Rabu, 24 Desember 2014

Merapi

Ketika komputer atau smartphone kita sering nge-hang, mungkin seringkali kita mengambil jalan pintas untuk menekan tombol reset. Dengan menekan tombol reset kita 'memaksa' perangkat elektronik kita untuk memulai segala sesuatu dari awal, beberapa file yang belum kita save mungkin akan hilang. Untuk kasus smartphone mungkin saja reset yang kita lakukan untuk memulihkan fungsi nya memerlukan pengorbanan menghapus semua data-data. 

Itulah yang ada di pikiran saya yang random ini ketika mengunjungi Merapi dan melihat sisa-sisa bekas letusannya di tahun 2005. Saat itu rumah-rumah, kebun-kebun dan segala sesuatu yang ada di daerah itu habis dilahap aliran lava panas. Hewan-hewan ternak yang terperangkap tinggal tersisa tulang belulangnya. Motor-motor yang ditinggalkan pemiliknya seperti tanaman yang layu kepanasan - coklat, kering dan menyusut.

Beberapa bulan lalu, tujuh tahun dari peristiwa yang catastrophic itu, saya, Dayu Ary dan Lexis mengunjungi daerah bekas letusan Gunung Merapi di Jogjakarta. Konon katanya Gunung Merapi, Keraton dan Pantai Parangkusumo (Pantai Laut Selatan) berada dalam satu garis lurus. Di Merapi vegetasi-vegetasi baru sudah tumbuh subur dan rapat di tanah vulkanik, memulai suatu ekosistem baru. Saat itulah saya kepikiran soal reset. Walaupun dalam kasus ini reset nya drastis banget, harus hancur-hancuran hingga semuanya habis jadi nol - kosong. Dan seperti kata penjaga pom bensin pertamina kalau kita mau isi bensin, "dimulai dari nol ya."

Pasir-pasir dan batu bekas letusan gunung merapi sekarang di tambang oleh warga

Motor yang jadi korban

Tumbuh-tumbuhan sudah mulai tumbuh subur lagi
Bagi penduduk disana ketika bencana terjadi mungkin itulah mimpi terburuk mereka. Bahkan sangking menyeramkannya mungkin banyak yang tidak berani hanya untuk sekedar memimpikannya. Rumah, barang-barang, ternak, kebun yang dikumpulkan dalam waktu bertahun-tahun habis dalam waktu beberapa jam saja. Pernah gak kita meluangkan waktu beberapa menit saja untuk ngebayangin kira-kira apa yang akan terjadi dan gimana perasaan kita kalau besok pagi kita bangun dari tidur dan semua yang kita (anggap) punya kita hilang?

Betapa sering nya kita dengar istilah kalau apa yang kita miliki di dunia ini hanya pinjaman dari Tuhan, tapi lebih sering kita lupa dan menjalin suatu keterikatan dengan benda-benda itu. Seperti ketika setahun lalu saya kehilangan Blackberry yang sudah saya gunakan selama bertahun-tahun, saya mengikatkan diri saya dengan blackberry itu melalui kenangan yang telah kami lewati bersama, karena itu kehilangannya membuat saya sedih. 

Kecenderungan manusia untuk mengikatkan diri dengan benda dan/atau manusia lain lah yang mungkin membuat hidup ini selalu ga tenang karena selalu merasa takut kehilangan. Hal itulah yang membuat perusahaan-perusahaan asuransi makmur, menjadikan ketakutan dan kekhawatiran kita sebagai bisnis menguntungkan. Semakin banyak yang kita punya, maka rasa takut kehilangan itu akan semakin besar, dan semakin makmurlah perusahaan asuransi.

Yah, seperti yang saya bilang waktu itu 
"maybe that's what true freedom is, kita gak takut kehilangan apa pun lagi kalau kita ga punya apa-apa"
Tapi sepertinya kebebasan memang harus selalu diikuti oleh keberanian. Pertanyaannya, ada berapa banyak orang yang berani untuk ga punya apa-apa.

