Senin, 18 Juni 2012

Sehari bersama Neng Rossa di Banten Lama

"Mil, itu kabut ?" tanya Rossa, cemas.

"Bukan ah, masa kabut tebel banget kayak gitu. Apa ada truk bawa dry ice kebalik ya? asapnya putih banget kayak dry ice kena panas."

Berjarak tiga mobil di depan mobil saya, di jalan yang pas selebar dua mobil menuju situs sejarah Banten Lama, mengepul asap putih tebal yang semakin lama semakin pekat menutupi pandangan di tengah jalan itu. Orang-orang mulai keluar dari rumahnya, para pengendara motor berhenti sejenak di pinggir jalan, menduga-duga asal asap putih tersebut. Ada sesuatu yang terbakar? ada sesuatu yang meledak?

Tiba-tiba kerumunan orang-orang di depan kita berbalik arah, berlari dan berseru ke deretan mobil-mobil, "munduuuurrr...munduuuuurrr...." sembari melambai-lambaikan tangan diatas kepala. 

Panik!

Saya lihat di spion, tidak ada ruang untuk mundur karena persis mepet di belakang saya ada truk segede gaban. Ya walopun saya ga tau gaban itu segede apa karena belom pernah liat, untuk sekarang kita asumsikan aja kalo gaban itu segede truk. Jadi dibelakang saya ada truk yang segede gaban yang segede truk. Demikian. Sementara angkot di depan saya bermanuver balik arah. Tanpa banyak berpikir saya segera  meniru angkot itu.

Sial!

Tidak semulus si angkot yang mungkin dalam sehari lewat jalan itu 5 kali. Daihatsu Sirion biru langit saya maju mundur 4 kali berusaha secepat mungkin melarikan diri dari tempat itu, sebelum "sesuatu" yang menimbulkan asap putih itu meledak. 

Di otak saya terangkai suatu adegan dari film Hollywood dimana ada scene sebuah mobil terlempar ke udara oleh ledakan maha dashyat disertai puluhan lidah api berwarna merah oranye yang menjulur-julur ke udara. 

Dalam AC mobil saya saat itu yang (tumben) dingin, sekujur tubuh saya bermandi keringat. Keringat dingin.Setir mobil tiba-tiba jadi seberat kayak narik ember dari sumur pas lagi nimba. Ketika posisi mobil saya sudah siap mau melaju, di hadapan saya sebuah motor tiba-tiba berhenti. Teeeeeeeeeeeetttttt..... saya pencet klakson sekuat tenaga. 

Eh tapi kog, truk gaban yang sebelumnya ada di belakang saya kembali melaju ke depan, ke arah sumber asap malapetaka itu? saya lirik spion, asap putih nya sudah menipis. Akhirnya saya kembali mengulang gerakan manuver balik arah di jalan sempit yang membuat ketiak saya bersimbah keringat. fiuh.

"Ga ada apa-apa kog, Mil. Cuman ada tumpukan kayu gitu," Rossa masih penasaran sama sumber asap putih pekat yang ternyata bukan berasal dari sesuatu yang mau meledak.

Perjalanan menuju sisa-sisa kejayaan Kerajaan Islam Banten pun dilanjutkan diiringi oleh hentakan beat dari lagu Pittbull.

Bermodalkan petunjuk singkat oret-oretan saya di selembar kertas notes: Exit toll Serang Timur - Belok kanan - 11 km sampai di Banten Lama,  akhirnya kita tiba di depan bangunan semacam benteng. Waktu menunjukan pukul setengah 10 pagi, total perjalanan sekitar 3 jam dari depan halte Komdak - tempat saya mengangkut Neng Ocha yang naik bus dari Bogor. Tapi itu pun sudah termasuk coffee break di rest area toll.

Coffee Break narsis
Sebenarnya saya janjian dengan segerombol perempuan-perempuan untuk berwisata ke sisa-sisa kejayaan Kerajaan Islam Banten yang terletak di bagian barat pulau Jawa itu jam 10 pagi. Tapi ternyata sebagian ada yang salah bus, bus nya balik lagi ke terminal Kampung Rambutan, dan ada juga yang nyangkut di Terminal Bus Serang ditemenin sama om-om berkumis. Akhirnya saya dan Ocha memutuskan masuk duluan ke bangunan semacam benteng yang namanya masih belum kita ketahui.

