Selasa, 16 Desember 2008

Kawah Putih Ciwidey

Satu lagi dari koleksi jadul.

Berawal dari posting-an foto di facebook dari jaman aku masih muda, tepatnya jaman kuliah di kota Bandung. Aku jadi teringat sama yang satu ini.


Ceritanya waktu itu, sekitar tahun 2004 waktu aku masih kuliah di salah satu universitas di Bandung, salah satu teman seangkatan ku memutuskan untuk mengakhiri masa lajang nya. Aku dan beberapa teman seangkatan pergi berombongan menghadiri ijab kabul di rumah pengantin yang berlokasi di daerah Kopo.

Pulang dari kondangan, entah siapa yang mencetuskan ide, rombongan melanjutkan perjalanan ke kawah putih Ciwidey. Meskipun berjejal-jejalan di mobil, pangku-pangkuan, dengan pakaian kondangan kita tetap kekeuh melanjutkan perjalanan.

Setelah memasuki pintu gerbang kawasan wisata kawah putih, ternyata mobil yang isinya overload itu tidak mampu menanjak sehingga terpaksa beberapa orang, temasuk aku, merelakan diri berjalan kaki menempuh sisa perjalanan. Dan mohon di catat, saat itu aku sedang menggunakan sepatu sandal ber-hak 7 cm. Bayangin ga sih, bagaimana rasa nya tertath-tatih, nanjak, sejauh 3 km, pake hak 7 cm... benar-benar kejam manusia yang menyuruh aku turun dari mobil. Begitu ketemu warung dan melihat sandal jepit, wah.. rasanya kayak orang sakau yang nemu drugs. Lega banget dah.




Hari sudah mulai sore ketika kita sampai di kawah gunung tersebut. Kabut tebal sudah mulai turun, sehingga permukaan kawah seolah-olah berasap. Semuanya serba putih, pantas saja di namakan kawah putih he3.. Dingin nya? jangan tanya. Untung aku berhasil merampas jaket tebal milik salah satu teman ku.

Melihat foto-foto itu tiba-tiba aku jadi kangen masa muda. Huhuhu.. bapak yang baju biru diatas sekarang ada di Malaysia dan bapak gendut yang lagi main pasir lagi di Paris. Masih di rombongan ini, ada satu bapak yang jadi TKI di arab dan satu lagi di Jerman. Satu ibu akhirnya berangkat ke Jepang. Sisanya tersebar di seluruh Indonesia, Makassar, Kalimantan, hingga Papua. Kapan ya aku bisa keluar negeri? Kalau bapak berkaca mata di bawah ini yang terkenal sebagai pujangga di angkatan ku, tidak jelas dimana rimbanya. Tiba-tiba raib seperti di telan bumi. Mungkin perlu di daftarkan di acar termehek-mehek.



Dan akhirnya, inilah formasi lengkap dari rombongan jalan-jalan ke kawah putih ciwidey.
Hiks! I miss u all, guys..


Senin, 08 Desember 2008

Jajan Sore di Pinggir Batanghari

Tuntutan pekerjaan akhirnya membawa aku ke kota yang bernama sama dengan propinsinya, Jambi. Kota ini termasuk salah satu kota di Sumatera yang masih dalam tahap membangun.

Banyak berkeliling ke berbagai daerah, aku biasa mengukur tingkat kemajuan suatu kota berdasarkan pusat perbelanjaan atau mall-nya..(he3.). Kota Jambi ini memang belum semaju kota Palembang atau Medan. Tapi jika dibandingkan dengan Bengkulu dan Aceh, kota ini jauh lebih maju dan lebih ramai.


Sayangnya, karena jadwalku di kota ini sangat padat, aku tidak sempat menjelajahi objek-objek wisata dan kuliner yang unik bin menarik. Bahkan 1000 kali mondar-mandir di depan masjid 1000 tiang, aku tidak sempat untuk sekedar mengabadikan diri di depan bangunan ibadah yang terdiri dari banyak tiang tersebut.

Satu-satu kesempatan untuk bersantai-santai di sela break kerja digunakan rombongan untuk bersantai menghabiskan sore di tepian sungai batanghari, konon di jaman dahulu sungai ini biasa dilewati kapal-kapal uap. Di pinggiran salah satu sungai terlebar di pulau Sumatera ini berjajar warung yang menjual aneka jajanan, dari mulai jagung bakar, mie ayam, baso, nasi goreng, sate-satean dan banyak lagi. Sedangkan untuk minuman khas di Jambi, menurut driver di sana, adalah es air tebu, yang mana sebenarnya di Jakarta juga banyak.

Setelah itu, kita sempat mengunjungi toko yang menjual batik khas Jambi. Khas dari corak batik Jambi ini adalah burung garuda dan kulit duren. Tapi waktu itu aku tidak berniat membeli karena warna nya kusam, sehingga kurang menarik, dan harganya pun relatif mahal. Yah, kalau sekarang di pikir-pikir lagi, agak menyesal juga... kan lumayan untuk koleksi.


