Rabu, 18 Desember 2013

Berburu ( Tur ) Komodo

Sebelumnya saya sudah cerita kalau misi saya, Pagit dan Mba Efa melihat Komodo dan Pink Beach sudah terlaksana dengan sukses, yang belum saya ceritakan adalah suka duka mencari tur yang murah yang sesuai dengan kantong kita-kita.

Saya juga sudah ceritakan sekilas tentang riset singkat saya sebelum berangkat menelpon Pak Hans dari salah satu agen tur yang menyediakan fasilitas ke Pulau Komodo. Melalui telepon Pak Hans sempat menjelas secara singkat mengenai jenis-jenis tur yang ditawarkan, ada tur 1 hari ke Pulau Komodo dan Pink Beach, dan ada tur 2 hari ke Pulau Komodo, Pink Beach, menginap di kapal atau di pulau seraya, ke Pulau yang banyak kelelawarnya dan terakhir ke pulau rinca. Tapi waktu itu saya hanya tanya-tanya aja dan bilang ke Pak Hans itu kalau nanti kita akan langsung berkunjung ke kantor tur nya ketika kita tiba di Labuan Bajo. Rencana kita (saya, mba efa dan pagit) mau langsung membandingkan dan kalau bisa memodifikasi sendiri perjalanan kita ke pulau komodo itu.

Saya sempat cerita juga sebelumnya, bahwa dihari  kita mendarat di Labuan Bajo takdir mempertemukan kita dengan Wawan yang mengantarkan kita dari bandara ke Labuan Bajo dengan tarif 50 ribu rupiah setelah melalui proses tawar menawar yang sadis oleh Pagit. 

Di hotel Gardenia yang berbukit-bukit itu di meja resepsionis saya kenalan sama seorang guide yang lagi bawa tamu orang asing, dia menawarkan trip ke Pulau Komodo untuk 2 hari. Jadi prinsipnya ikut tur ke pulau disini adalah semakin banyak peserta maka biaya per-orangnya jatuhnya lebih murah, jumlah yang wajar kalau menurut saya sih melihat besar rata-rata kapal disana maksimal 7 orang udah sumpek sih. Si guide itu sudah ada 2 peserta yang mau ikut tur untuk keesokan harinya, jadi kalau tambah kita 3 orang, total 5 orang - jadi untuk trip 2 hari (menginap di kapal) biaya per-orang nya hanya 500 ribu-an. 

500 ribu untuk 2 hari jauh lebih murah dari pada biaya yang ditawarkan oleh Pak Hans, yaitu 800 ribu-an per orang untuk trip yang satu hari. Saya dan guide itu pun tukeran nomor henpon dan saya berjanji akan mengabari nya lagi sebelum matahari terbenam.

Ternyata kakak sepupu nya Wawan punya usaha tur juga. Kakak sepupu nya Wawan saat itu tidak ada di Labuan Bajo karena lagi ada pameran di Jakarta. Tapi kita akhirnya berkesempatan ketemu kakak nya Wawan - si pengusaha tur Labuan Bajo yang sukses itu, di bandara waktu kita mau pulang. Karena pesawat kita delay kita ngopi-ngopi di kantin bandara di temani wawan dan kakak sepupu nya itu. Pas lagi ngopi-ngopi tiba-tiba ada satu laki-laki flores datang memanggil Mba Efa, ternyata dia pria yang kita ketemu di pink beach yang nyuruh saya buka kacamata hitam untuk melihat warna pink pasirnya dan langsung aja ikut nimbrung ngobrol sama kita.  

Kita pun dibawa ke kantor agen tur kakak nya itu dan dikenalkan dengan kawan nya bernama James yang kerja disitu. James juga menawarkan kita trip 2 hari bergabung dengan 2 orang lain yang sudah mendaftar. Tapi kita hanya punya waktu sebentar di Labuan Bajo, jadi kita hanya mau trip ke pulau 1 hari sedangkan 1 hari lagi kita mau trip di darat, lihat gua dan air terjun yang kita lihat di brosur di hotel - keren banget. 

Akhirnya kita minta James mencarikan kita kapal yang bisa di charter sehari, ketika ditanyakan ternyata harganya 1,5 juta satu kapal per-hari (tujuan terserah kita) tapi kita dapat makan siang di atas kapal, dapat kopi/teh pagi-pagi dan air mineral sepuasnya. Untuk trip satu hari itu, karena kita hanya bertiga, jatuhnya jadi sama kayak trip 2 hari berlima, yaitu 500 ribu per pax.

"Kita pikir-pikir dulu deh James," kita mau berunding dulu ambil trip 2 hari atau trip 1 hari mengingat harga per orangnya yang sama dan mempertimbangkan kunjungan ke air terjun, "nanti sore kita kabarin lagi".

