Selasa, 31 Desember 2013

To The Light House

Beberapa hari lalu saya baru baca buku klasik karangan virginia woolf, judulnya To The Lighthouse yang menceritakan tentang sebuah keluarga, seorang perempuan pelukis dan seorang penjaga menara mercu suar (light house). 
Anak lelaki di keluarga itu ingin sekali ke menara mercusuar yang terletak di suatu pulau tidak jauh dari pantai tempat rumahnya berada, tapi ayahnya melarang karena yakin keesokan hari cuaca tidak bagus untuk melaut. Keinginan berkunjung ke mercusuar tertunda karena pecah perang dunia. Beberapa tahun kemudian, setelah anak lelaki itu dewasa, setelah perang dunia berakhir, setelah ibu mereka meninggal dunia tiba-tiba dalam tidurnya, sekeluarga mereka mengunjungi mercusuar itu. 

Saya jadi ingat perjalanan saya menuju menara mercusuar di Belitung yang terletak di Pulau Lengkuas. 

Waktu itu bulan november. Sedari pagi rombongan sudah tiba di dermaga untuk island hoping dan snorkeling, menunggu. Hujan deras disertai angin kencang menyerbu pulau kecil ini tanpa ampun. Awan hitam tebal yang berarak di atas langit nyaris memupuskan harapan kita untuk menjelajah laut.

Saya sudah menghabiskan sepiring indomie rebus ketika hujan mulai reda. Kami langsung diarak oleh pemandu menuju ke perahu kayu yang disewa untuk island hopping. Dua perahu untuk satu rombongan kita. Masing-masing membawa pelampung & peralatan snorkeling, kemudian melompat masuk ke dalam perahu. 

Seharian hujan hampir tidak berhenti, tapi sudah tidak deras seperti pagi hari nya. Di spot snorkeling pertama saya menceburkan diri ke laut tidak pakai tes arus dulu sebelumnya, ternyata saya langsung terbawa arus menjauh dari perahu. Setengah mati saya berusaha berenang melawan arus mendekati perahu lagi, yang ada langsung ngos-ngosan. Waktu ke Belitung itu saya lagi ada di puncak berat badan paling tinggi dalam hidup saya, lagi gendut-gendutnya. 

Karena arusnya terlalu kuat untuk snorkeling dan ga ada ikan yang bisa dilihat maka diputuskan mencari spot snorkeling di lain tempat. Kawan-kawan yang lain langsung kembali melompat ke laut di spot yang baru, sementara saya yang gendut dan pemalas memilih untuk duduk dan menonton sambil ngobrol sama Bapak yang punya perahu. 

Bapak yang punya perahu, usianya mungkin sekitar 50-an tahun. Sebenarnya profesi si bapak adalah nelayan. Tidak jauh dari Belitung ada penangkaran ikan kerapu, kalau lagi panen si bapak akan menangkap kerapu dan menjualnya di pasar ikan di Bangka. Ikan Kerapu harganya tinggi. Kalau tidak ada kerapu, ikan apa saja boleh. 

Setelah film Laskar Pelangi yang mengkomersilkan pulau belitung, si bapak jadi sering menyewakan perahunya untuk membawa turis. 

“anak saya sekarang juga di Jakarta,” kisahnya dengan penuh rasa bangga menceritakan tentang anak perempuannya yang jadi seorang perawat di RS Fatmawati, “kapan kalau sempat datang saja ke sana, ketemu anak saya.”

Sepertinya bagi seorang bapak yang profesinya nelayan di suatu pulau kecil, anaknya bisa kerja di kota Jakarta - kota impian, adalah suatu kesuksesan baginya. Dari jerih payahnya berjuang di lautan, beliau berhasil membiayai sekolah anaknya hingga bisa dapat kesempatan memperbaiki hidup di kota, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang ada di desanya, mendapat uang lebih banyak, mengirimkan sebagian ke rumah, sehingga menaikan standard hidup keluarganya juga. 

Kalau dulu waktu saya kecil ada film Kabayan, tentang seorang pemuda desa lugu, baik hati, lucu yang punya pacar namanya Nyi Iteung. Kabayan hidup sederhana, tapi santai dan ceria terus.  

Jaman sudah berubah.

Sekarang yang lagi tren kisah-kisah tentang pemuda desa yang berhasil keluar dari desanya, sukses di ibukota hingga sampai ke luar negeri. Kisah ini laris jadi novel sampai dibikin filmnya ke bioskop. Inspirasional. Bukan hanya menularkan semangat untuk maju tapi juga memperkenalkan yang namanya ambisi. 

