah jalanan banget. Banyak cerita urban legend dan ada juga yang rada mistis ketika kami google tentang Watu Dodol. 

Yang paling penting buat saya adalah misi melihat matahari terbit pertama kali di Pulau Jawa sudah terlaksana.

View Sunrise dari Watu Dodol Hotel


Lokasi:
Jl. Raya Situbondo No.290
Ketapang, Kalipuro
Kabupaten Banyuwangi



Kamis, 16 November 2017

ITB Ultramarathon Jakarta-Bandung 170km

Beberapa bulan lalu, tidak lama sebelum bulan puasa tahun ini, saya mulai mengikuti awal terlahirnya event yg idenya berawal dari salah satu pelari ultramarathon senior saya di kampus yang sudah malang melintang di dunia perlarian. Ide pelari ultramathon tersebut kemudian disambut oleh dua orang senior saya yang sudah jadi orang-orang hebat. 

Yang saya takjub dari ketiga beliau adalah ditengah kesibukan sebagai para petinggi tingkat (multi)nasional masih sempat2nya create event lari dalam waktu kurang dari satu tahun, efektifnya mungkin hanya 4-5 bulan. Acara lari ini mengambil rute dari jakarta ke kampus ITB di Bandung lewat puncak yang diselenggarakan untuk menggalang dana yang akan disumbangkan ke Fakultas tempat saya kuliah dulu. Acaranya diberi nama Tribute to FTMD (fakultas teknik mesin dan dirgantara).

Hal ini jd semacam re-charge energi dan motivasi buat saya - anak magang yang timbul tenggelam, bahwa gak ada satu ide gila pun yang tidak mungkin terlaksana dengan semangat, kerja keras dan ..... 

koneksi.

...makanya gaul itu juga penting. 

Jarak Jakarta - Bandung yang ditempuh sekitar 170km. Boleh ditempuh sendirian, boleh juga keroyokan. Bisa ber-2, ber-4, ber-8, dan ber-16. Demi untuk menjaring banyak anggota saya ikut kategori ber-16, jadi masing-masing pelari dapat jatah sekitar 10an km.



Mengumpulkan 16 orang dalam 1 team lari ternyata gampang-gampang susah. Memerlukan skill personal approach, negosiasi dan persuasi. Terutama ketika berusaha mendapatkan pelari perempuan kedua dan satu2nya yang bergelar Doktor @kireinashit dalam tim, sempat terjadi perebutan dan negosiasi alot dengan tim sebelah yang anggotanya perempuan semua. 

Walaupun rencana latihan bersama seminggu sekali hanya tinggal wacana, namun kapten tim yang penyabar, Hamzah, tetap berhasil mempertahankan kesatuan dan kekompakan. Detik-detik terakhir sempat terjadi krisis karena salah satu anggota berhalangan, namun kapten dengan tenang berhasil menanggulangi masalah ini dan membawa anggota baru, Igan - ikhwan ganteng sebagai pengganti. 

Tantangan sebenarnya dari ultramarathon ini bukan hanya di lari, tapi strategi mengatur logistik 16 pelari yang akan melewati jalur padat di akhir minggu. Untungnya ada Shadiq, pelari sekaligus ahli strategi yang sistematis. Ada juga pelari sekaligus penasihat tim yang kadang ide2nya brilian tapi lebih seringnya sampah, Chris yang juga pencetus nama tim ini, yaitu 137runner, 137 karena NIM kami semua berawalan 137. 

Unggulan tim ini adalah Hendra, pelari kencang berprestasi atlit PON kebanggaan kami yang sudah naik-turun podium. Yang tidak kalah fenomenal juga ada Ari yang rajin ikut race, Dicky (mantan) atlit kampus, Bagus, Helmi, dan Ganjar yang berwajah lugu tapi larinya jauh. Lalu ada para pemula yang kemampuannya meningkat pesat Fino, Budi -pelari sekaligus sponsor tim, dan Dodi - tangan kanan kapten. Satu lagi adalah pelari yang paling misterius, karena banyak dari anggota tim yang belum pernah melihat sosoknya (mungkin hanya bayangannya sangking cepetnya), Alnahyan. 

Tanggal 13 Oktober malam acara race dimulai. Perjalanan ini diawali oleh Igan di lokasi start wisma BNI dengan penuh perasaan cemas dan gugup karena baru pertama kali ikut dalam ajang race. Dikarenakan terbatasnya anggota dan tim support dari KAM maka Igan harus berjuang sendiri di garis start. Tapi kecemasan tak mempengaruhi performanya di ajang perdana ini, Igan berhasil mencapai WS (Water Station)1 di daerah pasar minggu, melewati tatapan sinis dan kesal para pengendara kendaraan yang terkena imbas macet akibat event ini. Pergantian pelari dilakukan di setiap WS.

Di WS1 Igan disambut oleh pelari misterius Alnahyan. Sambil mengunyah nata de coco, Al berhasil mencapai WS2 yang jaraknya lebih dari 10km dari WS1 pada pukul 00.34 wib, hanya dengan waktu 1.15 saja. Kedua pelari awal ini mengangkat estimasi waktu finish secara drastis sehingga rombongan pelari puncak memutuskan untuk berangkat lebih awal. Meminjam istilah Hendra bahwa Djakarta adalah Koentji! 

Sementara itu tanpa ada kesepakatan sebelumnya selalu ada pantauan dari grup wa 137runner, bergantian memberi support dan memantau perkembangan race. Dari Al, estafet dilanjutkan oleh Fino hingga tiba di ws3 pada pukul 02.08. Waktu tempuh Fino jg merupakan pencapaian yang luar biasa untuk pelari yang baru perdana ikut race, langsung menempuh jarak 10km dan larinya di jam2 orang lain bobo. Budi, yang merupakan newbie di dunia perlarian sudah siap menyongsong Fino di WS4. 

Ke newbie-annya membuat saya paling khawatir dengan Budi, sampai secara personal berkali-kali menyampaikan kalau ini acara fun, tidak perlu dipaksakan, dan tidak harus menyelesaikan 10km jatahnya. Tapi ternyata Budi berhasil menaklukan tantangan dengan support dari anggota di wa grup. Pukul 04.15 Budi berhasil mencapai WS5 di cibinong. Menjelang finish saya ketemu budi di kampus dengan gaya jalan yg sudah tertatih-tatih, tapi ketika yori mendekati finish budi tetap semangat ikut mengiring dari gerbang ganesha hingga gerbang finish dengan bertelanjang kaki. 

Dicky lanjut berlari dari ws4 menuju ws5, sementara itu pelari ke7, chris sudah berangkat lebih awal dan menunggu saya (mila) yang akan melanjutkan dicky dari bogor hingga daerah ciawi. Saat itu sekitar jam 4 subuh, padahal estimasi awal chris mulai lari pukul 11 siang. Jam 5 subuh rombongan pelari puncak hamzah, hendra, shadiq, bagus sudah berangkat juga. 

Pkl. 5.15 Dicky tiba di WS5. Kemudian giliran saya untuk melanjutkan arm band estafet hingga WS6. Jalan padjajaran bogor yang selama ini dilalui dengan angkot dan mobil rasanya datar-datar saja ternyata merupakan tanjakan tanpa bonus. Lewat dari 10km saya mulai merasa hilang arah karena tidak melihat ada pelari lain dan atau penunjuk arah, akhirnya tanya tukang parkir dimana arah wisma kemenag, tempat finish saya. Untung katanya masih lurus saja, berarti saya ada di jalur yang benar. Setelah melewati perempatan masuk ke jalan tol, pasar ciawi, gerobak bubur ayam, lontong sayur, gorengan saya tiba juga di ws6 pukul 7 passss... menempuh jarak 11.36 km dan elevasi 200 meter. 

Perjalanan saya dilanjutkan oleh chris yang harus melalui jalan dengan elevasi yang lebih dasyat lagi di daerah cisarua menuju Cimory. Dari jatah waktu COT 3 jam yang diberikan panitia, Chris mampu menyelesaikan dalam 1 jam 20an menit saja. Hendra, atlet kebanggaan 137runner lebih parah lagi. Berhasil membuat tukang ojek puncak minder karena berlari 10km elevasi 400an dengan waktu 1 jam doang. Itu baru pemanasan doang buat dia kayaknya soalnya masih kepingin lari lagi di slotnya helmi yang tiba2 sakit menjelang race. GWS ya helmi, semoga next event bisa ikutan. 

