Sabtu, 07 Desember 2013

Kereta Api, Jalan-jalan dan Business Trip

Setahun belakangan ini saya lagi seneng banget traveling antar kota menggunakan moda transportasi ini. Dulu sih sering banget, sebulan bisa 2 - 3 kali bolak-balik Jakarta - Bandung naik kereta api waktu jaman masih kuliah. Lebih dari 10 tahun yang lalu. Hm.. lama juga ya.

Jaman itu memburu tiket kereta api jkt-bdg dan sebaliknya saat akhir pekan susah banget, padahal jadwal nya ada hampir tiap jam. Kadang harus antri ber-jam-jam, dan itu pun hanya bisa dapat tiket berdiri yang ujung-ujung nya ngegelosor di lantai gerbong beralas kertas koran bekas. 

Dari Jakarta saya biasanya naik dari Stasiun Jatinegara karena dekat dengan rumah, jaman itu handphone ada tapi belum canggih - belum ada twitter dan soc med lain, jadi hiburan sambil nunggu kereta datang dengan memperhatikan kelakuan orang-orang dan nguping-nguping obrolan orang. Asal mulanya saya punya kebiasaan kepo sama orang lain kayaknya mulai dari itu deh. Tapi paling males kalau duduk sebelahan sama ibu-ibu atau bapak-bapak yang doyan ngobrol, selama berjam-jam harus tersiksa dengerin obrolannya. Makanya kalau disebelah saya bapak-bapak atau ibu-ibu, saya langsung ambil posisi tidur atau pura-pura serius baca buku tebel. 

Semenjak dibangun jalan toll Cipularang dari Jakarta ke Bandung, saya sudah tidak pernah naik kereta ke Bandung. Ditambah lagi tren pesawat-pesawat low cost macam-macam maskapai makin membuat saya males naik kereta. Misalnya aja ke Jogja, kalau naik pesawat hanya makan waktu satu jam, kalau naik kereta bisa semaleman atau seharian. Kadang harganya juga tidak jauh beda antara, pesawat dan kereta eksekutif. 

Pertama kali saya naik kereta paling jauh waktu lagi kerja praktek jaman kuliah di daerah Boyolali. Waktu itu saya bertiga dengan teman kuliah, berangkat dari bandung naik kereta ke stasiun Solo Balapan. Sambung naik angkot ke Kartosuro. Lanjut lagi naik angkutan ke desa tempat kita kerja praktek di Boyolali. Di akhir pekan, saat proyek libur, kita bertiga naik kereta Prameks- prambanan ekspres - dari Solo ke Jogja. Waktu itu naik prameks harganya sekitar Rp. 5.000-an gitu.

Era saya lulus kuliah itu kayaknya era kereta api mulai terpuruk. Jurusan Jakarta-Bandung langganan saya dikabarkan bangkrut karena penumpang beralih ke travel via cipularang sehingga keretanya sepi dan tak mampu balik modal menutupi biaya operasionalnya. Bentuk keretanya juga tidak terurus, kusam, bau, dengan ratusan ekor kecoak hilir mudik, bahkan di kereta argo yang mahalnya bingits. Saya sudah jarang banget naik kereta di jaman-jaman itu, setahun belum tentu ada sekali.

Kemudian entah sejak kapan, perkereta-apian Indonesia mulai membenahi diri, yang jelas sekarang ini saya melihat jelas banget perbaikan dan perkembangannya. Gerbong-gerbong kereta bersih, bahkan toiletnya nyaris tidak bau pesing dan bersih sekali. Di kereta eksekutif ada colokan untuk charger gadget. Baru-baru ini kereta api bisnis bahkan dipasangi AC, walopun AC nya kayak model AC di rumah-rumah. 

Yang jaman dulu pramugara kereta model mas-mas yang baju dan mukanya selalu kusut atau ibu-ibu yang judes. Sekarang rapih-rapih semua, bahkan lebih banyak dihiasi wajah mba-mba yang cantik dan manis dengan senyuman menawan seperti layaknya di pesawat udara. Masinis pun layaknya pilot, memberi sambutan di awal dan di akhir perjalanan. 

