Selasa, 26 Maret 2013

Insiden antara Candi Sambisari dan Candi Kalasan

Masih inget ga cerita tentang kamera pocket baru saya (yang sekarang sudah tidak  baru lagi) yang saya bawa ke Australia tapi kabel charger nya ga kebawa ? Ketidak telitian saya itu membuat saya harus membeli charger baterai kamera seharga AU $40 disana. Tapi bukan saat itu saja kamera mungil saya  berhasil membuat jantung kembang kempis. Kamera itu kan krusial banget manakala semua orang di saat ini menganut paham No Pic - Hoax. Di Dieng kemarin ini pun ada sedikit insiden yang membuat saya agak ketar ketir.

Ketika terbangun jam setengah 4 subuh untuk bersiap-siap mendaki bukit sikunir melihat sunrise, saya mendapati kamera saya tidak bisa nyala. Berkali-kali saya pijit tombol on/off mungil berwarna silver yang terletak di pojok kanan atas kamera itu, tetap saja layar nya tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan. Apa mungkin habis baterai? ah tapi masa sih? saya yakin di malam sebelumnya, sebelum saya tidur saya sudah men-charge kamera itu sampai full.

Tapi tetap saja saya coba colokin lagi kabel charge nya ke stop kontak terdekat dan ternyata lampu indikator kamera saya menyala, menandakan kalau kamera itu lagi proses charging. Ketika saya coba menyalakan tombol on nya lagi, layarnya menyala dan indikator baterai nya menyatakan kalau baterainya habis. Sigh. Bagaimana mungkin baterai kamera habis dalam semalam di posisi off? Apa mungkin karena saya letakkan kamera itu di lantai keramik yang dingin jadi energi dalam baterai itu terserap oleh dingin? 

Untung saja ada satu gadget baru yang selama beberapa bulan ini sudah di adopsi kedalam keluarga besar gadget saya dan selalu dibawa kemanapun saya pergi - Power Bank. Segera saja saya copot kabel charger dari stop kontak dan saya cucuk di Power Bank, berharap ketika tiba waktu sunrise baterai kamera saya sudah memadai untuk di pakai memotret.

Sebelumnya pun terjadi insiden ketika saya dan chacha ke jogja. Hingga saat ini insiden itu masih memegang posisi insiden kamera terheboh.

Seperti pernah saya posting sebelumnya, perjalanan saya ke jogja bersama chacha dalam rangka pencarian innerpeace yang mengambil tema Sunrise di Borobudur, Sunset di Candi Boko. Dari mulai sunrise ke sunset itu seharian kita isi dengan Candi hoping, yang namanya terinspirasi dari istilah "island hoping". Candi-candi yang sempat kita singgahi adalah candi mendut, candi sambisari, candi kalasan, candi prambanan, candi sewu. 

Insiden ini mulai terjadi ketika kita tiba di Candi Kalasan, candi yang dibangun sekitar awal abad ke-8 yang merupakan penanda runtuhnya kekuasaan Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu di Mataram kuno. Sekaligus merupakan penanda awalnya Dinasti Syailendra yang  beragama Buddha menancapkan kekuasaannya di wilayah tersebut. Dinasti Syailendra mampu menggusur Wangsa Sanjaya sebagai penguasa Mataram kuno karena di support oleh Kerajaan Sriwijaya yang saat  itu lagi jaya-jayanya. Raja dari Dinasti Syailendra lah yang membangun mahakarya bernama Borobudur.

Candi kecil sederhana itu menampakan pucuknya yang menjulang sehingga terlihat dari jalan raya, mengintip dibalik atap rumah yang terdapat di pinggir jalan. Mobil sewaan kita membelok ke jalan kecil yang berujung di pelataran Candi Kalasan. Saat itu lah saya sadar kamera saya tidak ada. Saya tumpahkan semua isi tas saya dan mencari ke ujung-ujung mobil berharap kamera mungil itu jatuh dan terselip dibawah jok, tapi hasilnya nihil. 

Saya ingat terakhir kali saya menggunakan kamera itu di candi sambisari yang kita singgahi sebelumnya. Tapi saya berusaha tetap tenang dan tetap berfikir positif bahwa mungkin saja kamera itu terselip dan akan muncul tiba-tiba jika saya sudah tidak panik lagi mencarinya. Saya pun turun dan memotret-motret candi kalasan menggunakan smartphone. Tapi jujur, pikiran saya tidak disitu, tetapi melayang-layang mengkhawatirkan keadaan kamera saya. 

Akhirnya kita memutuskan kembali ke candi sambisari yang kebetulan posisinya tidak jauh dari candi kalasan, hanya saja jalan masuk kedalamnya jauh banget. Saya dan Chacha sempat menertawakan sepasang turis asing yang dengan semangat berjalan kaki dari jalan raya menyusuri jalan masuk ke candi sambisari. Ketika kita sudah selesai keliling-keliling candi, sudah foto-foto, di jalan mau pulang kita ketemu lagi dengan sepasang turis asing itu yang masih setengah jalan menuju tujuan mereka. Kulit mereka sudah terbakar merah dan baju nya sudah basah kuyup berpeluh. 

