Rabu, 19 Februari 2014

Kindness of Strangers

Kadang kita takut untuk pergi jauh dari lingkungan hidup kita sehari-hari karena khawatir bahwa dunia di "luar sana" adalah dunia yang kejam. Tapi buat saya ga selalu begitu. Ketika saya traveling saya selalu menemukan banyak orang  baik bertebaran dimana-mana, itu semakin membuat saya optimis dalam memandang dunia ini. 

Pengalaman saya selama traveling selalu positif, orang-orang yang saya temui di jalan kebanyakan adalah orang yang ramah dan baik. Malahan selama ini saya ga pernah (dan jangan sampe) kena modus scam atau ditipu. Kalau soal modus penipuan atau scam memang kebanyakan saya riset dulu sebelum pergi ke suatu tempat dan sebisa mungkin menjauhi tempat-tempat nya. Kalau memang tempat yang mau saya datangi itu yang banyak modus scam nya, ya saya waspada tingkat tinggi dan berusaha supaya ga narik perhatian - usaha yang ga gitu susah dengan ukuran badan segede saya gini sih. 

Sering juga saya dapet "peringatan" mengenai modus scam dari ngobrol-ngobrol sesama turis atau traveler atau backpacker atau whatever yang saya temui di jalan. Agak aneh juga kalau lagi jalan-jalan trus ketemu sesama pelancong walaupun dari beda negara, bahkan seringkali ga tukeran nama, tapi kita bisa ngobrol banyak. Tukeran informasi tempat yang sudah dan akan dikunjungi, tempat makan, sampai modus scam. Beberapa kali saya ngalamin kayak gitu, malahan di Bangkok saya sempat dapat lungsuran buku guide tentang thailand dari cowo bule agak tua yang ngobrol sama saya pas sarapan di hostel di hari pertama saya dan hari terakhirnya dia, trus dia mewariskan buku guide nya yang tebel tapi udah lusuh kumel karena di abuse selama hampir 3 bulan di Thailand. Sampai sekarang masih saya simpen.

Menemukan kebaikan hati orang yang ga kita kenal di tempat  yang asing itulah yang buat saya pengalaman paling berharga. Buat saya tingkat tertinggi dari tolong-menolong adalah yang tulus dan tanpa pamrih, satu tingkat lebih tinggi dari itu adalah tolong-menolong sesama orang yang kita ga kenal sebelumnya. Kita berbuat baik karena kita ingin berbuat baik, bukan karena orang itu adalah kawan kita atau bukan karena suatu saat kita mengharapkan kalau kita susah orang itu bakal bales nolongin kita juga karena belum tentu kita bakal ketemu lagi. 

Suatu saat ketika saya lagi bingung di pinggir jalan kota Bangkok, lagi mikir gimana caranya nyebrangin jalan dan lagi nunggu orang lokal yang nyebrang supaya saya bisa mencontoh tiba-tiba lewat di depan saya cewe bule yang nanya. "mau nyebrang jalan?".

Saya mengangguk.

Kemudian cewe itu menjelaskan, "kamu jalan dulu ke arah sana terus nyebrang di lampu merah di bawah jembatan, balik lagi ke arah di depan sana. Tadi juga saya bingung cari jalan nyebrangnya." Dan cewe itu langsung berlalu setelah saya mengucapkan terima kasih.

Sebelum saya ke Timor Leste saya ngobrol sama salah satu temen kuliah saya dulu, pas itu saya cerita kalau sebulan lagi saya mau jalan-jalan ke Timor Leste. Kemudian temen kuliah saya itu bilang kalau dia punya temen orang Dili, dulu temen satu kos di Bandung. Namanya Livio Jesus Amaral de Oliveira, panggilannya Kiko. Saya diberi nomor kontak Whatsapp nya dan beberapa hari sebelum saya ke Dili saya menghubungi nya. 

Kiko itu baik banget, pas saya sampe ke Dili saya langsung di jemput di bandara dan hotel yang sudah saya booking ga jadi ditempati karena Kiko menawarkan untuk menginap di rumahnya. Dari kantornya dia terus memantau, saya ada dimana atau apakah saya nyasar, "kalau nyasar nanti bilang aja, aku jemput," katanya. 

Tuan Rumah di Dili yang namanya kayak pemeran telenovela

Di Pink Beach Pulau Komodo, ketika saya, Pagit dan Mba Efa sedang menikmati makan siang di atas kapal sebelum kapal kita menempuh perjalanan 4 jam kembali ke Labuan Bajo, kita di samperin sama salah satu orang dari kapal lain yang lagi bawa rombongan turis dari Bali. Perjalanan mereka berhari-hari dari Bali ke Pulau Komodo, bermalam di kapal dan berhenti di beberapa tempat yang dilalui sepanjang perjalanan. Tapi baru setengah perjalanan ada seorang perempuan bule yang sakit demam, ga mungkin nunggu beberapa hari lagi sampai mereka kembali tiba di bali, jadi orang itu minta ijin supaya penumpangnya boleh numpang kapal kita bertiga sampai Labuan Bajo.