Beli tiket kereta juga lebih mudah sekarang sejak bisa beli online di internet, bahkan bisa beli di mini market-mini market. Jadi ga semua orang tublek-blek di stasiun cuman buat antri tiket. Ngomong-ngomong stasiunnya, saya mengamati stasiun kereta sekarang jauh tampak lebih bersih. Di Gambir yang sekarang hanya khusus untuk kereta eksekutif dibangun Starbucks. Waktu itu saya turun di Stasiun Jatinegara setelah sekian lama ga kesana, saya kagum dengan perombakan besar-besaran di sana, jauuuuuh lebih rapi. 

Awalnya saya mulai naik kereta dan menyadari perubahannya waktu diajak jalan-jalan sama Tante Debz ke Cirebon.  Waktu itu kita naik Cirebon Express, pergi pagi pulang sore Jakarta-Cirebon. Kita naik dari Stasiun Gambir dan tiba di stasiun Cirebon yang dibangun oleh Belanda di jaman kolonial. 

Kemudian akhir tahun 2012 saya dan chacha short trip ke Jogja dalam perjalanan mencari innerpeace naik Kereta Api dari Gambir dan tiba di Stasiun Tugu Jogja yang dibangun oleh Belanda di jaman kolonial.


Mayoritas stasiun besar di Jawa, yang hingga kini masih digunakan, dibangun oleh Belanda di jaman kolonial. Awalnya untuk mempermudah transportasi hasil alam (lada, pala, teh, kopi, etc etc) yang mau di dagangkan Belanda, akhirnya malah berbalik jadi salah satu fasilitas yang memudahkan persatuan Indonesia.

Kemunculan sistem transportasi kereta di Jawa termasuk yang awal-awal dari seluruh belahan dunia. Awal 1800-an di Inggris mulai dibangun public railway system. 1830-an railway system mulai dibangun di Amerika. Setelah itu railway dibangun di India, western europe, rusia, pulau Jawa. Stasiun kereta pertama di Indonesia yang berlokasi di Semarang diresmikan tahun 1860-an. Sama public railway di China aja masih duluan di pulau jawa beberapa tahun. Ironisnya sekarang setelah merdeka malahan sistem transportasi Indonesia ketinggalan jauh dari negara-negara lain.

Banyak sejarawan berpendapat, titik paling penting dalam sejarah adalah momen ditemukannya kereta api dan telegram. Kedua penemuan itulah yang membawa alur sejarah hingga ke era globalisasi seperti yang kita hidup sekarang  ini. Salah satu novel Leo Tolstoy - novelis dan filsuf, berjudul Anna Karenina yang terkenal mengambil background waktu awal-awalnya dibangunnya sistem railway di Rusia dan berakhir tragis dengan Anna bunuh diri lompat ke depan kereta.

Pekerjaan saya di Jepara tahun ini membuat saya jadi sering naik kereta lagi, jurusan Semarang-Jakarta. Karena business trip itu biasa saya lakukan hanya dalam satu hari, setelah saya coba macam-macam cara, yang paling hemat dan nyaman adalah pergi naik pesawat paling pagi dan pulang naik kereta malam. Karena naik kereta kan semaleman jadi saya bisa istirahat tidur selama perjalanan. Kalau pulangnya naik pesawat lagi  badan saya rontok semua dan tiba di rumah waktu nya nyaris sama kayak naik kereta.

Bandara Sukarno-Hatta itu sudah kelewat sesak dan kepenuhan. Di malam hari tumpukan penumpang antri berular-ular menunggu taksi yang seringkali kosong. Antrian paling panjang ada di taksi blue bird dan ekspress, sementara taksi lain yang cuman dinaikin orang yang terpaksa daripada ga pulang-pulang atau buru-buru, antriannya satu-dua penumpang saja. 

