Senin, 01 Februari 2016

Lari di Kebun Raya Bogor

7 tahun lebih punya blog, baru belakangan ini saya merasakan ada pergeseran tema yang mengarah kepada pencarian jati diri. Awal-awalnya di blog ini saya cerita tentang pengalaman jalan-jalan yang absurd, kadang diselipi dengan pemikiran-pemikiran aneh sok filosofis yang suka mendadak muncul.

Tahun lalu postingan saya makin random karena frekuensi wara-wiri berkurang drastis. Saya malahan mulai menekuni hobi baru, bercocok tanam sayur-sayuran. Sementara itu kegiatan olah raga lari yang awalnya saya mulai lagi karena mulai merasa keberatan badan, makin intensif saya lakukan.

Tapi lumayan sih, kalau ada yang tanya akhir pekan saya kemana, jawabannya "gw sibuk banget, sabtu berkebun, minggu lari." Lumayan ngeles dari tatapan iba orang-orang kalau tau saya jomblo di akhir pekan. Yah sepertinya kalau saya pikir-pikir blog ini memang sudah bergeser temanya, dari blog travelling jadi blog jomblo yang menyibukan diri.

Untungnya saya gak sendiri jadi jomblo. Karena saya percaya dengan slogan : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,  maka saya seringkali mengumpulkan jomblo-jomblo disekitar saya untuk bersatu menghadapi dunia yang penuh dengan manusia berpasang-pasangan ini. Banyak yang bilang kalau mau merubah dunia kita harus mulai dari yang paling dekat dengan kita, maka saya mengumpulkan orang-orang yang saya kenal, masih single, dan membentuk squad kayak Taylor Swift. Nah salah satu agenda kita ya Lari. Bisa lari supaya bugar, bisa lari dari kenyataan, bisa lari dari masa lalu - walaupun yang terakhir itu biasanya yang paling berat buat yang susah move on, tapi kita sering melakukannya bersama-sama.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Lari di Kebun Raya Bogor sendiri berawal dari ide spontan ketika salah satu klien bisnis membatalkan janji, kami memutuskan untuk melipir ke Kebun Raya Bogor untuk lari sore. Sebelumnya kami memang sudah browsing tempat lari lain karena sudah mulai bosan lari di senayan dan di taman tebet, mau cari suasana baru sekalian cari prospek gebetan baru. Kebetulan pas harinya ketika klien membatalkan janji itu, waktu itu saya bertiga dengan chacha dan nico memang bawa baju lari karena hari itu hari selasa, hari lari di Senayan. Yasudah sekalian saja kita ganti jadwal dan lokasi lari jadi di Kebun Raya Bogor.

Sampai di Bogor kami sempat makan siang dan menunggu sore di Lemongrass, cafe yang lagi hits. 

Saya sudah lupa kapan terakhir kali masuk Kebun Raya Bogor, mungkin waktu karyawisata SMP, atau bahkan SD. Jadi kami sempat mondar-mandir menyusuri Kebun Raya dari jalan raya untuk menemukan pintu masuk yang bisa untuk parkir mobil. 

Kami menemukan pintu masuk yang bisa dilalui mobil sore itu melalui pintu ke Grand Garden Resto dan Cafe yang terletak di dalam lokasi Kebun Raya. Kami tiba jam 4 lewat, ada loket tiket tapi kosong dan satpam menanyakan mau kemana. Ketika saya bilang mau ke cafe, satpam itu mengarahkan jalan.

Nico sudah tidak sabar mau lari dan ganti baju kantor dengan perlengkapan larinya. Tapi saya yang masih ragu dengan track-nya mengusulkan kita survei dulu, apalagi kelihatannya kami sudah kesorean dan di kebun raya mulai terlihat gelap. Kami pun sepakat untuk survei rute dulu, tanpa ganti baju olahraga. Waktu itu kami jalan keliling Kebun Raya yang kami pikir sangat luas, ternyata setelah dikelilingi jaraknya tidak sampai 5 km. 

