Sabtu, 15 April 2017

Sehari di Nusa Penida


Nusa Penida adalah pulau kecil dekat Pulau Bali, sekitar 45 menit - 1 jam naik boat dari Sanur. Awalnya saya tertarik ke Nusa Penida karena lihat postingan foto Angel's Billabong di Instagram. Di foto itu tampak semacam danau yang berbatasan langsung dengan laut, airnya sangat bening sampai-sampai batuan di dasarnya terlihat. Di foto itu juga ada orang floating di atas nya, keren banget saya jadi kepingin.

Sebelum matahari terbit saya sudah siap-siap check-out dari hotel di daerah Sanur, jalan kaki 5 menit saja ke dermaga tempat naik boat ke Nusa Penida. Sebenarnya saya merasa agak kurang fit waktu itu, hampir saja saya membatalkan rencana nyebrang ke pulau itu tapi setelah dipikir-pikir, kapan lagi? 

Sampai di tempat penyebrangan sudah banyak orang, kebanyakan sih orang lokal (orang Bali). saya langsung ikut mengantri di meja yang ada tulisan kapal ke Nusa Penida, bayar, dikasih tiket dan disuruh menunggu kapal berangkat. Sementara itu matahari terbit di ufuk Sanur, membuat langit dan pantulan laut berwarna keemasan. 

Sehabis melihat sunrise dan terkena hangat matahari pagi, badan saya berasa agak meningan. Sehari sebelumnya saya habis ikut Half Marathon, mungkin itu salah satu penyebab ketidak-fit-an saya. Tapi beberapa menit setelah kapal berangkat saya mulai merasa mual seperti mabuk laut, padahal seumur-umur belum pernah saya mabuk laut. Sampai di Nusa Penida kepala saya masih pening dan kurang balance.

Turun dari boat langsung banyak yang menawarkan motor untuk disewa. Saya tidak bisa nyetir motor. Dulu pernah belajar, tapi baru beberapa menit sudah jatuh dan tertiban motor, sampai sekarang masih belum punya nyali untuk mencoba lagi. Jadi saya sewa motor plus tukang ojeknya. Sebenarnya kalau hanya punya waktu satu hari lebih efektif cara begini sih, soalnya kalau pun bisa bawa motor dan jalan sendiri saya pasti bakal banyak nyasar dan nyusruk di jalan karena tanda-tanda arah jalan tidak jelas dan tidak semua jalanan beraspal, belum lagi jalanan disana berbukit-bukit, berkelok-kelok, dan sepi.

Pantai Kelingking


Pertama saya diantar ke Pantai Kelingking, karena menurut bli ojek lokasi ini paling jauh dari lokasi lain yang mau kita datangi. Saya juga penasaran kenapa namanya kelingking, soalnya sama sekali gak ada yang mirip jari kelingking disana. Katanya kalau lagi musimnya dari atas tebing bisa kelihatan Manta lagi berenang di bawah situ. Manta nya pasti gede banget kalau sampai bisa terlihat dari atas tebing, karena tinggi banget. 

Pasih Andus


Di  tempat ini ombaknya menghantam karang sampai kelihatan kayak meledak dan menimbulkan suara unik. Saya duduk cukup lama disini bareng bli ojek, nonton ledakan ombak sambil nebak-nebak ledakannya bakal besar atau biasa aja. Kayaknya saya bisa loh cuma nonton itu saja seharian, rasanya relaxing banget.

Pasih Uug 


Pasih Uug beken juga dengan nama broken beach. Mungkin karena ada bagian karang yang bolong atau broken. Mengingatkan saya sama tebing London Bridge yang pernah saya lihat di Great Ocean Road Australia. Mirip banget. Hmm.. tebing yang di bukit kelingking juga mirip sama twelve apostles yang di Great Ocean Road sih. Mungkin tempat-tempat itu mengalami fenomena geologi (entah apa itu bener atau enggak sebutannya) yang mirip. 

Angel's Billabong


Jalan sedikit dari Pasih Uug, disitulah akhirnya saya menemukan tujuan utama saya datang ke Nusa Penida. Angel's Billabong. Lebih cantik dari di foto. Dan ternyata itu adalah ujungnya sungai, bukan danau. Tapi saya gak bisa foto mengambang disitu karena ombaknya lagi besar. Ombak datang dari arah laut dan masuk melalui celah hingga memenuhi Billabongnya. Ngeri juga kalau lagi dibawah ada ombak masuk, bisa-bisa saya kebawa arus terhempas ke dinding-dinding karang di Billabong.

