Minggu, 04 September 2016

Birthday Trip

Kalau mau jujur saya adalah orang yang lost in life, alias nyasar di dalam ruang waktu kehidupan ini. Kalau ditanya apa yang saya lihat dalam hidup saya 5 tahun ke depan, atau bahkan satu tahun ke depan, jawabannya : saya gak tau. Yang saya tahu pokoknya sekarang hanya ingin membuat setiap tahun yang saya jalani memorable, wherever it may leads.

Dipostingan sebelumnya saya sempat bilang awal saya mulai semua ini dan pada akhirnya bikin saya sadar bahwa hal yang terpenting dalam hidup adalah menikmati dan mensyukuri apa yang kita punya sekarang. Kita gak akan pernah bisa kabur dari rasa sedih atau kecewa atau emosi negatif lainnya, tapi selama kita masih bisa bahagia dan tertawa, just do it. Habisin kuota kita untuk bahagia hari ini juga karena gak bisa di akumulasi buat besok-besok.

Karena itu saya ingin selalu melakukan hal yang belum pernah saya lakukan, yang membuat saya selalu mengingat saat itu dan ketika mengingatnya saya akan berpikir: "wooww.. gw ga nyangka gw bakal ngelakuin hal itu." Backpacking solo, cari komodo, mendaki Rinjani, melintas batas negara ke Timor Leste adalah beberapa hal yang memorable buat saya karena butuh kekuatan to push my self off my limit untuk melakukan semua itu. Tahun ini saya coba untuk ikut race half marathon pertama dalam hidup saya, kebetulan waktunya bertepatan dengan ulang tahun.

Awalnya saya daftar race bareng sama Nico, tapi di akhir-akhir Nico malah tidak jadi berangkat. Justru di saat-saat terakhir salah satu teman yang saya kenal dari Plurk dan blog, Mita atau yang lebih dikenal dengan Omith, malah memutuskan mau ikut race. Omith tergolong hebat banget sih, saya salut. Buat dia hanya butuh waktu kurang dari 3 bulan untuk persiapan half marathon, sementara saya butuh waktu lebih dari 3 tahun hingga akhirnya memberanikan diri untuk lari sejauh 21 km. 

Ya tapi kalau bukan gara-gara dijerumusin nico sih kayaknya saya sampai sekarang juga belum akan pernah ikut race dan belum akan sampai lari lebih dari 10 km. Martin yang selalu kompetitifan sama Nico juga ikut Bali Marathon, dia ambil Full Marathon dan berhasil finish. Salut juga sih saya, karena medannya itu berbukit-bukit, saya aja yang cuma lari jarak setengahnya sempat menyesal di tengah jalan. Soal lari nanti saya ceritakan komplit di postingan khusus ya.

Liburan yang bertepatan dengan ulang tahun kemarin tidak hanya khusus untuk lari, saya juga sempat main-main di pantai sanur sama Tince, yang pernah jadi partner jalan-jalan ke Dieng cari innerpeace waktu itu. Sebelum acara race saya sudah di Bali. Hari Jum'at saya, Omith dan satu kawannya ambil race pack ke Westin Resort di Nusa Dua. Malamnya saya, Omith, Tince dan Rio makan di Massimo Pizza di Jl. Danau Tamblingan, Sanur. 

ambil race pack
Sebenarnya saya tidak sengaja menemukan resto itu. Malam sebelumnya lewat situ lihat antrian orang beli gellato ramai di depannya, lalu saya tergiur sama wangi pizza yang lagi dipanggang di dapur yang letaknya juga di depan restoran itu. Keesokan harinya saya ajak kawan-kawan saya makan pizza disitu. Baru tahu setelah posting di socmed ada beberapa kawan saya yang komen, ternyata Massimo Pizza itu terkenal banget, terutama Gellato-nya. Tapi makanannya yang lain juga enak semua. Saya suka.

Waktu kita lagi order Omith sempat menyinggung-nyinggung soal ulang tahun, mba-mba yang catat orderan kita dengar dan sempat tanya siapa yang ulang tahun terus semuanya nunjuk saya. Waktu itu mba nya kesannya cool aja. 

