Sabtu, 23 Juli 2016

Lari di Bulan Puasa

Saya bukan termasuk orang yang ambisius, hobi lari juga gak pakai ambisi. Kawan-kawan saya yang mulai hobi lari dengan waktu yang hampir barengan kemampuannya sudah jauh melewati saya. Semuanya pasti sudah pernah ikut acara race 10k dan Half Marathon (21k). Sementara saya butuh waktu lama dari mulai rutin lari sampai bisa lari 10 kilometer, sekitar 3 tahun. 10k pertama saya pas di hari ultah saya tahun lalu. Birthday run tahun ini, secara spontan saya daftar acara race untuk pertama kali dan dengan nekat langsung daftar untuk half marathon. Cerita lengkapnya bisa dibaca di postingan Akhirnya Daftar Acara Race.

Latihan untuk menambah jarak lari saya dua kali lipat dalam waktu beberapa bulan saja buat saya sih cukup berat. Tapi saya tetap konsisten gak ambisius, targetnya cuma mau melakukan hal beda yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dalam hidup saya. 

Sebenarnya tiap tahun pasti saya ada semacam yearly life goals, supaya hidup berasa ada tujuan seru aja dikit sih. Jadi setidaknya di hari-hari saya ada kegiatan untuk mempersiapkan suatu rencana, kayak misalnya seperti persiapan fisik waktu mau ke Rinjani. Waktu itu salah satu alasan saya semangat dan rutin lari karena persiapan mau ke Rinjani, tapi waktu itu kuatnya hanya lari paling jauh 5 kilometer. Kemudian tahun lalu saya niat harus bisa lari sampai 10 kilometer, terus saya coba ikut Coach yang ada di aplikasi Nike Run. Tepat di ulang tahun saya yang ke-33, saya berhasil menyelesaikan lari 10k.

Untuk persiapan lari half marathon saya ikut lagi program Coach di Nike Run. Hari pertama programnya jatuh tepat di hari pertama puasa. Waktu itu saya masih optimis dan semangat bahwa walaupun puasa saya akan berusaha mengikuti jadwal di program tersebut. Rencana saya tetap akan lari di taman tebet sambil ngabuburit, jadi selesai lari ketika bedug magrib, bisa langsung minum. Ada juga rencana mau lari malam di komplek kalau jadwal latihannya long run. Tapi seperti biasa, rencana dan kenyataan tidak pernah sesuai.

Puasa tahun ini entah kenapa rasanya berat banget di badan saya, lebih lemas dari biasanya dan maunya tidur terus padahal jumlah jam tidur sama seperti tahun-tahun sebelumnya, malahan tahun ini saya merasa kalau tidur malam lebih cepat. Apa karena faktor umur mulai mempengaruhi stamina dan fisik? Tapi kalau dipikir-pikir tahun ini memang mood saya secara keseluruhan tidak sebagus tahun-tahun sebelumnya, kurang bersemangat dan kurang motivasi. Mungkin karena beberapa waktu terakhir ini saya kurang jalan-jalan. 

Hari pertama jadwal program lari yang bertepatan dengan hari pertama puasa terpaksa saya skip. Di hari kedua puasa ada jadwal lari 4.8 km, tapi saya hanya kuat lari 3 km di treadmill malam-malam setelah buka puasa. Sebenarnya komposisi program dalam seminggu ada 4 kali lari, satu kali long run, satu kali cross training, dan satu hari rest day. Saya skip hampir semua itu. Lari kedua kali di bulan puasa baru satu minggu kemudian, saya coba lari sebelum buka puasa di komplek. Saya lari diantara kerumunan pedagang-pedagang makanan buka puasa dan kerumunan motor-motor yang parkir dan seliweran di jalan. Cukup mengerikan dan menyesakan, akhirnya saya menyerah di 3 km.


Tiga hari kemudian di minggu yang sama saya berhasil lari 8 km di treadmill setelah buka puasa, kemudian skip beberapa hari lagi. Ketika lagi tidak puasa karena berhalangan saya lari di Car Free Day hari Minggu, karena bulan puasa jadi sepi. Saya lari 8 km dalam waktu 1 jam. Waktu lagi lari saya dengar di belakang saya ada yang lagi semangat ngobrol, "lebih susah control budget negara daripada mengatur strategi perang." Pas saya nengok ternyata Sandiaga Uno lagi lari sambil ngobrolin masalah negara casually, dan dengan santainya melewati saya yang tanpa ngobrol pun larinya terengah-engah. Hebat amat tu bapak.

