Kamis, 14 Maret 2013

Purwaceng Putri

Pertama-tama saya akan memperkenalkan dulu Purwaceng buat yang belum tahu benda ini. Purwaceng itu adalah serbuk herbal yang berasal dari tanaman, dipercaya dapat meningkatkan stamina apabila dikonsumsi. Bisa dicampur dengan kopi, susu maupun teh. Purwaceng ini adalah salah satu minuman khas dari dataran Dieng.

Nah sekarang yang mau saya posting disini sebenarnya fokusnya tidak ke minuman Purwaceng nya tapi lebih kepada perjuangan Trip Dieng saya bersama satu adik dan satu kawan bernama Tince yang benar-benar membutuhkan stamina yang kuat banget. Kalau si Purwaceng itu butuh endorser kayaknya kita bertiga mau mengajukan diri nih.

Perjalanan diawali dengan pertemuan kami bertiga di gerai kopi Starbuck di Stasiun Gambir, 3 lembar tiket kereta eksekutif menuju Semarang tergeletak di antara gelas-gelas kopi. Pukul 7.30 tepat kereta mulai beranjak dari Gambir tiba di Stasiun Tawang dini hari pukul 3. Kita memutuskan untuk menunggu sunrise di Dunkin Donut sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Dataran Dieng.

Dieng adalah suatu dataran tinggi yang terletak di sebelah barat dua gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Sebagian dataran Dieng masuk ke kabupaten Wonosobo, sebagian lagi masuk kabupaten Banjarnegara. Dari Semarang kami berencana akan menembus Dieng di bagian Wonosobo nya. 

Matahari masih malu-malu muncul, langit belum sepenuhnya terang, kami bertiga berjalan keluar Stasiun Tawang yang berarsitektur klasik diiringi dentang jam besar yang semakin lama terdengar makin jauh sesuai dengan langkah kaki kita berjalan menjauh dari stasiun keluar gerbang. Pas di depan gerbang kita menunggu angkot jurusan Terminal Purboyo.

Di dalam angkot Tince ngobrol dengan ibu-ibu penjual makanan yang kebetulan searah dengan kita, mau ke terminal juga. Dari ibu yang  baik hati itulah kita mendapatkan tips-tips menuju Wonosobo, si ibu bilang kita jangan masuk ke dalam terminal bus nya karena kalau kita beli tiket di dalam harganya lebih mahal daripada kalau kita menghadang busnya di pertigaan sebelum pintu masuk terminal. Kita pun turun di tempat yang ditunjuk ibu itu dan ternyata memang banyak yang menunggu bus disitu.

Setelah satu  jam lebih menanti bus jurusan Wonosobo akhirnya muncul juga, sesuai dengan arahan ibu yang di angkot tadi, kita membayar tarif 20ribu rupiah. Sementara mba-mba di sebelah harus mengeluarkan kocek sebesar 30ribu karena membeli tiket di dalam terminal padahal tujuannya lebih dekat dari kita. *puk-puk mba-nya*

Perjalanan di dalam bus luar kota yang penuh desak-desakan dengan posisi memangku backpack selama 4 jam itu ternyata benar-benar kegiatan yang menguji kesabaran dan kekuatan tulang-tulang, rasanya Temanggung itu luasnya sepanjang pulau Jawa, lama banget ga sampe-sampe. 

Pengamen datang silih berganti, pantang menyerah menyempilkan gitarnya diantara desakan rapat penumpang yang berdiri berdesakan di selasar bus. Ada pengamen gondrong, bertatoo, muka preman, tapi nyanyinya lagu nasyid. Ada pengamen yang membawakan 3 lagu campur sari Didi Kempot yang membuat saya flashback ke masa muda saya di boyolali beberapa tahun lampau, kalua dliat2 sih orangnya mirip juga sama Didi Kempot. Tapi favorit saya adalah pengamen yang kreatif banget me-medley lagu-lagu iklan yang sebagian liriknya adalah:

"Aku anak sehat tubuhku kuat, karena ibuku selalu memberiku batere ABC."

kemudian lagunya ditutup dengan lirik:

"Sudah lama jadi pengamen tapi belum dapat istri."