Beberapa hari kemudian kami kembali lagi. Kali ini membawa satu orang lagi anggota bernama Grace. Kebetulan waktu itu saya sekalian ada janji ketemu sama Pagit dan Mba Efa, setelah makan baso seseupan yang endess saya melanjutkan agenda berikutnya, lari di Kebun Raya Bogor. Pagit dan Mba Efa tidak ikut. 

Saya, Nico, Chacha dan Grace tiba di gerbang Kebun Raya yang kita datangi pertama kali waktu itu jam 4 kurang 8 menit. Kami disambut satpam yang menginformasikan kalau kami mau masuk jam 4 kurang 8 menit itu harus bayar, tapi kalau masuk setelah jam 4 tidak bayar. Akhirnya kami keluar lagi dan putar balik sebentar di jalan raya, ketika kami kembali ke gerbang sudah jam 4 lewat.

Kami rela buang waktu 8 menit muter-muterin jalan tak tentu arah supaya bisa masuk gratis. Pasti yang baca pada  mikir selain jomblo, kami juga kere. Tapi yaaah.. hidup itu berat, bung.

Saat itu biji kapuk randu di Kebun Raya sedang merekah, jadi di halaman parkiran semacam ditutupi bercak-bercak salju yang putih. Kami langsung ganti pakaian olahraga dan lari mengitari kawasan Kebun Raya Bogor. Lari disana rasanya kayak lari di tengah hutan karena menyusuri naungan pohon-pohon besar. Ada satu bagian yang bernama Taman Mexico, tanamannya terdiri dari macam-macam kaktus, mengingatkan saya sama scene di film donald duck yang di gurun terus donald jatuh ke pohon kaktus dan langsung terbang melesat ke udara dengan bekas jarum-jarum kaktus masih menancap di pantatnya yang putih. Rasanya bikin saya lupa kalau saat itu saya ada di tengah-tengah kota yang dijalan raya nya angkot-angkot hijau penguasa jalan saling salip berebut penumpang. Rute larinya, ikuti saja jalan aspal yang biasa dilewati mobil. 

Rute lari di dalam Kebun Raya Bogor




Selasa, 19 Januari 2016

Marigold

Waktu itu saya pernah ditanya sama salah satu teman saya,"mil, lo gak tanam bunga-bunga?"

Dan waktu itu saya menjawab, "Gw cuma tanam yang bisa dimakan." 

Itu sebelum saya tahu kalau ada bunga-bunga yang bisa dimakan - edible flowers dan fakta bahwa mencampur tanaman bunga di antara tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan juga penting untuk mengecoh serangga yang tidak diinginkan dan mengundang serangga yang penting untuk tanaman kita, misalnya kupu-kupu dan lebah yang membantu proses penyerbukan.

Bunga yang pertama saya tanam adalah Marigold. Saya membeli bibitnya online setelah membaca tentang companion planting, rencananya saya akan menyandingkan Marigold dengan tanaman tomat karena Marigold bikin lalat-lalat yang suka numpang bertelur di daun tomat males untuk mendekat karena baunya. Selain itu akar Marigold juga membantu membunuh nematoda-nematoda yang dapat merusak akar tanaman. 

Marigold (kanan) berkecambah 
Saya mulai menanam benih Marigold bersamaan dengan menanam benih Terong Ungu, mereka pun berkecambah di waktu yang nyaris bersamaan, sekitar 3 - 4 hari sejak ditanam. 

Dari hasil browsing lebih dalam tentang Marigold, saya mengetahui bahwa bunga ini bisa dimakan walaupun ada macam-macam pendapat yang bilang kalau marigold yang bisa dimakan itu dari jenis Calendula, sementara yang saya tanam ini nama latinnya Tagetes Patula biasanya hanya digunakan sebagai pengusir serangga. Tapi saya bertekad tetap mau coba makan kalau sudah berbunga untuk memastikan apakah bunga ini bisa dimakan atau tidak. 

