Sabtu, 23 April 2016

Mengantar Si Mama Belanja

Saya sebenarnya bukan termasuk orang yang suka shopping, kalau mau beli sesuatu musti perlu dulu dan kalau pergi ke mall atau ke toko khusus untuk beli barang yang diperluin itu. Misalnya, sepatu. Biasanya teman-teman saya beli sepatu kalau ada model baru, atau pas lagi jalan atau liat online shop ada model yang disuka langsung beli, atau kalau lagi ada sale di brand tertentu. Saya cuma beli sepatu kalau salah satu sepatu saya rusak atau sudah jelek. Dan biasanya belinya modelnya pasti sama. Misalnya sepatu resmi saya untuk urusan kantor yang serius pasti hitam polos. Kalau sehari-hari saya sering pakai sepatu Converse dan kalau rusak saya selalu beli Converse lagi. 

Baju juga begitu. Saya jarang beli baju. Malahan Mama saya yang kadang suka menyelipkan baju baru di lemari saya diam-diam karena liat baju yang saya pakai itu lagi, itu lagi. Handphone saya juga biasanya saya pakai sampai rusak atau hilang, jadi sementara kawan-kawan saya sudah ganti tipe handphone 3 kali, saya masih setia dengan handphone yang saya beli 5 tahun lalu. Malahan iPhone saya tahun depan sepertinya sudah gak bisa update iOS karena udah mentok. Tapi karena masih bagus, saya belum ada niat untuk ganti.

Kadang ada barang yang saya kepingin banget tapi bimbang untuk beli karena sayang uangnya. Iya, saya memang se-pelit itu hihihi. Sejak jarak tempuh lari saya meningkat saya kepingin banget punya Garmin Forerunner, tipe yang saya mau pun saya sudah tau. Tapi untuk beli nya masih maju mundur, belum yakin. 

Walaupun gak terlalu suka shopping, kalau travelling saya tetap suka liat-liat pusat perbelanjaan, toko-toko, pasar. Saya senang lihat-lihat barang apa yang lagi trend disana, perbedaan harganya dengan disini, bagaimana cara dagang orang-orang disana, cuma mengamati saja buat saya seru. Ya pasti beli lah satu atau dua barang yang khusus mengingatkan kalau saya pernah ke tempat itu. 

Waktu pertama ke Bangkok, saya awalnya berangkat sendiri, kemudian janjian dengan dua orang kawan yang menyusul. Saya sempat ikut dua orang kawan saya muterin beberapa pusat perbelanjaan di Bangkok, tapi hari berikutnya saya putuskan pisah lagi sama kawan-kawan saya yang masih belum puas belanja dan jalan sendiri ke Vimanmek Mansion.

Ke Bangkok tahun ini tujuan utama saya memang mengantar Mama saya shopping spree di Bangkok, jadi di itinerary yang saya bikin untuk Mama saya setiap hari pasti ada shoppingnya. Malahan sebagian besar waktu dihabiskan di pusat perbelanjaan. 

Tiba di Bangkok hari pertama, malamnya kami langsung melipir ke Patpong Night Market. Jalan kaki dari hotel yang sengaja saya pilih di daerah Silom. Memang ibu-ibu itu kalau soal belanja cepet banget adaptasinya, biar bahasanya gak nyambung tapi Mama saya tetap saja bisa tawar menawar barang sendiri, malahan colek-colekan ama banci.

Keesokan harinya setelah lihat-lihat Wat dan Sleeping Buddha, kami naik taksi ke Siam Square dan jalan kaki ke MBK. Nah Mama saya betah nih di MBK. Mallnya gede banget, enaknya kalau belanja oleh-oleh disini ada tempat khususnya dan harganya pas, jadi gak perlu repot nawar. Baju-baju a la thailand juga banyak disini dan harga pas. Oleh-oleh makanan juga komplit. 