Kita masih punya satu alternatif, mengunjungi Pak Hans.

Kita tiba di depan agen tur Pak Hans, dekorasi kantor nya mencolok banget, dari kayu-kayu dan beratap daun kelapa kering. Sepertinya kantor turnya merangkap cafe dan tempat nongkrong turis-turis bule. Pak Hans sendiri ternyata orang asli Belanda yang sudah tinggal di Labuan Bajo selama 20 tahun dan sudah fasih berbahasa Indonesia walau kadang masih mikir-mikir untuk mencari padanan kata yang sesuai.

Pak Hans langsung membuka peta flores di meja di hadapan kita bertiga dan menjelaskan rute trip nya dengan menunjuknya langsung diatas peta. Dari penjelasan Pak Hans itu saya baru mengerti tata letak kepulauan komodo, apa saja yang bisa kita liat dan kita lakukan disana. Sebelum pergi kan saya minim riset, jadi tiba di Labuan Bajo bener-bener masih gelap tentang apa yang mau dilakuin disana. Pokoknya tujuan saya cuman mau liat komodo aja, ternyata banyak banget hal yang menarik selain komodo yang  bisa dijelajahin mulai dari laut sekitar Labuan Bajo sampai ke kepulauan komodo itu. 

Setelah kita mengutarakan keinginan kita untuk hanya sehari trip aja dia merekomendasikan untuk ke Pulau Komodo, lanjut ke Pink Beach, kemudian mampir di suatu teluk dekat situ dimana kita bisa snorkeling bersama Manta (semacam ikan pari tapi gak galak). Kalau kita mau rute itu ada satu orang bule yang lagi nunggu mau join. Biaya sewa kapal ternyata sudah standard di kalangan agen-agen tur itu, mungkin aja bisa dapat lebih murah kalau kita cari langsung ke dermaga, tapi kita sudah tidak punya waktu untuk itu. Yang mahal adalah biaya snorkeling bersama manta itu, karena harus bayar entrance fee ke pengelola konservasi itu 100 dollar per-orang. 

Kita bertiga membelalak.

Melihat tampang kita bertiga yang stress, Pak Hans mulai ngitung-ngitung lagi kemudian dia menawarkan solusi. "oke, buat kalian bertiga saya beri keringanan untuk biaya masuk manta itu, nanti bisa saya atur." Tapi biayanya paling sedikit sekitar 700 ribu per orang dan itu gak termasuk makan siang di kapal.

Beberapa alternatif ini membuat kita bertiga galau. Tiap alternatif punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua menarik dan semuanya sebenarnya mepet sama budget kita yang miris ini. Akhirnya setelah melalui diskusi panjang, kita bertiga mufakat kalau kita akan sewa kapal + makan siang melalui James. Saya pun menelpon guide yang saya temui di Hotel Gardenia untuk memberi tahu kita tidak ikut trip dua hari itu. Kemudian menelpon Pak Hans untuk memberi tahu kita tidak jadi ambil trip sehari yang include berenang sama manta ray itu. Setelah menutup telepon Pak Hans sebenarnya hati saya merintih sedih, saya mau berenang sama Manta Ray hiks hiks....

Sementara Pagit menelpon James yang segera mengurus keberangkatan kita untuk keesokan subuhnya termasuk mencarikan kita seperangkat google dan kaki katak untuk snorkeling. Transaksi pembayaran dilakukan saat kita makan malam di warung kaki lima pinggir laut. 

"Besok subuh jam 4 saya jemput di hotel ya, kak." seru James sebelum pergi meninggalkan kita malam itu.


Musyawarah di depan warung yang kayak seven eleven-nya labuan bajo

James di depan kantor tur nya

Minggu, 15 Desember 2013

Macaque Girl

Ini sudah kesekian kali saya terinspirasi dari total stranger yang saya temui di jalan, people who live with their passion. Kali ini namanya Niki, cewek  mungil dari Chicago yang umurnya palingan sepantaran saya. Di pesawat Manado - Jakarta dia duduk di sebelah saya. Celana jeans, sepatu sneakers, kemeja kotak-kotak dan rambut panjang pirang yang di dreadlock (gimbal) seperti bob marley. Awalnya saya pikir dia just another tourist yang bergaya hippies gitu, jadi saya gak gitu pay attention.

Hingga datang pramugari menawarkan makanan dan minuman. Cewe bule rasta itu duduk di window seat sedangkan saya di tengah, di alley seat adik saya Chacha. 

Pramugari nanya ke dia, "do you want chicken or fish?"

"Do you have vegetarian food?"cewek itu balik nanya.

"Excuse me?" pramugari itu balik nanya seolah-olah gak denger.