Selain Marigol masih banyak sekali edible flower yang populer seperti Pansy, Chamomile yang banyak digunakan untuk dibuat teh, juga Sunflower atau bunga matahari yang bijinya bisa diambil untuk jadi kuaci. Saya pun membeli bibit bunga-bunga lagi yang ada di daftar edible flower. Tapi dari sekian banyak benih bunga yang coba saya tanam di tahun 2015 tidak ada yang berkecambah lagi selain marigold itu.

Sementara kegagalan demi kegagalan saya lalui dengan berbagai macam benih bunga-bunga yang coba saya tanam, Marigold saya tumbuh subur dalam pot, bahkan hanya dengan perawatan yang minimal. Bunga ini tahan kering jadi saya hanya menyiramnya 2 hari sekali atau apabila permukaan tanah di pot tampak kering. Tiga setengah bulan kemudian Marigold mulai menampakan kuncupnya dan tak lama bunga mungil berwarna merah mekar dari kuncup tersebut.

Kuncup Marigold

Bunga Marigold mekar

Karena tanaman itu sudah semakin rimbun dan tampak sesak di potnya maka saya memutuskan memindahkan tanaman itu di tanah, di petak tanah kebun samping yang sudah dipagari dari serangan ayam. Tapi tak lama datang tukang kebun yang biasa dipanggil Papa Said setiap beberapa bulan sekali untuk merapikan rumput-rumpur liar. Semak Marigold saya dicabut sampai habis oleh tukang kebun itu karena dikira rumpur liar, mungkin karena bentuk daunnya yang kecil-kecil mirip rumput-rumputan yang sejenis putri malu. Tanaman marigold saya pun musnah tak berbekas.

Masih dengan hati hancur berantakan saya kembali membuka laman yang menjual bibit bunga online. Saya kembali membeli bibit marigold. Mulai dari nol lagi.

Saya membeli dua jenis Marigold berbeda, yang ternyata setelah berbunga coraknya berbeda dengan Marigold pertama yang berwarna merah. Marigold kedua yang saya tanam bunganya berwarna kuning. Sementara jenis satunya lagi bunganya juga berwarna kuning tapi ada garis jingga di tengah kelopak kuningnya.

Marigold kedua yang saya tanam
Setelah dilihat-lihat sih, walaupun bunga ini masuk ke kategori edible flower, tapi karena ukuran bunganya yang kecil jadi gak berasa makannya. Kalau pun dipakai di masakan palingan cuma sebagai hiasan cantik yang bisa dimakan. Tapi saya sudah coba makan kelopak Marigold, cenderung tidak ada rasanya jadi bisa ditelan dan yang penting sehabis makan gak sakit perut atau keracunan. Warna kelopaknya yang vibran bisa dipakai untuk  menambah warna di salad atau makanan lain.

Roti alpukat bertabur kelopak Marigold






Jumat, 08 Januari 2016

Flashback tahun 2015

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya semenjak saya memulai blog ini di tahun 2008 saya selalu membuat catatan akhir/awal tahun. Di tahun 2016 ini postingannya memang agak telat karena sudah satu minggu berlalu sejak pergantian tahun saya baru ada kesempatan update blog lagi.

Awal tahun 2015 saya lewatkan di Unit Gawat Darurat RS Persahabatan karena ada insiden yang terjadi menjelang detik-detik pergantian tahun di rumah saya yang cukup memacu adrenalin. Saat itu saya hanya mengantar tapi harus menunggu sampai pagi di dalam ruang itu. Sangat berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya yang saya lewatkan dengan tidur nyenyak, malam tahun baru 2015 saya sama sekali tidak tidur, malahan menyaksikan korban-korban kecelakaan motor, korban tawuran dan korban petasan hilir mudik di ruang UGD. 

