Minggu, 29 Mei 2016

Madame Tussaud Bangkok

Sama Opa Gandhi
Awalnya saya tahu tentang Museum Patung Lilin Madame Tussaud ini saya sempat bingung. Kenapa bisa ada museum yang isinya patung lilin mirip orang-orang terkenal yang sampai bisa punya cabang di seluruh dunia? 

Kadang saya lihat kawan-kawan saya pasang foto profil lagi foto bareng sama Ratu ELizabeth, salaman sama Barrack Obama, gandengan sama David Beckham, tapi tentu saja bukan orang aslinya melainkan patung lilinnya di Madame Tussaud. Saya jadi mikir, mungkin museum ini tempat menyalurkan hasrat terpendam orang-orang yang mau foto bareng sama idolanya tapi dalam kehidupan nyata kemungkinan ketemunya terlalu kecil. 

Waktu ke Sydney sebenarnya di itinerary saya ada rencana ke Madame Tussaud. Tapi sampai di sana malah batal dan budgetnya dialihkan untuk pergi ke Blue Mountain. Saya kembali memasukan rencana ke Madame Tussaud di itinerary ke Bangkok sama keluarga kemarin karena cocok buat Mama saya yang gak tahan kepanasan dan butuh tempat ber-AC. Selain itu di Madame Tussaud Bangkok ada patung Justin Bieber jadi adik bungsu saya yang ngefans sama JB bakal seneng juga. 

Patung-patung yang ada sekarang sudah tidak dibuat lagi oleh Madame Tussaudnya, karena beliau hidupnya pas jaman revolusi Prancis. Jadi sudah lama banget. Waktu revolusi itu si Madame yang nama depannya Marie, bikin patung kepala dari korban gerakan revolusi yang dipenggal pas jaman itu. Patung lilin kepala yang dibikin itu dicontoh dari aslinya yang kemudian disebut Death Mask dan dibawa pawai sepanjang jalan-jalan di Paris waktu Revolusi Perancis itu. Bisa dibilang Madame termasuk pejuang revolusi, bahkan patung lilin orang terkenal pertama yang dibuatnya bukan patung artis, melainkan Voltaire dan Jean-Jacques Rousseau. Keduanya adalah filsuf yang aktif dalam menulis tentang gagasan Enlightenment yang merupakan awal dari Revolusi Perancis. 

Madame Tussaud Bangkok terletak di Siam Discovery, saya kemarin masuk dari Mall Siam Paragon mengikuti petunjuk arah, nanti kita akan dibawa keluar lagi dan masuk ke gedung sebelahnya. Rencananya mau beli tiket langsung di lokasi, tapi waktu naik tuk tuk dari Mall Platinum ke Siam Paragon supir tuktuk bawa kami ke kantor travel yang katanya bisa kasih harga diskon untuk tiket Madame Tussaud. Dapat diskon lumayan tapi ga banyak sih, kalau beli langsung 990 bath, di kantor travel dapat 800 bath.

Ternyata yang paling heboh foto-foto adalah Mama saya, semua patung lilin diajak foto bareng. Tapi pas ditanya siapa patung yang lagi difoto, mama saya jawab, "Gak tau sih, yang penting foto aja dulu."

Sama JB dan adik saya





Kamis, 26 Mei 2016

Rejeki Nomplok Dalam Wujud Upgrade Kamar Hotel

Belum lama ini saya, adik bungsu dan kawan-kawannya jalan-jalan ke Bandung pas weekend. Booking dua kamar di Wisma Joglo, daerah Dago Atas. Saya pernah cerita tentang Wisma Joglo di postingan sebelumnya. Karena saya suka lokasi dan suasana hotelnya, saya langsung pesan tempat disitu lagi. Pagi harinya saya sempatin bangun subuh dan lari pagi di Taman Hutan Raya Dago tidak jauh dari situ, akan saya ceritain besok-besok yah.  