Keesokan harinya adalah hari sabtu. Pagi-pagi kami naik taksi dari depan hotel ke chatuchak. Mama saya juga betah disini. Saya dan Anissa, adik bungsu, cuma menunggu sambil ngopi di depan Clock Tower. Saya sempat minta difotoin di depan Clock Tower, tapi pas lagi gaya tiba-tiba di belakang saya muncul rombongan orang foto pre-wed pakai wedding dress putih. Sengaja banget mau nyindir jomblo. KZL. 

Liat yang foto pre wed dibelakang huhuu
Sebelum makin siang dan panas, saya menggiring Mama saya untuk pindah dari chatucak ke Pratunam naik taksi. Muter-muter sebentar di Platinum mall, Mama saya tampak kurang tertarik. Kami makan siang disana kemudian ke Siam Paragon karena mau ke Madame Tussaud. Setelah dari Madame Tussaud, Mama saya minta balik ke MBK. Betah banget, bu.

Dan..... seperti biasa, setiap pergi sama Mama saya ketika pulang barang bawaannya bertambah satu koper lagi.

Sabtu, 09 April 2016

Pantai Bodur

Lagi sumpek sama Jakarta dan kangen sama pemandangan pasir putih dan laut biru yang masih bersih? Ada Pantai Bodur di Tanjung Lesung, hanya 4 - 5 jam dari Jakarta. Untuk ke Pantai ini dari Jakarta bisa melalui dua jalur, lewat toll merak keluar di Pandeglang atau exit toll Cilegon menyusuri jalur pantai Anyer - Carita- Labuan. 

Kalau pilih jalur lewat Pandeglang waktu tempuh lebih dekat, tapi harus jeli memperhatikan penunjuk arah ke Tanjung Lesung. Di beberapa persimpangan ada petunjuk arahnya. Kalau sudah ketemu PLTU Labuan berarti Tanjung Lesung sudah dekat. Kalau lewat jalur anyer jarak tempuh memang lebih lama karena jalan memutar tapi lebih mudah karena tinggal lurus-lurus saja mengikuti jalur pantai hingga ketemu persimpangan yang ada petunjuk ke arah PLTU Labuan, arah yang sama dengan Tanjung Lesung.

Kalau mau trip satu hari PP dari Jakarta bisa banget, kalau mau menginap yang tidak mahal di dekat pintu masuk Tanjung Lesung banyak terdapat homestay di pinggir jalan. 

Untuk ke Pantai Bodur harus masuk ke kawasan resort Tanjung Lesung dulu, posisinya ada di paling ujung kawasan ini. Waktu saya kesana banyak terdapat warung-warung tapi sepi, konon kata penjaga resort dulunya Pantai Bodur terbuka untuk umum, tapi kemudian setelah diambil alih dikelola oleh resort jadi tidak seramai sebelumnya tapi lebih bersih dan ekslusif. 

Lokasinya sebenarnya cukup unik, karena sebelum ketemu pantai kita akan lihat melewati semacam savana yang dihiasi rumput, beberapa kumpulan semak dan sedikit pohon. Mungkin juga karena waktu saya kesana lagi musim panas, tumbuhan di kawasan itu tampak mengering sehingga mirip savana dengan rumput kering kecoklatan.

Panas tapi fotogenik.







Selasa, 22 Maret 2016

Salah Siapa?

Beberapa kali saya sempat berpikir untuk menyalahkan diri sendiri atas kejombloan yang menahun ini. Banyak tante-tante, om-om, kawan-kawan yang bilang bahwa penyebab saya masih jomblo adalah karena saya. 

“elo sih…” 

“ya salah lo sendiri sih..” 

Tapi hati nurani susah banget untuk nyalahin diri sendiri. Buat saya udah jelas. Yang salah adalah cowo-cowo itu. 

Terlalu banyak hal yang bikin ilfil. 