*puk-puk mas pengamen*
 
Mana busnya sempat ada acara ganti ban lagi. Nah pas acara ganti ban itu kita bertiga pindah tempat duduk ke belakang karena bus sudah mulai sepi mendekati Wonosobo. Saya bertanya kepada kenek yang jaga pintu di belakang, "mas, nanti bus nya lewat pertigaan ke Dieng ndak?"

"Wonosobo?" tanya mas nya.

Saya mengangguk.

"yang di lampu merah itu?" tanya mas nya lagi

Saya kurang yakin juga sih karena petunjuk yang saya dapat cuman bilang pertigaan, gak bilang ada lampu merah atau tidak. "Yang ada angkot ke dieng nya."

Mas nya pun tersenyum, "iya, lewat. Mau muncak?" tanyanya lagi.

"Iya," jawab saya singkat.

"Ke Sindoro aja, lebih bagus," usul mas nya.

Saya hanya tersenyum.

Lewat terminal bus wonosobo saya menengok lagi ke mas keneknya, "Mas, pertigaannya belum lewat kan?"

Masnya hanya tersenyum manja sembari menggeleng. 

Tidak jauh dari terminal wonosobo mas nya memberi komando untuk kita siap-siap karena tempat kita turun sudah dekat. Kita pun turun di pertigaan yang ada lampu merahnya dan menyebrang jalan atas instruksi mas-masnya.

Di pertigaan itu ada pangkalan ojek, jadi saya meyakinkan diri dengan bertanya ke tukang ojek yang lagi duduk-duduk disitu, "Mas angkot ke dieng disini kan?"

"Iya mba, tunggu aja disitu, sebentar lagi lewat."

Angkot ke Dieng yang ada LCD tivi nya
Kita diantar angkot naik keatas gunung, menembus kabut tebal yang menggelayuti langit  semacam pesawat menembus awan sampai ke depan Rumah Makan Dieng yang terletak di seberang penginapan yang telah kita booking via telpon, Homestay Lotus. Jam sudah menunjukan pukul 12 siang lewat dan perut kita sudah keroncongan. Chacha dan Tince memesan soto sapi, sedangkan saya memesan sate sapi yang langsung dingin berlemak dalam waktu tak sampai 10 menit gara-gara udara dingin.

Setelah satu setengah hari penuh menjelajahi Dieng Plateu yang membutuhkan banyak aktifitas fisik di dera udara dingin, kita menempuh perjalanan kembali ke Jakarta via Jogjakarta. tadi kan pergi ke Diengnya via Semarang, pulangnya kita memilih rute berbeda via Jogja.

Kita memulai perjalanan pulang dengan pamit kepada ibu pemilik Homestay yang baik banget, kita naik angkot langsung dari depan Homestay ke pertigaan tempat kita naik angkot pertama ketika mau naik ke Dieng, 10 ribu per orang. Karena angkot itu tidak mengarah ke Terminal Wonosobo maka kita harus ganti angkot lagi dari pertigaan itu ke Terminal Wonosobo, 2000 per orang. Disitu kita menunggu Bus ke arah Magelang, tarifnya 10 ribu per orang.

Dari Wonosobo ke Jogja tidak ada bus langsung, jadi kita harus ambil jurusan ke Magelang kemudian ganti bus ke Jogja di terminal Magelang, bayar 8000 rupiah. Lama perjalanan dari Wonosobo ke Terminal Jombor Jogja, termasuk ganti bus di Terminal Magelang memakan waktu hampir sama dengan perjalanan Semarang - Wonosobo. Di Terminal Jombor Jogja, kita tinggal naik Bus TransJogja menuju Malioboro, dimana kita akan menginap semalam di daerah Sosrowijayan.

