Minggu, 30 Agustus 2015

Instagrammable: Dusun Bambu

Gara-gara penasaran sama istilah instagrammable, saya dan kawan-kawan pergi ke Dusun Bambu yang terletak di daerah Lembang, Bandung. 

Untuk pergi ke Dusun Bambu jalan yang dilalui sama dengan jalan ke Sapu Lidi, Kampung Daun, Kampung Gajah, Maja House, lurus-lurus saja ikuti petunjuk, lokasinya lebih jauh masuk ke dalam. Agak kaget juga sih lewat jalan itu karena jaman saya masih kuliah di Bandung beberapa tahun yang lalu, daerah itu masih sepi, sekarang sudah ramai dan padat.

Saya, Chacha dan kawan-kawan pergi kesana hari Sabtu, harinya jalan-jalan bersama keluarga. Kami rombongan jomblo nista bahagia berusaha keras berbaur diantara rombongan keluarga yang umumnya terdiri dari ibu, bapak, anak-anak kecil/remaja, dan kakek nenek di tempat rekreasi yang memang diperuntukan untuk keluarga. 

Di pintu gerbang masuk lokasi kami bayar tiket masuk yang setelah pulang bisa ditukar dengan sebotol air mineral atau tanaman di polybag. Di lobby Dusun Bambu, ada mobil odong-odong yang mengantar pengunjung ke lokasi-lokasi yang ada di dalam kawasan wisata itu. Saya dan sebagian kawan memutuskan jalan kaki menyebrang jembatan kayu melintasi sebidang kecil sawah yang ada di situ. Sementara Chacha dan sebagian kawan yang malas jalan kaki naik odong-odong. Kami bertemu lagi di lokasi utama yang jadi daya tarik Dusun Bambu, yaitu ruangan bentuk sarang burung yang instagrammable.

Kita bisa memesan makan siang dan makan di dalam 'sarang burung' itu, tapi bayar sewa ruangannya beda lagi per jam. Saya dan kawan-kawan hanya foto-foto di depannya, seperti yang kebanyakan dilakukan pengunjung di situ. 

Karena ramai sekali ambil fotonya harus antri dan gantian kalau tidak mau ada orang asing masuk ke frame foto kita. Jalan setapak berupa jembatan yang menghubungkan 'sarang-sarang burung' yang hanya selebar dua orang itu pun ramai sekali oleh pengunjung yang lalu lalang, perlu sedikit desak-desakan.

Setelah itu kami jalan menuju ladang bunga-bungaan mencari udara segar sambil foto-foto. Disini banyak pasangan yang berusaha selfie berdua bikin foto romantis diantara bunga-bungaan. Karena kami jomblo yaaaa jadi selfie sendiri aja.

Foto di ladang bunga yang instagrammable

Gak lama kami narsis di ladang bunga hujan rintik mulai turun, kami pindah ke area foodcourt. Seperti kebanyakan area foodcourt jaman sekarang, yang sebenarnya menurut saya gak efektif, disini belanjanya ga bisa langsung bayar ke counter-counter melainkan harus menukar kupon/kartu/uang-uang-an di loket untuk dibelanjakan ke gerai yang kita mau. 

Di Dusun Bambu bentuknya uang-uang-an, terdiri dari pecahan 100 ribu, 50 ribu, 10 ribu dan 5 ribu. Sesuai dengan nilai uang rupiah yang kita tukar di loket dengan uang Dusun Bambu yang kita gunakan di gerai. Gerai nya akan mengembalikan dengan pecahan uang Dusun Bambu yang nilainya sesuai dengan nilai rupiah. Saya paling males sama sistem kayak gitu, menurut saya tidak efisien karena harus antri dua kali (waktu tukar uang dan sewaktu belanja di gerai) dan lebih males lagi kalau ternyata uang rupiah yang kita tukar diawal yang tidak habis dibelanjakan tidak bisa ditukar lagi. 

Selain tempat makan dengan bentuk 'sarang-sarang burung' ada juga tempat makan lesehan di gubug yang terletak di sebrang danau, tapi kami tidak menyebrang danau. Konon katanya di dalam area Dusun Bambu juga ada penginapan (resort) dan ada perkemahan ekslusif. 

