Minggu, 04 Januari 2009

Menggoreng ala Nekad


Profesi penjual gorengan mungkin adalah hal yang biasa.
Tapi di Gorontalo, ada seorang ibu berprofesi penjual gorengan yang sangat unik dan banyak dicari. Bukan karena rasa gorengannya yang mak nyuss (pinjem istilah pak bondan), melainkan karena cara menggorengnya.

Emang menggoreng nya gimana?


Ya.. pake tangan. Pasti pada binggung dimana istimewanya. Kalau menggorengnya menggunakan tangan juga pasti sudah biasa, kalau menggorengnya pakai kaki baru aneh.

Eits, tunggu dulu. Ibu ini menggoreng nya hanya menggunakan tangan saja, dari mulai mencelup gorengannya dan membalik-balikkan nya di dalam minyak panas. Kita yang melihatnya mungkin bergidik ngeri membayangkan gimana rasanya minyak goreng panas yang mendidih kalau kena tangan, tapi ibu satu ini kelihatan santai aja mencelup-celupkan tangannya ke dalam penggorengan. Bahkan sembari menggoreng, ibu dengan nama Hartin Maliki sesekali menerima telepon dari telepon genggamnya.

Ibu ini membuka warung sederhana di Jl. Mayor Dullah, Gorontalo. Beliau sempat bercerita, karena keahliannya menggoreng pisang dengan tangan beliau sempat diundang menggoreng pisang di Jakarta, Singapura, hingga ke Perancis. Luar Biasa...

Keahlian menggoreng dengan tangan ini juga diturunkan ke pada putrinya. Jadi kalau beliau sedang mendapat undangan menggoreng pisang ke luar kota, putrinya yang menggantikan berjualan gorengan.

Inti Moral dari cerita ini adalah: Profesi apa pun kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh bisa mengantar kita untuk go ointernasional, termasuk profesi penjual gorengan.

Jumat, 02 Januari 2009

Becak + Motor = Bentor


Bentor adalah transportasi umum yang merupakan modifikasi dari Becak yang di gabung dengan motor. Kendaraan ini cocok banget buat medan jalan di daerah sulawesi yang banyak tanjakan turunan, naik-turun bukit dan gunung.

Kalau pake becak biasa kebayang kan gimana si abang becak musti ngegenjot becaknya naik gunung.



Banyak dari bentor-bentor yang di temui di jalan di modifikasi dengan kreatif, di cat warna ngejreng, di pasangin spoiler dan speaker, jadi deh bentor gaul. Mungkin karena kecintaan masyarakat daerah sana terhadap musik, bentor-bentor umumnya dilengkapi dengan CD player, jadi full music gitu deh.

Di Kotamobagu, dengan tarif hanya 2000/org, kita bisa diajak keliling kota menikmati pemandangan kota.




Rabu, 31 Desember 2008

MySpaceSELAMAT TAHUN BARU Semuanyaaah



Rencana Travelling tahun 2009, aku siy ga mo muluk-muluk bikin planning ke luar negeri. Apalagi aku juga termasuk orang yang terkena imbas krisis global, jadi secara financial tampaknya tahun depan belum memungkinkan untuk merencakan perjalanan ke luar dari Indonesia.

Thus, di negeri ku yang tercinta ini masih banyak kog tempat-tempat yang pengen aku datengin. Misalnya, Tana Toraja, Nusa Tenggara Barat dan Timur, bahkan Pulau Seribu yang ga jauh-jauh amat juga kayaknya seru tuh buat jalan-jalan.

Ada yang mau ikutan?

Senin, 29 Desember 2008

Benteng Otanaha


Ota berarti Benteng.


Sedangkan Naha adalah orang yang menemukan kembali benteng yang dibuat oleh ayahnya, Raja Ilato, pada abad ke-15.


Karena itulah Benteng ini di namakan Otanaha.



Benteng Otanaha terdiri dari tiga bangunan yang terletak di atas bukit tidak jauh dari kota Gorontalo. Untuk mencapai Benteng Utama dari pintu gerbang benteng ada 348 anak tangga dan 4 tempat peristirahatan.

Tapi tidak usah khawatir.. kita ga perlu susah-susah melewati ratusan anak tangga tersebut. Sekarang sudah dibuat jalan untuk mobil hingga sampai ke depan salah satu benteng. Untuk mencapai benteng utamanya tinggal jalan sedikit aja kog.




Dari atas benteng utama, kita bisa melihat danau Limboto. Satu lagi bangunan dari benteng Otanaha terletak agak ke bawah, dan dari sisi benteng utama kita bisa memandang benteng batu tersebut di tengah danau yang permukaannya menghijau karena di penuhi tanaman.



More Photos? Follow this Link

Lihat juga:

Senin, 22 Desember 2008

Trunyan


Pohon di samping ini kelihatannya seperti pohon biasa saja kan?

Tapi pohon besar ini digunakan dalam proses pemakaman masyarakat di desa Trunyan, Bali. Mayat penduduk desa yang meninggal di letakkan dekat pohon ini, tidak dikubur loh. Cuma di geletakan begitu saja melewati proses penguraian secara alamiah hingga tinggal tulang belulang.

Anehnya, mayat-mayat itu sama sekali tidak berbau.



Desa Trunyan terletak di tepi danau Batur, Kintamani. Untuk mencapai desa Truyan kita harus naik perahu motor menyebrangi danau selama 20-30 menit. Udara di daerah ini sangat sejuk, mungkin karena lokasinya di pegunungan kali ya.





Menurut sumber, secara spesifik, terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam yaitu:


Cara Pertama, dikubur / dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh seperti misalnya terjadi pada tubuh penderita penyakit cacar, lepra dan lainnya. Orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri juga dikubur. Anak-anak kecil yang gigi susunya belum tanggal juga dikubur saat meninggal.



Cara Kedua, meletakkan jenazah diatas tanah dibawah udara terbuka yang disebut dengan istilah mepasah.
Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal.

Jadi kalau lihat foto di bawah ini, di belakang ku itu, di bawah kayu-kayu itu, tergeletaklah jenasah-jenasah yang disemayamkan dengan cara Mepasah.




Menurut penduduk setempat, kita tidak mencium bau anyir dari mayat tersebut karena baunya diserap oleh pohon besar tersebut. Pohon itu disebut pohon Taru Menyan, yang kemudian menjadi dasar nama desa tersebut, desa Trunyan.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...