Keesokan pagi nya rangkaian terakhir dari perjalanan yang menguji stamina dan ketahanan mental adalah naik kereta api bisnis Fajar Utama Jogja menuju Jakarta dari Stasiun Tugu. Kira-kira begitulah rangkaian perjalanan yang saya, chacha dan tince tempuh di Trip pencarian innerpeace kita ke Dieng Plateu. Melelahkan memang, tapi sebanding dengan keindahan dan ketenangan jiwa yang kita dapat di sana.

ceritanya sok-sok niup bunga kayak di film2



Di kawah Sikidang

Rumpian di pinggir jurang


Sunrise di Bukit Sikunir

Pagi di kompleks candi arjuna


Leyeh-leyeh

Tim Purwaceng Putri

Dapet salam dari Purwaceng

Selasa, 05 Maret 2013

Ke Ballarat, Salah Kostum

Hari kedua saya memutuskan berkunjung ke Ballarat, 3 jam perjalanan naik kereta dari Melbourne. Pagi hari udara cukup dingin, sekitar 16 - 18 der C. Cukup lama saya tertegun di depan koper, berpikir baju apa yang akan saya pakai. 

Malam hari sebelumnya saya merasakan yang namanya dingin ketika saya jalan kaki pulang dari rumah kerabat Cipu yang sakit bersama Kak Masni, angin malam berhembus sampai menembus kulit dan daging sampai ke tulang sumsum, gigi saya pun otomatis gemerutukan. 

Akhirnya pagi itu saya memutuskan membungkus seluruh tubuh saya dengan baju dalaman lengan panjang warna hitam, dress garis-garis hitam putih dan legging hitam. Pikiran saya, di kota saja dingin,di gunung pasti lebih dingin. 

Cipu masih menginap di rumah kerabatnya yang sakit. Kak Masni di ruang tengah sedang mengerjakan tugas dengan tekun di depan laptopnya, Tony sedang membuat sarapan disela kegiatannya membuat tugas kuliah juga. “Selamat mengerjakan tugas, aku jalan-jalan dulu yaaaa...,” saya pun pamit sambil buru-buru ngacir keluar sebelum ditimpuk pakai toaster. 

Stasiun kereta Anstey - stasiun yang terdekat dari rumah Cipu, pagi itu ramai oleh para komuter yang akan berangkat kerja ke kota. Semua kereta dari daerah suburban akan mengarah ke 5 stasiun utama - Flinder Street Station, Southern Cross Station, Flagstaff Station, Melbourne Central Station dan Parliament. Semua kereta akan berputar melewati stasiun-stasiun tersebut sehingga dinamakan City Loop, arah loop nya bisa ke kanan dulu atau ke kiri dulu tergantung pagi atau sore. 

Masuk ke dalam kereta Metro, saya duduk di bangku kosong di hadapan dua orang perempuan muda kira-kira berusia 25-an berbusana kantoran. Dua-duanya mengenakan rok mini, legging hitam dan sepatu boot. Yang satu berambut pirang lurus terurai sebahu, yang satu lagi berambut brunette di ikat gaya ballerina bun (konde di atas kepala) yang agak berantakan tapi tetap kelihatan keren. Keduanya memangku chrochete, kedua tangan mereka sibuk merajut gulungan benang dengan dua jarum besar sembari terus mengobrol. 

“Vest kamu bagus deh,” kata wanita berambut coklat. Temannya mengenakan semacam vest yang panjangnya hampir menyamai rok mininya, berpola kembang dan daun-daunan warna oranye-hijau. Vest itu dibiarkan tidak terkancing dan jatuh tergerai di sisi-sisi tubuhnya. 

“Sebenarnya ini dress loh,” kata si rambut pirang. 

 “ah yang benar,” kata si rambut coklat tak percaya. 

“iyaaa… suer. Ini dress yang kancing nya dibelakang, tapi aku pakainya dibalik. Yang ada kancingnya ini aku pakai di depan,” si rambut pirang berusaha meyakinkan temannya. 

Mereka pun meneruskan rajutannya, si rambut pirang sesekali mengajarkan trik-trik pola rajutan ke si rambut coklat, mereka pun turun di Flinder Street Station. Sementara saya meneruskan perjalanan terus ke Southern Cross, stasiun kereta yang menghubungkan kereta Metro dalam kota dan kereta V/Line untuk ke luar kota. Dari sana saya akan beli tiket kereta V/Line ke Ballarat karena kartu Myki saya hanya berlaku untuk transportasi dalam kota saja. Setelah berputar di City Loop kereta akan kembali ke jurusannya, jadi yang mau ganti jurusan juga bisa turun di salah satu stasiun tersebut dan menyambung naik ke jurusan lain. 