Selanjutnya kami makan seperti biasa, dapat starter gorengan bentuk bola yang kenyal seperti cilok rasa keju yang digoreng. Pizza yang kami pesan, dipesan oleh Tince yang doyan banget sama quatro-apalah-pizza-cuma-dia-yang-bisa-ngomongnya-karena-pernah-lama-tinggal-di-Itali, pokoknya artinya pizza yang toppingnya 4 macam keju. Pizza nya enak, crustnya tipis tapi gak keras, gurih dan pinggirnya renyah. Selain itu Tince juga pesan calamari, sementara saya dan Omith yang lagi carbo loading pesan pasta bollognaise juga. Bollognaisenya enak, dagingnya banyak dan saus tomatnya ada chunks tomatnya. 

Selesai makan saya minta bill, tapi lama banget keluarnya. Kawan saya mulai gelisah pingin cepat-cepat pulang. Saya panggil lagi salah satu waiter untuk minta bill, kemudian muncul billnya dan saya langsung kasih kartu kredit. Tapi masih lama lagi diprosesnya sampai kawan saya hampir cek ke kasir. Tiba-tiba lampu padam satu per satu dan suasana jadi gelap. Para pengunjung yang lagi makan langsung berhenti dan suasana jadi sepi. Sepi dan gelap. Kami semeja juga sempat bingung dan mikir kalau mati lampu. 

Tiba-tiba mba-mba waiters yang ada disitu pada nyanyi lagu Happy Birthday. Dari dalam dapur muncul mba yang catet orderan kami membawa mangkok kecil yang atasnya ada payung kecil dan lilin. Mba itu jalan menjauh dari meja kami, jadi saya juga sempat cari-cari siapa yang ulang tahun. Ternyata setelah berputar mba-nya menghampiri saya dan meletakan mangkok kecil berisi 4 scoop gelato di depan saya. Sementara waiters yang lain tiba-tiba mendekat dan mengerubungi, muka saya langsung panas rasanya. Terharu banget. Ini salah satu momen ulang tahun yang gak akan saya lupa, mengejutkan soalnya.

surprise dari mba Massimo Pizza yang cukup bikin kaget
Satu hari sebelum race saya sempat pemanasan morning run di pantai Sanur, ditemani Tince. Terus kami berdua menyaksikan matahari terbit dan berenang-renang di pantai Sudamala, Sanur. Bagian pantai yang ini cenderung lebih sepi, jadi lebih enak untuk leyeh-leyeh. Waktu lagi berenang saya tiba-tiba teringat kamera underwater saya yang rusak, "coba kamera gw gak rusak, asik nih bisa foto-foto." kata saya ke Tince.

Tiba-tiba tince terpaku, kemudian mukanya seperti mengingat sesuatu,"eh kamera gw kan bisa dipake underwater."

Yihaaa... kami pun sukses foto-foto gaya model, gaya mengapung dan gaya duyung.

nunggu sunrise di Pantai Sudamala, Sanur sama Tince
Setelah race, saya dan Tince kembali ke Sanur untuk jalan-jalan, kali ini ke kawasan Pantai Sindhu yang lagi ramai karena ada acara Sanur Festival. Saya sempat tidur siang sebentar karena di hari itu bangun jam 2 pagi untuk siap-siap race. Bangun tidur siang saya kelaparan, baru ingat kalau sebelum dan sesudah race hanya makan roti sobek sari roti dan minum susu kotak. Saya dan Tince makan seafood di Pantai Sindhu, ikan dan cumi bakar yang enak banget mungkin karena ada faktor kelaperan. 

Setelah itu kami berdua duduk-duduk santai di tempat nongkrong lucu disitu, namanya Sanur Beach Groove, semacam food court tapi ada area berumput yang bisa dipakai duduk-duduk ala piknik. Tince beli dessert brownies yang diatasnya ada es krim vanila yang dikasih hiasan bunga-bunga mungil lucu warna biru. Malamnya kami sempat lihat pawai ogoh-ogoh dalam rangka penutupan Sanur Festival.