Berdua kita menyusuri jalan setapak yang dikiri dan kanan nya terdapat kios-kios penjual macem-macem barang, dari mulai tas, peci, minyak wangi, oleh-oleh khas banten hingga buah sawo dan kesemek. "kalo mau ke istana itu pintu masuknya disana, tapi masih di kunci." kata mas-mas yang lagi nongkrong di warung kopi. 

Di depan pintu reruntuhan Istana Surosowan yang terkunci
Setengah ga percaya kita tetap saja ngeloyor ke arah pintu gerbang dan bener ternyata kekunci. Ada papan pengumuman yang digantung kalau mau masuk hubungi petugas di museum. Ternyata bangunan semacam benteng itu namanya Istana Surosowan.

Pas lagi bingung-bingung mau cari orang yang bisa ditanya dimana letak museum nya, tiba-tiba kita di teriakin ibu-ibu menor. "Neng, kalau mau masuk ke istana ambil kunci dulu di pos museum. itu disana lurus aja. bagus di dalem buat foto-foto," seru ibu-ibu itu dengan suara high pitch nya tanpa kita tanya dulu. 

"Ini nih hebatnya orang Indonesia," kata saya ke Ocha, masih agak shock disapa ibu-ibu menor pagi-pagi. "Ramah nya nomor satu. Belom juga kita tanya, dia udah ngasih tau duluan."

Sampai di pos jaga Museum kita ketemu sama Pak Naraji sang kuncen (red. juru kunci). Beliau lah yang akhirnya mengantar kita sampai ke dalam Istana Surosowan dan menjelaskan tentang sisa-sisa bangunan yang ada disana, di tengah rintik hujan yang terbawa angin.

Di jalan menuju pintu masuk, si bapak itu berhenti di suatu undakan batu yang di sangkarin besi yang menurut papan keterangan bernama Watu Gilang. "Disini tempat pejabat-pejabat kerajaan di sumpah ketika pelantikan, ayo difoto," katanya setengah memaksa. Saya & Ocha ga ada yang bergeming buat ngambil kamera dan memotret objek yang buat kita ga menarik itu, tapi si bapak kayaknya ga akan beranjak dari situ sebelum kita ada yang motret deh.

Akhirnya saya mengalah, mengeluarkan kamera dan memotret Watu Gilang itu sekaligus sama Pak Kuncen berserta kumis lebat yang nongkrong pas memenuhi ruang antara bibir dan hidung nya. 

Pak Kuncen di depan Watu Gilang

Tetep eksis walopun ujan

di antara puing-puing reruntuhan Istana Surosowan
Pak Kuncen itu rupanya suka maksa. Setelah selesai menjelaskan tentang Istana Surosowan, kita dipaksa memilih mau ke Benteng Speelwijk dulu atau ke Istana Kaibon dulu. Kedua tempat itu jaraknya lumayan jauh dari lokasi kita berada sekarang. Maksud hati kita sebenarnya mau nungguin kawan-kawan lain yang masih kena aral melintang di jalan, tapi ga tega nolak kemauan si bapak akhirnya kita berdua pasrah di naikin ke atas becak menuju Istana Kaibon.

"Nanti Bapak bukain kunci Kaibon nya, kita ketemu disana ya," katanya melepas kepergian kita dengan becak.

Narsis di Becak
Lama ga naik becak, saya & Ocha ribut banget di dalem becak yang sempit. Di depan billboard besar bergambar Ratu Atut, becak yang kita tumpangi hampir terjungkir karena rodanya tergelincir di batas antara aspal dan jalan berbatu. Si abang dengan sigap mengarahkan setir becak ke kiri untuk menjaga keseimbangan ban yang tergelincir itu, tapi tidak melihat pas di depan kita ada sebuah sepotong selembar pintu mobil yang posisi nya lagi terkuak lebar. Becak mungil itu nyaris saja menubruk pintu mobil jika pengendara nya tidak sigap menarik pintunya dari dalam mobil. 
 