Jadi saya bantuin ngomong ke pramugari itu, "vegetarian, mba."

"oo.. sorry we don't have that," jawab pramugari.

Cewe itu pun menolak diberi makanan dan ketika ditanya mau minum apa, yang dia tanya juga susah banget, "do you have ginger ale?"

Lagi-lagi pramugari bingung.

"Ginger Ale," saya bantuin lagi. 

"wah ga ada juga," kata pramugarinya, kali ini ke saya, mungkin dia mulai mikir saya temenan sama cewe aneh yang permintaannya aneh-aneh ini. 

"they don't have it," kata saya menerjemahkan ke cewe itu sementara si pramugrari pasti makin yakin kalo saya temenan sama bule antik ini.

"owh it's ok, i'm fine" kata cewe itu, Pramugari pun berlalu.  Kemudian dia menjelaskan kalo dia pengen ginger ale soalnya lehernya gatel gejala flu batuk gitu. Saya menawarkan teh panas. Dia jawab dia udah minum teh panas selama beberapa hari tapi gak menolong leher nya yang gatal.

Akhirnya obrolan berlanjut, "I'm Niki by the way," katanya.

"Mila. Nice to meet you," kata saya.

Niki ternyata bukan turis. Dia antropologist yang melakukan penelitian tentang kehidupan Macaque yang ada di Hutan Tangkoko selama 6 Bulan. Selama itu dia tinggal di pondok yang terletak di dalam hutan tangkoko. Seharian mengikuti dan ngintipin kegiatan sehari-hari monyet-monyet hitam besar itu. 

"I love Macaque," katanya waktu saya tanya kenapa dia pilih riset tentang itu dan di bela-belain terbang  sendirian puluhan jam ke hutan gak jelas di propinsi gak jelas dari negara yang (mungkin) gak jelas juga kalau dari sudut pandang orang amerika, bener-bener in the middle of nowhere nya in the middle of nowhere. 

"Saya pernah ke Tangkoko, liat tarsius," kata saya.

Niki membelalakan mata gak percaya karena saya orang pertama yang dia temuin di luar hutan itu yang pernah ke tangkoko, "really? ya…. tarsius itu memang cute."

Sementara saya menghabiskan makanan saya, Niki bercerita panjang lebar tentang kehidupannya di tengah hutan itu. "I love it," katanya. Dia tinggal di pondok yang terletak di pinggir pantai berpasir hitam yang kalau malam banyak kunang-kunang. Berlari-lari ngikutin kawanan Macaque. Ngumpet seharian di belakang semak-semak memantau kegiatan Alpha Male nya, alias kepala suku kawanan monyet-monyet itu. 

Pramugari datang lagi mengambil sampah bekas makanan sambil menawarkan tambahan minuman lagi. Saya minta kopi, Niki tetap menggeleng. "You sure?" kata pramugarinya sambil tersenyum manis. Niki mengangguk. Kemudian dia mengeluarkan biskuit dari dalam tas nya.

"Gak susah kan cari makanan buat vegetarian di indonesia?" tanya saya.

Di Indonesia banyak jenis masakan yang dari sayur-sayuran, Niki cerita di pondok nya di hutan itu ada bibi-bibi tukang masak yang masakin dia makanan tiap hari. "I love Tempe," katanya.

"Seriously?," tanya says,"me too. I love it so much, i can't live without tempe"

Niki tertawa. 

Penumpang di depan dan samping mulai lirik-lirik pengen tau kehebohan apa yang lagi di obrolin dua cewek cempreng yang lagi ngakak-ngakak.

Saya jadi tertarik sama dreadlocknya, saya tanya gimana caranya dia bikin rambutnya begitu, apa harus ke salon atau bisa bikin sendiri. Ternyata rambut dreadlock nya itu terbentuk secara alami dan memakan waktu 7 tahun sampai rambutnya bisa kayak bob marley gitu. Musuhnya adalah sisir dan conditioner. Di awal pembuatan dan sekali waktu untuk perawatan, dreadlock nya harus kena air laut supaya gimbal nya tetap merekat sempurna. Sisanya ya biasanya aja, keramas pake shampo. 

Saya cerita tentang legenda anak-anak berambut gimbal di Dieng. Tentang anak yang terlahir dengan rambut gimbal dan harus dilakukan upacara khusus untuk memotong rambutnya itu. Niki tampak sangat tertarik. "Too bad saya sudah punya tiket langsung pulang ke amerika, kalo enggak saya pasti bakal ke sana, sounds interesting," sambil cekikikan terus dia mulai ngebayangin apa yang bakal di lakukan sama orang-orang sana kalau dia datang dengan rambut bob marley nya, apa dia bakal dibikinin upacara juga. 

