Rabu, 27 Desember 2017

Catatan Tahun 2017

Saya pernah lihat acara di National Geographic tentang Project-nya Nike berusaha untuk membuktikan apakah mungkin seorang manusia menyelesaikan Marathon (42,2 km) dalam waktu kurang dari 2 jam. Record tercepat hingga tahun 2017 adalah 2 Jam 2 menit, itu jauh lebih cepat daripada waktu yang saya butuhkan buat finish Half Marathon yang jaraknya setengah dari Marathon.

Nike mensponsori 3 orang atlit, satu tim yang terdiri dari banyak ahli dari bidang nutrisi, fisiologi manusia, olahraga dan tentunya ahli sepatu. Ahli-ahli itu melakukan analisa dan perhitungan-perhitungan pakai rumus-rumus dan grafik mengenai latihan apa yang harus dilakukan atlit, makanannya, pokoknya segala macemnya untuk berusaha mencapai kondisi ideal yang diperlukan agar hitung-hitungan rumusnya berhasil. Rumus kan biasanya pakai kondisi ideal. Track lari nya pun dicari di lokasi dan dibuat dalam kondisi yang se-ideal mungkin, misalnya jalurnya rata, gak banyak belokan, temperatur gak terlalu panas atau dingin, kondisi angin dibuat ideal dan seterusnya. 

Salah satu pelarinya yang namanya Eliud Kipchoge saat di interview bilang kalau selama ini gak ada yang lari Marathon dibawah 2 jam. Banyak yang percaya kalau lari Marathon dibawah 2 jam, orang bisa mati. Misalnya aja nih ya kalaupun pas 2 jam, untuk menempuh 42km berarti orang harus lari dengan kecepatan rata-rata diatas 20km/jam selama 2 jam. Naik becak aja 20km/jam cepet, bayangin aja kalau lari. 

In fact, orang pertama yang tercatat dalam sejarah lari sejauh jarak itu, mati. Pasti udah banyak yang familiar sama ceritanya. Itu di jaman Yunani Kuno, ada orang namanya Pheidippides lari dari kota yang namanya Marathon ke Athena untuk kasih kabar kalau pasukan yunani menang di perang yang namanya Battle of Marathon. Jaraknya katanya sekitar 25miles (Marathon yang sekarang sudah berevolusi jadi lebih jauh 26,2 miles atau setara 42,2 km). 

Di tahun 1896, pertama kali ada orang yang memecahkan rekor lari Marathon dibawah 3 jam. Sekarang pemenang-pemenang Marathon semuanya pasti dibawah 2 jam 10 menit. Apakah manusia berevolusi jadi makin cepat dan kuat? Pertanyaan itu mungkin akan saya tulis di postingan lain. Anyway, balik ke tahun 2017- lebih dari 1 abad kemudian, tim Nike berusaha membuktikan apakah bisa seorang manusia memecahkan rekor lari Marathon dibawah 2 jam. 

Satu-satunya pelari yang bisa finish mendekati 2 jam adalah Kipchoge, 2 jam 25 detik!

Memang belum berhasil membuktikan bahwa dalam kondisi ideal manusia bisa lari marathon dibawah 2 jam, tapi kata-kata Kipchoge yang keren. Katanya, buat Kipchoge untuk mencapai itu mungkin adalah hal yang sulit, tapi kini dunia hanya punya 25 detik untuk bisa mencapai mimpi marathon dibawah 2 jam, orang lain pasti bisa. 

Hal yang saya pelajari dari nonton dokumenter itu, terutama dari Kipchoge adalah bahwa segala sesuatu dalam hidup intinya adalah state of mind. Hal paling berat dari lari jarak jauh adalah mengalahkan state of mind kita sendiri. Kadang mau mulainya aja berat, seringnya ketika niat mau lari 15km tapi ditengah jalan menyerah cuma selesai 10km. Bagaimana kita bertahan itu adalah kekuatan pikiran. kalau pikiran kita bilang gak bisa, pasti seluruh tubuh ikut falling apart. Kalau pikiran kita bilang bisa, kita pasti bertahan. Bahkan kalaupun gagal, kita tetap akan percaya kalau pasti bisa, tapi belum sekarang. 

Ketika di beberapa bulan terakhir ini saya merasakan ada di level rock bottom, tiba-tiba saya ingat film dokumenter itu dan coba cari lagi di google, ternyata ada di youtube. Ini linknya kalau mau cekidot sendiri Breaking2, Documentary special.