Tempat makan lesehan di seberang danau

Ada sungai-sungaian

Dari kunjungan ke Dusun Bambu ini saya menyimpulkan artinya instagrammable itu adalah bagus buat di posting di instagram, yang kalau kita kesana lihat aslinya harus siap andaikata gak sebagus yang kita lihat di instagram. Overall tempat ini lucu dan seru juga sih buat jadi alternatif tempat wisata keluarga.... ingat ya, keluarga.  



Senin, 17 Agustus 2015

Talas and bakso and everything nice

Ingat Pagit? Salah satu kawan jalan-jalan saya yang sering banget muncul di blog ini. Pagit sendiri juga punya blog dengan alamat sugarandspiceandeverythingnice , which is kalau kenal Pagit pasti sepakat kalau judul blognya itu merepresentasikan karakternya. Akhir tahun lalu kami mencari innerpeace di Lombok. Tahun sebelumnya kami jalan lebih jauh lagi ke timur, ke Flores. Dimana Pagit yang hampir pingsan karena masuk hutan demi air terjun terselamatkan di tengah jalan oleh rombongan bapak-bapak peneliti dari Bandung yang ternyata adalah kawan dari bibinya Pagit. 

Nah, libur setelah lebaran kemarin Pagit mengajak untuk berkunjung ke kota tempat tinggalnya di Bogor. Kebetulan waktu itu Lili - teman kami yang sama-sama pernah barengan di satu kantor, mau berkunjung ke Bogor. Saya langsung bilang iyess. Segampang itu karena saya memang gampangan. 

Saya mengajak Chacha yang sebelumnya belum pernah naik kereta commuter line sampai ke Bogor. Semakin ramai karena saya dan Chacha mengajak Tince a. k. a. Kartini, salah satu kawan jalan-jalan saya yang asik juga. Saya dan Chacha janjian ketemu dengan Pagit dan Tince di stasiun Bogor. 

Meeting point di KFC seberang stasiun. Tepat setelah Chacha menghabiskan cemilan spagetti nya, datang Pagit, Lili dan Susi. Tince datang setelah Pagit selesai menceritakan pengalaman terbarunya dijambret motor di dekat komplek rumahnya. Beberapa lama kenal sama Pagit kayaknya kehidupannya seru banget. 

Waktu itu ketika Pagit baru pulang dari jalan-jalan ke Philipina, dia sempat ikut menolong ibu-ibu mau melahirkan tengah malem. Jadi waktu itu dia sampai di Bogor tengah malah, lagi naik angkot menuju rumahnya ketika di tengah jalan ada sepasang suami istri dipinggir jalan, istrinya tampak pucat. Ternyata istrinya mau melahirkan. Pagit, satu-satunya penumpang di angkot itu langsung turun dan membantu mengangkat ibu-ibu itu. 

Sampai di bidan terdekat Pagit turun mengetuk pintu klinik tapi tak ada jawaban, sehingga dia harus memutari bangunan tersebut dan menggedor pintu belakangnya. Bidan langsung terbangun dan membuka kliniknya, Pagit secara heroik kembali membantu si ibu turun dari angkot sampai ke tangan bidan. 

Waktu dijambret pun Pagit dengan heroik nya sempat adu tarik tas dengan pencuri yang ada di atas motor hingga terjerembab dengan tali tas yang putus masih digenggamannya. Peristiwanya terjadi tidak jauh dari rumah Pagit, di komplek sebelah. Pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya dia lagi jalan menuju stasiun kereta mau berangkat ke kantornya. Di jalan yang sepi tiba-tiba ada pengendara motor dari belakang yang meraih tasnya. Sempat terpikir oleh Pagit kalau itu tetangganya yang lagi iseng pura-pura menarik tasnya, tapi ketika dia menarik kembali tas itu si pengendara motor malah menariknya lebih kuat, Disitulah terjadi adegan tarik menarik seperti lomba tarik tambang 17 agustusan.

Ketika Tince tiba, kami semua langsung bergegas meninggalkan KFC. Tince sempat nyasar ketika keluar dari stasiun Bogor karena memang sedikit membingungkan dan jalannya berputar-putar. Kami semua naik mobil Pagit menuju pusat jajanan yang terletak di sebelah Bogor Permai. Saya langsung tertarik sama gerobak yang jual Laksa Bogor. Baru kali itu saya makan Laksa Bogor, isinya lontong, tauge, telor rebus, tahu, suwiran ayam, kuah nya mirip soto tapi ada wangi-wangi yang beda. Dessertnya Es Sekoteng yang isinya kelapa muda, alpukat dan biji merah delima, seger banget.

