Jumat, 17 Agustus 2012

The Jones Street

pic by Kak Masni
Semoga tidak ada yang menangis gara-gara postingan ini. 

Rumah mungil yang disusun dari bata merah di pojokan Jones Street adalah tempat saya bernaung selama beberapa hari di kota Melbourne. Paviliun mungil yang terdiri dari satu ruang tamu yang gabung dengan dapur, dua kamar tidur dan satu kamar mandi ini dihuni oleh tiga orang pelajar Indonesia yang sama-sama berjuang menuntut ilmu di Australia dan seekor kucing.

"Mil, ini Kak Masni housemate gue," ujar Cipu memperkenalkan sesosok perempuan dengan senyum ramah keibuan yang ikut menjemput kedatangan saya di airport Tullamarine. Kak Masni berasal dari Sulawesi Selatan, sama seperti Cipu. Sama juga seperti moyang nya mereka yang sejak jaman dahulu kala sudah mengarungi lautan melintasi dunia dengan kapal Pinisi nya. 

Tiba di rumah nya, Kak Masni langsung menghangatkan makanan. Menurut Cipu, keadaan berubah sejak kedatangan Kak Masni menjadi housemate nya, pipi nya cipu jadi semakin tembem dan perutnya jadi semakin buncit akibat masakan Kak Masni. Walaupun dengan keterbatasan bumbu rempah, tapi Kak Masni laksana ibu peri dengan tongkat ajaib nya mampu menghadirkan makanan nusantara di sudut Jones Street itu. Terbukti di hari ke-4 saya disana, *triiiiiing* ada santapan Mie Titi tersedia di atas meja.

pic by Kak Masni

Pepe Zubaidah
Satu lagi penghuni disana bernama Toni, orangtua angkat dari seekor kucing gondrong bernama Pepita Zubaidah - panggilannya Pepe. Toni seorang pria kocak dan selalu ceria, dengan senyuman manis nya yang dapat melelehkan hati semua ekor kucing. Selain smart dan penyayang binatang, si handsome ini juga pinter masak. Di hari kedua saya di sana, masakan ayam saus lemon hasil karya nya sempat saya cicipi. 

Masakan Kak Masni udah dibahas, masakan Toni juga udah, pasti pada penasaran kira-kira apa masakan Cipu ya? Ternyata Cipu punya spesialisasi sendiri dalam kegiatan masak-memasak di Jones Street, tukang potong bawang. "Pokoknya masakan apa pun, Cipu yang potong bawangnya," Kak Masni menjelaskan tentang role si tukang potong bawang, berusaha menekan kan bahwa itu adalah sebuah peran yang signifikan dan penting dengan menambahkan," waktu itu pernah mau potong bawang ga ada Cipu, akhirnya malah nangis berurai air mata."

Toni memasak dan Cipu motong bawang

Cipu potong bawang pake kacamata renang -_____-" (pic by Cipu)
Sempat sih Cipu hampir memasak bubur di tempat sodaranya yang sakit. Sodara nya Cipu yang juga sekolah di Melbourne terserang sakit flu berat. Seperti ibu-ibu kantoran yang dapat kabar kalau anaknya sakit dirumah, Cipu pun panik. Meracau tentang kekhawatirannya apabila sakitnya parah, sampe sudah menyiapkan segala macam skenario kalau si sodaranya itu harus dibawa ke rumah sakit segala. Untungnya ketika sampai disana, sodaranya Cipu itu sudah merasa agak baikan. Dia ternyata sudah ke dokter dan sudah di beri resep obat flu.

Supaya sodaranya bisa makan dengan sore throat gitu, Cipu berinisiatif membuat bubur. Tapi kelihatannya sih kayak kurang meyakinkan gitu. Untungnya tidak lama Kak Masni - yang di telepon Cipu untuk menjemput saya karena dia akan menginap di tempat itu dan menemani sodaranya yang sakit - datang. Selamatlah sodaranya Cipu dari masakan bubur eksperimental nya Cipu dan *triiiiiing* jadilah bubur ayam a la Kak Masni. Walaupun begitu disini Cipu tetap berperan kog, sebagai tukang iris daging ayam.

Cipu, Kak Masni dan Toni sama-sama sedang mengenyam studi di Melbourne University dengan mendapatkan beasiswa. Saya selama ini berpikir, enak banget yah yang bisa kuliah di luar negeri, bisa sekalian jalan-jalan. Ternyata anggapan itu ga sepenuhnya benar, saudara-saudara. Kehidupan para mahasiswa di negeri asing itu ternyata berat, hidupnya senantiasa dihantui tugas, essay, laporan, ujian, dst dst yang kayaknya ga abis-abis. Baru berapa hari saya disana menyaksikan beratnya perjuangan kuliah di sana, langsung jiper.

pic by Kak Masni

Kalau di rumah, mereka akan sibuk di depan laptopnya masing-masing bahkan sampai larut. Toni, di temani oleh Pepe akan bersemedi di dalam kamarnya berusaha mengurai kata-kata menjadi sebuah essay. Sementara Kak Masni di depan laptop mungil dan kertas-kertas berserakan di lantai kamarnya, nyaris menyelesaikan laporan 15.000 kata.

Cipu juga tampak serius di depan laptop nya, jidat berkerut alis bertaut, nonton youtube. Walaupun begitu mulutnya tak berhenti mengeluarkan kalimat-kalimat penyesalan, tentang betapa mudahnya dia tergoda oleh youtube dan facebook dan blog walking sementara dateline tugas nya makin lama makin terasa mencekik leher.

