Senin, 23 Juni 2014

One Million Dollar View

"Orang Jawa manja-manja," seru Wawan sembari mengemudikan APV hitam di jalan penuh tikungan tajam yang berlubang-lubang. Sesekali badan saya, pagit dan mba efa terpental-pental ketika mobil tersebut tidak berhasil menghindar di retakan aspal yang menganga.

"BBM baru naik jadi 6,500 rupiah saja sudah demonstrasi, protes dimana-mana," jari kurusnya memantik tongkat lampu sign, APV pun meraung melewati sebuah mobil tua yang kehilangan daya merayap di tanjakan yang terjal. 

Tangan sebelah kirinya mengangkat dengan gestur berapi-api,"harga BBM disini bisa mencapai 10 ribu seliter, itu pun terkadang harus mengantri di SPBU agar tidak kehabisan stok, tapi kami disini tertawa-tawa saja." Lubang jalan yang tiba-tiba muncul di depan tak sanggup dihindari lagi oleh Wawan sehingga membuat seisi mobil terlontar dari jok masing-masing.

Sistem pemerintahan sentralisasi yang terpusat di ibukota Jakarta membuat daerah yang jauh dari ibu kota semakin merasa terlupakan. Semakin jauh dari ibukota, semakin terlupakan.

"Cabut saja subsidi, naikkan saja harga bensin jadi 10ribu rupiah, kami disini tidak akan keberatan asal stok bahan bakar dijamin selalu ada oleh pemerintah," semakin berapi-api ucapan yang keluar dari bibir Wawan, anak muda Flores yang kurus mungil tapi lincah seperti kijang. Kijang berambut keriting. "Toh selama ini juga kami beli seharga itu."

Kami berada beberapa kilometer dari Labuan Bajo, menuju suatu tempat yang menurut Wawan punya pemandangan seharga 1,000,000 dollar. Dollar Amerika. Luar biasa banyak nol nya jika di rupiah kan.

Jadi ceritanya pada suatu hari ada seorang warga asing yang jatuh cinta pada tanah yang terletak diatas bukit itu dan menawarkan akan membeli sebidang tanah itu seharga satu juta dollar. Tapi si pemilik tanah menolak dengan halus, tanah itu tidak dijual (paling tidak belum akan dijual untuk waktu sekarang), berapapun harga yang ditawarkan. 

Menurut Wawan pemandangan yang bisa dilihat dari atas bukit itu memang bagus sekali, karena itulah dia bilang ini adalah Bukit One Million Dollar View.

Mungkin beberapa tahun lagi, ketika si pemilik tanah berubah pikiran merelakan tanahnya demi lembaran jutaan dollar, yang ada disitu mungkin seonggok resort mewah dengan view jutaan dollar. Seperti wajah gadis yang cantik natural kemudian jadi OKB (Orang Kaya Baru) tiba-tiba dipoles macam-macam make up mahal yang menor, orang-orang pun jadi lupa dengan kecantikan sederhana nya yang natural karena yang terlihat adalah kemenoran yang glamor belaka. 

Di tengah jalan kami sempat berhenti di pinggir jalan atas arahan Wawan, guide kami di Flores. "Pemandangan dari sini bagus, kak," katanya penuh percaya diri, memaksakan mobil kotak ber ban kecil melipir di pinggir jurang, di jalan yang sudah tak lagi beraspal. Kami pun turun dari mobil berusaha melihat pemandangan yang dimaksud dari pinggir, berjingkat-jingkat karena pandangan tertutup oleh daun-daun dari ujung pohon yang rimbun. 

Wawan tak ingin saya, Pagit dan Mba Efa kecewa, dia pun mengambil alih kamera saya dan memanjat ke atas kap mobil untuk mengambil gambar pemandangan yang dimaksud. Tapi hasil fotonya pun tertutup pemandangan pohon dan belukar yang lebat.

Akhirnya tiba juga di tempat yang dimaksud, Wawan memarkir mobilnya di pinggir jalan raya begitu saja. 

Saya pun bertanya, "dimana tempatnya?"

"Kita harus naik dulu sedikit."

Naiknya memang sedikit, tapi tingginya lumayan bikin betis langsung berasa kencang. 

Di puncaknya terdapat satu rumah panggung sederhana, kata Wawan rumah panggung itu memang sengaja dibuat untuk wisatawan yang mau mengenal rumah suku asli di Flores. Dari jendela nya melongok sesosok wajah pria Flores yang chubby nan jenaka. Wawan memperkenalkannya sebagai Valen. Senyumnya Valen selalu malu-malu dan suara pelan sekali, kebalikan dari Wawan yang senantiasa bersemangat. Bahkan beberapa kali Wawan berusaha mengambil alih tugas Valen menjelaskan tentang rumah adat itu, yang disambut dengan senyuman bermakna 'sok tau banget sih lo' dari Valen. 

Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah panggung terbuat dari kayu, masing-masing di berikan semacam bantal berbentuk kotak, katanya untuk di duduki di atasnya. Sementara Valen dan Wawan bergantian menjelaskan tentang kebudayaan Flores.

Valen

Alat Musik 

perlengkapan tari-tarian

Wawan & Pagit lagi ngobrol apa tuuu.. serius banget

Foto bareng tuan rumah

One Million Dollar View

16 komentar:

  1. Eh itu si Pagit yah.... Wuah kalian memang travel soulmate. Lu kenapa gak coba nawar harga tanah disana Mil, kali bisa buat investasi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. duit nya mana cip ?

      Hapus
    2. Iya, itu saya Cipu :D

      Menanti acara jalan-jalan berikutnya dengan Mila :D

      -Pagitta-

      Hapus
  2. Masya Allah pemandaungannya mbak, gak bisa dilihat nih kalau di Jakarta :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, jauh mba hehehee

      Hapus
    2. Aslinya jauhhh lebih cantik itu pemandangan apalagi sambil mamam Indomie kuah yang mengepul-ngepul uapnya lalu ditambahi potongan-potongan cabe rawit. Sedappp...

      -Pagitta-

      Hapus
  3. Sama lah kayak di Kotamobagu yg sering langka bensin.. Bayar brp aja mereka mau asal ada terus..

    Dan viewnya emang kece!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa.. ga usah di kotamobagu, wkt itu aku ke manado abis lebaran ga ada bensin, di SPBU yang ada antrinya panjaaang banget

      Hapus
  4. miris ya Mil, di negara yang kaya minyak eh masih ada daerah yang minyaknya kadang ada kadang engga, mahal pula.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe.. cerita lama, mba. ketidakmerataan pembangunan

      Hapus
  5. tapi, memang bener sih. Sebetulnya bukan masalah harganya tapi yang lebih penting kesediaannya. Kalau stok gak tersedia, mereka gak bisa beroperasi. Gak beroperasi, gak ada penghasilan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, justru harga nya jadi mahal karena stock nya sedikit jadi hukum demand-supply gitu

      Hapus
  6. bener2 keren ya one million dollar view..kalo gw sih gpp dibikin resort. tp keuntungannya di bagi 2, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. sayang kalo dibikin resort, nanti jadi rusak kayak dreamland di bali stlh komersil malah jelek berantakan

      Hapus
  7. hahaha, meskipun udah 10 tahun desentralisasi tapi teuteup aja yah. masyarakatnya tetap miskin, cuma pejabatnya aja yang tambah kaya :))
    aku udah lama banget pengen ke NTT, sampai sekarang nggak kesampaian. terimakasih buat rasa envy yang anda timbulkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, malah makin parah lama-lama deh.
      hahaha.. semoga cepet nyusul ke NTT ya.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...