Minggu, 19 Februari 2012

Belitung, habis tambang sepah dibuang

Minivan yang mengantar rombongan wisata membelok ke suatu daerah yang gersang dengan tanah berwarna keputihan, mirip sama lokasi tambang kapur. Katanya daerah tandus ini bekas tambang kaolin. Saya salah satu penumpang di dalam minivan itu, seketika terkesima dengan pemandangan yang saya lihat di luar jendela. 

Danau yang airnya berwarna biru pastel, berpadu dengan warna tanah nya yang keputihan. Nyaris kelihatan kayak lukisan krayon, bukan kayak kenyataan. Tapi apa benar ini suatu keindahan? saya melihat satu ironi dibalik ini semua *dengan gaya bicara setajam ssssiiileet*

Kaolin, adalah nama barang tambang yang pertamanya digunakan untuk campuran di keramik China. Tapi kemudian penggunaannya berkembang jadi banyak digunakan untuk campuran cat, digunakan di industri karet, sampai kosmetik. Belitung adalah salah satu pulau yang di dalam tanahnya terkandung bahan ini. 

Seperti bahan-bahan tambang lain pada umumnya, misalnya batu bara, kaolin biasanya terdapat dibawah lapisan tanah. Biasanya tanah paling atas itu tanah biasa  tempat dimana tanaman-tanaman  dan hewan-hewan hidup. Untuk mendapatkan mineral tertentu yang terkandung di dalam tanahnya, tanaman-tanaman yang tumbuh diatas nya dimusnahkan, lapisan tanah yang posisi nya diatas di keruk, kemudian baru bahan tambang nya yang di keruk hingga menimbulkan bolongan raksasa di tanah.

Nah biasanya dalam melakukan open mining kayak gini, setelah selesai ditambang harusnya di bekas tambang tersebut dilakukan reklamasi untuk mengembalikan ekosistem alam. Tapi bekas tambang kaolin di belitung ini sepertinya di terlantarkan gitu aja.

Ibarat peribahasa "habis tambang sepah dibuang", kira-kira begitulah nasib si Pulau Belitung ini.

Begitu banyak nya kawah-kawah bekas danau kaolin di Pulau Belitung, dilihat dari atas pesawat membuat saya miris. Bagus sih melihat warna-warna yang dipantulkan oleh air yang bercampur dengan kaolin ketika kena sinar matahari, tapi bersamaan dengan itu sedih melihat sebagian pulau itu bolong-bolong kayak semacam dimakan sama mahluk buas.

Penambangan Timah juga dilakukan dengan cara open mining dengan issue pengrusakan lingkungan yang sampai sekarang juga masih belum tertanggulangi. Belanda lah yang pertama menemukan keberadaan timah terkandung di dalam pulau ini, di abad ke-18. Waktu itu pas banget lagi booming industrialisasi di Eropa dan pas banget sama perang dunia I. Timah diperlukan banget buat bikin peralatan industri dan senjata-senjata perang gitu. Karena itu juga pulau ini sempat jadi rebutan antara Inggris dan Belanda.

Belanda dulu datang ke pulau ini karena ambisi nya mau menguasai perdagangan lada sedunia. Kemudian ditemukanlah timah di pulau ini. Selanjutnya pemerintah Belanda membuat satu perusahaan khusus untuk me-manage tambang timah ini. Pernah dengar BHP Billiton? perusahan tambang multinational gitu. Coba klik website nya disini : www.bhpbilliton.com

BHP Billiton adalah hasil merger dari dua perusahaan tambang besar si BHP dan si Billiton. Si Billiton ini asalnya adalah perusahaan Belanda tersebut. Namanya Billiton Maatschapij diambil dari nama pulau Belitong, Billiton adalah cara orang bule mem-pronountiate nya. Perlu bukti? coba klik disini : Billiton Chronology.

Apakah dengan banyaknya mineral bernilai tinggi terkandung di dalam pulau nya menjadikan Belitung pulau yang mewah? Boro-boro. Kalo pas jaman penjajahan dulu mungkin saya masih bisa maklum, tapi ternyata setelah Indonesia merdeka dan penambangan Timah diambil alih oleh perusahaan negara, keadaan masih belum banyak berubah bagi Belitung.

Sayang banget kalau keindahan alam yang ada jadi terkontaminasi atau bahkan rusak karena kita mengambil kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dengan cara yang  tidak bertanggung jawab.