Tujuan berikutnya ke Jalan Surya Kencana. Susi yang baru pulang dari urusan kerjaan di Los Palos secara masif, sistematis dan agresif membeli jajanan-jajanan di sepanjang jalan itu. Oia, Los Palos itu salah satu distrik yang ada di Timor Leste. Pertama-tama tujuannya adalah Lumpia Basah yang dijual di seberang toko jual alat tulis tempat Pagit belanja keperluan sekolah waktu SD. Ini jenis lumpia basah yang kayak saya suka beli di depan kampus di bandung dulu tapi unik karena ternyata masaknya masih pakai arang. Yang lebih unik lagi sih karena biasanya kan kalau beli lumpia basah kayak gitu dikasih sumpit kayu buat makan, tapi ini gak dikasih.

Susi tanya ke abangnya, "ga ada sumpit nya?"

"Gak pake sumpit, neng. Makan aja kayak burger," jawab abangnya acuh tak acuh.

Setelah itu kami berjalan menyusuri trotoar sepanjang Surken, beberapa meter dan beberapa gerobak sate babi kemudian kami tiba di penjual Talas Kukus. Ini enak banget, saya suka. Talasnya bukan sate babinya, kalo sate babi saya belum pernah coba. Talas bogor di kukus, dikasih parutan kelapa terus makannya pake gula merah. The best lah. Favorit pisan.

Rencana awal, kami semua mau mengantar Pagit potong rambut di Botani Square layaknya rombongan mengantar orang naik haji. Yang berangkat satu orang, rombongan pengantarnya satu metromini. Tapi akhirnya kami malahan duduk-duduk di IPB samping Botani Square sambil makan jajanan talas kukus, combro dan lumpia basah yang makannya kayak burger.

Dulu saya, pagit, lili dan susi juga pernah piknik di Bogor. Waktu itu ada Tante Debi yang lagi pulang dari Kanada. Susi menyewakan angkot dan memasak untuk kami - ikan goreng, tempe, tahu, lalapan, sambal dan pete bakar. Bekal itu kami gelar di teras rumah orang. Numpang piknik. 

Setelah jajanan surken habis kami lahap dan Pagit mengurungkan niat untuk potong rambut, tujuan selanjutnya adalah ke suatu kedai kopi yang pemiliknya kenal dekat sama Tince, Ranin Coffee. Lokasinya dekat dengan tempat makan bakso favorit - baso seuseupan. Bakso nya enak banget, kuahnya segar ditambah lemak tetelan yang digoreng. Kami tidak mungkin hanya melewatkannya tanpa mampir. Akhirnya setelah ngopi-ngopi lucu sambil duduk santai di Ranin, kami makan bakso. 



Sabtu, 08 Agustus 2015

Naik Angkot ke Pasar, Beli Kopi

Satu hari setelah Rinjani.

Saya bangun tidur pagi-pagi dengan sekujur badan kaku dan tulang belulang remuk redam kayak habis terinjak-injak sama serombongan badak jawa. Engsel-engsel tubuh seperti mati gak berfungsi sehingga tangan dan kaki tidak bisa ditekuk. Kalau jalan... ya bayangkan saja, tangan lurus, kaki lurus, kayak robot. 

Susahnya kalau mau duduk dan berdiri lagi dari duduk, otot-otot di paha seperti tertarik semua. Sakit minta ampun. Belum lagi kulit punggung yang perih karena melepuh terbakar matahari sembalun, untung bawa kaos yang longgar jadi kainnya ga langsung kena kulit. Telapak kaki saya pun melepuh, muncul benjolan-benjolan seperti bisul yang lumayan terasa cenat cenutnya di tiap langkah. 

Tersiksa sedemikian sehingga tidak membuat saya kapok. Malahan dalam hati berharap bisa segera kembali lagi ke Rinjani yang indah. Mau kemping di pinggir danau Segara Anakan yang cantik dan bikin saya jatuh hati. Sekarang aja belum ada satu tahun berlalu, sembari nulis ini saya sembari menahan kerinduan yang membuncah.  