Ala Piknik di rumput sore-sore di Sanur Beach Groove

Rencana saya untuk liburan kali ini selain ikut Bali Marathon, saya juga pingin ke Nusa Penida lihat Angel's Billabong yang lagi trend di Instagram. Billabong itu adalah ujung dari sungai yang bertemu lautan, bisa dibilang jalan buntu nya sungai - the end of the road. Ternyata the end of the road gak mesti sendu dan sedih kayak lagunya boys II men (ketauan umur udah tua deh), jalan buntu yang ini cantik sekali. Nanti saya juga akan posting khusus tentang Nusa Penida. 

Karena tidak bisa nyetir motor sendiri jadi saya sewa ojek disana. Bli ojek, kita sebut saja namanya I Wayan Berto. Mas Berto itu sebenarnya nama yang diberikan oleh Tince ketika lihat foto selfie saya berdua dia, Mas berto = mas mas bertato. Mukanya memang tampak garang tapi orangnya periang, insiatifnya untuk jadi fotografer dan pengarah gaya tinggi banget. Waktu lagi foto saya di Bukit Kelingking tiba-tiba dia tanya, "Mba, ada keturunan Itali ya?" 

ehem.. ehem.. saya langsung keselek, untung gak kepleset dari atas tebing. Langsung ingat kejadian 3 hari sebelumnya, pasti gara-gara abis makan pizza topping 4 keju sama pasta langsung terlihat aura-aura Italia.

Angel's Billabong, Billabong itu ujung sungai yang ketemu laut, Angel-nya yang baju biru

Fotografer dan pengarah gaya saya di nusa penida, I Wayan Berto
Rejeki anak soleh yang lagi ulang tahun, hari terakhir di Bali saya ditraktir Mak Beng dan diantar sampai ke airport. Pas banget, memang di hari sebelumnya saya sempat kepikiran kepingin makan Mak Beng lagi sebelum pulang karena suka banget sama sup ikannya. Waktu itu dibilang mau diajak makan di tempat yang banyak didatengin artis, emosi saya standar-standar aja. Tapi ketika mobil belok ke arah mak beng saya langsung senang, yaayyy.... emang kalo rejeki gak akan kemana-mana. 

Mak Beng..paforit pisan..slurup

Akhir kata, wabillahi taufiq wal hidayah, travel live light, don't overthink because it's not worth the time you wasted, run, make art, create, swim in the ocean, swim in the rain, makes mistakes, learn, love fiercely, forgive quickly, let go of what doesn't make you happy, grow. 

Jumat, 19 Agustus 2016

Catatan di Tahun ke-34

Ada orang yang senang jalan-jalan karena suka petualangan, senang melihat tempat baru, ketemu orang baru, foto-foto untuk kenang-kenangan. Ada orang yang perjalanan travelingnya berawal dari perasaan sedih, dari perasaan tersesat dalam hidup dan keinginan untuk mencari jawaban. Ada orang yang perjalanannya dimulai karena kehilangan sesuatu dan berusaha mencari gantinya. Tapi intinya sama, orang traveling karena kepingin bahagia. 

Banyak yang bilang kalau kita gak perlu cari kebahagiaan jauh-jauh, karena bahagia itu ada di dalam diri kita. Tapi kadang untuk menemukan sesuatu yang ada di dekat atau di dalam diri kita, kita perlu melihat keluar dan pergi jauh dulu. 

Kalau ada yang pernah baca buku Alchemist-nya Paulo Coelho, si pemeran utama menghabiskan waktu bertahun-tahun dan perjalanan jauh yang berliku hanya karena mimpi lihat piramida di mesir dan menemukan harta karun. Tapi ketika akhirnya dengan segala macam perjuangan dia sampai di mesir, ternyata harta yang dia cari ada di bawah pohon tempat dia tidur siang pas lagi mimpi itu. 

Walaupun tidak se-ekstrim pengalaman hidup Elizabeth siapa itu di buku Eat, Pray, Love yang merasa depresi dalam hidupnya kemudian pisah dari suami dan traveling sendiri selama berbulan-bulan. Gak juga mendekati pengalaman hidup Cheryl Strayed di buku Wild yang ketika ibunya meninggal karena penyakit kanker kemudian memutuskan hiking sendirian di gunung selama 4 bulan. Tapi ada miripnya sedikit dengan kedua perempuan itu, saya memulai jalan-jalan ini karena sedih. Saya pergi karena sedih dan mau cari sesuatu yang bisa bikin saya bahagia, hingga akhirnya saya sadar kalau tidak perlu kemana-mana untuk bahagia, semua itu ada di dalam diri kita sendiri.