Sementara itu di telinga saya masih saja terngiang-ngiang diskusi di suatu rapat mengenai investasi tambang kapur. "demand (permintaan) kapur di Indonesia ini banyak sekali sampai kita harus impor, padahal di Indonesia ini masih banyak gunung-gunung kapur yang belum di eksploitasi. Biaya investasi nya kecil, tapi margin keuntungannya besar." Dan seketika itu saya membayangkan seluruh gunung-gunung kapur di Indonesia habis di kerukin sampai rata. Sumpah, itu horror banget. Air tercemar, erosi, longsor.

Apakah kemajuan Industri harus selalu ada di kutub yang berlawanan dengan sustainability lingkungan alam?

37 komentar:

  1. Masalah nya cuma satu kak..
    pemerintah ga punya peraturan yang jelas buat sistem pertambangan, *ada tapi hanya sekedar peraturan. Kan margin keuntungannya besar itu lebih menggiurkan ketimbang mempertahankan aturan. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener itu Tito. seharusnya kita sendiri mulai sadar pentingnya menjaga sustainability lingkungan hidup, jangan hanya mikir profit jangka pendek, tapi jangka panjang juga. Undang-undang juga percuma kalo dari dalam diri individu nya ga ada kesadaran.

      Hapus
  2. prihatin ... kasian banget ya si belitung ... :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belitung cuman salah satu contoh Mba. Di Kalimantan, Orangutan makin terancam karena tempat tinggal nya di gusur sama perkebunan sawit. Belom lagi sekarang banyak banget pertambang batu bara yang kalo ga dilakukan secara bertanggung jawab lama-lama pulau kalimantan juga bakal keliatan bolong-bolong kayak belitung juga :(

      Hapus
  3. Sedih ya... Tapi nggak jarang juga tumbuh tambang-tambang liar yg dikelola penduduk kan? Lagi-lagi itu bisa disebabkan oleh kebutuhan mendasar mereka untuk menghasilkan uang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo tambang liar penduduk biasanya kecil, tapi klo danau kaolin ini kayaknya bukan tambang liar. Gw juga kurang tau ya sih, tapi ini huge banget sampe dari atas pesawat keliatan bolong-bolongnya. Ini kayaknya suatu perusahaan yang punya modal buat bikin ijin penambangan dan punya modal buat investasi alat berat. Sebenernya gw juga pengen tau lebih sih, ada orang belitung yang ngerti ga ya?
      Ya sih memang dampaknya membuka lapangan kerja buat masyarakat lokal, tapi apa yang mereka dapat ga seberapa.

      Hapus
  4. gak jauh jauh ke Biliton, ngelihat kondisi di PACET, sebuah daerah di pegunungan yang masuk wilayah Mojokerto Jawa Timur, sekarang kondisinya mengenaskan...

    tau gak kenapa?
    tanahnya dikeruk tiada henti, terus menerus untuk membangun tanggul lumpur lapindo sidoarjo. Pacet yang dulunya pegunungan, banyak bukit bukit kecil...sekarang menjadi persis wilayah pertambangan ... atau lebih mirip lokasi perang gitu deh, karena kerusakan lingkungannya parah banget.

    makin banyak longsor, dan seminggu yang lalu, terjadi banjir bandang. beberapa tewas...

    ngeliatnya jadi sedih...

    padahal ini bukan kawasan pertambangan, tidak ada timah apalagi emas
    tapi nasibnya mirip sama Belitung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dampak lumpur lapindo bertahun-tahun malah makin parah ya, Mba. Orang yang harus nya tanggung jawab malah tenang-tenang aja tuh -_____-"

      Hapus
  5. saya lihat foto-fotonya tampak indah ya? apakah memang sebenarny tu hanya fatamorgana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus sih...... tapi... ya itu :p

      Hapus
  6. Memang kebanyakan tambang rakyat dan perusahaan tambang kecil notebene (kadang-kadang) warga lokalnya juga yg biarin tanah bolong-bolong tanpa peduli rehabilitasi lahannya...biasanya perusahaan besar malah sudah punya program rehabilitasi tambang itu...jadi edukasi lah salah satu yg penting buat masalah ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo menurut aku sih kadang perusahaan besar juga masih lebih mementingkan profit daripada lingkungan, CSR itu jadi kayak cuman demi image baik aja.