Saya, chacha dan pagit ada di sebuah hotel di kawasan Senggigi. Satu kamar hotel itu bau counterpain dan koyo. Selain saya yang sakit-sakit badan sehabis dari Rinjani, Pagit juga kakinya pegal akibat naik turun tangga air terjun di Senaru. Rencananya siang itu kami pulang ke Jakarta. Chacha bilang dia kayak lagi jalan-jalan sama nenek-nenek karena bau counterpain dan koyo. Mulutnya emang suka pedes kalo komentar, padahal sudah saya kasih chocolate Snickers yang sempat ikut naik turun Rinjani, belum termakan karena saya ikut operator tur hiking yang makanannya berlimpah ruah.

Setiap hari selama seminggu disana kami minum kopi Lombok, alhasil kami ketagihan. Chacha pun bertekad tidak akan meninggalkan tanah Sasak itu sebelum membeli kopi lombok yang asli, belum dikasih label oleh-oleh, dan bukan dibeli di airport. Dari hasil tanya-tanya sama resepsionis hotel dia dapat info kalau kopi lombok dapat di beli di pasar yang jaraknya lumayan dekat sama hotel. Tinggal sekali naik angkot. Sekilo kopi harganya 50ribu. Ada juga yang sudah dicampur dengan tepung jagung, harganya lebih murah, 1 kilo 25 rb.

Walaupun babak belur dan jadi bahan ketawaan chacha dan resepsionis hotel karena jalan saya kayak robot, saya gak mau ketinggalan cari kopi di pasar. 

Angkot di Lombok gak kayak angkot di Jakarta atau di bandung atau di bogor. Angkot nya semacam mobil bak pick-up yang di modifikasi ditambah penutup supaya penumpang tidak panas dan kehujanan. Otomatis tingginya juga lebih tinggi dari angkot mobil minivan. 

Berdiri dari duduk saja sudah tersiksa, PR banget harus memanjat masuk angkot. Pertama-tama saya harus berjuang mengangkat kaki saya yang sudah lupa cara menekuk itu untuk menapak di pijakan pintu masuk nya, sementara otot-otot paha saya yang nyeri harus menahan beban badan. 

Saya meringis.

Sampai di dalam pintu badan harus membungkuk supaya kepala tidak kena atap, pinggang yang rasanya kaku karena 3 hari menggendong backpack langsung bunyi kretekretek. Dan di punggung saya yang melepuh rasanya ada sekawanan semut yang gigit-gigit gemes.

Adudududududuuuuhh.

Overall, mungkin orang lain yang melihat saya masuk angkot itu kayak liat nenek-nenek tua rematik yang abis lari marathon.

Segala sakit dan perih saya tahan, saya bela-belain, demi kopi lombok. 

Pagi itu angkot dari senggigi menuju pasar yang kami tumpangi sudah berisi 1 orang nenek-nenek, 1 orang ibu-ibu paruh baya dan seorang anak gadis. Orang lokal. Tampaknya turis yang naik angkot saat itu hanya kami bertiga. Nenek yang diangkot itu dari awal saya masuk sudah ngeliatin, mungkin dalam hatinya mikir kalau ada lomba balap karung sama saya sudah pasti nenek juaranya.

Di tengah jalan angkot diberhentikan oleh seorang bapak ber helm, beliau menitipkan anak laki-lakinya yang masih kecil banget, pakai seragam sekolah SD, mungkin baru kelas 1. Si bapak menitipkan anaknya ke supir angkot dan ibu-ibu penumpang angkot untuk menurunkan anaknya di sekolahan yang berjarak beberapa meter dari situ karena di depan ada razia motor. Sepertinya si bapak tidak bawa surat-surat lengkap. 

Anak kecil itu pun melompat ke pangkuan ibu-ibu penumpang. Kemudian di sekolahan SD Negeri tak jauh dari situ supir angkot menepi. Diluar pagar ada seorang perempuan, tampaknya seorang guru, sudah menanti angkot itu. Rupanya di bapak tadi juga menghubungi guru anak ini untuk menjemput nya di depan sekolah. 

Mendekati pasar, pak supir sudah memberi aba-aba untuk bersiap-siap. Kami pun turun dari angkot memasuki pasar. Kami bertanya di deretan toko yang menjual sembako - macam beras, gula, minyak - dimana toko yang jual kopi lombok. Ibu itu bilang sebenarnya dia jual tapi sudah habis, kami dirujuk ke tiga toko sebelahnya. 

