Minggu, 25 Januari 2015

Bumbangku Beach Cottage Lombok

Mungkin ini yang namanya panggilan hati.

Beberapa hari sebelum keberangkatan saya, chacha dan pagit ke Lombok, kami melakukan pertemuan untuk menentukan itinerary selama seminggu. Yang sudah pasti adalah selama 3 hari saya akan berpisah dengan chacha dan pagit. Kami tinggal menentukan apa yang akan kami lakukan disisa hari yang akan kami lewatkan bersama. 

Hmm.. sebenarnya kalau mau dibilang itinerary terlalu keren sih. Di hari sabtu yang cerah kami bertiga berkumpul di suatu cafe mungil di Jl. Gunawarman yang memiliki kecepatan free-wi fi yang bagus, sayangnya sekarang tempat itu sudah tutup, mungkin bangkrut. Yang kami lakukan lebih tepatnya adalah browsing tempat-tempat menarik yang mungkin kalau sempat akan kami datangi dan booking penginapan. 

Secara random kami membuka website booking hotel dan memilih lokasi yang bukan merupakan tujuan utama turis lokal yang mau ke Lombok. Itu membuat Senggigi, Gili T, Gili Nemo dan Gili air dicoret dari daftar. Menyisakan lokasi penginapan di daerah Lombok Selatan. Akhirnya kami sepakat tujuan perjalanan pencarian innerpeace kali ini akan berlokasi di sekitar Tanjung Aan. 

Dari web booking hotel itu ada dua resort yang menarik minat kami, yang satu resort bintang lima dan satu lagi resort yang dari fotonya mirip dengan resort bintang lima itu tapi dengan harga sepertiganya. Resortnya berupa rumah panggung dari bambu dengan atap yang terbuat dari alang-alang kering. Melihat namanya yang eksotis saya langsung merasakan ada semacam panggilan dari dalam hati bagaikan magnet yang langsung menarik jiwa saya untuk kesana : Bumbangku.

Bahkan dengan melafalkannya rasanya seperti sedang menyanyikan suatu nada eksotis : Bum bang ku bum bang ku bum bang ku.

Tiba di Bandara Internasional Lombok kami menunggu dan mencari jemputan dari Bumbangku, tapi ternyata tidak ada yang menjemput padahal sehari sebelum berangkat chacha sudah menelpon untuk memastikan ada yang menjemput kami di bandara. Ketika di telpon ternyata pihak cottage lupa mengirim orang untuk menjemput kami. Tak lama datang seorang pria yang mengaku kakak sepupu dari resepsionis Bumbangku yang ditugaskan menjemput kami. Kakak sepupu resepsionis itu kebetulan punya usaha rental mobil untuk turis dan kebetulan sedang mangkal di airport. 

Jalan menuju cottage sepi sekali tapi aspalnya mulus mengkilat. Hampir mendekati ujung dari jalan aspal itu, sekitar 20-30 menit kami tiba di tujuan. Tau kan biasanya kalau kita melihat foto sesuatu di internet terus lihat aslinya dan ternyata tidak seindah fotonya? Di Bumbangku tidak begitu. Aslinya bahkan lebih indah dari fotonya. Kami tiba pas siang hari saat udara cerah, langit berwarna biru muda, laut berwarna biru kehijauan berkilauan, pasir berwarna putih.

Di hari itu kami bertiga adalah tamu satu-satunya. Kami dapat tempat di cottage bambu paling depan. Seluruh bangunannya terbuat dari bambu. Di dalamnya sangat sederhana, tidak ada meja dan kursi, hanya ada 3 buah kasur di letakkan di lantainya yang dilapisi tikar bambu dan sebuah lemari cabinet kecil setinggi dada. Kamar mandi nya outdoor. Bahkan kunci pintu nya saja kalau dari dalam menggunakan palang pintu yang di sematkan. Kalau dari luar pakai gembok. Di langit-langit tampak sebuah kipas dan lampu yang menggantung. 