Alasan dia memelihara dread lock nya, menurut kepercayaan orang Jamaica - termasuk Bob Marley, tuhannya mereka akan mengangkat mereka ke surga dari rambutnya. Semakin tebal dan kuat rambutnya, pegangannya akan makin kuat. Makanya mereka bikin rambutnya jadi gimbal gitu.

What a lucky girl. Niki tau benar apa yang dia suka dalam hidup nya, dan melakukannya. Just do it. Dia suka banget sama Macaque, maka dia terbang sendiri ke negara tropis yang banyak nyamuk tanpa mikirin apakah bahasanya bakalan nyambung atau enggak, tinggal sendirian di pondok di tengah hutan kadang ditemenin sama ranger-ranger pengelola hutan lindung itu, tapi dia bahagia - itu yang dia inginkan dalam hidupnya. Pergi ke jamaica terus suka banget sama konsep tuhan yang mengangkat manusia ke surga dari rambutnya, dan 7 tahun konsisten memelihara dreadlock. 

Dia seumuran sama saya dan dia boleh memilih jalan hidupnya sendiri, sementara saya masih terjebak di somebody else's masterplan - sekolah, kuliah, kerja, cari duit, mati.  What I really wanted in life? sampai saat ini masih menjadi satu pertanyaan besar dalam hidup dan sampai sekarang saya masih aja terus hidup mengikuti apa yang menurut pandangan orang pada umumnya merupakan jalan hidup yang benar. enak kali ya hidup kayak the macaque girl itu, boleh memilih hal-hal yang di sukai dan menjalani hidup yang bahagia dengan pilihan itu.  

Mungkin itulah saat saya menemukan innerpeace saya, ketika pertanyaan besar "what i really wanted in life?" terjawab. Tapi waktu terus berjalan dan saya terus hidup mencari-cari jawaban yang seperti memecahkan soal matematika dengan turunan rumus integral dan diferensial yang rumit, coret-coretnya udah berapa lembar tapi jawabannya masih belum ketemu. 

Pencarian paling sulit itu adalah kalau kita tidak tahu apa yang kita cari.

Sambil terus bercerita tentang kehidupan Macaque, Niki mengangkat satu kaki nya yang mengenakan sepatu converse warna biru muda. Saat itu dia juga mengenakan kemeja kotak-kotak biru muda, jins biru dan tas backpack nya biru. 

"Let me guess your favourite colour," kata saya.

"What?" tanyanya.

"Blue."

Terus dia akhirnya nyadar apa yang saya maksud, sambil ketawa menjelaskan kalau dia bener-bener gak sengaja matching banget hari itu. Padahal warna favoritnya bukan biru, tapi oranye. 

"You wanna know what's more funny?" katanya setengah bisik-bisik mencurigakan.

"What?" saya balik nanya.

Kemudian dia buka backpack birunya dan mengeluarkan tempat kameranya - warna biru.

Kita berdua langsung ngakak lagi sampe penumpang depan dan samping nengok makin penasaran sama kehebohan dua cewek aneh yang berisik banget.

Rabu, 11 Desember 2013

Taman Sari Jogjakarta

Kayaknya semua orang udah pernah kesini ya? Saya berkali-kali ke Jogja baru satu kali ke Taman Sari. Ketika perjalanan pencarian innerpeace yang marathon ke candi-candi, saya dan chacha sempat makan siang nasi brongkos di deket daerah situ, jadi kita pikir sekalian aja mampir. 

Taman Sari adalah tempat pemandian putri-putri, permaisuri dan selir-selir keraton. Disekitarnya terdapat perumahan para abdi dalem yang bekerja untuk keraton dan masjid yang terletak di bawah tanah. Di depan pintu masuk Taman Sari terpancang papan bertuliskan UNESCO World Heritage. Setelah membeli tiket kita masuk ke dalam nya, suasana ramai sekali sampai susah banget mau foto tanpa ada kepala orang lain seliweran di frame foto kita. Dua pasang sejoli tampak sedang melakukan sesi foto pre-wedding dengan make-up yang nyaris meleleh kena panas dan serombongan kru fotografer.

Seorang bapak tua menghampiri saya, menawarkan diri menjadi guide. Saya coba menolak dengan halus dengan cara meleparkan senyuman seadanya sembari melipir pelan-pelan. Tapi tampaknya kemana pun saya pergi si bapak selalu aja bisa menemukan saya dan tiba-tiba sudah ada dibelakang sambil menjelaskan tentang sejarah tempat pemandian itu. Akhirnya saya kasihan juga dengan kegigihan bapak itu, saya pun mulai menimpali penjelasan-penjelasannya. 