Momen memacu adrenalin diawal tahun itu ternyata merupakan awal dari sulitnya tahun 2015 bagi saya. Perlambatan ekonomi dan pergantian posisi politik yang mengakibatkan banyaknya kebijakan-kebijakan yang berubah atau tidak jelas ditambah dengan perekonomian dunia yang secara umum memang lagi susah membuat usaha saya juga jadi susah. Prestasi terbesar di tahun 2015 kemarin untuk saya adalah bertahan atau survive

Walaupun tahun kemarin mungkin adalah tahun yang paling sedikit travelling untuk saya dalam 8 tahun terakhir tapi saya sempat mendaki puncak Merbabu. Sisa waktu luang yang ada saya pergunakan untuk berkebun dan lari. 

Tahun 2015 di bulan agustus bertepatan dengan tanggal ulang tahun, saya berhasil mencapai jarak 10km pertama saya. Saya dan kawan-kawan yang hobi lari juga mencari track-track lari baru di tempat-tempat yang seru. Besok-besok saya akan share rute dan track lari seru yang pernah saya coba. 

Semakin banyak aktifitas fisik di tahun kemarin, walaupun sedikit travelling, saya merasa semakin fit. Selain itu karena sejak beberapa tahun lalu saya bertekad membatasi bahan-bahan kimia yang masuk ke tubuh, jadi saya tidak lagi mengkonsumsi obat kalau sakit, tidak lagi menambahkan gula di kopi atau teh saya dan mengurangi drastis makan atau minum produk kemasan. Awalnya saya sempat kena flu tapi tetap tidak minum obat, saya hanya banyak konsumsi buah dan tidur lebih cepat, tidak perlu waktu lama saya merasa daya tahan tubuh saya menguat dan hingga sekarang sudah tiga tahun saya tidak pernah sakit, Alhamdulillah yah.

Sejak mulai menanam tomat di pertengahan tahun 2014, saya jadi suka banget bercocok tanam. Dari hanya tanaman tomat saya mulai merambah menanam sayur-sayuran lain seperti terong ungu, sawi, kangkung, bayam, kacang panjang, okra, ubi dan bunga marigold. Di akhir tahun 2015 kemarin saya sempat posting rencana kebun saya untuk tahun 2016, awal tahun ini pun diawali dengan baik karena setelah beberapa kali mencoba menanam benih bunga matahari dan gagal, kemarin salah satu benih bunga matahari yang saya tanam di awal tahun berkecambah.

Menghadapi masa-masa sulit sepanjang tahun, ada hal yang saya sadari. Saya banyak berubah. Saya mulai menabung bukan untuk jalan-jalan. Walaupun saya sempat hampir kehilangan semuanya, tapi sepertinya saya sudah sangat terbiasa kehilangan apa yang saya punya, jadi di momen-momen saya harus melepaskan tabungan saya itu tanpa ada kepastian akan kembali saya ikhlas kalau memang harus kehilangan. Untungnya sih balik. Seperti yang pernah saya posting di tahun 2014 bahwa hidup ini kayak traveling, semakin banyak barang/beban yang harus dibawa maka travelingnya jadi ribet dan berat. Tapi kalau kita bisa memilih untuk membawa apa saya yang benar-benar kita butuhkan sehingga bawaan kita ga banyak, perjalanan akan jadi lebih simpel dan ringan. Apalagi kalau bisa benar-benar jalan dengan hanya bawa diri sendiri - maybe that's what true freedom is, kita gak takut kehilangan apa pun lagi kalau kita ga punya apa-apa.






Selasa, 29 Desember 2015

Anjing Pantai

Saya sudah pernah cerita tentang hewan-hewan yang berpengaruh dalam hidup saya, dalam postingan Peliharaan-Peliharaan Tante. Memang tidak secara langsung saya sadari tapi ternyata dari dulu saya memang punya ketertarikan khusus sama hewan-hewan. Pertanyaan terbesar dalam hidup saya adalah kenapa ikan  matanya disamping jalannya kedepan tapi kepiting matanya ke arah depan jalannya kesamping. Saya juga pernah bahas khusus tentang sapi di blog ini, tepatnya di postingan dengan judul Sapi.