Southern Cross terminal adalah stasiun kereta paling besar di Melbourne dan paling modern juga. Modal tanya kiri kanan saya berhasil menemukan loket penjual kereta V/Line. Beruntung sekali karena kebetulan ketika saya beli tiket kereta itu adalah jam off-peak, jadi saya bisa beli tiket dengan harga lebih murah daripada kalau saya beli di jam orang-orang berangkat dan pulang kerja (peak).

***

Kereta V/Line tiba di Stasiun Ballarat yang mirip stasiun Jatinegara versi lebih bersih nya. Saya menghampiri loket informasi dan bertanya cara ke Sovereign Hill. “Kamu keluar pintu ini, terus tunggu saja bus nomor 9,” sambil menjelaskan perempuan muda berambut pirang itu keluar dari booth nya, mengantar saya sampai ke depan pintu keluar dan menunjuk halte bus yang terletak di muka stasiun dengan ramahnya.

Ballarat Station

Ballarat Station dalamnya

Keluar dari stasiun kereta Balarat rasanya seperti terlempar dari mesin waktu dan tersesat di abad ke – 19. Semua bangunan nya bergaya Victoria, elegan dengan detil-detil dan berwarna dominan kecoklatan. 

Sejak mulai ditemukannya bahan tambang emas di tahun 1850-an di daerah ini, perkembangan Ballarat menjadi maju dengan pesat. Berita penemuan emas di daerah ini cepat menyebar luas ke seluruh penjuru dunia, sehingga orang-orang dari seberang benua mulai berdatangan selama periode Gold Rush itu. Untuk menertibkan penambangan emas pada jaman itu, pemerintah menetapkan peraturan untuk para penambang agar memiliki Miner’s license. Tapi kelamaan Miner’s license itu terasa memberatkan dengan pajak dan biaya-biaya lain yang mencekik para penambang. Akhirnya penambang emas di Ballarat membuat aksi pemberontakan yang dinamakan Eureka Rebellion . 

Konon jaman dahulu kala, seorang ilmuwan bernama Archimedes pusing bukan kepalang tatkala sang Raja menanyakan kepadanya apakah mahkotanya terbuat dari emas asli atau tidak. Inspirasi datang ketika beliau berendam di bak mandi dan menyadari ada air yang tumpah sebanding dengan berat nya. 

“Eureka! Eureka!,” Archimedes berseru kegirangan, dengan cara itulah dia dapat membuktikan bahwa ternyata mahkota raja itu tidak asli emas. 

Mungkin kata Eureka yang diserukan oleh Archimedes ketika menemukan cara menentukan keaslian emas itulah yang menginspirasi nama dari pemberontakan tersebut. Tapi terlepas dari adanya kericuhan itu, penambangan emas di daerah ini lah yang membuat negara bagian Victoria berkembang pesat dan ikut mengangkat nama kota Melbourne. 

Udara di Ballarat berbeda sekali dengan Melbourne, matahari nya disini terasa lebih dekat ke kepala. Saya mulai merasa terpanggang didalam kostum serba hitam-hitam ini. Tak lama bus nomor 9 muncul dari ujung jalan. 

“Sovereign hill?” saya melongok dari pintu depan dan bertanya ke supirnya. 

“Yep,” jawabnya memberi kode dengan kepala agar saya naik ke atas bus. 

Ketika saya mau memasukan uang kedalam mesin, pak supir segera mencegah dan menjelaskan kalau saya tidak perlu bayar fare bus lagi kalau mau ke Sovereign Hill, cukup menunjukan tiket kereta V/Line saya. Dia juga menanyakan apakah saya tahu dimana harus berhenti kalau mau ke Sovereign Hill. 

Saya menggeleng. 

“Alright. I’ll tell you where to stop,” katanya dengan ceria. 

Sejauh ini pengalaman saya selama di Australia positif banget, orang-orangnya ramah dan helpful. 

Saya masuk ke Sovereign Hill yang merupakan lokasi wisata terkenal disana. Saya perhatikan para pengunjung rata-rata menggunakan T-shirt dan celana pendek, sementara saya dengan baju lapis-lapis semacam baru turun dari gunung bersalju. Saat itulah saya baru menerima kenyataan pahit dengan lapang dada bahwasanya saya telah membuat kesalahan fatal. Salah kostum. 