Waktu itu dari siang hujan deras di Bandung, saya sendirian di kamar lagi nonton tv sambil makan pop mie rasa baso pakai chitato rasa indomie goreng. Padahal rencananya sore itu saya mau naik ojek dari depan Wisma Joglo ke Tebing Keraton, lumayan dekat kalau dari situ. Tapi karena hujan deras rencana tersebut batal, dan hingga saat ini saya belum pernah tuh ke Tebing Keraton. Hiks. Adik saya dan kawan-kawannya lagi kumpul di kamar seberang. 

Tiba-tiba AC kamar saya mati dan mengeluarkan bau hangus. Saya segera panggil petugas hotel, dia segera menelpon teknisi untuk perbaiki AC. Hingga lewat Magrib teknisi yang ditunggu tidak kunjung datang, kemungkinan karena hujan makin deras dan tidak berhenti sejak siang. Kebetulan karena hujan udaranya dingin secara alami, jadi saya tidak merasa sumpek karena AC tidak menyala. Saya santai aja dalam kamar sambil nonton tivi menunggu tukang service AC datang.  

Saya rencana mau tanya lagi ke reception pas jam 7 malam tapi saya keduluan. Sebelum jam 7 malam petugas hotel menelpon saya ke kamar dan berinisiatif menawarkan kamar ganti. Ternyata kamar tipe Deluxe seperti yang saya tempati itu sudah full semua, ada kamar standard yang rate nya dibawah kamar deluxe. Akhirnya mereka menawarkan kamar saya di upgrade ke kamar suite. Gak pakai tunggu 5 detik saya langsung tutup telpon, beresin barang-barang saya dan menentengnya menuju lobby.

Kamar Suite Wisma Joglo tidak terlalu mewah tapi luas banget dan nyaman. Ada ruang tamu dan dapur sendiri! Lengkap sama kompor, peralatan masak, meja makan dan peralatan  makan. Di dalam kamarnya ada pintu ke balkon. Di ruang tamunya selain pintu masuk dari lorong hotel juga ada pintu belakang yang keluar ke teras yang ada taman kecilnya. Asiknya lagi adalah saya tetap dicharge pakai rate kamar Deluxe. 

Kamar Suite di Wisma Joglo
Ini kedua kalinya saya dapat upgrade ke kamar yang mewah. Beberapa tahun lalu saya pernah booking Standard Room di Novotel Bogor. Waktu itu belum pakai website booking hotel, masih manual telpon ke hotelnya untuk reservasi. Ternyata ketika saya datang disana mau check-in, nama saya ada terdaftar di sistem booking, anehnya kamarnya yang penuh. Waktu itu katanya sedang ada acara pelatihan kantor sehingga kamar tipe Standard yang saya reservasi dua minggu sebelumnya penuh. Bahkan kamar tipe Superior juga penuh. Tinggal sisa kamar Deluxe dan Suite yang ratenya lebih mahal. 

Karena manajemen hotelnya baik dan mungkin merasa tidak enak karena saya sudah jauh-jauh sampai di Bogor, kamar saya di upgrade ke tipe Deluxe. Mereka minta maaf karena kesalahan teknis tersebut dan saya bayarnya tetap pakai rate kamar yang saya reservasi sebelumnya, padahal saya gak minta loh. Saya bahkan dapat voucher potongan harga untuk Spa-nya, yang langsung saya gunakan sore itu juga. 

Kamar tipe Deluxe-nya luas, dari pintu masuk ke pintu teras jaraknya bisa 3 kali koprol. Kejutannya adalah, pas saya buka pintu teras ternyata ada bathtub gede banget. Iya. Bathub di teras.


Sabtu, 14 Mei 2016

Akhirnya Daftar Acara Race

Suatu sore bulan April, saya dan Nico sedang berada di sebuah café di daerah Tebet dekat kantor kita, ganti suasana sambil meneruskan pekerjaan di laptop masing-masing. Tiba-tiba dari balik laptopnya Nico bilang kalau lagi daftar acara Bali Marathon.