It has been a rough year for me, sepanjang 2017 ini. Enam bulan pertama di 2017 saya habiskan dengan terombang-ambing diantara dua pekerjaan. Kenapa dua pekerjaan? Karena di akhir 2016 saya merasa tertekan, kemudian ada yang menawarkan sesuatu yang baru. Saya putuskan untuk coba yang baru, tapi sebagai jaminan kalau saya masih punya safety net ketika hal yang baru gak berhasil, saya gak sepenuhnya melepaskan yang lama. Ternyata di tempat baru yang perubahannya terlalu ekstrim saya malah lebih banyak kehilangan hal-hal yang saya suka, seperti teman-teman, comfort zone buat hang out, lari, berkebun, prepare my own food. Saya menghabiskan terlalu banyak waktu dijalan karena lokasinya sangat jauh dari rumah ke tempat kerja dan macet. Hal baru ini gak bikin saya terlepas dari beban batin akhir 2016, malah bikin saya tambah sedih dan rapuh dan sepi.

Ketika rombongan yang saya ikut waktu ke Merbabu tahun lalu mengajak saya naik gunung lagi ke Gunung Sumbing saya langsung bilang iya. Upaya menyesuaikan diri dengan kehidupan baru beneran bikin saya pingin lari ke gunung. Pasca trip ke Gunung Sumbing saya jadi lumayan sering hang out sama temen-temen ini, apalagi tempat kumpul mereka dekat rumah jadi gak perlu banyak effort untuk keluar dari jalur harian saya yang sudah panjang, berliku dan melelahkan. Dari gunung, kami iseng ke pantai, trip aneh dadakan. Selain perjalanan karena bisnis trip, sepertinya tahun 2017 acara jalan-jalan selain birthday trip cuma itu.

Setelah masa percobaan 6 bulan di tempat kerja baru selesai, saya memutuskan untuk berhenti. Saya mulai hubungi kawan-kawan lama di tempat nongkrong lama, merancang itinerary buat birthday trip bulan Agustus dan mulai mengatur jadwal rutin lari. Tapi tantangan hidup di 2017 belum berakhir buat saya. Setelah Birthday trip bulan agustus ke Banyuwangi dan Baluran saya mengalami breakdown. Mungkin ini adalah saat-saat terlemah saya atau bahasa kerennya my weakest moment. Setelah beberapa minggu tenggelam dalam momen itu, saya ingat Kipchoge dan state of mind-nya. Sesulit apa pun hidup kita, yang bisa membuat kita bertahan adalah kekuatan pikiran. Tapi mengendalikan pikiran kita sendiri gak semudah membalikan telapak tangan. Control your mind, or your mind will control you. 

Untungnya masih ada hal yang masih bisa bikin saya timbul sedikit dari ketenggelaman (hah, gimana itu bahasanya?). Di awal tahun saya mendaftar dua event Half Marathon, yaitu Jakarta Marathon dan Lombok Marathon. Tapi sekitar bulan april atau mei, saya diajak oleh senior alumni kuliah saya untuk ikut jadi panitia dalam acara Ultramarathon yang diselenggarakan alumni universitas saya. Setelah beberapa bulan, konten dan tema acara ultramarathonnya berevolusi dan saya akhirnya udah bukan hanya panitia tapi juga ikut lari. Sebulan kemudian saya lari Half Marathon kedua saya di Jakarta Marathon. Kondisi fisik saya acak-acakan, gak seperti tahun lalu waktu ikut Bali Marathon, tapi saya finish juga. 

Bulan Desember 2017 harusnya saya ikut Half Marathon lagi di Lombok Marathon, tapi acaranya diundur karena kondisi Gunung Agung yang lagi erupsi dan abu vulkaniknya terbang sampai kawasan Lombok. 

Keadaan buat saya belum banyak berubah selama 2017. Saya yakin suatu hari nanti, mungkin di 2018 atau mungkin di tahun-tahun berikutnya, saya akhirnya bisa mengerti pelajaran hidup apa yang telah saya dapat di tahun ini. Sekarang saya tidak punya ekpektansi apa-apa dan resolusi apa pun untuk tahun depan. Kayak kata Kara Goucher, pelari idola saya:

"In the end, just remember: one foot in front of the other, and repeat"


Kamis, 21 Desember 2017

Airy Rooms, Bonus Cemilan Gratis

Ini adalah pengalaman pertama menggunakan Airy Rooms untuk booking hotel. Setelah ikut acara Ultramarathon ITB tempo hari, saya memutuskan tidak langsung pulang seusai acara, melainkan istirahat dulu sehari di Bandung. Supaya tidak jauh-jauh dari lokasi acara, di daerah dago, jadi saya cari penginapan di sekitar daerah itu juga. 

