Selasa, 26 November 2013

Hatiku Berlabuh di Labuan Bajo

Di Jakarta tahun-tahun belakangan ini, Tuesday is the new Monday. Jadi ketika hari Minggu berakhir, rasa kebencian terhadap hari senin mulai menyeruak dari dalam kalbu, I hate Monday. Tapi ketika hari senin berakhir masih ada hari selasa yang patut untuk dirutuki juga. Di hari Selasa butuh usaha, kekuatan dan kesabaran dua kali lipat dari hari senin untuk mengarungi perjalanan dari rumah menuju kantor. 

Hari Selasa pagi, sudah nyaris 2 jam saya stuck di jalan, merayap pelan-pelan seperti siput kurang gizi. Di sekeliling mobil saya puluhan motor mengerubungi seperti lalat mengerubungi bangkai. Kendaraan roda dua menyelisip diantara sela-sela mobil seperti potongan daging menyelip di sela gigi. Mereka saling berdesakan di sisi kanan jalan yang merupakan jalan untuk kendaraan dari arah berlawanan. Bagai kawanan tawon yang berlomba-lomba masuk sarangnya, motor-motor itu berebut memadati sepotong jalan, sementara dari arah berlawanan riuh bunyi klakson mobil yang berusaha membubarkan kerumunan pengendara ber-helm itu agar mereka bisa lewat memekakan telinga bersahutan.

Dua baris mobil di hadapan saya saling beradu, Avanza silver dan Taksi biru. Kedua pengendara turun dari mobil, saling cekcok adu mulut di tengah jalan dengan posisi kendaraan mereka yang malahan keliatan mesra berciuman di tengah jalan. Dari belakang saya pun serbuan klakson dari pengendara lain yang tak sabar mulai bersahutan. Bersatu padu, membentuk koor yang gak ada syahdu-syahdunya. Dari depan, belakang, samping, sepertinya seluruh semesta di kacaukan oleh bunyi klakson yang disulut oleh amarah manusia kota di Selasa pagi. 

Saat-saat seperti ini dimana saya sangat merindukan Labuan Bajo. Hanya butuh kurang dari setengah hari baginya untuk bisa menawan hati saya disana. Saya pergi kesana tanpa pengharapan berlebih terhadap kota kecil ini. Palingan cuma sepotong kampung kecil yang tidak signifikan, pikir saya, tempat wisatawan yang hanya transit untuk pergi ke destinasi lain yang lebih cantik. Pulau Komodo, Pulau Kanawa, Pulau Seraya, Pink Beach.... 

Tapi saya lupa, sepertinya hati saya selalu memilih untuk jatuh cinta kepada kampung kecil yang tidak signifikan. Sama seperti ketika saya jatuh hati dengan kampung kecil yang tidak signifikan di Thailand Utara bernama Krabi. Hati saya ini selalu gampang dirayu dan dibuai oleh kesederhanaan. Entah kenapa. 

Bandara Komodo di Labuan Bajo adalah bandara yang sederhana tanpa ban berjalan. Mengingatkan saya sama bandara di Bengkulu beberapa tahun lalu. Hmm... setelah saya pikir-pikir mungkin disitulah berawal kegandrungan saya terhadap kota-kota kecil yang bagi orang lain tidak berkesan. Kota underdog. Hanya dilewati untuk kemudian dengan cepat dilupakan. 

Dua tahun dari sekarang mungkin Bandara Komodo versi sederhana sudah tidak ada, digantikan oleh Bandara Internasional Komodo baru yang mentereng yang sedang dalam proses pembangunan. Pucuk atap dari bandara baru yang desainnya keliatan futuristik mengintip dari balik pagar seng penutup daerah proyek, menyebarkan debu-debu proyek yang berterbangan ke Bandara lama, menyelimutinya, menambah kesan kusam dan tua tak terurus. 

Sebuah patung komodo yang gagah menyambut para turis yang turun dari pesawat baling-baling. Saya, Pagit dan Mba Efa memasuki bandara, menunggu barang kita dari balik jendela kotak tempat petugas bandara mengoper bagasi para penumpang. Seorang anak muda menghampiri kita, perawakannya kecil, kurus, rambut ikal khas orang flores. 

