Sabtu, 12 Maret 2011

Bangkok: Ancient & Modern jadi satu

Lagi-lagi saya melancong ke negara yang sebelahan sama negara saya sendiri dan berpikir, "kapan ya negara saya bisa belajar dari tetangga nya?". Disaat negara-negara yang sebelahan sama negara saya ini sudah punya MRT (kereta bawah tanah) dan BTS (Sky Train), kita masih berkutat ngutak-ngatik Busway yang ternyata juga tidak efisien dalam menghindari kemacetan.

Thailand ini terkenal banget dengan pariwisata nya di seluruh dunia. Bahkan sudah beberapa kali di jadikan lokasi syuting film-film Hollywood. Kali ini saya memang belum sempat mengunjungi tempat syuting The beach & James Bond di Phuket, karena dalam waktu 3 hari saya fokus keliling-keliling di ibukota negara Thailand, Bangkok. Nama kota ini kalau di sebut dalam bahasa Thai puanjang nya kayak cerpen, tapi kalo disingkat dan di bahasa Inggris kan jadi City of Angels. Mungkin karena disini banyak kuil-kuil (Wat) dan patung-patung Budha dari jaman baheula yang merupakan simbol religius rakyat Thai.

Jaman dahulu kala sewaktu masih dikenal dengan nama Siam, ibukota Thailand bukan di Bangkok. King Rama  I yang memindahkan pusat pemerintahan ke "kota malaikat" ini. Lokasinya di pinggiran sungai Chao Praya, bersebrangan dengan ibukota yang lama. Daerah ini namanya Ko Rattanakosin, disinilah dibangun pusat pemerintahan dan pusat ke-agama-an yang baru.

Hingga sekarang bangunan-bangunan jaman dahulu kala ini masih berdiri megah. Bangunan bersejarah di daerah ini termasuk Kompleks Grand Palace dan Wat Phra Keow yang di dalamnya ada Patung Emerald Budha. Lalu di seberang Kompleks Grand Palace ada Wat Pho, tempat diletakannya Patung Sleeping Budha raksasa.


Waktu saya kesana, ternyata Raja nya sudah tidak di Grand Palace lagi. Beliau  sudah pindah ke daerah Dusit semenjak kakek nya Raja yang sekarang. Mungkin karena lingkungan ini sudah terlalu crowded dan sulit mendapatkan privacy. Rattanakosin masih di jaga ke-ancient-an nya  dan menjadi daerah wajib kunjung bagi turis-turis interlokal yang melancong ke Bangkok.Sedangkan kalau kita keluar dari daerah ini, kita bisa merasakan sisi Bangkok yang berbeda. Bangkok yang modern.

Bangkok Streets
Night at City of Angels

Democracy Monument
Suvarnabhumi Airport
Ke-kosmopolitan Kota Bangkok sudah mulai terlihat sejak menginjakan kaki di Suvarnabhumi Airport. Bandara ini dulu dibangun untuk dijadikan Internasional Hub, atau bandara penghubung internasional dari Afrika, Amerika dan Eropa ke negara Asia Tenggara. Jadi Semua pesawat dari seluruh belahan dunia kalau mau ke Asia Tenggara musti transit di Bandara ini. Semacam bandara di Hong Kong gitu. Tapi sih denger-denger karena issue safety yang masih belum memadai, maka bandara ini belum memenuhi syarat jadi International Hub.

Masalah macet atau Traffic jam, di Bangkok ini tidak jauh berbeda dari Jakarta. Eh, Jakarta masih menang dink macet nya hehehee.... Wajar kali ya bagi kota besar yang merupakan pusat bisnis kalau ada macet karena jumlah kendaraan nya yang banyak. Tapi setidaknya di kota ini disediakan alternatif transportasi umum untuk menghindari macet. Ada MRT yang jalannya di bawah tanah dan ada BTS yang jalannya diatas. Bahkan ada Express Boat melalui sungai Chao Praya. Indonesia kapan ya? Hmmm.... *mengkhayal*

Mau tau berapa budget saya keliling-keliling Bangkok dalam 3 hari? Klik disini

Rabu, 09 Maret 2011

Old Shanghai: The Bund

Saya pernah janji kan di postingan mengenai Shanghai History Museum kalau saya akan membahas tentang The Bund. Kalau di Ho Chi Minh City ada area "mirip" kota perancis, nah di sini ada area yang "mirip" kota London. Malahan ada kembaran Big Ben, itu loh Jam Gadang nya Kota London..... konon jam ini di buat oleh pabrik yang sama dengan yang membuat Big Ben di London. Kenapa bisa ada Big Ben di Shanghai ya? Well... *seperti kata orang londo*... it's a very long story. 
Ringkasannya, berawal dari perang opium yang sempat saya singgung di postingan sebelumnya mengenai Shanghai History Museum. Untuk mengakhiri perang opium, dimana China perang dengan British yang menyelundupkan opium ke negaranya, di buatlah perjanjian Treaty of Nanking. Perjanjian tersebut menetapkan Shanghai sebagai salah satu port perdagangan International dimana British boleh melakukan perdagangan international di tempat tersebut. British pun membuat markasnya di daerah ini untuk mengatur perdagangannya. Markasnya kemudian disebut British Settlement. Orang-orang British pun mulai membangun bangunan-bangunan bergaya eropa, ada yang digunakan sebagai kantor, Bank, Hotel, Club dan lain-lain.