Saya suka sekali. 




Kami sengaja pilih kamar standar yang tidak pakai AC karena kamar yang pakai AC tidak terbuat dari bambu. Padahal kami kepingin merasakan sensasi eksotis tidur di tempat yang gak konvensional. Surprisingly, karena ga pakai AC kami pikir malam hari bakal gerah, tapi ternyata kami bertiga tidur kedinginan di dalam kamar bambu itu.

Kami makan siang di pinggir pantai, Nasi Balap Puyung yang kami take-away dari restoran di seberang bandara. Malam hari pintu kamar kami di ketok oleh staff cottage yang menanyakan apakah kami mau pesan makan malam atau tidak karena dia belum lihat kami makan malam padahal kami sudah makan mi instan seduh. Sebelum ke cottage kami juga sudah mempersiapkan diri membawa mi instan seduh karena kami pikir kalau pesan makan dari hotel harganya mahal. Ternyata tidak juga. Di Bumbangku harga makanan yang di jual di cottage nya buat saya wajar banget. 

Keesokan harinya ketika sarapan saya makan pancake yang enak banget, lembut dan fluffy. Saya berkali-kali bereksperimen bikin pancake sendiri di rumah tapi ga pernah sekalipun bisa mencapai tekstur pancake yang seperti itu. Kopi lombok juga enak banget, smooth dan tidak asam. Saya suka banget kopi yang tidak asam. Sarapan kali itu buat saya sungguh membahagiakan, sebagian karena makanannya enak dan sebagian lagi karena sarapannya setelah menyaksikan matahari terbit yang sempurna seperti di gambar-gambar anak SD. 


Dini hari kami bertiga bangun dan jalan menyusuri pantai di depan cottage. Di sebelah kiri cottage ada bukit batu yang kalau air laut surut ada gua-gua kecil yang bisa kita masuki. Tapi gua-gua itu tertutup air ketika pasang. Di hari pertama kita di Bumbangku, sore hari kami main-main di pantai yang ada gua itu. Di sebelah kanan cottage ada desa nelayan, di depannya ada pasir membentang yang bisa dilalui ketika air surut, dengan berjalan kaki melintasi itu kita bisa sampai di seberang teluk. Ketika air laut pasang hamparan pasir itu akan tergenang oleh air laut, kalau mau menyebrang teluk harus pakai perahu atau boat. Di seberang teluk ada bukit yang menurut staff hotel kalau mendekati musim hujan banyak kupu-kupu. Dan dibalik bukit itu ada pantai yang banyak digunakan untuk berselancar. 

Kami berjalan sampai di bukit kupu-kupu. Di depan bukit kupu-kupu ada hutan bakau, di antara akar-akar bakau banyak ibu-ibu dari desa nelayan yang menunduk-nunduk membawa tas dari rotan dan jala, sedang mencari-cari sesuatu. Mungkin mencari ikan-ikan yang berenang ke situ ketika arus pasang dan terjebak di rongga akar bakau ketika air surut. Saat itulah saya ikut menunduk-nunduk tapi alih-alih melihat ikan saya malah melihat pasir di situ bertekstur beda dari pasir pada umumnya. Lebih kasar dan lebih bulat seperti bearing roda di mesin mobil yang super kecil. Mungkin ini yang dinamakan orang-orang pasir merica.





Kami kembali ke cottage ketika perut mulai lapar dan air laut mulai tampak akan pasang.

Seharian kami bertiga hanya tidur-tiduran di gazeboo yang memandang lurus ke pantai. Mendengarkan musik sambil membaca buku dibuai angin sepoi-sepoi. Ketika lapar kami memesan makan siang dari restoran cottage yang diantar langsung ke gazeboo kami. Hari itu diawali dengan sunrise yang sempurna dan diakhiri dengan sunset yang juga sempurna. 

La Dolce Vita. 

Ultimate Innerpeace.



Coba kalo waktu itu sudah ada ukulele.... 