Menurut saya ambisi adalah sesuatu yang berbahaya, kalau tidak bisa mengendalikannya, ambisi yang akan mengendalikan kita dan dengan semena-mena menjajah hidup kita. Kehidupan di kota besar yang membuat manusia terpapar terus-terusan sama persaingan yang keras membuat ambisi dalam diri tumbuh subur. Kita harus lebih baik dari orang lain kalau ingin memenangkan persaingan hidup di ibukota - survival of the fittest. 

Kemudian kita terus memelihara ambisi dan memupuknya dengan nafsu sehingga tumbuh besar. Ambisi untuk mendapat gaji yang lebih besar. Ambisi untuk naik jabatan. Ambisi untuk punya rumah. Setelah punya rumah, ambisi meminta rumah yang lebih besar lagi. Setelah punya rumah lebih besar, ambisi tidak juga puas, minta ganti rumah yang lebih besar yang terletak di kota. Begitu juga dengan mobil, ambisi akan pretisius, luxury dan gengsi yang ditarget oleh jenis mobil mewah, bukan soal fungsi lagi. 

Sementara saya yang terlalu pemalas, hingga saat ini ambisi dalam diri saya layu, kering dan kurang gizi. Dalam persaingan survival of the fittest ini saya lebih suka jadi ubur-ubur, jenis hewan yang strukturnya sangat sederhana sampai-sampai di anatomi tubuhnya ga ada otak. Gerakannya juga ya gitu-gitu aja, ngambang-ngambang nyantai. Tapi ubur-ubur ini salah satu spesies tertua yang berhasil hidup di bumi ribuan tahun gak pakai ber-evolusi drastis atau punah. 

Saya malahan lebih senang jadi penonton dan mengamati - apakah warga kota besar yang ambisius itu bahagia ?

Saya melihat bapak nelayan di sebelah saya, apakah putri si bapak ini sekarang bahagia karena berhasil membuat bangga bapaknya dengan bekerja di ibukota dan mengirim sebagian penghasilannya untuk membantu ekonomi keluarganya?

Apakah si Bapak Nelayan ini bahagia?

“Lebih enak jaman Suharto,” lagi-lagi saya mendengar keluhan seperti ini dari orang-orang yang tinggal jauh dari kota besar yang semakin merasa hidupnya tidak diperhatikan di era reformasi, “sekarang harga solar naik terus. Kalau cuma dari ikan, kadang tidak balik modal. Bagus lah sekarang mulai banyak turis.”

“Sejak film itu ya, Pak?” tanya saya.

“Sebelum film itu ada sedikit, sekarang semakin banyak (turis),” kata si bapak terkekeh sembari menghisap Dji Sam Soe nya dalam-dalam. 

Mungkin turisme seperti ini ga jelek-jelek amat seperti yang banyak dikecam oleh para pecinta lingkungan. Mungkin ini bisa jadi salah satu cara untuk membuat uang tersebar merata hingga ke pelosok negeri. Asalkan si hantu ambisi gak ikut-ikutan, mungkin bisa tercipta suatu keseimbangan yang harmonis. Masalahnya, kemana si uang pergi, hantu ambisi selalu ikut sih. Dan biasanya dimana ambisi menampakan diri dan tumbuh subur disitulah kekacauan mulai terjadi.

Di kasus Kabayan, hantu ambisi muncul di sosok ibunya Nyi Iteung, si Ambu. Walaupun Nyi Iteung menerima Kabayan apa adanya dengan segala kesederhanaannya, tapi Ambu tidak setuju karena berambisi mau punya menantu kaya, tidak miskin seperti Kabayan.

“Kalo nak ini asli jakarta?” tanya si bapak.

“Saya sih dari bayi sampai besar di jakarta, Pak.”

“Jakarta nya di sebelah mana?”

“Rumah saya sih di perbatasan Jakarta- Bekasi.”

“Dekat sama Fatmawati?”

Saya tertawa sembari mengira-ngira jarak, “ya..... lumayan jauhlah, pak.”

“Kalau aslinya dari mana? Asli Jakarta?”

Pertanyaan yang paling sulit dijawab karena saya sendiri sebenarnya krisis identitas suku, bahkan krisis identitas ras juga.

