Minggu, 25 Mei 2014

Tidur di Bandung dan Jogjakarta

Buat saya kriteria penginapan yang bagus dan nyaman itu yang ada tamannya dan suasananya rumahan. Sebenarnya saya kurang suka hotel yang bentuk gedung bertingkat, buat saya itu hanya tempat untuk mandi dan tidur saja tapi tidak untuk lama-lama leyeh-leyeh di hotel nya. Tapi kalau saya dapat hotel yang kriterianya seperti saya bilang di awal, walaupun gak mahal dan lebih sederhana daripada hotel gaya urban-architecture yang selalu tampak licin dan higienis - saya akan lebih betah. 

Kebetulan nih belum lama ini saya ada short trip ke Bandung dan Jogjakarta, saya menemukan penginapan yang masuk banget sama kriteria penginapan yang bikin betah. 

Wisma Joglo - Bandung

Bulan lalu saya melakukan short-trip ke Bandung di akhir pekan karena Chacha ada undangan pernikahan teman kuliahnya. Sambil menyelam minum air, saya dan Chacha pun mempergunakan kesempatan ini untuk bernostalgia mengenang masa-masa muda yang pernah kita lewati di Bandung beberapa tahun lampau.

Sudah dari sejak beberapa tahun lampau juga, yang namanya cari hotel di Bandung pas akhir pekan itu seringnya memerlukan perjuangan, khususnya di daerah Bandung Utara yang banyak tempat wisatanya. Dari mulai penginapan kelas losmen hingga hotel bintang lima selalu full-booked. Bahkan setelah semakin banyak hotel-hotel baru yang tumbuh, demand pun semakin tumbuh dan hotel-hotel itu  tetap penuh sehingga memasang tarif lebih mahal di akhir pekan. Disini hukum supply and demand berlaku dalam hal menentukan harga.

Saya & Chacha pernah menginap di hotel yang baru buka yang terletak di kawasan Dago, dekat lampu merah persimpangan Bandung Indah Plaza (BIP). Waktu itu sih katanya opening rate, jadi diskon walaupun menurut saya tetap saja ga sesuai dengan fasilitas yang di dapat. Hotelnya rapih sih, karena kan masih baru, tapi sempit banget kamar dan parkirannya. Dengan harga itu yang saya bayar hanya lokasi nya aja.

Weekend bulan lalu itu, saya & Chacha dapat penginapan enak banget dan menurut saya sesuailah value yang saya bayar sama yang didapat. Lokasi nya agak ngumpet, di Dago atas sebelum pintu masuk perumahan Dago Pakar Resort. Kalau kuat jalan kaki naik turun bukit bisa aja jalan kaki ke Warung Lela makan Mie Yamin, nongkrong sambil nyemil di Rumah Kopi, Resto Bumi Joglo yang terkenal sama Nasi Liwet nya, dan deretan resto/cafe yang terletak di daerah Ranca Kendal itu. Kalau saya sih naik mobil, soalnya walaupun jaraknya dekat tapi tanjakan nya itu bisa bikin betis kondean.

Saya dan Chacha sampai disana sudah malam, tempatnya luas banget tapi sepi, kata resepsionis nya akhir pekan ini sepi karena hanya 4  kamar yang terisi dari belasan kamar yang ada. Desain arsitekturnya tradisional jawa yang didominasi kayu-kayu ukiran, kesan rustic gitu, kalau malem-malem sepi ya berasa juga merindingnya. Apalagi ternyata saya dan Chacha dapet kamar yang luasnya bisa salto 3 kali dari ujung ke ujungnya. Furniture nya juga jaman dulu gitu gaya-gaya antik begitu. 

Tapi ketika keesokan pagi saya bangun dan keluar kamar, baru tampak keindahan penginapan yang kita tempati itu.  Karena pengunjung nya sedikit, pagi itu sarapan dipesan langsung, bukan model prasmanan yang bisa pilih gitu. Setiap orang boleh pilih lebih dari satu, saya pesan roti dan bubur kacang hijau tapi masih juga ditawarin nasi goreng. Mungkin muka saya kelihatan lapar karena sebelum sarapan morning run dulu naik turun tanjakan. 