Kapten kita, Hamzah, melanjutkan perjuangan Hendra dari WS8 menuju WS9 dengan waktu yang tidak kalah gokil, kira-kira sejam doang juga ! Fiuh. Pkl. 10.20 hamzah sudah tiba di WS9, membawa 137runner memasuki segmen menurun dari kawasan puncak. Berlari di turunan yang panjang sebenarnya sama sulitnya dari berlari di tanjakan. Malahan lebih rawan cedera karena di turunan harus melawan gaya gravitasi. Shadiq yang ditugaskan berlari menyusuri elevasi yang semakin menyusut sepanjang sekitar 12km. Banyak anggota 137runner yang khawatir ketika shadiq berlari, bukan khawatir takut cedera, tapi khawatir ketika lari tiba2 dibelakangnya jadi banyak yang mengejar - para gadis kembang desa. 

Pkl 13.40 arm band beralih dari shadiq ke bagus di WS11. Dengan ceria dan sumringah, dibawah terik matahari yang panas, bagus berhasil tiba di WS12 pkl. 13.40 dan menyerahkan arm band kepada kapten hamzah lagi yang akan berlari mewakili helmi. 

Sementara para pelari berjuang menyelesaikan segmen masing-masing, kedua orang team manager- Aldy dan Putu, juga bekerja keras dengan penuh dedikasi mensupport mobilisasi pelari dari dan ke tiap WS. Konon Aldy sampai harus berkorban kartu ATM yang tertelan di mesin atm. Saya yakin capeknya manager team juga sama dengan para pelari, bahkan mungkin lebih, karena harus menyetir selama belasan jam melewati jalur naik turun dan macet. 

Hamzah tiba lagi di WS13 pukul 15.17. Katanya sempat ada insiden kaki keram tapi untungnya tiba juga dengan selamat dan menyerahkan tugas selanjutnya ke Dodi. Sebelum race saya sempat wa putu, yang merupakan kawan seangkatan dodi. Saya curiga sama kelakuan dodi yang gak pernah ikut latian bareng, ga pernah share hasil lari di grup wa, tapi kalau ngumpul selalu ada dengan sikap kalem dan cengengesan. Waduh, jangan2 dia bisa beres 10k dibawah 1 jam, kata saya ke putu. Putu bilang, yaa mungkin juga, karena waktu kuliah dulu dodi biasa lari 10k. Dan di event race perdananya ini, dodi berhasil menaklukan jarak yang ditugaskan kepadanya dengan smooth dan banyak foto-foto. 

Pkl. 18.40, Ari mulai berlari dari WS13 ke 14. Sudah semakin mendekati garis finish. Ari yang sudah sering ikut race dan berdedikasi sama latihan larinya juga menuntaskan segmennya dalam waktu 1 jam. Jam 20.54 arm band sudah beralih ke Ganjar, pelari ke 15. Yang artinya tinggal 1 pelari lagi menuju kampus ganesha. Ganjar sempat bermasalah lututnya, tapi tim support dengan cekatan mengantarkan balsem ke Ganjar. Dengan semangat material yang kuat, tangguh, bersemangat, ganjar berhasil mengalahkan masalah lutut dan berlari menyusuri padalarang hingga tiba di WS15, dimana Yori telah menanti. 

Yori, satu2nya doktor di tim lari 137runner, adalah pelari dengan jatah lari paling banyak. Hampir 15km. Menyusuri cimahi, belok ke pasteur, naik ke jembatan layang pasupati kemudian mengarah ke tamansari menuju ganesha. Memasuki jembatan layang Pasupati, rombongan pelari puncak sebanyak 5 orang mulai mengiringi yori. Di tamansari rombongan iringan bertambah dari team manager dan adik-adik MTM yang menyerukan yell-yell sepanjang jalan ganesha hingga memasuki gerbang finish. Pukul 23.10.

NB: sebagian tulisan ini (dan lebih banyak foto-foto) telah dipublish di IG @milasaid

Senin, 06 November 2017

Jakarta Marathon Pertama Saya

Kegiatan lari-lari kecil saya di tahun 2017 ini tidak mengalami kemajuan, baik dalam hal jarak maupun pace. Malahan cenderung mengalami penurunan. Karena di 6 bulan pertama tahun 2017 agenda latihan lari rutin berantakan, jadi pace saya menurun drastis. Sebenarnya dari bulan Maret saya sudah daftar dua race yang jatuh di penghujung tahun, Jakarta Marathon akhir Oktober dan Lombok Marathon awal Desember, keduanya kategori Half Marathon. Ya tapi seperti yang saya bilang, karena 6 bulan jadwal saya berantakan jadi saya baru mulai latihan lagi untuk HM 4 bulan menjelang Jakarta Marathon. Rasanya seperti mulai dari nol, pace menurun drastis yang menyebabkan motivasi juga agak menurun. 

Tahun lalu waktu latihan untuk bali marathon, pace 5k saya sudah masuk 7, walaupun dibandingkan kawan-kawan saya yang lain masih tergolong lelet. Tahun lalu target saya menyelesaikan 15k dalam waktu maksimal 2 jam. Tahun ini pace 5k saya diatas 8, semakin lelet ketika mulai mencapai 10k dan lewat dari itu saya sudah tidak kuat lari nonstop, pasti diselingin jalan cepat. Kalau ditimbang berat saya gak berubah banyak dari tahun lalu, tapi badan rasanya lebih berat. Tapi saya masih optimis bisa finish HM dalam waktu 3 jam. 

Seminggu sebelum race, yang harusnya sudah taper week saya masih mencoba mau lari 15k dalam waktu 2 jam di CFD. Sayangnya usaha tersebut gagal total, karena belum 13k sudah lewat 2 jam saya lari, panasnya sudah terik banget dan sejak lewat 8k saya sudah selingi dengan jalan cepat. Akhirnya saya menyerah di kilometer ke-13. Tahun ini saya memang kurang disiplin dalam mengikuti training plan, banyak bolong-bolongnya dan pengurangan jarak. Kalau tahun lalu saya masih latihan core, HIIT dan yoga, tahun ini nyaris tidak ada. Terasa sekali bedanya ternyata. 

Ini adalah Jakarta Marathon yang ke-5 tapi yang pertama  buat saya. Buat saya ini event lari ke-5 yang saya ikuti (sebelumnya Bali Marathon 2016, Helo kitty run 2016, Synergy run 2017, Ultramarathon ITB 2017). Untuk Half Marathon ini yang ke-2 kali. Kalau dibandingkan kawan-kawan seperlarian saya yang lain sih memang saya tergolong jarang ikut event lari.

Tanggal 29 Oktober, saya bangun jam 2 subuh. Malam sebelumnya sudah beli Milo Kotak untuk sarapan. Tapi ketika Taxi pesanan jemput jam 3 baru ingat kalau Milo-nya ketinggalan di kulkas. Akhirnya saya beli susu coklat kemasan kotak di warung. Saya janjian sama kawan saya Hamzah dan Hendra di Sarinah. Jam 4 kami mulai jalan ke race central di kawasan Monas. Jalan masuknya ternyata jauh aja. Pas akhirnya kami lewat pintu masuk, Full marathon sudah dipanggil untuk siap-siap start, Hamzah yang ikut FM segera bergegas ke garis start sementara Hendra ikut HM tapi mau drop bag dulu. 

Saya telpon kawan saya satu lagi chris yang sudah di race central dari jam setengah 4, dia ikut HM juga. Saya dan Chris agak bingung sama pengumuman start HM, kami berdiri di barisan orang-orang yang ternyata antri untuk start 10k. Akhirnya kami mencoba cari jalan maju, eh ternyata yang HM sudah pada start sekitar 10menitan. Baru lari 2km-an saya pingin pipis. Sebenarnya ada niat mau ke toilet dulu sebelum start tapi ketika lihat antriannya saya jadi males dan berpikir kalau sudah lari nanti juga udah gak bakal berasa pingin pipis. Ternyata saya salah.

Rute larinya dari monas lewat Hayam Wuruk ke arah Kota Tua. Ketika saya tiba di depan stasiun Kota hujan turun, gerimis tapi lumayan basah. Saat itu mungkin sudah lewat 7km. Saya belum pernah lari waktu hujan, apalagi saat itu saya pakai kacamata jadi gak enak banget karena gak ada wipernya. Saya mulai jalan cepat, nah dari itu energi saya kayak langsung turun, padahal belum 10km. 