“Campur-campur, pak,” saya pun menjawab sekenanya.

“Campur-campur bagaimana?” tanya si bapak masih penasaran.

Akhirnya saya mencoba se simpel mungkin, “ ibu saya dari sunda, ayah saya dari sulawesi.” 

Si Bapak langsung berbinar sambil menunjuk ke suatu arah, “disebelah sana itu banyak orang Bugis, disana ada kampung bugis.”

Saya pun tertawa, “Sulawesi utara, pak. Bukan sulawesi selatan.”

“Ooooh..” Si bapak menghisap rokoknya untuk terakhir kali sebelum membuang nya ke laut. 

Di kejauhan menara mercusuar terlihat menjulang di tengah pulau kecil di tengah lautan, kesanalah tujuan kita selanjutnya. Sebagian kawan-kawan saya memutuskan untuk berenang hingga sampai ke Pulau Lengkuas itu, sementara saya yang pemalas lebih memilih untuk menumpang perahu kayu ini sampai ke pinggir pantai sembari menonton pelampung-pelampung oranye mengambang di atas permukaan laut berlomba-lomba menuju pantai. 

“Kalau sempat nanti harus ke Pulau Burung, disitu bagus,” seru si bapak bersemangat dari ujung geladak, sementara saya duduk di atas atap perahu, menyaksikan menara mercusuar yang semakin lama semakin besar dan tinggi di hadapan saya. 

Saya tidak punya ekspektansi apa-apa terhadap perjalanan ini, ke pulau mana pun buat saya ga jadi masalah, saya tetap menikmatinya. Walaupun akhirnya kita tidak sempat pergi ke pulau burung karena sudah kesorean, saya tidak kecewa. Si bapak malahan yang kelihatan kurang puas karena tidak bisa menunjukan pulau burung yang dianggapnya sangat bagus dan memang merupakan salah satu ikon pulau belitung.

Hingga saat ini pun saya masih perempuan yang sama (dengan berat badan yang sudah berkurang beberapa kilogram) yang duduk di kapal itu lebih dari 2 tahun yang lalu, terlalu malas untuk punya ambisi, terlalu malas untuk punya ekspektansi -  Apakah saya bahagia?

Bersama si Bapak Nelayan

Note: postingan ini ditulis dalam keadaan sakit gigi

Selasa, 24 Desember 2013

Waruga; Peninggalan Megalitikum Austronesia

Belanda datang ke Sulawesi Utara di abad ke-17, bertemu dengan suku asli disana yang masih hidup di jaman yang kurang lebih sama seperti waktu suku itu pertama datang ke Sulawesi; 3 - 4 abad sebelum masehi. Sementara di abad ke-17 Eropa sudah ada di gerbang era Industrialisasi. Ada perbedaan jaman sekitar 20 abad. 

Pada waktu first encounter dengan Belanda itu, suku asli disana adalah orang austronesia yang hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka berburu dan memakan apa saja hewan yang mereka tangkap - Babi hutan, tikus, kelelawar, anjing. Tapi mereka sudah tidak tinggal di goa, keahlian mereka sudah lumayan advance jadi sudah bisa bikin tempat tinggal permanen, sudah pakai pakaian, punya kepercayaan, kegiatan religius, tari-tarian dan seni. 

Suku asli yang berasal dari ras austronesia itu yang kini disebut dengan suku minahasa. Austronesia sendiri saat ini merupakan ras terbanyak yang tinggal di Indonesia. Sedangkan sebagian lagi adalah Melanesian, seperti orang maluku, papua, nusa tenggara.

Ratusan ribu tahun migrasi pre-historic human hidup nya di jalan, ya kalau dari hasil kesimpulan analisa saya yang sering ngawur sih sebenarnya hampir mirip sama kehidupan ibukota sekarang sih. Manusia Pre-historic dan Manusia Urban Modern sama-sama menghabiskan banyak waktu di jalanan demi untuk tetap hidup. Bedanya jaman pre historic mereka menghabiskan waktu di jalan untuk berburu dan mengumpulkan makanan, kalau jaman sekarang kita menghabiskan waktu di jalan menuju kantor, kerja, dapat uang, beli makanan. 

Austronesia datang ke wilayah Indonesia pada arus migrasi kedua, ribuan tahun setelah arus migrasi pertama yang membawa Melanesian ke wilayah Indonesia. Pada saat itu migrasi manusia masih terjadi tapi sebagian kelompok mulai memutuskan untuk berhenti berkelana dan memilih menetap bersama tanaman dan hewan ternak yang dirawatnya untuk dimakan. Sebagian masih hidup dengan cara hunting & gathering atau gabungan dari kedua gaya hidup itu. 