Dari kejauhan kita dapat melihat mobil acara dangdut Banten TV yang cat nya warna warni nge-jreng sudah parkir dengan manis di halaman istana. Rupanya sedang ada syuting. Istana Kaibon nasibnya masih lebih lumayan daripada Istana Surosowan, masih ada beberapa sisa-sisa bagian dindingnya yang kelihatan sementara Istana Surosowan beneran luluh lantak oleh gempuran Belanda semasa perang dulu. 

"Di sini juga sering di pakai syuting sinetron Indosiar," Pak Naraji menjelaskan. 

Sebenarnya Pak Kuncen naraji itu sudah menyiapkan rencana untuk kita ke tujuan berikutnya, tapi kemudian saya menjelaskan bahwa teman-teman saya sudah menunggu di dekat Masjid Agung yang lokasi nya di seberang Istana Surosowan. Pak Naraji segera melaju dengan motornya kembali ke museum, sementara saya dan Rossa berjalan kaki menyusuri balik jalan yang kita lalui dengan becak sepanjang hampir 1 Km diantara deru angkot dan bis pariwisata yang isinya rombongan anggota pengajian yang mau Ziarah. 

Selamat Datang di Banten Lama

Muka habis jalan kaki 700 meter
Menjelang saat makan siang kami tiba kembali di halaman museum. Dimuka gedung museum Lili melambaikan tangannya memanggil-manggil. Rombongan terkumpul di Mesjid Agung, total 8 perempuan cantik melakukan petualangan napak tilas sejarah Kerajaan Banten. Hari masih panjang dan petualangan masih berlanjut ke Benteng Speelwijk dan Klenteng, ditutup dengan pencarian kuliner Pecak Bandeng yang tak kunjung ketemu. Akhirnya rombongan berpisah di depan warung sate bandeng, sementara saya & Rossa kembali meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta.

47 komentar:

  1. "berserta kumis lebat yang nongkrong pas memenuhi ruang antara bibir dan hidungnya". Pencitraan untuk seorang Kuncen rupanya nih ya? hehe

    buat syuting Indosiar yang film bersetting raja-raja itu ya Mbak? asyik juga kalo dijabanin ni tempat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "kumis" supaya kliatan sangar hahahaa...

      iya, bagus kog tempatnya buat wisata sejarah, apalagi sama anak2 sambil mengenalkan sejarah Indonesia hihihiiy

      Hapus
  2. hmmm, gw diajakin ocha tapi ga bisa karena ada nikahan temen.. gw kira rame2 mil, ternyata berdua. hehe.

    eh, kapan ke sawarna? gw mau..

    BalasHapus
    Balasan
    1. berdua nya cuman dari jkt aja, disana ketemu temen2 gw kog dan ada Pak Kuncen, jgn lupakan itu hahahaa....

      Hapus
  3. Mila gilaaa... gue ngakak parah baca post ini. Semua kebodohan trip kt ditulis disini, plg kocak pas si pa kuncen ngotot nyuru moto batu ga jelas sampe ribut di atas beca. "Aaaargh, we gonna die, we gonna die. Ratu Atut please help us...."

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa.. hahahaa... itu abang becak pst ngurut2 dada ngeliat kelakuan kita.

      Hapus
  4. Bagusssss gak ajak ajakkkkk


    Ampunnnn ndoro nyai, invitationnya for one person only dan sangat dadakan setelah ngemis2 minta undangan ketemen, hahahahhahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. si Ocha nyuruh gw ngajak lu, tp gw takut di cekik adik gw klo gw ngajak lu jalan2 ntar kebaya nya dia ga selsei hahahaa....

      Hapus
  5. yang takut sama truk segede gaban berarti orangnya segede upil yang upilnya segede orang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaa..... aku segede upil, tapi upil gajah.. eaaaaa

      Hapus
  6. Ckckck..aku malah lebih tertarik ama adegan asap putihnya deh Mil. Abisnya gak tau itu istana peninggalan apa, rajanya siapa, tahun berapa. Detailnya kuraaaang...We want more! We want more! Hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar Mba Mayya, ini nanti bersambung ke Historical Value nya kog hihihiiiy

      Hapus
  7. Apa jadinya ya kalo kemarin gw ikutan? Cewek semua gituu? Hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lu bukannya seneng ya dikerumunin cewe2 hahahaha....