Yup, waktu kawan saya dulu pertama ngajak saya backpacking perdana ke Singapura, saya langsung meng-hayuk-kan tanpa pikir dua kali karena saya lagi sedih dan tidak stabil secara emosional. Waktu itu umur saya 26 tahun. Memang sebelumnya pekerjaan saya banyak travelingnya, tapi ketika memutuskan untuk backpacking pertama itu saya lagi sedih, bukan karena aslinya saya adalah orang yang suka adventure dan berpetualang. Selama ini memang saya selalu denial tentang alasan asli saya pergi waktu itu, tapi kalau saat situasinya beda mungkin saya akan menunda pengalaman backpacking pertama saya dengan alasan tidak punya cukup uang. Apalagi saat itu saya juga baru saja berhenti dari pekerjaan sebelumnya dan belum dapat yang baru. 

Waktu itu ketika saya menulis tentang pengalaman backpacking pertama ke Singapura dan kuala lumpur itu saya mengutip kalimat Paulo Coelho yang diambil dari buku Alchemist itu, "when you want something all the universe conspire to help you." Beberapa tahun berlalu, setelah melalui banyak hal, belajar banyak, dan mengalami proses evolusi dalam cara berpikir, sekarang saya gak percaya hal itu sama sekali. 

When you want something, the universe will not conspire to help you. They will against you. Mereka akan merintangi, menghalangi, mencoba menjauhkan kita dari hal yang kita inginkan itu. Yang bisa membuat kita mendapatkannya hanyalah seberapa besar kita menginginkannya dan rela berusaha mendapatkannya. Hidup ga semudah itu.

Tapi ada saatnya kapan kita harus usaha, ada saatnya kita hanya harus menunggu waktu yang tepat. Bahkan cowo di buku itu juga ada saat dimana dia harus nunggu beberapa tahun kerja di toko sebelum melanjutkan perjalanannya lagi lihat piramida. Tantangannya adalah, bagaimana kita tahu kapan harus berusaha, kapan harus menunggu dan kapan harus merelakan sesuatu yang kita inginkan.

Yang membuat saya kepikiran menulis ini karena beberapa hari lalu saya dan salah satu kawan terlibat diskusi. Berawal dari kawan saya suruh saya supaya berusaha cari jodoh. "Cari donk!" katanya, "berdoa kek, tahajud gitu." Saya jawab, iya saya doa kog, doa saya agar diberi yang terbaik dalam hidup. Saya percaya apabila saat ini saya belum dikasih jodoh berarti ini jalan hidup yang terbaik dan saya sudah dikasih lebih banyak hal selain itu dalam hidup saya. Apa yang saya dapat kan tidak harus sama seperti yang didapat orang lain. Jalan hidup orang tidak harus sama semua, ini bukan eropa abad ke-18 atau ke-19 dimana kita harus mencapai standard kehidupan tertentu supaya bisa diterima society. 

Ketika kelas 5 sd, saya pernah tanya sama papa saya. Kalau misalnya orang ditakdirkan kaya dia gak usah kerja bakal tetap jadi kaya donk, sementara orang yang ditakdirkan miskin mau kerja bagaimana pun tetap miskin. Entah di titik mana dalam perjalanan ini saya mulai mengerti bahwa ada takdir yang tidak bisa kita ubah seperti lahir dan mati, kita gak bisa pilih kapan kita lahir atau kapan kita mati. Tapi kita dikasih hidup bukan hanya untuk kemudian mati, kita dikasih pilihan mau jadi apa dalam hidup. Jadi kita bisa pilih mau jadi jahat atau baik, mau jadi kaya atau miskin, walaupun di dunia ini gak ada yang betul-betul hitam atau putih.

Misalnya kaya atau miskin, itu relatif bagaimana kita memilih untuk memandangnya. Ada orang yang punya segalanya, punya uang banyak, tapi tetap merasa kurang karena belum punya ini itu. Ada orang yang walaupun gak punya banyak tapi merasa cukup kaya. Ukuran seberapa kaya pun relatif. Buat orang yang gak punya mobil, orang yang punya Avanza dibilang kaya. Buat orang yang punya Avanza, kaya itu kalau udah punya Mercedes. Sementara orang yang punya Mercedes tetap saja merasa uangnya gak pernah cukup dan berusaha supaya uangnya makin banyak. Dan semakin banyak uangnya, hidupnya makin gak tenang karena makin takut kehilangan semua yang dia punya.