Sebenarnya sudah agak lama tertarik mau coba Airy Rooms karena saya sering lihat logonya di depan penginapan / hotel yang saya lewati waktu berpergian. Kebetulan rate hotel/penginapan daerah Dago itu diluar rata-rata, jadi saya coba lihat web booking yang katanya menyediakan penginapan yang harganya terjangkau. 

Tidak lama mencari saya sudah dapat penginapan yang sesuai dengan budget dan kalau dilihat lokasinya dekat sekali dengan kampus tempat acara berlangsung. Tapi saat itu saya hanya tahu alamatnya saja - nama jalan dan nomornya. Ketika akan check-in saya coba-coba cari di jalan dan nomor yang dimaksud, ternyata lokasinya di Hotel Royal Dago. Ternyata Hotel Royal Dago kerjasama dengan Airy Rooms.

Kalau hotel itu sih saya familiar sekali karena jaman kuliah dulu sempat kos selama 3 tahun di belakang hotel itu. Saban hari saya lewatin. Waktu jaman saya muda sih hotelnya termasuk yang bagus walaupun tipe hotel jaman baheula. Sekarang, beberapa belas tahun kemudian, hotel itu masih tetap sama. 

Perabotannya masih a la hotel tahun 90-an. Saya mau nyalakan AC saja bingung karena tidak ada remotenya, ternyata tombol on/off nya ada di meja samping tempat tidur bersama tombol-tombol lampu lainnya yang tersambung sama lampu sekamar. Soal kebersihan, walaupun standard tapi sudah checklist semua hal yang penting-penting, seperti spreinya bersih, kamarnya tidak bau aneh, kamar mandinya bersih, handuknya bersih. 

AC jadul
Selain sabun dan shampoo dari hotelnya, Airy Rooms juga menyediakan perlengkapan mandi yang kemasannya lucu. Dan yang beda adalah dapat kotak berisi air mineral dan snack untuk dua pax yang boleh dikonsumsi secara gratis. Bukan hanya air mineralnya saja, tapi dapat coklat dan biskuit juga. Asik kan.

Cemilan gratis



Sabtu, 16 Desember 2017

Birthday Trip: Lari di Baluran

Mengobati batal lari HM di Lombok Marathon bulan ini saya bakal tulis postingan tentang lari di Baluran bulan Agustus kemarin. Yah postingan-postingan tentang birthday trip ke Baluran dan Ijen juga masih banyak yang pending sih, kayaknya akhir-akhir ini saya sulit menemukan mood untuk menulis blog, untuk lari, untuk berkebun. Gak berasa tahun 2017 sudah mau berakhir aja nih.

Setelah ketemu sunrise di Watu Dodol Banyuwangi, saya dan tim baluran yang terdiri dari Pagit dan Susi langsung berangkat ke Taman Nasional Baluran yang dikenal sebagai Little Africa of Java. Disebut demikian karena Taman Nasional Baluran merupakan hutan savana yang berbeda dengan hutan tropis yang kebanyakan terdapat di Indonesia. Kalau hutan tropis kan padat sama pohon-pohon besar, kalau savana mirip padang rumput yang luas, pohon-pohon ada tapi jarang-jrang dan bergerombol. Di musim kemarau savana berubah warna jadi kekuningan dan pohon-pohonnya meranggas, di musim hujan berubah warna jadi hijau lagi. 

Kami menginap semalam di dalam kawasan taman nasional baluran, di sana memang ada kamar-kamar yang disewakan untuk menginap. Saya memang sudah berencana mau lari pagi di savana. Rencananya saya mau lari agak jauh, tapi nyatanya hanya kuat lari 4 km. Bulan-bulan itu memang kondisi lagi tidak fit banget, jasmani dan rohani. Sekembalinya dari Birthday trip kondisi lebih drop lagi, tapi setelah beberapa lama akhirnya sekarang sudah mulai get back on track, walaupun masih tertatih-tatih.

Terlepas dari kondisi yang lagi gak fit, lari pagi kali ini bikin saya sadar kalau kesendirian itu ternyata bikin ngeri dan merinding, apalagi kalau gak ada suara apa-apa selain suara sendiri. Padahal awalnya saya sok tau pingin bikin trip ini solo trip untuk membiasakan diri dengan hidup sendirian, walaupun akhirnya gak jadi solo trip juga sih. Semakin jauh saya lari, padahal belum sampai 3 km, keadaan makin sepi, saat itu tiba-tiba saya jadi sadar kalau i don't wanna be alone, trus puter balik dan lari balik ke penginapan. 