Beberapa hari kemudian Tince tiba-tiba menghubungi mau ikut lari di taman sore-sore. Tiba-tiba muncul ide gila, saya mengajak tince lari di gbk senayan karena sudah lama tidak lari disitu. Kami berangkat jam 4 dari daerah Tebet, estimasi sampai di GBK beberapa saat sebelum buka puasa, jadi saya bisa buka puasa, sholat magrib, lanjut lari. Naasnya hari itu jalanan macet parah entah kenapa, kami baru tiba di GBK jam 7 lewat. 

Ketika magrib berkumandang kami baru sampai di depan kantor TVRI senayan, saya buka puasa dengan air minum bekalnya Tince. Sampai di GBK saya langsung ke mesjid, solat magrib dan siap-siap lari. Saya beli minuman teh dalam kemasan botol yang saya minum sambil lari. Target saya lari 8 km, tapi hanya kuat sampai 5 km, otak saya rasanya kayak kesemutan jadi saya berhenti lari. Paginya ketika bangun tidur punggung dan pinggang saya pegal-pegal, bukan karena lari tapi karena nyetir macet-macetan 3 jam lebih.

Setelah tragedi itu saya memutuskan lari di treadmill aja deh, ga kuat yang aneh-aneh. Saya sempat lari dua kali lagi malam hari, 8 km dan 5 km, hingga akhirnya lebaran tiba. Tapi selama sebulan itu program latihan lari saya berantakan, banyak bolong-bolongnya dan saya tidak merasa kemampuan lari saya improving, malahan kalau dilihat dari pace jauh menurun. Setelah lebaran saya berusaha mengejar ketinggalan latihan selama bulan puasa kemarin. Minggu lalu saya berhasil lari 15 km, jarak terjauh sepanjang sejarah lari saya. Minggu ini adalah minggu ke-7 dari program Nike Coach, besok saya harus lari lebih jauh lagi, 16 km. Harus semangat!

Selasa, 12 Juli 2016

Menanam Okra

Okra apaan sih? pikir saya ketika melihat bibit okra yang dijual di toko bibit online tempat saya beli bibit sayur dan bunga yang saya tanam di kebun. Karena penasaran, saya memutuskan untuk beli sebungkus bibit okra hijau dan sebungkus bibit okra merah. Sebelumnya saya belum pernah makan sayuran itu. 

Browsing di internet saya dapat info tentang tanaman ini. Okra aslinya tanaman yang berasal dari Afrika, tapi lumayan dikenal di Amerika, biasanya untuk bikin semacam sup namanya Gumbo. Mungkin tanaman ini dibawa atau terbawa oleh orang ethiopia yang jaman dulu banyak didatangkan ke amerika untuk jadi budak. Negara lain yang saya temukan di internet yang masakan khasnya pakai okra adalah India. Okra dimasak dengan kuah kari. Karena biji okra itu mengeluarkan getah yang berlendir, dia menambah kekentalan kuah sup ataupun kari. Hampir sama teksturnya seperti kuah capcay yang jadi kental kalau ditambahkan tepung maizena, nah kayak gitu deh getahnya Okra kalau dimasak. 

Biji Okra ukurannya besar, seperti kacang polong, lebih besar sedikit dari biji pepaya. Dalam waktu 2 hari sudah berkecambah, cepat sekali. Tumbuhnya juga cepat, daunnya berjari mirip daun pepaya, di tengahnya ada semburat warna merah. Dalam waktu kurang dari 2 minggu, benih okra sudah bisa saya pindahkan ke pot dan ada juga yang saya tanam langsung di tanah. Katanya tanaman ini suka banget sama matahari dan suka di tempat panas, jadi saya tanam di tempat yang paling banyak dan paling lama kena matahari.

Kurang dari dua bulan muncul bunga Okra. Bunganya ternyata cantik banget, warna kuning, kombinasi ungu di tengahnya. Buah Okranya nanti muncul dari dalam bunga, ketika buah makin membesar, kelopak nya akan mengering dan jatuh. Tapi jangan tunggu sampai besar banget. Buah okra yang sudah besar tidak bisa dimakan karena alot dan keras. Jadi dipetik ketika masih muda, ketika ukuranya kira-kira masih seukuran jari telunjuk. Karena itulah nama lain Okra ini di amerika adalah Lady Finger.