Bapak itu kemudian menawarkan untuk mengajak keliling kampung sekitar situ sambil mampir di mesjid bawah tanah, saya dan chacha mengiyakan. Sebelum kita keluar dari kompleks tempat pemandian, kita mampir di tempat jual cinderamata berupa lukisan-lukisan dan wayang-wayang. Ada satu lukisan batik yang saya suka banget, memang kebetulan saya lagi cari lukisan untuk dipajang di dinding kamar. Ketika saya tanya harga nya mahal banget, si bapak itu kemudian berbisik nanti dia akan antar saya langsung ke rumah yang membuat kerajinan itu, harganya bisa lebih murah.

Setelah dari mesjid bawah tanah, bapak itu mengajak kita keliling kampung di sekeliling tempat pemandian. Katanya yang tinggal disitu abdi dalem yang bekerja di keraton, tapi kerjanya shift-shift-an tidak setiap hari. kalau tidak bekerja mereka melakukan kegiatan lain seperti membuat kerajinan wayang dan lukisan batik. Beberapa rumah bahkan membuka kursus membuat lukisan batik. Kita diajak masuk keluar rumah di kampung itu, semuanya ramah-ramah. 

Akhirnya saya jadi punya ide ga akan beli lukisan batik untuk di pajang di dinding kamar, tapi suatu saat saya akan ambil kursus disitu membuat lukisan batik sendiri untuk dipajang di kamar saya.






Selasa, 10 Desember 2013

Kamu Datang

Diawali dengan sebaris sms yang menanyakan dimana beli tiket Metallica yang bakal konser keesokan lusanya. Saya balas nanya kenapa tanya begitu. Dibalasnya kalau dia lagi ada di Jakarta. Orang yang satu ini saya kenal udah lama banget, paling enggak ada sekitar 7 tahun lamanya, mungkin lebih, tapi ya orangnya emang datang dan menghilang suka-suka dia aja. 

Waktu itu bulan agustus. Tepat di minggu ulang tahun saya. Buat saya the best birthday present ever. Dia selalu inget sama ulang tahun saya tiap tahun tapi selalu salah nambahin satu tahun di umur saya. Setiap tahun dibenerin, setiap tahun salah lagi naik satu tahun. Laki-laki ini dulu pernah jadi standard laki-laki idaman saya; tinggi, lumayan ganteng (mudah-mudahan orang nya gak akan pernah baca ini dan menemukan kalau saya pernah mengakui dia ganteng), cool, kadang lucu tapi lebih seringnya serius, kadang saya ngerasa dia lebih pinter dari saya. 

Banyak hal yang saya gak tau tapi dia tau, kayak misalnya fun facts kalau kucing belang tiga udah pasti cewe, kalau badak liat api di hutan pasti bakal berusaha memadamkan apinya, siapa yang bakal maju jadi kandidat presiden indonesia di 2014, apakah anis baswedan akan mencalonkan diri (dan saya diam-diam langsung meng-google siapa itu anis baswedan)…. well, apa pun itu anehnya saya selalu dengerin dengan pandangan mata penuh kekaguman, ngerti - ga ngerti.

Tapi masih kurang pinter sih menurut saya, soalnya sampai sekarang dia belom bisa jawab pertanyaan paling penting dalam hidup saya: Kenapa ikan matanya di samping jalannya kedepan, tapi kepiting matanya di depan jalannya kesamping? 

Belum ada satu orang pun yang bisa jawab itu sih.

Saya lupa tahun lalu atau tahun sebelumnya, dia telpon saya dari suatu bukit di satu tempat bernama Labuan Bajo. Katanya, "mil, kamu harus kesini, kamu pasti suka disini." Yak dia bener-bener tau saya. Saya ikutin sarannya pergi kesana dan saya suka banget.

Kerjaannya banyak travelingnya. Akhir-akhir ini katanya banyak dikirim ke daerah-daerah pelosok di kawasan Indonesia Timur. "Kamu pasti suka kalo kesini, mil," dia sering bilang gitu kalau ceritain bagusnya daerah di bagian timur dan pantainya yang cantik-cantik, walaupun katanya perjalanannya kesana parah banget, melelahkan karena aksesnya gak bagus. Dan lagi-lagi saya selalu terpana penuh kekaguman dengan cerita-ceritanya. 

