Sabtu, 11 Juli 2015

Gunung Uhud

Salah satu lokasi yang dikunjungi dalam rangkaian ziarah umat muslim ke tanah suci adalah pegunungan yang terletak tidak jauh dari kota Madinah ini, Gunung Uhud.  Tempat ini adalah tempat terjadinya salah satu perang yang sangat penting dalam sejarah Islam, yaitu Perang Uhud. Dalam peperangan ini ceritanya Kaum Quraisy dari Mekkah mau menyerang Kaum Muslimin yang pada saat itu sudah hijrah ke Madinah.

Perang Uhud terjadi setelah Perang Badar, salah satu peristiwa perang yang penting lagi dalam Sejarah Islam. Peristiwa ini tepatnya terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 2 Hijriah. 1,433 tahun sebelum saya ada kesempatan berkunjung ke tempat yang sama, nyaris 1.5 abad. Jadi jaman sekarang kalau ada yang alasan gak kuat puasa karena banyak kerjaan, malu lah sama Kaum Muslimin 1.5 abad yang lalu, lagi perang aja puasa. 

Dalam Perang Badar, Kaum Muslimin yang awalnya berencana menghadang rombongan pedagang dari Mekkah yang mau melewati jalur Madinah terkaget-kaget karena Kaum Quraisy telah mempersiapkan pasukan yang terdiri dari 1000 orang untuk berjaga-jaga kalau rombongannya diserang Kaum Muslimin. Sementara itu pasukan dari Kaum Muslimin hanya 313 orang.

Waktu jaman itu memang ada ketegangan antara Kaum Quraisy Mekkah dan Kaum Muslimin yang asalnya juga dari Mekkah tapi di bully dan diusir oleh Kaum Quraisy Kafir sehingga terpaksa hijrah ke Madinah, dipimpin oleh Rasulullah SAW. Dan jaman-jaman itu memang acara serang-serangan antar musuh gitu wajar, bukan hanya terjadi di daerah Arab, tapi di seluruh belahan dunianya jaman itu. Dalam Perang Badar itu Pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah SAW menang telak terhadap Kaum Quraisy Mekkah.

Perang Uhud terjadi setahun setelah Perang Badar. Setelah kemenangan Kaum Muslimin di Perang Badar, Kaum Quraisy khususnya para pedagang jadi makin risau karena jalur perdagangan mereka melewati jalur Madinah yang dikuasai Kaum Muslimin. Maka Kaum Quraisy pun mulai mengatur strategi dan menghimpun kekuatan untuk melakukan serangan balasan, sekitar 3000 orang dan 1000 unta. 

Kaum Muslimin menyiapkan strategi pertahanan di Gunung Uhud. Pada saat itu Rasulullah SAW menempatkan 50 orang pemanah di satu bukit dan berpesan bahwasanya apa pun yang terjadi dengan rekan-rekan mereka dalam peperangan itu, entah menang atau kalah, para pemanah itu harus tetap di tempatnya. Tidak boleh beranjak. 

Tapi ketika saat itu posisi Pasukan Muslimin sempat berada di atas angin, sebagian Pasukan Quraisy mulai berbalik arah, di atas bukit para pemanah mulai berdebat. Sebagian beranggapan kalau mereka sudah menang jadi sudah boleh turun, sebagian bersikukuh menaati pesan Rasulullah SAW sebagai pimpinan / komandan bahwa mereka tidak boleh beranjak dari tempatnya walaupun pertempuran menang atau kalah.

Ketika sebagian pemanah turun bukit, Kaum Quraisy kembali berbalik lagi dan langsung menyerang bukit pemanah yang merupakan basis pertahanan Kaum Muslimin. Seketika itu Kaum Muslimin harus menderita kekalahan dalam Perang Uhud, banyak yang gugur termasuk para sahabat-sahabat Rasulullah SAW, yang langsung dimakamkan di lokasi itu.

Jadi dalam sejarah itu bukan hanya kemenangan yang harus dicatatkan untuk dikenang. Kekalahan yang dicatatkan dalam sejarah malahan menjadi suatu pelajaran penting yang bisa diambil hikmahnya oleh orang yang tidak mengalami sendiri. Kalau dalam konteks Perang Uhud pelajaran yang bisa diambil adalah kalah perang yang terjadi karena sebagian pasukan tidak menaati perintah pemimpin nya. Mungkin saat itu mereka juga belum mengerti jalan pikiran pemimpinnya dan kenapa mereka diberi perintah seperti itu. Pelajaran yang bisa diambil ya masalah kepatuhan terhadap pemimpin dan kesabaran menunggu. 

Skema Perang Uhud dari buku yang saya beli di Arab

Gunung Uhud dari jauh, paling depan bukit tempat para pemanah

Papan di pagar Makam Kaum Muslimin yang gugur dalam Perang Uhud

Bukit tempat para pemanah, ramai oleh pengunjung

View dari atas bukit

Kalau menurut saya bisa dilihat dari sudut pandang lebih luas lagi. Yang bisa dipelajari dari peristiwa Perang Uhud adalah kepatuhan Umat Muslim (bahkan sampai jaman sekarang) kepada Rasulullah SAW yang menyampaikan ajaran dan larangan dalam Islam. 

Dari kecil kan kita diajarkan, di likungan kita, di rumah maupun di sekolah tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan dan tentang hal-hal yang harus dilakukan sesuai dengan agama. Banyak yang masih jadi pertanyaan, kenapa sih gak boleh? Tapi mungkin lebih baik kalau....Ya ikutin aja dulu.

