Sabtu, 05 Desember 2009

The convenience of public transportation

Masih dalam rangka Backpacking perdana Singapore-Malaysia.

Sebagai Turis dengan budget terbatas di negeri orang, saya dan rombongan banyak menggunakan transportasi umum seperti Bus dan MRT. Padahal kalau di Jakarta boro-boro naik bus, bahkan bus trans jakarta sekali pun. Membayangkan perjuangannya untuk berdesak-desakan saja sudah capek duluan *manja mode ON*. Jadi walaupun seringkali terjebak macet berjam-jam sampai betis dan pinggang pegal-pegal, tetap saja menyetir sendiri dengan kendaraan pribadi merupakan pilihan yang paling nyaman dan saya harus banyak bersyukur.

Di negara tetangga kita ini lah, I discover the meaning of "the convenience of public transportation". Rute-rute MRT dan Bus mudah di mengerti dan terpampang jelas di setiap terminal dan halte-halte. Rute antara Bus dan MRT terintegrasi. Coba kalau ada turis di Jakarta di suruh naik Bus, Angkot atau Metromini.. kalau ga nyasar-nyasar plus mabok darat, hebat tuh :p

Penumpang-penumpang nya juga lebih tertib di banding di sini, jadi ga ada yang dorong-dorongan, desak-desakan masuk ke bus, seperti di Bus Trans Jakarta. Mungkin juga karena disana jumlah penduduknya lebih sedikit kali ya, jadi lebih mudah di atur daripada di mari.

Ada satu lagi yang rasanya sulit di terapkan di Jakarta, yaitu Hop-on Hop-off city Tour. Di Singapore dan Kuala Lumpur ada Bus yang mengantar turis-turis keliling kota dan singgah di objek-objek wisata yang terdapat di kota tersebut. Karena kotanya yang relatif lebih kecil dan traffic-nya yang less crowded, dalam waktu satu hari kita bisa khatam keliling satu kota. Kalau di Jakarta mah seminggu juga ga khatam kalau mau kelilingin satu kotanya. Saya aja yang dari gede di Jakarta belum pernah seumur-umur yang namanya kelilingin kota Jakarta *tepok jidat*

Bayar RM 38 saja kita sudah bisa mengembara di kota Kuala Lumpur, thanks to KL Hop-on Hop-off [naik-turun sesuka hati] city tour. Bagi yang pertama kali ke Kuala Lumpur, cara ini paling efektif dan efisien, karena Bas Lawatan ini melewati semua objek wisata yang ada di Kuala Lumpur. Mereka bahkan menyediakan earphone di setiap tempat duduk yang menjelaskan ke kita tentang objek wisata yang sedang kita lewati dengan berbagai pilihan bahasa.

Satu tiket seharga RM 38 itu berlaku selama 24 Jam. Jadi andaikata kita turun di salah satu tempat pemberhentian, kita dapat naik Hop-on Hop-off yang lain hanya dengan menunjukan tiket tersebut, ga perlu bayar-bayar lagi. Jurang masa 30 minit antara setiap bas.

Tempat-tempat yang dilalui termasuk objek wisata, hotel dan tempat perbelanjaan. Diantaranya KLCC - Petronas tower, KL Tower, Bird Park, Butterfly Park, National Mosque, Aquaria, China Town, Sentral Market (pasar seni), Dataran Merdeka, National Palace, National Museum and many more.


Selasa, 03 November 2009

Petronas Tower

Belum ke Malaysia kalau belum melihat Menara Petronas, salah satu menara tertinggi di dunia. Kami pun melihat nya: pagi, siang dan malam... seriously. hehee...