Waktu traveling bukan hanya ketemu sama orang-orang unik yang saya kenal di jalan, saya juga banyak ketemu sama anggota spesies lain yang menginspirasi saya, seperti Komodo. Walaupun hanya bisa lihat sebentar tapi saya langsung jatuh cinta sama hewan reptil raksasa ini sampai-sampai saya menaruh hiasan replika komodo di dashboard mobil. 

Pernah ada tukang parkir yang komentar, "mba, itu biawaknya bagus." 

Saya langsung marah,"ini Komodo, pak. bukan biawak."

Pernah juga waktu isi bensin, komodo di dashboard mobil saya bikin takut mas-mas yang mau bersihkan kaca. Mas-mas malang itu rupanya punya fobia sama reptil, mungkin waktu kecil pernah digigit kadal atau pernah kejebak sama buaya darat seperti saya. Untungnya walaupun beberapa kali disakiti hatinya oleh buaya darat saya gak sampe trauma sama reptil. 

Sambil gemetaran si mas fobia kadal itu menghampiri jendela mobil sambil ngomong, "maaf bu, itu yang di kaca bisa ditutup sebentar, bu?". Wajahnya pucat pasi tapi dengan profesional tetap meneruskan pekerjaannya membersihkan kaca mobil saya. Kasian juga sih liatnya.

Cukup tentang komodo, saya akui memang saya belum bisa move on dari nya.

Tujuan utama posting saya kali ini sebenarnya mau cerita kejadian lucu waktu di Jimbaran, Bali. Saya lagi duduk sendirian sore-sore menjelang matahari terbenam di pasir. Dari kejauhan saya sudah lihat ada 3 ekor anjing menghampiri. Awalnya mereka duduk agak jauh dari saya, ada sekitar 1 meter. Lama-lama duduknya bergerak makin mendekat. Rupanya mereka lirik-lirik saya tidak bergeming ketika mereka duduk mendekat. lama kelamaan salah satu anjing yang berwarna putih berdiri memandang saya dan menghampiri perlahan dengan kepala agak menunduk minta dielus. Ketika saya mengulurkan tangan mengelus kepalanya, ketiga anjing itu nempel sama saya. Rupanya mereka sudah keseringan bergaul sama turis jadi manja.



Anjing termasuk hewan yang pertama kali di domestikasi oleh manusia dari serigala. Jadi nenek moyang anjing adalah serigala. Awalnya dipelihara untuk kegiatan berburu, tapi rupanya karena hewan ini yang paling cepat beradaptasi dengan kehidupan manusia, hingga sekarang anjing tetap populer sebagai hewan peliharaan. Dibandingkan dengan kucing, anjing sebagai hewan peliharaan lebih tahu bagaimana balas budi sama yang memelihara. 

Kalau kucing itu, walaupun kita pikir kita yang memelihara mereka padahal sebenarnya kita yang diperbudak. Kucing paling gak mau kalau disuruh-suruh dan suka ngambek kalau dimarahin, maunya cuma tidur-tiduran atau main-main. Semua kemauannya harus dituruti dan entah kenapa manusia selalu aja menuruti kemauan kucing-kucing. Anehnya makin judes mukanya, biasanya makin tinggi kasta kucingnya, kalau dijual lebih mahal dan kalau kontes-kontes biasanya menang. Ada sesuatu di muka nya atau pandangan matanya yang bisa mempengaruhi alam bawah sadar manusia untuk selalu mengikuti kemauannya. Mungkin karena itu di mesir jaman dahulu yang pertama-tama mempopulerkan kucing sebagai hewan peliharaan, salah satu dewanya berwujud kucing.

Menyesuaikan dengan gaya hidup di Bali dan perilaku manusia-manusianya, maka anjing-anjing di Bali pun jadi lebih ramah dan supel. Bukan cuma anak pantai yang gaul, anjing pantai pun begitu. Waktu saya lagi tidur-tiduran di pantai yang terletak di belakang hotel pagi-pagi tiba-tiba di atas muka saya ada wajah berbulu. 