Dari China ada sekelompok orang yang tinggal dekat laut, punya kemampuan mengarungi lautan dengan perahu - bisa disebut nelayan jaman pre-historic, bermigrasi ke Taiwan, membentuk satu ras bernama Austronesia. Dari Taiwan mulai migrasi besar-besaran Austronesia ke Philippine hingga menyebrang lagi  ke Sulawesi, Kalimantan, Jawa. 

Sebelum kedatangan Belanda, Austronesia yang migrasi dari pilipina itu hidup damai di pedalaman Sulawesi, tidak tersentuh budaya luar yang terus berkembang. Tidak seperti Jawa dan Sumatera, daerah ini terisolasi, tidak terjangkau arus perdagangan jalur sutra dan tidak terekspos dengan kebudayaan India yang mulai mempengaruhi kebudayaan di Sumatera dan Jawa sejak sekitar awal masehi. 

Kepercayaan jaman batu untuk mengubur orang meninggal dalam batu yang disebut Waruga masih dilakukan oleh masyarakat hingga abad 17 itu. Waruga berbentuk batu kotak dengan atap diatasnya, mirip bentuk rumah dengan ukiran-ukiran artistik menghiasinya. Ukiran jumlah manusia yang ada di luar kubur batunya katanya menandakan jumlah orang yang dikubur didalamnya. Ukiran kubur batu juga menandakan profesi orang yang dikubur didalamnya.







Sampai ketika muncul wabah kolera dan tipus, Belanda melarang suku minahasa mengubur di dalam batu karena dianggap jenasah dalam batu itu yang menyebarkan wabah. Padahal penyebaran virus penyakit seperti itu yang membahayakan penduduk lokal di jaman itu biasanya karena dibawa oleh bangsa Eropa. Saya jadi inget buku Gun, Germs and Steel - tiga hal yang membuat Eropa jadi bangsa yang maju dan menghancurkan bangsa-bangsa lain pada jaman itu.

Yang sudah terlanjur dikubur di dalam Waruga juga tulang belulangnya di pindahkan dan dikubur di dalam tanah, jadi Waruga yang saya kunjungi di daerah Airmadidi waktu itu kosong. Belanda juga datang dengan misionaris yang merubah kepercayaan menjadi Kristen, sehingga orang mati kemudian dikubur dalam peti di bawah tanah mengikuti kepercayaan Kristiani.

Kompleks kuburan Megalitikum ini lumayan terawat, tapi sepi seperti….. ya, kuburan. Letaknya menyempil di antara perumahan penduduk yang padat. Sebenarnya tidak jauh dari pusat kota Manado, hanya sekitar setengah jam tapi tidak ada penunjuk dari jalan besar menuju lokasi ini. Bahkan di lokasi nya sendiri sangat minim penjelasan tentang Waruga itu sendiri.

Berbeda dengan kubur batu nya suku Toraja yang juga ada di pedalaman Sulawesi yang hingga sekarang masih ramai dikunjungi karena suku nya sendiri masih menjalani tradisi nenek moyangnya. Jadi tidak hanya kubur batu nya, tapi budaya dan way of life suatu kelompok orang yang berbeda yang membuat orang tertarik - eksotis, katanya. Sementara peninggalan megalitikum Waruga ini hanya merupakan puing dari suku yang kehidupannya sudah move on, yang lagi menunggu untuk diakui eksistensinya oleh Unesco sebagai warisan budaya dunia.  



Tidak hanya dalam hal agama dan mengubur orang meninggal, kedatangan Belanda saat itu membuat kehidupan suku asli berubah, kebudayaan dan gaya hidup mereka serta merta menyesuaikan diri dengan gaya hidup manusia modern Eropa, meloncat 20 abad. Bahkan di pesta pernikahan Minahasa pengantin menggunakan gaun dress putih seperti budaya eropa dan pria nya menggunakan tuxedo, sekarang hal itu dianggap kebudayaan masyarakat sana. Belanda juga mempengaruhi dari segi bahasa dan makanan seperti cookies dan tart. 