“Memangnya kapan Bali Marathon?” Saya sekedar bertanya. Bukan kali ini Nico heboh sama daftar acara race, tahun lalu kayaknya hampir semua acara race di Jakarta dia ikut.

Beberapa kali saya diajak tapi tidak tertarik. Pertama, saya memang kurang suka ada di acara yang banyak orangnya seperti acara karnaval, konser, pawai dan kemungkinan besar tidak akan nyaman berada di acara lari massal. Itu karena tinggi badan saya yang lebih pendek dari kebanyakan orang, jadi kalau di tempat ramai gak keliatan apa-apa, cuma bahu dan perut orang-orang. Pusing.

Kedua, karena memang belum ada acara race yang bikin saya tertarik untuk ikut. Paling tidak cukup menarik untuk bikin saya rela bayar uang pendaftaran, bangun subuh banget dan mengeluarkan extra tenaga untuk hanya mencapai lokasi racenya. Waktu itu sempat ada acara race yang nyaris bikin saya tertarik, acara lari tapi dikejar zombie. Tapi itu nyaris saja, akhirnya saya juga gak jadi daftar.

Kali ini ketika Nico menyebutkan tanggal acaranya, saya langsung jawab, “Gw ikut deh.” 

Tanggal itu pas banget sama tanggal ulang tahun saya versi KTP. Aslinya saya lahir 2 hari sebelum itu, tapi waktu bikin akta kelahiran petugasnya salah tulis dan orang tua saya terlalu malas untuk mengurus perbaikannya. Memang petugas catatan sipil itu punya peran penting dalam menentukan masa depan seseorang, saya cukup beruntung hanya salah tulis tanggal lahir, tidak salah tulis nama. Akhirnya sampai sekarang di KTP, Ijazah, dan data-data resmi lain pakai tanggal yang sesuai di KTP. 
  
Beberapa hari kemudian saya lagi jalan-jalan di Lotte Avenue Kuningan, lewat di depan toko yang pasang pengumuman diskon 50% untuk sepatu Asics. Kebetulan saya memang sudah agak lama merencakan dan menabung untuk beli sepatu baru karena Nike Free yang saya beli sebagai rewards karena berhasil lari sejauh 5km dulu umurnya sudah lebih dari 2 tahun.

Sudah agak lama saya browsing sana sini tentang sepatu yang mau saya beli, Asics memang salah satu yang masuk ke list saya. Ada 3 alternatif pilihan waktu itu, Nike Free lagi karena saya memang seneng banget pakai itu karena ringan, New Balance, dan Asics. Diantara 3 itu yang paling mahal memang sepatu Asics, tiba-tiba saja saya ketemu diskonan 50% di saat yang tepat ketika saya perlu untuk persiapan Bali Marathon. Jadi lumayan banget penghematannya. 

Sisa uang simpanan untuk beli sepatu saya belikan Sports Bra. Selama ini saya tidak pernah punya sports bra, kalau lari pakai bra biasa saja. Karena ukuran dada saya juga minimalis dan jarak lari saya juga belum jauh-jauh amat jadi saya belum merasa ada pengaruhnya. Walaupun saya sering baca kalau sports bra itu penting untuk menahan dan menjaga otot payudara dari guncangan-guncangan pas kita lari. Waktu lari, payudara itu ga cuma bergerak naik turun tapi gerakannya seperti angka 8, alias bergerak ke segala arah. Konon itu katanya lama-lama bisa bikin otot yang menopang payudara jadi lemah dan bentuknya jadi sagging. Yah karena untuk kedepannya saya bakal lari lebih dari satu jam, jadi saya pikir sudah saatnya pakai. Sports Bra jauh lebih ketat daripada bra biasa, waktu pertama kali pakai saya agak sedih liat dada saya jadi rata kayak cowok. Hiks. 

