Senin, 23 Oktober 2017

Sepatu Juga Punya Cerita

Satu bulan lebih saya absen dari menulis blog. Padahal banyak yang mau diceritakan dari perjalanan ke banyuwangi, baluran dan ijen bulan agustus lalu. Minggu lalu saya sempat ikut acara yang diadakan alumni kuliah saya, lari relay dari jakarta ke bandung lewat puncak, 16 orang. Minggu depan saya juga lari Half Marathon di Jakarta Marathon. 

Tidak seperti persiapan HM tahun lalu, HM kali ini agak keteteran latihannya. Sejak awal tahun sebenarnya latihan lari saya sudah mulai keteteran, pace dan jarak long run menurun drastis. 3 bulan terakhir saya baru mulai bisa mengatur kembali pola latihan, hingga saat ini sih lumayan ada peningkatan walaupun rasanya kayak mulai dari nol lagi.

Saya mulai gandrung lari tahun 2013. Sebenarnya kalau joging pagi-pagi waktu wiken sih sudah lama. Saya sudah mulai pakai aplikasi lari sejak masih pakai Blackberry, waktu itu saya pakai endomondo. Saat itu saya kalau lari rutenya cuma keliling satu blok yang jaraknya tidak sampai 2km. Baru sekitar tahun 2013 saya menemukan hype-nya para runner yang punya blog dan vlog di youtube. Waktu itu mungkin sudah ada acara race dan komunitas lari di jakarta, tapi mungkin tidak seheboh sekarang, dan karena gak ada kawan-kawan disekitar saya yang join begituan jadi saya juga gak tahu.

Niat rajin lari sudah ada dari tahun 2011, yang diawali dengan beli sepatu. Waktu itu saya tidak riset mengenai sepatu yang mau saya beli. Saya beli hanya karena keterangannya running shoes, warnanya biru muda fav saya dan diskon 30%. Bisa dibilang itu sepatu lari serius saya yang pertama, Reebok, tipenya saya juga tidak tahu. 

Sempat beberapa saat lari rutin di taman belakang kantor dan keliling komplek, saya kena demam berdarah komplikasi tipus yang membuat sepatu reebok biru harus cuti. Hingga tahun 2013, saya berniat mau hiking ke Rinjani, tapi setelah baca sana-sini sepertinya persiapan fisik sangat diperlukan. Kemudian saya install aplikasi nike run di iphone saya, membeli treadmill dan mengeluarkan sepatu Reebok biru dari dalam dusnya. Dalam beberapa bulan, dari jarak tempuh yang hanya berkisar 2km-an saya berhasil mencapai 5km pertama saya di tahun 2013 itu pakai Reebok biru. Saya baru ke rinjani tahun 2014, menggunakan sepatu rebook biru yang kemudian saya kasih nama sepatu Rinjani. 

Untuk menghadiahi pencapaian lari karena telah menembus 5km, saya membeli sepatu lari serius saya yang kedua yaitu Nike Free. Ketika beli yang ini saya sudah mulai riset sedikit-sedikit. Saya suka sih pakai Nike Free karena ringan banget. Saya pun makin semangat lari di treadmil, di taman tebet dan komplek. Saat-saat itu saya juga ikut Bikram Yoga selama 2 bulan dan sempat ikut latihan Muaythai di tebet. Badan terasa fit banget jaman-jaman itu. Kemacetan Jakarta belum separah sekarang jadi entah kenapa waktu dan energi saya berasa jauh lebih banyak. 

Walaupun terasa fit dan hiking rinjani terlaksana, namun hingga tahun 2015 jarak lari saya gak pernah lebih dari 5km-an. Sepatu Reebok biru sudah koyak-koyak karena saya pakai ke Rinjani, jadi saya beli sepatu Reebok lain sebagai gantinya. Sepatu Reebok yang ini pun saya tak tahu tipenya. Waktu itu targetnya hanya mau cari running shoes yang harganya dibawah 1jt, jadi saya tetap punya dua sepatu lari untuk ganti-ganti. Sepatu rebook yang kedua itu kelak adalah sepatu yang saya gunakan untuk naik ke Ijen, sehingga sekarang saya kasih nama Sepatu Ijen.

Di tahun 2015 saya baru bikin target untuk menembus 5km, yaitu lari 10km pada saat ulang tahun saya alias birthday run. Jadi butuh waktu hampir 2 tahun buat saya, dari 2013 ke 2015, untuk mencapai jarak lari 10km. 

