Minggu, 03 September 2017

Birthday Trip 2017 : The Beginning

Ini cerita tentang birthday trip. Sepertinya trip semacam ini akan jadi ritual, setiap tahunnya saya akan melakukan satu perjalanan yang ada misinya di hari ulang tahun. Tahun lalu saya lari half marathon untuk pertama kalinya di Maybank Bali Marathon. Tahun ini misi saya adalah menyusuri pulau Jawa dari Barat ke Timur dengan kereta api dan melihat sunrise di ujung timur Pulau Jawa. Misi ini membawa saya ke Banyuwangi. 

Awalnya saya merancang perjalanan ini untuk solo backpacker karena di usia yang sekarang agak susah mengajak kawan-kawan sebaya untuk ikut traveling, karena di umur-umur segini lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan dan keluarga, kebanyakan kawan saya pada punya baby atau balita. Karena itu pula saya memilih lokasi selanjutnya yaitu Ijen. Secara tidak sengaja saya pernah dengan ada bapak-bapak di kantor yang bilang kalau Ijen itu artinya “sendiri”. Seketika itu saya putuskan mau ke Ijen. Kebetulan searah dengan misi matahari terbit. 

Meanwhile lagi di daerah sana, sekalian saja ke Taman Nasional Baluran. Sudah lama saya kepingin kesana, Little Africa in Java. Saya belum pernah ke savana. Tince sudah mendahului saya pergi ke Baluran tahun lalu bersama keluarganya dan menyewa resort disana, jadi saya tinggal ikuti jejaknya Tince. Kalian bisa kenalan lagi sama Tince di postingan birthday trip saya tahun lalu. 

Sebulan sebelum pergi Pagit memutuskan ikut. Setelah cutinya di approved kantor, kami langsung pesan tiket. Diluar dugaan ada satu lagi yang gabung, Susi. Perjalanan yang tadinya saya pikir akan saya jalani sendirian (seperti kemungkinan besar sisa hidup saya beberapa tahun mendatang), berubah menjadi perjalanan pakai hashtag girlsquad atau boleh juga hashtag TimBaluran. 

Rencana awal pulang dan pergi mau pakai kereta, tapi setelah pesan tiket berangkat baru sadar kalau tanggal 1 september - dimana trip berakhir, bertepatan dengan Idul Adha. itinerary pun direvisi. Kami pulang lebih awal 2 hari dari yang direncanakan, menggunakan pesawat dari Surabaya dan menambah satu hari untuk jalan-jalan di kota Surabaya. 

Kami berangkat jam 10 pagi dari stasiun kereta Pasar Senen naik kereta Ekonomi-AC. Saya pernah tulis kalau perkembangan kereta api tahun-tahun belakangan ini luar biasa meningkat, jadi jauh lebih nyaman. Bahkan sekarang kalau mau tukar bookingan tiket tidak perlu antri di loket, langsung print boarding pass di mesin yang sudah disediakan. Keretanya pun sekarang bersih dan dingin karena dipasang AC walaupun kereta Ekonomi. 

Tempat duduk di kereta ekonomi memang lebih padat dari kereta bisnis dan eksekutif, tapi buat saya sih tidak masalah. Apalagi kebetulan kami dapat tetangga tempat duduk yang seru, seorang laki-laki muda dan seorang ibu-ibu dengan anak balita perempuannya. Dengar cerita mereka tentang masa-masa kelam kereta ekonomi jaman dulu, saya jadi makin takjub dengan transformasi PT. KAI. Bukan hanya keretanya, tapi stasiun-stasiunnya terlihat jauh sangat berbeda. Kalau naik kereta di Jawa sekarang sudah tidak kalah dengan waktu saya naik kereta dariMelbourne ke Ballarat di Australia

Tidak ada kereta langsung dari Jakarta ke Banyuwangi, kami harus turun dan ganti kereta dari Jogja atau Surabaya. Karena waktunya lebih pas, maka kami transit di Surabaya dan lanjut naik kereta lain ke Banyuwangi. Kereta dari Jakarta tiba tepat waktu di Stasiun Gubeng Surabaya, sekitar pukul 1.30 dini hari. Kereta dari Surabaya ke banyuwangi berangkat jam 4 dan tiba di Stasiun Banyuwangi Baru sekitar jam 11. 