"Kebetulan masih ada, tapi hanya tinggal 2 kilo," kata ibu gempal yang mengenakan kain bawahan batik dan kaos oblong. 

"Ini kopi yang tidak dicampur kan, bu?" tanya chacha

"Asli ini dek, coba saja," kata ibu sambil mencontohkan memasukan serbuk-serbuk kopi ke dalam mulut dan memakannya, "enak, baru digiling tadi pagi."

2 kg kopi untuk bertiga masih kami rasa kurang. Maka kami masih terus blusukan ke dalam pasar sambil mencari kali aja ada toko lain yang jual kopi. Di dalam sempat ada ibu-ibu yang tanya, "mau cari apa?"

"Cari kopi lombok, bu."

"Ayo saya antar, ke belakang situ." katanya menunjuk ke arah deretan toko tempat kami beli kopi ini tadi.

"Tadi juga kami beli di sana, bu. Tapi katanya habis, tinggal ini," saya menjawab sambil menunjuk ke plastik yang dibawa.

"oo begitu. kalau begitu saya tahu tempat lain, di belakang tapi masuk kedalam,"kata ibu itu lagi sambil bisik-bisik.

Jadi ngeri karena pake bisik-bisik, kami langsung ambil ancang-ancang melipir sambil bilang,"eh tapi kayaknya ini cukup sih bu."

bhay!

hiiiihh.... tiba-tiba merinding.

Menuju pintu keluar kami tertarik dengan pedagang-pedagang makanan yang berjajar. Kelemahan kami bertiga memang sama makanan sih. Kalau ada tukang jualan makanan, atau bahkan hanya baunya saja sudah bisa bikin kami bertiga hilang fokus. Macam-macam makanan sarapan dan kue-kue warna warni di jual. Kami pun terpaku, membelalak, pengen ini, pengen itu.  Tapi kami paling tertarik dengan penjual yang sedang kipas-kipas sate, ketika ditanya dibilangnya itu sate rembiga. 

"Apa itu sate rembiga?"

"Sapi," kata penjualnya.

Kami pun langsung beli, walaupun di hotel sudah sempat sarapan nasi goreng.

Saya dan Pagit kan harus banyak makan supaya cepat pulih dari pegal-pegal. 

Di atas angkot yang ngetem di depan pasar kami mencicipi sate rembiga yang ternyata enak. Pedes Manis Gurih. Nyesel belinya kurang banyak. Tapi mau balik lagi saya mikir turun naik angkotnya yang nyiksa banget. Ah.. sudahlah. Kapan-kapan aja kalo balik lagi.

Sempat ada insiden pohon tumbang di tengah jalan sehingga angkot yang kami naiki kena macet sekitar setengah jam, menunggu pohon yang tumbang itu dievakuasi warga. 







Minggu, 02 Agustus 2015

Dari kebun langsung ke perut

Saya tertarik dengan satu teori yang pernah saya baca di suatu tempat. Sayangnya saya lupa dimana sumbernya, udah lama banget. Teori itu menyatakan kalau apa yang kita makan akan bermanifestasi di dalam diri kita. Misalkan kalau kita makan sapi yang semasa hidup nya tidak bahagia, maka yang memakannya juga bisa merasakan emosi yang sama. Apalagi kalau ketika di pejagalan sapi tersebut mengakhiri hidupnya dengan perasaan takut dan resah, perasaan itu terbawa ke serat-serat dagingnya yang kita makan dan di pencernaan kita diproses dan ikut terbawa ke aliran darah di tubuh. 

Jadi kalau kita sering merasa gak tenang, galau, pengen marah terus atau tiba-tiba merasa sedih sendiri sampai depresi, jangan-jangan sebenarnya itu perasaan hewan ternak yang eksistensinya merupakan hasil rekaya dan manipulasi manusia sedemikian sehingga mereka merasa hidupnya hampa dan tidak bahagia karena harus berakhir di pejagalan pada usia yang relatif muda sementara nenek moyangnya bisa hidup hingga 10 kali lebih lama. Mereka yang lahir karena inseminasi buatan, bukan hasil reproduksi natural dari hewan jantan dan betina kemudian jadi daging yang kita beli di supermarket atau restoran untuk dimakan.

