7 tahun lebih punya blog, baru belakangan ini saya merasakan ada pergeseran tema yang mengarah kepada pencarian jati diri. Awal-awalnya di blog ini saya cerita tentang pengalaman jalan-jalan yang absurd, kadang diselipi dengan pemikiran-pemikiran aneh sok filosofis yang suka mendadak muncul.
Tahun lalu postingan saya makin random karena frekuensi wara-wiri berkurang drastis. Saya malahan mulai menekuni hobi baru, bercocok tanam sayur-sayuran. Sementara itu kegiatan olah raga lari yang awalnya saya mulai lagi karena mulai merasa keberatan badan, makin intensif saya lakukan.
Tapi lumayan sih, kalau ada yang tanya akhir pekan saya kemana, jawabannya "gw sibuk banget, sabtu berkebun, minggu lari." Lumayan ngeles dari tatapan iba orang-orang kalau tau saya jomblo di akhir pekan. Yah sepertinya kalau saya pikir-pikir blog ini memang sudah bergeser temanya, dari blog travelling jadi blog jomblo yang menyibukan diri.
Untungnya saya gak sendiri jadi jomblo. Karena saya percaya dengan slogan : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, maka saya seringkali mengumpulkan jomblo-jomblo disekitar saya untuk bersatu menghadapi dunia yang penuh dengan manusia berpasang-pasangan ini. Banyak yang bilang kalau mau merubah dunia kita harus mulai dari yang paling dekat dengan kita, maka saya mengumpulkan orang-orang yang saya kenal, masih single, dan membentuk squad kayak Taylor Swift. Nah salah satu agenda kita ya Lari. Bisa lari supaya bugar, bisa lari dari kenyataan, bisa lari dari masa lalu - walaupun yang terakhir itu biasanya yang paling berat buat yang susah move on, tapi kita sering melakukannya bersama-sama.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Lari di Kebun Raya Bogor sendiri berawal dari ide spontan ketika salah satu klien bisnis membatalkan janji, kami memutuskan untuk melipir ke Kebun Raya Bogor untuk lari sore. Sebelumnya kami memang sudah browsing tempat lari lain karena sudah mulai bosan lari di senayan dan di taman tebet, mau cari suasana baru sekalian cari prospek gebetan baru. Kebetulan pas harinya ketika klien membatalkan janji itu, waktu itu saya bertiga dengan chacha dan nico memang bawa baju lari karena hari itu hari selasa, hari lari di Senayan. Yasudah sekalian saja kita ganti jadwal dan lokasi lari jadi di Kebun Raya Bogor.
Sampai di Bogor kami sempat makan siang dan menunggu sore di Lemongrass, cafe yang lagi hits.
Tahun lalu postingan saya makin random karena frekuensi wara-wiri berkurang drastis. Saya malahan mulai menekuni hobi baru, bercocok tanam sayur-sayuran. Sementara itu kegiatan olah raga lari yang awalnya saya mulai lagi karena mulai merasa keberatan badan, makin intensif saya lakukan.
Tapi lumayan sih, kalau ada yang tanya akhir pekan saya kemana, jawabannya "gw sibuk banget, sabtu berkebun, minggu lari." Lumayan ngeles dari tatapan iba orang-orang kalau tau saya jomblo di akhir pekan. Yah sepertinya kalau saya pikir-pikir blog ini memang sudah bergeser temanya, dari blog travelling jadi blog jomblo yang menyibukan diri.
Untungnya saya gak sendiri jadi jomblo. Karena saya percaya dengan slogan : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, maka saya seringkali mengumpulkan jomblo-jomblo disekitar saya untuk bersatu menghadapi dunia yang penuh dengan manusia berpasang-pasangan ini. Banyak yang bilang kalau mau merubah dunia kita harus mulai dari yang paling dekat dengan kita, maka saya mengumpulkan orang-orang yang saya kenal, masih single, dan membentuk squad kayak Taylor Swift. Nah salah satu agenda kita ya Lari. Bisa lari supaya bugar, bisa lari dari kenyataan, bisa lari dari masa lalu - walaupun yang terakhir itu biasanya yang paling berat buat yang susah move on, tapi kita sering melakukannya bersama-sama.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Lari di Kebun Raya Bogor sendiri berawal dari ide spontan ketika salah satu klien bisnis membatalkan janji, kami memutuskan untuk melipir ke Kebun Raya Bogor untuk lari sore. Sebelumnya kami memang sudah browsing tempat lari lain karena sudah mulai bosan lari di senayan dan di taman tebet, mau cari suasana baru sekalian cari prospek gebetan baru. Kebetulan pas harinya ketika klien membatalkan janji itu, waktu itu saya bertiga dengan chacha dan nico memang bawa baju lari karena hari itu hari selasa, hari lari di Senayan. Yasudah sekalian saja kita ganti jadwal dan lokasi lari jadi di Kebun Raya Bogor.