Bulan lalu malahan di telpon dia cerita iseng-iseng main ke perbatasan timor leste waktu ada tugas di kupang. Kuping saya panas dengermya, saya kan pengen banget ke timor leste, eh dia duluan yang nyombongin diri duluan ke sana. Ya sih, walaupun kagum kadang-kadang saya sebel banget kalo sombong belagu nya udah keluar, hhhrgrhrgrh…

Waktu dia sms itu keesokan harinya saya ada jadwal ke Jepara, tapi saya janji ketika saya pulang hari sabtu saya akan ajak dia jalan-jalan keliling jakarta. Baru mendarat subuh dari Bus Pahala Kencana, saya langsung mandi dan berangkat penuh semangat jemput dia. Tampaknya kita harus re-define tentang konsep jalan-jalan di Jakarta, karena pada akhirnya kita selalu berakhir keliling mall atau ngobrol berjam-jam di coffee shop mengenang petualangan-petualangan kecil kita berdua di sana - sini jaman dulu, atau cobain kuliner yang lagi nge-tren atau rumah makan yang legendaris, janjian ketemuan sama Cipu trus nganterin dia nonton sumo di senayan….. 

Yah...Begitu-begitu aja sih. Kehidupan ibukota emang gak menarik banget ya. 

Di tengah perjalanan melewati taman proklamasi tiba-tiba dia punya ide mau masuk kesana, "aku belum pernah masuk ke tugu proklamasi itu mil, isinya apa sih?"

"Aku juga belum pernah," cukup memalukan karena saya pernah menghabiskan setengah dari hidup saya di daerah deket-deket sana. Dulu saya pernah tinggal daerah menteng dan sekolah dari TK-SD-SMP di daerah Cikini.

Kita pun masuk, foto-foto di depan patung Bung Karno dan Bung Hatta dan Teks Proklamasi yang besar banget. Saya juga gak mau kalah, ikut foto-foto juga lah. 

Kemudian saya ingat, saya juga belum pernah naik ke atas monas. Sorenya saya ajak mampir di monas, tapi dia nya males kecapekan. Kamu emang udah tua, hrhrhgrhrgh…

Satu minggu dia di Jakarta, tapi karena dia kesini juga sambil urusan kerjaan jadi kita cuman ketemu 3 hari. Habis itu saya tau pasti dia bakal menghilang, muncul lagi tiba-tiba entah kapan, saya gak nunggu (lagi). 

Di malam sehari setelah ulang tahun saya, kita ke jl. sabang, saya mau taktir di rumah makan makassar yang enak banget yang di tunjukin Cipu. Tapi bolak-balik di tempat saya pernah kesana sama Cipu, rumah makannya udah gak ada. Saya telpon Cipu katanya tempatnya udah pindah, kita cari-cari gak ketemu juga. Akhirnya karena udah kelaperan makan di RM Padang paling mahal sejagat raya yang ada di situ. 

Pas selesai makan dia mau ngeluarin dompet saya buru-buru mencegah, "kali ini aku yang traktir, kan ulang taun," sambil nyengir kuda.

"mil, maaf ya aku ga kasih kamu kado," katanya.

Saya cuman jawab, "gak perlu lah, kan kamu disini."

Hadirin boleh muak *sodorin kantong muntah*


Sabtu, 07 Desember 2013

Kereta Api, Jalan-jalan dan Business Trip

Setahun belakangan ini saya lagi seneng banget traveling antar kota menggunakan moda transportasi ini. Dulu sih sering banget, sebulan bisa 2 - 3 kali bolak-balik Jakarta - Bandung naik kereta api waktu jaman masih kuliah. Lebih dari 10 tahun yang lalu. Hm.. lama juga ya.

Jaman itu memburu tiket kereta api jkt-bdg dan sebaliknya saat akhir pekan susah banget, padahal jadwal nya ada hampir tiap jam. Kadang harus antri ber-jam-jam, dan itu pun hanya bisa dapat tiket berdiri yang ujung-ujung nya ngegelosor di lantai gerbong beralas kertas koran bekas. 

Dari Jakarta saya biasanya naik dari Stasiun Jatinegara karena dekat dengan rumah, jaman itu handphone ada tapi belum canggih - belum ada twitter dan soc med lain, jadi hiburan sambil nunggu kereta datang dengan memperhatikan kelakuan orang-orang dan nguping-nguping obrolan orang. Asal mulanya saya punya kebiasaan kepo sama orang lain kayaknya mulai dari itu deh. Tapi paling males kalau duduk sebelahan sama ibu-ibu atau bapak-bapak yang doyan ngobrol, selama berjam-jam harus tersiksa dengerin obrolannya. Makanya kalau disebelah saya bapak-bapak atau ibu-ibu, saya langsung ambil posisi tidur atau pura-pura serius baca buku tebel. 

Semenjak dibangun jalan toll Cipularang dari Jakarta ke Bandung, saya sudah tidak pernah naik kereta ke Bandung. Ditambah lagi tren pesawat-pesawat low cost macam-macam maskapai makin membuat saya males naik kereta. Misalnya aja ke Jogja, kalau naik pesawat hanya makan waktu satu jam, kalau naik kereta bisa semaleman atau seharian. Kadang harganya juga tidak jauh beda antara, pesawat dan kereta eksekutif. 