Kita bertiga pun langsung memperbolehkan perempuan itu - ditemani sama pacar cowo nya, pindah ke kapal kita bersama barang bawaan mereka yang segambreng sampai di Labuan Bajo. Malahan kita sempat bawa mereka ke hotel tempat kita nginap karena mereka sama sekali ga ada persiapan mau terdampat di kampung kecil kayak Labuan Bajo. Beruntung mereka ketemu kita bertiga yang booking satu kapal, kalau mereka ketemunya sama kapal tur yang ada pemandunya pasti mereka bakal disuruh bayar mahal buat numpang ke Labuan Bajo. 

Buat Pagit, balasan datangnya ga lama. 

Lunch di atas kapal
Keesokannya saya, Pagit dan Mba Efa pergi ke air terjun. Kita jalan kaki lebih dari 5 km dari kampung terdekat menuju ke air terjun, menembus hutan belukar yang masih alami. Perjalanan pergi sih lumayan karena jalanan menurun, dalam hati saya udah mulai mikir ini jalan pulangnya pasti berat banget. 5 kilometer jalan menanjak di lumpur-lumpur. Mantap.

Sebelum masuk ke dalam hutan kita ketemu sama gerombolan bapak-bapak yang sedang mengatur napas nya. Mereka naik mobil 4WD ban gede yang bisa tembus jalanan Off-Road, ada 2 mobil. Melihat kita bertiga, cewe-cewe, dengan 2 orang pemandu orang lokal, bapak-bapak itu memberi semangat ke kita dengan berkata bahwa bagaimanapun perjalanan yang kita tempuh itu worth it karena air terjun nya memang indah luar biasa.

Air terjunnya memang indah luar biasa.

Perjalanan pulangnya juga luar biasa. Awalnya kita harus keluar dari hutan itu dengan posisi nyaris merayap karena jalan nya terjal. Keluar dari hutan kita masih harus jalan menanjak di tanah berlumpur, sampai ke kampung cuncawulang. Beberapa ratus meter berjalan, pagit sudah kepayahan jalan paling belakang sambil setengah sadar meracau, "Coca Cola Dingin... Coca Cola Dingin...".

Pemandu kita, seorang anak muda kurus tinggi penyabar dari kampung cuncawulang berusaha menghibur pagit, "iya sabar, nanti kalau udah sampai di warung ya, kakak."

Tapi pagit terus saja merapal , "Coca Cola Dingin.. Coca Cola Dingin..." seolah-olah itua dalah mantra yang menguatkan langkah nya yang tertatih. 

Tiba-tiba di kejauhan saya melihat dua mobil off-road milik gerombolan bapak-bapak terparkir di pinggir jalan lumpur. Saya segera menghampiri dan sok akrab ngajak ngobrol salah satu bapak yang kurus kecil.

"Kenapa, pak mobilnya?" tanya saya.

"Yang satu pecah ban," katanya sambil menunjuk salah satu mobil yang sedang di dongkrak, salah satu ban nya lagi dalam proses dilepasin,"ban  nya mau dibawa ke kota, mau dibenerin dulu."

"Oooo..." jawab saya.

"Kalian dari mana?" tanya bapak itu.

"Kita dari Jakarta, Pak. Jalan-jalan kesini," jawab saya, "Bapak rombongan darimana?"

"Kita dari Bandung." kata bapak itu.

"Naik mobil dari Bandung sampai ke sini,pak?" tanya saya takjub.

"Iya. kita dari Geologi..." bapak itu mejelaskan.

Tiba-tiba entah darimana Pagit menyeruak masuk ke pembicaraan kita.

"Bapak dari Geologi? Bandung? kenal ibu A (pagit nyebut salah satu nama yang saya luap)?" 

"Kenal lah." kata bapak itu.

"Saya ini keponakannya, pak," kata pagit dengan intonasi seperti di sinetron-sinetron disaat seorang anak yang sudah bertahun-tahun hilang menemukan kembali jejak ibu kandungnya : saya ini anaknya, pak.

Tapi rupanya ban pecah itu, bapak-bapak dari Bandung yang sedang meneliti struktur batuan di air terjun itu, bapak-bapak dari Bandung yang kerja bareng tantenya Pagit itu, adalah semacam oase di padang pasir bagi pagit, bantuan yang dikirimkan Tuhan buat Pagit. Tidak lama Pagit sudah ada di salah satu mobil yang akan membawa ban pecah untuk diperbaiki ke kota, Pagit di antar sampai ke warung di kampung cuncawulang.

Cerita lebih lengkapnya dari sudut pandang Pagit langsung di cekidot disini:

Saya optimis bahwa diantara segelintir orang jahat, maniak, psikopat, pembunuh berantai, koruptor di dunia ini, masih lebih banyak orang yang baik. 