Nomor satu adalah cowo drama. Jenis orang yang merasa kalau dunia dan segala isinya berputar mengelilingi dia sebagai pusatnya. Cowo jenis ini yang suka galau kalau pesannya ga langsung dibalas atau pas telpon ga diangkat, dia mengira kalau kondisi seperti itu sudah pasti karena si cewe gak suka sama dia seolah-olah di dunia ini dari jutaan spesies hewan dan tumbuhan yang penting cuma dia doang. 

Cowo jenis ini gak pernah kepikiran kalau cewe yang dituju itu lagi sibuk sama urusan lain, misalnya lagi dateline pekerjaan, atau ada masalah pelik di pekerjaan atau lagi dikejar-kejar klien yang marah atau lagi dikejar-kejar calo dan terlalu lelah buat angkat telpon. Atau lebih simple lagi karena cewe itu sibuk seharian, terjebak kemacetan berjam-jam, sampe dirumah udah malem dan harus tidur karena setiap hari harus bangun jam 4 subuh. 

Dari sepenggal pesan yang lama dibalas atau telpon yang tidak sempat terangkat, cowo ini kemudian akan curhat dimana-mana, di social media, curhat sama teman-temannya, curhat di grup messenger, pasang quotes yang menyedihkan di foto profil messengernya. Sedih atas sesuatu yang hanya terjadi di imajinasinya aja. Kayak ibu-ibu yang nangis gara-gara nonton sinetron Cinta Fitri.

Ada juga cowo yang gak kreatif. Semua orang sih kayaknya pernah ngalamin. Tapi buat saya tetap aneh. Biasanya kejadian ini terjadi sekitar jam 12 – 1 siang dan 7 – 8 malam, berupa pesan dengan pertanyaan: sudah makan belum? 

Yang membuat kecewa adalah pertanyaan itu gak diikuti dengan action. Misalnya gini. 

Cowo: udah makan belum? 

Cewe : belum 

Cowo: oh bentar ya nanti dikirim makanan, pizza mau? 

Nah itu contoh yang benar, tapi selama ini belum pernah sih terjadi sama saya. Kebanyakan yang kasusnya gini. 

Cowo : udah makan belum? 

Cewe : belum 

Cowo: makan dulu sana, nanti sakit. 

Hellaaaawww….. 

Buat saya pesan seperti itu merendahkan intelejensia saya. Apa iya ada orang begitu bego nya sampai gak bisa mengenali rasa lapar dan gak langsung makan? Saya cuma gak makan pas laper kalau lagi gak punya duit, ya percuma nyuruh makan tapi gak kasih solusi. Kadang saya lelah menanggapi pesan seperti itu, sama lelahnya seperti menjawab telepon dari call center yang menawarkan kredit tunai.

Dari mulai jaman telepon koin, beralih ke jaman telepon genggam, melalui sms kemudian YM dan messenger2 lain, akan selalu ada cowo yang kirim pesan ke cewe dengan kalimat: Makan dulu, nanti sakit. Mungkin jaman masih pake surat-suratan juga ada kayak gitu, ditulis di surat, dikirim pos, seminggu kemudian sudah terlambat, cewe itu sudah mati kelaperan gara-gara lupa makan.

Ngomong-ngomong soal kirim pesan melalui messenger, ada beberapa cowo yang menurut saya keren, cool, orangnya serius dan berwibawa tapi ketika chatting di messenger pakai semua emo-emo, hati, bunga dan pakai huruf yang berlebihan. Ada salah satu cowo yang saya kenal, awalnya ketemu beberapa kali, ngobrol-ngobrol orangnya keliatan smart, serius tapi bisa lucu, tinggi, lumayan manis. Terus tiba saat kita tukeran pin BB. 