Selasa, 20 Januari 2015

Sunset di Pantai Depok Jogjakarta

Sesaat sebelum matahari terbenam, bersama dengan teman SMA saya Dayu Ary dan suaminya Lexis, saya tiba di Pantai Depok setelah melalui jalan lurus yang membentang diantara hamparan gumuk pasir Parangkusumo. Hari itu adalah hari Sabtu, Pantai Depok ramai oleh pengunjung, sekeluarga, berpasangan, maupun yang datang dengan sekelompok teman sepermainan. Perahu kayu nelayan warna warni parkir berjajaran di sisi pantai yang berpasir hitam. Ya, ciri khas Pantai Depok adalah pasirnya yang berwarna hitam. 



Banyak anak-anak dengan kaus kutang dan celana dalam masih asik bermain air di antara deburan ombak yang santai, mengingat masa balita saya di pantai cilacap persis dengan kutang dan celana dalam. Sementara ibu dan kakek neneknya mengamati sambil menyantap camilan di atas tikar. Sementara itu matahari berwarna keemasan bulat sempurna perlahan bersiap turun ke batas horizon, menyinari siluet keluarga yang sedang bercengkrama di atas tikar itu.

Kami sempat mencicipi jenis hewan laut yang baru saya lihat seumur hidup. Hewan laut ini bercangkang seperti kepiting tapi tidak keras dan ukurannya juga kecil, kira-kira sebesar satu ruas ibu jari. Dijajakan diantara cumi dan ikan asin yang sudah dimasak kering, saya tertarik melihat hewan yang buat saya terlihat asing itu. 

"Ini apa, bu?" tanya saya ke ibu pemilik warung.

"Undur-undur itu. Boleh di coba saja," ibu itu mengambil seekor undur-undur dan menyodorkan ke tangan saya.

Rasanya aneh.

Ibu itu tertawa girang melihat ekspresi muka saya.



Selasa, 13 Januari 2015

Ketika Tukang Makan Belajar Masak

Jam terbang yang jauh berkurang tahun lalu menyebabkan waktu di akhir pekan saya luang sekali. Semakin lama pergi keluar rumah di akhir pekan juga menjadi kurang menyenangkan. Pertama, sudah susah ngajak kawan seumuran saya buat jalan-jalan karena udah pada sibuk sama keluarga atau anak-anaknya yang masih pada kecil. Kedua, jumlah kendaraan di Jakarta makin membludak sehingga jalanan makin macet dan cari parkiran di tempat umum makin menguji kesabaran. Ketiga, nongkrong-nongkrong di cafe atau restoran makin lama makin mahal. Karena alasan-alasan itulah saya jadi lebih betah di rumah, cari-cari hal aneh yang bisa dilakukan selain baca buku seharian.

Sejak rutin lari pagi, setiap weekend saya lebih semangat bangun pagi daripada di hari biasa. Tapi setelah itu jadi bingung mau ngapain lagi. Saya ga suka nonton tivi karena di rumah saya tidak ada tv berlangganan, palingan sekali-sekali nonton DVD. Lama-lama keseringan menghabiskan waktu di rumah stok dvd dan buku jadi cepat habis, saya mulai cari-cari kegiatan lain. 

Berbekal koneksi internet yang memerlukan kesabaran saya mulai liat-liat tutorial masak di youtube. Saya mulai coba-coba bikin kue kering seperti oat chocolate cookies. Ternyata ga segampang yang dilihat di youtube, selama ini hasil eksperimen saya selalu menghasilkan cookies yang beda-beda setelah di bake, ada yang crunchy, ada yang kayak kue brownies, pernah juga keras banget kayak batu padahal ukuran resep dan cara yang saya gunakan selalu sama. Tapi mayoritas sih masih bisa dimakan sendiri.

