Selasa, 19 Januari 2010

Minum Sepuasnya

Sebagai turis dengan budget terbatas kita memang harus pintar-pintar mensiasati agar pengeluaran menjadi seminim mungkin. Salah satu caranya bisa dengan penghematan dalam membeli air minum.

Di negara-negara maju seperti Singapore, kita bisa langsung minum air dari keran tanpa dimasak dulu. Menurut yang saya pernah baca, lupa entah dimana, di Singapore dilakukan kurang lebih 8000 tes setiap hari untuk menjamin kualitas dan kebersihan air kerannya.

Pun begitu sebagai orang Indonesia yang kebetulan tinggal di dekat Kalimalang (yang katanya merupakan sumber air PAM) rasanya tetap aneh dan ga biasa kalau disuruh minum air keran, membayangkan warna, bau dan benda-benda asing yang mengambang di kali di Indonesia. Kemana pun saya pergi, yang kebayang tetap sama.... Padahal dengan meminum air keran, sebenarnya kita bisa menghemat secara signifikan karena disana air mineral botol harganya bisa hampir 20 ribu sebotol. Sedangkan minum air dari keran ga usah bayar, bisa minum sepuasnya sampe kembung.

Jadi inget, waktu jaman kuliah di Bandung dulu sempat mengalami terobosan teknologi dalam hal penyediaan air minum di kampus. Konon dulu di kampus saya sempat disediakan keran-keran air di beberapa titik. Air tersebut telah diproses sedemikian sehingga aman untuk diminum. Namanya mahasiswa yang kebanyakan anak kos, pada ga mo rugi. Jadilah keran-keran tersebut jadi laku sebagai tempat isi minum refill gratis, kita tinggal bawa botol kosong aja. Tapi sayang, tidak berapa lama air tersebut menunjukan gejala-gejala aneh yang membuat orang jd ragu buat minum, yaitu berwarna kekuningan dan berbau. Apakah teknologi air bersih aman diminum masih terlalu canggih untuk di terapkan di Indonesia ya?

Suka perhatikan ga di hotel-hotel Indonesia, di kerannya ada tulisan "air dari keran tidak aman untuk diminum". Mungkin banyak kejadian kali ya pendatang dari negara-negara lain yang nekat minum air langsung dari keran karena di negaranya biasa langsung glek ga pake di masak-masak dulu. Yah.. paling juga akibatnya pada sakit perut diserang bakteri hehehee....

Kurang lebih seperti itulah yang terjadi kepada saya yang ndeso ini ketika di Singapore. Walaupun saya yakin akan kebersihan air kerannya, tetap aja ga bisa minum nya karena ga biasa. Beda sama rekan seperjalanan saya, Cipu, yang ga bisa liat keran nganggur langsung refill botol minumnya *tipe-tipe anak kos yang ga mo rugi dunk*

Anehnya, kalau makan di pinggir jalan yang jelas-jelas terkontaminasi saya mah cuek-cuek aja. Malahan makan siang favorit saya nasi bungkus 5000-an dari warteg pinggir jalan, yang ga jelas itu bahan nya & masak nya gimana sampe bisa murah gitu. Pokoknya perut kenyang. Dan sampe sekarang belum pernah kejadian *dan jangan sampe deh* sakit perut gara-gara makan sembarangan, jadi terbukti lah kalau perutnya tahan banting.

Cuti-Cuti Malaysia

Posting ini memang di tujukan untuk mempromosikan posting dari blog Cipuceb@blogspot.com, bukan karena saya sedang tidak punya ide untuk bikin postingan sendiri melainkan karena saya terlalu sibuk dengan kehidupan sebagai orang kantoran demi mencari modal sebagai turis kere.

Alasan lainnya adalah karena model di foto-foto untuk posting tersebut adalah saya sendiri *narsis-lah sebelum narsis diharamkan.

This is one of my favorite part dalam rangkaian perjalan bekpeking ke singapore-malaysia, soalnya saya dan Cipu melihat bahwa membaca tulisan yang sama dengan makna berbeda bisa merupakan hiburan tersendiri, percaya ga percaya... kita bisa ketawa berhari2 membahas perbedaan makna di kata-kata yang sama. Entah karena selera humor kita tinggi atau karena kurang hiburan hehee..


Jadi, saya ga akan banyak nulis kata pengantar lagi, karena kayaknya emang ga mutu yak *nyadar*, silahkan klik link di bawah ini...