Ternyata hotelnya juga ada semacam ballroom yang bisa disewa untuk acara kawinan, tidak besar tapi dekornya bagus. Benar-benar sesuai namanya, Joglo.

Saya suka dekor kamarnya

Bangun pagi liatnya begini

Suka perosotannnya - bukan tangga langsung tapi langsung dari undakan batu  

Dari atas ke bawah

Rumah Makan, tempat sarapan

View jalan menuju Dago Pakar

Lookout view - Bandung dari atas

Tanaman merambatnya cantik

Hotel Puri Pangeran - Jogjakarta  

Rencana saya ke Jogja baru-baru kemarin bisa dibilang dadakan, saya pesen tiket kereta dan booking hotel 3 hari sebelum berangkat. Saya pergi sendiri, janjian sama kawan saya Dayu Ary ketemuan di Jogja, tapi dia pergi sama suaminya jadi itu artinya kan saya ga bisa share bayar kamar hotel. Karena itulah salah satu pertimbangan saya booking hotel adalah yang tidak mahal tapi tidak jauh dari Malioboro karena saya pikir di sekitar area itulah Dayu Ary dan suaminya akan memilih penginapan.

Salah satu kawan saya merekomendasikan hotel yang namanya unik banget 'Rumah Mertua', kalau saya liat di internet sih bagus banget, sayangnya lokasinya jauh dari Malioboro dan walaupun tidak begitu mahal untuk ukuran hotel di Jogja tetap saja tidak masuk budget saya. Satu lagi rekomendasi dari Tante Debz, hotel yang dia tinggalin waktu ke liburan ke Jogja beberapa bulan lalu 'Sagan Huis', tarifnya masuk budget saya tapi lokasinya masih lumayan jauh sih dari Malioboro. 

Kemudian cari-cari di internet dapet hotel yang bernama 'Hotel Puri Pangeran', setelah di google liat rekomendasi dan review di blog-blog, entah kenapa saya jadi tertarik. Padahal sebenarnya reviewnya juga biasa aja sih, ga ada yang spesial gitu dari hotel ini. Dari lokasi sebenarnya lumayan jauh dari Malioboro, mungkin sama jaraknya dengan jarak Hotel Pop yang saya nginep terakhir sama Chacha ke Malioboro karena pas saya sampai disana tarif naik becak dari hotel Puri Pangeran ke Malioboro sama dengan tarif becak dari Hotel Pop ke Malioboro.

Di kereta mendekati stasiun Tugu Jogja saya SMS Dayu Ary, memberi kabar kalau saya tiba sebentar lagi. Dayu Ary membalas dengan memberi tahu kalau dia sudah sampai di hotel nya di jalan Mesjid daerah Pakualaman. Sebelumnya saya dan dia tidak saling memberitahu mau menginap di mana. Ternyata dia juga booking Hotel Puri Pangeran. Ga tau itu kebetulan, takdir, atau memang cara pikir saya sama kayak Dayu Ary. 

Saya suka hotelnya, halamannya bagus dan kamar saya di lantai bawah ada terasnya dan langsung menghadap taman. Kamarnya juga bersih, staff nya baik-baik, ramah dan helpful sekali. Staff yang mengantar saya ke kamar bahkan menolak ketika saya nyodorin tip, langsung ngacir aja gitu sambil nyengir-nyengir. Sukurlah, saya pun langsung ngantongin uang itu lagi, lumayan buat jajan.

Sarapannya juga enak walaupun pilihannya tidak banyak. Sambil diiringi pria yang nyanyi Jawa sambil metik kecapi. Walaupun ditulis disitu sarapan mulai pukul 6 - 9 pagi, tapi ketika senin subuh saya mau check out sebelum jam 6 saya disuruh sarapan dulu. "Sarapan aja dulu, mba. nanti kami siapkan minuman dan roti, tapi maaf nasi nya belum matang." 