Sampai akhirnya saya lupa sejak kapan saya mulai terinspirasi banyak makan sayur. Sejak itu saya jadi sering bawa makanan sendiri ke kantor. Tadinya  saya kurang suka sayur-sayuran, di rumah saya juga jarang ada sayuran. Papa Said bilang kita ga perlu makan sayur karena kan udah makan kambing yang makan sayur, jadi secara gak langsung dengan makan kambing kita makan sayur juga. Tapi setelah saya sering makan sayur - ga tau karena sugesti atau emang beneran ngefek - saya merasa lebih segar dan ceria. Setelah eksperimen menanam tomat saya berhasil, saya mulai membeli benih-benih sayuran dan menanam bayam, sawi, buncis, tapi selain bayam belum ada yang panen sih.

Sesering mungkin saya sempatkan bangun sejam lebih pagi dan nyiapin bekal makan siang untuk dibawa ke kantor yang menunya terdiri dari sayur-sayuran. Pernah karena tiap hari makan sayur, saya jadi lupa makan daging-dagingan, tiba-tiba kepala saya terasa pusing dan ringan, tubuh saya lemas, wajah pucat. Kemudian saya ngajak chacha makan steak daging dan langsung segar lagi.

Ada saat saya terobsesi banget sama pancake. Pengen bikin pancake yang tebel tapi empuk pas dipotong dan kalau dimakan tuh langsung kayak meleleh di mulut. Saya coba belajar dari bermacam-macam tutorial youtube tentang cara bikin pancake dan eksperimen sendiri sama bahan dan ukuran resepnya. Pernah pancake saya jadinya pahit banget karena terlalu banyak ngasih baking soda. 

Waktu lagi tren martabak nutela dan toblerone, saya coba bikin martabak sendiri. Walaupun ga mengembang banget kayak punya abang-abang tapi enak juga sih rasanya. Enaknya masak sendiri itu bisa cobain hal-hal aneh yang di restoran gak ada seperti misalnya Quinoa. Bijian-bijian ini rasanya mirip nasi jagung tapi lebih kering dan teksturnya krenyes-krenyes gitu, di makan sebagai pengganti nasi tapi bukan karbohidrat, malahan lebih banyak proteinnya jadi bagus buat diet katanya.

Sejak sering ke kudus dan coba yang anamanya Garang Asem, saya jadi suka banget makanan itu. Tapi di Jakarta susah banget cari garang asem. Kebetulan di kebon Papa Said ada pohon buah Belimbing Wuluh yang dipakai untuk bikin Garang Asem. Ketika Belimbing Wuluhnya berbuah saya pakai eksperimen untuk bikin Garang Asem pertama saya. Rasanya lumayan mirip, tapi kesalahan saya adalah pakai santan ngikutin resep, sementara yang saya makan di kudus waktu itu sepertinya sih tidak pakai santan. 



Dalam rangka merayakan ulang tahun chacha, saya dan pagit membuat acara camping pakai tenda di halaman rumah saya lengkap sama acara masak-masaknya, malem-malem kami masak mi instant pakai sawi dan wortel, paginya sarapan pancake dan makan siang Spaghetti oglio olio. Cerita lengkap bisa di lihat di blog pagit disini : Dua Malam dan Dua Hari di Bekasi


Selasa, 06 Januari 2015

Ukulele Biru di Tanjung Lesung

Niat main ukulele di pinggir pantai Lombok sambil nunggu sunset memang batal dan saya juga menunda untuk membeli ukulele karena ketika saya lihat harganya di toko buku ternyata mahal juga. 

Beberapa hari setelah kepulangan dari Lombok saya melihat seorang emak sosialita beranak 4 yang punya toko peralatan olahraga dan musik di Balikpapan share foto ukulele warna-warni di Path nya. Emak gaul yang hobi makan dan yoga ini bernama Meiyin. Perkenalan kami berawal dari sebuah social media bernama Plurk, kemudian merambat ke socmed lainnya. Ketika Path mulai merebak di dunia maya 2 tahun belakangan, pertemanan kami pun dilanjutkan melalui media ini. Sementara untuk bertemu muka secara langsung (baca: kopdar), belum pernah kami lakukan.