Saya sedang duduk di depan salah satu bakery sembari mengunyah strawberry pie ketika ada ibu-ibu tambun usia 50-an tiba-tiba menghampiri saya, “Baju kamu bagus deh, beli dimana? Di Melbourne bukan?” Rupanya si ibu tertarik dengan baju dalaman hitam saya yang sebenarnya adalah semacam manset buat yang pakai jilbab karena ada penutup kepala yang menyambung di kerah kaos nya. Entah itu ibu benar-benar tertarik sama baju saya atau ibu itu hanya heran melihat pakaian saya yang kayak orang meriang sementara dia pakai tank top, celana pendek dan sneakers. 

Di Ballarat. Salah kostum

Ballarat musim gugur

Kamis, 28 Februari 2013

Shrine of Remembrance

Selama di Melbourne, saya perhatikan sedang ada dua event yang sedang berlangsung yaitu festival komedi dan persiapan ANZAC day yang diperingati setiap tanggal 25 April. Sayangnya tanggal segitu bertepatan dengan tanggal saya harus pulang ke Indonesia, jadi tidak bisa menonton acara tahunan yang terkenal dengan nama Dawn Service, upacaranya dilakukan subuh-subuh. 

Di sepanjang jalan banyak bertebaran sukarelawan berseragam ANZAC menjual pin yang uang hasil penjualannya akan digunakan untuk membantu para veteran-veteran perang dunia. ANZAC itu kepanjangan dari Australian and New Zealand Army Corps. Dibentuk untuk membantu Inggris pada saat Perang Dunia I berperang melawan Ottoman empire di Gallipoli. Daerah itu sekarang jadi Turki. 

Tidak lama setelah negara-negara bagian di Australia membentuk negara federasi sendiri di tahun 1900, pecahlah Perang Dunia Pertama di tahun 1914. Inggris yang waktu itu bersekutu dengan Rusia mau minta jalan men-supply keperluan perang melalui daerah Ottoman Empire itu. Tapi Ottoman empire condong memihak Jerman, yang merupakan musuh Inggris dan Rusia waktu itu sehingga mereka menolak permintaan Inggris. Maka diseranglah empire itu. Inggris meminta bantuan kepada negara persemakmurannya, Australia dan New Zealand untuk merekrut pasukan yang kemudian diberi nama ANZAC. 

Sayangnya, nasib pasukan ini tidak beruntung di medan laga Gallipoli. Pasukan Ottoman yang dipimpin oleh Mustafa Kemal berhasil melumpuhkan penyerangan terhadap daerah teritorinya. Peristiwa itu terjadi di tahun 1915. Tanggal 25 April dini hari dimana pasukan ANZAC mendarat di Gallipoli kemudian diperingati sebagai ANZAC day. 

Relawan berseragam ANZAC yang menjual pin

Untuk menghormati pengorbanan prajurit ANZAC yang gugur di medan perang dibangun sebuah monumen yang dinamakan Shrine of Remembrance. Selanjutnya monumen tersebut bukan hanya menghormati pejuang ANZAC di perang dunia I, tapi juga perang-perang lain dan seluruh pejuang-pejuang perang dari berbagai negara di dunia.

Shrine of Remembrance dari jauh tampak seperti sebuah bangunan bergaya Yunani. Mirip seperti salah satu istana rasi bintang di film kartun Saint Saiya. Lokasinya yang lumayan jauh dari pintu gerbang membuatnya tampak lebih kecil dari pohon-pohon cemara yang berbaris di kiri dan kanan membentuk suatu garis perspektif yang seolah mengantar pengunjung menuju Shrine. Semakin kita mendekati bangunan itu semakin terlihat ukuran aslinya, menjulang dengan megah.

Susunan balok-balok batu sewarna pasir membentuk satu bangunan kokoh yang tegak berdiri di atas undakan-undakan anak tangga yang seragam. Atap nya berbentuk seperti piramida, tapi tidak mengerucut di puncaknya, semacam piramida yang terpotong. Di akhir anak tangga, paling atas, delapan batang pilar batu berdiri jangkung menyokong atap bangunan yang dihiasi ukiran patung Yunani. Patung dewa bersayap terukir di tengah sementara di sebelah kiri kanannya figur para dewa dan dewi yunani lainnya. 