Sampai di Bogor kami sempat makan siang dan menunggu sore di Lemongrass, cafe yang lagi hits.
Saya sudah lupa kapan terakhir kali masuk Kebun Raya Bogor, mungkin waktu karyawisata SMP, atau bahkan SD. Jadi kami sempat mondar-mandir menyusuri Kebun Raya dari jalan raya untuk menemukan pintu masuk yang bisa untuk parkir mobil.
Kami menemukan pintu masuk yang bisa dilalui mobil sore itu melalui pintu ke Grand Garden Resto dan Cafe yang terletak di dalam lokasi Kebun Raya. Kami tiba jam 4 lewat, ada loket tiket tapi kosong dan satpam menanyakan mau kemana. Ketika saya bilang mau ke cafe, satpam itu mengarahkan jalan.
Nico sudah tidak sabar mau lari dan ganti baju kantor dengan perlengkapan larinya. Tapi saya yang masih ragu dengan track-nya mengusulkan kita survei dulu, apalagi kelihatannya kami sudah kesorean dan di kebun raya mulai terlihat gelap. Kami pun sepakat untuk survei rute dulu, tanpa ganti baju olahraga. Waktu itu kami jalan keliling Kebun Raya yang kami pikir sangat luas, ternyata setelah dikelilingi jaraknya tidak sampai 5 km.
Beberapa hari kemudian kami kembali lagi. Kali ini membawa satu orang lagi anggota bernama Grace. Kebetulan waktu itu saya sekalian ada janji ketemu sama Pagit dan Mba Efa, setelah makan baso seseupan yang endess saya melanjutkan agenda berikutnya, lari di Kebun Raya Bogor. Pagit dan Mba Efa tidak ikut.
Saya, Nico, Chacha dan Grace tiba di gerbang Kebun Raya yang kita datangi pertama kali waktu itu jam 4 kurang 8 menit. Kami disambut satpam yang menginformasikan kalau kami mau masuk jam 4 kurang 8 menit itu harus bayar, tapi kalau masuk setelah jam 4 tidak bayar. Akhirnya kami keluar lagi dan putar balik sebentar di jalan raya, ketika kami kembali ke gerbang sudah jam 4 lewat.
Kami rela buang waktu 8 menit muter-muterin jalan tak tentu arah supaya bisa masuk gratis. Pasti yang baca pada mikir selain jomblo, kami juga kere. Tapi yaaah.. hidup itu berat, bung.
Kami rela buang waktu 8 menit muter-muterin jalan tak tentu arah supaya bisa masuk gratis. Pasti yang baca pada mikir selain jomblo, kami juga kere. Tapi yaaah.. hidup itu berat, bung.
Saat itu biji kapuk randu di Kebun Raya sedang merekah, jadi di halaman parkiran semacam ditutupi bercak-bercak salju yang putih. Kami langsung ganti pakaian olahraga dan lari mengitari kawasan Kebun Raya Bogor. Lari disana rasanya kayak lari di tengah hutan karena menyusuri naungan pohon-pohon besar. Ada satu bagian yang bernama Taman Mexico, tanamannya terdiri dari macam-macam kaktus, mengingatkan saya sama scene di film donald duck yang di gurun terus donald jatuh ke pohon kaktus dan langsung terbang melesat ke udara dengan bekas jarum-jarum kaktus masih menancap di pantatnya yang putih. Rasanya bikin saya lupa kalau saat itu saya ada di tengah-tengah kota yang dijalan raya nya angkot-angkot hijau penguasa jalan saling salip berebut penumpang. Rute larinya, ikuti saja jalan aspal yang biasa dilewati mobil.
![]() |
| Rute lari di dalam Kebun Raya Bogor |