Jadi kita tidak bisa memilih kapan dan dimana kita dilahirkan. Kita tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kita akan mati. Tapi diantara itu kita kan harus hidup. Nah disinilah kita bisa memilih mau dijalanin seperti apa. Satu, kita bisa pilih untuk menyadari dan menikmati apa yang kita punya saat ini. Atau dua, menginginkan sesuatu yang kita gak punya saat ini hanya karena semua orang yang kita kenal punya sehingga waktu yang kita punya saat ini dihabiskan untuk usaha sehingga kita gak sadar sama apa yang kita punya sekarang dan gak sempat menikmatinya. Saya pilih nomor satu.

Bagaimana dengan orang-orang yang hadir dan pergi semasa hidup kita? Kita juga gak bisa memilih siapa yang akan kita temui dalam hidup ini kan? Apakah orang yang kita temui itu akan bikin kita bahagia. Atau orang yang kita temui akan melukai kita dan bikin kita sedih. Apakah orang yang kita temui itu akan jahat sama kita atau malahan akan jadi penolong disaat kita susah. Kita tidak bisa memilih dan tidak akan pernah tahu orang datang dalam hidup kita akan jadi apa, bisa jadi suatu saat orang yang datang ke hidup saya akan jadi jodoh saya atau bisa jadi orang itu sudah ada disekitar saya tapi memang belum waktunya.

Yang pasti menurut saya semua orang yang kita temui adalah pelajaran dalam hidup dan kita bisa memilih pelajaran itu akan kita gunakan untuk hal berguna apa di hidup kita kemudian harinya.

Kalau saya tidak ketemu sama orang yang bikin sedih mungkin saya tidak akan jadi pribadi yang seperti sekarang, mungkin saya pada akhirnya tidak akan pernah kemana-mana, tidak lihat banyak hal, tidak ketemu banyak orang baru, tidak belajar hal baru sebanyak sekarang ini. Yang terpenting adalah, mungkin saya tidak akan pernah ketemu dengan diri saya sendiri sehingga saya tidak akan pernah tahu apa saja yang mampu saya lakukan - what i'm capable of.

Saya memang gak bisa memilih akan bertemu siapa. Apakah orang yang saya temui akan bikin saya bahagia atau membuat saya sedih. Tapi sekarang saya malah harus berterima kasih sama orang yang bikin saya sedih waktu itu, because when you pushed me off the cliff, i didn't fall and die, i was flying.

Jumat, 12 Agustus 2016

Silom Village Inn, Bangkok

Ada 3 hal yang saya pertimbangkan dalam memilih hotel waktu trip ke Bangkok tahun ini. Pertama, ada rumah makan halal dekat dengan lokasi hotel. Kedua, lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi yang mau dikunjungi dan akses kendaraan mudah. Ketiga, walaupun saya cari hotel yang lokasinya tidak jauh dari pusat keramaian tapi saya menghindari lokasi hotel yang berada di pusat keramaian, karena untuk masuk dan keluar hotel biasanya agak ribet karena terhalang macet. Bangkok macetnya nyaris sama seperti Jakarta.

Atas dasar pertimbangan diatas saya pilih lokasi daerah Silom. Di daerah ini ada tiga stasiun BTS yaitu Chong Nongsi, Surasak dan Saphan Taksin. Dekat juga dengan dua dermaga (pier) untuk naik Chao Praya Express,  yaitu Sathorn pier dan Oriental pier. Kalau mau ke daerah pusat pertokoan seperti Siam square dan Pratunam juga tidak jauh, bisa naik taksi. Bahkan ketika disana sempat juga naik tuktuk dari MBK ke hotel di Silom karena antrian taksi panjang, ongkosnya memang sama seperti taksi tapi naik tuktuk ternyata lebih cepat sampai walaupun pakai olahraga jantung.