Di foto ukulele warna-warni yang dipajang Cece Meiyin di Path nya ada satu ukulele berwarna biru seperti warna biru kesukaan saya - biru seperti langit yang cerah, seperti lautan yang jernih, seperti gunung di kejauhan. Ternyata ukulele-ukulele itu barang dagangan di tokonya yang  baru saja tiba dari suppliernya. 

Awalnya saya hanya bertanya dimana beli ukulele warna-warni itu. Tak disangka, tak dinyana saya malah dikirimin satu ukulele biru langsung dari Balikpapan. Gratis.

Main ukulele ternyata beda dengan main gitar. Jumlah dan susunan senarnya beda, sehingga kunci nada (chord) yang digunakan juga berbeda. Jadilah saya seharian mengulik-ngulik ukulele dalam usaha untuk menaklukannya. Selama beberapa hari saya tidak lepas dari ukulele biru imut itu. Malam hari saya ngulik ukulele sampai mengantuk dan tertidur. Pagi-pagi bangun tidur langsung ngulik ukulele. Kemana saya pergi selama beberapa hari itu, saya senantiasa membawa alat musik berbentuk gitar mini itu - ke kantor, ke proyek, ke pantai. 

Kebetulan beberapa hari setelah saya punya ukulele itu Papa Said pagi-pagi ngajak bolos kantor, katanya mau ke Tanjung Lesung. Saya yang belum pernah ke Tanjung Lesung segera mengiyakan ajakannya dan membawa serta ukulele biru saya.

Jalur yang kita lalui ketika berangkat melalui anyer - carita - labuan - hingga tiba di tanjung lesung. Sebenarnya saya mengajukan rute lewat pandeglang, tapi karena exit toll nya kelewatan akhirnya diputuskan perginya lewat anyer dan pulangnya baru via pandeglang ke serang. Karena bukan hari libur di jalan raya Anyer dan Carita sepi, jadi bisa tancap gas. Untuk ke Tanjung Lesung dari Jakarta via anyer memerlukan waktu kurang lebih 6 - 7 jam. dari Tanjung lesung ke Jakarta via pandeglang lanjut serang memerlukan waktu kurang lebih 5 jam. 

Di pertigaan yang ada tanda panah PLTU Labuan kami ambil jalan lurus, beberapa saat kemudian baru sadar kalau jalannya semakin menjauhi laut yang berarti sudah nyasar. Ketika di cek di GPS benar saja, kita sudah makin menjauhi laut. Ketika Papa Said mau balik arah tiba-tiba ada motor dari arah lurus yang ngebut dan menyelonong ke bumper depan mobil yang sedang ambil ancang-ancang belok. Motor tersebut kemudian menyerempet ujung bumper mobil dan pengendaranya mental terpelanting sendiri. Kejadiannya begitu cepat dan kami semobil hanya bisa ternganga terdiam melihat motor itu jumpalitan sendiri.   

Motornya ringsek, pengendaranya tampak hanya luka ringan dan tidak punya SIM. Mobil Papa Said, gompel di bagian bumper dimana badan motor menyerempetnya, pelat nomor mobil ringsek dan terlempar. Warga kampung disitu membantu meluruskan pelatnya dan mengikatnya kembali di mobil dengan kawat bekas yang diambil entah darimana. 

Setelah insiden itu kami tetap melanjutkan perjalanan ke Tanjung Lesung. 

Ternyata seharusnya kalau mau ke Tanjung Lesung kita musti belok di pertigaan yang ada penunjuk ke PLTU Labuan. 1,5 jam dari pertigaan itu, kami tiba di gerbang kompleks pantai Tanjung Lesung. 

Di gerbang kami disapa satpam. 

"Kalau ke resort, di bulatan ke empat..." satpam muda di depan gerbang menjelaskan sembari tangannya lurus memberi gestur ke arah depan,"bulatan 1, bulatan 2, bulatan 3, bulatan 4..nah belok kanan."

