Sabtu, 14 Mei 2016

Akhirnya Daftar Acara Race

Suatu sore bulan April, saya dan Nico sedang berada di sebuah café di daerah Tebet dekat kantor kita, ganti suasana sambil meneruskan pekerjaan di laptop masing-masing. Tiba-tiba dari balik laptopnya Nico bilang kalau lagi daftar acara Bali Marathon.

“Memangnya kapan Bali Marathon?” Saya sekedar bertanya. Bukan kali ini Nico heboh sama daftar acara race, tahun lalu kayaknya hampir semua acara race di Jakarta dia ikut.

Beberapa kali saya diajak tapi tidak tertarik. Pertama, saya memang kurang suka ada di acara yang banyak orangnya seperti acara karnaval, konser, pawai dan kemungkinan besar tidak akan nyaman berada di acara lari massal. Itu karena tinggi badan saya yang lebih pendek dari kebanyakan orang, jadi kalau di tempat ramai gak keliatan apa-apa, cuma bahu dan perut orang-orang. Pusing.

Kedua, karena memang belum ada acara race yang bikin saya tertarik untuk ikut. Paling tidak cukup menarik untuk bikin saya rela bayar uang pendaftaran, bangun subuh banget dan mengeluarkan extra tenaga untuk hanya mencapai lokasi racenya. Waktu itu sempat ada acara race yang nyaris bikin saya tertarik, acara lari tapi dikejar zombie. Tapi itu nyaris saja, akhirnya saya juga gak jadi daftar.

Kali ini ketika Nico menyebutkan tanggal acaranya, saya langsung jawab, “Gw ikut deh.” 

Tanggal itu pas banget sama tanggal ulang tahun saya versi KTP. Aslinya saya lahir 2 hari sebelum itu, tapi waktu bikin akta kelahiran petugasnya salah tulis dan orang tua saya terlalu malas untuk mengurus perbaikannya. Memang petugas catatan sipil itu punya peran penting dalam menentukan masa depan seseorang, saya cukup beruntung hanya salah tulis tanggal lahir, tidak salah tulis nama. Akhirnya sampai sekarang di KTP, Ijazah, dan data-data resmi lain pakai tanggal yang sesuai di KTP. 
  
Beberapa hari kemudian saya lagi jalan-jalan di Lotte Avenue Kuningan, lewat di depan toko yang pasang pengumuman diskon 50% untuk sepatu Asics. Kebetulan saya memang sudah agak lama merencakan dan menabung untuk beli sepatu baru karena Nike Free yang saya beli sebagai rewards karena berhasil lari sejauh 5km dulu umurnya sudah lebih dari 2 tahun.

Sudah agak lama saya browsing sana sini tentang sepatu yang mau saya beli, Asics memang salah satu yang masuk ke list saya. Ada 3 alternatif pilihan waktu itu, Nike Free lagi karena saya memang seneng banget pakai itu karena ringan, New Balance, dan Asics. Diantara 3 itu yang paling mahal memang sepatu Asics, tiba-tiba saja saya ketemu diskonan 50% di saat yang tepat ketika saya perlu untuk persiapan Bali Marathon. Jadi lumayan banget penghematannya. 

Sisa uang simpanan untuk beli sepatu saya belikan Sports Bra. Selama ini saya tidak pernah punya sports bra, kalau lari pakai bra biasa saja. Karena ukuran dada saya juga minimalis dan jarak lari saya juga belum jauh-jauh amat jadi saya belum merasa ada pengaruhnya. Walaupun saya sering baca kalau sports bra itu penting untuk menahan dan menjaga otot payudara dari guncangan-guncangan pas kita lari. Waktu lari, payudara itu ga cuma bergerak naik turun tapi gerakannya seperti angka 8, alias bergerak ke segala arah. Konon itu katanya lama-lama bisa bikin otot yang menopang payudara jadi lemah dan bentuknya jadi sagging. Yah karena untuk kedepannya saya bakal lari lebih dari satu jam, jadi saya pikir sudah saatnya pakai. Sports Bra jauh lebih ketat daripada bra biasa, waktu pertama kali pakai saya agak sedih liat dada saya jadi rata kayak cowok. Hiks. 

Untuk race perdana saya ini, saya daftar untuk kategori Half Marathon, 21 Km. Waktu itu impulsif aja daftarnya, saya tidak sadar hingga suatu saat lagi iseng-iseng baca postingan blog yang dulu-dulu, ternyata saya pernah bilang mau HM pas birthday run. Di postingan berjudul Tiba di 10 Kilometer Pertama tahun 2015 lalu saya berasa aneh baca balesan saya sendiri waktu Cipu komentar “Ayo ikut race, mayan dapat baju lari lucu.”