      Hapus
  7. yaaa, disini juga lagi marak2nya tambang Mbak, perasaan di daerah2 yang dulunya jarang dijamah sekarang org2 pada berbondong2 ke daerah tersebut.
    sebut saja Bombana. sejak bbrapa tahun lalu, sejak ditemukannya emas di daerah tersebut orang2 pada berbondong ingin mendulang emas disana, gak hanya orang Sulawesi saja bahkan bisa dibilang Seluruh Pulau di Indonesia ini berbondong2 ke daerah tersebut. Meskipun sekarang tempat itu sudah ditutup untuk umum tapi pasti hasil kerukan sebelumnya itu bakalan jadi bahaya besar buat kehidupan yang akan datang
    huhuhuh, miris deh, Indonesia ini kaya, benar2 kaya ya tapi kebanyakan orang gak mikir ke depannya gimana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sama, di sulawesi utara juga lagi marak tambang, kayaknya sejak peraturan desentralisasi itu masing-masing daerah bebas cari investor buat pertambangan dan hasilnya untuk daerah itu sendiri. Malah jadi nya agak brutal, di sulawesi utara juga lagi heboh pada bikin tambang emas & nikel

      Hapus
  8. kenapa negeri nusantra ini semakin murat marit kaga bener, rakyat msh bnyk susah tuk makan, semntra yg terhormat anggota dewan dg SDA Indonesia belm bsa mengelolanya,,
    solusinya gmana Mb Mila, dg SDA Indonesia yg begitu melimpah ruah,?

    BalasHapus
    Balasan
    1. mudah-mudahn ini pertanyaan retoris, soalnya saya juga ga tau jawabanya hahaha....

      Hapus
  9. hampir semua wilayah indonesia mengalami nasib serupa...

    BalasHapus
  10. ya, dan kita terancam kehilangan indahnya perbukitan kapur di gunung kidul...sedikit demi sedikit hilang semua bukit....

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup. Nasib sama juga yang terjadi di Citatah :(

      Hapus
  11. Siapa bilang Indonesia sudah merdeka? Masih dijajah orang-orang maruk, ya kan Mila?

    Di riau ini aja udah habis hutan dibakar mulu tiap tahun, udah panas macam digurun T_T
    Belum lagi caci maki negara tetangga >_<

    PS:Jangan lupa ambil kadomu disini yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo riau masih lebih beruntung, kantor gubernur nya mewah banget dan jalanan kotanya lebar hehehee...
      cuman aku sedih liat makin banyak tanaman sawit, apalagi sampe harus pakai lahan hutan. Pdhal tanah yang ditanamin sawit konon kesuburannya bisa berkurang drastis gitu katanya :(

      Hapus
  12. selalu suka sama postingan neng Mila, yang ada cerita sejarahnya :). Semoga kecemasan kita gak menjadi kenyataan yaaa.

    BalasHapus
  13. Idealnya sih, setiap pengerukan memang diiringi tindakan perbaikan, biar seimbang. Tapi kayaknya banyak orang lebih suka mengambil tanpa memperbaiki.
    Makasih postingannya, Mila :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Della, you got the point there :D

      Hapus
  14. Makasih atas informasinya yang sangat detil dan bermanfaat....jadi pengen main2x ke Pulau Belitung... apalagi bukunya ANdrea Hirata dengan sukses membuat banyak pembaca membayangkan keindahan pulau ini.

    Sori lama nggak blogwalking.... jangankan blog orang lain, gw jarang blogwalking ke blog sendiri...hihi :D

    Hugs

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Feli, makasih dah mampir loh... aku denger dari Rossa katanya sibuk banget yah hehehee...
      ayuk kapan ke belitung? nanti aku anterin deh heheee

      Hapus
  15. tulisan dan bahsannya sangat menarik sekali..

    kunjungan perdana
    Salam Kenal dan follback
    Revolusi Galau
    Ya...

    BalasHapus
  16. tergantung manusianya sih. eksploitasi mengenaskan seperti itu, orang hutan kalimantan, lumpur sidoarjo, semua kan krn manusia. kesadaran mereka utk hal seperti ini sangat sangat kurang. semoga dgn tulisan ini banyak orang yg sadar ya mil..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kita sebagai manusia mustinya lebih sadar kalo lingkungan nya kita rusak kedepannya kita mau hidup di mana? di bulan? -____-"

      Hapus
  17. yah itulah manusia.. :(

    mau enaknya aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. kamu juga manusia bukan ? hahahaaa......

      Hapus
  18. Uuuhh pengen ke Belitung lagi... tapi belum kecapaian niih.. Ke Bangka sekalian deh Mila, bagus juga pantainya :)


    YURI
    http://tigerlilysbook.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku pernah ke Bangka, tapi buat kerja bbrp tahun lalu. ga sempet kemana2.. tapi sempet liat pantai nya, pasir putih kayak belitung yaaah... pasti lah ke bangka lagi :p

      Hapus
  19. belitung dah keren sekarang bu,, AMAXING... :)
    salam http://garasi.in/

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...