Waktu itu saya belum mulai BBM dia, sore harinya pas sampai rumah baru saya lihat ada pesan dari dia. Cowo itu bilang “Halo” tapi pakai insert text BBM yang ada emo orang trus disampingnya ada bunga-bungaan warna-warni. Saya kaget sampai BB saya nyaris lepas dari genggaman saya. Lebih parah lagi ketawanya pakai emo insert text juga yang di scroll 4 kali baru selesai gambarnya. Pegel cuy.

Ada juga teman cowo saya yang ganteng, suatu hari tiba-tiba aja cara nulis pesan di messengernya aneh. Banyak huruf yang kelebihan, kayak misalnya , “iyaaaaaaa……”, “laaaaaaaahhhh kog bisa gituuuuu… hahahahaaaaahhhhahaahhh……” 

Waktu itu saya penasaran dan saya tanya, “keypad henpon lo rusak?” 

Teman saya jawab,”enggaaaaaakkkkk…….” 

Mungkin dia abis digigit hewan yang terjangkit rabies, pikir saya dalam hati.  

Ada lagi nih cowo yang messengerannya perfeksionis, jadi pada suatu hari dia mengirim pesan pertama kalinya melalui Line messenger. Terus saya bales. Dia bales. Trus saya bales pake stiker. Trus dia lama banget ga bales-bales. Saya tidur. Besok paginya saya lihat ada balesan di Line. Stiker. Dalem hati saya mikir pasti dia lama pilih-pilih stiker deh. Lelah. 

Yang paling bikin sebel adalah cowo yang terlalu berusaha keras kelihatan mapan, baru kenal udah cerita soal jabatan di kantor, gajinya berapa, punya mobil apa dan berapa cicilannya, punya rumah harganya berapa milyar yang gak terpakai karena dia tinggal di apartement., bla bla bla. Saya gak peduli kalaupun dia punya satu negara, saya gak pernah peduli orang-orang punya apa dan saya gak mendasarkan pertemanan dari apa aja yang dipunyai orang. Bukannya bikin saya kagum, cowo-cowo kayak gitu malah bikin males. 

Beberapa cowo merasa kalau keberadaan laki-laki itu merupakan kebutuhan kaum perempuan. Sorry bro, sekarang jamannya layanan bengkel mobil 24 jam yang selalu siap sedia datang kapan aja. Pernah ada salah satu senior jaman saya kuliah yang dulunya saya ga gitu kenal deket, baru ketemu lagi. Tiba-tiba ybs merasa harus jadi pahlawan yang mau membantu pekerjaan saya, padahal waktu itu saya gak minta dibantu. Malahan karena ybs pekerjaan yang lagi saya kerjakan jadi terganggu karena "proyek"nya dia dan ybs nya menuntut banyak sekali perhatian. Waktu itu saya hanya gak enak karena sungkan nolak senior. Pada akhirnya ybs tetap marah-marah karena merasa saya kurang effort, kurang menghargai bantuannya, dan karena saya belum punya waktu untuk nemenin ybs nonton di bioskop. Saya langsung tarik nafas, berbaring di lantai, pose yoga savasana. Namaste.

Ini bukannya sengaja cari-cari kejelekan cowo yang deketin saya sebagai alasan buat kabur karena takut sama komitmen jangka panjang seperti yang pernah dibilang salah satu kawan saya. “Mil, lo itu terlalu ‘bro’ sampe cowo aja bakal lebih milih cowo juga buat jadi pasangannya daripada elo,” katanya berusaha menjelaskan kalau saya orangnya susah dipegang kayak belut yang licin dan dingin. 

Ngomong-ngomong, penjelasan teorinya tentang takut komitmen itu menggantung karena istrinya telfon dan dia langsung takut dimarahi kalau pulang kemalaman. Saya jadi mikir teorinya tentang takut komitmen itu sebenarnya ditujukan untuk memberi pembenaran sama situasinya sendiri. Saya pun langsung bersyukur karena kelak pas sampe rumah nanti saya bisa langsung istirahat dengan tenang di kamar saya sendiri tanpa menghadapi drama ‘kemana aja tadi’. 