Pohon Okra komplit sama Daun, Bunga dan Buah nya
Satu pohon buahnya banyak banget dan saya punya tiga pohon. Tiga hari sekali saya panen okra. Seperti biasa, dari kebun bergerak ke dapur, saya coba macam-macam resep yang pakai bahan baku Okra. Saya juga coba bikin okra di goreng tepung dan dipanggang untuk jadi cemilan sehat ceritanya, tapi rasanya gak enak, jujur aja hehe.

Okra ini, kalau buat saya, paling enak ditumis biasa pakai sedikit kuah. Seperti yang saya bilang tadi, dia membuat kuahnya mengental sama seperti kalau kita tambahkan tepung maizena. Selain itu Okra juga enak dibikin kari, tapi Okranya dimasukan belakangan supaya tidak jadi terlalu lembek. Menurut saya sayuran ini lebih enak kalau dimasak sebentar saja, jadi masih krenyes-krenyes gimana gitu. 

Tumis Okra

Indian Vegetable Curry with Okra

Buat yang mau coba tanam sayuran yang eksotis, daunnya bagus dan bunganya bagus, terus buahnya bisa dimakan, coba saja tanam Okra. Tanaman ini gak minta diurus, tumbuh sendiri dan cepat. Syaratnya hanya harus kena sinar matahari dan tidak perlu teralu sering disiram. Kalau di tanah, tiga hari sekali cukup. Kalau tanam di pot siram dua hari sekali cukup kecuali kalau udara lagi panas banget dan tanahnya terasa kering boleh lah sehari sekali.  

Oia, yang baru saya tanam memang Okra hijau saja, yang Okra merah belum saya tanam. Mungkin bulan ini mau coba tanam okra hijau lagi dan okra merah, nanti pasti kalau dimasak jadi cantik warna-warni. 


Kamis, 30 Juni 2016

Edisi Bikin Ngiler [Part 3]

Disclaimer: kalau gak kuat iman, jangan dibaca saat lagi puasa.

Di Jakarta saya jarang banget ke restoran Thailand karena tidak begitu doyan. Saya pernah bilang juga seperti itu waktu menulis Edisi Bikin Ngiler Part 1, saya gak doyan Tom Yam dan Pad Thai. Saya juga bilang gak suka sama rasa Thai Ice Tea. Tapi entah kenapa kalau makan jenis-jenis makanan itu langsung di Thailand rasanya beda, jauh lebih enak sehingga saya jadi suka. 

Mungkin cara masaknya atau racikan bumbunya beda. Misalnya Pad Thai yang saya coba di Jakarta rasanya kecut, sementara di Thailand gurih banget. Rasa asam yang ada seperti cuma nambah segar aja. Sementara Tom Yam, beberapa kali pernah makan disini rasanya hambar, padahal di Thailand rasanya spicy, gurih dan ada sedikit rasa asam yang bikin segar juga. Bukan hanya di restoran tertentu di Thailand yang enak, tapi makan dimana saja walaupun hanya di kaki lima emperan rasanya konsisten, gurih dan segar.

Daerah Silom Road

Ke Bangkok tahun ini saya sama keluarga. Saya langsung memilih hotel di kawasan Silom, mengingat pengalaman terdahulu kalau di daerah ini banyak rumah makan dan warung muslim. Restoran dan warung yang jual makanan halal biasanya ditandai dengan logo bahasa arab tulisan halal atau logo bulan sabit dan bintang di papan namanya. Saya pilih hotel Silom Village Inn karena lihat di peta dekat dengan Home Cuisine Islamic Restaurant yang terletak di 196-198 Soi 36, Th Charoen Krung, saya pernah makan disitu terakhir ke Bangkok dan enak. Bisa tinggal naik tuk tuk sedikit. 

Kenyataannya tiga hari disana akhirnya tidak sempat ke restoran itu karena di hari pertama ketika lagi jalan-jalan sekitar kawasan hotel buat tes ombak saya lihat pas di seberang hotel ada rumah makan muslim, Dee Restaurant. Disitu menyajikan makanan khas Thailand seperti pad thai, tom yam, nasi goreng thai, curry thailand, tumisan-tumisan dan ada roti prata juga. Malam pertama kami makan disana, ternyata enak dan menunya banyak sehingga keesokan malamnya kami makan disana lagi.   