Jumat, 07 Februari 2014

Blue Mountains yang (ternyata) tidak biru

Setiap pergi ke tempat baru, saya selalu bernafas lega kalau menemukan suatu logo yang familiar, misalnya kayak KFC, McD, Burger King, Starbucks. Rasanya seperti menemukan teman yang saya kenal di tempat asing. Paling tidak mengurangi perasaan ngeri saya terhadap uncertainty suatu tempat asing. 

Ya. Saya selalu ngeri kalau mau pergi ke tempat yang  baru. Biasanya semakin mendekati lokasi saya makin deg-deg-an, adrenalin rush gitu kayaknya, perasaan ngeri yang bercampur dengan excitement. Itulah yang saya rasakan di dalam kereta dari Sydney menuju Blue Mountain, pandangan saya memang terlempar ke luar jendela tapi pikiran saya berkecamuk di dalam. Kayak apa disana? Mau ngapain disana? Apa disana ada peta turis? Apakah saya bakal nyasar? Apakah uang yang saya bawa cukup? Apakah orang disana galak-galak terus saya bakal dijutekin? 

Keluar dari Stasiun Katoomba saya mengamati kondisi sekitar. Tampaknya stasiun itu terletak di pusat pertokoan dan rumah makan yang mungil-mungil dan rapi. Di antara kios-kios itu saya melihat logo yang familiar, tulisan merah Hop On - Hop Off. Logo sebuah perusahaan bus pariwisata yang punya cabang dimana-dimana, saya pernah coba naik sekali waktu ke Kuala Lumpur. Setelah bernafas lega karena menemukan satu hal yang familiar, saya langsung menghampiri dan masuk ke dalam nya.

Di depan pintu masuk terbentang meja panjang yang lebih tinggi sedikit dari dada saya, seperti meja teller di bank. Mba-mba di belakang meja itu menyapa saya dengan ramah, saya menghampirinya dan langsung dijelaskan tentang rute tur yang ditempuh sama bus hop on hop off itu. Rute bus itu mengelilingi daerah pegunungan "biru", berhenti di sekitar 20-an spot yang tertera di peta. Spot itu macam-macam, ada titik tempat treking (ada petanya, jarak dan ada level kesulitannya juga), rumah makan, atraksi utamanya yang bernama echo point dimana ada 3 batu berjajar yang disebut Three Sisters, dan tempat wahana seru.

Kita gak harus turun disemua point yang tertera di peta itu, lagian gak akan cukup buat satu hari. Kita boleh pilih mau turun di tempat mana yang buat kita menarik dan kalau mau naik bus lagi kita tinggal cari point pemberhetian bus hop on hop off yang terdekat, bus akan lewat di jadwal-jadwal yang sudah di tentukan dan tertulis di buku panduannya. Di buku panduannya juga komplit, objek wisata apa aja yang bisa kita lihat seperti air terjun dan tempat lookout dengan pemandangan memukau ada di situ, lengkap dengan peta dan foto juga. Dari gak tau apa-apa dan nekat pergi ke Blue Mountain, melihat buku panduannya itu langsung tau semua. Komplit. 

Saya langsung beli tiket terusan  buat naik hop on hop off seharian keliling Blue Mountain dan tiket masuk wahana. Komplit. 

Ketika saya lagi transaksi muncul dua orang turis amerika yang bareng sama saya di kereta, yang perempuan langsung ngomong, "eh disini juga," pake bahasa inggris tentunya. Saya nyengir sebentar dan langsung ngacir ke bus tingkat warna merah yang parkir di seberang jalan. 

Pas saya naik, sopir bus nya -bapak gendut yang ramah, langsung menyapa dan nanya saya dari mana. Saya jawab dari Indonesia. Semua penumpang yang naik di tanya sama bapak sopir itu asalnya dari mana. Dua turis amerika masuk, ditanya. Sepasang turis yang sudah tua masuk, ditanya, mereka bilang dari Itali. Satu turis laki-laki masuk, ditanya, dia jawab dari India. Ketika bus mau berangkat pak supir menyapa seluruh penumpang dalam bus dengan cara mengucapkan "Howdy" dalam bahasa negaranya masing-masing - Indonesia, Amerika, Italia, India. Untuk Indonesia, pak supir bilang : "Apa Kabar? Selamat datang."

Mendekati point pemberhentian yang ada air terjun nya saya memutuskan turun. Sebelum saya turun Pak Supir sempat memberi petunjuk arah ke air terjunnya, katanya sih gak jauh tapi jalannya menurun tajam dan agak licin jadi dia bilang, "hati-hati," dalam bahasa Indonesia.   