Adorable. Who can resist this kind of cuteness <3 div="">

Kamis, 17 Desember 2015

Racauan orang yang lagi kurang piknik dan kebanyakan nonton video random di youtube

Sejarah dimulai ketika manusia mengenal tulisan. Manusia mengenal tulisan setelah mereka mengenal teknik bercocok tanam dan sudah tidak hidup berpindah-pindah untuk mengumpulkan dan berburu makanan (hunters and gatherers). Sebelum masa sejarah (pre historic) manusia yang hidup berpindah-pindah belum mengenal tulisan, ilmu dan pengetahuan diceritakan langsung dan diajarkan turun temurun. Cara bertahan hidup di alam, apa saja yang boleh dimakan, bagaimana cara berburu semua diajarkan secara lisan dan langsung diterapkan dalam kehidupannya.

Manusia sudah hidup dengan cara mengumpulkan makanan dan berburu sejak ada di bumi, beberapa ratus ribu tahun kemudian teknologi yang dipakai untuk hidup semakin rumit. Awalnya alat bantu untuk senjata, mengolah makanan, dan sebagainya menggunakan batu-batuan. Lama-lama mereka punya ide meruncingkan batu. Kemudian mereka hidup berpindah-pindah dalam kelompok untuk terus mencari makanan. Semakin lama teknologi yang mereka temukan makin canggih, mungkin karena di tempat-tempat baru yang didatangi mereka terbentur dengan tantangan alam baru dan harus terus menemukan cara untuk menanggulangi tantangan alam dan bertahan hidup. 

Hingga sampai pada era manusia mulai bercocok tanam. Mungkin awalnya gaya hidup bercocok tanam masih bercampur dengan berburu dan mengumpulkan makanan dari tumbuhan liar di hutan. Kemudian di beberapa daerah yang pada akhirnya menjadi pusat dari awal mula peradaban manusia seperti di mesopotamia, gaya hidup bercocok tanam lebih maju dan manusia mulai memenuhi sebagian besar kebutuhan makanannya dari hasil pertanian. Tapi laju kemajuan teknologi di bumi tidak sama. Ketika jaman peradaban mesopotamia terbentuk, sebagian besar manusia di bumi ini masih hidup sebagai kelompok nomaden hunters and gatherers.

Ketika daerah Eropa sudah memasuki era modernisasi di tahun 1700-an, Suku Aborigin di Australia masih hidup sebagai hunters and gatherers. Di saat itu juga pasti di pedalaman-pedalaman hutan di Indonesia masih banyak dihuni oleh suku asli yang hidup nomaden. Di pulau Jawa mungkin keberadaan suku nomaden terdesak oleh masuknya arus migrasi dari manusia yang hidup bercocok tanam padi, yang populasinya merupakan cikal bakal terbentuknya kerajaan di Jawa. Tapi di pulau-pulau lain seperti Sulawesi dan Kalimantan, mayoritas pasti masih dihuni suku nomaden. Waktu saya kecil aja di Irian Jaya (Sebutan papua jaman orde baru) masih banyak suku asli yang hidup di hutan dengan cara berburu. Di kalimantan pun masih ada suku Dayak yang tinggal di hutan yang masih belum jadi kebun sawit. 

Saya mau cerita video singkat yang baru saya tonton tentang Waorani, dari suku asli yang tinggal di hutan Amazon . Kalau mau nonton sepertinya harus Log In dulu dan daftar, jadi saya cerita aja sekilas. 

Waorani lahir sebagai suku nomaden di pedalaman Amazon. Waktu kecil Waorani masih hidup berpindah-pindah. Setiap 3 bulan pindah tempat, dia ikut jalan diikat pakai tali ke orangtuanya atau didukung di pundak orang tuanya. Mereka hidup dari makan hasil hutan dan berburu, makanan utamanya Yuca atau kalau kita bilang disini Singkong. Mereka hidup berkecukupan, alam memenuhi segala kebutuhan mereka. 