Pad Thai

Tom Yam
Tidak jauh dari hotel ada pasar tradisional. Di gang depan pasar kalau malam banyak kaki lima dadakan yang buka di pinggir jalan dan kalau pagi juga disepanjang gang itu banyak yang jual sarapan. Di ujung gang ada mesjid, jadi lumayan banyak yang jual makanan halal, bisa dilihat dari tanda bulan sabit dan bintang di papan nama atau gerobaknya, atau lihat ibu-ibu yang jualnya pakai kerudung. 

Salah satu kegiatan favorit saya kalau traveling memang liat-liat pasar dan jajanan emperan, jadi pagi-pagi pas bangun saya langsung meluncur lagi ke gang yang ada pasarnya. Seru liat macam-macam yang dijual di pasar, lihat yang aneh-aneh dan beda dari disini. Lucunya pasti selalu bisa belanja walaupun saling ga ngerti bahasa. Kesimpulan saya uang itu memang bahasa universal dan kegiatan jual-beli tidak mengenal bangsa dan bahasa. 

Saya sempat beli sarapan nasi kuning Thailand pakai ayam yang dimasak pakai bumbu kari. Yang beli antri, rupanya salah satu sarapan favorit. Saya memperhatikan cara belinya dari orang-orang di depan saya, ternyata beli nasi kuning bisa milih mau pakai ayam atau tidak. Saya juga perhatikan jumlah uang yang dibayar pembeli sebelum saya, berapa harga pakai ayam dan berapa yang tidak pakai ayam. Ketika tiba giliran saya beli, saya tetap kasih uang yang ada kembaliannya, takut kurang.

Selain itu saya juga beli kacang dan ubi rebus yang di jualnya sudah dibungkus dalam kantong kresek kecil, harganya 20-an bath. Saya cuma nunjuk, ibu-ibu yang jual udah ngerti saya mau tanya harganya, dia langsung kasih kode angka 2 pakai jari telunjuk dan jari tengah, saya langsung ngerti maksudnya 20 bath. Ada juga sih yang udah pasang tulisan harga di atas dagangannya. Yang jual buah-buahan juga banyak, salah satu jajanan favorit saya di Thailand, soalnya buah disana manis-manis dan besar-besar ukurannya.

Malamnya ada jajanan pancake gaya thailand yang isinya pisang. Ada juga yang jualan ayam goreng tepung berbumbu a la Thailand yang krenyes-krenyes dan bikin nagih dan gorengan baso-basonya yang dimakan pakai saus pedas. Tapi ada satu yang saya kepingin tapi ga nemu, yaitu Som Tam, salad mangga muda yang diiris tipis-tipis disiram kuah spicy kayak yang pernah saya beli waktu ke Bangkok pertama kali dan pernah diceritain di Edisi Bikin Ngiler Part 2. 

Malam terakhir waktu lagi iseng jalan-jalan sekitar daerah Silom untuk survei tempat makan malam yang asik saya ketemu satu restoran bergaya restoran fast food yang jual Fish and Chips dan Burger, namanya Sally Fish. Waktu saya lagi lihat tanda halal dan sertifikat yang dipasang di depan tokonya, managernya keluar dan ngajak ngobrol. Akhirnya saya masuk dan cobain beli Fish and Chips yang ternyata ukurannya besar banget, harganya satu paket sekitar 70ribuan kalau di kurs ke rupiah.

Di belakang Starbuck Silom Rd ada restoran Turki yang ada tanda halalnya dan ada restoran Lebanon namanya Nadimos. Di Nadimos ga ada tanda halal, tapi kami akhirnya memutuskan makan di resto Lebanon karena lihat makanan di menunya lebih aneh-aneh, kalau turki kan kebab-kebab gitu. Saya jadi gak makan banyak disitu karena keburu kekenyangan sama cemilan Fish and Chips jumbo.

Sarapan Nasi Kuning gaya Thailand

Sally Fish, Burger dan Fish n Chips


Restoran Lebanon
Mall MBK dan Platinum

Rata-rata hampir semua foodcourt mall di Bangkok ada foodstall yang jual makanan halal, jadi tidak susah carinya. Apalagi daerah mall yang banyak turis Indonesianya seperti daerah Siam, Pratunam dan sekitarnya. Di MBK mall, tempat favorit mama saya karena mallnya luas banget dan komplit, makanan Halal ada di FoodCourt Lantai 4 dan Restaurant Yana di Lantai 4 juga. 