Mendengar Kak Masni nyaris menyelesaikan tugasnya dan mau ngumpulin lebih awal, Cipu merasa terintimidasi. Tidak rela Kak Masni menyelesaikan tugasnya dengan mulus, Cipu mulai menggoda dengan merayu Kak Masni menonton salah satu episode Kiki Farrel dan Mama Dahlia di salah satu acara reality show yang suka mengeksploitasi kisah-kisah sedih.

Kak Masni yang perasaannya lembut dan mudah tersentuh paling ga tahan kalo liat yang model-model gitu, menurut Cipu dia akan langsung berurai air mata. Jadi kalau dikasih liat yang sedih-sedih, Kak Masni pasti bakal ikut sedih dan mewek sehingga lupa akan tugasnya. Benar saja, baru setengah cuplikan tayangan video muka Kak Masni langsung merah dan matanya berkaca-kaca. Tapi usaha Cipu untuk mensabotase tugas Kak Masni tidak berhasil. Dengan penuh dedikasi, perempuan tangguh itu tetap kembali meneruskan laporannya sambil meneteskan airmata, masih terbayang perjuangan hidup Mama Dahlia yang membesarkan Kiki Farrel seorang diri sedari kecil tanpa ayahnya.

Toni juga sama aja. Meskipun wajahnya polos innocent seperti gadis perawan desa, bersama dengan Cipu juga suka usil bikin Kak Masni berurai air mata, baru abis itu mereka berdua tertawa puas. Memang suatu hubungan aneh yang penuh dengan canda tawa dan derai airmata.

pic by Kak Masni

***
Foto Cipu potong bawang pake google itu ditambahkan belakangan setelah postingan ini terpublish selama beberapa jam. Cipu yang pada saat membaca sedang berada di kampungnya - Sidrap, segera mengirim foto ini via BBM. Katanya supaya ada bukti kontribusi nya dalam kegiatan masak memasak di Jones Street sebagai tukang potong bawang gitu.


28 komentar:

  1. pepita zubaidah itu nama kucingnya. hahaha... jadi ingat kucingnya indra herlambang

    BalasHapus
    Balasan
    1. kucingnya Indra Herlambang emang namanya siapa? hihihi

      Hapus
  2. ya iyalah motong bawang suka pake nangis
    tapi nama kucingnya keren amat
    kalah nama elu mil.. haha piss

    BalasHapus
    Balasan
    1. nama aku Djamila, Om huhuhuuu....

      Hapus
  3. Sekolah di luar negeri memang penuh perjuangan mil! Apalagi buat yang modal nekat dan enggak dapet beasiswa kayak gue! Hehe.. Semua ada suka dukanya..

    Btw, Pepita Zubaidah top banget tuh! Gue pikir kucing emak gue doang yg punya nama keren kayak Astrid, Vincent, Bella, dll :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang dapet beasiswa aja udah amit2 repotnya sama tugas, gimana yang nekat modalin sendiri ya? Sambil kerja gitu yak? hiiiiy ngeri, klo aku pst langsung kurus kering.

      Hapus
  4. setuju, nama kucingnya keren. jadi ngefans.

    hmm.. ternyata emang berat ya? semoga mereka yang berkuliah di sana mendapat semangat setelah membaca postingan ini #halah.

    BalasHapus
  5. wahh, seberat itukah... saya jg pgn dapet beasiswa n' sekolah di sana mbak >.<

    pantes aja kalau kak Masni yg iris bawang bakal nangis bombay, kan ga pake kacamata-sdngkn kak Cipu pake...kacamata renang lagi yg kece abis -.-"

    mbak Mila ga nimbrung nyoba masak apa gitu??

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jadi relawan cuci piring aja selama disana, drpd klo aku ikut2 masak malah kacau nanti hahahaa

      Hapus
  6. Enak nih bisa tingga do ozi..say lagi ikutan test scholarship ..muda2han lulus n bisa kul di sana

    BalasHapus
  7. kiraan ceritanya sedih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. menyedihkan untuk Kak Masni hahahaa

      Hapus
  8. namanya (cipu) kayaknya familiar yah? pernah denger dimana gitu.... :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. huaaah, awas dijitak kamu nanti sama cipu hahahaa...

      Hapus
  9. dari Sidrap berkelana ke Melbourne University.sambil berkontribusi dalam masak memasak.wow..great ...sidrap tidak jauh dari makassar....salam :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa.. nanati salamnya ku kirimkan ke sidrap, soalnya tukang potong bawangnya skrg lagi pulang kampung tuh hahaaa

      Hapus
  10. pertanyaan selama kau disana...kau hanya makan? tak ikut ngulek atau apalah gitu cuci piring kek...heheehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku cuci piring, tante. kan aku ga bisa masak, masak air saja gosong hahahaa

      Hapus
  11. cuci piring paling juga dipecahin wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung disana ga ada piring beling wkwkwkwk

      Hapus
  12. eh? itu mila apa si kakak yang pake jilbab?
    kalau iyaaaaaaa, waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    baca postingan ini kok jadi ikutan jiper mau kuliah di luar negeri.
    hehhehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg pke jilbab kak masni, cihui kan gayanya :p
      jgn malah jd jiper, jd semangat donk mustinya hahaha...

      Hapus
  13. Dan gw sukses dong nggak nangis ;) (sambil bertanya-tanya, di bagian mananya sih yang bikin nangis?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mksdnya yang aku takutkan bakal nangis terharu pas baca ini ya Kak Masni, kan dia sensitif gitu perasaannya hahahaa

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...