"Kalau mau ke pantai...."satpam muda itu masih menjelaskan, " di bulatan keempat, bulatan 1, bulatan 2, bulatan 3, bulatan 4..nah belok kanan."

"Lah.. sama donk, Pak," kami semobil serentak berseru. 

Jalan masuk ke resort ( dan tentunya pantai) lumayan jauh tapi teduh, di kiri dan kanan ada pohon-pohon rindang yang menyatu di atas membentuk semacam atap yang menaungi jalan masuk itu. Di bulatan ke-4 belok kanan ada Tanjung Lesung Resort dan Kalicaa Villa Resort. Sayangnya untuk tahun baru-an di sana sudah full booked. Kami pun mencari restoran untuk makan siang disana.

Sembari menunggu pesanan ikan bakar matang, saya dan chacha melakukan photo session dengan ukulele biru. Ketika kami sedang menikmati makan siang yang agak telat hari itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur tanjung yang berada di bagian barat pulau jawa itu.



Rabu, 31 Desember 2014

Catatan Penghujung 2014

Saya selalu membuat catatan penutup setiap tahun di blog ini, tapi 2014 tidak seperti tahun yang sebelumnya. Di tahun 2014 saya menulis Catatan di Pertengahan 2014, tentang Comfort Zone

Pertengahan 2014, adalah saat saya menyadari bahwa there is no such thing as comfort zone, yang kita lakukan di hidup ini intinya untuk survive hari demi hari. Setiap pagi adalah 'hari baru' dengan tantangan baru yang harus dihadapi dan setiap malam adalah saat hari berakhir, kemudian kita kembali ke 'hari baru' selanjutnya dengan tantangan baru yang berbeda yang dalam waktu 24 jam akan berakhir. Hidup adalah suatu siklus. 

Akhirnya di windu ke-4 kehidupan ini, saya memutuskan akan mulai memandang hidup ini satu siklus hari - satu siklus hari saja. Sebenarnya ada istilah bahasa inggris untuk ini: Taking one day at a time. Kalau menurut saya sih sebenarnya sama seperti kalau kita makan, walaupun ada nasi sepiring di hadapan kita tapi tetap saja yang bisa kita masukan ke dalam mulut kita hanya satu suap demi satu suap, dengan cara itu kita bisa lebih menikmati dan mencerna makanan kita. 

Buat saya dengan cara fokus di satu siklus hari saja, membuat kekhawatiran saya terhadap masa depan yang belum pasti terjadi berkurang secara drastis. Mengurangi keparnoan terhadap apa yang belum pasti terjadi ternyata efeknya mengurangi kegalauan yang berkecamuk karena hal ga jelas.  

Ketika di awal tahun 2014 saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Timor Leste, kawan-kawan saya pada mikir saya orang aneh, "ngapain lo ke timor leste? nyusul KD?" Mereka nanya, kenapa gak ke derawan? kenapa ga ke raja ampat? kenapa ga body surfing di green canyon? Semua hal yang jadi semacam destinasi wajib turis itu belum ada yang pernah saya kunjungi. Kenapa malah ke Timor Leste yang ga ada apa-apa itu?

Waktu itu saya jawab, "yaaa pengen aja liat bagaimana keadaan negara yang baru berdiri." Kan jarang-jarang ada kejadian begitu. Kalau saya tunggu 10 tahun lagi untuk ke sana ya mungkin udah ga baru-baru amat. Saya mau lihat bagaimana kehidupan orang yang tinggal di negara yang harus membangun segala sesuatu nya dari nol - from scratch - infrastruktur nya, gaya hidupnya, nasionalismenya, identitas budaya nya, bahkan mungkin jati diri nya sebagai warga dunia. 

Kunjungan saya beberapa bulan ke daerah Merapi juga membuat saya kembali dihadapkan pada suatu kehidupan yang harus dimulai dari awal. Hidup itu adalah siklus. Kalau mau melihat jauh ke belakang, ada saat dimana asteroid jatuh ke bumi dan memusnahkan dinosaurus dan seluruh organisme yang hidup di jaman jurassic itu, kemudian terbentuklah organisme yang sama sekali baru yang memulai dan lambat laun membangun eksistensinya sebagai mahluk hidup di bumi. 