Foodcourtnya model Eat & Eat di sini, belanjanya dikasih kartu, bayarnay di kasir ketika mau keluar area foodcourt. Tempatnya memang ekslusif, harganya relatif lebih mahal. Tidak semua makanan yang dijual di foodcourt itu halal, jadi tetap harus lihat tanda Halal huruf arab yang dipajang di depan stall-nya. Ada yang jual makanan Indonesia disini, tapi saya tidak lihat ada logo halal. 

Kalau di Platinum Mall Foodcourt-nya ada di Lantai 6, diantara yang jual makanan disitu mungkin ada 3 atau 4 yang jual Halal food. Di Platinum saya beli nasi ayam goreng khas Thailand. Ayam goreng tepung thailand bumbunya enak dan renyah banget, beda sama ayam tepung a la amerika yang banyak di jual sini.

Ayam tumis di Foodcourt MBK

Nasi + Ayam goreng di Foodcourt Platinum Mall
Jajanan lain-lain

Buat saya yang doyan banget sama buah-buahan kayak monyet, seneng banget jalan-jalan di Bangkok yang banyak tukang buahnya. Buahnya manis-manis dan juicy banget, potongannya juga besar-besar. Nanasnya aja manis banget, cocok buat camilan di hari yang panas. Saya juga sempat beli Manggo Sticky Rice, ketan yang dimakan pakai mangga manis disiram kuah santan, enak sih tapi terlalu manis buat lidah saya. 

Disana juga lagi tren minuman jus Pomegranate dan Jeruk yang dijual di botol-botol plastik. Kita bisa lihat penjualnya bikin minuman jus itu langsung di gerobaknya. Saya suka banget yang pomegranate, murah lagi, jadi deh minum gituan kayak minum air putih. Di Chatuchak gak lupa saya jajan es kelapa dalem batok yang topping nya boleh pilih. Sekarang banyak banget yang jualan es model itu disana, di sepanjang jalan utama Chatuchak rata-rata isinya gerobak es kelapa.


Es kelapa Thailand




Kamis, 23 Juni 2016

Nerd Alert: Scribd, Hiburannya Kutu Buku

Ramadhan kali ini mood saya agak berantakan dan cenderung melankolis. Acara buka bersama sudah tidak segencar tahun-tahun sebelumnya dimana kawan-kawan saya banyak yang masih single. Sekarang kawan saya sudah berkeluarga semua, jadi kalau ada kesempatan yang tidak bentrok sama pekerjaan mungkin diutamakan berbuka sama keluarga di rumah.  

Lagipula kondisi jalanan Jakarta sekarang ini makin lama makin gila, bikin saya juga jadi malas kemana-mana. Tiga tahun lalu saya masih sering main ke PIM, Citos, Gandaria City, atau sekedar ngopi di Senopati pulang kantor saya yang ada di daerah Tebet, macet sih tapi masih manusiawi. Dua hari lalu saya ke senayan dari kantor, berangkat jam setengah 4, sampai di senayan jam 7 kurang dikit. Secara fisik dan batin, saya tersiksa. Kapok.

Jam pulang kantor saya bulan Ramadhan dimajukan jadi jam 4, dan karena sekarang lagi gak banyak kerjaan di kantor jadi lebih baik saya pulang cepet langsung ke rumah. Harusnya sih kalau lagi gak ada kerjaan di kantor tugas saya buat cari kerjaan, tapi entahlah belakangan ini saya lagi tidak bersemangat, mungkin karena sudah beberapa tahun terakhir ini kurang traveling. 

Saya juga lagi kurang bersemangat berkebun. Awalnya saya pikir di musim hujan berkebun bakalan enak karena meringankan pekerjaan menyiram tanaman. Tapi saya salah. Di musim hujan kebun saya malah berantakan, tiba-tiba banyak jangkrik, hama-hama lain dan tanaman saya keliatan sakit semua karena lembab. Tanaman liar tumbuh lebih subur daripada tanaman saya. Usaha menanam ubi jalar dan jagung yang tidak sukses juga bikin saya makin tidak semangat merawat kebun. 

Gak ngerti apa yang terjadi sama diri saya, mungkin karena lapar, bisa juga karena kurang jalan-jalan, karena kangen kamu atau hanya sekedar kurang kasih sayang dan butuh pelukan. Ada sih hal-hal yang bikin saya merasa terhibur bulan ini, yaitu nontonin video musik lagu-lagu jaman saya muda di youtube, main game dan baca buku. Saya download suatu aplikasi bernama Scribd di iPad saya. Scribd itu adalah perpustakaan online dimana kita bisa langganan untuk membaca buku-buku yang ada disitu dalam bentuk e-book. 