Intinya adalah, walaupun tetap bersyukur dengan kondisi saya sekarang ini, saya gak pernah menghindar dari kesempatan untuk berkomitmen, malahan usaha cari-cari juga kog. Saya masih mau-mau aja kalau ada kawan saya yang berusaha menjodohkan saya dengan kawannya walaupun seringnya ketemu dengan tipe-tipe cowo yang diatas itu. 

Supaya lebih terlihat desperate nih ya, saya ngaku kalau pernah coba aplikasi Tinder, salah satu app cari jodoh yang ada di smartphone. Ujung-ujungnya sih saya malah jadi ngetawain kawan-kawan yang saya kenal yang ternyata muncul fotonya di aplikasi itu. 

Diantara foto-foto kawan saya itu saya melihat beberapa foto cowo-cowo yang biasa aja, bukan cowo yang keren, cool, bentuk badan atletis dengan tatapan mata tajam - justru kebalikan dari itu. Saya berpikir, mungkin kalau cowo yang keren banyak di-swipe kanan-in, tapi kalau cowo biasa-biasa aja mungkin sering kelewat, pasti selalu jadi korban swipe kiri. Jadi saya memutuskan akan mulai swipe kanan cowo-cowo yang biasa aja itu, supaya mereka senang kalau akhirnya ada yang like mereka. Aplikasi itu pun saya jadikan ajang untuk berbuat baik sesuai panggilan hati saya yang selalu ingin berbuat kebaikan. 

Sayangnya, cowo biasa-biasa pun gak ada yang memilih saya. Sistem di Tinder kalau orang lain dan kita sama-sama like maka akan ada notifikasi Match, setelah itu baru bisa kirim-kirim pesan. Dari itu saya tau ga ada yang pilih saya, karena gak dapet Match. Kebaikan saya pun bertepuk sebelah tangan. Belum ada seminggu mainan aplikasi itu saya udah gumoh (seperti perasaan eneg kalau makan kekenyangan) sama muka cowo-cowo karena kebanyakan liat foto. Saya pun menyerah. Nah jadi bukan salah saya kan. Saya udah usaha. Yang salah ya cowo-cowo itu.

Selasa, 15 Maret 2016

Lari ke Gunung Pancar

Waktu itu saya dan beberapa kawan-kawan tiba di kawasan Sentul City sekitar jam setengah 7, agak telat memang untuk memulai lari karena matahari sudah terlanjur bersinar terang. Kami memutuskan parkir di Gedung Budaya Sentul City menunggu satu rombongan lagi di mobil terpisah yang baru datang jam 7. Ternyata dua orang kawan saya di mobil yang baru datang itu tidak mau ikut lari, mereka memilih naik mobil sambil melakukan olahraga lain, yaitu main catur. 

Tujuan rute lari saat itu adalah ke Gunung Pancar. Diantara kami belum ada yang pernah ke Gunung Pancar jadi sama sekali buta dengan jarak dan medan lari saat itu. Dari Gedung Budaya kami lari ke arah The Jungle, di persimpangan yang banyak ojek ada petunjuk arah ke Gunung Pancar dan Air Terjun. Setelah persimpangan yang ada pangkalan ojek itu jalanan mulai menanjak, dan karena kami sudah kesiangan jadi sudah ramai oleh mobil dan motor. 

Mendekati kilometer ke 3 tanjakan menjadi semakin sadis derajat kemiringannya. Saya sudah tertinggal jauh dibelakang dari Martin dan Nico, sementara Grace yang mulai ikut lari bareng sama saya mulai pangkalan ojek terpaksa menyerah dan ikut naik mobil hingga sampai di Gunung Pancar. Saat itu saya merasakan tarikan gravitasi seperti nyaris memaksa saya buat merangkak di aspal. Jalan saja sudah tidak bisa tegak karena jalannya miring sekali. 