Crystal Bay


Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Crystal Bay. Di pantai ini ada warung-warung yang jual makanan. By the way, perasaan kurang fit saya ketika berangkat sudah lama hilang, kemungkinan besar ketika di Pasih Andus. Akibat takjub sama ledakan ombak saya jadi merasa segar bugar. Ketika melihat warung-warung saya baru sadar kalau belum sempat makan apa-apa sejak bangun tidur. Saya makan indomi ditemani dua orang cowo yang lagi makan juga disitu, mereka juga ternyata habis ikut Bali Marathon. Di Crystal Bay bisa snorkelling, tapi saya lagi gak semangat berenang. 

Petualangan saya di Nusa Penida berakhir di Crystal Bay jam 3 sore karena mau mengejar boat balik ke Sanur.


Selasa, 28 Maret 2017

Semalam di Bidakara Hotel

Sebenarnya ini kejadian sudah agak lama, tepatnya awal tahun 2017. Waktu itu kenalan bisnis saya dari Norwegia datang berkunjung ke Indonesia. Pesawatnya tiba malam hari di Jakarta. Tadinya saya janjian ketemu dengan beliau malam hari di hotel yang telah di booking sama dia, yaitu Hotel Bidakara. Lokasinya dekat dengan kantor saya di kawasan Pancoran. 

Saya lupa awalnya kenapa saya iseng buka web pemesanan hotel, ternyata Hotel Bidakara lagi ada diskon yang lumayan banyak, walaupun dapatnya hanya room only tanpa breakfast tapi rate nya cukup menarik. Saya sering banget ke Bidakara, tapi biasanya hanya untuk acara conference atau sekadar janji ketemu orang dalam rangka bisnis, karena hotel ini termasuk salah satu meeting point kegiatan bisnis. Kalau untuk menginap, baru pertama kali. 

Saya berangkat dari kantor jam 5, tiba di Bidakara jam 5.20an. Dekat banget. Masih banyak waktu untuk explore hotel hingga Anne-Lise tiba di Jakarta, menurut perhitungan saya sekitar jam 9 malam. Saat itu hotelnya lagi sepi, mungkin karena tidak ada kegiatan training atau seminar dari kantor-kantor. Kamarnya luas, saya dapat view skyline gedung arah kuningan di jendela kamar. 

Sisa kamar tinggal yang twin bed, jadi satu bed buat saya, satu lagi buat tas

Skyline City view

Secara keseluruhan hotel ini memang excellent, sesuai dengan kelasnya, bintang 4. Yah walaupun Anne-Lise sempat complain kalau para staff nya banyak yang kesulitan dengan Bahasa Inggris. Tidak heran kalau hotel ini merupakan salah satu hotel favorit untuk tamu-tamu dengan tujuan bisnis, apalagi meeting rooms dan ballroom disini sudah sangat terkenal reputasinya.

Saya coba lihat fasilitas olah raganya, ada kolam renang dan gym. Kebetulan di mobil saya selalu sedia baju renang dan perlengkapan lari. Jadwal saya kan setiap harinya tidak pasti, makanya selalu siap-siap, jadi kalau ada waktu luang bisa langsung olahraga. 

Kolam renangnya terletak di rooftop dan bagus, bikin tambah semangat pingin berenang. Tapi setelah coba celupin tangan ke airnya ternyata dingin sekali. Sore itu memang sedikit hujan rintik-rintik. Saya akan orangnya paling gak kuat dingin, akhirnya mengurungkan niat untuk berenang. Batal berenang, saya putuskan mau lari aja 5km di treadmill. Ini pertama kali saya menggunakan fasilitas gym di hotel, suer. Yah, lumayan bisa latihan sebentar. 

Di lantai bawah hotel ada restoran dan cafe, diantaranya Starbuck dan Excelso. Ada juga convenience store, Family Mart, yang cukup komplit. Selain itu ada Taylor (tukang jahit, bukan Swift) dan Sport Warehouse yang menjual alat olahraga dengan harga diskon, iseng-iseng masuk sport warehouse saya malah belanja sport bra dan celana pendek. Tuh kan jadi salah fokus.

Anne-Lise datang sekitar jam 10 kurang karena pesawatnya delay, kami sempat diskusi sebentar mengatur jadwal kegiatan selama kunjungannya ke Jakarta dan Bandung. Selain urusan bisnis, saya juga sempat mengajak beliau jalan-jalan ke Kota Tua pakai fasilitas transportasi umum di Jakarta. Nanti kapan-kapan saya lanjutin ceritanya.