"Sudah ada yang jemput, mba?" tanya pria itu.

Pagit segera menjawab, "sudah," tanpa menoleh. 

Sebenarnya kita tiba disana tanpa persiapan apa-apa, selain satu alinea di wikitravel tentang Labuan Bajo yang memberi informasi bahwa jarak dari bandara ke pusat kota bisa ditempuh dengan naik ojek Rp.5000. Jangan terjebak dengan tawaran sewa mobil yang harganya bisa mahal banget, kita hanya perlu jalan sedikit keluar bandara ke pangkalan ojek terdekat.

Jawaban pagit yang singkat tanpa menoleh membuat anak muda itu cepat pergi untuk mencari target berikutnya.

Cerita saya harus mundur ke beberapa hari sebelum keberangkatan kita ke Labuan Bajo. Kombinasi antara kesibukan dengan pekerjaan + ingin menambahkan touch of adventure baru dalam kehidupan membuat saya dan Pagit malas untuk survei dan mempersiapkan itinerary secara detail. Tiket DPS-Labuan Bajo baru kita beli beberapa hari sebelum keberangkatan. List penginapan pun kita cari seadanya hanya untuk memberi gambaran singkat mengenai harga, beberapa sempat di hubungi oleh pagit tapi tidak satupun yang kita booking. 

Tur ke Pulau Komodo pun begitu, kita memutuskan akan cari tur untuk ke pulau komodo langsung di Labuan Bajo. Sebelumnya saya sudah menelpon pengelola tur disana yang nomornya saya dapat dari internet, namanya Pak Hans. Dari bahasa Indonesia nya yang beraksen aneh saya mulai curiga bapak ini bukan asli orang Indonesia. Dari Pak Hans saya dapat info kisaran harga paket tur dan alternatif-alternatif rutenya.

Salah satu kawan saya pernah bilang, Knowless Do More. Well, just cross our finger and let's hope so.

Fast forward lagi, kembali di Labuan Bajo. Saya dan Pagit keluar dari bandara menggendong bekpek menerjang angin yang  bercampur pasir di bawah terik matahari. Sementara Mba Efa berusaha menarik kopernya di jalan berpasir yang berhamburan batu kerikil. Kita tak tau arah mau kemana. Akhirnya Pagit memutuskan bertanya ke salah satu ibu yang menjaga kios toko suvenir. Entah apa yang ditanya sama pagit, ibu itu mengeluarkan handphonenya dan menelpon. Tak lama muncul anak muda yang sebelumnya menawari mobil sewaan ke pagit. 

O'ow... ketauan deh kalau kita sebenarnya tidak dijemput, melainkan...takut di tipu.

Wawan. Bersumpah-sumpah dia mengaku kalau dirinya asli Flores. Lahir dan besar di Flores dari kedua orang tua asal sana juga. Menurut pengakuannya sedikit darah jawa dari neneknya yang entah nenek keberapa membuat dia menyandang nama yang sangat tidak berbau flores itu. Orang Flores itu namanya keren, kebarat-baratan. Misalnya, James, Jonathan, Michael, Frans. Tidak ada Wawan dalam kamus nama orang Flores. 

Wawan yang berkulit gelap tapi keceriaan selalu terpancar dari dirinya. Cara bicaranya yang sok tau tapi masih lugu dan kekanak-kanakan langsung membuat kita bertiga jatuh hati sama Wawan. Kawan pertama yang menyambut kita dengan penuh keramahan di ujung pulau Flores. Dan jumlah kawan kita di Labuan Bajo pun bertambah signifikan dalam hitungan jam. Satu hari saja kita beredar di satu ruas jalan sepanjang pusat kota Labuan Bajo, seolah-olah kita sudah bertahun-tahun tinggal disana. Di setiap tikungan, di sisi-sisi jalan, di depan toko, semua orang tiba-tiba jadi kenal dengan 3 orang perempuan jakarta yang luntang-lantung seharian mencari tur yang paling murah untuk ke Pulau Komodo keesokan hari nya.