Pertama kali saya naik kereta paling jauh waktu lagi kerja praktek jaman kuliah di daerah Boyolali. Waktu itu saya bertiga dengan teman kuliah, berangkat dari bandung naik kereta ke stasiun Solo Balapan. Sambung naik angkot ke Kartosuro. Lanjut lagi naik angkutan ke desa tempat kita kerja praktek di Boyolali. Di akhir pekan, saat proyek libur, kita bertiga naik kereta Prameks- prambanan ekspres - dari Solo ke Jogja. Waktu itu naik prameks harganya sekitar Rp. 5.000-an gitu.

Era saya lulus kuliah itu kayaknya era kereta api mulai terpuruk. Jurusan Jakarta-Bandung langganan saya dikabarkan bangkrut karena penumpang beralih ke travel via cipularang sehingga keretanya sepi dan tak mampu balik modal menutupi biaya operasionalnya. Bentuk keretanya juga tidak terurus, kusam, bau, dengan ratusan ekor kecoak hilir mudik, bahkan di kereta argo yang mahalnya bingits. Saya sudah jarang banget naik kereta di jaman-jaman itu, setahun belum tentu ada sekali.

Kemudian entah sejak kapan, perkereta-apian Indonesia mulai membenahi diri, yang jelas sekarang ini saya melihat jelas banget perbaikan dan perkembangannya. Gerbong-gerbong kereta bersih, bahkan toiletnya nyaris tidak bau pesing dan bersih sekali. Di kereta eksekutif ada colokan untuk charger gadget. Baru-baru ini kereta api bisnis bahkan dipasangi AC, walopun AC nya kayak model AC di rumah-rumah. 

Yang jaman dulu pramugara kereta model mas-mas yang baju dan mukanya selalu kusut atau ibu-ibu yang judes. Sekarang rapih-rapih semua, bahkan lebih banyak dihiasi wajah mba-mba yang cantik dan manis dengan senyuman menawan seperti layaknya di pesawat udara. Masinis pun layaknya pilot, memberi sambutan di awal dan di akhir perjalanan. 

Beli tiket kereta juga lebih mudah sekarang sejak bisa beli online di internet, bahkan bisa beli di mini market-mini market. Jadi ga semua orang tublek-blek di stasiun cuman buat antri tiket. Ngomong-ngomong stasiunnya, saya mengamati stasiun kereta sekarang jauh tampak lebih bersih. Di Gambir yang sekarang hanya khusus untuk kereta eksekutif dibangun Starbucks. Waktu itu saya turun di Stasiun Jatinegara setelah sekian lama ga kesana, saya kagum dengan perombakan besar-besaran di sana, jauuuuuh lebih rapi. 

Awalnya saya mulai naik kereta dan menyadari perubahannya waktu diajak jalan-jalan sama Tante Debz ke Cirebon.  Waktu itu kita naik Cirebon Express, pergi pagi pulang sore Jakarta-Cirebon. Kita naik dari Stasiun Gambir dan tiba di stasiun Cirebon yang dibangun oleh Belanda di jaman kolonial. 

Kemudian akhir tahun 2012 saya dan chacha short trip ke Jogja dalam perjalanan mencari innerpeace naik Kereta Api dari Gambir dan tiba di Stasiun Tugu Jogja yang dibangun oleh Belanda di jaman kolonial.


Mayoritas stasiun besar di Jawa, yang hingga kini masih digunakan, dibangun oleh Belanda di jaman kolonial. Awalnya untuk mempermudah transportasi hasil alam (lada, pala, teh, kopi, etc etc) yang mau di dagangkan Belanda, akhirnya malah berbalik jadi salah satu fasilitas yang memudahkan persatuan Indonesia.

Kemunculan sistem transportasi kereta di Jawa termasuk yang awal-awal dari seluruh belahan dunia. Awal 1800-an di Inggris mulai dibangun public railway system. 1830-an railway system mulai dibangun di Amerika. Setelah itu railway dibangun di India, western europe, rusia, pulau Jawa. Stasiun kereta pertama di Indonesia yang berlokasi di Semarang diresmikan tahun 1860-an. Sama public railway di China aja masih duluan di pulau jawa beberapa tahun. Ironisnya sekarang setelah merdeka malahan sistem transportasi Indonesia ketinggalan jauh dari negara-negara lain.

Banyak sejarawan berpendapat, titik paling penting dalam sejarah adalah momen ditemukannya kereta api dan telegram. Kedua penemuan itulah yang membawa alur sejarah hingga ke era globalisasi seperti yang kita hidup sekarang  ini. Salah satu novel Leo Tolstoy - novelis dan filsuf, berjudul Anna Karenina yang terkenal mengambil background waktu awal-awalnya dibangunnya sistem railway di Rusia dan berakhir tragis dengan Anna bunuh diri lompat ke depan kereta.