Tujuan pertama kita adalah menanyakan ke warung yang ada di muka gerbang pelataran candi apakah melihat ada kamera kecil berwarna hitam yang terjatuh, tapi tidak ada yang melihatnya. Kemudian secara random chacha menyuruh melihat selokan yang terdapat di sisi mobil kita ketika parkir. Sementara saya sudah merelakan dan ikhlas kalau sampai kamera saya itu hilang. Tapi ternyata kamera itu masih berjodoh dengan saya, si hitam kecil manis itu tergeletak diantara genangan air selokan, menyangkut diantara alang-alang yang tumbuh di sisi-sisi got. Untung nya si kecil itu adalah kamera underwater, jadi genangan air tak akan merusaknya.

Foto-foto kita selama setengah hari perjalanan selamat, dan foto-foto perjalanan selanjutnya pun sukses di capture dengan kamera itu. Yang kurang hanya foto Candi Kalasan, candi yang justru merupakan tujuan terpenting saya dalam rangkaian perjalanan Candi hopping itu. Tapi saya tetap harus bersyukur, paling tidak tetap bisa menikmati foto candi sambisari, bukannya kehilangan kamera di candi sambisari.




35 komentar:

  1. Selamat, ya, nggak jadi kehilangan kamera.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya alhamdulillah yaaaah *elus2 dada*

      Hapus
  2. ya ampun mengenaskan bgt kameranya, mpe jatuh ke selokan gt.. Tapi beruntung bgt loh kameranya msh ada, ga diambil org

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, masih jodoh kameranya sama aku mba hehehehee

      Hapus
  3. sudah beberapa kali saya berkunjung ke blog ini, tp mengapa anda tidak pernah berkunjung balik ke blog saya ?? saya sangat sedih :( , mudah2 kali ini anda dapat berkunjung melihat blog saya :) , sukses selalu untuk anda dan keluarga :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga ga pernah dikunjungin pak liver
      tapi tetep berkunjung kemari
      abisnya yang punya cakep sih...

      *dari hongkong lagi...

      Hapus
    2. ehm ehm jd ga enak dibilang cakep *ge er*

      Hapus
  4. lain kali kameranya dikasih simcard
    kalo ilang tinggal di miskol
    haha...

    BalasHapus
  5. untunglah, masih bersyukur to Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaaa ya aku sih bersukur, klo om zach pst bilang sukurin ke aku deh

      Hapus
  6. masih rejeki mba..laen kali lebih ati2 yooo

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaaa.... susah nih punya karakter sleboran

      Hapus
  7. kalau kamera g dipakai mending baterainya di copot mbak biar awet.lain kali kameranya di kasih rantai biar gak lari-lari

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, tapi nanti aku lupa taro baterai nya dimana. susah kan klo lg traveling gitu klo barangnya berceceran hehehee...
      iya nih kameranya mau aku rantai ke leher :p

      Hapus
  8. wuuiihh sampe maen ke got segala gara-gara kamera hahaha
    tapi masih syukur dah karena itu kamer underwater, coba kalo kamera bisa bisa muntub-muntub tu hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. bwahahahaa,.... aku suka tuh istilahnya muntub-muntub

      Hapus
  9. kameranya minta dihibahkan sama gw kayanya Mil..wakakakaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. aaaak jangaaannn... lo klo mo kamera ikut kuis aja hahahahaa

      Hapus
  10. Untung masih berjodoh *yangikutdeg-degankalaukameraituhilang*

    -@p49it-

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa kamu harus ikut degdegan krn kamera itu belum pernah kita pakai narsis di laut

      Hapus
  11. Saya mau berkomentar atau menanggapi "No Picture - hoax". Sudah lama saya ingin membuat postingan dengan tema ini. Saya kenal foto memfoto sejak mahaiswa di era 90 an. Jaman jaman masih menggunakan karmea film seperti Yashica FX-2000, Fuji DL-25, dll.

    Dalam prespektif saya di media, informasi atau berita tidak harus selalu disertai dengan FOto atau gambar. Namun sejarah selalu menghendaki ada foto dalam tulisan apalagi di blog.

    Orang yang membaca tulisan pasti akan berharap ada gambar (foto) yang sesuai dengan postingannya. Foto memang lebih "bercerita" daripada kata kata. Selain itu artikel dengan gambar atau foto lebih memikat.

    BalasHapus
  12. senengnya yg gak jadi kehilangan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaaa kau senaaaang hihihiiii

      Hapus
  13. syukurnya gak jadi hilang. btw, tulisan km makin tokcer aja nih mil :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aw aw aw.. tokcer kyk obat aja mba hihihiii

      Hapus
  14. pakabar mba? udah lama ga blogwalking kesini, kapan ke Bogor... saya traktir kuliner Bogor nih ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sering loh ke bogor, beneran yah ditraktir yah hahahaa

      Hapus
    2. beneranlah... nanti kontak saya aja mba, cicip kuliner bogor :)

      Hapus
  15. Untung jatuhnya kamera di Kalasan (Jogja) makanya gak jadi ilang (PDnya wong Jogja). Paling efektif kamera dikasih tali gantungan yang panjang so bisa dikalungkan. Trimakasih. Aku tunggu lagi kedatangannya di Jogja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... kamu org jogja toh. asik mkn bnyk temen di jogja. contact nya donk

      Hapus
  16. saya juga orang JOGJA mba, JOGJA = JOGet JAipongan hehehehe,.,.

    BalasHapus
  17. jogja memang sangat bagus untuk berpariwisata mba,..

    BalasHapus
  18. mantap mas .. jogja itu memang asik

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...