Sabtu, 05 Desember 2009

The convenience of public transportation

Masih dalam rangka Backpacking perdana Singapore-Malaysia.

Sebagai Turis dengan budget terbatas di negeri orang, saya dan rombongan banyak menggunakan transportasi umum seperti Bus dan MRT. Padahal kalau di Jakarta boro-boro naik bus, bahkan bus trans jakarta sekali pun. Membayangkan perjuangannya untuk berdesak-desakan saja sudah capek duluan *manja mode ON*. Jadi walaupun seringkali terjebak macet berjam-jam sampai betis dan pinggang pegal-pegal, tetap saja menyetir sendiri dengan kendaraan pribadi merupakan pilihan yang paling nyaman dan saya harus banyak bersyukur.

Di negara tetangga kita ini lah, I discover the meaning of "the convenience of public transportation". Rute-rute MRT dan Bus mudah di mengerti dan terpampang jelas di setiap terminal dan halte-halte. Rute antara Bus dan MRT terintegrasi. Coba kalau ada turis di Jakarta di suruh naik Bus, Angkot atau Metromini.. kalau ga nyasar-nyasar plus mabok darat, hebat tuh :p

Penumpang-penumpang nya juga lebih tertib di banding di sini, jadi ga ada yang dorong-dorongan, desak-desakan masuk ke bus, seperti di Bus Trans Jakarta. Mungkin juga karena disana jumlah penduduknya lebih sedikit kali ya, jadi lebih mudah di atur daripada di mari.

Ada satu lagi yang rasanya sulit di terapkan di Jakarta, yaitu Hop-on Hop-off city Tour. Di Singapore dan Kuala Lumpur ada Bus yang mengantar turis-turis keliling kota dan singgah di objek-objek wisata yang terdapat di kota tersebut. Karena kotanya yang relatif lebih kecil dan traffic-nya yang less crowded, dalam waktu satu hari kita bisa khatam keliling satu kota. Kalau di Jakarta mah seminggu juga ga khatam kalau mau kelilingin satu kotanya. Saya aja yang dari gede di Jakarta belum pernah seumur-umur yang namanya kelilingin kota Jakarta *tepok jidat*

Bayar RM 38 saja kita sudah bisa mengembara di kota Kuala Lumpur, thanks to KL Hop-on Hop-off [naik-turun sesuka hati] city tour. Bagi yang pertama kali ke Kuala Lumpur, cara ini paling efektif dan efisien, karena Bas Lawatan ini melewati semua objek wisata yang ada di Kuala Lumpur. Mereka bahkan menyediakan earphone di setiap tempat duduk yang menjelaskan ke kita tentang objek wisata yang sedang kita lewati dengan berbagai pilihan bahasa.

Satu tiket seharga RM 38 itu berlaku selama 24 Jam. Jadi andaikata kita turun di salah satu tempat pemberhentian, kita dapat naik Hop-on Hop-off yang lain hanya dengan menunjukan tiket tersebut, ga perlu bayar-bayar lagi. Jurang masa 30 minit antara setiap bas.

Tempat-tempat yang dilalui termasuk objek wisata, hotel dan tempat perbelanjaan. Diantaranya KLCC - Petronas tower, KL Tower, Bird Park, Butterfly Park, National Mosque, Aquaria, China Town, Sentral Market (pasar seni), Dataran Merdeka, National Palace, National Museum and many more.


Selasa, 03 November 2009

Petronas Tower

Belum ke Malaysia kalau belum melihat Menara Petronas, salah satu menara tertinggi di dunia. Kami pun melihat nya: pagi, siang dan malam... seriously. hehee...

Menara Petronas Pagi Hari

Masih ingat di posting sebelumnya waktu saya bilang penderitaan kami gara-gara MENGANTRI belum selesai? Ritual antri yang akan kita jalani selanjutnya adalah mengantri tiket untuk melawat jejantas udara (visiting skybridge) nya Menara Petronas. Tiketnya ternyata percuma (gratis), tapi ngantri nya.. wuidiiihh.. berkelok-kelok sepanjang beberapa ratus meter. *okey.. bagian ratusan meternya itu memang berlebihan*

Turun dari Kereta Tanah Melayu Berhad (KTMB) kami langsung naik MRT ke KLCC. Sampai disana jam 8 kurang waktu Kuala Lumpur, ruangan sudah penuh sesak dengan wisatawan yang mengantri tiket. Jangan tanya kapan kita mandi nya, karena memang belum pada mandi semua hehee... Pun begitu kita tetap berhati-hati dengan penyeluk saku (copet).