Sebuah kalimat terukir di salah satu batu yang terdapat di muka Shrine, “This stone was laid November 11th 1927 by His Excellency LIEUT. COL THE RT. HON. ARTHUR HERBERT TENNYSON BARON SOMERS”. Di dalam Shrine, tepat di tengah ruangan di atas atap ada sebuah lubang yang konon setiap tanggal 11 November akan memantulkan cahaya matahari menyorot ke tulisan di tengah ruangan itu, “GREATER LOVE HATH NO MAN”. Karena ada lubang di atas itu makanya dari luar atap piramida terlihat seperti terpotong tanpa kerucut di pucuknya. 

Sekarang tidak perlu menunggu 11 November untuk bisa melihat sinar matahari memantul tepat menyinari tulisan itu karena di atas atap itu sudah dilengkapi dengan semacam cermin yang mengatur agar setiap hari kita bisa melihat cahaya matahari otomatis menyinari kalimat itu. 

Naik ke atas Shrine of Remembrance, di lantai dua ada balkon dimana kita bisa melihat rumput hijau yang melapisi halaman monumen itu seperti karpet hijau yang mulus dan pemandangan gedung-gedung kota di kejauhan.






Kita pulang melewati obor api abadi, seperti harapan para pendiri monumen Shrine of Remembrance ini agar ingatan dan penghormatan terhadap mereka yang berjuang dalam perang mengorbankan diri mempertaruhkan nyawa demi membela negaranya tak pernah padam.
 

Jumat, 22 Februari 2013

Lalitasvistara, relief di Candi Borobudur

Rupadhatu adalah tingkatan kedua dari tiga tingkatan spiritualitas yang disimbolkan melalui bentuk Candi Borobudur, merupakan dunia yang sudah terlepas dari nafsu tetapi masih terikat dengan bentuk dan rupa. Dunia yang masih terikat dengan nafsu adalah tingkatan terendah, posisinya paling bawah di Candi Borobudur, dinamakan Kamadhatu. Posisi paling atas, tingkatan tertinggi dalam pencapaian spiritualisme adalah Arupadhatu, dimana dunia sudah tak terikat oleh nafsu, bentuk dan rupa.
 
Di Rupadhatu terdapat jalur Pradaksina, ritual untuk berjalan mengelilingi Candi searah jarum jam sebanyak 3 keliling. Di sisi-sisi lorong jalur Pradaksina terdapat panel-panel ukiran yang dipahat di dinding candi berupa kisah-kisah dalam kepercayaan Budha. 

Salah satunya adalah Lalitasvistara, kisah perjalanan hidup seorang pangeran bernama Siddartha Gauthama dalam menemukan pencerahan (enlightenment) hingga mencapai level spiritual yang sempurna dan menjadi Buddha. 

Sebelum kehidupan terakhirnya sebagai Pangeran, Siddartha telah melalui 500 kali reinkarnasi, dalam wujud manusia maupun dalam wujud hewan. Sebelum Pangeran Siddartha lahir, seorang Brahma sudah meramalkan bahwa pangeran ini kelak akan mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha. Ramalan itu merupakan hasil interpretasi mimpi ibunya tentang seekor gajah yang masuk ke dalam rahimnya.
 
Tak lama setelah pangeran lahir, ibunya meninggal dunia dan sejak itu ayahnya protektif sekali. Setelah dewasa Pangeran Siddartha di suruh menikah oleh ayahnya kemudian dibuatkan istana yang mewah dengan harta bergelimpangan. Semua itu dalam usaha ayahnya untuk membatalkan ramalan sang Brahma, mencegah agar putranya tidak pergi dari istana, menjadi seorang pertapa dalam jalannya menjadi Buddha.
 