Lalu bangsa-bangsa lain seperti Amerika dan Rusia mulai datang membangun pusat perdagangan di daerah ini juga, sehingga namanya berubah menjadi International Settlement. Kemajuan pesat antara akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 membuat Shanghai menjadi International Hub untuk perdagangan East Asia. Sebenernya sih orang-orang bule ini emang udah lama mengincar lokasi strategis ini untuk membuka jalur perdagangan ke Asia.
Bangunan Kuno jaman Kolonial
Berasa di London komplit dengan Big Ben nya
Tapi kemudian datang Jepang. Awalnya mereka hidup berdampingan hingga akhirnya Jepang mengusai daerah ini dan orang-orang bule itu pun tersingkirkan. Tahun 1945 Jepang kalah dalam World War II  ketika Hiroshima dan Nagasaki di jatuhi bom atom. Jepang pun surrender dan pergi dari China. Sekarang The Bund adalah salah satu destinasi wajib bagi turis yang mengunjungi Shanghai.

Salah satu destinasi turis lokal & internasional di Shanghai


Sabtu, 05 Maret 2011

Tanah Lot

Kebetulan nih pas momennya sama Hari Raya Nyepi. Lagi iseng-iseng liat rekaman-rekaman hasil kenarsisan diri dengan media DVD-Cam, ketemu sama rekaman waktu ke Tanah Lot lebih dari 2 tahun lalu. Waktu itu saya berdua dengan adik saya menghabiskan waktu di Bali selama 2 minggu, benar-benar refreshment bagi jiwa dan raga.

Sengaja kita pilih jadwal ke Bali bertepatan dengan Hari Raya Galungan & Kuningan, jadi banyak upacara-upacara seru yang bisa kita amati (rencananya, faktanya adalah kita lebih banyak menghabiskan waktu berleyeh-leyeh, tidur siang dan wisata kuliner). Ketika kita ke Tanah Lot untuk menyaksikan sunset, di Pura ini lagi dilakukan upacara. Jadi ruame nya puol ! Kemudian, nyanyian-nyanyian yang kedengeran di rekaman saya itu beneran asalnya dari upacara tersebut.

Sayangnya waktu itu kita lagi  ga beruntung, karena cuaca berawan dan mendung jadi Sunset nya kurang kelihatan. Tapi untuk mengetahui lokasi menyaksikan matahari terbenam, yang disebut Sunset Terrace di kompleks Tanah Lot bisa menyaksikan rekaman amatiran saya berikut.


Sorry banget kalau awalnya rada-rada pusing ngeliat gambarnya yang goyang-goyang... maklum kamerawati nya belajaran hehehee... Di jalan menuju Sunset Terrace banyak terdapat kios-kios suvenir dan kerajinan seni. Dan sembari menunggu matahari terbenam, kita bisa leyeh-leyeh di cafe sembari menyesap es kelapa muda. Huhuhuuuu.... jaadi kangen pengen ke Baliiiiii....

Surprisingly, saat saya sedang menuliskan postingan ini iseng-iseng search di mbah google ternyata ada website tanah lot: http://www.tanahlot.net, berbahasa inggris dan ternyata tempat ini punya Operational  Manager. Wuih keren banget. Ini salah satu contoh tempat wisata yang di manage profesionaly. Coba kalau semua tempat wisata di Indonesia model gini, bukan hanya yang di Bali saja. 

Waktu saya mau ke Bangkok dan browsing di internet, semua tempat wisata disana punya website nya sendiri. Hal itu kemudian menentukan mana objek wisata yang WAJIB buat saya kunjungi dan saya prioritaskan, kemudian mana objek wisata yang hanya akan saya kunjungi kalau ada waktu luang aja. Mungkin masalah website ini kelihatannya sepele, tapi kunci buat menyebarkan dan memperkenalkan "sesuatu" yang paling efektif di jaman nya Mbah Google berjaya ini, menurut saya.

Trus enak nya lagi di jaman "apa-apa serba internet" gini, kalau mau cari tempat menginap ga perlu repot-repot kayak jaman dulu, buka yellowpages atau telpon ke 108 buat tanya nomor telpon hotel dan nelponin satu-satu buat nanya rate dan ketersediaan kamar. Ribet.

Beberapa tahun lalu saya masih ngelakuin itu. Sekarang udah ga pernah lagi. Tinggal masuk ke website reservasi online kayak Agoda gitu, trus tinggal pilih deh sesuai lokasi dan harga yang kita mau. Waktu saya ke Bali ini kebetulan bertepatan sama peak season, kebayang ga sih susah nya cari hotel pas itu. Tapi saya berhasil nemu Hotel di Bali yang harganya lumayan terjangkau dan lokasinya strategis banget -di Kuta, ya dari Agoda itu.