Biaya subcribenya sebulan sekitar 100ribuan, bebas mau pilih dari ratusan judul buku yang ada disitu. Koleksinya banyak banget, fiksi dan non-fiksi. Untuk kutu buku kayak saya hemat banget, daripada beli buku, satu buku aja harganya bisa lebih dari 100 ribu. Nah ini dalam sebulan saya bisa baca sebanyak-banyaknya. 

Saya baru merasakan praktisnya baca versi e-book, tanpa buku fisik. Awalnya sebelum terbiasa agak aneh juga sih baca buku di iPad, lama-lama terbiasa, malahan kalau pergi lebih ringan karena dalam iPad bisa bawa beberapa buku yang kalau dibawa semua fisiknya berat banget. Lagipula koleksi buku di kamar saya sudah banyak banget, lemari bukunya sudah penuh, jadi e-book juga ga bikin saya mikir beli rak buku baru. Kelemahannya ya kalau iPad ada baterenya, jadi tergantung sama listrik. Jadi kalau pergi saya pasti tetap bawa satu buku, buat cadangan kalau iPad habis batere.

Tampilan website Scribd
Bukan hanya buku, di Scribd juga ada audiobook, comic dan music sheet. Kalau memang lagi nyari sih ada juga jurnal-jurnal dan presentasi ilmiah, tapi saya gak pernah liat-liat yang itu. Liat koleksi bukunya saja saya udah kalap, pengen baca semua. So little time, too many books. 

Bulan lalu saya baca 4 buku. Bulan ini saya sudah finished reading 2 buku. Lagi baca buku tentang sejarah Industri Petroleum judulnya The Prize dan lagi coba audiobook dari bukunya Felicia Day yang saya dengerin di mobil.

Bulan lalu diantara 4 buku yang saya baca ada Wild. Saya sudah lama pingin baca itu, tapi belum sempat beli bukunya. Itu adalah kisah nyata dari seorang perempuan bernama Cheryl yang hidupnya berantakan banget kemudian memutuskan untuk hiking sendirian mengikuti jalur treking terkenal di Amerika yang membentang dari perbatasan mexico ke perbatasan kanada. Bukunya diangkat jadi film, yang main Reese Witherspoon. Saya juga pingin banget nonton filmnya sih. 

Bulan ini saya baca buku keren banget, judulnya The Doveskepeers. Genrenya Historical Fiction. Yang bikin keren adalah pilihan waktu dan lokasinya, Jerusalem tahun 70 AD. Itu waktu Kekaisatan Romawi berkuasa dan menyerang daerah-daerah sekitarnya, termasuk Jerusalem saat itu. Ceritanya sendiri tentang 4 orang perempuan dimasa itu dengan background dan karakter yang beda-beda, tapi mereka semua disatukan di suatu kota dalam benteng yang terletak di atas bukit dalam upaya berlindung dari serangan tentara romawi. Tempat itu memang beneran ada, namanya Masada. Di jaman itu pernah terjadi sejarah yang tragis disana. Ketika pada akhirnya tempat itu diserang tentara romawi, semua penghuninya memutuskan bunuh diri masal daripada menyerahkan diri takluk ke Romawi dan dijadikan budak. 

Saya juga baca buku tentang lari. Kemarin saya baru tamatin buku Kara Goucher, salah satu atlit pelari marathon perempuan. Bulan lalu saya baca buku pengalaman cewe biasa yang ikut Marathon, kayak semacam Bridget Jones Diary tapi tentang pengalaman lari. Banyak ilmu baru yang saya dapat dan tips-tips tentang lari. 

Buku yang lagi saya baca sekarang, The Prize, sepertinya keren juga. Saya baru mulai sih, tapi sudah banyak fakta sejarah yang mind blowing buat saya. Ternyata minyak bumi itu awalnya digunakan secara komersil sebagai obat. Terus jaman dulu orang-orang gak ada yang percaya kalau minyak bumi bisa digali jadi semacam sumur dari dalam bumi, hingga ada orang yang melakukannya nge bor sumur minyak. Ternyata minyak yang dihasilkan jadi banyak banget, disimpannya kan di dalam barrel anggur, nah harga barrelnya bisa lebih mahal dari harga minyaknya karena over produksi. Hingga sekarang harga minyak bumi ditentukan dalam satuan barrel.