Menara Petronas Siang Hari

Setelah sabar MENGANTRI, kami mendapatkan tiket untuk melawat jam 12 siang. Karena jeda waktunya masih lama, kami memutuskan untuk mencari sarapan dan menitipkan backpack di rumah tumpangan (hostels) kami yang terletak di Bukit Bintang, ga jauh dari KLCC. Setelah ganti baju (doang, teteup belum mandi) kita kembali ke KLCC.


Sebelum naik ke sky bridge, kita di suguhi tayangan 3D lengkap dengan kacamatanya. Kemudian kita naik lift dan memulai sesi foto-foto di jembatan yang menghubungkan dua menara kembar tersebut. Para pelawat di beri waktu 10 menit di atas jejantas udara tersebut. Beuh.. ga sebanding sama penantiannya. Tapi ga sampe 10 menit juga udah bosen kog, ternyata begitu doang *ditoyor* hihihii...


Menara Petronas Malam Hari


Menara ini kelihatan cantiiiiiiiiiiiiiiiik sekali di malam hari *seperti yang nulis*.

Di malam terakhir kita di KL, ditraktir makan di restoran asik yang terletak tepat di depan Menara Petronas bernama NZ oleh sepupunya Cipu yang tinggal lama di sana dan bersedia menemani kita pusing-pusing (jalan-jalan) di KL. Jadi sembari menikmati makan malam, kita bisa menikmati pemandangan Menara Petronas di waktu malam.

Senin, 02 November 2009

Keretaapi Tanah Melayu Berhad (KTMB)

Satu setengah hari menjelajahi kota Singapura, akhirnya tiba saat kami bertolak ke Malaysia. Beberapa hari sebelum berangkat, kami telah memesan tiket KTMB secara on-line. Sebenarnya bisa saja kami naik dari Singapura langsung ke Kuala Lumpur, tapi demi penghematan budget kami memutuskan naik dari Johor Bahru untuk menuju Kuala Lumpur.

Kenyataan memang tidak selalu berjalan sesuai rencana, ada saja hal-hal yang tidak pernah terkira sebelumnya. Dari Singapura ke Johor Bahru kami harus naik bus dulu. Berbekal saran dari orang-orang India pemilik restoran di bawah penginapan kami, berangkatlah kami ke Queen Street Bus Terminal Ternyata kami menemui antrian yang panjaaaang..

But, it was just a beginning.

It turns out to be, kami menghabiskan waktu ber-jam-jam hanya untuk mengantri. MENGANTRI di imigrasi Singapura, MENGANTRI untuk naik kembali ke bus ke Johor Bahru, MENGANTRI di imigrasi Malaysia... dan waktu terus berjalan, pukul 10.30 waktu Malaysia dan kami masih mengantri di imigrasi padahal jadwal kereta pukul 11.

And what made it worst is that we don't know the location of Train Station. Bahkan setelah kasak kusuk kesana kemari, tanya ke kiri dan ke kanan, kog ya ga ada yang tau pasti letak stasiun kereta di Johor Bahru. Untungnya kita sempat ketemu dengan dua orang cewe manis yang baik hati, yang rela nungguin kita di imigrasi Malaysia dan menunjukkan jalan ke stasiun yang ternyata hanya selemparan kancut *tepok jidat*.

Kami pun berlari-lari di kejar waktu, dengan menggendong backpack, menahan HIV (hasrat ingin vivis), dan jantung yang berdebar-debar. Eniwei... akhirnya kami tiba tepat waktu *fiuuhh*.
It was happy ending story afterall.


Tampak luar Kereta Tanah tersebut sama persis dengan kereta api yang ada di Indonesia, tapi interiornya yang beda. Lebih bersih dan terawat. Kami membeli tiket kereta yang ada tempat tidur nya supaya bisa sekalian istirahat di perjalanan menuju Kuala Lumpur.


Setelah melewati malam di kereta, pukul 7 pagi kami tiba di Kuala Lumpur Central Station... dan kami masih harus MENGANTRI tiket di Petronas... *sigh*


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...