Saat itu saya cuma bisa menyeret kaki-kaki saya yang mulai terasa kaku dengan wajah menunduk ke bawah, menyaksikan bulir-bulir keringat saya jatuh bercucuran di atas aspal. Sesekali saya menengadah melihat ke depan, nun jauh diatas sana tampak seperti ujung pendakian. Tapi ketika sampai di titik yang saya pikir ujung pendakian ternyata cuma bonus sedikit, setelah itu tanjakan selanjutnya menyambut. 

Jarak dari Parkiran Gedung Budaya hingga ke Gunung Pancar memang gak jauh, tidak sampai 5km. Tapi karena tanjakannya sadis, bikin betis meringis pedih. Jalannya aspal mulus tapi lumayan gersang, tidak banyak pohon di sisi jalan untuk berlindung dari sengatan matahari pagi yang mulai terik. Saya membuat mental notes, lain kali kalau mau lari lagi kemari harus start jam 5.30 subuh dari Sentul City. 

Mendekati kilometer ke 4 saya mulai melihat ada pucuk-pucuk pohon pinus di kejauhan. Benar saja, tak lama saya saya sudah berada di tengah-tengah jajaran hutan pinus. Pohon pinus daunnya beda dengan pohon lain, bentuknya langsing dan lancip seperti jarum. Konon bentuk daun pohon pinus yang lancip berguna supaya penguapan air melalui permukaan daun berkurang drastis tanpa harus mengurangi luas permukaan hijau yang berguna untuk fotosintesis, jadi pohon pinus ini termasuk yang paling tahan dengan kondisi curah hujan yang sedikit. 

Saya mulai berlari lagi ketika memasuki kawasan hutan pinus, tidak jauh ada gerbang masuk Gunung Pancar. Suasana mendadak teduh dan rindang diantara naungan pohon pinus. Kami sempat duduk-duduk, gegoleran dan coba foto ala-ala gaya acro yoga tapi gagal. Rencananya kami mau foto plank tapi tumpuk tiga dengan posisi Martin paling bawah, Nico di tengah dan saya paling atas. Masalahnya karena tinggi badan saya yang minimal jadi buat memanjat ke atas Martin dan Nico susah, akhirnya saya memutudkan untuk sedikit melompat tapi mereka malah gak kuat dan kami pun rubuh seketika. 

Sadar kalau kami tidak bakat bergaya acro yoga kami memutuskan melanjutkan perjalanan dengan tujuan mencari air terjun. Tapi kami hanya jalan sejauh pemandian air panas karena tergoda kelapa muda yang digantung di warung dekat situ. Habis makan kelapa muda kami lupa sama air terjun dan langsung jalan balik pulang. Tapi saat itu sudah terlalu siang dan matahari sudah terlalu terik, akhirnya kami hanya mampu jalan sampai dengan pangkalan ojek di dekat pintu The Jungle kemudian minta dijemput oleh dua kawan kami yang lagi asik main catur pakai mobil. 


Rute lari Sentul City - Gunung Pancar



Selasa, 08 Maret 2016

Tanam Bayam di Pot Gampang Banget

Iyak, betul. Gampang. Gak mahal. Gak repot ngurusinnya. Gak perlu punya kebon atau lahan yang luas. 

Saya memang selalu bilang sama kawan-kawan saya di path dan FB, cobain deh tanam sayuran di rumah untuk merasakan yang namanya sayuran segar, organik dan gak mahal. Dan saya selalu bilang coba deh tanam bayam dan kangkung, gampang banget. Yang dibutuhkan cuma pot, media tanah yang sudah dicampur kompos dan benih bayam. 

Ya awalnya memang perlu beli benih, tapi harganya murah dan hanya perlu beli satu kali untuk awalnya. Kalau untuk kasus bayam, kita tunggu aja beberapa bulan nanti tanaman bayam itu akan menghasilkan biji yang bisa dipakai sebagai benih lagi. 