Hujan gerimis mungkin gak sampai 10 menitan, ketika saya depan lindeteves hujan berhenti, tapi saya sudah terlanjur jalan dan mau mulai lari berat. Apalagi karena kena hujan jadi semakin pingin pipis. Akhirnya saya numpang pipis di KFC yang sudah buka, cari-cari pom bensin gak lewat-lewat. Habis hujan gerimis, langsung panas, cuaca jadi gak enak. Pengap. Apalagi karena keleletan ketika sampai di jalan yang gak steril, jalanan sudah macet, tambah panas kendaraan dan asap knalpot. 

Makin parah ketika tiba di ruas CFD thamrin, itu jam lagi padat-padatnya. Karena sudah susah untuk lari tanpa harus zig-zag, nge-rem dan senggol-senggolan sama orang, akhirnya saya jalan saja. Lagipula target saya finish 2 jam 45 menit sudah lewat dan itu baru km ke 19, jadi masih ada 3km lagi. Disitu saya ketemu sama ibu dari Bogor yang menjadi kawan jalan saya sambil ngobrol sepanjang 2 km di kawasan Thamrin, kami menerobos bundaran HI bersama. Ibu-ibu itu kakinya kram, tapi karena ngobrol jadi mungkin lumayan berkurang. Saya meninggalkan ibu itu di tenda Salonpas, sekitar 1 km dari garis finish. Saat itu saya mulai lari lagi.

Akhirnya setelah berhenti lagi dua kali di perempatan Sarinah karena lampu merah dan di lampu merah sebelum monas untuk kasih jalan ke bus Transjakarta, saya berhasil finis Half Marathon pertama saya tahun 2017 ini. Hasilnya memang jauh dari target, tapi gak apa-apa deh yang penting foto-foto saya yang dipublish bagus-bagus. 


Senin, 23 Oktober 2017

Sepatu Juga Punya Cerita

Satu bulan lebih saya absen dari menulis blog. Padahal banyak yang mau diceritakan dari perjalanan ke banyuwangi, baluran dan ijen bulan agustus lalu. Minggu lalu saya sempat ikut acara yang diadakan alumni kuliah saya, lari relay dari jakarta ke bandung lewat puncak, 16 orang. Minggu depan saya juga lari Half Marathon di Jakarta Marathon. 

Tidak seperti persiapan HM tahun lalu, HM kali ini agak keteteran latihannya. Sejak awal tahun sebenarnya latihan lari saya sudah mulai keteteran, pace dan jarak long run menurun drastis. 3 bulan terakhir saya baru mulai bisa mengatur kembali pola latihan, hingga saat ini sih lumayan ada peningkatan walaupun rasanya kayak mulai dari nol lagi.

Saya mulai gandrung lari tahun 2013. Sebenarnya kalau joging pagi-pagi waktu wiken sih sudah lama. Saya sudah mulai pakai aplikasi lari sejak masih pakai Blackberry, waktu itu saya pakai endomondo. Saat itu saya kalau lari rutenya cuma keliling satu blok yang jaraknya tidak sampai 2km. Baru sekitar tahun 2013 saya menemukan hype-nya para runner yang punya blog dan vlog di youtube. Waktu itu mungkin sudah ada acara race dan komunitas lari di jakarta, tapi mungkin tidak seheboh sekarang, dan karena gak ada kawan-kawan disekitar saya yang join begituan jadi saya juga gak tahu.

Niat rajin lari sudah ada dari tahun 2011, yang diawali dengan beli sepatu. Waktu itu saya tidak riset mengenai sepatu yang mau saya beli. Saya beli hanya karena keterangannya running shoes, warnanya biru muda fav saya dan diskon 30%. Bisa dibilang itu sepatu lari serius saya yang pertama, Reebok, tipenya saya juga tidak tahu. 

Sempat beberapa saat lari rutin di taman belakang kantor dan keliling komplek, saya kena demam berdarah komplikasi tipus yang membuat sepatu reebok biru harus cuti. Hingga tahun 2013, saya berniat mau hiking ke Rinjani, tapi setelah baca sana-sini sepertinya persiapan fisik sangat diperlukan. Kemudian saya install aplikasi nike run di iphone saya, membeli treadmill dan mengeluarkan sepatu Reebok biru dari dalam dusnya. Dalam beberapa bulan, dari jarak tempuh yang hanya berkisar 2km-an saya berhasil mencapai 5km pertama saya di tahun 2013 itu pakai Reebok biru. Saya baru ke rinjani tahun 2014, menggunakan sepatu rebook biru yang kemudian saya kasih nama sepatu Rinjani. 

Untuk menghadiahi pencapaian lari karena telah menembus 5km, saya membeli sepatu lari serius saya yang kedua yaitu Nike Free. Ketika beli yang ini saya sudah mulai riset sedikit-sedikit. Saya suka sih pakai Nike Free karena ringan banget. Saya pun makin semangat lari di treadmil, di taman tebet dan komplek. Saat-saat itu saya juga ikut Bikram Yoga selama 2 bulan dan sempat ikut latihan Muaythai di tebet. Badan terasa fit banget jaman-jaman itu. Kemacetan Jakarta belum separah sekarang jadi entah kenapa waktu dan energi saya berasa jauh lebih banyak. 

Walaupun terasa fit dan hiking rinjani terlaksana, namun hingga tahun 2015 jarak lari saya gak pernah lebih dari 5km-an. Sepatu Reebok biru sudah koyak-koyak karena saya pakai ke Rinjani, jadi saya beli sepatu Reebok lain sebagai gantinya. Sepatu Reebok yang ini pun saya tak tahu tipenya. Waktu itu targetnya hanya mau cari running shoes yang harganya dibawah 1jt, jadi saya tetap punya dua sepatu lari untuk ganti-ganti. Sepatu rebook yang kedua itu kelak adalah sepatu yang saya gunakan untuk naik ke Ijen, sehingga sekarang saya kasih nama Sepatu Ijen.

Di tahun 2015 saya baru bikin target untuk menembus 5km, yaitu lari 10km pada saat ulang tahun saya alias birthday run. Jadi butuh waktu hampir 2 tahun buat saya, dari 2013 ke 2015, untuk mencapai jarak lari 10km. 

Awal tahun 2016 secara impulsif saya ikut mendaftar Race pertama saya, langsung Half Marathon! 21.1 km, dua puluh satu koma satu kilo meter. Jarak dari rumah saya ke kantor saja hanya 11km. Half Marathon itu nyaris jarak Pulang Pergi dari rumah ke kantor saya. Saya hanya punya waktu kurang dari setahun untuk persiapan. Tapi cukup sih, saya latihan pakai program training yang ada di aplikasi nike run. Selain itu saya juga mulai riset soal makanan dan latihan-latihan lain untuk menunjang lari, seperti strength training buat core dan yoga untuk strecthing. 

Kebetulan ketika lagi jalan-jalan di Lotte Avenue ada counter sepatu Asics yang lagi sale. Lumayan banyak diskon cuci gudangnya, akhirnya saya beli Asics GT-1000, yang hingga saat ini masih jadi sepatu favorit karena paling enak dipakai walaupun berat. Ganti dari Nike Free yang ringan banget ke Asics lumayan terasa di kaki, waktu pertama saya pakai mulai berasa di kilometer ke-6. Tapi lama-lama terbiasa juga sama beratnya. 

Beberapa bulan yang lalu sepatu Nike Free yang saya beli tahun 2013 sudah waktunya pensiun. Kalau dipakai lari agak jauh terasa keras lama-lama kayak telapak kaki langsung injak aspal. Tapi karena penampilannya masih bagus, sekarang masih saya gunakan untuk jalan-jalan. Setelah browsing sana sini, saya memutuskan beli Nike Pegasus untuk ganti Nike Free karena Nike Pegasus lebih cocok untuk long distance running - menurut beberapa sumber yang saya baca.

Ternyata nyaman juga pakai Nike Pegasus. Walaupun tidak seempuk Asics kalau dipakai lari jarak jauh tapi lebih ringan. Harganya juga lebih murah dari sepatu Nike lain yang untuk long distance running walaupun gak murah juga ya, sampai sekarang masih suka nyesek kalau injak becek

Khusus untuk lari saya rela deh keluar uang lebih untuk beli sepatu, karena sepatu itu penting untuk mencegah cedera dan juga untuk kenyamanan. Alhamdulillah sampai sekarang saya belum merasakan sakit lutut atau sakit-sakit aneh lainnya di kaki, palingan pegal aja kalau habis lari lebih jauh dari biasanya. Kalau baju sih saya gak beli yang mahal-mahal, kadang kaos yang enak dipakai lari itu yang sudah lemes karena dipakai tidur. Sekarang-sekarang malah saya kalau lari pakai kaos seragam dari acara race.