Saya pernah deh waktu itu ngebahas soal sapi ternak disini 

Gak ada bukti scientific yang berkaitan dengan teori ini sih, tapi menurut saya itu menarik.

"We are what we eat."

Setelah lebih dari satu tahun mulai menanam sayur-sayuran, saya jadi sadar kalau tanaman juga bisa terlihat sehat dan bahagia. Gak tau ini nyata atau hanya sugesti saja, tapi ketika dimakan rasanya berbeda - lebih segar, juicy dan tidak ada rasa sepah. Mudah-mudahan teori diatas itu benar, saya berharap kalau tanaman-tanaman yang saya besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang itu tumbuh menjadi tanaman yang bahagia dan yang memakannya juga merasa ikut merasa bahagia. 

Tomat Cherry manis 

Semua yang di piring kecuali ikan dan bawang dari kebun princess

Tumis Kangkung

Sampai saat ini, karena memang juga tidak banyak, mayoritas yang saya tanam untuk dimakan sendiri. Tapi pernah juga saya menyumbang kangkung, kacang panjang dan terong ungu ke mama said untuk dimasak. Ya tapi ujung-ujungnya saya juga yang makan.

Waktu tanaman buncis dan kacang panjang berbuah, saya suka gak tahan godaan buat metikin satu-satu dan memakannya langsung mentah-mentah dan ternyata enak. Bayam, kangkung, sawi yang langsung dipetik juga masaknya gak ribet-ribet, cuma ditumis pakai bawang dan cabe saja udah enak banget. Cabenya juga hasil kebun sendiri tentunya. Dikukus sebentar juga enak, rasa manis sayurnya lebih terasa. Saya malahan pernah campur daun bayam mentah di salad. 

Sawinya memang kurang besar karena di tanam di polybag, tapi tampak segar kan?

Seikat kangkung

Kadang saya suka sedih lihat daun bayam dan kangkung yang lesu di supermarket, mungkin mereka lelah karena sudah melalui perjalanan panjang dari tempat nya ditanam, ditambah penantian panjang di pendingin swalayan. Apalagi kalo liat harganya, jadi sensitif banget karena teringat kalau panen bayam dan kangkung di rumah daunnya besar-besar dan segar karena belum dehidrasi. Sayur juga bisa dehidrasi kayak manusia. Sayangnya keterbatasan waktu dan lahan membuat saya jadi ga bisa makan sayur hasil tanam sendiri setiap hari.

Saya pernah bilang kan kalau saya gak suka terong ungu. Saya cuma senang menanamnya saja. Tapi penasaran juga karena menurut orang di rumah rasanya lebih manis dari yang biasanya beli, minggu lalu saya mulai coba makan terong. Awalnya cuma di goreng biasa untuk dimakan pakai sambal, sengaja saya petik terong yang ukurannya paling kecil. Kemudian saya ada ide buat menggorengnya pakai tepung ala-ala tempura, ternyata enak juga. 



Jumat, 24 Juli 2015

Menuju Puncak Kenteng Songo 3142 MDPL

Seperti biasa, kali itu saya memulai perjalanan dari kantor. Muncul di kantor dengan menggendong keril yang disematkan matras dan menenteng hiking boots, semua sekuriti, tukang kebun, mba kantin serta segenap bapak2/ibu2 tetangga ruangan kantor secara kompak bertanya : mau ke gunung? 

Yang saya jawab dengan senyum simpul sok misterius supaya terkesan cool gitu. Jawaban sama yang saya berikan kalau ada yang nanya : kapan nikah?

Jam 5 tepat saya bergegas mencegat taksi di depan kantor menuju Stasiun Senen, mengejar kereta ekonomi AC ke Stasiun Poncol Semarang. Jalanan hari itu lenggang jadi saya tiba lebih dulu dari kawan-kawan saya yang berangkat dari bekasi. Gak lama saya menunggu di depan seven eleven stasiun senen, muncul sosok-sosok yang familiar, kawan-kawan saya telah datang.

Kereta berangkat tepat waktu, tiba pagi hari di Stasiun Poncol. Kami sudah ditunggu mobil angkutan sewaan yang akan membawa kami menuju Wekas, titik awal pendakian. Jalur yang akan kami tempuh dimulai dari Wekas dan berakhir di Selo. Kami dibawa sarapan di warung nasi dalam perjalanan. 