Depannya kamar saya, pendopo tempat sarapan dan taman yang rapi

Sabtu, 17 Mei 2014

Flaneur of The Rocks

Flaneur adalah istilah bahasa Perancis yang artinya kurang lebih jalan-jalan tanpa arah tujuan. Prinsipnya adalah keluar dari rumah, berbaur dengan kegiatan di kota untuk meresapi keadaan sekitar, membuka mata terhadap keindahan tumpukan bangunan-bangunan gedung di jalan, mengamati kegiatan dan kesibukan orang-orang nya dan mendengar setiap alunan suara percakapan orang, langkah kaki dan dengung kendaraan yang lalu lalang. Menjadi penonton kehidupan disekitar dan eventually, menjadi kota itu sendiri.

Sekitar abad ke-19, Flaneur merupakan kegiatan populer dan cenderung diminati para seniman penganut aliran Romanticsm. Dengan cara inilah mereka mendapatkan inspirasi. Salah satu yang populer adalah Charles Baudelaire, seorang poet yang merangkai puisinya dari apa yang dia amati dan resapi di kehidupan ketika melakukan flaneur. 

"For the perfect flaneur, for the passionate spectator, it is an immense joy to set up house in the heart of the multitude, amid the ebb and flow of movement, in the midst of the fugitive and the infinite.  To be away from home and yet to feel oneself everywhere at home; to see the world, to be at the centre of the world, and yet to remain hidden from the world - impartial natures which the tongue can but clumsily define.  The spectator is a prince who everywhere rejoices in his incognito." - Charles Baudelaire

Buat saya Flaneur asik banget dilakukan ketika traveling. Kadang saya sengaja untuk tidak terlalu banyak riset sebelum saya pergi ke suatu tempat. Ada sih beberapa kawan saya yang itinerary nya kalau jalan-jalan itu sangat detail dan matang, ada riset tempatnya, disana musti ngapain aja, apa yang harus dicoba disana, berapa yang harus dibayar untuk transportasi, berapa harga makanan, etc, etc. Tapi buat saya esensi dari jalan-jalan adalah untuk mengetahui sesuatu yang baru dengan cara mengalaminya langsung. Jadi seringkali saya skip the details, tentukan saja lokasi nya kemudian lihat apa saja yang akan saya temukan disana.

Contoh nya di suatu pagi di kota Sydney, setelah selesai sarapan bersama Mba Andri saya menuju kawasan The Rocks sendirian untuk Flaneur. Saya tahu The Rocks itu adalah area tempat koloni pertama - yang merupakan narapidana yang dibuang, membangun tempat tinggalnya di Sydney. Daerah itu dulunya mungkin kacau luar biasa, tapi sekarang disulap menjadi area turis yang banyak terdapat rumah makan, toko-toko, hotel mewah.  

Dan yang saya lakukan di The Rocks adalah hanya melangkah kemana kaki ini membawa saya, mengambil foto pemandangan yang menurut saya menarik. Otak saya tidak dipusingkan dengan target apa saja yang harus saya lihat di The Rocks dan target apa yang harus dilakukan setelahnya, saya hanya menonton yang ada disekitar saya. Sesekali ketika mulai letih berjalan saya akan duduk dan mengamati orang-orang lalu lalang. Saya juga masuk ke toko-toko, berbincang dengan penjaga tokonya yang kebanyakan wanita usia lanjut, terakhir saya berfoto dengan street performer Aborigin yang sedang bermain Didjeridu dan membeli CD nya seharga 5 dollar.











Kamis, 08 Mei 2014

Selamat Natal di Pertengahan Januari

Pertengahan Januari. Rasanya seperti mau masuk ruangan ujian; mules dan deg2an. Petugas tiket depan ruang check in Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar tersenyum mencurigakan waktu membaca tujuan di tiket saya, "Dili?" katanya. Entah itu pertanyaan yg harus dijawab oleh saya atau oleh dirinya sendiri utk meyakinkan kalau cewek imut didepannya mau ke Dili. Mungkin karena saya bukan orang asing dan ga ada potongan seperti orang Timor, ditambah lagi karena penampilan dan barang bawaan saya juga tidak terlihat seperti akan melakukan bisnis trip.