Yah jadi itu lah kisah-kisah sepatu dan mantan sepatu yang telah menemani saya berlari dari kenyataan hidup mulai dari tahun 2011 hingga sekarang. Kadang kalau lihat sale sepatu atau lihat sepatu model baru rasanya pingin beli, tapi kalau diturutin beli sepatu terus gak punya ongkos buat travelling lagi donk.

Minggu, 03 September 2017

Birthday Trip 2017 : The Beginning

Ini cerita tentang birthday trip. Sepertinya trip semacam ini akan jadi ritual, setiap tahunnya saya akan melakukan satu perjalanan yang ada misinya di hari ulang tahun. Tahun lalu saya lari half marathon untuk pertama kalinya di Maybank Bali Marathon. Tahun ini misi saya adalah menyusuri pulau Jawa dari Barat ke Timur dengan kereta api dan melihat sunrise di ujung timur Pulau Jawa. Misi ini membawa saya ke Banyuwangi. 

Awalnya saya merancang perjalanan ini untuk solo backpacker karena di usia yang sekarang agak susah mengajak kawan-kawan sebaya untuk ikut traveling, karena di umur-umur segini lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan dan keluarga, kebanyakan kawan saya pada punya baby atau balita. Karena itu pula saya memilih lokasi selanjutnya yaitu Ijen. Secara tidak sengaja saya pernah dengan ada bapak-bapak di kantor yang bilang kalau Ijen itu artinya “sendiri”. Seketika itu saya putuskan mau ke Ijen. Kebetulan searah dengan misi matahari terbit. 

Meanwhile lagi di daerah sana, sekalian saja ke Taman Nasional Baluran. Sudah lama saya kepingin kesana, Little Africa in Java. Saya belum pernah ke savana. Tince sudah mendahului saya pergi ke Baluran tahun lalu bersama keluarganya dan menyewa resort disana, jadi saya tinggal ikuti jejaknya Tince. Kalian bisa kenalan lagi sama Tince di postingan birthday trip saya tahun lalu. 

Sebulan sebelum pergi Pagit memutuskan ikut. Setelah cutinya di approved kantor, kami langsung pesan tiket. Diluar dugaan ada satu lagi yang gabung, Susi. Perjalanan yang tadinya saya pikir akan saya jalani sendirian (seperti kemungkinan besar sisa hidup saya beberapa tahun mendatang), berubah menjadi perjalanan pakai hashtag girlsquad atau boleh juga hashtag TimBaluran. 

Rencana awal pulang dan pergi mau pakai kereta, tapi setelah pesan tiket berangkat baru sadar kalau tanggal 1 september - dimana trip berakhir, bertepatan dengan Idul Adha. itinerary pun direvisi. Kami pulang lebih awal 2 hari dari yang direncanakan, menggunakan pesawat dari Surabaya dan menambah satu hari untuk jalan-jalan di kota Surabaya. 

Kami berangkat jam 10 pagi dari stasiun kereta Pasar Senen naik kereta Ekonomi-AC. Saya pernah tulis kalau perkembangan kereta api tahun-tahun belakangan ini luar biasa meningkat, jadi jauh lebih nyaman. Bahkan sekarang kalau mau tukar bookingan tiket tidak perlu antri di loket, langsung print boarding pass di mesin yang sudah disediakan. Keretanya pun sekarang bersih dan dingin karena dipasang AC walaupun kereta Ekonomi. 

Tempat duduk di kereta ekonomi memang lebih padat dari kereta bisnis dan eksekutif, tapi buat saya sih tidak masalah. Apalagi kebetulan kami dapat tetangga tempat duduk yang seru, seorang laki-laki muda dan seorang ibu-ibu dengan anak balita perempuannya. Dengar cerita mereka tentang masa-masa kelam kereta ekonomi jaman dulu, saya jadi makin takjub dengan transformasi PT. KAI. Bukan hanya keretanya, tapi stasiun-stasiunnya terlihat jauh sangat berbeda. Kalau naik kereta di Jawa sekarang sudah tidak kalah dengan waktu saya naik kereta dariMelbourne ke Ballarat di Australia

Tidak ada kereta langsung dari Jakarta ke Banyuwangi, kami harus turun dan ganti kereta dari Jogja atau Surabaya. Karena waktunya lebih pas, maka kami transit di Surabaya dan lanjut naik kereta lain ke Banyuwangi. Kereta dari Jakarta tiba tepat waktu di Stasiun Gubeng Surabaya, sekitar pukul 1.30 dini hari. Kereta dari Surabaya ke banyuwangi berangkat jam 4 dan tiba di Stasiun Banyuwangi Baru sekitar jam 11. 

Keluar dari stasiun kami di sambut oleh orang-orang yang menawarkan transport ke kota. Ternyata kotanya jauh dari stasiun banyuwangi baru, tapi kalau mau ke Pelabuhan Ketapang tinggal menyebrang jalan. Kami melewati semua orang yang menawarkan transport tapi ada satu bapak-bapak di angkot yang saya tanya, apakah angkotnya lewat ke hotel watu dodol atau tidak. Disitu tempat kami menginap. Ternyata tidak lewat, tapi si bapak menawarkan untuk mengantar. 

Awalnya kami mengelak dengan bilang mau cari makan dulu karena lapar. Kami jalan sampai ke jalan raya dan makan di depot dekat stasiun. Ketika kami keluar mau menunggu angkot, tiba-tiba si bapak angkot kuning muncul. Ya akhirnya kami naik angkot itu juga, dengan membayar 20 ribu per orang hingga tiba ke hotel. Kelak angkot kuning itu pula yang mengantar kami hingga ke Taman Nasional Baluran.

TimBaluran dan angkotnya (photo credit: susi)


Sabtu, 19 Agustus 2017

Braga 2017, Bonus Lari Pagi

Postingan pertama blog ini tentang Braga, tepatnya tentang Braga Permai, sebuah restoran yang sudah ada sejak jaman Belanda. Posting pertama saya itu ditulis tahun 2008, kira-kira 9 tahun yang lalu. Keadaan Jalan Braga saat itu dan sekarang jauh beda banget. Dulu banyak bangunan-bangunan tua disepanjang Braga yang tidak terurus, sekarang sudah di make-over jadi cantik dan rapi. 

Tahun 2009 saya sebenarnya balik lagi ke Braga, waktu itu ngajak kawan saya, Carly dari Australia jalan-jalan naik becak dari Naripan ke Braga. Waktu itu juga bangunan-bangunan tua sepanjang jalan itu masih kusam tak terurus. Keadaan mulai tampak beda sejak saya kembali ke Braga beberapa tahun kemudian, kayaknya  sekitar 2014 atau 2015. Waktu itu saya janjian ketemu sama Mami bule Norwegia untuk pertama kali hingga setelahnya saya sempat menemani beliau setiap ada urusan pekerjaan di Indonesia. Beliau menginap di Fave Hotel Braga waktu itu, terus kami menyebrang makan di Braga Permai. Nah saat itu mulai tampak rapi.

Minggu lalu saya ada urusan pekerjaan ke Bandung, pergi sendirian. Karena perjalanan Jakarta-Bandung akhir-akhir ini sangat melelahkan akibat kemacetan menggila di Cikampek maka saya niat mau menginap semalam. Lihat di website booking hotel, ternyata Hotel Fave Braga ratenya lumayan, reasonable. Langsung saja saya booking. 

Ini pengalaman pertama saya menginap di Jl. Braga Bandung layaknya turis. Selesai rangkaian meeting di Bandung saya sempat mampir ke salah satu kenalan saya yang buka pop-up cafe di kawasan buah batu bandung, Brewang Cafe. Baru agak malam saya ke Braga. 

Fave Hotel adalah salah satu budget hotel yang fasilitasnya lengkap, kalau buat saya yang penting ada pemanas air di kamar untuk bikin kopi. Sebenarnya saya mempertimbangkan dua hotel budget di kawasan Braga sebelum booking Fave, salah satunya juga chain hotel terkenal. Tapi akhirnya saya pilih Fave karena dengan rate yang tidak jauh beda, yang satu lagi kamarnya lebih menyedihkan, kamar mandinya tidak pakai ruangan, hanya kapsul dan tidak ada televisi.

Saya sempat cek daftar menu makanan yang ada di kamar, harganya gak mahal loh, wajar banget. Tapi karena letaknya di dalam mall Braga Citywalk, keluar sedikit juga banyak makanan. Ada KiosK, Starbuck, Wendy's. Di sepanjang jalan braga juga banyak tempat makan dan nongkrong yang baru, Warung Nasi Ce'Mar juga buka cabang di Jl. Braga.