Waktu itu pernah saya naik pesawat paling malam dari Semarang, pesawat jam 8 tapi delay sampai jam 10 malam. Sampai di jakarta jam 11, antrian taksi masih mengular hebat, akhirnya saya putuskan naik taksi yang kurang ngetop. Apa pun lah, saya hanya ingin tiba di rumah cepat-cepat. Celakanya, jalanan ibukota jahanam masih aja padat merayap walaupun sudah tengah malam, macet parah mulai dari slipi hingga cawang, dan sopirnya ga berhenti-henti cerita. Cerita soal dia pernah bawa wanita malam yang di germo-in sama banci. Cerita soal dia bikin band sama kawan nya sesama sopir taksi satu pool dan video nya ada di youtube. saya yang sudah jetlag, pusing, mual, ditambah harus dengerin celotehan sopir taksi rasanya pengen nangis ajah.

3 minggu lalu karena di Semarang hujan saya memutuskan naik pesawat pulang. Karena kalau hujan di Stasiun Tawang itu nyaris selalu banjir, jadi ribet. Mana sekarang ada peraturan baru di Tawang kalau belum 1 jam sebelum jam keberangkatan penumpang belum boleh menunggu di peron, untuk menghindari kepadatan penumpang yang menunggu di peron. Ruang tunggu nya juga kecil, bareng sama penumpang yang antri mau beli tiket, dan macam-macam, jadi penuh sesak. 

Saya naik pesawat jam 8 malam, untungnya tepat waktu. Tapi ternyata hujan bukan hanya di Semarang tapi juga di Jakarta. Pas itu sorenya habis hujan deras, banjir dimana-mana, macet di seluruh penjuru Jakarta. Kendaraan susah menembus bandara sehingga taksi-taksi kosong, tumpukan penumpang yang menunggu bus Damri bandara juga menumpuk. Sampai-sampai ketika saya mau bayar di loket Damri, ibu-ibu yang jaga sudah tampak menyerah dengan keadaan sembari mencetin komedo di cermin kecil di mejanya berkata, "beli langsung di bus, beli langsung di bus."

Untung nya tidak lama saya menunggu ada bus damri yang kelas mewah apa lah, tarifnya lebih mahal, tapi sepi, kebetulan jurusan bekasi. Saya tanya ke supirnya apa bisa turun di Jatibening, supir mengiyakan. Tiba di terminal bayangan Jatibening sudah dini hari, saya langsung naik ojek menuju rumah. Luar biasa banget, hari itu saya berangkat dari rumah jam 3 dini hari - jalan 1000 kilometer - sampai lagi di rumah jam 3 dini hari. 

Dua hari lalu saya juga baru dari Jepara, urusannya cepat selesai jadi saya bisa naik pesawat jam 4 sore dari Semarang. Semarang - Jakarta, 1 jam. Bandara jakarta ke rumah saya di Jatibening, 3 jam lebih. Saya baru tiba di rumah jam 8.30 malam. Plus bonus badan remuk redam. Saya jadi menyesal kenapa kemarin gak pulang naik kereta aja dan menghabiskan sore wisata kuliner di Semarang. Buat saya lebih nyaman tidur di kereta daripada stress dan sakit badan di bandara dan jalanan Jakarta.

Naik kereta juga sepertinya lebih ramah lingkungan karena saya pernah baca dimana gitu dari segi carbon foot print, emisi carbon kalo naik kereta lebih rendah dari pesawat. hmmm... ingetin saya buat nanya ini kapan-kapan ke Cipu.

24 komentar:

  1. Sampai rumah jam 3 dini hari lalu beberapa jam kemudian disambung nge-date *sodorin kopi ke Mila*

    Nanti lo sama Cipu ke Malang juga pake kereta kan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. oooo pas nge-date itu gw dari kudus naek Bus pahala kencana, sampe jakarta jam 6 langsung lanjut nyamperin ehem ehem *kog gw jd blushing sendiri nulis ini

      Hapus
  2. aku juga lama ga naik kereta
    pas kemaren nyobain lagi sempet kaget
    udah beda jauh kondisinya dengan dulu termasuk tarifnya
    *masa ekonomi jogja jakarta dulu 20rb sekarang 280 ribu..? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, harganyaaaa parah mahalnya. Itu ekonomi - AC kan? klo ekonomi biasa msh murah deh kyknya.

      tapi naek bus juga skrg harganya segituan. emang semuanya serba mihil, om.