Hampir semua orang yang saya kabari kalau saya mau jalan-jalan ke Dili bertanya, "ngapain jalan-jalan ke Dili? disana kan ga ada apa-apa."  Kalau maksudnya 'apa-apa' yang identik dengan jalan-jalan itu seperti di Bali atau Jogja atau Bandung atau Phuket, sudah jelas di negara umur 12 tahun yang bahkan belum punya mata uang sendiri tidak akan ada seperti itu. Dan memang bukan itu yang saya cari. 

Di loket check in, bapak-bapak botak gede galak mondar mandir depan loket. Beberapa orang di antrian check in tampak dikenalnya, dia salaman kesana kemari dan menyapa calon penumpang pesawat yang dikenalnya. Sepertinya tidak banyak orang yang mondar mandir Dili naik pesawat. Mbak petugas counter check in bertanya apakah ini kunjungan pertama kali ke Dili dan saya mengangguk. Bapak botak itu langsung menghampiri dan bertanya apa urusan ke Dili, ada kenalan atau tidak disana, berapa hari disana, dan menjelaskan peraturan imigrasi di Dili, kalau tiap orang harus punya minimal 100 USD/hari untuk bekal survive di sana. 

Saya menggangguk dan melempar senyuman 'everything is under control'. Terakhir dia berpesan, jangan lupa siapkan 30 USD untuk Visa on Arrival. Saya mengangguk lagi, "sudah disiapkan".

Di ruang tunggu no 5 hanya ada beberapa gelintir orang. Di luar, langit dipayungi awan hitam tebal menggumpal, rintik hujan membasahi landasan udara yang basah akibat diterjang hujan deras yang baru saja berhenti beberapa menit sebelumnya.

8.50, satu jam lagi sblm keberangkatan pesawat, 4 jam sebelum waktu mendarat di Dili, saya masih diliputi kecemasan kalau pesawatnya akan di cancel karena badai dan kemungkinan di deportasi dari Timor Leste karena alasan kedatangan saya yang tidak bermutu : jalan-jalan. Untungnya mendekati waktu keberangkatan hujan berangsur berhenti, panggilan boarding tepat waktu dan pesawat berangkat sesuai jadwal walaupun take-off di tengah gerimis.

Tiba di bandara Dili yg diberi nama seperti nama presiden pertama nya, Nicolau Lobato, saya melenggang mengikuti arus penumpang menuju antrian loket Visa On Arrival. Tanpa ditanya apa-apa, tanpa isi formulir apa-apa, saya hanya menyerahkan Paspor dan disuruh bayar 30 dollar, paspor di kasih cap Visa terus lanjut antri di loket imigrasi.

Airport Dili

Di loket imigrasi saya disambut bapak-bapak berwajah tegas tapi ramah, beliau bertanya dengan bahasa Indonesia tujuan ke Dili, saya jawab : turis, vacation. Kemudian dia tanya berapa hari, saya jawab hanya 2 hari. Kemudian bapaknya bilang (entah kenapa ini yang selalu di protes sama orang imigrasi yg mau ngecap paspor saya), "kenapa sebentar sekali?" sambil menatap gak rela.

Saya hanya mengangkat bahu.

"Baiklah, disini saya beri waktu 15 hari," dia menuliskan 15 hari di atas cap Visa on arrival, di cap kemudian dikembalikan ke saya sambil berkata "Selamat Natal” 



Kamis, 24 April 2014

Cuncawulang

Mobil Suzuki APV sewaan yang dikendarai Wawan berusaha melintasi sepotong jalan yang melintas diatas sungai kecil. Saya, Pagit dan Mba Efa pucat pasi menahan napas, khawatir mobil yang sudah mulai berasa kehilangan keseimbangan itu akan selip dari jalan yang hanya di tabur dengan sekam padi dan tergelincir ke sungai di bawahnya.