Cara tanam dan perawatannya juga gampang. 

Masukan tanah basah ke pot, sebar biji bayam, tutup dengan tanah yang disebar tipis-tipis diatasnya, taruh di tempat yang kena matahari langsung dan siram setiap pagi. Memang kalau terlalu penuh atau crowded dalam satu pot pertumbuhan bayam akan terhambat, kalau itu terjadi tinggal ambil beberapa bayam yang masih muda itu dan pindahkan ke pot lain atau bisa langsung dimakan jadi salad atau lalap. Biasanya dalam waktu 30 - 40 hari atau sekitar sebulan bayam yang saya tanam di pot sudah bisa dipanen.

Awalnya saya sempat pakai cara lain, yaitu biji bayam pertama-tama saya semai dulu di tempat yang kecil, baru setelah tumbuh 4 daun sejati dipindahkan ke wadah yang lebih besar. Sama seperti menanam biji cabai atau tomat. Tapi buat saya mindah-mindahin bayam makan waktu karena banyak banget, jadi cara pertama buat saya lebih praktis. 

Sekarang bibit bayam yang saya tanam saya sebut sebagai generasi kedua, jadi benih bayam yang saya tanam sekarang didapat dari tanaman bayam batch pertama, yaitu yang benihnya dibeli online. 

Cara mendapatkan biji bayam juga gampang. Pokoknya ini serba gampang deh. 

Khusus satu pot saya sisakan 5 pohon bayam yang saya biarkan tumbuh sampai batangnya dan daunnya jadi besar banget. Setelah lebih dari 3 bulan di ujung batang tumbuh bunga yang di dalamnya ada biji berwarna hitam yang rontok kalau digoyang-goyang, nah itu biji bayam yang kemudian saya tanam lagi. Dengan itu saya menutup satu siklus kehidupan, benih - tanaman - jadi benih lagi - tanaman lagi - benih lagi dst dst.

Untungnya hidup di daerah tropis salah satunya adalah perbedaan temperatur sepanjang tahun tidak signifikan, jadi kalau mau menanam tidak perlu menunggu kondisi musim dan temperatur. Palingan yang harus diperhatikan hanya lagi banyak hujan atau tidak. Tapi untuk tanaman bayam di pot yang jumlahnya gak banyak seperti di perkebunan bayam, saya sudah pernah coba tanam di musim hujan dan musim panas, hasilnya tidak jauh berbeda. 

Hanya saja kalau di musim hujan perlu diperhatikan potnya, jangan sampai tersumbat dan air menggenang di pot. Kalau cuaca lagi panas banget juga perlu diperhatikan, kadang walaupun sudah saya siram paginya tapi kalau siang panas terik banget sorenya saya siram lagi sedikit. Dan satu lagi yang saya pelajari dari Bayam adalah tanaman itu suka banget sama cahaya matahari, kalau di tempat teduh pertumbuhannya tidak maksimal.

Punya persediaan bayam sepanjang tahun di rumah gak bikin saya bosen karena paling gampang dimasaknya dan bisa jadi macam-macam masakan. 

Seringnya cuma saya tumis pakai bawang putih dan cabe, juga dibuat sayur bening pakai jagung manis. Tapi kadang saya eksperimen, misalnya masukin bayam ke telur dadar, enak juga. Bayam yang masih muda dimakan mentah juga enak, jadi kayak lalapan. Waktu itu saya pernah iseng bikin pizza bayam gara-gara habis nonton youtube Jamie Oliver lagi bikin adonan pizza from scratch. Pengen praktekin hasil tontonan youtube tapi liat di kulkas ga ada yang bisa dijadiin topping, petik aja bayam di pot.

Salad Baby Bayam dimakan sama terong tepung goreng dan Telor dadar bayam tomat

Eksperimen pizza bayam - from scratch






Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...