 
Pada suatu hari sang pangeran bertemu dengan laki-laki tua. Hari yang lain pangeran bertemu dengan seorang yang sakit parah. Hari yang lain lagi pangeran bertemu dengan seorang yang meninggal dunia dan dikelilingi oleh keluarganya yang bersedih. Somehow, pemahaman muncul dalam dirinya bahwa siklus kehidupan selalu diakhiri dengan penderitaan, kematian dan kesedihan. 
 
Terakhir - di hari yang lain, pangeran bertemu dengan seorang biksu, melihat pancaran kedamaian dan ketenangan dibandingkan dengan 3 pria yang ditemuinya sebelumnya. Keesokan harinya Pangeran Siddartha minta ijin kepada ayahnya untuk pergi dari istana, menanggalkan baju mewahnya, memangkas rambutnya, menggunakan jubah berwarna oranye (seperti yang hingga kini masih digunakan oleh biksu-biksu Buddha) dan menjadi seorang pertapa dengan nama Sakyamuni. 

Dalam perjalanan menuju pencerahan nya itu Sakyamuni sempat nyaris mati kelaparan dalam pertapaannya dan macam-macam rintangan lain. Sakyamuni harus melawan kekuatan dewa Mara yang berusaha menghentikan usahanya mencapai pencerahan sempurna. Bahkan saat Sakyamuni sedang bertapa di bawah pohon Bodhi dan nyaris memahami jalan menuju kesempurnaan dari sisi spiritualisme, dewa Mara mengirimkan demons nya - gagal. Kemudian dikirimlah putrinya yang cantik untuk menggoda Sakyamuni - gagal. Bahkan ketika dewa Mara sendiri turun tangan untuk melawan Sakyamuni dalam pertapaan - gagal juga. Hingga akhirnya Sakyamuni resmi menjadi Buddha pertama yang mendapatkan pencerahan sempurna.


Senin, 11 Februari 2013

Semua Hanya Demi Akang Jamie

Di kalangan kawan-kawan saya yang mayoritas sudah berstatus ibu rumah tangga, pria ini salah satu idola. Bukan cuma jago masak tapi juga ganteng. Jamie Oliver terkenal karena acara masak-masaknya di TV. Sebenarnya sih dia orang Inggris tapi spesialisasi nya di masakan Italia. Saya aja yang ga gitu suka acara masak-masak gitu kalo pas nemu di TV lagi acara nya Jamie jadi males ganti. Seneng aja gitu liat cowo cakep mengolah tepung jadi pasta, seksi banget deh pokoknya.

Sekitar 4 tahunan lalu, tahun 2008-an  gitu, Jamie memulai bisnis restorannya yang diberi nama Jamie's Italian. Sekarang cabang restorannya sudah banyak banget, di UK ada, di dubai ada, nah di Australia juga ada. Denger-denger sih tahun ini Jamie's Italian mau buka di Singapore, tepatnya di Vivo city mall, tapi ga tau juga udah ada atau belum. Yang jelas tahun lalu waktu saya ke Sydney itu kesempatan saya untuk ikut eksis dikalangan teman-teman ibu rumah tangga saya. 
Pokoknya bagaimanapun caranya saya harus cobain makan di Jamie's Italian. 

Hal tersebut saya utarakan di hari pertama saya di Sydney ketika bertemu Mba Andri, saya mengajak Mba Andri dan Cipu makan malam di Jamie's Italian. Mba Andri langsung meng-google restoran itu untuk mencari lokasi nya, ternyata ada website nya : www.jamieoliver.com/italian/australia/sydney. Alamatnya di 107 Pitt Street. Di website nya itu kita juga bisa ngintip-ngintip menu nya dan harga nya juga. 

Saya agak lega sih ternyata harga nya ga mahal-mahal amat, kalau dibandingin makan di restoran elit di jakarta ya hampir mirip-mirip sih harganya. Walaupun mungkin di Australia sana restoran akang Jamie ini masuk kategori menengah. Pasta-pastanya harganya berkisar Rp. 120 ribu -200 ribu. Steak nya Rp. 300 ribu-an. Dan yang harus dicatat adalah porsi makan di sana itu jauh lebih besar dari porsi makan di jakarta, jadi ya kalau menurut saya masih reasonable.