Udara semakin dingin menusuk waktu saya turun bus, saya mengeluarkan jaket dari daypack padahal saat itu saya sudah mengenakan sweater. Pakai baju lapis-lapis gitu juga masih terasa dingin banget buat saya. Tapi segera setelah saya melihat sekeliling saya yang indah banget, langsung lupa sama dingin. Jadi ada bangku kayu di bawah pohon yang menguning karena musim gugur, terus di bawahnya itu berserakan daun-daun kering yang berguguran - cantik bangeeetttt. Saya pun langsung foto-foto sendiri. Saat itu saya sendirian, bener-bener cuman saya dan alam ostrali musim gugur, bahagia.


Puas foto-foto kaki di antara daun-daun berserakan saya mengikuti tanda penunjuk arah menuju air terjun. Jalan setapaknya menurun dan berakhir mengecewakan karena ternyata air terjun nya jauh dan jalannya udah buntu. Jadi air terjun nya itu adanya di tebing seberang. Lagi iseng-iseng cobain fitur foto panorama di kamera saya, datanglah sepasang bule. Yang cewe pake baju dress terusan warna hitam yang lengannya pendek, sementara saya bajunya berlapis-lapis dan masih kedinginan tu cewe nyantai aja. Mereka senyum ke saya, dan saya ga mau membuang kesempatan itu untuk minta tolong salah satu dari mereka fotoin saya di depan air terjun. Ya beginilah nasib nya kalo pergi jalan-jalan sendiri, kalau mau foto musti tongsis - tolong sis.

Mba-mba bule tahan dingin itu menghitung, " one, two, cheese!" Tiba-tiba saya merasakan perih di bibir yang kering ketika saya berusaha menariknya untuk membentuk suatu lengkung di wajah yang bernama senyum. Senyuman pun berubah menjadi ringisan. Bibir kering saya pecah karena hawa dingin.

Meringis

Setelah mengucapkan terima kasih saya kembali ke tempat pemberhetian bus untuk menunggu bus berikutnya. Tujuan selanjutnya adalah ke suatu tempat bernama Scenic World. Tiket terusan bus hop on hop off yang saya beli termasuk paket naik 3 macam wahana di Scenic World itu. Ada Scenic Cableway, Scenic Skyway dan Scenic Railway yang diantaranya ada Scenic Walkway.


Scenic Cableway, semacam gondola besar yang nyebrangin lembah

Lantai nya kaca, view langsung ke jurang bikin merinding

Scenic Railway, semacam roller coaster yang menukik 

Scenic View

Keretanya Scenic Railway

Scenic Walkway

Scenic Skyway

Dalemannya Scenic Skyway
Saya dapat dua orang kawan baru di Scenic World ini. Kita  kenalan di wahana pertama, Scenic Cableway, sejak itu kita jalan bertiga. Dua orang kawan baru saya itu adalah dua perempuan filipina sebaya saya yang bekerja di Singapura. Mereka orangnya asik, jadi kita langsung nyambung, belom ada 5 menit kenal udah cekikikan bareng. Dari Scenic World kita bareng lagi naik bus untuk makan siang, lanjut ke Echo Point untuk melihat Three Sisters.

Bersama dua orang kawan baru di depan batu Three Sisters (3 batu di kiri belakang)
Dua kawan baru saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan mereka di Three Sisters, sementara saya masih betah di Blue Mountain, jadi kita berpisah di bus - saya turun di salah satu tempat untuk trekking menghabiskan waktu hingga sore, mereka lanjut ke stasiun katoomba lagi. 

Udara semakin dingin dan berkabut, saya merasakan rambut saya mulai lembab karena uap kabut yang mengandung air, tapi saya tetap bersemangat menyusuri jalan setapak yang sepi. Saya terus jalan sendiri melewati pohon-pohon yang daun-daunnya rimbun di kanan kiri saya, terus mendaki bukit yang di kiri kanan saya hanya ada batang-batang pohon gundul tanpa daun, meniti seruas jalan di pinggir tebing yang langsung berbatasan dengan jurang, duduk sebentar di bangku memandang ke lembah Blue Mountain yang ternyata ga biru-biru amat kalau dilihat dari dekat.

Selfie jalan2 sendirian di hutan


Jalan setapaknya

jalan di tepian tebing

Disini tempat duduk sambil berkontemplas dengan alam *tsah

Akhir jalur treking

Model rumah di Blue Mountain

Ujung jalur treking ini berakhir di komplek perumahan yang rumahnya dari kayu-kayu. Saya duduk di bangku shelter pemberhentian bus sambil mengkhayal gimana rasanya kalo tinggal di komplek rumah model kayak gitu. Tidak lama bus hop on hop off merah muncul, ketika pintu dibuka ternyata sopirnya pak gendut yang di bus pertama, dia langsung menyapa ramah sambil nanya mau kemana lagi. Saya jawab, mau ke stasiun. Di perjalanan pak sopir itu sempat cerita kalau dia dan istrinya baru saja pulang liburan dari Bali dan Jakarta, sempat pamer juga beberapa kalimat bahasa Indonesia yang dia bisa dengan aksen aussie  nya. Lumayan bikin saya ngakak.






