Selasa, 24 Juli 2012

Nothing Like Australia

Sabtu malam itu saya melipat sepotong jaket serapih mungkin, berusaha menyelipkan onggokan kain padat itu ke sisa ruang dalam koper. Sesuai sms terakhir dari Cipu yang mengingatkan untuk membawa jaket tambahan yang agak tebal.  

Seluruh berat badan saya tumpukan di satu lengan yang  berusaha menahan tutup koper sementara tangan satu lagi menggapai-gapai resleting, menarik nya mengikuti jalur melingkar dengan sekuat tenaga. Setelah melalui perjuangan dan pergulatan beberapa menit, usaha berkemas saya pun tuntas. Di akhiri dengan menggantungkan gembok kecil manis di koper ukuran 24" yang akan menemani petualangan kali ini.

Di atas kasur tergeletak ponsel saya yang berbunyi nyaring, di samping lembaran print-out tiket dan buku tebal Lonely Planet Australia. SMS masuk, dari supir taksi langganan yang sudah saya kirim pesan sebelumnya untuk menjemput saya besok subuh. "Oke, Mba. Besok saya jemput jam 5," begitu isi pesan nya. 

Malam itu mata saya terpejam tapi antara tidur dan tidak, exciting dengan petualangan apa kira-kira yang akan menanti saya selama 10 hari kedepan.  

Ah...10 hari adalah waktu yang sangat sebentar untuk berpetualang di benua yang unik itu. Sebenarnya rencana awal nya saya mau pergi ke 3 kota, Melbourne, Perth dan Sydney. Tapi dengan berat hati saya harus mencoret Perth dari jadwal karena terlalu jauh di bagian barat. 

Semalaman saya memeluk kitab Lonely Planet edisi Australia yang saya beli hanya seharga 50 ribu rupiah di suatu bazaar buku bekas. Perjalanan kali ini bisa dibilang persiapannya minimal banget. Itinerary yang saya siapkan cuman berisi catatan tempat-tempat mana yang saya mau kunjungi, sisanya improvisasi nanti disana.

There’s Nothing Like Australia”, itulah tagline pariwisata negara yang terkenal dengan hewan khasnya, Kangguru dan Koala. Cocok sekali menurut saya, Australia memang berbeda.

Selain musim nya yang merupakan antithesis dari mayoritas negara-negara di dunia, ribuan tahun benua paling imut ini terisolasi dari dunia luar sehingga menyebabkan Flora dan Fauna yang ada disini unik. Dari 5,710 tanaman yang di temukan di benua ini, 5,440-nya hanya bisa dijumpai di Australia. Dari 58 spesies mamalia yang ditemukan di Australia, ada 46 spesies yang hanya di miliki oleh benua ini, termasuk Kangguru dan Koala. Tapi jangan salah, walaupun di sana asalnya sapi import yang dikonsumsi orang Indonesia, asalnya hewan ini bukan asli dari sana. Melainkan dibawa oleh para imigran dari Eropa sebagai hewan ternak.
Puluhan ribu tahun yang lalu diperkirakan Homo Sapien pertama kali tiba di daratan bagian selatan bumi ini. Pada saat itu Australia masih jadi satu dengan Papua Nugini dan pulau-pulau kecil di Timur Indonesia, membentuk satu daratan yang diberi nama Sahul. Sedangkan Pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatera menjadi satu dengan benua Asia membentuk suatu daratan raksasa bernama Sunda Land.

Manusia-manusia bermigrasi secara berkelompok dari Afrika menyebrang Laut Merah, melalui perjalanan beberapa generasi mereka sampai di Sunda Land. Sebagian melintasi genangan air yang membatasi dua daratan hingga tiba di Sulawesi dan mentok di selat Weber yang permukaan airnya rada dalem. 

Mungkin awalnya mereka coba-coba membuat alat yang bisa membuat mereka mengapung di air untuk mencari makanan, menangkap ikan atau kerang-kerang gitu. Tapi ternyata rakit sederhana temuan mereka fungsinya jadi berkembang digunakan untuk menyebrang selat Weber yang terletak di sekitar pulau Sulawesi menuju ke Sahul.