      Hapus
    2. Wah sayang sekali Pontianak tidak ada kereta Api sejak tahun 1990 sampai sekarang

      Hapus
  3. Kereta is da best lah dari dulu...banyak memorinya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, banyak kenangan indah hahahaa

      Hapus
  4. untunglah KAI udah membenahi diri, kalo gak kasian juga si pemakai jasa dan penawarnya, sama2 gak enak. Karena kereta emang udah jadi alat transportasi sejuta umat rasanya. Jadi keingetan dulu suka naik kereta satu gerbong keluarga semua, seruuuu...

    BalasHapus
  5. Baca berkali-kalis oal KAI membenahi diri jadi penasaran banget pengen nyobain naik kereta lagi. Apalagi dulu pengalaman hampir tiap weekend selama 3 bulanan bolak-balik sby-jkt naik kereta api. Meskipun lama, tapi ngelihat kehidupan dari jendela kereta itu nostalgic bangetr asanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, cobain deh. skrg manajemennya lumayan bagus. tapi jangan pas musim liburan ato lebaran, pembenahannya blom sampe situ hahahaa

      Hapus
  6. Kereta api jauh lebih rendah emisi nya Mil...... Bahan bakarnya lebih ramah lingkungan dibanding avtur avgas, selain itu penumpangnya lebih banyak jadi emisi nya bisa dibagi bagi ke lebih banyak orang.

    Eh lu mau ngajak gua naik kereta api kemana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita kan ke malang sama ocha kan taun depan hehee

      Hapus
  7. Aku sudah lama juga gak naik kereta ya? Terakhir kapan ya? emmm... mungkin awal tahun kemarin deh, kalau gak salah ke Surabaya.
    Emang sih kereta sekarang sudah lebih keren ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, jadi lebih rapih, mudah2an improving terus, jgn terpuruk lagi hahahaa

      Hapus
  8. Bepergian saat musim hujan memang tidak menyenangkan.
    Itu menurutku lo ya... selalu saja ribet karena banjir dan macet. Apalagi kalo hujan deras kendaraan juga gak berani melaju kencang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga usah berpergian mba, dijakarta aja klo musim ujan banjir dan macet diamna2 bikin pengen nangis

      Hapus
  9. Aku baru 2 kali naik kereta, dari Jakarta-Bogor pulang pergi. Kalau tidak salah naik komuter line. Saat banyak penumpangnya, kadang tidak dapat tempat duduk. Jadinya harus berdiri dan berdesak-desakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku malah baru 2 kali seumur hidup naik comline dan belum pernah pas hari kerja hahahaa

      Hapus
  10. Sudah lama banget ngak naik kereta api, sekitar 10 th an. Sejak harga kereta hampir sama dengan tiket pesawat maka tiap mudik ke gresik lebih milih pesawat.

    Kapan nich PTKAI nurunin harga exe nya ???? #ngarep

    BalasHapus
    Balasan
    1. mustinya kereta api di subsidi ya spy murah. tapi maunya fasilitasnya tetep bagus *wargabanyakmaunya* hahahaaa

      Hapus
  11. sekarang dari bekasi ke bandung udah bisa naik kereta api jga ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah? masa sih mba? aku baru tau loh. naik dari stasiun bekasi?

      Hapus
  12. hi mila,, salam kenal,, aq magda, aq mau tau donk,kalau ke jogja naik kereta dari jakarta berapa lama, and di jogja kita bisa spent berapa lama? and kalau 3 hari cukup ga?? email aq boe.magda@gmail.com thanks ya infonya

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...