Anehnya, di kota kecil ini lebih banyak kita melihat turis asing daripada turis lokal. Ya wajar saja mungkin kalau tiga orang turis jakarta luntang-lantung cepet banget jadi hits, soalnya kalau turis jakarta gak akan luntang lantung, kebanyakan langsung menuju hotel-hotel atau resort-resort nyaman yang terletak di pinggir pantai. Sementara kita bertiga, bukan hanya luntang-lantung cari tur, tapi sempat luntang-lantung cari penginapan murah dan sempat pindah penginapan juga. 

Awalnya kita mendatangi salah satu penginapan terjangkau yang banyak di rekomendasikan di internet, bahkan Pak Hans dari Komodo Tur yang saya hubungi waktu di Jakarta merekomendasikan penginapan itu. Tapi ternyata ketika kita tiba di muka penginapan, Pagit langsung ragu. Pasalnya penginapannya itu terletak di bukit-bukit, jadi kamarnya  itu menyebar di berbagai ketinggian satu bukit di hubungkan dengan tangga batu yang menukik tajam. Saat itu Occupancy hotel itu nyaris full, kamar-kamar kosong yang tersisa adanya di tingkat terpuncak dari bukit itu. View nya pasti luar biasa indah di atas sana, tapi mikirin musti bolak-balik naik turun kamar itu yang langsung bikin dengkul lemes.

Wawan pun merekomendasikan penginapan yang murah di dekat situ. Sebenarnya semua penginapan murah letaknya dekat situ juga, pusat kota itu intinya hanya seruas jalan yang kiri kanannya terdapat penginapan, toko-toko, kantor paket tur dan diving, juga warung-warung makan. Satu malam di hotel yang direkomendasikan Wawan, kita pun memutuskan pindah ke penginapan lain (yang juga dekat dari situ) yang tarifnya sama tapi lebih bagus sedikit.   

Makan malam kita di warung-warung tenda yang berbaris berdampingan di pinggir laut. Di dekat satu-satunya pasar yang terletak di Labuan Bajo. Menunya mayoritas ikan, ada juga ayam. Ikan-ikan segar dipajang di muka warung, jadi kita tinggal pilih ikan yang kita mau kemudian langsung dimasak. Berbeda dari warung makan ikan di jakarta yang stok ikannya banyak sampai sepeti, disana masing-masing warung hanya sedia ikan beberapa ekor, jenisnya campur-campur random, ukurannya juga. Sepertinya hanya untuk persediaan satu hari karena disana mungkin jarang yang punya freezer untuk menyimpan ikan mentah supaya tahan lama. Mba Efa melotot tak percaya ketika bertanya harga ikan untuk makan malam kita, "murah bangeettt.,"seru mba efa berbisik.

Di warung itu banyak juga orang lokal, malam itu adalah malam minggu. Saya senang sekali curi-curi dengar percakapan orang lokal sana yang berbahasa Indonesia, kata-kata yang mereka gunakan adalah kata-kata baku yang hanya kita baca di buku pelajaran sekolah. Dan nadanya itu loh, merdu banget kalau menurut saya, naik turun berirama. Kalau diperhatikan orang Flores yang makan diluar pasti memilih menu ayam, mungkin karena di rumahnya sehari-hari makan ikan jadi kalau mau suasana beda makan diluar mereka akan memilih ayam daripada ikan.

Sahabat baru mba Efa seorang pria penjual kain kerajinan asli Flores. Bapak itu sering banget berpapasan sama kita di jalan, secara ya jalannya cuman satu itu jadi papasannya sama orang itu-itu saja. Tapi Mba Efa cepat akrab sekali dengan bapak yang satu ini, si bapak menceritakan tentang kampungnya yang ada di gunung dan perjalanan darat selama 2 hari yang harus ditempuhnya berjalan kaki hingga tiba di desanya di tengah hutan. Ketika kita lagi makan Mba Efa yang hatinya sudah terpikat dengan perjuangan hidup bapak itu tiba-tiba kepikiran, "bapak itu lagi dimana ya?". Tak lama yang diomongin muncul, Mba Efa pun histeris seolah-olah merasa sudah punya ikatan batin dengan sahabat barunya itu, "Mari Bapak, kita makan sama-sama." 