Selain ngeri karena sepi banget, saya juga takut nyasar dan takut dikejar satwa liar semacam macan atau banteng. Ini perdana saya lari di hutan yang beneran, ternyata gak semudah yang saya lihat di film atau youtube orang-orang yang lari trail sendirian di tengah hutan, nanjak-nanjak bukit, tembus hutan. Tapi sejak kembali dari pengalaman lari sebentar di Baluran, walaupun disana ketakutan, anehnya saya jadi pingin punya sepatu trail dan pingin lari di alam bebas lagi. 

Setelah putar balik, di jalan lari balik ke penginapan saya melihat matahari terbit di seberang savana, mataharinya kelihatan lebih besaaaarrr dan dekaattt. Cantik banget. Sayangnya saya sendirian jadi gak bisa minta tolong siapa-siapa buat fotoin. Mau selfie juga jadinya backlight. 

Lari jalur kendaraan di baluran pagi-pagi sepi banget sampe merinding

Matahari terbit di seberang savana
Setelah lari 4km saya jalan mendaki ke arah menara pandang dan naik keatasnya. Dari menara pandang bisa kelihatan area padang rumput dari atas, rombongan rusa dan kerbau baru keluar cari makan di padang rumput. Saya sempat ketemu sama mahasiswa asal lombok yang lagi penelitian di Baluran, dia sudah tinggal selama beberapa minggu mengamati aktifitas rusa. Saya sempat dijelaskan mengenai satwa-satwa yang ada di Baluran dan rutinitas rusa-rusa yang ada disana. Gak kebayang sih beberapa minggu tinggal dalam hutan, tapi kayaknya asik juga.


Menara pandang di Baluran

View dari atas menara pandang


Kamis, 30 November 2017

Force Majeure

Jadwal race saya berikutnya semestinya berlokasi di Lombok. Sejak ikut race pertama di Bali tahun lalu, saya punya rencana  mau ikut race keliling kota-kota di Indonesia. Tahun ini pilihan saya adalah Jakarta Marathon dan Lombok Marathon. Slot untuk kedua event tersebut sudah saya amankan sejak awal-awal tahun 2017. Tapi manusia kan hanya boleh berencana. Seminggu sebelum event Lombok Marathon akhirnya terjadilah erupsi Gunung Agung setelah beberapa lama galau berstatus siaga, naik ke awas, balik lagi ke siaga, hingga sekarang kembali awas. 

Pulau Lombok yang berada tidak jauh dari Pulau Bali ternyata mengalami dampak dari peristiwa tersebut. Malahan waktu awal-awal Gunung Agung mengeluarkan abu, bandara Lombok sempat ditutup karena arah angin menuju kesana berpotensi membawa abu vulkanik. Karena itulah acara Lombok Marathon ini diundur oleh Organizer. Tadinya acara ini akan diselenggarakan tanggal 3 desember 2017, kemudian diundur menjadi 28 Januari 2018. Menurut saya sih merupakan keputusan tepat, kalau ada abu vulkanik ya mana mungkin lari, nafas biasa saja harus pakai masker. 

Sebenarnya saya merasa persiapan saya untuk race ini lebih baik daripada ketika Jakarta Marathon. Pace lari saya pun mulai kembali seperti tahun lalu saat sebelum ikut Maybank Bali Marathon. Minggu lalu saya sudah mulai mengatur strategi dengan memetakan rute race dan memperkirakan waktu dan pace saya per-5km sehingga didapat perkiraan waktu finish yang paling optimal. Target saya di Lombok Marathon mau finish di 2 jam 45 menit. Kalau sudah berhasil finish sesuai target, awal tahun depan saya akan mulai latihan untuk ikut Full Marathon.

Tiket pesawat dan hotel pun sebenarnya baru saya booking 3 hari sebelum peristiwa erupsi Gunung Agung. Untungnya saya booking hotel melalui Agoda pakai fitur Pay Later, jadi kalau dicancel sebelum tanggal 1 desember belum bayar apa-apa. Tiket pesawat Lion Air pun masih bisa dicancel dan refund. Tidak kembali 100 persen sih. Mengurus refundnya juga mudah, cuma harus sabar menunggu saja waktu menelpon call center nya. Mungkin juga karena sekarang-sekarang ini call center lagi pada sibuk karena banyak flight yang di cancel. 