Di Silom banyak hotel yang bagus-bagus dan tidak mahal. Yang letaknya dekat sungai Chao Praya adalah hotel-hotel mahal bintang 5. Setelah lihat-lihat banyak pilihan hotel di Agoda, saya tertarik dengan Silom Village Inn. Menurut websitenya, bangunan hotel ini desainnya bangunan tradisional thailand yang dibangun di tahun 1900-an menggunakan teak wood. 

Sampai disana ternyata di dalam lokasi Silom Village Inn juga ada restoran, panggung pertunjukan, kios-kios merchandies khas thailand, spa & thailand massage. Saya booking kamar deluxe yang berada di bangunan lama yang dibangun dari teak wood, tapi karena bangunan lama jadi tidak ada lift, harus naik tangga. Kamarnya luas dan bersih, desainnya klasik dan sederhana. Lumayanlah, sesuai dengan rate yang dibayar.

Saya ambil paket kamar yang tidak termasuk sarapan karena biasanya juga percuma karena sarapannya tidak halal. Tapi pas disebelah hotel ada seven-eleven jadi gampang kalau pagi-pagi mau beli kopi. Selain itu juga tidak jaug dari hotel ada pasar yang pagi-pagi sudah ramai jual sarapan. Di ujung pasar ada mesjid kecil, jadi disekitar situ banyak ibu-ibu pakai kerudung yang jualan. 

Malam hari dari hotel bisa jalan kaki ke Patpong Night Market. Ke Ratanakosin, tempatnya Grand Palace (Wat Phra Kew) dan Sleeping Buddha bisa naik Chao Praya Express dari dermaga, kami waktu itu naik tuktuk ke oriental pier untuk naik express boat. Cari makanan halal juga tidak sulit disekitar situ, bisa dilihat di postingan saya yang Edisi Ngiler [Part 3].

Silom road sepertinya termasuk jalan yang sibuk, di pagi hari dan malam hari jalanannya padat merayap, motor-motor jalan di trotoar juga persis kayak di Jakarta. Tapi untungnya disana hanya macet ketika rush hour, selain itu cukup lenggang. Pagi-pagi banyak orang kantor yang take away sarapan di seven-eleven dan gerobak-gerobak di pinggir jalan. 

Sabtu, 23 Juli 2016

Lari di Bulan Puasa

Saya bukan termasuk orang yang ambisius, hobi lari juga gak pakai ambisi. Kawan-kawan saya yang mulai hobi lari dengan waktu yang hampir barengan kemampuannya sudah jauh melewati saya. Semuanya pasti sudah pernah ikut acara race 10k dan Half Marathon (21k). Sementara saya butuh waktu lama dari mulai rutin lari sampai bisa lari 10 kilometer, sekitar 3 tahun. 10k pertama saya pas di hari ultah saya tahun lalu. Birthday run tahun ini, secara spontan saya daftar acara race untuk pertama kali dan dengan nekat langsung daftar untuk half marathon. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan Akhirnya Daftar Acara Race.

Latihan untuk menambah jarak lari saya dua kali lipat dalam waktu beberapa bulan saja buat saya sih cukup berat. Tapi saya tetap konsisten gak ambisius, targetnya cuma mau melakukan hal beda yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dalam hidup saya. 

Sebenarnya tiap tahun pasti saya ada semacam yearly life goals, supaya hidup berasa ada tujuan seru aja dikit sih. Jadi setidaknya di hari-hari saya ada kegiatan untuk mempersiapkan suatu rencana, kayak misalnya seperti persiapan fisik waktu mau ke Rinjani. Waktu itu salah satu alasan saya semangat dan rutin lari karena persiapan mau ke Rinjani, tapi waktu itu kuatnya hanya lari paling jauh 5 kilometer. Kemudian tahun lalu saya niat harus bisa lari sampai 10 kilometer, terus saya coba ikut Coach yang ada di aplikasi Nike Run. Tepat di ulang tahun saya yang ke-33, saya berhasil menyelesaikan lari 10k.

Untuk persiapan lari half marathon saya ikut lagi program Coach di Nike Run. Hari pertama programnya jatuh tepat di hari pertama puasa. Waktu itu saya masih optimis dan semangat bahwa walaupun puasa saya akan berusaha mengikuti jadwal di program tersebut. Rencana saya tetap akan lari di taman tebet sambil ngabuburit, jadi selesai lari ketika bedug magrib, bisa langsung minum. Ada juga rencana mau lari malam di komplek kalau jadwal latihannya long run. Tapi seperti biasa, rencana dan kenyataan tidak pernah sesuai.