"Bapak mau makan apa? ikan atau ayam?" tanya mba efa.

Si Bapak pun menyahut lantang, "Ayam!" disambung dengan nada malu-malu,"nasi nya boleh dilebihkan sedikit?" tanyanya ragu.

Sebelum kita pulang ke Jakarta, si Bapak menghampiri Mba Efa di hotel, khusus untuk memberikan hadiah perpisahan, seuntai taplak tenun flores diiringi pesan agar jangan dilupakan dan apabila ada kesempatan kunjungi desanya di atas gunung di tengah hutan, bertemu dengan putra putri nya yang tinggal di desa.   

Pagi-pagi saya dan Mba Efa menonton kesibukan di pasar kecil di sudut Labuan Bajo. Para nelayan yang baru kembali dari laut membawa hasil tangkapannya untuk di lelang langsung dari kapalnya. Transaksi terjadi langsung di perbatasan darat dan laut, di antara dermaga dan geladak kapal. Berdus-dus Styrofoam ikan segar berpindah tangan. Di pasar kecil di sudut labuan bajo ini hiruk pikuk manusia sibuk beraktifitas dari sebelum matahari terbit, sementara sisi kota yang lain masih sunyi senyap tanpa tanda-tanda kehidupan berarti kecuali beberapa ekor anjing yang sedang tidur-tiduran malas dipinggir jalan sembari sesekali melirik pejalan kaki yang melintas di hadapannya.   

Hal-hal seperti itu yang buat saya selalu punya pesona magis tersendiri untuk membuat saya selalu merindukannya, seperti mantan pacar yang gak akan pernah bisa kita lupain. Disaat-saat himpitan ibukota yang kejam membuat warganya ubanan sebelum tua dan menjadi gila, yang saya inginkan hanya melabuhkan hati saya kembali di Labuan Bajo.

Senja di Labuan Bajo

Lelang ikan subuh-subuh

37 komentar:

  1. Hihi, mbak.... di sana ga ada cowok yg menawan hati ? Eh bukan wawan tadi lho maksudnyaa...
    *kabooorrr*

    BalasHapus
    Balasan
    1. cowo2 disana sbenernya manis2 dan lucu2 juga loh bwahahahaaa

      Hapus
  2. hmm.. jd labuan bajo itu seperti mantan pacar yg ga bs dilupain ya.. boleh dicintai tp tak bisa dimiliki... #eeeaaa..hihihi

    BalasHapus
  3. next time main ke malang ya, mbak... dijamin gak nemu kayak yang ada di labuan bajo..
    heheheee.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku udah pernah berapa kali ke malang hehehee

      Hapus
  4. Kalau kesana lagi, gw diajak yaaaa :)

    -Lili-

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayuuuukkkk gw masih pengen ke sana lagiii

      Hapus
  5. Mil hati-hati di jalan pulang yak :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. bwahahaa.... jalan pulang dari mana ?

      Hapus
  6. gw rencana awal u/ flores overland hanya 10 hari, setelah nyampe malah jadi molor ke 3 minggu hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo mau overland ke dalem2 floresnya emang musti lama ya? aku wkt itu cuman dapet cuti 5 hari :(

      Hapus
    2. gw pake transportasi umum Mil hop on off like locals hahaha kl mau ngeluarin uang banyak untuk sewa mobil dan supir nya, bisa sih ga perlu lama2 :)

      Hapus
    3. wow.. keren banget sih. aku pengennya kayak gitu juga tapi pasti langsung di pecat dari kantor bwahahahaa

      Hapus
  7. Seperti saya suka dengan Labuan Bajo.
    Selalu suka kota kecil di tepi laut :)

    BalasHapus
  8. Cita2 yg belum terwujud.. Eh tapi klo soal ayam sama tuh..haha.. Awal2 rantau ke Jkt agak gmn gitu makan ayam tiap hari.. Soale dirumah kan ikan mulu, ayam tuh jarang dan terkesan mewah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. di rumah aku juga makan ikan terus, soalnya papa aku ga makan ayam. tapi aku juga jadinya ga terlalu suka ayam sih hehee

      Hapus
  9. poto wawannya mana mil?