Senin, 03 Februari 2014

Trip Spontan ke Blue Mountain

Saya tidak merencanakan akan pergi ke Blue Mountain.

Anjuran dari Cipu dan Mba Andri ketika kita ngopi-ngopi di Darling Harbour, Sydney yang membuat saya memutuskan untuk pergi ke Blue Mountain. Tanpa tahu ada apa saja dan apa yang bisa dilakukan disana. Saya punya budget untuk masuk ke museum-museum di Sydney dan kebun binatang, itulah yang kemudian saya alihkan untuk budget perjalanan spontan ke Blue Mountain.

Saya berangkat sendiri, berpisah dengan Cipu di stasiun kereta. Cipu sudah ada janji sama kawannya yang lain di Sydney. Di loket pembelian tiket kereta Cipu memesankan tiket ke Blue Mountain untuk perjalanan pulang-pergi saya. Tiket sudah didapat, kemudian saya dan Cipu menuju papan pengumuman untuk melihat di peron berapa kereta yang akan berangkat ke Blue Mountain. Cukup lama saya dan cipu bingung mondar-mandir dari satu papan jadwal ke papan lain karena tidak ada tertera tujuan "Blue Mountain" dimana-mana. Cipu berinisiatif menanyakan ke mba-mba yang ada di kotak pengawas yang terletak di peron, mba-mbanya menjelaskan kalau mau ke Blue Mountain cari yang jurusan Katoomba - stasiun itu ada di Blue Mountain Line.

Saya makin khawatir. Dalam hati saya mulai menyesal kenapa gampang banget dipengaruhin dan dijerumuskan sama Cipu. Belom pergi aja udah nyasar-nyasar di stasiun karena ga tau mau ke stasiun apa.

Katoomba itu apa dan dimana, saya juga gak tahu. Pokoknya saya naik kereta, nanti kalau ada stasiun Katoomba saya akan turun. Mudah-mudahan sih saya gak nyasar, berhasil sampai di Blue Mountain dan sore harinya bisa kembali ke Sydney, dimana saya sudah janjian ketemuan lagi sama Cipu dan Mba Andri di Circular Quay.

Malam itu ada kejadian lucu ketika saya dan Cipu menginap di backpacker hostel. Kita berdua check-in di malam hari, diantarkan oleh mba resepsionis ke suatu kamar dormitory yang didalamnya terdapat 2 tempat tidur bertingkat. Masing-masing tempat tidur itu di bagian bawahnya sudah diisi - tampak dari tas yang terletak di sampingnya. Karena sudah letih akibat malam sebelumnya tidur ga bener di bus dan seharian keliling Sydney, saya dan cipu langsung tertidur.

Pagi harinya saya mendapati dua penghuni di tempat tidur bawah sudah tidak ada. Terus Cipu cerita, malem-malem dua penghuni itu -yang ternyata cewe dua-duanya, minta pindah karena mereka pesennya di dorm khusus cewe, tapi ternyata mba resepsionisnya menaruh cipu dikamar itu. Mereka gak terima. Dua cewe itu pun langsung minta pindah kamar. Yang jadi pertanyaan saya adalah, apakah dua cewe itu yang di taro di mixed dorm atau mba resepsionis di malam kita menginap yang salah mengira kalau cipu itu cewe juga. Entahlah. Saya dan Cipu gak ambil pusing, subuh-subuh kita udah check-out dari hostel itu.

Saya duduk manis dalam gerbong  kereta yang kosong, memegang tiket saya dan terbaca apa yang sedari tadi harusnya saya baca: nama stasiun tujuan saya. Ternyata di tiket tertera tulisan stasiun yang harus saya tuju dengan huruf Bold: Katoomba. Kalau saja saya atau cipu baca tulisan itu lebih awal, ga perlu mondar-mandir ga jelas sebelum naik ke kereta.

Tidak lama sebelum kereta berangkat muncul sepasang turis (kelihatan dari pakaian & gayanya), yang perempuan menoleh ke saya sembari bertanya untuk memastikan mereka ada di kereta yang benar, "Blue Mountains?". Saya mengangkat bahu sambil tertawa, "I hope so." Sepasang turis itu pun tertawa dan mengambil tempat duduk satu deret di belakang saya.

Dari selipan tas daypack, saya mengambil selembar kertas rute kereta, menghafal nama stasiun sebelum stasiun Katoomba supaya gak kelewatan. Sepasang turis yang masuk belakangan ke kereta juga tampak melakukan hal yang sama. Stasiun demi stasiun terlewati, penumpang masuk dan keluar di tiap stasiun. Hingga tiba di stasiun Leura, satu stasiun sebelum tempat saya turun. Saya pun bersiap-siap mau turun, melirik ke bangku di belakang saya, ke sepasang turis amerika tadi. Walau  hanya saling tatap-tatapan saya dan perempuan amerika itu seolah-olah saling memberi kode bahwa kita turun di stasiun berikutnya.