Cara cancelnya seperti ini: pertama, telpon call center, kemudian dikasih nomor telepon khusus whatsapp dimana kita harus mengirimkan foto KTP dan kode booking. Kemudian setelah kita Whatsapp datanya, telpon lagi ke call center, nanti langsung di proses cancel dan kita disuruh ke kantor Lion Air di Jalan Gajahmada untuk mengurus refund paling lambat 3 bulan setelah cancelation. Nah, tadi siang saya ke kantor Lion Air untuk mengurus refund, hanya kasih printout booking dan fotokopi KTP, katanya 30 hari dana akan kembali ke rekening/ limit kartu kredit sesuai dengan cara bayar kita pas beli. 

Sepertinya bulan ini memang bukan bulan yang bagus untuk berpergian jalan-jalan karena bukan hanya bencana erupsi Gunung Agung, tapi cuacanya lagi mengerikan. Hujan dan anginnya ngeri. Kapok saya pergi-pergi saat cuaca lagi ekstrim seperti sekarang, nanti takut gak bisa pulang lagi kayak waktu dulu pas ke Timor Leste




Kamis, 23 November 2017

Watu Dodol Hotel, Banyuwangi

Saya pilih hotel ini karena ketika riset tentang tempat melihat matahari terbit di Banyuwangi, nama daerah Watu Dodol yang sering muncul dan satu kali pernah saya lihat nama Watu Dodol Hotel. Ketika saya cari di web booking hotel ternyata rate-nya cocok dengan budget saya. Tapi waktu itu saya tidak langsung booking. Kira-kira seminggu sebelum berangkat, ketika Pagit dan Susi sudah memutuskan ikut saya baru booking. 

Jarak resort ini tidak jauh dari Stasiun KA Banyuwangi Baru, tapi jauh kalau ke pusat kota. Kami bertiga naik angkot kuning yang sudah menguntit kami sejak keluar dari stasiun dan sempat makan siang depan stasiun. Tapi kalaupun tidak ada angkot itu kami juga bingung mau naik apa (waktu itu belum tahu kalau di Banyuwangi sudah ada Uber dan Grab), karena jalur itu tidak dilalui angkot. Kami membayar 20,000 / orang, yang memang mahal banget sih tapi yah daripada jalan kaki siang bolong bawa-bawa gembolan. Walaupun pada akhirnya yang mengantarkan kami bertiga ke baluran ya angkot itu juga. 

Ketika memasuki kawasan resort, saya senang sekali karena diatas ekspektasi. Tempatnya enak, nyaman, hommy banget. Kami dapat kamar yang menghadap kolam renang dan laut. Kamarnya juga luas dan bersih, bergaya arsitektur resort di Bali yang kamar mandinya ada open space-nya. Bedanya kalau di Bali, untuk mendapatkan resort macam begitu yang posisi dipinggir pantai, harus keluar uang paling tidak dua kali lipat. 

Waktu kami datang resortnya sepi, karena waktu itu hari Jumat. Tapi di halaman resort yang pas bersisian dengan pantai sedang dipasang dekor pernikahan. Rupanya ada yang mau menikah disitu keesokan harinya. Saat kami tiba hanya ada kami bertiga dan sekeluarga bule, jadi puas main-main dan foto-foto di kolam renangnya. 

View from our room
Dari halaman hotel di sebelah kanan terlihat Pelabuhan Ketapang dan kapal-kapal yang sedang menyebrang menuju Pulau Bali. Sosok Pulau Bali tampak pas di depan, bersebrangan dipisahkan laut. Di spot inilah keesokan pagi kami menyaksikan matahari terbit. Di sebelah kiri kami bisa lihat patung Penari Gandrung ikon Banyuwangi. Konon disitu terdapat Watu Dodol. Seperti biasa saya selalu kurang riset kalau jalan-jalan, jadi ketika Pagit bertanya seperti apakah Watu Dodol say atak bisa jawab.

Pertanyaan terjawab ketika kami bertiga makan malam di restoran hotel. Di kotak tissue meja makannya terdapat gambar batu lonjong warna hitam dibawahnya ada tulisan Watu Dodol. Ternyata Watu Dodol adalah Batu yang warnanya hitam dan bentuknya lonjong seperti dodol. Tapi anehnya Watu Dodol letaknya di tengah-tengah jalanan banget. Banyak cerita urban legend dan ada juga yang rada mistis ketika kami google tentang Watu Dodol. 

Yang paling penting buat saya adalah misi melihat matahari terbit pertama kali di Pulau Jawa sudah terlaksana.

View Sunrise dari Watu Dodol Hotel


Lokasi:
Jl. Raya Situbondo No.290
Ketapang, Kalipuro
Kabupaten Banyuwangi



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...