Tiba di Basecamp Wekas tiba-tiba turun hujan dan kabut. Kami memutuskan menunggu hujan reda, baru mulai jalan. Sementara itu banyak pendaki yang tiba di basecamp dalam keadaan basah kuyup, ada rombongan yang baru turun, ada juga rombongan yang baru mau naik tapi keburu hujan jadi memutuskan balik lagi.

Kami menunggu hingga lewat tengah hari, hujan sudah mulai reda walau masih rintik-rintik. Lumayan terasa dingin di muka. Jalan sebentar di jalan setapak yang menanjak di antara perkampungan penduduk dan kebun sayur, selepas melewati perkampungan hujan deras lagi, kami berteduh di pinggir sebuah makam keramat. Untungnya gak lama hujan berhenti, jalan tanah becek berlumpur yang licin harus kami lalui sepanjang perjalanan. 

Sampai di pos 1 saya merasa lapar dan baru ingat kalau terakhir makan pagi hari di warung menuju ke Wekas dan siangnya gak makan apa-apa karena hujan. Saya makan biskuit sambil menunggu kawan-kawan serombongan yang masih di belakang. Cukup lama istirahat sambil foto-foto di pos satu, setelah semua rombongan lengkap kami kembali meneruskan perjalanan ke tempat kemah kami untuk malam itu, Pos 2.

Saya dan 3 orang kawan tiba lebih dulu di Pos 2, saat itu matahari baru saja tenggelam, sesaat sebelum gelap. Saya masih sempat mendirikan tenda saya sendiri - tenda dome kapasitas 2 orang, sebelum gelap, setelah itu saya bantu memegang senter ke kawan-kawan lain yang sedang mendirikan tenda mereka. Setelah gelap baru mulai terasa dingin banget sampai terasa ke tulang sumsum. Setelah makan malam saya langsung masuk ke dalam tenda. 

Tengah malam saya terbangun karena berasa dingin walaupun sudah pakai kaus kaki dobel, sarung tangan dan menutup rapat sleeping bag. Di rombongan yang perempuan hanya dua orang, saya dan kawan setenda saya waktu itu, dia baru pertama kali hiking. Kondisinya payah banget akibat pendakian hari pertama itu. Ternyata bukan hanya saya yang kedinginan, kawan saya itu sampai menggigil. 

Saya sempat bilang ke dia untuk pakai semua baju yang dia bawa berlapis-lapis gitu kemudian mengamati sekeliling tenda yang memang baru perdana dipakai ke gunung itu. Biasanya tenda saya cuma dipakai kemping di kebun samping rumah. Ternyata ada celah dibawah pintu yang bisa dimasuki udara dingin. Di malam kedua saya mulai tutup celah itu pakai jaket dan keril dari awal, belajar dari pengalaman malam pertama, jadi gak pake ada acara menggigil lagi.

Di malam pertama itu setelah terbangun karena dingin, saya jadi tidak bisa tidur lagi. Malah kebelet pipis. Saya lihat jam di iphone, hampir jam 3 subuh. Gak tahan, akhirnya saya keluar dari tenda menuju ke semak-semak. Sumpah! pantat kayak dicelupin ke air es pas buka celana, dingin banget. Brrrr... 

Balik ke tenda saya malah ikut nimbrung di tenda kawan saya di sebelah yang lagi rame rumpi sambil ngopi. Dibikinin kopi segelas akhirnya ikut ngobrol sampai pagi. Ketika mulai terang baru keliatan kalau ternyata banyak banget tenda warna warni di pos 2 itu. Jalan lewatin semak-semak sedikit di belakang tenda kami ada spot yang pemandangannya bagus banget. Bisa lihat pucuk gunung Sindoro, Sumbing dan Prau berdampingan diatas awan.


Sarapan pagi digelar di atas trashbag, nasi dan lauk-lauk nya plus sayur sop diletakkan di situ untuk dimakan berjamaah. Khusus dua orang perempuan manis yang udah pasti kalah kalo rebutan makan sama segerombolan cowo-cowo lapar dikasih piring dan boleh ambil makanan duluan. Selesai makan saya langsung beres-beres barang dan lipat tenda. Di pos 2 ini ada keran air buat refill persediaan air minum, karena dari situ sampai turun di selo sudah tidak ada sumber air lagi.