Setelah check-in saya langsung ganti kostum celana pendek dan jalan menyusuri Braga hingga ke Jl. Asia-Afrika. Sempat pangling lihat Alun-Alun yang juga sudah di make-over. Atas nama kenangan masa muda saya memutuskan makan malam di warung Ce'mar lokasi lama. 

Braga

Alun-alun Bandung

Warung C' Mar
Paginya saya janjian sama senior saya waktu kuliah, Mba Dini, lari pagi keliling Braga. Bukan hanya saya yang punya pikiran begitu, banyak juga orang yang olahraga disekitar kawasan Braga dan Asia Afrika, padahal waktu hari kerja, bukan weekend. Ternyata pagi-pagi disitu masih dingin loh. 

Saya bisa lihat fenomena sadar hidup sehat makin marak akhir-akhir ini. Beberapa tahun lalu kalau saya ingat-ingat jarang banget lihat orang pakai baju olah raga berkeliaran di jalanan. Waktu awal saya mulai lari lagi kayaknya orang yang lari-lari di komplek cuma saya doang, ada sih opa-opa yang suka papasan lagi jalan pagi. Tapi sekarang komplek rute lari saya kalau sabtu dan minggu pagi ramai orang olahraga. Begitu pula di taman belakang kantor, dulu banyaknya opa-opa dan oma-oma aja, sekarang ramai banget sampai larinya harus zig zag. Senang saya lihatnya, jadi makin semangat berolahraga.

Rute lari

Bandung bukan cuma masalah geografis

Sabtu, 12 Agustus 2017

Trip ke Gunung Sumbing edisi Lama di Jalan

Kemacetan di ibukota Jakarta memang makin lama makin parah karena banyak pembangunan tumpang tindih. Tapi ternyata fenomena kemacetan sudah merambah keluar kota Jakarta, khususnya saat-saat liburan long weekend. Hal ini mungkin juga karena di era internet, kesadaran orang Indonesia berwisata makin meningkat, ditambah dengan makin banyaknya orang-orang yang melihat peluang ini dan kemudian bikin macam-macam bisnis yang berhubungan dengan wisata.

Kalau ke Bandung sekarang-sekarang ini malah gak perlu saat long weekend atau weekend saja, hari biasa pun macet setengah mati karena pembangunan di jalan toll Cikampek. Normalnya kalau dari rumah saya langsung ke Bandung hanya memakan waktu 2,5 jam, sekarang bisa 4 jam lebih. Dulu saya kalau ke Bandung bisa pulang-pergi sehari, sekarang sih kalau nyetir sendiri rasanya tidak sanggup. Lelah.

Beberapa bulan kemarin, saya diajak ke gunung sumbing. Kebetulan waktunya bertepatan dengan long weekend, tanggal merah di hari senin. Jadi kami sewa mobil, berangkat jumat malam. Estimasi waktunya kami sudah akan tiba di area wonosobo siang hari. Sore hari mulai naik dari Bowongso dan bermalam di pos1, paginya kami akan meneruskan perjalanan hingga puncak. 

Kenyataannya kami terjebak kemacetan selama 15 jam, jadi baru tiba di Basecamp Bowongso sore hari, disaat kondisi hujan deras. Akhirnya diputuskan tidak jadi berangkat karena sudah terlalu gelap. Bowongso terkenal dengan kopinya, salah satu tujuannya memang sekalian berkunjung ke tempat roasting kopi bowongso. Jadi malam itu kami hanya ngopi-ngopi kemudian kembali ke basecamp dan tidur. Keesokan paginya baru mulai mendaki.

Menimbang kondisi jalanan yang sudah pasti akan macet juga ketika pulang ke jakarta, jadi memang diputuskan tidak akan sampai puncak. Perjalanan hanya berhenti sampai Pos 1, kemudian kami mendirikan tenda. Kawan-kawan saya mulai masak, sementara saya hanya duduk-duduk sambil nonton kawan saya yang berusaha masak nasi tapi gak mateng-mateng. Setelah mereka masak selama 3 jam lebih akhirnya makan juga, menu nasi gak mateng dan jengkol. Saya yang gak makan jengkol cukup puas dengan makan nasi gak mateng dan telor dadar. 

Menjelang malam turun hujan, jadi kami hanya tidur-tiduran di dalam tenda. Ketika hujan berhenti cuaca dingin mulai menyerang, berusaha bikin api unggun supaya hangat tapi usaha yang sia-sia karena ranting-ranting yang mau dipakai untuk bikin api lembab semua. Akhirnya kami pasrah kedinginan. Malam itu entah kenapa dingin banget, saya sudah tidur pakai 3 lapis baju tapi masih tetap menggigil. Rasanya lama banget nunggu pagi.

Ke gunung cuma numpang masak jengkol

 Macetnya lebih lama dari trekingnya
Ketika akhirnya pagi datang dan matahari mulai muncul saya langsung jemuran. Enak banget kena hangatnya sinar matahari, maklum saya kan gadis tropis yang gak kuat banget sama yang namanya dingin. Gak sampai nunggu siang kami sudah jalan turun kembali ke basecamp karena mengejar waktu supaya bisa tiba di Jakarta senin malam. Selasa kan sudah pada mau ke kantor semua. Salah satu dari kami malah harus mengejar pesawat jam 7 pagi, jadi harus sudah tiba di rumahnya jam 4.

Disini pertama kali saya pakai Garmin Forerunner saya buat tracking di gunung. Pas lihat kilometernya lumayan nyesek sih, effortnya sama kayak lari 20km tapi ternyata cuma jalan 2,5 km, waktunya juga. Mungkin karena elevasinya. Setelah di sync di aplikasi Garmin Connect bisa kelihatan map-nya, malahan bisa kelihatan puncak gunung yang harusnya kami tuju kalau tidak ada acara kelamaan kena macet di jalan. Saya jadi makin pengen cobain trail running.

Berangkat dari Bowongso sekitar jam 1 dan benar saja, macet parah sama seperti ketika berangkat. Untungnya kali ini saya gak kebagian nyetir, jadi walaupun duduk paling belakang dijepit sama carrier2 segede gaban, saya tidur aja sepanjang jalan. Jadi itu liburan cuma mindahin waktu tidur saya dari kasur ke mobil. Pas banget jam 4 kawan saya itu dihantar di muka rumahnya. Sementara saya baru sampai di rumah jam setengah 6, langsung mandi dan berangkat ke Cileungsi. 

Nah, sampai sekarang saya masih trauma kalau ada yang ngajak jalan ke luar kota pas long weekend. 



Selasa, 01 Agustus 2017

Birthday Month Come too Fast

Ya ampun. Gak berasa udah Agustus lagi. Tambah umur lagi. Rasanya kayak baru kemarin deh ikut Bali Marathon dalam rangka Birthday Run dan pakai dapat surprise segala dari mba-mba Restoran Pizza di sanur. 

Tahun ini saya genap 35, eh itu angka ganjil ya bukan genap. Serius gak berasa. Dua minggu lalu sudah cat rambut untuk nutup uban. Setiap hari harus struggle dengan kantung mata. Tapi sih saya bangga ya berhasil mencapai umur segitu melalui perjalanan hidup yang berliku-liku, menanjak, turunan, tapi gak jarang dihibur dengan pemandangan yang luar biasa indah dan banyak juga kebodohan-kebodohan yang kalau diingat malah jadi pengalaman yang lucu. 

Bulan ini saya sudah merancang suatu birthday trip, tapi nanti aja deh dikasih tau nya. Setelah 6 bulan dari bulan Januari saya sempat banyak melenceng dari kehidupan normal tapi sejak bulan juli saya merasa seperti pulang kembali ke kehidupan yang lama. 

Ketemu lagi sama teman-teman yang ngertiin saya, kembali ke daerah tebet yang sudah seperti rumah kedua saya selama hampir 7 tahun, mulai lari rutin, mulai punya rencana kembali berkebun walaupun yang ini masih sulit terlaksana. Tapi downsidenya, sekarang saya harus kembali menghadapi hal yang membuat saya pergi dulu. Tapi mungkin sekarang saya lebih kuat walaupun tidak tahu kali ini akan bertahan berapa lama.