Langsung di malam itu kita bertiga menuju Pitt Street untuk memburu makanannya Jamie Oliver yang selama ini hanya bisa bikin saya ngences di depan televisi. Saya yang bener-bener buta lokasi mempercayakan sepenuhnya kepada Mba Andri dan Cipu untuk menemukan restoran Italia itu bermodalkan selembar peta. Entah sudah berapa blok jalan yang kita susuri belum juga menemukan restoran itu. Hingga akhirnya kita menemukan posisi Pitt Street dan mengurutkan nomornya. Tiba juga kita didepan sebuah bangunan yang di kaca depannya tertulis Jamie's Italian, Jamie Oliver Restaurant, bertinta emas. 

Akhirnya kita berhasil menemukan restoran akang Jamie, tapi sayang sekali pas itu ternyata restorannya tutup. Dua orang wanita aussie yang lagi nongkrong di depan resto itu juga ternyata bermaksud mau makan disitu tapi ternyata hari itu pas lagi tutup. Akhirnya kita pergi dengan perut hampa dan makan malam di restoran korea dekat apartement Mba Andri.

Mba Andri, Cipu dan Peta
Malam kedua, kita bermaksud kembali ke tempat itu. Makin penasaran. Di malam itu adalah hari terakhir Cipu di Sydney, dia harus kembali ke Melbourne naik bis malam jam 8. Kita kembali di 107 Pitt Street, di depan resto kaca itu, di depan tulisan berwarna emas itu. Kali ini suasana ramai sekali, tak seperti kemarin harinya yang sepi. Sangking ramainya ketika kita mau daftar, waiting listnya panjaaaaang sekali dan kita yang waktu itu datang jam 6 lewat baru kebagian jam 9 malam. Akhirnya kita harus membatalkan makan disana lagi karena cipu bisa ketinggalan bis kalau kita nunggu waiting list disana.

Malam kedua ini misi mencicipi Jamie's Italian pun gagal. Akhirnya kita makan di restoran Jepang yang letaknya ga jauh dari situ.

Malam ketiga, waktu itu temperatur sepertinya sekitar 10 der celcius, saya hanya mengenakan dress dan cardigan. Berdua dengan Mba Andri, saya baru saja menonton pertunjukan Mba Andri menari di NSW University. Kita berjalan menyusuri jalan yang sama seperti dua malam sebelumnya, menuju 107 Pitt Street. Kali ini saya berjalan sambil menggigil, saya harus mempertahankan laju kecepatan supaya badan saya tetap hangat. Tangan saya yang terlipat di dada dalam usaha memeluk diri sendiri supaya tetap hangat sepertinya sia-sia belaka. Angin yang berhembus tetap menembus kulit dan timbunan lemak hingga langsung terasa ke tulang. 

Tapi semua itu tidak akan menghentikan tekad saya untuk makan di Jamie's Italian. Apa. Pun. Yang. Terjadi.

Kita sampai di sana sudah agak malam, dan baru kebagian makan jam 11-an. Tempatnya bagus sih, temanya warehouse nya winery gitu. Jadi temboknya tuh semenan gitu, trus meja kursinya kayu-kayu, hiasannya barel-barel (tong) anggur gitu ceritanya. Tema nya ini seperti adalah winery yang mewah, karena walaupun maksudnya mau gudang tapi tetap aja ada kesan anggunnya, misalnya ada chandelier yang cantik gitu. pokoknya kesannya classy banget deh. Bahkan staff-staff nya pun ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Mereka keliatannya setipe gitu, yang cewek kayak Barbie - yang cowok (sudah pasti) kayak Ken. Karena terbawa suasana, saya jadi ninggalin tips AUD 12. Pas disana kayaknya sih ga banyak yah, tapi besok paginya ketika saya sadar dan mengkonversikan uang tips itu tiba-tiba saya nyesek.

restonya remang-remang jadi fotonya gelap hehee


Tissue nya lupa dibawa, buat kenang-kenangan *ndeso

Starter yang kita pesan, Italian Nachos... enyaaak bumbunya
Main Course saya, Mussel Linguine. Nikmaaaat

Foto Mussel Linguine yang diambil dari Web nya

PS: yang namanya Cipu sampai saat ini belum juga ngerasain yang namanya makan di Jamie's Italian.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...