Rabu, 04 Juni 2014

Catatan di pertengahan 2014

Bulan Juni, yang berarti tahun 2014 ini sudah di pertengahan. 

Tahun-tahun terakhir ini rasanya seperti tersesat dalam dimensi waktu, kalau dirasa dalam satu hari rasanya waktu jalannya super lama bin slow motion, tapi kalau dilihat tahunnya ternyata si waktu cepat banget jalannya. Ngebut. Tidak terasa tiba-tiba berlalu gitu aja *cring* kayak sekejap mata. 

Rasanya seperti diperdaya oleh waktu yang membuat saya merasa terjebak dalam rangkaian hari yang lambat padahal sebenarnya saya sedang di bawa nya ngebut. Rasanya seperti duduk di pesawat ketika udara bagus, terasanya diam padahal kita lagi dibawa meluncur dengan kecepatan seribu kilometer per jam. Rasanya seperti dikhianati oleh Teori Relativitas.

Tiba-tiba perasaan melankolis melanda. Saya tidak mau ke kantor hari ini. Sudah beberapa bulan ini pergi ke kantor buat saya butuh kekuatan mental 3,000 kali lebih kuat, saya harus menyeret langkah tiap pagi seberat tahanan penjara jaman rennaisance harus menyeret bola besi yang mengganduli pergelangan kakinya. Saya bahkan tidak mau turun dari tempat tidur.

Alarm sudah berbunyi dari mulai jam 4. Kemudian jam 4.10. Diikuti selanjutnya jam 4.30. Jam 4.45. Terakhir jam 5.00 alarm berbunyi dari iPad saya yang sengaja saya letakkan agak jauh agar perlu usaha ekstra untuk mematikannya. Setelah mematikan alarm jam 5 saya kembali meringkuk di tempat tidur, membuka-buka socmed di smartphone. Untuk keberapa kalinya saya melihat quote itu lagi, di ukir dengan tulisan sophisticated dan melingkar-lingkar di atas foto pemandangan gunung melihat kebawah yang di filter dengan warna agak memudar : 

Life begins at the end of your comfort zone - Neale Donald Walsch

Pertama-tama  kali lihat quote ini hati saya selalu bergetar menuntut jawaban dari pertanyaan, apakah hidup saya sudah dimulai? Tapi lama-lama saya mikir, enggaklah... kayaknya buat mikir kayak gitu kog udah telat banget ya, hidup saya sudah terlanjur dimulai hampir 32 tahun yang lalu. Quote ini cuman jadi korban, di salah gunakan oleh industri turisme untuk 'mendorong' orang-orang dari apa yang di ilusikan sebagai comfort zone untuk keluar dari itu semua; traveling, explore new places, pergi naik pesawat, booking hotel mewah dan membayar untuk semua itu. 

Awalnya saya pikir comfort zone itu ada dimana saja, tapi lama-lama saya jadi mikir kalo satu-satunya comfort zone yang diketahui manusia adalah dalam rahim ibunya, makanya ketika manusia lahir - keluar dari rahim - dari comfort zone nya, disitulah kehidupan dimulai. Karena setelah kita lepas dari tali pusar yang menyokong kehidupan kita yang nyaman di dalam perut Ibu, kita tidak akan pernah bisa seutuhnya merasa nyaman. 

Kalau memang ada yang namanya comfort zone lain saya akan segera melompat kepelukannya dan tidak peduli kalaupun itu dosa sekalipun, bahkan kalau itu berarti tidak hidup. Memangnya kalau kita jadi pegawai yang digaji tiap bulan dan (kebetulan) menyenangi pekerjaan kita artinya itu comfort zone? Rumah hasil cicilan sendiri yang kita dekor dengan perabotan dari IKEA pun tidak akan pernah bisa menyaingi kenyamanan di rahim ibu, karena tetap saja kita harus berjuang untuk bayar cicilannya.

Bahkan ketika saat ini saya hanya ingin berbaring di tempat tidur saya yang terlindung oleh tembok-tembok kamar, terlindung dari kekejaman traffic di jalanan ibukota dan kumpulan orang-orang yang antri ga sabar mau menyerang kita hingga babak belur tapi ga lama perut saya akan menuntut makanan untuk mengisi nya dan saya harus keluar. Kamar dan tempat tidur ini bukan comfort zone sejati. Saya harus tetap hidup.

Comfort zone itu ilusi kolektif. Sama seperti kesuksesan menurut saya, ilusi kolektif. Kita beramai-ramai diajak untuk menamakan sesuatu yang ga nyata, yang hanya ada dalam angan-angan doang, makanya saya bilang ilusi kolektif. Membuat kita berharap ada sesuatu yang bisa diraih tapi sebenarnya hanya menimbulkan kesedihan karena kan ilusi adalah bayangan dan bayangan ga mungkin bisa diraih di dunia kita yang ada di dimensi tiga ini, jari-jemari manusia hanya akan menembus aliran udara dan gelombang spektrum cahaya ketika berusaha meraihnya. 

20 komentar:

  1. Itulah alasan kenapa aku selalu explore dari yang satu ke yang lain, agar nggak terjebak comfort zone yang sebenarnya nggak bikin nyaman juga. Berbagai ikhtiar terus dicoba dan dijalani, karena aku sadar, hidup menawarkan banyak mimpi dan harapan. Pertanyaannya, langkah apa yang mau aku pilih. Begitulah, Mil. *kok malah curcol juga.

    Semangat untuk terus menjadi lebih baik ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat !

      kapaaan nih kita ngupi2? sama mba irma jugaa.. kangen

      Hapus
  2. comfort zone is there to make you comfy..tapi jangan terlena :)..easy to say that, but I bet you can continue exploring your own potentials ...have fuuun :)...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaa. masalah nya aku ga pernah ngerasa dapet comfort zone dan akhir2 ini lagi ngerasa suck bgt, makanya aku heran org2 kenapa pada rame2 ga pengen di comfort zone ya.. well, kayaknya jd manusia ga akan pernah bisa puas-puas aja ya

      Hapus
  3. tumben tulisannya begini hahahahaha

    BalasHapus
  4. tumben tulisannya dalem Mila.... :)

    But I like it. Semua hanya ilusi kolektif :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm.. sebenarnya semua tulisan aku itu aku tulis dari dasar hati yang paling dalem, tapi hati aku cetek sih :))

      Hapus
  5. Serius banget, Mba? :)
    Cari kegiatan pendukung dukung, Mba. Kali saja bisa menjadi semangat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo pas lg melakukan kegiatan lain sih semangat, pas di kantor ga semangat lagi hiks

      Hapus
  6. gmn seandainya secara tiba2 ilusi itu menjelma menjadi nyata? Apakah kamu sudah siap?

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo emang beneran ada sih, ayo aja. bring it on

      Hapus
  7. Ups, ada apakah dgn Mila?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaaa.. udah lama ga komen disiniii

      Hapus
  8. Balasan
    1. bukan jenuh sih sbnrnya, lg desperate aja hehee

      Hapus
  9. Hmmmm ... Jadi mikir gw ngerasa comfort zone kalolagi ngapain yaa ????

    BalasHapus
    Balasan
    1. tiduran telanjang di ranjang hotel?

      Hapus
  10. Mila yang puitis, sendu bacanya ^____^

    Btw, mau donk postingan cara mendekor di rmh cicilan dg IKEA itu mil =)

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...