Kemudian terjadi perubahan besar-besaran di bumi. 20,000 tahun lalu permukaan laut naik drastik karena es mencair. Hal ini mengakibatkan persentasi air dan darat di bumi jadi seperti yang sekarang ini, 70 : 30. Sahul terpecah menjadi beberapa pulau kecil dan dua pulau besar Australia dan Papua Nugini yang kini terpisah oleh laut dalam. Manusia-manusia pertama yang berhasil sampai di kedua pulau besar itu pun terjebak, rakit sederhana mereka sudah tak mampu mengarungi lautan yang kini luas dan sangat dalam.

Selama beberapa ribu tahun setelah itu Terra Australis terisolasi dari the rest of the world. Suatu pulau raksasa yang berada sendirian di bagian bawah bola dunia, The Continent Down Under. Dengan demikian terisolasi pula seluruh isi pulau itu, flora dan faunanya beserta manusia yang telah turun temurun menghuni tempat itu sejak 40 ribu hingga 60 ribu tahun lampau.

Aboriginal yang mempunyai arti “the first” adalah sebutan bagi penduduk pertama yang menghuni benua Australia. Terisolasi di waktu sebelum 20.000 tahun yang lalu, terjebak di jaman batu. Bagaikan hidup di dimensi waktu paralel yang  berbeda, bagi mereka hidup adalah di era Palaeolitikum dimana mereka hidup nomaden dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan.

Kapal pertama dari "masa depan" yang berhasil sampai ke daerah dimana waktu berhenti itu bernama Batavia, kapal yang berlayar dari kota Batavia menuju Cape of Good Hope tapi nyasar terbawa badai hingga ke teritori yang waktu itu masih belum ada dalam peta. Peristiwa terdamparnya Batavia di bagian barat pulau raksasa ini yang mengantarkan Belanda sampai ke Terra Australis dan mengklaim wilayah baru yang ditemui mereka itu dengan nama New Holland.

Baru kemudian Inggris yang ga mau kalah datang meng-klaim bagian timurnya dan menjadikan nya sebagai tempat pembuangan para narapidana. Kehidupan damai para aborigins yang serasi dan seimbang dengan alam serta merta terganggu oleh kemunculan orang-orang asing, para imigran dari Eropa yang kelak menggilas keberadaan para penghuni "pertama" di Terra Australis. 

Bagi para imigran dari Inggris yang pertama tiba di Australia, tak mudah hidup di benua ini. Kondisi alam nya yang tidak ramah seolah-olah menolak kedatangan tamu asing. Kelaparan, kekurangan air dan cuaca yang tidak stabil membuat hidup para imigran berasa di neraka. Walaupun lambat laun para imigran bisa mengatasi masalah tersebut tapi tetap saja, hidup di benua ini tidak semudah dan seindah pemandangan alamnya. Kondisi alamnya sensitif banget. 

Karena itu rada wajar kalau peraturan yang berkaitan dengan lingkungan disana paranoid berlebihan, seperti misalnya semua kayu-kayuan yang mau masuk negara itu harus melalui proses fumigasi supaya ga ada rayap-rayapan yang lolos menyusup. Malahan antar state aja ada peraturan tidak boleh membawa buah-buahan lewat batas state karena takut lalat buahnya salah kawin sama varian lalat buah sembarangan yang tidak akan direstui oleh keluarga-keluarganya di state yang bersangkutan.

Bunyi alarm dari henpon membangun kan saya dari alam setengah tidur. Sudah saat nya. Petualangan baru pun dimulai sejak telapak kaki saya menyentuh lantai kamar yang dingin.