Hingga suatu hari ketika Waorani sudah dewasa di tahun 90-an, datang orang-orang dari perusahaan minyak. Mereka membuat perjanjian dengan beberapa suku asli yang tinggal di hutan itu agar mereka bisa menambang minyak bumi disitu. Seharusnya perjanjiannya hanya 20 tahun, tapi sudah lebih dari 20 tahun perusahaan minyak itu masih beroperasi di sana. Waorani menyebutnya "the devil's tongue of spanish".

Kisah yang mirip pernah saya dengar dari Rio yang pernah tinggal bersama suku dayak di Kalimantan. Hidup mereka berubah drastis karena perusahaan kelapa sawit membeli tanah mereka untuk dibangun perkebunan. Mereka yang sebelumnya tidak terbiasa dengan konsep uang mempergunakannya secara konsumtif, beli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan tidak bisa jadi modal untuk hidup mereka selanjutnya kalau uang hasil penjualan tanah sudah habis. 

Sejak nenek moyang Suku Dayak hidup di hutan itu berabad-abad lalu, mereka hidup dari apa yang ada di hutan. Mereka punya kepercayaan, kewajiban dan tata cara yang diajarkan turun temurun bagaimana menjaga hutan agar bisa terus hidup dan makan dari apa yang ada di hutan. Mereka tidak perlu uang untuk beli makanan. Tapi karena hutan tempat mereka cari makan berubah jadi ladang sawit dan sudah ditukar sama uang, jadi otomatis hidup mereka berubah drastis. 

Sama persis seperti Waorani di hutan amazon. Sebelum perusahaan minyak datang mereka hanya makan apa yang ada di hutan; singkong, pisang, hewan buruan. Pakaian, alat berburu dan aksesoris lainnya diambil dari bahan yang tersedia di hutan, diajarkan turun temurun oleh orang tua mereka. Dan mereka merasa cukup. Setelah mengenal uang dan bisa beli bahan makanan, yang dimakan jadi lebih bervariasi; nasi, coca cola, biskuit, kue. Masalahnya adalah Waorani tidak punya skill untuk menghasilkan uang, sementara makin lama kehidupannya makin tergantung dengan uang karena hutan tempatnya tinggal sudah tidak sama seperti pada masa ayah dan kakeknya. 

Waorani khawatir dengan kondisi hutan yang semakin rusak karena pekerjaan ekplorasi, mereka sudah tidak bisa lagi hidup dari hasil hutan seperti dulu. Ya mirip-mirip kejadiannya antara di amazon, suku dayak di kalimantan, suku di papua. Itu juga yang terjadi sama banyak spesies hewan di dunia ini yang semakin lama semakin susah untuk bertahan hidup karena hutan tempat tinggal mereka makin lama makin sempit didesak oleh perkebunan, peternakan, jalan raya, perumahan, pabrik. Sekarang Waorani dan anggota suku yang tinggal di hutan itu tidak lagi bisa hidup berpindah-pindah. Anak-anaknya sudah tidak merasakan hidup nomaden, mereka menetap di rumah yang sudah di semen permanen dan sudah sekolah.

Waorani di Amazon, suku Dayak di Kalimantan dan suku di Papua merupakan sisa-sisa dari generasi hunters and gatherers di dunia ini. Anak-anak mudanya mungkin sudah tidak hidup sama seperti cara hidup kakeknya karena perkembangan dunia yang pesat tahun belakangan ini, mereka sudah tidak lagi berburu dan mengumpulkan makanan karena kebutuhannya dibeli di pasar. Mereka mungkin sudah tidak lagi mempelajari pengetahuan turun temurun dari orang tuanya tentang jenis tumbuh-tumbuhan yang bisa jadi makanan atau jadi obat di hutan, tidak lagi mempelajari cara membuat pakaian dan membuat senjata dari bahan alami karena sudah sekolah dan belajar matematika, fisika dan kimia. 

