Suatu sore bulan April, saya dan Nico sedang berada di sebuah café di daerah Tebet dekat kantor kita, ganti suasana sambil meneruskan pekerjaan di laptop masing-masing. Tiba-tiba dari balik laptopnya Nico bilang kalau lagi daftar acara Bali Marathon.
“Memangnya kapan Bali Marathon?” Saya sekedar bertanya. Bukan kali ini Nico heboh sama daftar acara race, tahun lalu kayaknya hampir semua acara race di Jakarta dia ikut.
Beberapa kali saya diajak tapi tidak tertarik. Pertama, saya memang kurang suka ada di acara yang banyak orangnya seperti acara karnaval, konser, pawai dan kemungkinan besar tidak akan nyaman berada di acara lari massal. Itu karena tinggi badan saya yang lebih pendek dari kebanyakan orang, jadi kalau di tempat ramai gak keliatan apa-apa, cuma bahu dan perut orang-orang. Pusing.
Kedua, karena memang belum ada acara race yang bikin saya tertarik untuk ikut. Paling tidak cukup menarik untuk bikin saya rela bayar uang pendaftaran, bangun subuh banget dan mengeluarkan extra tenaga untuk hanya mencapai lokasi racenya. Waktu itu sempat ada acara race yang nyaris bikin saya tertarik, acara lari tapi dikejar zombie. Tapi itu nyaris saja, akhirnya saya juga gak jadi daftar.
Kali ini ketika Nico menyebutkan tanggal acaranya, saya langsung jawab, “Gw ikut deh.”
Tanggal itu pas banget sama tanggal ulang tahun saya versi KTP. Aslinya saya lahir 2 hari sebelum itu, tapi waktu bikin akta kelahiran petugasnya salah tulis dan orang tua saya terlalu malas untuk mengurus perbaikannya. Memang petugas catatan sipil itu punya peran penting dalam menentukan masa depan seseorang, saya cukup beruntung hanya salah tulis tanggal lahir, tidak salah tulis nama. Akhirnya sampai sekarang di KTP, Ijazah, dan data-data resmi lain pakai tanggal yang sesuai di KTP.
Beberapa hari kemudian saya lagi jalan-jalan di Lotte Avenue Kuningan, lewat di depan toko yang pasang pengumuman diskon 50% untuk sepatu Asics. Kebetulan saya memang sudah agak lama merencakan dan menabung untuk beli sepatu baru karena Nike Free yang saya beli sebagai rewards karena berhasil lari sejauh 5km dulu umurnya sudah lebih dari 2 tahun.
Sudah agak lama saya browsing sana sini tentang sepatu yang mau saya beli, Asics memang salah satu yang masuk ke list saya. Ada 3 alternatif pilihan waktu itu, Nike Free lagi karena saya memang seneng banget pakai itu karena ringan, New Balance, dan Asics. Diantara 3 itu yang paling mahal memang sepatu Asics, tiba-tiba saja saya ketemu diskonan 50% di saat yang tepat ketika saya perlu untuk persiapan Bali Marathon. Jadi lumayan banget penghematannya.
Sisa uang simpanan untuk beli sepatu saya belikan Sports Bra. Selama ini saya tidak pernah punya sports bra, kalau lari pakai bra biasa saja. Karena ukuran dada saya juga minimalis dan jarak lari saya juga belum jauh-jauh amat jadi saya belum merasa ada pengaruhnya. Walaupun saya sering baca kalau sports bra itu penting untuk menahan dan menjaga otot payudara dari guncangan-guncangan pas kita lari. Waktu lari, payudara itu ga cuma bergerak naik turun tapi gerakannya seperti angka 8, alias bergerak ke segala arah. Konon itu katanya lama-lama bisa bikin otot yang menopang payudara jadi lemah dan bentuknya jadi sagging. Yah karena untuk kedepannya saya bakal lari lebih dari satu jam, jadi saya pikir sudah saatnya pakai. Sports Bra jauh lebih ketat daripada bra biasa, waktu pertama kali pakai saya agak sedih liat dada saya jadi rata kayak cowok. Hiks.
Untuk race perdana saya ini, saya daftar untuk kategori Half Marathon, 21 Km. Waktu itu impulsif aja daftarnya, saya tidak sadar hingga suatu saat lagi iseng-iseng baca postingan blog yang dulu-dulu, ternyata saya pernah bilang mau HM pas birthday run. Di postingan berjudul Tiba di 10 Kilometer Pertama tahun 2015 lalu saya berasa aneh baca balesan saya sendiri waktu Cipu komentar “Ayo ikut race, mayan dapat baju lari lucu.”
Waktu itu balasan saya, “birthday run thn dpn gw mau HM ah.” Itu ditulis tanpa tahu di masa depan memang ada acara race pas birthday saya. Ternyata ada. Kebetulan banget.