Waktu itu balasan saya, “birthday run thn dpn gw mau HM ah.” Itu ditulis tanpa tahu di masa depan memang ada acara race pas birthday saya. Ternyata ada. Kebetulan banget. 

Sabtu, 07 Mei 2016

Lari di BUPERTA Cibubur

Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (BUPERTA) Cibubur jaman saya SD dan SMP dulu terkenal sebagai tempat perkemahan untuk kegiatan Pramuka. Saya juga sempat mengalami kemping di Cibubur. Waktu itu  sudah ada McDonald, tapi dari Jakarta ke Cibubur rasanya jauh sekali, rasanya kayak ke daerah puncak atau bandung. Jaman dulu  kan daerah antara jakarta dan cibubur masih sepi dan masih banyak tanah-tanah kosong. Siapa sangka hanya butuh waktu kurang dari 20 tahun untuk menjadikan daerah yang tadinya kosong jadi daerah padat pemukiman.

Terakhir saya ke BUPERTA Cibubur ketika SMP kelas 1. Waktu itu karena hujan deras lokasi camping kelompok saya tergenang air sehingga kompor minyak tanah yang akan digunakan untuk masak sumbunya basah. Waktu itu campingnya masih pakai kompor minyak tanah dan tenda yang disusun manual dari terpal pakai rangka potongan bambu yang diikat dengan tambang dan diikat pakai pasak yang ditanam di tanah, tidak pakai tenda dome. Beruntung ada orang tua salah satu kawan kelompok saya yang datang. Melihat kondisi kami kebasahan dan tidak bisa masak, kami dibelikan McDonald. Waktu itu McDonald Cibubur yang depan BUPERTA sudah ada.

20 tahun kemudian saya kembali lagi untuk lari. Awalnya karena lihat Cipu beberapa kali share foto lari di BUPERTA Cibubur, jadi suatu sabtu saya dan nico janjian sama cipu lari bareng disana. Masuk ke area bumi perkemahan bayar karcis, untuk umum 6000 dan mobil 8000. Tempat parkir luas, banyak tukang jualan makanan dan minuman, dan ada toilet. Tempat ini rasanya jauh berbeda dari yang saya ingat waktu saya kecil. Seingat saya dulu BUPERTA Cibubur ini seperti hutan yang rimbun, sekarang rasanya hanya seperti taman yang agak luas. Bahkan tempat ini rasanya tidak seluas ingatan saya. Satu keliling lari disini 5 km lebih, jalurnya banyak tanjakan turunan, seru buat latihan lari dikontur yang tidak rata.

Jalur lari di BUPERTA Cibubur

Nico, Saya dan Cipu di depan tempat yang jadi lokasi syuting sinetron

Senin, 02 Mei 2016

Bunga Matahari

Peruntungan saya dalam menanam bunga tidak sebagus dalam hal menanam sayur-sayuran. Sudah macam-macam jenis bunga saya coba beli bijinya untuk ditanam tapi selalu gagal kecuali satu jenis bunga, yaitu Marigold. Ternyata menanam bunga lebih sulit dari menanam sayur, kebanyakan biji yang saya tanam tidak berhasil berkecambah. Yang berkecambah pun rentan sekali karena kebanyakan sangat kecil dan halus sehingga cepat layu dan mengering. 

Dari sekian banyak biji bunga yang gagal saya tanam, ada satu bunga yang saya coba terus menerus. Bunga Matahari. Saya kepingin banget menanam bunga matahari karena suka dengan warna dan bentuknya yang menimbulkan kesan ceria. Biji-biji bunga matahari yang saya tanam pertama kali tidak ada yang berkecambah. Saya menanamnya dengan metode yang sama seperti menanam sayur, di dalam wadah gelas plastik berisi tanah. Biji bunga matahari ukurannya besar, ya seperti kuaci bunga matahari, jadi satu gelas saya tanam satu biji bunga matahari.

Saya tunggu dengan sabar berminggu-minggu, tak pernah lupa saya cek keadaan tanahnya agar selalu lembab, tapi tidak ada yang berkecambah. Saya sudah coba cari-cari sumber dari internet tentang berbagai metode menanam bunga matahari, kemudian saya coba cari apa kesalahan saya, tapi dari yang saya lihat sepertinya menanam bunga matahari itu gampang banget. Malahan ada youtube video anak kecil yang kasih tutorial menanam bunga matahari, dia hanya bolongin tanah depan rumahnya pakai pensil, masukan biji matahari, dan beberapa hari kemudian sudah tumbuh bakal calon daun bunga matahari. KZL.

Saya pun coba beli lagi biji bunga matahari. Dari satu pak isi 10 biji saya coba tanam dengan metode berbeda-beda. Ada yang saya rendam air dulu semalaman, ada yang langsung saya tanam ditanah, ada yang saya bungkus di kertas tissue yang lembab kemudian dimasukan dalam plastik, ada yang ujung bijinya saya potong sedikit pakai gunting kuku kemudian ditanam di tanah. 