32 komentar:

  1. Beuh! Baru tahu saya kalo seketat itu kalo mau masukin kayu atau buah ke sono. Tapi, gak ada pemeriksaan kutu rambut kan yah? Sapa tahu orang sono paranoid ama kutu rambut dari Asia gituh, takut kawin ama kutu rambut di sono.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kutu rambut sini paling juga ga betah disana sangking terlalu steril nya wkwkwk

      Hapus
  2. There's nothing like Australia .... Australia keren .. pengen kesana ..
    jadi tahu sejarah Australia nih nek ...
    di tunggu kelanjutan petualangan Jaketnya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa cuman jaketnyaaaah? Gue nyaaaa dooonk -___-"

      Hapus
  3. ndak perlu paspor dan visa untuk lalat buahnya mbak mila?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya perlu juga hehehehe

      Hapus
  4. Untunglah lu cuma bawa koper ya Mil, ga bawa lemari baju. Makan waktu tuh kalo musti difumigasi dulu ;))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi gw berhasil menyeludupkan tasbih kayu cendana titipan temen gw disono tanpa pke fumigasi2an

      Hapus
  5. yaelah, baru prolognya doank.. berasa belajar geologi-paleontologi deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti biasaaaa... Klo postingan gw mesti ada historical value dan kedodolan value wkwkwk

      Hapus
  6. main gitar nggak disana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga bawa gitar saia, ribet nanti musti di fumigasi dulu hahahahaa

      Hapus
  7. jadi inget jalan jalannya Oprah yang ke australia ya
    betapa australia berasa special banget gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. ooooh bagus ya oprah edisi ostrali, blom nonton siy. Tapi pas aku kesana lagi banyak poster2 menyambut oprah di Sydney Harbour itu

      Hapus
  8. Jangan-jangan klo kena panu juga ga boleh masuk hehhehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Panu disana langsung kering, secara udara nya tuh kering banget. ketek basah aja kering disana -_____-"

      Hapus
  9. kayanya ini ulasan paling keren yang pernah kubaca di sini, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadiii... jadiii... selamaaa iniiii.... ooooooowh *galaudipojokan*

      Hapus
  10. Huhuhuhu..... suka page ini. :)
    *nunjuk peta ausi

    BalasHapus
    Balasan
    1. di page mana itu? perasaan disini ga masang peta soalnya aku nyah buta peta hahahaaa

      Hapus
  11. ckckckc.... anak gadis mainnya jauuuuhhh benerrrrr @_@

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk... ke cirebon yuuuuuuk mbaaaaa

      Hapus
  12. Dan selama beberapa menit, aku larut dalam sejarah..
    Mestinya dulu saya punya guru-guru sejarah kayak kamu, Mil, jadi nilai sejarah saya nggak perlu merah tiap semester :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba baca sejarahnya dari Lonely Planet deh mba, seru itu heheheeh

      Hapus
  13. titip bawain sy koala donk balik dr aussie nya ntar... hi3...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaah telat nitipnya, aku sudah balik.. tapi baru sempet aja nulis laporan perjalanannya.

      Hapus
  14. Asyiknya jalan-jalan! Thanks buat cerita sejarahnya Aussie. Di tunggu edisi setlah kembali dari Aussie nya. Salam kenal, baru pertama mampir nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku udah balik siy hihihiy... ma kasih udah mampir, semoga ga bosen yaaaah :D

      Hapus
  15. Oooo
    *manggut-manggut*

    Banyak banget "Ooooo" dan manggut-manggut sayanya di post ini :D
    Campuran pelajaran Geografi sama Sejarah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaah.. ini cuman cerita perjalanan kog, perjalanan hidup #eaaa

      Hapus
  16. Mesti gue telat komen, saking sibuknya sih.
    Ini ceritanya masih pemanasan ternyata. Jadi....bawa jaket berapa akhirnya?

    Sampe segitunya ya peraturannya, tidak boleh bawa barang asing ke Negara Kanguru, takut ketularan kali. Hehehe.....

    Ditunggu cerita seru lanjutannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. eeeerrr.... tau deh yg lagi sibuk hehehe....
      aku cuman bawa 2 jaket siy, abis kopernya imut bgt gitu wkwkwk

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...