Lava dan copet mungkin hanya salah satu/dua cara untuk mengingatkan manusia bahwa setiap saat kita harus siap kehilangan. Kata orang-orang jaman dulu, dunia ini seperti roda yang berputar, dengan kata lain kehidupan ini adalah suatu siklus. begitu pula dengan kehilangan yang diawali dari kedapetan, akan berubah menjadi kedapetan lagi. Jadi kita harus selalu siap menyambut siklus: kedapetan - kehilangan - kedapetan. Dan yang challenging dari kehidupan ini adalah, kita ga akan pernah tau kado kejutan manis apa yang akan kita dapat setelah kehilangan. 

Seperti waktu saya ke Merapi, setidaknya ada dua peluang usaha baru setelah bencana itu: tambang pasir untuk bangunan dan wisata tur mengelilingi kawasan bekas letusan Merapi. Melewati gerbang selamat datang di kawasan Merapi ada beberapa operator tur di sisi-sisi jalan yang menawarkan tur keliling Merapi dengan mobil Jeep. Saya, Dayu Ary dan Lexis, ikut tur semacam itu menggunakan jeep. Ada 3 rute yang ditawarkan berdasarkan jarak, kami memilih yang paling dekat saja, melewatkan rute yang mencakup makam Mbah Maridjan.  

"dapet jeep ini darimana?" saya iseng bertanya sama guide yang merangkap supir jeep kami.

"cari di b*rniaga.com, mba," jawabnya santai.

Tur berakhir di mata air di kaki gunung merapi luput dari aliran lahar panas.


15 komentar:

  1. membaca postingan ini membuat saya kangen jogja :)

    BalasHapus
  2. saya memaca aja iya mas hehe

    BalasHapus
  3. aishhh,belum pernah ke merapi pasca musibah itu..penasran bangett

    BalasHapus
  4. kayaknya kalau saya melihat museum2nya itu bisa rada merinding juga, ya

    BalasHapus
  5. emang bener sih kadang dibutuhkan untuk mulai dari 0. Pernah lihat pameran yang mengangkat tema merapi pasca letusan dan waktu itu mikir hal yang sama.
    Seru banget kayaknya tour pake jeepnya itu Mba Mila.

    BalasHapus
  6. aku sudah kesana juga mbak belum di posting.

    BalasHapus
  7. Membayangkannya saja saya gak sanggup.. mudah2an yang kehilangan2 penduduk setempat dibalas oleh Allah dgn sesuatu yg pantas.

    BalasHapus
  8. aiih filosofis bgt tulisan ini.. hihii..
    keknya ntar pas pulang kampung aku mesti kesini.. utk menghayati makna kehilangan :D

    BalasHapus
  9. Iya, disaat kita gak punya apa-apa kita gak takut apapun, karena gak ada yg kita khawatirkan. domainnya rasa .. jadi kalau punya segalanya pun asal rasanya berfikir bahwa itu titipan, gak boleh terlalu melekat pd semua hal yg cuma pinjaman. Tapi...akhhh kok jadi berat gini bahasannya mil *_*

    BalasHapus
  10. Benar, mimpi pun kayaknya gak sanggup apalagi harus sengaja dibayangkan. :(

    BalasHapus
  11. Tulisanmu makin teduh mil, mungkin pengaruh usia.

    BalasHapus
  12. Aku ngilu liat museum merapi, yg rumah warga memamerkan benda2 yg ikutan terbakar lahar dingin. sedih dan ngak tau mesti bilang apa. Ngebayangin saat kejadian itu pasti nya kisruh banget :-(

    BalasHapus
  13. Hmm.. artikelnya bagus banget Mil, banyak quote dan pelajaran yang bisa diambil, terutama tentang konsep keterikatan kita pada suatu benda ataupun mahkluk lainnya...

    BalasHapus
  14. Btw, saya juga pernah tour melihat sisa-sisa erupsi Merapi. Dibalik bencana memang selalu ada hikmah yang bisa diambil. Dan kita manusia yang masih hidup, semoga diwajibkan untuk selalu mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang terjadi di muka bumi ini

    BalasHapus
  15. saya juga penah kesana kak setelah meletusnya gunung merapi, gak tega deh liad kondisi alam disana. Pohon2 di kanan kiri terlihat sangat jelas mati krn bekas terkena lahar panas

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...