Awal tahun 2016 secara impulsif saya ikut mendaftar Race pertama saya, langsung Half Marathon! 21.1 km, dua puluh satu koma satu kilo meter. Jarak dari rumah saya ke kantor saja hanya 11km. Half Marathon itu nyaris jarak Pulang Pergi dari rumah ke kantor saya. Saya hanya punya waktu kurang dari setahun untuk persiapan. Tapi cukup sih, saya latihan pakai program training yang ada di aplikasi nike run. Selain itu saya juga mulai riset soal makanan dan latihan-latihan lain untuk menunjang lari, seperti strength training buat core dan yoga untuk strecthing. 

Kebetulan ketika lagi jalan-jalan di Lotte Avenue ada counter sepatu Asics yang lagi sale. Lumayan banyak diskon cuci gudangnya, akhirnya saya beli Asics GT-1000, yang hingga saat ini masih jadi sepatu favorit karena paling enak dipakai walaupun berat. Ganti dari Nike Free yang ringan banget ke Asics lumayan terasa di kaki, waktu pertama saya pakai mulai berasa di kilometer ke-6. Tapi lama-lama terbiasa juga sama beratnya. 

Beberapa bulan yang lalu sepatu Nike Free yang saya beli tahun 2013 sudah waktunya pensiun. Kalau dipakai lari agak jauh terasa keras lama-lama kayak telapak kaki langsung injak aspal. Tapi karena penampilannya masih bagus, sekarang masih saya gunakan untuk jalan-jalan. Setelah browsing sana sini, saya memutuskan beli Nike Pegasus untuk ganti Nike Free karena Nike Pegasus lebih cocok untuk long distance running - menurut beberapa sumber yang saya baca.

Ternyata nyaman juga pakai Nike Pegasus. Walaupun tidak seempuk Asics kalau dipakai lari jarak jauh tapi lebih ringan. Harganya juga lebih murah dari sepatu Nike lain yang untuk long distance running walaupun gak murah juga ya, sampai sekarang masih suka nyesek kalau injak becek

Khusus untuk lari saya rela deh keluar uang lebih untuk beli sepatu, karena sepatu itu penting untuk mencegah cedera dan juga untuk kenyamanan. Alhamdulillah sampai sekarang saya belum merasakan sakit lutut atau sakit-sakit aneh lainnya di kaki, palingan pegal aja kalau habis lari lebih jauh dari biasanya. Kalau baju sih saya gak beli yang mahal-mahal, kadang kaos yang enak dipakai lari itu yang sudah lemes karena dipakai tidur. Sekarang-sekarang malah saya kalau lari pakai kaos seragam dari acara race.

Yah jadi itu lah kisah-kisah sepatu dan mantan sepatu yang telah menemani saya berlari dari kenyataan hidup mulai dari tahun 2011 hingga sekarang. Kadang kalau lihat sale sepatu atau lihat sepatu model baru rasanya pingin beli, tapi kalau diturutin beli sepatu terus gak punya ongkos buat travelling lagi donk.

9 komentar:

  1. Wah, keren Mila, tiap sepatu ada ceritanya. Aku juga harus rajin jalan-jalan nih biar sepatunya lebih "bersejarah", hihihi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah bosan bolehlah lempar kemari, asal belum berlobang diujung jemarinya.

      Hapus
  2. mana foto sepatunya Tante??
    kan sepatunya juga pingin nampang di blog

    BalasHapus
  3. Mana photo sepatunya, jadi penasaran banget, kalau sekarang saya justru suka nyeker kalau olah raga lagi. Masalahnya ya itu, harga yang semakin mahal. Semurah-murahnya nike tetap saja masih diatas 4 ratus ribuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, saya juga penasaran mas bumi hahaha

      Hapus
  4. sepatu emang penting banget, idaman saya tu asics atau onitsuka tiger.. yg ga lari kayak saya aja doyan tu sepatu wkwkwkwk

    BalasHapus
  5. hehehehe.. awal pengen ikutan lari.. udah donlod aplikasi eh gak ada teman nya.. ya wis vacum lagi.. sekali nya nemu teman teman di Sidoarjo Night Run lha kok waktu nya yang gak ada.. alhasil sepatu saya hanya mendiami kardus nya saja.. niat niat niat.. ngumpulinnya gimana sih nek?

    BalasHapus
  6. btw saya ke ijen pake sandal gunung naiknya.. pas turunnya di tantang nyeker sama teman teman.. nyampe bawah telapak rasanya penuh kapal.. nyeker yuk nek..

    BalasHapus
  7. Aku tuh kalo liat sepatu olahrga gini sdg prmo di mall, lgs deh yg muncul dlm kepala, "pgn beli ihhh, biar makin semangat latihan lari" . Wkwkwkwk tp suamipun tahu itu semua hanya modus. Biasanya walo sepatunya ttp kebeli, larinya ntah kapan tau aku lakuin -_-

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...