Dari mulai pos 2 ini jalanan terus menanjak. Di persimpangan antara Puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo kami istirahat lagi sambil menunggu rombongan yang tertinggal. Sebenarnya katanya di Merbabu ada 7 puncak, tapi tujuan kami kali ini hanya ke Kenteng Songo karena waktunya yang sangat terbatas.

Saya sempat makan mi instant mentah dan tidur-tiduran sambil berjemur di matahari yang hangat. Dari posisi sunbathing saya terlihat sebidang pasir yang katanya helipad, tapi terlalu malas untuk turun ke bawah situ, saya hanya leyeh-leyeh bersandar di batu besar. 

Setelah rombongan komplit lagi kami meneruskan perjalanan yang semakin menantang ke puncak Kenteng Songo. Saat itu jarak antar rombongan semakin lama semakin jauh. Saya dan beberapa kawan yang jalan lebih dulu sempat menunggu kawan-kawan yang lain mendekati jembatan setan. Salahnya posisi nunggu kami gak enak, gak terlindung, langsung kena angin dan pas kabut mulai turun rasanya dingin banget. Akhirnya gak kuat kedinginan kami meneruskan jalan duluan ke puncak. 

Jembatan Setan Merbabu
Karena terlalu lama menunggu di bawah, sampai di Kenteng Songo sudah kesorean dan kabut sudah turun. Kawan-kawan serombongan yang lain belum menunjukan tanda-tanda kemunculan, akhirnya kami mencari tempat dibelakang batu yang agak terhalang dari terpaan angin dingin dan mulai mengeluarkan kompor. Kawan saya memasak air dan kami masing-masing menyeduh minuman hangat. Saya yang gak suka banget sama jahe, seumur hidup baru kali itu terpaksa minum wedang jahe segelas. Itu juga wedang jahe nya cuma sempat hangat 2 menit, cepet banget dinginnya. Setengah gelas kemudian yang saya minum udah berupa es wedang jahe kayak baru keluar dari kulkas. 

Kawan-kawan yang lain baru mulai berdatangan setelah mulai gelap. Beberapa tenda tampak sudah berdiri di sisi Kenteng Songo, yang pasti jenis tenda canggih yang tahan terpaan angin kencang. Kami menuruni Kenteng Songo menuju tempat perkemahan malam kedua dalam keadaan gelap. Saya sempat tergelincir karena salah melangkah kemudian jatuh dan sempat terguling satu kali. Dalam keadaan telungkup saya terperosok ke bawah tertarik gaya gravitasi, tangan saya menggapai-gapai dalam gelap mencari pegangan tapi karena di jalur itu tidak ada vegetasi yang besar jadi saya hanya menggapai-gapai hampa aja. 

Karena gelap saya tidak bisa lihat saya terperosok kemana, yang saya tahu badan saya makin jauh terperosok ke bawah. Sempat tertangkap sesuatu yang berasa seperti akar, tapi terlalu lemah untuk menahan berat badan saya ditambah keril yang ditarik gravitasi. Untungnya beberapa saat kemudian saat saya nyaris pasrah bakal terus nyusruk kejurang, badan saya tertahan oleh semak yang lumayan rimbun. Seketika saya berhenti meluncur tapi teriakan saya yang kaget karena tergelincir masih terdengar gemanya.

Peristiwa itu bikin adrenalin meningkat dan dengkul lemes. 

Setelah turun dari Merbabu saya baru sadar kalau peristiwa itu juga bikin ankle kaki kiri saya bengkak akibat terkilir.

Malam itu hujan turun dengan derasnya, untung tenda saya sudah berdiri sebelum hujan deras. Untung di malam sebelumnya saya sudah tahu lokasi celah di tenda saya, jadi sempat saya tutup plastik di tambah keril dan jas hujan. Sempat khawatir juga kalau air hujan merembes ke tenda, karena sebelumnya tenda say aiu belum pernah di uji coba di kondisi hujan dan berangin kencang. Untungnya sih enggak. 

Keesokannya sebelum nyasar, seperti yang pernah saya ceritain dipostingan Salah Jalan (klik link birunya), saya sempat foto dengan latar pucuk Gunung Merapi yang menjulang di atas awan. Keesokan harinya baru saya dengar kabar, di hari yang sama saya foto dengan Merapi itu ada orang yang jatuh ke dalam kawah Merapi.

liat kan merapi nya yang abu-abu itu di tengah awan



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...