Saya tunggu beberapa minggu lagi, tapi dari semua metode cara menanam bunga matahari yang saya ambil dari internet itu tidak ada satu pun yang berkecambah. Malahan biji bunga matahari yang saya bungkus di dalam kertas tissue basah mengeluarkan mahluk aneh seperti cacing halus dari dalam bijinya.

Tadinya saya berpikir mau beli satu set perlengkapan menanam bunga matahari yang dijual di Ace Hardware, sama seperti tanaman tomat pertama saya. Tapi sementara belum sempat ke Ace Hardware saya kembali memesan biji bunga matahari secara online.

Bulan Januari 2016 saya kembali coba menanam biji bunga matahari. Kali ini saya tidak pakai metode macam-macam, biji saya tanam dalam wadah gelas plastik berisi tanah. Keterangan di bungkusnya bilang kalau biji akan berkecambah dalam waktu 14-21 hari. Saya sangat tidak menyangka ketika 4 hari kemudian salah satu gelas berisi bunga matahari berkecambah. Senangnya pakai bingits sumpe deh.

Setelah tumbuh daun sejati dan saya rasa cukup besar (sekitar 4-5 minggu), saya pindahkan bunga matahari itu ke kebun saya di depan, diantara tanaman okra dan jagung. Bulan Maret, ketika setiap hari pasti selalu hujan deras, bunga matahari pertama saya mekar walaupun tampak lesu karena kurang kena sinar matahari tapi tetap kelihatan vibran. Tinggi tanamannya sekitar satu meter dan bunganya nyaris selebar telapak tangan saya. 

Sebulan setelah biji bunga matahari pertama saya berkecambah saya tanam lagi, masih biji dari bungkus yang sama. Dari 3 biji yang saya tanam ada satu lagi yang berkecambah. Hal itu membuat saya berpikir mungkin biji bunga matahari yang saya beli sebelumnya sudah lama, jadi sudah tidak bisa berkecambah, bukan metode tanam saya yang salah.

Saya baru ngerti kenapa bunga satu ini termasuk salah satu yang favorit dan sering jadi objek foto, karena melihatnya saya rasanya sudah bikin hati bahagia. Jadi pingin tanam bunga matahari yang banyaaaakkk.

Biji bunga matahari berkecambah di gelas plastik, belakangnya sawi

Bakal bunga mulai mau mekar

Mesmerising kan ?

Sabtu, 23 April 2016

Mengantar Si Mama Belanja

Saya sebenarnya bukan termasuk orang yang suka shopping, kalau mau beli sesuatu musti perlu dulu dan kalau pergi ke mall atau ke toko khusus untuk beli barang yang diperluin itu. Misalnya, sepatu. Biasanya teman-teman saya beli sepatu kalau ada model baru, atau pas lagi jalan atau liat online shop ada model yang disuka langsung beli, atau kalau lagi ada sale di brand tertentu. Saya cuma beli sepatu kalau salah satu sepatu saya rusak atau sudah jelek. Dan biasanya belinya modelnya pasti sama. Misalnya sepatu resmi saya untuk urusan kantor yang serius pasti hitam polos. Kalau sehari-hari saya sering pakai sepatu Converse dan kalau rusak saya selalu beli Converse lagi. 

Baju juga begitu. Saya jarang beli baju. Malahan Mama saya yang kadang suka menyelipkan baju baru di lemari saya diam-diam karena liat baju yang saya pakai itu lagi, itu lagi. Handphone saya juga biasanya saya pakai sampai rusak atau hilang, jadi sementara kawan-kawan saya sudah ganti tipe handphone 3 kali, saya masih setia dengan handphone yang saya beli 5 tahun lalu. Malahan iPhone saya tahun depan sepertinya sudah gak bisa update iOS karena udah mentok. Tapi karena masih bagus, saya belum ada niat untuk ganti.

Kadang ada barang yang saya kepingin banget tapi bimbang untuk beli karena sayang uangnya. Iya, saya memang se-pelit itu hihihi. Sejak jarak tempuh lari saya meningkat saya kepingin banget punya Garmin Forerunner, tipe yang saya mau pun saya sudah tau. Tapi untuk beli nya masih maju mundur, belum yakin. 

Walaupun gak terlalu suka shopping, kalau travelling saya tetap suka liat-liat pusat perbelanjaan, toko-toko, pasar. Saya senang lihat-lihat barang apa yang lagi trend disana, perbedaan harganya dengan disini, bagaimana cara dagang orang-orang disana, cuma mengamati saja buat saya seru. Ya pasti beli lah satu atau dua barang yang khusus mengingatkan kalau saya pernah ke tempat itu. 