Kereta berhenti si stasiun Katoomba, saya turun dari kereta langsung mengikuti tanda panah ke arah keluar, sementara turis amerika yang turun kereta bareng saya pamit mau ke toilet dulu. Celingukan di depan gerbang stasiun Katomba, saya bener-bener ga tau mau ngapain.

...to be continued.  



Rabu, 29 Januari 2014

Galau Memantau Banjir

Sudah beberapa hari sejak kembali dari trip ke Dili saya berangkat dari rumah ke kantor subuh-subuh untuk mengantisipasi kemacetan dan banjir. Kondisi seperti ini bener-bener bikin hati galau, badan remuk dan saya si gadis tropis ini senantiasa menggigil kedinginan karena tiap hari harus mandi di dini hari dengan air dingin.

Kalau sebelum trip ke Dili saya sibuk sama prakiraan cuaca, setelah pulang kembali ke Jakarta saya sibuk sama twitter TMCPoldametro. Tiap pagi bangun tidur yang saya lihat adalah informasi banjir dimana saja untuk selanjutnya segera mengatur strategi menempuh perjalanan ke kantor. Sempat ada dua hari yang saya terjebak hingga 4 jam di perjalanan dari rumah menuju kantor dan ada satu hari dimana saya nyaris terkepung banjir yang tiba-tiba naik ketika saya sedang melintas di seruas jalan. Beberapa hari ini hidup di Jakarta benar-benar menguras segala tenaga dan emosi.

Bukan hanya Jakarta dan sekitarnya yang dilanda musibah banjir. Waktu itu di Manado sempat ada banjir bandang yang berasal dari air laut yang meluap hingga ke daratan. Rumah om, tante, sodara-sodara saya yang di kampung arab kelelep banjir hingga nyaris sampai ke atap, walaupun sudah surut tapi beberapa hari musti kerja keras membersihkan lumpur yang tertinggal.

Daerah yang hampir setahun ini sering saya kunjungi untuk urusan pekerjaan - Jepara, juga dilanda banjir heboh. Rencana saya ke Jepara sudah tertunda satu minggu lebih, sambil setiap hari saya terus galau memantau perkembangan kondisi di sana.

Hati saya sedih membaca kecamatan-kecamatan yang dilanda banjir, Pecangaan, Mayong, Nalumsari, Welahan, Kalinyamatan, saya familiar banget sama nama-nama itu. I knew it by heart. Beberapa bulan saya mondar-mandir di sekitar kecamatan itu, kadang sambil janjian sama supir truk yang membawa barang dagangan saya untuk diantar ke PLTU. Daerah-daerah itu bukan hanya jadi sekadar daerah yang saya lalui untuk mencapai lokasi proyek, tapi sudah terjalin suatu keterikatan emosionil yang diperkuat dengan kenangan suka dan duka ketika melewatinya. Saya jadi kepikiran sawah-sawah yang membentang di sepanjang jalan itu. 

Hampir sepanjang jalan, mulai dari daerah Demak menuju Jepara, membentang petak-petak sawah. Waktu awal mula proyek disana, saya perhatikan para petani banyak yang sedang mulai menanam padi. Minggu demi minggu berlalu, bulan berganti, saya menyaksikan perubahan padi yang baru ditanam berubah warna menjadi hijau segar seperti menyelimuti daratan dengan karpet hijau. Kemudian warna hijau terang mulai berubah, makin lama makin tua hingga berubah kuning kecoklatan. Saatnya panen. Para petani sibuk memotong-motong padi, menumpuknya di sepanjang pematang sawah. 

Batang-batang padi yang sudah di potong di bawa ke tempat-tempat penggilingan padi yang ada di pinggiran jalan itu juga. Di halamannya penuh dengan butir-butir padi berwarna putih yang sedang dijemur dan tumpukan karung-karung beras yang padat berisi. Ada desir kebahagiaan melihat tumpukan beras di tempat-tempat penggilingan, dengan ini mungkin ratusan jiwa bisa makan dan menyambung hidup. Kemudian siklus menanam padi berulang kembali, sejumput bibit padi di jajarkan dengan rapi oleh petani di bidang tanah gembur. 

Selama ini, anehnya, saya gak pernah mengalami hujan ketika ke jepara, cuaca selalu cerah cenderung panas terik. Pernah sempat ada hujan satu kali tapi hanya gerimis dan sebentar saja. Setelah urusan pekerjaan selesai sorenya saya suka main ke pantai, disana pantainya bagus-bagus. Selain Pantai Bandengan ada juga Pantai Kartini yang disebelahnya ada dermaga untuk yang mau menyebrang ke Karimun Jawa.