Hotel Bidakara
Jl. Jend Gatot Subroto Kav. 71-73
Pancoran
Jakarta Selatan
www.bidakarahotel.com

Minggu, 12 Maret 2017

Karena Diet Hanya untuk Orang Lemah

Ini cerita agak lama dari Birthday trip ke Bali tahun 2016 silam. Apalah artinya traveling tanpa cerita makan-makan, apalagi buat saya yang gak traveling aja makan melulu. Di liburan yang berdurasi kurang dari seminggu itu, saya, Tince dan Omith banyak mencoba kuliner sekitar Sanur. 

Kami menemukan Restoran Italia yang Pizza dan Gelato-nya enak banget, plus saya dapat surprise manis pas ulang tahun disana dari staff-nya, Massimo Pizza yang berlokasi di Jl. Danau Tamblingan. Tempat favorit saya adalah Warung Mak Beng karena saya suka ikan dan suka makanan pedas, bahkan nulis ini aja saya sambil menelan ludah.

Selain dua tempat makan favorit itu, kami menemukan warung makan murah meriah tidak jauh dari hotel kami di Sanur Guest House, Jl. Danau Poso. Namanya warung Moro Seneng, semacam warung nasi yang murah meriah, porsinya banyak dan sekali makan kayaknya gak pernah lebih dari 20ribu rupiah. Makan pakai lauk ayam, telur dan sayur kangkung aja hanya 14ribu, luar biasa kan? Disini nih tempat carbo loading saya dan omith sebelum acara race. Carbo loading murah meriah. 


Sehari sebelum race, saya dan Tince pindah ke Hotel Indi yang lebih dekat dengan Pantai Sanur. Sore hari kami jalan kaki kesana, jajan bakso di pinggir pantai kemudian menemukan tempat nongkrong unyu Sanur Beach Grove. Disitu kami duduk-duduk diatas rumput, sementara Tince beli dessert kue Chocolate Lava yang ditaburi gula-gula bentuk kembang warna-warni. Malamnya di arah pulang ke hotel, Tince beli nasi campur babi sementara saya jajan nasi jinggo.



Selesai lari HM, pulang ke hotel saya langsung tidur. Bangun tidur saya dan Tince kembali ke Pantai Sanur, disana kami memesan makan siang seafood combo dan kami lahap seperti orang kelaparan. Ternyata jadi supporter, Tince juga menghabiskan banyak energi dan kelaparan seperti saya. 



Selasa, 21 Februari 2017

Arch Hotel Bogor

Saat ini - sekitar jam 6 subuh, di luar hujan badai sejak dini hari. Biasanya saya sudah berangkat dari rumah jam 5.30 menuju tempat kerja, tapi mengingat pengalaman kemarin, gelap-gelapan menebak jalanan banjir atau tidak, lebih baik saya gak jalan dulu. Dapat berita dari adik saya yang baru berangkat mau kuliah, ternyata rumah saya terkepung antara banjir dan pohon tumbang. Yah makin mager.

Kemarin dalam usaha mencapai tempat kerja yang berjarak 40 km, saya menerjang genangan yang ternyata makin lama makin dalam sehingga memutuskan putar balik. Tapi diantara perjalanan membelah genangan air tersebut, selain menciptakan semacam ombak yang mengguyur pengendara motor disebelah saya (maaf banget ya mba, sumpah gak sengaja), plat nomor mobil bagian depan saya pun hilang.

Nah karena itu, hari ini saya pikir lebih baik untuk tunduk dulu sama kehendak alam, menunggu hujan reda sambil menikmati kopi hitam tanpa terburu-buru dan menulis blog.

***

Bulan Desember tahun 2016 silam saya sempat ada shortrip ke Bogor. Karena jarak Bogor yang tidak begitu jauh dari Jakarta, biasanya saya jarang menginap disana. Tapi kali itu saya mau iseng, menghabiskan malam di Bogor.

Berangkat dari kantor jam setengah lima sore, saya tiba di rest area yang sebelum exit sentul city seklitar jam setengah 6. Mampir untuk jajan Starbuck. Rencananya saya mau go show cari hotel-hotel di sepanjang Jl. Padjadjaran, tapi iseng-iseng saya lihat Agoda di handphone saya dan menemukan sebuah hotel di area yang saya inginkan lagi diskon banyak. Plus ada tambahan potongan setelah log in, insider’s deal.