Waktu pertama ke Bangkok, saya awalnya berangkat sendiri, kemudian janjian dengan dua orang kawan yang menyusul. Saya sempat ikut dua orang kawan saya muterin beberapa pusat perbelanjaan di Bangkok, tapi hari berikutnya saya putuskan pisah lagi sama kawan-kawan saya yang masih belum puas belanja dan jalan sendiri ke Vimanmek Mansion.

Ke Bangkok tahun ini tujuan utama saya memang mengantar Mama saya shopping spree di Bangkok, jadi di itinerary yang saya bikin untuk Mama saya setiap hari pasti ada shoppingnya. Malahan sebagian besar waktu dihabiskan di pusat perbelanjaan. 

Tiba di Bangkok hari pertama, malamnya kami langsung melipir ke Patpong Night Market. Jalan kaki dari hotel yang sengaja saya pilih di daerah Silom. Memang ibu-ibu itu kalau soal belanja cepet banget adaptasinya, biar bahasanya gak nyambung tapi Mama saya tetap saja bisa tawar menawar barang sendiri, malahan colek-colekan ama banci.

Keesokan harinya setelah lihat-lihat Wat dan Sleeping Buddha, kami naik taksi ke Siam Square dan jalan kaki ke MBK. Nah Mama saya betah nih di MBK. Mallnya gede banget, enaknya kalau belanja oleh-oleh disini ada tempat khususnya dan harganya pas, jadi gak perlu repot nawar. Baju-baju a la thailand juga banyak disini dan harga pas. Oleh-oleh makanan juga komplit. 

Keesokan harinya adalah hari sabtu. Pagi-pagi kami naik taksi dari depan hotel ke chatuchak. Mama saya juga betah disini. Saya dan Anissa, adik bungsu, cuma menunggu sambil ngopi di depan Clock Tower. Saya sempat minta difotoin di depan Clock Tower, tapi pas lagi gaya tiba-tiba di belakang saya muncul rombongan orang foto pre-wed pakai wedding dress putih. Sengaja banget mau nyindir jomblo. KZL. 

Liat yang foto pre wed dibelakang huhuu
Sebelum makin siang dan panas, saya menggiring Mama saya untuk pindah dari chatucak ke Pratunam naik taksi. Muter-muter sebentar di Platinum mall, Mama saya tampak kurang tertarik. Kami makan siang disana kemudian ke Siam Paragon karena mau ke Madame Tussaud. Setelah dari Madame Tussaud, Mama saya minta balik ke MBK. Betah banget, bu.

Dan..... seperti biasa, setiap pergi sama Mama saya ketika pulang barang bawaannya bertambah satu koper lagi.

Sabtu, 09 April 2016

Pantai Bodur

Lagi sumpek sama Jakarta dan kangen sama pemandangan pasir putih dan laut biru yang masih bersih? Ada Pantai Bodur di Tanjung Lesung, hanya 4 - 5 jam dari Jakarta. Untuk ke Pantai ini dari Jakarta bisa melalui dua jalur, lewat toll merak keluar di Pandeglang atau exit toll Cilegon menyusuri jalur pantai Anyer - Carita- Labuan. 

Kalau pilih jalur lewat Pandeglang waktu tempuh lebih dekat, tapi harus jeli memperhatikan penunjuk arah ke Tanjung Lesung. Di beberapa persimpangan ada petunjuk arahnya. Kalau sudah ketemu PLTU Labuan berarti Tanjung Lesung sudah dekat. Kalau lewat jalur anyer jarak tempuh memang lebih lama karena jalan memutar tapi lebih mudah karena tinggal lurus-lurus saja mengikuti jalur pantai hingga ketemu persimpangan yang ada petunjuk ke arah PLTU Labuan, arah yang sama dengan Tanjung Lesung.

Kalau mau trip satu hari PP dari Jakarta bisa banget, kalau mau menginap yang tidak mahal di dekat pintu masuk Tanjung Lesung banyak terdapat homestay di pinggir jalan. 

Untuk ke Pantai Bodur harus masuk ke kawasan resort Tanjung Lesung dulu, posisinya ada di paling ujung kawasan ini. Waktu saya kesana banyak terdapat warung-warung tapi sepi, konon kata penjaga resort dulunya Pantai Bodur terbuka untuk umum, tapi kemudian setelah diambil alih dikelola oleh resort jadi tidak seramai sebelumnya tapi lebih bersih dan ekslusif. 

Lokasinya sebenarnya cukup unik, karena sebelum ketemu pantai kita akan lihat melewati semacam savana yang dihiasi rumput, beberapa kumpulan semak dan sedikit pohon. Mungkin juga karena waktu saya kesana lagi musim panas, tumbuhan di kawasan itu tampak mengering sehingga mirip savana dengan rumput kering kecoklatan.

Panas tapi fotogenik.







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...