      Hapus
  8. eeeh jadi kapan kita maksi bareng ? *melenceng dari topik karena gak diajak jalan kesana*

    BalasHapus
  9. Wah mbak Mila pas di awal aku kirain beneran ada apa2 itu *asap* sukur nggak kenapa-napa ya mbak #hug

    Foto 8 perempuan cantiknya kok nggak dipajang mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto2 perempuan2 cantik2 lainnya menyusul di postingan selanjutnya yaaaaah, Chi :D

      Hapus
  10. saya yakin masih banyak koleksi foto yang blom dipublish... penonton kecewa.... mana koleksi fotonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah Cipu, yu no mi so wel :))

      Hapus
  11. Udah pasti ini bakal jadi postingan bersambung. Biasanya trip Mila ada sisipan-sisipan sejarahnya, ini kok nggak ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. soalnya kalo aku masukin semua sekaligus jadi kepanjangan, Mba.. jd nya pembahasan historical value nya aku pisah hihihii...

      Hapus
    2. Baiklah. Aku menunggu :)

      Hapus
  12. ditunggu kelanjutannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. gw juga lagi nunggu mood buat nulis kelanjutannya hahahaa

      Hapus
  13. alur ceritanya sangat menarik, apalagi itu sebuah kisah nyata..wah pasti sangat menyenangkan untuk diikuti..haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang ada di blog saya semua kisah nyata kog... dijamin wkwkwk

      Hapus
  14. Sayang ya, situsnya ndak terlalu dipromosiin,

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener, sayang banget :(

      Hapus
  15. ini ada lanjutannya ga mbak? pas makan2 sate bandeng kok ga ada fotonya---mungkin karena jarang ada pengunjung kesannya pak Kuncen tu rada maksa disuruh2 ke sana kemari, biar sekalian kali maksudnya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada dooonk..tenang aja, masih panjang ceritanya. kan aku blom cerita-in objek2 wisata nya heheheee....

      Hapus
  16. Narasi pembukanya seru, soal kabut putih itu, deg-degan nunggu kelanjutannya krn terjadi di Banten...lokasi yg konon penuh fenomena gaib...eh ga taunya antiklimaks...hahahhaa...bisa aja ni Mila

    Klo jalan2 ajak2 gw donk...seru keknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sumpah gw ga kepikiran soal mistis2 pas liat asap putih gitu, yang gw ngeri itu meledak trus mobil gw kesamber hahahaa.....

      setor alamat imel lu sinih.

      Hapus
    2. bella_sirait@yahoo.com

      Kemaren gw udah nukar tiket si Gaga. Oia, untuk alasan keamanan, alamat blog gw berubah jadi: www.kopimanisbella.blogspot.com ya neng ;p

      Hapus
    3. ooowh ganti toh, pantesan di blogroll gw udah ga apdet lagi

      Hapus
  17. wah patut dikunjungi nih pas mudik, swami gw pun blom tentu tau ada situs inih :)
    thanks for the info.

    BalasHapus
  18. ada juga yang nyangkut di Terminal Bus Serang ditemenin sama om-om berkumis <----- pencitraan, huh! LOL.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gw ga akan sebut klo itu adalah elu, li.. tenang saja.. rahasia mu aman di tangan ku hahahaaa

      Hapus
  19. dapet foto penampakan gak disana.. ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penampakan kuncen nya hihihiihiy

      Hapus
  20. asyiknya... pergi rame2. Wah kalau orang2 yang suka jalan2 pergi bareng, pasti deh seru. Ditunggu cerita kelanjutannya deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mba Reni, apa kabar? kapan hari aku ke blognya, tapi sptnya udah lama ga di apdet yah hehehe...
      kapan kita kopdar? ^___^

      Hapus
  21. coba bisa ikutan yaa....
    hehehehe

    ngiri deh sama kalian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dirimu ke Jakarta tidak kabarin kita2 siy, klo dikabarin pasti lsg deh kita cyuliiik cyyiiiiinnn hahahaa

      Hapus
  22. wah asyik banget! pas ocha di jogja daku tak sempat nemenin doi jalan2 :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi sempet kopdar kan, mba hehehee

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...