Jajanan di pantai Kartini

Pantai Kartini sore-sore

Museum bentuk Kura-kura di pantai kartini

Pantai Kartini
Terakhir saya lewat daerah situ bulan Desember tahun lalu saya lihat sawahnya mulai rata hijaunya lagi, gak kebayang gimana nasibnya kalau tiba-tiba padi-padi itu diterjang dan tenggelam di air banjir. Berapa kerugian yang harus ditanggung oleh para petani. Belum lagi rumah mereka yang kena banjir juga. Kasian banget. Sudah kena banjir, akses ke daerah nya terputus, pasokan BBM terhambat, tadi pagi ketika saya memantau perkembangan disana ternyata di sana juga ada gempa dan ada tanah retak juga. Semoga kondisi di daerah Jepara dan sekitarnya cepat kembali normal.

Banjir cepatlah berlalu. Please. 


Rabu, 22 Januari 2014

Cuaca Ekstrim

Beberapa hari sebelum berangkat ke Timor Leste, cuaca ekstrim menerjang Jakarta. Rencana saya pergi hari Rabu, hari Sabtu sebelumnya hujan deras mengguyur Jakarta seharian, bahkan sampai keesokan harinya. Banjir pun kembali menenggelamkan sebagian ibu kota.

Saat itu saya khawatir cuaca ekstrim mengancam trip liburan saya beberapa hari mendatang. Saya pun jadi concern masalah cuaca, membuka aplikasi di iPhone yang selama ini jarang banget saya pedulikan - weather forecast.  Melihat icon prakiraan cuaca beberapa hari kedepan gambar awan + petir semua membuat saya makin galau.

Saya memantau kondisi cuaca di Jakarta dan Bali, karena saya terbang ke Dili melalui Denpasar dulu. Saya juga cari kota Dili di prakiraan cuaca yahoo yang ada di iPhone saya, tapi rupanya kota Dili, Timor Leste belum terdaftar disana. Menurut kawan saya yang tinggal di Dili sih cuaca di sana cenderung panas, angin memang kencang tapi tidak ada hujan. 

Waktu di Australia saya heran dengan kebiasaan orang sana yang peduli sekali dengan weather forecast. Kalau saya bangun tidur pertama kali, liat handphone yang saya buka pertama adalah twitter atau facebook, orang disana bangun tidur yang dilihat pertama adalah weather forecast. Bahkan iklan paket data di televisi mengutamakan feature weather forecast, selain e-mail, message dan social media. 

Kata Cipu yang tinggal di Melbourne, itu karena cuaca di sana agak susah ditebak. Paginya bisa dingin banget tapi siangnya panas terik, jadi supaya gak salah kostum musti tau prakiraan cuaca hari itu kira-kira temperaturnya bakal berapa. Saya sempat tuh jadi korban salah kostum waktu ke Balarat karena paginya dingin, tapi ternyata siangnya panas terik. Tapi kan di Indonesia iklimnya tropis, yang ada palingan cuma panas dan hujan, temperatur juga ga akan drastis amat berubahnya, jadi saya tidak pernah peduli dengan prakiraan cuaca dan tidak pernah salah kostum. Itu dulu.

Kemarin-kemarin ini kegalauan saya akibat cuaca ekstrim membawa saya ke website BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Selama ini saya tidak pernah buka-buka website itu, ternyata disana informatif sekali. Selain prakiraan cuaca hujan atau panas, ada juga peringatan dini gempa, angin kencang, ombak tinggi, gunung berapi yang aktif bahkan ada disitu peringatan daerah banjir di ibukota. Lain kali kalau mau merancang perjalanan lagi saya pasti bakal buka website ini lagi walaupun dengan baca-baca website ini saya malah makin was was dgn peringatan dini hujan petir dan angin kencang di nusa tenggara timur bagian timur. Yang saya khawatirkan sudah pasti perjalanan udara naik pesawat, kalau angin kencang naik pesawat itu rasanya mengerikan karena terus bergoncang.

Saya masih ingat patokan menghafal pembagian musim dalam setahun yang diajarkan waktu saya sekolah SD dulu, kalau bulan yang akhirannya -ri seperti januari, februari itu berarti musim panas karena ada akhiran -ri, sama seperti matahari. Sementara yang akhirannya -ber, seperti november dan desember, itu berarti musim hujan karena seperti bunyi hujan yang turun dari talang genteng rumah menuju selokan ‘beeerrrrr’.

Sepertinya sekarang ajaran itu sudah tidak berlaku. Iklim sekarang sudah berubah, kita tidak bisa mudah menebak musim dari akhiran nama bulannya lagi. 

Kita memang beruntung hidup dijaman setelah era modernisasi, jadi hidup sekarang relatif lebih nyaman dengan segala teknologi yang ada. Tapi sebagai konsekuensinya sekarang kita hidup di alam yang rentan akibat keseimbangannya terganggu oleh 200 tahun lebih era modernisasi dan ketamakan manusia. 

Orang-orang bilang ini adalah Global Warming, meningkatnya suhu permukaan bumi karena emisi CO2 dari industri yang membentuk efek rumah kaca sehingga panas matahari yang sampai ke bumi terperangkap. Curah hujan yang deras di daerah tropis dan angin yang lebih kencang dan semakin powerful adalah akibat naiknya temperatur permukaan bumi di lautan, efek yang terasa di daerah kita yang tropis ya seperti yang sudah disebut diatas itu. 