Menara Petronas Pagi Hari

Masih ingat di posting sebelumnya waktu saya bilang penderitaan kami gara-gara MENGANTRI belum selesai? Ritual antri yang akan kita jalani selanjutnya adalah mengantri tiket untuk melawat jejantas udara (visiting skybridge) nya Menara Petronas. Tiketnya ternyata percuma (gratis), tapi ngantri nya.. wuidiiihh.. berkelok-kelok sepanjang beberapa ratus meter. *okey.. bagian ratusan meternya itu memang berlebihan*

Turun dari Kereta Tanah Melayu Berhad (KTMB) kami langsung naik MRT ke KLCC. Sampai disana jam 8 kurang waktu Kuala Lumpur, ruangan sudah penuh sesak dengan wisatawan yang mengantri tiket. Jangan tanya kapan kita mandi nya, karena memang belum pada mandi semua hehee... Pun begitu kita tetap berhati-hati dengan penyeluk saku (copet).


Menara Petronas Siang Hari

Setelah sabar MENGANTRI, kami mendapatkan tiket untuk melawat jam 12 siang. Karena jeda waktunya masih lama, kami memutuskan untuk mencari sarapan dan menitipkan backpack di rumah tumpangan (hostels) kami yang terletak di Bukit Bintang, ga jauh dari KLCC. Setelah ganti baju (doang, teteup belum mandi) kita kembali ke KLCC.


Sebelum naik ke sky bridge, kita di suguhi tayangan 3D lengkap dengan kacamatanya. Kemudian kita naik lift dan memulai sesi foto-foto di jembatan yang menghubungkan dua menara kembar tersebut. Para pelawat di beri waktu 10 menit di atas jejantas udara tersebut. Beuh.. ga sebanding sama penantiannya. Tapi ga sampe 10 menit juga udah bosen kog, ternyata begitu doang *ditoyor* hihihii...


Menara Petronas Malam Hari


Menara ini kelihatan cantiiiiiiiiiiiiiiiik sekali di malam hari *seperti yang nulis*.

Di malam terakhir kita di KL, ditraktir makan di restoran asik yang terletak tepat di depan Menara Petronas bernama NZ oleh sepupunya Cipu yang tinggal lama di sana dan bersedia menemani kita pusing-pusing (jalan-jalan) di KL. Jadi sembari menikmati makan malam, kita bisa menikmati pemandangan Menara Petronas di waktu malam.

Senin, 02 November 2009

Keretaapi Tanah Melayu Berhad (KTMB)

Satu setengah hari menjelajahi kota Singapura, akhirnya tiba saat kami bertolak ke Malaysia. Beberapa hari sebelum berangkat, kami telah memesan tiket KTMB secara on-line. Sebenarnya bisa saja kami naik dari Singapura langsung ke Kuala Lumpur, tapi demi penghematan budget kami memutuskan naik dari Johor Bahru untuk menuju Kuala Lumpur.

Kenyataan memang tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada saja hal-hal yang tidak pernah terkira sebelumnya. Dari Singapura ke Johor Bahru kami harus naik bus dulu. Berbekal saran dari orang-orang India pemilik restoran di bawah penginapan kami, berangkatlah kami ke Queen Street Bus Terminal Ternyata kami menemui antrian yang panjaaaang..

But, it was just a beginning.

It turns out to be, kami menghabiskan waktu ber-jam-jam hanya untuk mengantri. MENGANTRI di imigrasi Singapura, MENGANTRI untuk naik kembali ke bus ke Johor Bahru, MENGANTRI di imigrasi Malaysia... dan waktu terus berjalan, pukul 10.30 waktu Malaysia dan kami masih mengantri di imigrasi padahal jadwal kereta pukul 11.

And what made it worst is that we don't know the location of Train Station. Bahkan setelah kasak kusuk kesana kemari, tanya ke kiri dan ke kanan, kog ya ga ada yang tau pasti letak stasiun kereta di Johor Bahru. Untungnya kita sempat ketemu dengan dua orang cewe manis yang baik hati, yang rela nungguin kita di imigrasi Malaysia dan menunjukkan jalan ke stasiun yang ternyata hanya selemparan kancut *tepok jidat*.

Kami pun berlari-lari di kejar waktu, dengan menggendong backpack, menahan HIV (hasrat ingin vivis), dan jantung yang berdebar-debar. Eniwei... akhirnya kami tiba tepat waktu *fiuuhh*.
It was happy ending story afterall.