Keluar dari stasiun kami di sambut oleh orang-orang yang menawarkan transport ke kota. Ternyata kotanya jauh dari stasiun banyuwangi baru, tapi kalau mau ke Pelabuhan Ketapang tinggal menyebrang jalan. Kami melewati semua orang yang menawarkan transport tapi ada satu bapak-bapak di angkot yang saya tanya, apakah angkotnya lewat ke hotel watu dodol atau tidak. Disitu tempat kami menginap. Ternyata tidak lewat, tapi si bapak menawarkan untuk mengantar. 

Awalnya kami mengelak dengan bilang mau cari makan dulu karena lapar. Kami jalan sampai ke jalan raya dan makan di depot dekat stasiun. Ketika kami keluar mau menunggu angkot, tiba-tiba si bapak angkot kuning muncul. Ya akhirnya kami naik angkot itu juga, dengan membayar 20 ribu per orang hingga tiba ke hotel. Kelak angkot kuning itu pula yang mengantar kami hingga ke Taman Nasional Baluran.

TimBaluran dan angkotnya (photo credit: susi)


18 komentar:

  1. Pertamax!

    Masih model nggak, seh, komen begitu???

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah gak kepake jaman now hahahaa

      Hapus
  2. Ijen, Siji artinya satu atau sendiri. Lama sekali saya tidak naik kereta api, jadi belum tahu perkembangannya seperti apa. Mungkin sudah 15 tahunan, ah jadi ingat dulu ,tidak kebagian tempat, akhrinya berdiri di kamar WC, dari Solo sampai Jakarta. Berdiri, berjubel. Bau apek. Kalau traveling, bolehlan ngajak-ngajak saya biar ada temannya. Tapi gratis ya ?, angkutan kuning, ah dikampung saya juga masih ada. EPngingatkan jamannya pak harto, apapun apapun serba kuning :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wuih dari solo sampe jakarta berdiri.. duduk aja pegel wkwkwk..
      sekarang udah bagus banget dan rapi.

      Hapus
  3. setuju gw kalo kereta sekarang uda bagus bgt. bulan okt insya Allah gw mau ke ijen dan baluran jg nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bulan kemarin donk. jadi berangkat?

      Hapus
  4. Lucu banget sih ada tema khusus birthday trip gini. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. baru mulai tahun lalu kog wkwkwk

      Hapus
  5. Emberaaan mba, kereta skrng udh enak..ke bandung, mending pake ekonomi..80 rebu tanpa macet..hehe..
    Wuiih..btw gaya sekali ada birthday trip.. krenzzzz..hehe..
    Aku juga sih mba, kalo ultah skrng pengennya ga rame2.. tapi menikmati alam aja.. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi klo yg 8-rb berenti disemua stasiun jadi lebih lama ya? eh tapi mungkin lbh lama kalau naik mobil lewat cikampek sih sekarang :p

      Hapus
  6. Mpok milaaaa

    Duh, dah lama gak main ke blog lu. Seru yah jalan-jalan mulu. Ajakin gw dong mbak...

    BalasHapus
  7. Ahhh.. Ga sabarr mo baca lanjutannya.. Iya bener, KAI luar biasa transformasinya. Dulu datang ke Jakarta masih ngerasain yg namanya naik KRL orang2 pada naik sampai ke atap. Skrg mana boleh, pintu ke ganjel aja kereta ga bisa jalan..haha.. Keren lahh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. KRL jg banyak bgt perkembangannya

      Hapus
  8. Hebat ya bapak angkotnya, persisten :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kayaknya disana jarang pengunjung hahaha

      Hapus
  9. Tante Mila, Banyuwangi sekarang baguus lho
    pantai pantainya
    juga banyak festival nya

    pilihan tepat tuh kalo jalan jalan ke banyuwangi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kmrn jg disana baru tau kalau ternyata banyak festivalnya, kepingin sih balik lg ke sana, mudah2an kalau ada acara lari2an aku mau ikut

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...