Puasa tahun ini entah kenapa rasanya berat banget di badan saya, lebih lemas dari biasanya dan maunya tidur terus padahal jumlah jam tidur sama seperti tahun-tahun sebelumnya, malahan tahun ini saya merasa kalau tidur malam lebih cepat. Apa karena faktor umur mulai mempengaruhi stamina dan fisik? Tapi kalau dipikir-pikir tahun ini memang mood saya secara keseluruhan tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya, kurang bersemangat dan kurang motivasi. Mungkin karena beberapa waktu terakhir ini saya kurang jalan-jalan. 

Hari pertama jadwal program lari yang bertepatan dengan hari pertama puasa terpaksa saya skip. Di hari kedua puasa ada jadwal lari 4.8 km, tapi saya hanya kuat lari 3 km di treadmill malam-malam setelah buka puasa. Sebenarnya komposisi program dalam seminggu ada 4 kali lari, satu kali long run, satu kali cross training, dan satu hari rest day. Saya skip hampir semua itu. Lari kedua kali di bulan puasa baru satu minggu kemudian, saya coba lari sebelum buka puasa di komplek. Saya lari diantara kerumunan pedagang-pedagang makanan buka puasa dan kerumunan motor-motor yang parkir dan seliweran di jalan. Cukup mengerikan dan menyesakan, akhirnya saya menyerah di 3 km.


Tiga hari kemudian di minggu yang sama saya berhasil lari 8 km di treadmill setelah buka puasa, kemudian skip beberapa hari lagi. Ketika lagi tidak puasa karena berhalangan saya lari di Car Free Day hari Minggu, karena bulan puasa jadi sepi. Saya lari 8 km dalam waktu 1 jam. Waktu lagi lari saya dengar di belakang saya ada yang lagi semangat ngobrol, "lebih susah control budget negara daripada mengatur strategi perang." Pas saya nengok ternyata Sandiaga Uno lagi lari sambil ngobrolin masalah negara casually, dan dengan santainya melewati saya yang tanpa ngobrol pun larinya terengah-engah. Hebat amat tu bapak.

Beberapa hari kemudian Tince tiba-tiba menghubungi mau ikut lari di taman sore-sore. Tiba-tiba muncul ide gila, saya mengajak tince lari di gbk senayan karena sudah lama tidak lari disitu. Kami berangkat jam 4 dari daerah Tebet, estimasi sampai di GBK beberapa saat sebelum buka puasa, jadi saya bisa buka puasa, sholat magrib, lanjut lari. Naasnya hari itu jalanan macet parah entah kenapa, kami baru tiba di GBK jam 7 lewat. 

Ketika magrib berkumandang kami baru sampai di depan kantor TVRI senayan, saya buka puasa dengan air minum bekalnya Tince. Sampai di GBK saya langsung ke mesjid, solat magrib dan siap-siap lari. Saya beli minuman teh dalam kemasan botol yang saya minum sambil lari. Target saya lari 8 km, tapi hanya kuat sampai 5 km, otak saya rasanya kayak kesemutan jadi saya berhenti lari. Paginya ketika bangun tidur punggung dan pinggang saya pegal-pegal, bukan karena lari tapi karena nyetir macet-macetan 3 jam lebih.

Setelah tragedi itu saya memutuskan lari di treadmill aja deh, ga kuat yang aneh-aneh. Saya sempat lari dua kali lagi malam hari, 8 km dan 5 km, hingga akhirnya lebaran tiba. Tapi selama sebulan itu program latihan lari saya berantakan, banyak bolong-bolongnya dan saya tidak merasa kemampuan lari saya improving, malahan kalau dilihat dari pace jauh menurun. Setelah lebaran saya berusaha mengejar ketinggalan latihan selama bulan puasa kemarin. Minggu lalu saya berhasil lari 15 km, jarak terjauh sepanjang sejarah lari saya. Minggu ini adalah minggu ke-7 dari program Nike Coach, besok saya harus lari lebih jauh lagi, 16 km. Harus semangat!