Kami berempat dalam perjalanan dari Labuan Bajo, menuju air terjun Cuncawulang. Keberadaan air terjun ini baru saya ketahui ketika melihat fotonya terpampang di tembok penginapan di Labuan Bajo, foto tampak atas dari seorang turis bule yang melompat dari atas tebing ke air dengan background air terjun yang cantik. Wawan, pemandu kami sudah memperingatkan tentang medan perjalanan yang sulit, tapi kami tidak menyangka akan mentok di satu-satu nya akses menuju ke air terjun itu yang bisa dilewati kendaraan bermotor.

Wawan terus menginjak pedal gas kuat-kuat dalam usahanya menebus jalan yang lebarnya kurang dari 3 meter itu. Bau karet terbakar yang sengit akibat gesekan ban mulai tercium, saya sendiri mulai khawatir kalau sampai ban nya terjebak di campuran sekam dan tanah liat yang licin. Masalahnya kita ada beberapa belas kilometer dari peradaban, susah banget kalau mau cari pertolongan andai mobilnya itu benar-benar stuck. 

Wawan pun menyerah, tidak mungkin mobil Suzuki APV bisa melewati jalan off road yang menanjak tajam begitu. Sebenarnya jalan itu dulunya pernah diselimuti aspal, terlihat dari bekasnya yang compang camping disana sini. Tapi sisa aspalnya lebih sedikit dari bolong nya, jadi diatas jalan tanah merah dan berlumpur itu hanya di sebarkan sekam supaya kendaraan yang melintasi tidak selip. 

Tidak lama muncul sebuah motor dikendarai seorang anak muda, akhirnya kita memutuskan saya akan menuju kampung cuncawulang duluan bersama nya kemudian meminta ojek warga disana buat jemput Pagit dan Mba Efa. Ketika saya naik ke atas motor,  mulai terasa rintik hujan. Jalan yang ditempuh juga penuh tantangan dan jebakan maut, untunglah anak muda itu tampaknya sudah biasa melewati jalan itu jadi sudah tau selah-selahnya. Sampailah kita dengan selamat di kampung Cuncawulang, saya diantarkan ke sebuah warung dimana ada beberapa orang berkumpul.

Pemuda itu segera menghampiri kawannya dan memberitahu perihal kedatangan saya ke kampung itu dan tentang dua orang kawan saya yang tertinggal di tengah jalan. Tim rescue yang terdiri dari pemuda itu lagi dan satu orang bapak pun berangkat dengan motor masing-masing. Saya ditinggal, disuruh masuk ke dalam warung.

Di dalam warung itu seperti lagi ada pertemuan. Satu meja panjang yang di sekitarnya terdapat kursi-kursi. Satu orang bapak paruh baya sedang menjelaskan sesuatu. Selain itu ada dua orang kakek-kakek, empat orang ibu-ibu dan beberapa anak kecil, mengerumuni sesuatu yang ada di atas meja itu. Awalnya saya ga jelas mereka lagi ngapain karena barang yang dikerumuni itu tertutup kepala-kepala mereka. 

Bapak paruh baya itu menoleh dan melihat saya di ambang pintu, beliau pun menyuruh saya duduk di salah satu kursi di meja itu, baru saya lihat apa yang lagi dikerumuni dengan serius. 

Sebuah iPad.

Yak, mereka sedang menonton sesuatu di iPad. 

Rasanya jadi pengen ngakak saat itu, bayangin aja, saya sudah pergi beberapa ribu kilometer ke pulau  yang sepi yang terletak di pinggir negara Indonesia, ke kota kecil banget di ujung pulau itu yang namanya labuan bajo, dari situ masih masuk ke dalam kampung yang terkucilkan dari perabadan, pas sampe yang saya liat warganya lagi nonton iPad. 

Saya juga jadi disuruh ikut nonton deh. Ibu-ibu yang duduk disebelah saya langsung menjelaskan kalau itu acara rekaman waktu Bapak Gubernur berkunjung ke kampung mereka, ada acara adatnya yang saling tuker-tuker hadiah. Ada tari-tarian penyambutan juga. Selesai acara menonton rekaman, saya masih diajak ngobrol sama warga disitu. 