Tampak luar Kereta Tanah tersebut sama persis dengan kereta api yang ada di Indonesia, tapi interiornya yang beda. Lebih bersih dan terawat. Kami membeli tiket kereta yang ada tempat tidur nya supaya bisa sekalian istirahat di perjalanan menuju Kuala Lumpur.


Setelah melewati malam di kereta, pukul 7 pagi kami tiba di Kuala Lumpur Central Station... dan kami masih harus MENGANTRI tiket di Petronas... *sigh*


Kamis, 29 Oktober 2009

Singapore Tour a la Kere

Kalau punya waktu satu hari menjelajah kota Singapura dengan budget minim, kemana kah tujuan kamu?

Ke tempat-tempat inilah Turis Kere berkunjung:



1. Little India


Kami memutuskan untuk menghabiskan malam pertama kami di Singapura dengan berkunjung ke Little India. Maksudnya sekalian berburu kuliner khas India disana. 

Di depan Little India yg gemerlap sama lampu-lampu

Kebetulan untuk mencapai Little India dari penginapan kami hanya perlu naik bus ($1/org) dan jalan sedikit.

Ternyata saat itu para umat hindu sedang merayakan Deepavali Day yaitu semacam festival untuk merayakan kemenangan Good VS Evil yang di simbolisasi dengan kemeriahan cahaya-cahaya lampu. Jadi kebayang kan cantik nya, berjalan-jalan di tengah kerlap kerlip lampu berbagai warna di malam hari, kadang terhirup aroma dupa dan bunga-bungaan. Mungkin karena terlalu terbawa suasana kita jadi lupa buat makan malam disana, tapi akhirnya kita makan malam di restoran India 24 jam yang terletak di bawah penginapan kita. Toh akhirnya kuliner India juga kan? hehee..


2. Esplanade & Merlion Park


Perjalanan perdana para Turis Kere kali ini benar-benar di warnai dengan keberuntungan. Penginapan kita ternyata tempat yang sangat strategis. Secara tidak sengaja, di hari pertama kami berjalan dan berjalan hingga kog akhirnya bisa tiba di Esplanade. Dan keesokan pagi nya kita kembali lagi ke Esplanade untuk sesi berpoto. Dan ketika kita berputar ke sisi sebelah Esplanade... TERNYATA... di seberangnya ada Merlion Park.



Background nya : Patung Merlion & Esplanade



Ya ya ya.. kita baru tau.. kalau ternyata Merlion Park dan Esplanade itu seberang-seberangan (doh..kemana aja) hihihiii...

 
Jadi, berapa ongkos yang kita perlukan untuk mengunjungi Esplanade & Merlion Park?


$0



Esplanade itu adalah gedung theater, kalau disini mah kayak Theater Ismail Marzuki (TIM) gitu kali ya. Tapi kita tidak masuk kedalamnya. Dan sayang nya lagi tidak sempat melihat kecantikan Esplanade waktu malam karena kepepet waktu.

Kalau patung Merlion itu patung kepala singa berbadan ikan yang merupakan ikon kota Singapura. Yaaa.. klo disini mungkin mirip dengan patung ikon kota surabaya gitu kali ya? *penulis ngarang ga boleh ada yang protes*


3. Orchard Road

 
Jalan ini terkenal sebagai pusat perbelanjaan di Singapura. Beberapa tahun yang lalu, mungkin kita akan takjub melihat mall-mall disini, bahkan orang-orang kaya Indonesia kabarnya banyak yang bela-belain belanja barang ber-merk sampe ke sini.

Tapi kalau di lihat sekarang, seperti nya biasa saja ya. Mungkin karena di Jakarta sendiri sudah banyak mall yang megah-megah. Selain itu outlet-outlet ber-merk yang ada di sini sepertinya sudah buka cabang semua di Jakarta.


House of Condom, blm ada di Indonesia nih
Yang belum buka cabang di Jakarta seperti nya hanya outlet yang seperti poto di atas heheheee...