Saya jadi ingat dulu waktu pernah jalan-jalan sendirian di Thailand, di minivan antar kota sempat ngobrol-ngobrol sama seorang bule Amerika yang bertanya (setelah dia tahu saya muslim) kenapa saya gak makan babi. 

Waktu itu saya jawab, ya jujur aja saya ga makan babi karena dilarang oleh agama saya. Karena dengan gak makan itu saya gak merasa ada kerugiannya dan gak mati ya gak ada salahnya kalau saya menurutinya. 

Saat itu bisa aja saya mengajukan argumen gak makan babi karena penyakit-penyakit apalah itu, tapi pasti orang itu akan membantah kalau dijaman modern ini bisa dihindari dengan teknologi dan cara masak yang benar bla bla bla. Argumen yang gak akan ada habisnya karena saya yakin tidak ada satupun diantara kita yang ahli soal perbabian dan mengerti dengan yang kita omongin. Sama kayak soal berdebat tentang kepercayaan yang berbeda, buat saya itu mah buang-buang waktu. Kayak berdebat tapi yang satu ngomongin Gajah dan yang satu ngomongin Badak. 

Jadi saya hanya jawab, ya karena dilarang. Kalau ditanya kenapa, saya belum tau jawaban pastinya. Sama kayak anak kecil yang main-main dijalanan terus dimarahin sama orang tuanya, anak itu pasti belum paham soal ditabrak mobil walaupun dijelasin panjang lebar karena anak kecil belum pernah melihat kejadian gitu dan belum ngerti akibatnya. Yang mereka tahu hanya gak boleh main dijalanan. dengan bertambahnya usia dan pengetahuan mereka, akhirnya mereka baru mengerti kenapa gak boleh main dijalanan.

Sama kayak ada yang pernah tanya sama saya, kenapa sih harus puasa? Saya gak jawab dengan lagu Bimbo, ada anak bertanya pada bapaknya buat apa berlapar-lapar puasa. Saya juga gak jawab dengan berbagai teori kesehatan yang menyatakan bahwa berpuasa sebulan itu ternyata baik untuk kesehatan karena jadi semacam detoks. 

Saya bisa aja bilang kalau dengan ngerasain lapar trus gak bisa makan saya jadi merasa lebih humble dan jadi hesitate dengan kebiasaan beli makanan berlebihan trus tidak menghabiskannya. Dengan mengenal rasa lapar saya jadi lebih empati terhadap banyak orang-orang yang gak seberuntung saya karena buat mereka rasa lapar bukan hanya ketika bulan puasa. 

Bisa aja saya bilang dengan puasa saya belajar buat tidak mengumbar-ngumbar emosi, ya bukan nahan sih sebenarnya, kalau laper dan lemes ya mana ada energi buat marah-marah, jadi terpaksa mengalah dan sadar ternyata dengan mengalah sedikit gak ada salahnya kog, malahan bagus hemat energi.

Tapi saya gak bilang panjang lebar kayak gitu. 

Waktu saya ditanya kenapa harus puasa, saya cuma jawab, ya karena wajib puasa buat agama saya. Karena buat saya apa pun yang saya bilang tentang efeknya puasa buat saya gak akan ada gunanya kalau orang lain gak bisa melihatnya sendiri dari perilaku saya sehari-hari. Dan kalau orang sudah bisa melihatnya dari perilaku sehari-hari, gak perlu diomongin lagi kan?






18 komentar:

  1. Loh ? Mila baru pulang umroh ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu latepost, udah lama gw ke sono

      Hapus
  2. asik! pengen juga cobain umroh, lihat situs - situs bersejarah islam seperti gunung uhud :) pengen ke makkah juga. Semoga kesampaian nanti :)

    BalasHapus
  3. Bener Mil, ngapain menjelaskan tentang hal hal yang orang juga ga akan ngerti. Eh btw perlu ditambahin penjelasannya. Para pemanah itu pada turun gunung untuk mendapatkan harta rampasan perang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, mereka berebutan bounty rampasan perang. makasih cipu udah dilengkapin :D

      Hapus
  4. Saya pernah dapat penjelasan dari seorang ulama yang mengajar ilmu Tauhid. Pemahaman Mbak Mila sudah benar, menurut ilmu tauhid, seorang hamba beribadah (apakah shalat, puasa, zakat) sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Swt semata. Wallahu a'lam bishshawab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehee saya belum pernah belajar ilmu tauhid. semoga ya yang saya pahami tidak melenceng. wallahu a'alam :)

      Hapus
  5. betul banget mbak cukup kita aja yang tahu kalau puasa untuk kesehatan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo menurut saya puasa itu ibadah personal, saya aja jarang banget nanya ke orang buat basa basi puasa atau enggak heheheeee...

      Hapus
  6. Balasan
    1. mudah2an ada rejeki secepatnya ya, amin ;)

      Hapus
  7. Semoga besok entah kapan ada kesempatan untuk berkunjung ke Jabal Uhud, nice view nya dan nice tentang kepatuhan pada pemimpin, pelajarn dari kekalahan perang uhud.

    BalasHapus
  8. Semoga besok entah kapan ada kesempatan untuk berkunjung ke Jabal Uhud, nice view nya dan nice tentang kepatuhan pada pemimpin, pelajarn dari kekalahan perang uhud.

    BalasHapus
  9. sejarahnya mengingatkan saya waktu sekolah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sudah lupa semua pelajaran sekolah malahan hehehe

      Hapus
  10. perang uhud.. sejarahnya ada di pelajaran agama waktu sekolah, subhanalloh..

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...