Bapak paruh baya itu sepertinya salah satu orang yang berpengaruh di kampung itu, beliau cerita kalau beberapa bulan lalu kampungnya pernah dikunjungi juga sama mahasiswa-mahasiswa dari Jakarta, mereka tinggal di rumah-rumah warga selama sebulan untuk mempelajari kehidupan sehari-hari warga disitu dan membantu membereskan kampung. Saya mulai curiga kalau bapak ini mengira saya ini juga mahasiswa yang nyasar.

Mba Efa dan Pagit tak kunjung datang sementara hujan tiba-tiba turun dengan deras. Dua orang ibu-ibu berlari pulang kerumah nya, mau angkat jemuran. Saya tinggal disitu dengan bapak paruh baya itu, dua orang kakek dan sisa ibu-ibu bersama anak-anak kecilnya. Kemudian Mba Efa melongokan kepala nya dari ambang pintu, langsung di suruh duduk disamping saya sama bapak paruh baya itu. Pagit menyusul setelahnya, langsung disuruh duduk juga di samping mba efa. Dihadapan kami duduk lah warga-warga desa yang lain.

Mba efa tiba-tiba grogi, berusaha menutupi kaos tanktop nya dengan kain yang dibawanya, "Mil, ini kita ngapain ya?" katanya bisik-bisik. Mungkin Mba Efa curiga kalau kita lagi disidang warga.

"Nunggu hujan berenti, mba" jawab saya sambil bisik-bisik juga, ikutan grogi karena tampak jadi pusat perhatian di warung itu.  Kemudian si bapak yang dari tadi sibuk ngajak ngobrol kembali menceritakan soal para mahasiswa itu. Saya makin curiga dia bener-bener yakin saya, Pagit dan Mba Efa adalah mahasiswi yang nyasar.

Untungnya tidak lama hujan pun berhenti. 

Bapak itu memanggil seorang pemuda lagi yang katanya adalah putranya, perawakan pemuda itu tinggi dan kurus. Pemuda itu disuruhnya untuk mengantar kita bertiga sampai ke air terjun. "Nanti kau ajak mereka lompat dari atas tebing ya," pesan si bapak, "kalau mereka berani," tambahnya lagi dengan santai.

Perjalanan panjang dan berat menembus hutan dan melompat-lompati batu untuk menyebrang arus sungai yang deras langsung terbayar ketika melihat air terjun tersembunyi yang ada disana. Susunan batu-batu besar yang menawan dan suasananya yang damai menyejukan hati membuat saya ingin menghabiskan sisa hidup saya di tempat itu. 

Sedikit lagi sampai ke air terjun, setelah menembus hutan harus mendaki batu-batu begini

Lompaaaatttt

Pulangnya kita sama sekali tidak diminta bayaran apa-apa, padahal menurut wawan untuk wisatawan bayar masuk ke air terjun itu bisa sampai 180 ribu per orang belum termasuk bayar guidenya, karena itu wilayah konservasi hutan lindung. Saya jadi yakin kalau bapak paruh baya itu adalah orang yang berpengaruh di kampung itu, dan bapak itu mengira kita mahasiswa nyasar, jadi dia ga tega minta kita bayar uang retribusi.

Flores, memukau saya dengan keindahan alamnya dan keramahan orangnya. 

Jalan pulang dari Cuncawulang, diantar sama sunset yang cantik

Sabtu, 05 April 2014

Lari-Lari Lucu

Akhir tahun 2011, di atas sebuah kapal yang sedang berlayar di teluk Thailand, saya yang kehabisan napas gara-gara snorkeling mengejar clown fish (ikan nemo) berjanji kepada anggota tur snorkeling sekapal yang terdiri dari campuran turis Jepang, Korea dan Rusia bahwa sepulang ke tanah air saya akan mulai rajin jogging 3 kali seminggu lagi.

