Kamis, 17 Juni 2010

Antar Kota, Antar Propinsi, Antar Negara

Ini adalah pengalaman kedua kali nya saya melintasi perbatasan darat antara dua negara, setelah pengalaman perdana melewati perbatasan antara negara Singapore dan Malaysia. Tapi ini adalah pengalaman pertama saya mengurus Visa on Arrival di perbatasan.

Perjalanan sekitar 7 jam dimulai di Duong De Tham, backpaker area di Ho Chi Minh City. Sekitar jam 12-an, Bus Capitol menjemput saya, Mba Vonny dan Cipu. Di atas Bus, petugas membagikan sebotol air mineral dan tissue basah (plus masker sewaktu perjalanan balik dari Pnom Penh ke HCMC). Rate Bus Capitol HCMC-Pnom Penh = USD 10 / orang.

Tidak berapa lama, petugas mengumpulkan paspor-paspor penumpang termasuk menawarkan jasa mengurus Visa on Arrival di perbatasan Moc Bai dengan hanya membayar USD 25 (resminya USD 20), pokoknya kita tinggal tahu beres dan menikmati perjalanan.


Di perbatasan Moc Bai semua penumpang turun dari bus dengan membawa semua barang-barang nya, kemudian menunggu paspor kita di cap di imigrasi, setelah itu naik kembali ke Bus untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati perbatasan Moc Bai, Bus Capitol tersebut berhenti 15 menit untuk istirahat di sebuah restoran Mie. Penumpang di persilahkan untuk meluruskan badan, makan, minum, dan menuntaskan urusan pribadi di toilet. Di perjalanan balik dari Pnom Penh ke HCMC juga Bus itu berhenti di tempat yang sama selama 15 menit.

Daerah perbatasan Vietnam-Kamboja yang gersang dan tandus ini, di sepanjang jalan nya berjejer kasino dan hotel mewah, persis di Las vegas. Di halaman parkir nya juga berjejer mobil-mobil mewah.


Sore hari, menjelang terbenam nya matahari, Bus Capitol membawa kita naik ke atas kapal feri menyebrangi sungai yang luaaaaas banget sampe ujungnya ga terlihat. Secara ini adalah pengalaman pertama saya naik kapal feri, serta merta saya meloncat dari dalam Bus dan berfoto-foto dengan cuek nya di antara barisan mobil-mobil, motor-motor, dan pedagang asongan.

Kira-kira sebulan setelah nya, dalam perjalanan ke Bromo, saya kembali merasakan naik Bus luar kota. Secara keseluruhan sih rasanya sama saja dibandingkan dengan yang saya tumpangi di Singapore, Vietnam dan Kamboja. Dari mulai model bus nya hingga cara menyetir Pak Sopir nya sama, sepertinya ada standard internasional untuk Bus luar kota semacam ini... yah, sama seperti standar penerbangan internasional gitu.


Tapi diantara terminal-terminal bus internasional yang pernah saya datangi di kawasan Asia Tenggara, baru di Surabaya saya menemui Terminal Bus yang lengkap dengan panggung hiburan Live Music. Memang walau bagaimanapun, saya harus bangga, negara saya masih lebih unggul dalam hal fasilitas di terminal bus nya.


7 komentar:

  1. kapan ngajak aku jalan2 mil,...?

    seruuuu bgt ngebayangin perjalanannya....

    BalasHapus
  2. buju buning artis dangdutnya di pajang ... pantes aja dari kemaren suruh2 liat ne blog ... akakakkaka

    BalasHapus
  3. Waaa,,seru bgt ya pengalamannya

    BalasHapus
  4. @mba irma: hayuuuk...
    @arai: wkwkwk...
    @andi & riesta: hihihi.. ya lumayan serulah :p

    BalasHapus
  5. Sempet ikut dangdutan ngggak Mil di terminal Bus Surabaya? Hahahahah I bet you did

    BalasHapus
  6. @cipu: enggaaaak... ga tau deh klo ada lu hihihii

    BalasHapus
  7. Live music? Bisa sekalian karaoke dong ;)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...