Sekarang saya lagi senang main instagram lagi. Setelah bosan dan gak pernah buka-buka twitter dan facebook, sempat juga agak bosan sama instagram. Jadi sebelumnya lebih banyak main Path, tapi sekarang udah bosen sama Path dan kembali ke instagram sejak ada instastory. Narsis-narsis sendiri pantang menyerah walaupun gak ada yang view..hehee.. tapi kalau lagi iseng follow instagram saya donk @milasaid trus view instastory saya, kadang ada tentang berkebun, ada tempat nongkrong ciamik, makanan-makanan enak, kalau lagi sial ya palingan liat saya lagi lipsinc atau cover lagu pakai ukulele.


Jumat, 07 Juli 2017

Beach Squad Tanpa Arah Terdampar di Pantai Kerang

Mendekati akhir libur lebaran kemarin saya diajak ke Pantai oleh dua kawan yang saya kenal beberapa bulan lalu di perjalanan ke Gunung Sumbing. Oia saya belum ceritain soal pergi ke gunung sumbing, nanti yaaaaa setelah postingan ini. 

Misi dari perjalanan ini pokoknya menyusuri pantai mulai dari Anyer ke arah Tanjung Lesung sampai sejauh-jauhnya, dibatasi waktunya oleh matahari terbenam. Dari perbatasan bekasi kami mulai perjalanan sekitar jam setengah 11 siang. Waktu itu jalanan relatif lengang. Bahkan yang biasanya saat liburan ramai pengunjung di kawasan anyer-carita, ini cenderung sepi. Mungkin karena ada toll baru Cipali jadi jangkauan libur orang-orang yang berkendaraan lebih tersebar sampai ke area yang lebih jauh. Mungkiinnn...

Dari Jakarta sampai Anyer kami tempuh dengan jarak kurang dari 3 jam, memang sudah lewat sedikit dari jam makan siang, perut kami sudah kukurunutumu. Tidak jauh dari Mercusuar Anyer, kami berhenti di salah satu restoran seafood untuk makan siang. Menu yang kami pesan untuk bertiga ternyata banyak banget, tapi hampir ludes juga, cuma sisa dikit sop gurame yang akhirnya dibungkus dan ikut di sisa petualangan mengejar sunset. 

Kawasan Pantai Carita tampak lebih ramai turis lokalnya daripada Anyer, khususnya di pantai umum yang ada water sport. Kami terus melewati Pantai Carita hingga tiba di kawasan Pandeglang. Garis pantai sudah tidak tampak di sisi jalan, diganti oleh persawahan. Warta, yang nyetir bertanya ke para penumpang, "lanjut atau puter balik?". Para penumpang, saya dan entin menjawab kompak,"lanjuutt."

Ketika jam menunjukan pukul 4 sore kami sudah melewati daerah Labuan, menurut papan penunjuk tanjung lesung tinggal 33 km lagi. Saat itu kami lumayan optimis bisa sampai di tanjung lesung sebelum sunset. Tapi ada yang salah dengan pengukuran jarak karena di sepanjang jalan berubah-rubah. Beberapa saat kami jalan ketemu papan penunjuk dengan tulisan Tanjung Lesung tinggal 10km lagi. Tapi beberapa kilometer, ada papan penunjuk lagi yang tulisannya Tanjung Lesung 13 km. Lah kog makin jauh. Di depannya lagi malah tambah jauh: Tanjung Lesung 19 km. 

Akhirnya jam setengah 5, menurut GPS, kami masih sekitar 15km lagi dari Tanjung Lesung. Kami pun menyerah dan masuk ke pantai umum terdekat, Pantai Kerang. Ya memang gak sebagus tanjung lesung sih, pasirnya gak putih dan sesuai namanya banyak kerang-kerang kecil. Yang penting mission accomplished: Sunset di Pantai.  

Beach Squad

Sunset di Pantai Kerang, Pandeglang


Senin, 26 Juni 2017

Idul Fitri 1438 H

Lebaran kali ini buat saya unik. Bukan karena lebaran kali ini saya mudik lagi. Secara rutinitas lebaran ini hampir sama seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya kalau kami sekeluarga tidak mudik. Tapi secara personal, buat saya berbeda.

Lebaran kali ini jatuh di pertengahan tahun 2017, yang sekaligus merupakan titik balik dalam kehidupan saya lagi setelah 6 bulan menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupan saya 6 tahun belakangan. Saya merasakan lagi kerja kantoran. 

Akhir tahun 2016 saya sempat merasa hilang arah seperti GPS tanpa sinyal. Tiba-tiba ada telpon yang menawarkan saya kerja kantoran, yang sejak tahun 2010 sudah tidak saya lakukan. Saya pikir perubahan dalam hidup bisa membantu saya menemukan arah dan yang saya harap bisa bikin mood tidak suram lagi. Saat itu saya gak tahu kenapa saya merasa sedih

Atau mungkin sebenarnya saya tahu kenapa, tapi masih belum siap untuk mengakuinya. Jadi masih dalam tahap self-denial. Sampai beberapa waktu lalu saya sadar bahwa ini adalah sebuah pola, perasaan sedih saya akan berakhir saat saya menemukan hal baru yang bisa mengalihkan pikiran, sampai kamu datang lagi dalam kehidupan untuk kemudian menghilang lagi dan saya sedih. Dan hal itu adalah suatu pola yang berulang-ulang, seperti siklus yang muter-muter tidak ada akhir.

Attachment is the root of suffering, salah satu quotes yang sering saya lihat. Saya bukan attached sama hal-nya, tapi saya attached sama perasaan saya sendiri terhadap hal-nya. Itu yang bikin saya suffering walaupun saya udah coba menyadarkan diri sendiri untuk let go. Mudah untuk let go hal yang lagi gak ada di sekitar kita, tapi ketika hal tersebut datang lagi dan kita sudah tersentuh dan sempat menggenggamnya, sulit buat ngelepasin. Walaupun yang kita genggam itu hal yang abstrak, gak berbentuk, misalnya harapan atau mimpi. 

Mungkin saya hanya perlu menemukan hal baru untuk pengalihan perhatian. 

Masa kontrak percobaan saya di kantor baru itu adalah 6 bulan, dimulai bulan Januari 2017, maka berakhir di Juni 2017. Saya juga tidak hitung-hitung bulan waktu itu, ternyata momennya pas mau lebaran. Jadi saya perpisahan sama rekan-rekan kantor tersebut sambil mengucapkan minal aidin wal faidzin. Menurut saya masa percobaan itu bukan hanya untuk perusahaan tapi untuk karyawannya, jadi ketika saya coba dan ternyata hal itu tidak bikin saya bahagia, saya memutuskan untuk mundur. 

Selama 6 bulan saya tidak mampu mengatur waktu untuk hal yang saya sukai, seperti berkebun dan lari. Makan saya juga berantakan, mobil saya berantakan dan hidup saya tambah berantakan. Setiap mau ke kantor itu saya harus menempuh jarak 40km sekali jalan, bolak-balik 80km. Mungkin harusnya 6 bulan itu adalah masa penyesuaian, dan kalau saya sabar lanjutkan 2 atau 3 bulan lagi mungkin saya sudah bisa menemukan ritme yang pas. Tapi saya putuskan untuk berhenti saja.

Setelah cuti lebaran usai, banyak sekali hal yang harus saya beresin entah mulai darimana dulu. Mungkin mulai dari beresin kebun....

ohiya...

Minal Aidin Wal Faidzin,
Selamat Idul Fitri.
Mohon Maaf Lahir Batin.


Minggu, 18 Juni 2017

Ayam Goreng yang berubah menjadi Opor

"This is not a love story, this is a story about love." - quote taken from movie 500 days of summer.

Dulu saya pernah cerita tentang sejarah hewan-hewan peliharaan yang sempat singgah dan mewarnai kehidupan saya di postingan Peliharaan-Peliharaan Tante . Yang belum baca bisa di klik link nya. 

Sekarang saya mau cerita tentang kisah memilukan salah satu hewan peliharaan yang saya sayang banget. Dia adalah seekor anak ayam yatim piatu sebatang kara yang ibunya mati tidak lama setelah dia baru menetas, walaupun gak bayi-bayi amat tapi masih dalam usia belum mampu hidup mandiri sepenuhnya. Bapaknya entah yang mana. Sementara induk ayam lain tidak ada yang mau mengadopsinya, bahkan gerombolan anak-anak ayam selalu kabur berpencar kalau dia menghampiri. 