Untuk race perdana saya ini, saya daftar untuk kategori Half Marathon, 21 Km. Waktu itu impulsif aja daftarnya, saya tidak sadar hingga suatu saat lagi iseng-iseng baca postingan blog yang dulu-dulu, ternyata saya pernah bilang mau HM pas birthday run. Di postingan berjudul Tiba di 10 Kilometer Pertama tahun 2015 lalu saya berasa aneh baca balesan saya sendiri waktu Cipu komentar “Ayo ikut race, mayan dapat baju lari lucu.”

Waktu itu balasan saya, “birthday run thn dpn gw mau HM ah.” Itu ditulis tanpa tahu di masa depan memang ada acara race pas birthday saya. Ternyata ada. Kebetulan banget. 

Sabtu, 07 Mei 2016

Lari di BUPERTA Cibubur

Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (BUPERTA) Cibubur jaman saya SD dan SMP dulu terkenal sebagai tempat perkemahan untuk kegiatan Pramuka. Saya juga sempat mengalami kemping di Cibubur. Waktu itu  sudah ada McDonald, tapi dari Jakarta ke Cibubur rasanya jauh sekali, rasanya kayak ke daerah puncak atau bandung. Jaman dulu  kan daerah antara jakarta dan cibubur masih sepi dan masih banyak tanah-tanah kosong. Siapa sangka hanya butuh waktu kurang dari 20 tahun untuk menjadikan daerah yang tadinya kosong jadi daerah padat pemukiman.

Terakhir saya ke BUPERTA Cibubur ketika SMP kelas 1. Waktu itu karena hujan deras lokasi camping kelompok saya tergenang air sehingga kompor minyak tanah yang akan digunakan untuk masak sumbunya basah. Waktu itu campingnya masih pakai kompor minyak tanah dan tenda yang disusun manual dari terpal pakai rangka potongan bambu yang diikat dengan tambang dan diikat pakai pasak yang ditanam di tanah, tidak pakai tenda dome. Beruntung ada orang tua salah satu kawan kelompok saya yang datang. Melihat kondisi kami kebasahan dan tidak bisa masak, kami dibelikan McDonald. Waktu itu McDonald Cibubur yang depan BUPERTA sudah ada.

20 tahun kemudian saya kembali lagi untuk lari. Awalnya karena lihat Cipu beberapa kali share foto lari di BUPERTA Cibubur, jadi suatu sabtu saya dan nico janjian sama cipu lari bareng disana. Masuk ke area bumi perkemahan bayar karcis, untuk umum 6000 dan mobil 8000. Tempat parkir luas, banyak tukang jualan makanan dan minuman, dan ada toilet. Tempat ini rasanya jauh berbeda dari yang saya ingat waktu saya kecil. Seingat saya dulu BUPERTA Cibubur ini seperti hutan yang rimbun, sekarang rasanya hanya seperti taman yang agak luas. Bahkan tempat ini rasanya tidak seluas ingatan saya. Satu keliling lari disini 5 km lebih, jalurnya banyak tanjakan turunan, seru buat latihan lari dikontur yang tidak rata.

Jalur lari di BUPERTA Cibubur

Nico, Saya dan Cipu di depan tempat yang jadi lokasi syuting sinetron

Senin, 02 Mei 2016

Bunga Matahari

Peruntungan saya dalam menanam bunga tidak sebagus dalam hal menanam sayur-sayuran. Sudah macam-macam jenis bunga saya coba beli bijinya untuk ditanam tapi selalu gagal kecuali satu jenis bunga, yaitu Marigold. Ternyata menanam bunga lebih sulit dari menanam sayur, kebanyakan biji yang saya tanam tidak berhasil berkecambah. Yang berkecambah pun rentan sekali karena kebanyakan sangat kecil dan halus sehingga cepat layu dan mengering. 