Jumat, 05 Desember 2008

Burst Gank

Iseng-iseng buka foto-foto lama, eh nemu foto-foto gila ini.



Foto ini diambil sekitar 2,5 tahun yang lalu, sewaktu aku baru menyandang title mahasiswi s2 di salah satu sekolah bisnis di Jakarta. Waktu liburan tiba, serombongan kita pergi jalan-jalan ke Bandung. Pada saat itulah kita menemukan sesuatu yang sangat mengasyikkan, bernama BURST.


Burst itu salah satu feature yang bisa kita temui di digicam dan beberapa type camera handphone. Sekali tekan tombol, 4 gambar (bahkan ada yang lebih) langsung terjepret dalam jangka waktu tertentu. Jangka waktu itu biasanya hanya dalam hitungan detik, jadi kita otomatis seperi orang kalang kabut berusaha berganti gaya empat kali.

Hasilnya ya seperti ini:



Dan ini:



Lokasi yang dipilih oleh para foto model diatas untuk beraksi adalah salah satu Factory Outlet yang terletak di Jl. Dago.



Ketika aku meng-up load foto-foto diatas ke facebook dan men-tag para pelakunya, salah satu ibu yang turut ikut dalam kekacauan ini berkomentar, "ya ampun, itu kan tempat umum."



Dan salah satu oknum yang ikut berpartisipasi, menjawab komentar tersebut, "mungkin waktu itu kita stress kali ya?"

Selasa, 02 Desember 2008

PLTD Apung yang terhempas Tsunami



Kapal PLTD apung seberat lebih dari 3000 ton ini terhempas gelombang tsunami sejauh 2 km.

Kapal yang dulunya berfungsi sebagai pembangkit listrik berkapasitas 10 Mega Watt tersebut merupakan bukti monumental kedashyatan bencana tsunami Desember 2004 silam. Menurut penduduk setempat, kapal apung PLTD yang sebelumnya tsunami berada di pelabuhan Ulee Lhue, terseret ke Desa Punge Blangcut, menghantam, menghancurkan dan menimpa perumahan penduduk yang dilewatinya.

Hiii.. aku bergidik ngeri membayangkannya. Bahkan hingga saat ini mungkin di bawah kapal tersebut masih terdapat korban-korban yang terhimpit pada saat kapal itu terdampar. Bagi yang belum pernah melihat secara langsung, coba saja bandingkan besarnya kapal tersebut dengan mobil avanza yang parkir di depannya.

Hampir empat tahun berselang setelah bencana tersebut, kapal PLTD apung ini menjadi objek wisata bagi turis lokal maupun interlokal. Di sekitar lokasi ini pun telah berdiri perkampungan baru. Dari atas kapal ini kita bisa menikmati pemandangan kota Aceh dari ketinggian 15 meter.




Senin, 01 Desember 2008

Masjid Raya Baiturrahman



Jujur, aku senang sekali ketika di tugaskan ke Aceh, karena kota ini salah satu kota yang ingin aku kunjungi. Walaupun kalau bukan karena pekerjaan, mungkin aku tidak akan pernah menginjakan kaki ke kota yang mendapat julukan Serambi Mekkah itu.



Perjalanan dengan pesawat dari Jakarta ke Banda Aceh memakan waktu hampir 4 jam. Sebelum aku pergi kesana, banyak sekali wejangan-wejangan dari orang-orang, mengingat Kota Aceh ini adalah kota yang sangat ketat dalam menjalankan syariat Islam.

Aku pun berangkat berbekal pakaian yang menutup aurat komplit dengan kerudungnya. Secara di sana iklan di billboard saja dibuat khusus, dimana model wanitanya mengenakan kerudung, termasuk Dian Sastro di iklan Indosat.
Agak lega juga sebenarnya karena setelah tiba di kota tersebut ternyata keadaannya tidak se-kaku yang aku bayangkan. Orang-orang disana ternyata sangat welcome dan ramah terhadap pengunjung.


Pusat kegiatan keislaman di Serambi Mekkah ini adalah Masjid Raya Baiturrahman. Masjid megah ini terletak di jantung kota Aceh.

Pertama dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), namun sempat di bakar oleh Belanda karena dianggap sebagai pusat perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Pembangunan kembali masjid dilakukan tahun 1879 oleh Belanda.


Ketika bencana tsunami di tahun 2004, banyak orang selamat karena berlindung di masjid ini. Bangunan kokoh ini tetap bertahan walaupun terkena gempa dan tsunami. Kerusakan yang terjadi hanya berupa retakan-retakan kecil dan segera di renovasi kembali.


Lihat juga
- Masjid Raya Surakarta


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...