Sementara itu Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia tidak pernah mengantisipasi hal-hal seperti ini, tidak pernah ada persiapan menyambut curah hujan yang makin deras. Di daerah perkotaan seperti Jakarta pemerintah bukannya mulai memikirkan bagaimana caranya menyisakan ruang-ruang hijau untuk penyerapan air malahan ruang-ruang kosong terus dibangun bangunan mall, apartement, perkantoran. Hidup di Jakarta ini bener-bener gila, baru dua minggu aja gak lewat jalanan yang sama, ntar pas lewat lagi tiba-tiba sudah ada bangunan baru yang sudah tinggi menjulang.

Saya sendiri juga salah sih. Hobi saya traveling, apalagi naik pesawat, itu salah satu penyumbang emisi karbon tertinggi yang bisa menimbulkan efek rumah kaca itu. Selanjutnya saya udah musti mulai mikirin gimana bisa punya hobi traveling yang ramah lingkungan juga nih, kalau enggak bisa-bisa beberapa tahun mendatang saya udah ga punya tempat tujuan buat menyalurkan hobi traveling saya lagi. Kayak misalnya kalau masih bisa naik kereta, saya akan milih naik kereta daripada naik pesawat karena kemarin saya coba-coba hitung pakai kalkulator carbon footprint, jumlah emisi yang dihasilkan pesawat udara dengan jarak yang sama jauh lebih besar daripada naik kereta api atau bus.

Pagi hari keberangkatan ke Denpasar, hujan deras dari pagi. Macet parah di jalan. Saya nyaris kehilangan harapan bakal sampe di bandara tepat waktu. Penerbangan saya jam 12 siang, dan jam 10.30 saya masih stuck di traffic jam daerah Kuningan. Untungnya setelah daerah kuningan, ke arah bandara lancar jadi saya tiba tepat waktu. Dalam pesawat menuju Bali jantung saya berdegup kencang karena cuaca buruk terus, sampai pramugari nya urung mengedarkan in-flight shop. 

Sore hari di Bali, ketika saya duduk menanti sunset di Kuta ditemani Rio angin kencang sekali, saya sempat takut dan nyaris mengurungkan niat mau terbang lebih lanjut ke timur. Malam itu saya tidur di Bali, keesokan pagi saya tetap berangkat ke airport. Saya pikir kan perusahaan penerbangan punya standard keamanan, kalau memang tidak aman untuk terbang pasti akan di batalkan. 

Ketika saya tiba di Bali siangnya saya dapat kabar kalau di Manado ada banjir besar karena air laut meluap dan menerjang kota layaknya air bah. Rumah keluarga Papa Said dan seluruh Kampung Arab seperti kapal karam tenggelam, yang tampak hanya atap rumah di atas air kecoklatan. karena air datang cepat sekali, mobil-mobil tak sempat di evakuasi, tenggelam dalam air. Waktu menonton tayangan berita lebih parah dan lebih menyeramkan, mobil CRV mengambang seperti gabus di atas danau.

Bandara Ngurah Rai pagi hari, mendung tebal
Pagi hari sebelum berangkat ke Dili, hujan deras mengguyur Bandara Bali. Untungnya saya yang berjalan kaki dari hotel saya di daerah Tuban sudah tiba di dalam bandara ketika hujan mengguyur. Tapi mendekati jam keberangkatan hujan berangsur mereda, pesawat tetap berangkat tepat waktu walau di tengah rintik hujan.

Aneh nya di Dili, seperti yang di bilang kawan saya, cuaca lumayan cerah. Kadang awan mendung menggelayuti, tapi cepat menghilang. Hujan sesekali, tapi hanya berupa percikan air tipis yang terbawa angin.  

Sementara itu ketika nonton berita, Jakarta masih diguyur hujan deras dan ancaman banjir masih mengintai. Mengerikan melihat kondisi jakarta di berita waktu itu, dari tampak atas genangan air menenggelamkan jakarta, arusnya juga kencang, airnya berwarna coklat kotor. Ibu-ibu hamil dan bayi di evakuasi dengan perahu karet. Situasi di tempat pengungsian yang mayoritas ibu-ibu dan anak-anak juga kelihatan menyedihkan. Bukan hanya hujan, ancaman ombak tinggi menyebabkan kapal tidak bisa melaut, banyak calon penumpang terlantar di dermaga. Tidak ada nelayan yang berani mencari ikan. 


Di Kupang - yang ada satu pulau dengan Dili, ombak tinggi mengakibatkan pasokan bahan bakar terputus sehingga jadi langka dan mahal.  Tapi di Dili tetap cerah, sampai-sampai kawan saya bergurau kalau cuaca ekstrim tidak bisa lewat perbatasan karena paspornya expired.

Dili yang cerah

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...