Sebenarnya sebelum janji itu terucap saya sudah punya niat mau rutin menjalani kegiatan lari-lari lucu lagi. Saya mulai senang lari-lari lucu sendiri sejak mulai kuliah di Bandung. Awalnya karena ga mau selalu ketinggalan kalau acara lari-lari pas ospek tiap minggu di tahun pertama kuliah, saya coba latihan sendiri tiap ada waktu kosong pagi-pagi. Kebetulan kos-an saya seberang Sabuga jadi tinggal ngesot aja. Pulang ke Jakarta, saya masih suka lari-lari lucu keliling komplek. Sejak mulai sibuk kerja, kegiatan lari-lari lucu keliling komplek mulai terbengkalai. 

3 tahun yang lalu saya pindah ke kantor yang dibelakangnya ada Jogging Track, tepatnya di taman tebet. Memang ketika mau pindah saya udah punya angan-angan bakal lari-lari lucu di taman itu sore-sore pulang kantor. Saya pun pergi ke Pondok Indah Mall, beli Running Shoes warna biru muda yang diskon 30%. Sempat lari beberapa kali di taman tebet, kemudian saya terserang penyakit demam berdarah komplikasi sama thypus. Sejak sembuh dari sakit sudah ga pernah lari-lari lucu lagi.

Di Belitung waktu snorkeling saya merasa stamina sudah sangat menurun dan badan terasa makin berat. Jadi pulang dari Belitung, saya keluarkan sepatu lari saya dari kotaknya dan saya letakkan di tempat yang bisa saya lihat tiap saat untuk mengingatkan niat saya itu. Tapi ternyata lari-lari lucu di komplek rumah saya sudah tidak lucu lagi, ga jarang saya nyaris keserempet ojek. Pernah lagi asik-asik lari diikutin sama tukang ojek dan dipaksa naik ojek, jelas-jelas bergaya olahragawati masa dikira lari gara-gara nyolong jemuran. Di setiap tikungan, perempatan, pertigaan yang ada pangkalan ojeknya, selalu aja diteriakin "ojeekkk Neeenngg??!!!"

Karena merasa kenyamanan saya lari-lari lucu terganggu, saya memutuskan untuk membeli Treadmill pakai cicilan 0% selama 12 kali. Saya pun mencampur lokasi lari-lari lucu saya, di taman tebet belakang kantor, treadmill, atau kalau lagi bisa bangun subuh banget (sebelom jam operasi abang ojek) lari keliling komplek. Saya makin termotivasi sejak pakai applikasi Nike+ di iPhone, ga terasa saya sudah berhasil lari-lari lucu hingga 5 km. Buat saya itu pencapaian besar banget, karena itu saya menghadiahi diri sendiri dengan sepatu Nike Free yang tentunya warna biru juga.

Saya belum tertarik ikut trend acara lari rame-rame yang ada sekarang ini karena buat saya lari itu adalah kegiatan individual dimana saya bisa menikmati waktu hanya dengan diri saya sambil mendengarkan beat dari lagu dance berlirik galau. Tapi kalau lokasinya yang ramai kayak di Senayan gitu saya seneng, apalagi kalau banyak jajanan yang lucu-lucu juga. Waktu itu saya pernah coba lari di Ecopark Ancol, bagus banget disana. Abis lari di Ecopark jalan ke arah pantai Ancol liat orang-orang yang lagi pada piknik dan main-main di pantai.

Lari bareng burung-burung di Ecopark

Pantai Ancol di hari Minggu

Mendokumentasikan diri di pantai ancol

Yang belum pernah saya coba itu lari-lari lucu pas Car Free Day di daerah Sudirman. Beberapa minggu lalu pernah diajak adik saya, Chacha, yang baru beli sepatu lari Nike Free juga. Ceritanya dia mau uji coba sepatu baru nya di CFD. Subuh-subuh dia udah heboh, kami pun berangkat ke daerah Sudirman di hari Minggu itu. Ternyata pas tiba di kawasan Sarinah, tempat parkir mobil, tiba-tiba hujan turun. Saya dan Chacha memutuskan menunggu di Dunkin Donut, akhirnya bukannya olahraga yang ada cuma numpang sarapan donat di Sarinah karena hujannya konsisten hingga siang.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...