Pekerjaan saya di Jepara tahun ini membuat saya jadi sering naik kereta lagi, jurusan Semarang-Jakarta. Karena business trip itu biasa saya lakukan hanya dalam satu hari, setelah saya coba macam-macam cara, yang paling hemat dan nyaman adalah pergi naik pesawat paling pagi dan pulang naik kereta malam. Karena naik kereta kan semaleman jadi saya bisa istirahat tidur selama perjalanan. Kalau pulangnya naik pesawat lagi  badan saya rontok semua dan tiba di rumah waktu nya nyaris sama kayak naik kereta.

Bandara Sukarno-Hatta itu sudah kelewat sesak dan kepenuhan. Di malam hari tumpukan penumpang antri berular-ular menunggu taksi yang seringkali kosong. Antrian paling panjang ada di taksi blue bird dan ekspress, sementara taksi lain yang cuman dinaikin orang yang terpaksa daripada ga pulang-pulang atau buru-buru, antriannya satu-dua penumpang saja. 

Waktu itu pernah saya naik pesawat paling malam dari Semarang, pesawat jam 8 tapi delay sampai jam 10 malam. Sampai di jakarta jam 11, antrian taksi masih mengular hebat, akhirnya saya putuskan naik taksi yang kurang ngetop. Apa pun lah, saya hanya ingin tiba di rumah cepat-cepat. Celakanya, jalanan ibukota jahanam masih aja padat merayap walaupun sudah tengah malam, macet parah mulai dari slipi hingga cawang, dan sopirnya ga berhenti-henti cerita. Cerita soal dia pernah bawa wanita malam yang di germo-in sama banci. Cerita soal dia bikin band sama kawan nya sesama sopir taksi satu pool dan video nya ada di youtube. saya yang sudah jetlag, pusing, mual, ditambah harus dengerin celotehan sopir taksi rasanya pengen nangis ajah.

3 minggu lalu karena di Semarang hujan saya memutuskan naik pesawat pulang. Karena kalau hujan di Stasiun Tawang itu nyaris selalu banjir, jadi ribet. Mana sekarang ada peraturan baru di Tawang kalau belum 1 jam sebelum jam keberangkatan penumpang belum boleh menunggu di peron, untuk menghindari kepadatan penumpang yang menunggu di peron. Ruang tunggu nya juga kecil, bareng sama penumpang yang antri mau beli tiket, dan macam-macam, jadi penuh sesak. 

Saya naik pesawat jam 8 malam, untungnya tepat waktu. Tapi ternyata hujan bukan hanya di Semarang tapi juga di Jakarta. Pas itu sorenya habis hujan deras, banjir dimana-mana, macet di seluruh penjuru Jakarta. Kendaraan susah menembus bandara sehingga taksi-taksi kosong, tumpukan penumpang yang menunggu bus Damri bandara juga menumpuk. Sampai-sampai ketika saya mau bayar di loket Damri, ibu-ibu yang jaga sudah tampak menyerah dengan keadaan sembari mencetin komedo di cermin kecil di mejanya berkata, "beli langsung di bus, beli langsung di bus."

Untung nya tidak lama saya menunggu ada bus damri yang kelas mewah apa lah, tarifnya lebih mahal, tapi sepi, kebetulan jurusan bekasi. Saya tanya ke supirnya apa bisa turun di Jatibening, supir mengiyakan. Tiba di terminal bayangan Jatibening sudah dini hari, saya langsung naik ojek menuju rumah. Luar biasa banget, hari itu saya berangkat dari rumah jam 3 dini hari - jalan 1000 kilometer - sampai lagi di rumah jam 3 dini hari. 

Dua hari lalu saya juga baru dari Jepara, urusannya cepat selesai jadi saya bisa naik pesawat jam 4 sore dari Semarang. Semarang - Jakarta, 1 jam. Bandara jakarta ke rumah saya di Jatibening, 3 jam lebih. Saya baru tiba di rumah jam 8.30 malam. Plus bonus badan remuk redam. Saya jadi menyesal kenapa kemarin gak pulang naik kereta aja dan menghabiskan sore wisata kuliner di Semarang. Buat saya lebih nyaman tidur di kereta daripada stress dan sakit badan di bandara dan jalanan Jakarta.

Naik kereta juga sepertinya lebih ramah lingkungan karena saya pernah baca dimana gitu dari segi carbon foot print, emisi carbon kalo naik kereta lebih rendah dari pesawat. hmmm... ingetin saya buat nanya ini kapan-kapan ke Cipu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...