4. China Town



China Town -nya Singapore

Hati-hati bagi para turis ber-budget minim kalau berkunjung ke sini. Harus bisa tahan napsu belanja-belanji, karena disini banyak terdapat pernak-pernik yang menarik.

Untuk mencapai China Town kami menggunakan transportasi favorit kami - MRT, seharga satu dollar-an.

Jangan sampai terjebak dengan harga dalam dollar. Kalau saya pribadi yang hampir seumur hidup menggunakan mata uang yang terdiri dari ratusan dan ribuan angka di tiap lembarnya, jadi sering lupa kalau melihat harga yang hanya terdiri dari angka satuan dan puluhan. Kesannya tuh murah banget, padahal setelah di kalikan kurs nya, ternyata ga semurah itu.

Rabu, 28 Oktober 2009

Naik MRT tut tut tut.. siapa hendak turut..

Hehee..baru tau kalo MRT itu kepanjangannya Mas Rapid Transit karena mau nulis postingan ini *gubrak*

Padahal di Singapore, sarana transportasi ini yang jadi pilihan kita - selain bus, karena ongkosnya yang murah meriah. Murah kalau dibandingkan naik taksi tentunya, kalau dibandingkan sama jalan kaki ya tentu lebih murah jalan kaki.

Kelebihan dari negara tetangga kita ini adalah sistem transportasi nya yang terintegrasi dan ga ribet. Keterangan jalur yang terpampang di setiap terminal MRT dan Bus dibuat sedemikian sehingga sangat sistematis, bahkan untuk pendatang yang pertama kali melihatnya tidak memerlukan waktu lama untuk memahami. Ya tentunya kita harus tau dulu tujuan kita. Tapi mungkin karena kita orang Indonesia dengan peribahasanya "malu bertanya sesat di jalan", kayaknya kurang afdol kalau ga tanya-tanya ke orang *lirik cipu*

Tiket MRT dibeli melalui mesin. Di terminal MRT bandara Changi, dengan penuh tekad kita mengamati mesin ajaib tersebut , menekan-nekan semua tombol, memasukkan uang ke setiap lubang yang ada, dan hampir putus asa. Kemudian di sebelah datang seorang kakek. Dengan pandangan penuh harap akan diajari cara menggunakannya, kita langsung mengalihkan perhatian ke si kakek itu yang dengan ekspresi tidak kalah bingung berkata, " I dont know how to use it".

Akhirnya datang sepasang turis asing, yang kelihatan lebih pintar mencoba menaklukan mesin tiket tersebut. Kita menunggu sambil mengamati dengan seksama dan akhirnya mereka berhasil. Horeeee... dan kita pun akhirnya mendapatkan tiket MRT pertama kita.

Di siang hari kedua kita di Singapore, kita berniat naik MRT dari Sommerset menuju City Hall, terminal yang dekat dengan Esplanade. Saat itu arus penumpang sangat deras, berlarian menuruni tangga mengejar MRT yang pintunya sudah hampir tertutup. Kami pun ikut hanyut dalam arus penumpang itu, pintu sudah tertutup setengah, aku& Cipu terpisah dari Gunard, tapi kami BERHASIL memasuki MRT tersebut. Aku dan Cipu bernafas lega... Fiuuuuuh...


Hingga tak lama kemudian, Cipu tersadar kalau kita naik MRT dengan arah berlawanan dari tujuan kita. MRT saat itu penuh, kita tak bisa melihat keberadaan Gunard. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk turun di terminal berikutnya: Dolby Gauth. Sedangkan Gunard yang terpisah dari kami terbawa hingga terminal berikutnya.

Kita hanya bisa menertawakan kejadian ini, soalnya entah kenapa kita musti ikut lari-lari padahal MRT akan datang setiap 4 menit. hehehee...

Pesan moral yang bisa diambil dari kejadian ini: Jadi orang itu harus punya pendirian, jangan cuman terbawa arus karena bisa menyesatkan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...