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum saat nya dikeluarkan, mba ratu hihihiii

      Hapus
  10. mbaa..rangkaian kalimatnya ibarat susu sama roti..enyaaak..hehe..
    betul, kesederhanaan labuan bajo,keramahany ngangenin..btw sampe kpn mba disana? rencanany aku mau kesana awal desember =))

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku kesana berapa bulan lalu.. yooook ketemuan. nanti ku message di fb yak

      Hapus
  11. lapar ya pak, nasinya minta ditambah hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang sana makan nasinya buanyak buanget mba

      Hapus
  12. Bagus ya cara menceritakannya. Pembaca serasa mengalami sendiri apa yang dialami sang 3 petualang karena segala sesuatu disekitarnya di tempat tersebut dideskripsikan dengan amat nyata :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenernya masih banyak yang aku alamin pas itu yang ga tau gimana cara ceritainnya hahahaa... no words can describe how it feels deh pokoknya

      Hapus
  13. mba mila suka travelling ya? koQ kayaknya nggak takut tanpa tujuan gitu hahaha... kalo Q sih udah pasti lemes gemeteran karna nggak ngerti jalan di daerah orang... hehe
    keren mba ceritanya, menggugah hati Q jadi pengen coba bekpek hehe...

    *mampir di blog Q yang ini juga ya http://nutrisicantik.blogspot.com/2013/11/mencegah-kolesterol-melalui-pola-makan.html, ada tips gaya hidup sehat dan cara NAIK/TURUN BERAT BADAN lho :)

    BalasHapus
  14. Labuan Bajo memang selalu membuat mata hati tidak dapat berpaling akan keindahan alamnya, palagi dengan keindahan pantai di sekitar penginapan di daaerah tepi pantainya. Hm...... indah dan mantap Mba.

    Salam,

    BalasHapus
  15. hooh mil...
    jakarta emang nyebelin. ga betah dengan rusuhnya jalanan. enakan di hutan gini, bebas macet walau kadang musti offroad. yang jelas manusia-manusianya lebih beradab. ga bisa lewat kehalang mobil mogok ga pernah sibuk main klason. tapi turun ngebantuin atau sekedar nemenin sebentar...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya makin jauh dari kota besar orang2 nya malah makin baik-baik yah... ternyata ada enaknya juga ya om di dalem hutan walopun nasi bungkusnya memprihatinkan hahahaa

      Hapus
  16. Nah, ini dia informasi yang kubutuhkan....

    Mil, bisa kirim contactnya wawan japri ke emailku gak?? Sama sekalian Pak Hans ya :)

    surya00 [at] gmail [dot] com

    Sapa tau kapan-kapan pengen ke Labuan Baju dan Komodo

    BalasHapus
    Balasan
    1. henpon kau baru ilang minggu lalu, no telpon2 ikut ilang semuaaaa huhuhuuuuu

      Hapus
  17. Mbak Mil, endingnya koq ada kata 'mantan pacar'? hayooo lg kangen yah?xixixixix

    btw fotonya koq cuma 2 ajah? gak ada Mbak Mila nya pula, tambaaahh dooong.. pengen lihat Labuan Bajo. heeheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha… banyak fotonya di pesbuk aku tuh.

      Hapus
  18. aku orang labuan bajo Mil, overall kisah nya menarik dan memang seperti itu adanya di kota kecil dgn pesona wisata bahari yg menarik hati...nanti kalau mau datang ke Labuan Bajo...kamu bisa hubungi aku, kebetulan aku punya koneksi yg bisa dipercaya utk urusan touring ke pulau2 yg ada...makasih

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...