Selasa, 12 Juli 2016

Menanam Okra

Okra apaan sih? pikir saya ketika melihat bibit okra yang dijual di toko bibit online tempat saya beli bibit sayur dan bunga yang saya tanam di kebun. Karena penasaran, saya memutuskan untuk beli sebungkus bibit okra hijau dan sebungkus bibit okra merah. Sebelumnya saya belum pernah makan sayuran itu. 

Browsing di internet saya dapat info tentang tanaman ini. Okra aslinya tanaman yang berasal dari Afrika, tapi lumayan dikenal di Amerika, biasanya untuk bikin semacam sup namanya Gumbo. Mungkin tanaman ini dibawa atau terbawa oleh orang ethiopia yang jaman dulu banyak didatangkan ke amerika untuk jadi budak. Negara lain yang saya temukan di internet yang masakan khasnya pakai okra adalah India. Okra dimasak dengan kuah kari. Karena biji okra itu mengeluarkan getah yang berlendir, dia menambah kekentalan kuah sup ataupun kari. Hampir sama teksturnya seperti kuah capcay yang jadi kental kalau ditambahkan tepung maizena, nah kayak gitu deh getahnya Okra kalau dimasak. 

Biji Okra ukurannya besar, seperti kacang polong, lebih besar sedikit dari biji pepaya. Dalam waktu 2 hari sudah berkecambah, cepat sekali. Tumbuhnya juga cepat, daunnya berjari mirip daun pepaya, di tengahnya ada semburat warna merah. Dalam waktu kurang dari 2 minggu, benih okra sudah bisa saya pindahkan ke pot dan ada juga yang saya tanam langsung di tanah. Katanya tanaman ini suka banget sama matahari dan suka di tempat panas, jadi saya tanam di tempat yang paling banyak dan paling lama kena matahari.

Kurang dari dua bulan muncul bunga Okra. Bunganya ternyata cantik banget, warna kuning, kombinasi ungu di tengahnya. Buah Okranya nanti muncul dari dalam bunga, ketika buah makin membesar, kelopak nya akan mengering dan jatuh. Tapi jangan tunggu sampai besar banget. Buah okra yang sudah besar tidak bisa dimakan karena alot dan keras. Jadi dipetik ketika masih muda, ketika ukuranya kira-kira masih seukuran jari telunjuk. Karena itulah nama lain Okra ini di amerika adalah Lady Finger.

Pohon Okra komplit sama Daun, Bunga dan Buah nya
Satu pohon buahnya banyak banget dan saya punya tiga pohon. Tiga hari sekali saya panen okra. Seperti biasa, dari kebun bergerak ke dapur, saya coba macam-macam resep yang pakai bahan baku Okra. Saya juga coba bikin okra di goreng tepung dan dipanggang untuk jadi cemilan sehat ceritanya, tapi rasanya gak enak, jujur aja hehe.

Okra ini, kalau buat saya, paling enak ditumis biasa pakai sedikit kuah. Seperti yang saya bilang tadi, dia membuat kuahnya mengental sama seperti kalau kita tambahkan tepung maizena. Selain itu Okra juga enak dibikin kari, tapi Okranya dimasukan belakangan supaya tidak jadi terlalu lembek. Menurut saya sayuran ini lebih enak kalau dimasak sebentar saja, jadi masih krenyes-krenyes gimana gitu. 

Tumis Okra

Indian Vegetable Curry with Okra

Buat yang mau coba tanam sayuran yang eksotis, daunnya bagus dan bunganya bagus, terus buahnya bisa dimakan, coba saja tanam Okra. Tanaman ini gak minta diurus, tumbuh sendiri dan cepat. Syaratnya hanya harus kena sinar matahari dan tidak perlu teralu sering disiram. Kalau di tanah, tiga hari sekali cukup. Kalau tanam di pot siram dua hari sekali cukup kecuali kalau udara lagi panas banget dan tanahnya terasa kering boleh lah sehari sekali.  

Oia, yang baru saya tanam memang Okra hijau saja, yang Okra merah belum saya tanam. Mungkin bulan ini mau coba tanam okra hijau lagi dan okra merah, nanti pasti kalau dimasak jadi cantik warna-warni. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...