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan segusar apa pun kita mengkhawatirkan nya dan berusaha memprediksinya. Ketika saya sadar itu, banyak hal yang buat saya jadi kurang penting lagi, seperti misalnya baju-baju brand luar yang saat opening dan sale selalu dipenuhin orang-orang. Bahkan ketika di awal tahun kamera underwater saya rusak dan tidak tertolong, saya merelakannya. Ketika memutuskan mau beli kamera pocket baru saya mikir, saya butuh barang ini atau saya hanya kepingin punya? Akhirnya hingga tahun 2014 mau berakhir saya belum beli camera pocket baru karena iPhone saya bisa berfungsi ganda sebagai kamera juga. 

Walaupun suka was was dengan batere iphone yang lebih cepat habis daripada camera pocket yang tahan berhari-hari, tapi ternyata mengurangi satu set gadget (lengkap dengan alat chargernya) jadi memudahkan saya ketika travelling. Hidup pun mungkin begitu, dengan mengurangi beban berupa barang-barang seperti itu akan membuat hidup lebih mudah dan lebih ringan. 

Sama seperti kita memutuskan apa yang mau dibawa ketika travelling supaya ga ribet, kita pun harus memutuskan apa yang mau kita bawa dalam hidup dan mana yang harus ditinggalkan. Hal itu termasuk perasaan-perasaan kita yang bikin berat hidup seperti misalnya perasaan pengen sama kayak temen kita si "anu" yang tiap 3 bulan sekali jalan-jalan ke luar negeri, atau pengen sama kayak temen kita si "cuplis" yang sepantaran tapi udah posisi manager dan mobilnya CRV. 

Apakah kita butuh seperti itu atau cuman kepingin aja seperti itu?

Buat saya, dengan bisa menerima diri saya ini seperti sekarang dan mensyukuri nya membuat hidup saya lebih ringan, ga keberatan sama ekspektansi.

Kata Jason Mraz di lagu nya, "Let's hike in the mountains and challenge our will," itu lah yang membawa saya ke Rinjani. Sebenarnya cita-cita mau ke Rinjani sudah ada sejak 3 tahun yang lalu tapi baru terlaksana tahun ini. Sejujurnya saya takut gak siap secara fisik, tapi kalau menunggu sampai siap rasanya saya gak akan siap-siap sampai waktu yang tak terhingga. Jadi saya hanya...

.....pergi. 

Begitu saja.

Beberapa hari setelah kepulangan saya, blackberry saya error. Semua foto yang tersimpan di memory card-nya hilang dan banyak foto-foto saya di Rinjani yang belum saya backup. Diantara itu ada foto saya main layangan di Segara Anak, foto favorit saya. Tentu saja saya sedih dan menyesali kejadian itu, tapi ketika hari berakhir saya memutuskan merelakannya. Keesokan pagi saya memulai hari baru tanpa penyesalan dan udah ga larut dalam kesedihan gara-gara foto yang terhapus. Buat saya yang penting adalah experience saya main layangan di segara anak, bukan sekedar foto saya lagi main layangan yang terhapus di memory card BB.  

Belakangan ini saya menemukan bahwa experience dalam acara jalan-jalan saya yang seringnya ga terkonsep menjadi hal yang lebih penting dari tujuannya. Kemanapun destinasi nya, akan selalu ada pelajaran baru yang menambah makna dari hari-hari yang saya jalani, membentuk apa yang menjadi diri saya hingga sekarang ini. Hingga akhirnya saya benar-benar tidak peduli kemana destinasi petualangan saya berikutnya karena buat saya sekarang setiap hari adalah hari baru, tantangan baru, petualangan baru dan tentunya pelajaran baru.

Selamat Menyongsong Tahun 2015.

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...