Dari sekian banyak biji bunga yang gagal saya tanam, ada satu bunga yang saya coba terus menerus. Bunga Matahari. Saya kepingin banget menanam bunga matahari karena suka dengan warna dan bentuknya yang menimbulkan kesan ceria. Biji-biji bunga matahari yang saya tanam pertama kali tidak ada yang berkecambah. Saya menanamnya dengan metode yang sama seperti menanam sayur, di dalam wadah gelas plastik berisi tanah. Biji bunga matahari ukurannya besar, ya seperti kuaci bunga matahari, jadi satu gelas saya tanam satu biji bunga matahari.

Saya tunggu dengan sabar berminggu-minggu, tak pernah lupa saya cek keadaan tanahnya agar selalu lembab, tapi tidak ada yang berkecambah. Saya sudah coba cari-cari sumber dari internet tentang berbagai metode menanam bunga matahari, kemudian saya coba cari apa kesalahan saya, tapi dari yang saya lihat sepertinya menanam bunga matahari itu gampang banget. Malahan ada youtube video anak kecil yang kasih tutorial menanam bunga matahari, dia hanya bolongin tanah depan rumahnya pakai pensil, masukan biji matahari, dan beberapa hari kemudian sudah tumbuh bakal calon daun bunga matahari. KZL.

Saya pun coba beli lagi biji bunga matahari. Dari satu pak isi 10 biji saya coba tanam dengan metode berbeda-beda. Ada yang saya rendam air dulu semalaman, ada yang langsung saya tanam ditanah, ada yang saya bungkus di kertas tissue yang lembab kemudian dimasukan dalam plastik, ada yang ujung bijinya saya potong sedikit pakai gunting kuku kemudian ditanam di tanah. 

Saya tunggu beberapa minggu lagi, tapi dari semua metode cara menanam bunga matahari yang saya ambil dari internet itu tidak ada satu pun yang berkecambah. Malahan biji bunga matahari yang saya bungkus di dalam kertas tissue basah mengeluarkan mahluk aneh seperti cacing halus dari dalam bijinya.

Tadinya saya berpikir mau beli satu set perlengkapan menanam bunga matahari yang dijual di Ace Hardware, sama seperti tanaman tomat pertama saya. Tapi sementara belum sempat ke Ace Hardware saya kembali memesan biji bunga matahari secara online.

Bulan Januari 2016 saya kembali coba menanam biji bunga matahari. Kali ini saya tidak pakai metode macam-macam, biji saya tanam dalam wadah gelas plastik berisi tanah. Keterangan di bungkusnya bilang kalau biji akan berkecambah dalam waktu 14-21 hari. Saya sangat tidak menyangka ketika 4 hari kemudian salah satu gelas berisi bunga matahari berkecambah. Senangnya pakai bingits sumpe deh.

Setelah tumbuh daun sejati dan saya rasa cukup besar (sekitar 4-5 minggu), saya pindahkan bunga matahari itu ke kebun saya di depan, diantara tanaman okra dan jagung. Bulan Maret, ketika setiap hari pasti selalu hujan deras, bunga matahari pertama saya mekar walaupun tampak lesu karena kurang kena sinar matahari tapi tetap kelihatan vibran. Tinggi tanamannya sekitar satu meter dan bunganya nyaris selebar telapak tangan saya. 

Sebulan setelah biji bunga matahari pertama saya berkecambah saya tanam lagi, masih biji dari bungkus yang sama. Dari 3 biji yang saya tanam ada satu lagi yang berkecambah. Hal itu membuat saya berpikir mungkin biji bunga matahari yang saya beli sebelumnya sudah lama, jadi sudah tidak bisa berkecambah, bukan metode tanam saya yang salah.

Saya baru ngerti kenapa bunga satu ini termasuk salah satu yang favorit dan sering jadi objek foto, karena melihatnya saya rasanya sudah bikin hati bahagia. Jadi pingin tanam bunga matahari yang banyaaaakkk.

Biji bunga matahari berkecambah di gelas plastik, belakangnya sawi

Bakal bunga mulai mau mekar

Mesmerising kan ?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...