Perubahan memang tidak terelakan, tapi lucu. Jaman dulu dunia ini tanpa batas, kemudian manusia membuat batasan-batasan untuk melindungi tempat tinggalnya contohnya batas negara, tapi lama-lama gaya hidup nya jadi sama semua dan mulai banyak yang menginginkan dunia tanpa batas (lagi). Yang hidup di peradaban inferior pasti kepingin mengikuti manusia yang hidup di peradaban superior. Kalaupun gak kepingin pilihannya hanya harus mengikuti atau terdesak. Seperti suku di Amazon dan Dayak terdesak sama globalisasi, suku Indian dan Aborigin terdesak sama kolonisasi bangsa eropa jaman dulu. 

Waktu ke Rinjani, kawan-kawan bule saya yang bareng mendaki sama saya sepakat kalau saya mengingatkan mereka sama Pocahontas waktu lihat saya lari-lari gak pake sepatu dipinggir danau. Katanya karena kulit saya yang tanned (bukan item yah), kepangan rambut dan tampak seneng banget lari-larian telanjang kaki. 

Pocahontas di disney memang keren, dia juga dari suku indian asli yang tinggal di hutan. Tapi kenyataannya ga seindah di film animasi. Pocahontas itu tokoh nyata dan memang benar dia ketemu John Smith yang berlayar pakai kapal dari Inggris. Si John Smith ini sendiri yang menulis surat ke Ratu Inggris tentang Pocahontas, seorang gadis anak kepala suku indian yang menyelamatkan nyawanya ketika mau dieksekusi sebagai penyusup asing. Mungkin itu yang menginspirasi cerita Disney. 

Saya pernah baca cerita asli tentang Pocahontas, di dunia nyata Pocahontas akhirnya menikah dengan pria Inggris, bukan John Smith. Dia jadi perempuan Indian pertama yang hidupnya di-westernisasi. Pocahontas diajari bahasa Inggris, pakai baju kayak perempuan inggris di era itu, gaya hidup dan tata caranya berubah jadi kayak orang eropa. Buat saya itu tragis dan menyedihkan, tapi mungkin pas jaman itu dari suku primitif yang hidup di hutan jadi anggota peradaban eropa yang canggih itu keren.

Waktu jaman kolonial di Indonesia dulu, Belanda juga membawa gaya hidup Eropa ke raja-raja Jawa. Pangeran dan Putri disekolahkan ke Belanda atau disekolahkan di sekolah elit yang didirikan dan diajar oleh orang Belanda, mempelajari bahasa dan gaya hidup eropa. Coba aja perhatikan kalau lagi berkunjung ke keraton atau museum kerajaan-kerajaan di Jawa. Di tahun 1800-an Sultan pun mulai memasukan unsur Jas ke pakaiannya, seperti gaya pakaian orang Eropa. Sekarang kita pakai baju, rok, kemeja, T-shirt, Jeans itu hasil nyata dari era kolonial, kita semua bergaya pakaian seperti orang barat. 

Berakhirnya satu jaman beralih ke jaman lain memang tidak terelakan dan kalau kita baca buku sejarah memang selalu terjadi. Sekarang ini adalah saatnya jaman hunters dan gatherers benar-benar berakhir. Generasi yang lahir sekarang-sekarang ini mungkin hanya akan tahu suku primitif yang tinggal nomaden di tengah hutan hanya dari wikipedia atau dari jalan-jalan ke goa pre-historic dan lihat gambar-gambar hasil karya orang purba di dinding goa karena budaya hidup hunters and gatherers sudah punah. Tapi mudah-mudahan kita semua tidak akan lupa kalau ada saat dimana manusia hanya mampu bertahan hidup di alam, belum punya teknologi untuk berusaha mengendalikan dan menjadi mahluk congkak yang berusaha menguasai dunia ini. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...