Jujur, saya selama ini lebih prefer untuk booking hotel dari website gitu, soalnya lebih praktis. Apalagi kalau pergi ke daerah yang belum pernah saya datengin sebelumnya. At least, pas nyampe kita tau destinasi kita selanjut nya kemana, ga luntang-lantung ga jelas dan ga akan kejadian deh tidur di mesjid karena ga dapet tempat nginap. heheee....

Tiba-tiba  terlintas di otak saya untuk pergi ke Bali bertepatan dengan Hari Raya Nyepi dan mendokumentasikan ke-sepi-an Nyepi di Bali *halah*

Rabu, 02 Maret 2011

Tiga hari di Bangkok

Sa-wat-dee ka
Saya kembali dengan postingan yang mungkin paling ditunggu-tunggu hihiiiy... *ge-er-an* yaitu itinerary saya selama di Bangkok berikut dengan budget nya. Tiga hari di kota ini, saya berusaha sebanyak mungkin meng-eksplor dengan budget seminimal mungkin, walaupun kali ini tidak backpacking.

Saya tiba di Bangkok dan menginap di hotel yang terletak di kawasan Banglamphu dengan pertimbangan dekat dengan kawasan Wat-Wat yang terkenal (Grand Palace, Wat Phra Keow, Wat Pho dan Wat Arun). Dari airport ke kawasan Banglamphu menggunakan Bus Airport Express 135 bath dan menginap di Thai Cozy House dengan rate 650 bath semalam. 

Hari Pertama, pagi-pagi setelah sarapan di hotel saya berangkat jalan kaki ke Grand Palace dan Wat Phra Keow, entrance fee 350 Bath. Kemudian menyebrang ke Wat Pho dimana terdapat Patung Sleeping Budha Raksasa, 50 Bath. Setelah itu menyebrang lagi ke dermaga Tha Thien untuk naik Ferry menyebrang sungai Chao Praya ke Wat Arun, entrance fee 50 Bath. Sewa baju adat untuk foto 100 Bath. Untuk menyebrang dengan ferry ongkosnya 6 bath PP. Makan siang saya di Rumah Makan Thai Muslim Roti Mataba 75 Bath. Kemudian sore hari saya pindah hotel naik taksi ke daerah Silom 120 Bath. Malam hari saya mengunjungi daerah Pat Pong menggunakan BTS sky train 40 Bath, PP.

Daerah Banglamphu, deket Khao San Road
Di depan kompleks Grand Palace yang megah
Hari Kedua, hari Sabtu. This is Shopping day. Pagi hari ke chacktucak menggunakan BTS Sky Train, 40 Bath. Jajan udang 250 bath seporsi dibagi tiga, jadi seorang membayar 85 Bath. Kemudian saya dan kedua teman saya naik taksi ke daerah Pratunam, masing-masing membayar 35 Bath. Makan sore di foodcourt Indrasquare, 55 Bath. Jalan menyusuri pertokoan dan menembus pasar-pasar hingga sampai ke daerah Siam. Jajan Cumi bakar 20 bath. Kemudian naik BTS Sky Train kembali ke hotel 25 Bath. 

Hari Ketiga, dengan modal free entrance dari Tiket Grand Palace saya berangkat ke Vinmanmek Mansion di daerah Dusit menggunakan Express Boat melalui Chao Praya river ke dermaga Tha Thewet, 14 bath. Jalan kaki 15 menit hingga tiba di Vimanmek Mansion. Kembali naik tuk-tuk ke dermaga Tha Theweet, 35 bath. Naik Express Boat lagi, 14 Bath, kali ini turun di dermaga Tha Oriental karena ingin mampir makan siang di Thai Cuisine moslem restaurant. Makan siang saya kali ini 65 Bath dan jajan baso goreng 20 bath. 
Tha Theweet, dengan background King Rama Bridge
Pak Biksu
Setelah perut kenyang, saya kembali ke hotel untuk bersiap-siap pulang ke tanah air dengan pesawat malam. Jalan kaki 10 menit dan tiba di hotel. Rate hotel kami, Astera hotel di Silom adalah 1300 Bath semalam, jadi kami bertiga masing-masing membayar 880 bath untuk dua malam. Ke bandara naik taksi pun patungan bertiga, masing-masing keluar biaya 100 Bath.
Jadi total pengeluaran saya di Bangkok selama 3 hari adalah 2964 Bath, kalau di kurs dengan rate 1 Bath = Rp320, maka total pengeluaran saya Rp. 948.480,- (tidak termasuk shopping & SIM Card Thailand supaya bisa eksis di soc med)
Lumayan kan? heheee....

Selasa, 01 Maret 2011

Back from Bangkok


Sa-wat-dee ka,,,,

Saya sudah kembali dari Bangkok, tidak sabar untuk sharing experience dan sangat amat merindukan blogwalking ke teman-teman sekalian.

Tapi sekarang saya sangat mengantuk,, tuk,, tuk,, tuk,,
karena belum tidur semalaman. Kopi juga tampaknya sudah tidak mampu menahan rasa perih di mata ini... jadi ijinkanlah saya sejenak untuk memejamkan mata.

Tunggu cerita saya besok  yah...

Sekian.


Korp kun ka,,,


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...