Karena over production dicarilah fungsi lain dari minyak yang berasal dari bumi itu, baru kemudian ditemukan kalau minyak itu bagus untuk bahan bakar lampu. Oia, sebelumnya orang jaman dulu menyalakan lampu pakai minyak dari ikan hiu atau minyak dari tumbuh-tumbuhan. Setelah minyak banyak dipakai untuk lampu, mulai deh tuh booming minyak di amerika. Perusahaan minyak terbesar pertama di Amerika dan yang akhirnya menguasai dunia namanya Standard Oil, pendirinya Rockefeller. Yang menarik buat saya disini adalah karakter, kepintaran dan culas-culasnya si Rockefeller yang ditulis di buku ini. 

Terus ada juga awal terbentuknya perusahaan minyak Shell, didirikan oleh Marcus Samuel dan saudaranya,  mereka keturunan Jewish di London. Awalnya mereka bisnis kargo, kemudian beralih ke bisnis distribusi minyak kerjasama dengan Rostchild yang punya lahan minyak di Rusia. Perusahaan ini pun sukses mendunia, punya kapal tanker dan jaringan distribusi di eropa dan asia. Kemudian perusahaan Marcus Samuel dikenal dengan nama Shell, untuk mengenang barang jualan Bapaknya mereka yang paling laris, kulit kerang (shell).

Ini sepertinya akan jadi salah satu buku historical non-fiction favorit saya setelah bukunya Jared Diamond "Germs, Guns and Steel" dan bukunya Yuval Noah Harari yang judulnya "Sapiens: A Brief History of Humankind". Kalau ada yang Nerd juga kayak saya, coba deh baca buku-buku itu. Saya recommend banget. 


Selasa, 14 Juni 2016

4 Tanda Umur 20-an Sudah Berlalu

Kadang ketika baru bangun tidur, terutama di hari libur dimana saya merasa fresh bangun dari tempat tidur tanpa snooze handphone berkali-kali dan badan terasa ringan dan bersemangat, saya merasa kalau umur saya masih 20-an. Tapi begitu ngaca di cermin rasanya seperti terbangun dari mimpi indah lagi lari-lari di padang bunga di terpa sinar mentari yang hangat sama cowo ganteng trus tiba-tiba cowonya berubah jadi genderuwo. No offense ya, Genderuwo. 

1. Kantong mata

Dari sejak saya masih kecil, kalau capek atau kurang tidur memang di bawah mata saya langsung muncul lingkaran hitam, kayak panda. Salahin gen saya. Dari sekian banyak hal-hal genetis yang bagus dari moyangnya papa said, seperti misalnya berambut tebal, alis tebal, kulit putih, badan tinggi dan dada montok - yang muncul di saya hanya hidung panjang (yang jadi ga proporsional karena badan dan muka saya kecil) dan lingkaran hitam di bawah mata. Tapi akhir-akhir ini bukan hanya lingkaran hitam yang mengganggu, tapi kantong mata yang terlihat parah karena ada di area lingkaran hitam. Jadi dibawah mata saya kayak ada trashbag-nya. Gedenya hampir sama dengan gedenya mata saya sendiri. 

Saya sudah coba macam-macam cara, mengompress dengan es batu, pakai sendok dingin, pakai kantong teh dingin, pakai ketimun, baking soda. Tapi kantong mata saya gak kempes-kempes. Saya baca munculnya kantong mata bisa jadi karena kebanyakan makan garam dan kurang minum, itu karena kalau tubuh kita kurang cairan, daerah di dekat mata itu menyimpan air. Jadi kalau misalkan saya unta, disitulah punuk saya berada, mungkin.

Saya coba banyak minum, kurangin makanan asin dan gak makan fast food lagi, tapi ga ngefek. Malahan setiap habis olahraga kantong mata saya malah tambah besar. Rasanya saya sudah frustasi, menerima keadaan mata saya dengan apa adanya dan mengakui kemenangan gaya gravitasi atas kekuatan otot kulit dibawah mata saya. 

2. Pori muka membesar

Waktu muda saya termasuk salah satu orang yang nyaris gak pernah pakai macam-macam produk buat muka dan rambut. Itu memudahkan saya kalau traveling, saya cuma perlu bawa sikat+pasta gigi, sampo dan sabun, itu pun tidak pernah khusus. Saya gak pernah masalah kalaupun harus pakai sabun dan sampo hotel. Make up juga jarang pakai, karena saya gak bisa caranya dandan. Paling maksimal yang saya pakai hanya bedak, alis, lipstik, maskara dan (jaraaaaaaang banget) eyeliner. 