Biasanya kan anak-anak ayam tidurnya di bawah sayap induknya, tapi karena tidak ada induknya dia terlunta-lunta hingga terdampar di teras. Itu pun dia sulit tidur karena teras sangat terang dan dia gak menemukan posisi yang enak dan hangat untuk tidur sendiri. Karena itu dia hanya mampu berciap-ciap di malam hari. Suara ciapannya sangat memilukan bak sembilu menyayat-nyayat lubuk hati yang paling dalam, kedengaran jelas ke dalam kamar saya. Karena gak tega saya menghampiri anak ayam tersebut, ketika saya ambil dia langsung melompat ke pundak saya dan tertidur. Sempat khawatir di e'ek-in sih, ayam kan sebelum bobo biasanya e'ek. 

Saat itu juga, di saat dia tertidur lelap di pundak itu, saya langsung jatuh sayang dan memberinya nama Ayam Goreng. 

Malam-malam berikutnya dia tidur sendirian dalam kandang kecil yang dibuat Papa Said, diletakan di teras tapi di pojokan yang gelap. Tapi Ayam Goreng kecil masih saja suka melompat ke pundak saya dan bertengger disitu, seolah-olah dia merasa seperti bayi naga di film Games of Throne, dan saya otomatis merasa seperti Daenerys Targeryien. Alih-alih the mother of dragons, saya jadi the mother of ayam. 

The mother of dragon
The mother of ayam
Ayam Goreng tumbuh menjadi seekor ayam jantan remaja yang tampan, dengan warna hitam dihiasi semburat putih yang berkilauan bila ditimpa sinar matahari. Setiap pagi ketika saya keluar rumah Ayam Goreng akan selalu lari menghampiri minta di elus-elus, persis kayak punya anjing. Begitu pula ketika saya pulang kantor, turun dari mobil dan buka pagar saya akan memanggilnya: 

Ayam Goreeeeeeeeeng.......

Apa pun kesibukannya lagi ngais-ngais dimanapun pasti akan segera dihentikan dan berhambur lari sekencang-kencangnya dengan sepasang cekernya untuk menghampiri saya. 

Kalau saya lagi mondar-mandir dihalaman, atau mau ngurusin kebun, dia akan selalu ngikutin di belakang. Kalau saya tiba-tiba berhenti, gak jarang kepalanya kejeduk betis saya. Seperti biasa Papa Said selalu ganti-ganti nama hewan peliharaan yang saya kasih kan, Ayam Goreng pun diganti jadi Ayam Bakar. KZL. 

Hingga suatu hari yang kelam kelabu, seharian perasaan saya udah gak enak. Ketika sampai di rumah sorenya, saya buka pagar kemudian panggil-panggil:

Ayam Goreeeeng.... Ayam Goreeeng...

Tapi Ayam Goreng tidak tampak dimanapun. Saya pun cari-cari di seluruh penjuru halaman, di pojok-pojok kebun, di semua kandang ayam Papa Said, di atas pohon. Tapi Ayam Goreng was nowhere to be found. Perasaan saya makin gak enak. 

Ketika masuk ke dapur, saya lihat di meja makan ada opor ayam. Saat itu rasanya kayak ada yang meremas hati saya. Insting saya langsung mengatakan kalau yang di atas meja makan itu adalah Ayam Goreng yang telah dimasak jadi Opor. Saya gak berani tanya, takut perasaan saya makin hancur mendengar kenyataan yang diutarakan secara eksplisit. Dengan langkah lunglai saya langsung masuk kamar dan tidak pernah memandang opor itu untuk kedua kalinya.


Minggu, 04 Juni 2017

Cihampelas Skywalk

Bandung...Bandung...Bandung

Selalu saja ada terobosan-terobosan baru yang mengundang orang untuk berkunjung ke Parisnya Java tersebut. Saya ingat waktu saya kecil Bandung terkenal dengan pusat wisata belanja jeans di Cihampelas dan wisata belanja sepatu kulit dan tas kulit di Cibaduyut. Kemudian jaman saya kuliah disana trend beralih menjadi pusat wisata belanja Factory Outlet dan wisata kuliner. 

Sekarang walaupun era Factory Outlet sudah menurun drastis tapi saban weekend dan hari libur lainnya Bandung senantiasa ramai oleh wisatawan. Mungkin sekarang trendnya lagi wisata alam-alaman di sekitar Kota Bandung seperti ke Lembang, Ciwidey dan Dago. 

Sejak Pak RK jadi walikota, kota ini jadi makin unik, didandanin macem-macem. Salah satu yang lagi jadi tren adalah Cihampelas Skywalk atau bahasa Indonesianya Teras Cihampelas. Bangunan ini semacam jembatan selebar jalan yang membentang sejauh 450 meter diatas Jalan Cihampelas. Diatasnya ada taman-taman kecil, tempat duduk, kios-kios yang menjual makanan dan cinderamata. 

Beberapa waktu lalu saya ke Bandung untuk urusan pekerjaan saya sempatin untuk singgah. Waktu itu saya belum tahu pasti apa yang ada diatasnya, paling hanya lihat foto-foto instagram orang. Saya juga belum tahu lokasinya. Jadi waktu itu saya ke Bandungnya naik travel, gak bawa mobil sendiri. Sehabis meeting sama klien di daerah Pasteur, saya naik angkot sampai Cihampelas. Tapi angkot yang saya tumpangin tidak ke arah Cihampelas, saya harus ganti angkot di persimpangan gadog. Karena saya belum tahu letaknya, jadi saya putuskan jalan kaki saja sepanjang Cihampelas, ternyata lumayan jauh. Lewatin Rumah Sakit Advent kalau dari arah gadog. 

Struktur Cihampelas Walk tersebut benar-benar menaungi jalan raya, mobil-mobil lewat dibawahnya. Saya kesana di hari kerja siang-siang, jadi gak lihat macet. Saya jalan-jalan aja diatasnya. Lucu juga. Warna warni dan banyak tanaman, mudah-mudahan dirawat dengan baik supaya gak cepat kusam. Saya sempat makan siang batagor diatas situ. Yang paling penting, saya sudah tidak penasaran lagi. 




Sabtu, 13 Mei 2017

Jelajah Subang, Ciater dan Takubanparahu

Sejak ada toll baru Cipali ke Subang jadi lebih cepat dan kayaknya lebih dekat juga karena potong jalan. Dulu sebelum ada toll Cipali kalau mau ke Subang lewat Purwakarta, lewatin jalan meliuk-liuk dan hutan-hutan di daerah kalijati. Jalannya tidak begitu besar dan kalau jam masuk dan bubaran pabrik di daerah industrinya yang banyak pabrik tekstil macet banget karena jalanan diserbu ribuan pekerja-pekerja lalu lalang diantara truk-truk kontainer segede gaban. Kalau mau tanya gaban itu segede apa, ya segede truk kontainer.

Nah sekarang kalau dari toll Cipali langsung exit Subang, tidak jauh dari pusat kotanya. Tidak jauh dari exit toll menuju kota subang ada rumah makan nasi liwet yang asik, Saung Liwet Kang Nana. Tempatnya di pinggir sawah dan nasi liwet disajikannya masih di castrol, enak banget. 

Tapi tujuan saya kemarin-kemarin itu bukan ke Kota Subang, melainkan masih lanjut terus dari kotanya ke arah Bandung, tepatnya ke daerah Ciater. Yak betuuull.. Ciater pusat pemandian air panas. Dulu waktu masih kuliah di Bandung saya beberapa kali ke Ciater, lewat Lembang. Sudah jelas kondisinya sudah tidak seramai sekarang. Kebetulan tempat yang saya kunjungi untuk urusan pekerjaan berada di seberang Resort Sari Alam. 

Sari Alam Hot Spring and Resort Hotel adalah suatu kompleks yang didalamnya banyak terdapat titik-titik pemandian air panas alami, yang panasnya berasal dari panas gunung berapi. Di dalamnya juga ada Curug Jodo yang menurut legenda tempat Sangkuriang pertama kali melihat Dayang Sumbi dan naksir, tanpa tahu kalau sebenarnya itu adalah ibu kandungnya sendiri. Saya gak sempat masuk ke dalam kawasan curugnya, tapi karena manager resort adalah kenalan kawan saya, kami sempat dibawa keliling komplek resort pakai odong-odong. 

Tempatnya asik sih buat istirahat, selain untuk berendam air panas, fasilitas-fasilitas lain juga komplit. Ada tempat outbond, tempat main golf mini, tempat main ATV offroad, bahkan ada tempat glamping - glamour camping. Waktu itu kami diajak keliling sore hari, siangnya habis hujan deras, kabut mulai turun, jadi dinginnya pakai banget, apalagi di odong-odong terbuka yang anginnya sembriwing.