Nama hotelnya Arch Hotel. Setelah booking confirmed, saya langsung cari lokasi tersebut di GPS. Saya diarahkan oleh GPS untuk exit di sentul city kemudian masuk toll yang baru. Ternyata lokasinya tidak begitu jauh dari exit toll baru itu. Hotelnya bertetangga dengan salah satu café yang lagi hits di Bogor, Lemongrass.

Hotelnya memang tidak besar, kamarnya juga standard, kalau misalkan tidak ada diskon yang besar ditambah insider’s deal menurut saya sih rate nya terlalu mahal. Yang bikin saya tertarik cuma kolam renangnya.

Bisa jalan kaki ke Lemongrass
Kamarnya lumayan, yang penting ada pemanas air untuk bikin kopi
Safety deposit box dan Kulkas
Sandal hotelnya lucu juga warna hitam

Ketika check in dengan sok tau saya tanya kolam renang buka sampai jam berapa, kebetulan di mobil bawa baju renang. Mas-mas receptionist bilang buka 24 jam, saya pun niat mau berenang malam-malam. Pas malam hari saya balik kesitu, langsung buyar niat saya ketika mencelupkan ujung jari. Dingin banget. Akhirnya saya cuma duduk dipinggir kolam, buka laptop.

Dari Agoda saya hanya booking kamar tidak include breakfast karena memang harus berangkat pagi sekali. Waktu lagi nunggu lift turun dari lantai tempat kamar saya, dari jendela tampak  puncak Gunung Salak  yang diselimuti awan tipis.



Gunung Salak View dari jendela hotel


Alamat:
Arch Hotel Bogor
Jl. Raya Pajajaran No. 225
Bantarjati, Bogor Utara




Minggu, 19 Februari 2017

Harus Pergi Liburan

Terhitung awal januari 2017, saya secara resmi menjalani kehidupan di dua pekerjaan. Di bulan kedua juggling antara pekerjaan satu dan yang lainnya, rasanya hari-hari saya sudah mulai kocar-kacir dan keteteran. Pekerjaan saya yang baru lokasinya jauh banget, jarak tempuh 40 km sekali jalan dari rumah saya. Otomatis saya berangkat harus subuh. Diantara waktu itu saya harus meluangkan waktu untuk pekerjaan nomor dua saya, jadi kadang sabtu juga saya harus kerja.

Seperti misalnya sabtu lalu, dari pagi mengerjakan dokumen tender. Hari minggu malam saya berangkat ke semarang. Senin subuh tiba di semarang langsung ke jepara. Siangnya langsung balik ke semarang, tidak lupa mampir ke kudus untuk makan garang asem favorit. Sorenya sudah naik kereta lagi ke jakarta. Sampai rumah hampir tengah malam. Selasa subuh saya sudah harus berangkat ke kantor baru saya yang berjarak 40 km dari rumah itu. 

Ngomong-ngomong, perkembangan kereta api luar kota semakin bagus saja sejak terakhir kali saya naik kereta ke Jogja dua tahun lalu. Saya beli tiket di Indomaret, dapat struk yang ketika sampai di Gambir dicetak langsung di mesin cetak boarding pass. Tidak perlu antri di loket seperti jaman dulu. 

Waktu dari semarang malahan saya beli tiket dari mesin, tinggal memasukan asal keberangkatan dan destinasi, pilih kereta, kemudian memasukan uang di mesinnya, langsung keluar struk. Setelah dapat struk pergi ke mesin cetak boarding pass. Mudah banget. Kereta yang saya naikin kebetulan argo, bersih banget dan tidak ada cek tiket karena kondekturnya sepertinya tinggal cek penumpang dan nomor kursinya dari handphone yang dibawa-bawa. 

Untungnya hari Rabu libur pilkada. Tapi saya tetap harus kerja setelah mencoblos, mengerjakan pekerjaan lain dari tempat kerja kedua. Yah akibatnya kalau ada waktu luang, saya utamakan untuk tidur. Jadwal latihan lari saya pun berantakan, seperti bangku belakang mobil saya yang sekarang setiap hari harus menempuh jarak lebih dari 100km. Entah sampai berapa lama saya bisa bertahan hingga tulang-tulang yang mulai renta ini start to falling apart. 

Terlebih karena sekarang lebih sering menghabiskan waktu sendirian terlalu lama di mobil, dalam cuaca yang senantiasa mendung dan sering hujan, saya jadi gampang merasa melankolis. Ah sepertinya saya benar-benar harus pergi liburan. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...