Saat itu saya cukup puas sama kondisi kulit wajah saya. Muka saya jarang muncul jerawat - kalau pun ada hanya semacam jerawat PMS yang cepat hilang. Dan saat itu saya gak pernah tau kalau di muka kita ada yang namanya "pori". Sekarang pori-pori di wajah saya besar banget lubangnya sampai dari jarak 15 cm aja terlihat, jadi kalau saya baca buku huruf-huruf di buku saya bisa lihat pori muka saya secara gamblang. 

Di umur 30-an ini saya merasa banyak banget extra effort yang gak pernah saya lakukan di umur 20-an, dan itu sangat melelahkan. Karena pada dasarnya saya emang males. Dulu saya bisa ketiduran dengan tenang tanpa perlu cuci muka, sekarang kalau males cuci muka sebelum tidur saya mimpi pori muka saya makin besar sampai muka saya jadi keliatan kayak parutan keju. 

Saya baca pori muka itu muncul karena ada kotoran dalam kulit, makanya sebelum tidur saya paksain cuci muka. Apalagi sekarang kalau siang saya pakai sunblock jadi harus cuci muka kalau enggak malem-malem muka saya lengket. Saya pakai sunblock soalnya saya baca kalau terpapar sinar matahari itu bisa mempercepat datangnya keriput dan saya kayaknya mulai liat garis-garis halus di pinggir mata saya. Jadi sekarang saya lagi membiasakan diri dan mental untuk menerima kulit muka saya apa adanya dengan segala pori yang ada.

3. Uban

Ini sempat menjadi masalah yang bikin saya nyaris depresi tahun lalu, sempat bikin saya trauma dan takut mencatok rambut karena takut menemukan satu - dua helai rambut berwarna putih. Terakhir kali saya potong rambut awal tahun lalu yang potong rambut saya teriak-teriak dengan ngeri ketika membelah rambut saya, "iiiih mbaaa, uban mbaaa, ubaaan.. banyak banget, iiiiihhh..." 

Saat itu rasanya saya pingin menghilang jadi abu, terserak ke angkasa, hilang ditelan bumi. Saat itu rasanya inti dari jiwa saya hancur lebur berantakan. Saat itu saya takut ketika uban mulai muncul dalam kehidupan saya, itu adalah pertanda tubuh saya mulai mengalami degradasi. Munculnya uban itu karena tubuh tidak mampu lagi memproduksi suatu zat tertentu yang memberi warna di rambut, berarti zat-zat lain dalam tubuh saya juga sudah mulai berkurang, kayak misalnya hormon-hormon, kalsium, kemampuan untuk jatuh cinta dan lain-lain.  

Sempat terpikir untuk cat rambut tapi sampai sekarang belum saya lakukan. Dulu saya sering eksperimen sama rambut saya, di cat warna macam-macam, di lurusin permanen berkali-kali, smoothing, pokoknya banyak banget zat kimia yang saya paparkan di rambut saya sehingga jadi rusak, rontok dan kering.

Beberapa tahun lalu saya putuskan memotong rambut saya pendek banget dan mulai lagi dari awal, rambut tanpa bahan kimia. Sekarang rambut saya sudah panjang lagi, masa mau dikasih racun kimia lagi. Sepertinya saya juga harus mulai menerima kalau rambut saya gak hitam semua lagi.

4. Selulit

Kalau yang ini belum begitu lama sih. Waktu saya lagi ngaca cuma pakai baju dalam tiba-tiba saya lihat ada garis-garis putih di paha bagian atas, banyak banget. Ketika saya balik badan ternyata lebih banyak lagi di pinggang dan kaki bagian belakang. Kalau saya tau selulit akan muncul secepat ini pasti kemarin-kemarin saya bakal pakai hot pants terus setiap hari. Sekarang saya gak tau apa bakal masih punya nyali untuk pakai celana pendek di depan umum dengan selulit kayak gitu. 

Kemarin saya coba bikin playlist lagu-lagu jaman saya muda, Britney Spears, NSync, Backstreet Boys, Spice Girls, Destiny's Child... Tapi walaupun saya dengerin seharian gak bisa menghilangkan kantung mata, pori muka, uban maupun selulit. Kita gak bisa balik ke masa lalu, cuma bisa mengenangnya, karena itu saya cuma bisa pasrah. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...