Dari kompleks utama resort ke daerah Glamping lumayan jauh, lewatin jalan offroad dengan view barisan gunung-gunung yang spektakuler. Namanya juga Glamour ya... ini tuh tenda nya di dalam gazeboo, jadi ada lantainya dan ada atapnya supaya tidak kedinginan dan kehujanan. Di dalam tendanya ada bed, bantal, selimut jadi tidur tetap nyaman. Di luar tenda ada kulkas dan kompor untuk masak. Aahh.. memang nikmat banget hidup glamour walaupun camping yah. 

view dari komplek resort ke kawasan glamping
Beberapa hari kemudian saya kembali lagi ke ciater, kali ini untuk menghadiri undangan meeting. Acara meeting selesai lebih cepat, hari belum sore-sore amat, masa langsung balik ke Jakarta. Saya pun berhasil menghasut supir kantor untuk mengantarkan saya jalan-jalan ke Takuban Parahu. 

Kayaknya saya ke Takuban Parahu udah lama banget, waktu masih SD, jadi lupa bagaimana bentuknya disana. Tapi saya ingat ada foto bareng keluarga di depan kawah, tentunya waktu jaman kamera masih pakai roll film. Jadi foto-fotonya dikit, soalnya pas jaman itu kalau foto mikir kuota filmnya dan mikir cetak fotonya musti bayar lagi kalau foto kebanyakan, jadi pas jaman itu kalau mau foto musti selektif dan untung-untungan. Udah cuma foto dikit, pas dilihat hasilnya ternyata blur, nyesek.

Sampai sekarang saya masih gak ngerti soal bentuk perahu terbaliknya. Kalau kebetulan lewat daerah yang bisa kelihatan gunung Takuban Perahu suka dikasih tunjuk, itu gunung yang bentuknya seperti perahu terbalik. Mungkin karena imajinasi saya kurang atau mungkin juga karena tidak ingat bentuk perahu terbalik seperti apa jadi sampai sekarang masih belum bisa grasp the idea. Eniwei, legendanya adalah itu memang perahu yang dibuat oleh Sangkuriang atas permintaan Dayang Sumbi. Ingat kan tadi Sangkuriang falling in love at first sight begitu lihat Dayang Sumbi di Curug Jodo itu? Nah ternyata Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya sendiri. 

Kisah keluarga ini memang cukup rumit dan menjadi bukti kalau masyarakat indonesia sudah gandrung sama tipe-tipe cerita sinetron dari sejak jaman Televisi belum ditemukan dan Punjabi belum menjadi empire yang menguasai dunia persinetronan nasional. Sangkuriang diusir sama Dayang Sumbi waktu kecil karena membunuh anjing peliharaan keluarga yang ternyata adalah *jeng jeng jeng* adalah ayah kandungnya. Dia memberikan hati anjing yang bernama si Tumang itu ke Dayang Sumbi dan bilang kalau itu hati menjangan, kemudian dimasak dan dimakan sama Dayang Sumbi. Begitu tau itu adalah hati si Tumang yang adalah juga suaminya, bukan sekedar anjing peliharaan keluarga, Dayang Sumbi marah, memukul Sangkuriang pakai centong di kepala dan mengusirnya.

Tapi ketika Sangkuriang pergi, Dayang Sumbi menyesal dan berdoa agar suatu saat nanti di pertemukan lagi sama anaknya. Untuk menjaga dirinya agar berumur panjang dan gak gampang sakit, Dayang Sumbi berubah jadi vegan, cuma makan sayuran dan daun-daunan. Efeknya adalah beberapa tahun kemudian Dayang Sumbi masih tampak muda dan langsing seperti gadis belia. Mungkin selain vegan dia juga ngelakuin yoga dan pilates. 

Ketika Sangkuriang lihat Dayang Sumbi di curug jodo, dia gak nyangka kalau itu ibunya, soalnya dia mikir pasti ibunya kan sudah tua. Yah jaman itu memang belum jamannya hashtag hot momma, dan jelas-jelas Sangkuriang belum tau ada yang namanya Sophia Latjuba. Tapi Dayang Sumbi sadar itu anaknya karena lihat bekas pukulan bentuk centong dikepalanya. Jadi untuk menolak Sangkuriang secara halus, Dayang Sumbi minta dibuat bendungan yang membendung sungai citarum dan perahu dalam waktu semalam. 

Dayang Sumbi pikir itu hil yang mustahal, tapi Sangkuriang ternyata adalah kontraktor handal. Sebelum pagi proyeknya sudah hampir selesai. Dayang Sumbi panik kemudian dapat ide untuk bikin sinar fajar palsu dari kain putih. Melihat itu jin-jin anak buah Sangkuriang pikir kalau sudah mau pagi dan mereka bubar. Sangkuriang marah kemudian menendang perahu yang hampir jadi tersebut dan berubah jadi gunung Takuban Parahu.

Jadi inti dari kisah ini adalah, kalau mau awet muda cobalah diet vegan, hanya makan sayur dan lalapan seperti Dayang Sumbi.

Kawah Takuban Parahu




Jumat, 28 April 2017

Jalan-jalan di Ibukota sama Mommy Bule

Mommy bule keturunan Viking dari Norwegia ini orangnya luar biasa, saya nge-fans. Di tahun yang sama dengan tahun kelahiran saya, beliau sudah bikin perusahaan sendiri untuk menegerjakan pekerjaan konstruksi terowongan menggunakan metode yang dikembangkannya pada saat penelitian Doktor. Usianya sepantaran Papa Said, tapi saya aja kalah lincah sama beliau. Masih semangat manjat-manjat bukit sendirian di lokasi proyek sementara saya ngopi di warung. 

Kisah awal saya bisa kenal dengan mommy bule ini bermula 4 tahun lalu. Berawal dari perkenalan saya dengan Felicity, blogger yang menikah dengan orang Norwegia dan tinggal disana. Saya sudah beberapa kali kopdar sama dia ketika pulang ke Indonesia, hingga suatu ketika Feli datang bersama suaminya, T, dan dikenalkan ke saya. Ngobrol-ngobrol ternyata bidang pekerjaan kita berkaitan, sama-sama di bidang konstruksi. T sempat mampir ke kantor saya juga waktu itu.

Saya lupa kapan tepatnya setelah pertemuan dengan Feli dan T, dia menghubungi saya melalui e-mail. Katanya ada rekan ayahnya, T Senior, yang lagi sendirian di Indonesia. Kalau ada waktu dia minta saya menengok keadaan rekan T Senior, saya diberikan kontaknya. Ternyata yang bersangkutan lagi di Bandung untuk dalam rangka mengejar suatu pekerjaan pembangunan terowongan. Kebetulan waktu itu lagi ada waktu luang jadi saya menghampiri ke Bandung dan sejak itu hubungan kami berlanjut hingga sekarang saya sudah anggap beliau mommy saya sendiri, mommy bule. Saya udah kayak anak angkatnya. 

Malahan tahun lalu Mommy bule dua kali berkunjung ke Indonesia membawa anak laki-lakinya. Waktu baru datang anaknya kaku dan dingin banget. Senyum aja pelit. Setelah 3 hari kena sinar matahari tropis yang hangat, sate, nasi padang dan gurame bakar, jadi cengengesan melulu. 

Awal tahun lalu Mommy bule kembali ke Jakarta sendirian. Kami sempat ke Bandung untuk melihat lokasi proyek, kemudian balik ke Jakarta. Sebelum pulang ke Norwegia saya sempat mengajak beliau jalan-jalan sore di Jakarta dengan fasilitas umum. Kita ke Kota Tua. Perginya naik Bus Transjakarta dari hotel Bidakara. Pulangnya naik Kereta Commuter Line dari Stasiun Kota ke Stasiun Cawang, Makan bakso di TIS, kemudian naik Bajaj kembali ke hotel.

Di Kota Tua

Naik Commline
Beberapa tahun belakangan ini saya merasakan kemajuan yang berarti dari sistem transportasi umum di Jakarta. Walaupun masih banyak kekurangan dan komplain tapi sudah mulai kelihatan terkoneksi. Lebih baik terlambat daripada tidak kan? 

Di Stasiun Kota waktu mau beli tiket commuter line saya sempat norak lihat mesin beli kartu seperti di Singapura. Mommy bule juga tampak kagum. Beliau tampak senang dan memuji adanya tempat khusus perempuan di Bus Transjakarta dan gerbong khusus perempuan di Commline. Kebetulan aja waktu itu perginya pas hari libur, jadi berasa nyaman. Kalau pergi di hari kerja di jam rush hour mana bisa selfie sambil nyengir di dalem kereta. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...