    

Kamis, 19 Desember 2013

Photo Blog: Last Day in Melbourne

Hari terakhir saya di kota ini, saya diajak jalan-jalan sama Diena. Ngopi di Degraves Street, beli souvenir di Victoria Market dan jalan-jalan di taman melihat orang-orang olahraga mendayung. Kali ini saya gak akan banyak cerita deh, enjoy aja the pictures seperti saya enjoy the city.

Autumn in Melbourne

abis belanja suvenir di Victoria Market, dapet tas gratis dari mba tokonya

Ga cuman jualan suvenir, di Victoria market jualan buah juga

Flinders, ga tau kenapa saya suka banget sama bangunan stasiun ini

Bangunan modern di seberang Flinders station

Ga tau ini gedung apa tapi diena & cipu dua2nya maksa saya foto di sini

with diena 

Gedung yang majang kesenian kontemporer - masuknya gratis

Polisi yang suka kasih surat tilang  buat mobil yang parkir sembarangan

Yang unik lorong di seberangnya ada tulisan The Height of the Civilized World

Dari seberang Yara river, itu yang kuning atap flinders, ada atap st. paul cathedral juga

Tim Rowing, olahraga mendayung di sungai

Taman di pinggir sungai, kayaknya nanti di Banjir Kanal Timur bakal gini deh *mimpi

Federation Square

Ini berasa kayak di film-film yang di new york gitu ya *apasih

Dan ini perpustakaan tempat janjian dan nongkrong-nongkrong

Catatan kaki:
Oia, saya sekalian mau mengucapkan selamat untuk Kak Masni, salah satu yang udah baik hati mau menampung turis kere ini di Melbourne. Kak Masni baru saja lulus dari Melbourne Uni dan baru aja di wisuda. Selamat yaaaa Kak Masni.

Selamat Ulang Tahun juga buat Cipu yang mentraktir saya makan di resto vietnam (lagi) kemarin. Happy Birthday! 

Rabu, 18 Desember 2013

Berburu ( Tur ) Komodo

Sebelumnya saya sudah cerita kalau misi saya, Pagit dan Mba Efa melihat Komodo dan Pink Beach sudah terlaksana dengan sukses, yang belum saya ceritakan adalah suka duka mencari tur yang murah yang sesuai dengan kantong kita-kita.

Saya juga sudah ceritakan sekilas tentang riset singkat saya sebelum berangkat menelpon Pak Hans dari salah satu agen tur yang menyediakan fasilitas ke Pulau Komodo. Melalui telepon Pak Hans sempat menjelas secara singkat mengenai jenis-jenis tur yang ditawarkan, ada tur 1 hari ke Pulau Komodo dan Pink Beach, dan ada tur 2 hari ke Pulau Komodo, Pink Beach, menginap di kapal atau di pulau seraya, ke Pulau yang banyak kelelawarnya dan terakhir ke pulau rinca. Tapi waktu itu saya hanya tanya-tanya aja dan bilang ke Pak Hans itu kalau nanti kita akan langsung berkunjung ke kantor tur nya ketika kita tiba di Labuan Bajo. Rencana kita (saya, mba efa dan pagit) mau langsung membandingkan dan kalau bisa memodifikasi sendiri perjalanan kita ke pulau komodo itu.

Saya sempat cerita juga sebelumnya, bahwa dihari  kita mendarat di Labuan Bajo takdir mempertemukan kita dengan Wawan yang mengantarkan kita dari bandara ke Labuan Bajo dengan tarif 50 ribu rupiah setelah melalui proses tawar menawar yang sadis oleh Pagit. 

Di hotel Gardenia yang berbukit-bukit itu di meja resepsionis saya kenalan sama seorang guide yang lagi bawa tamu orang asing, dia menawarkan trip ke Pulau Komodo untuk 2 hari. Jadi prinsipnya ikut tur ke pulau disini adalah semakin banyak peserta maka biaya per-orangnya jatuhnya lebih murah, jumlah yang wajar kalau menurut saya sih melihat besar rata-rata kapal disana maksimal 7 orang udah sumpek sih. Si guide itu sudah ada 2 peserta yang mau ikut tur untuk keesokan harinya, jadi kalau tambah kita 3 orang, total 5 orang - jadi untuk trip 2 hari (menginap di kapal) biaya per-orang nya hanya 500 ribu-an. 

500 ribu untuk 2 hari jauh lebih murah dari pada biaya yang ditawarkan oleh Pak Hans, yaitu 800 ribu-an per orang untuk trip yang satu hari. Saya dan guide itu pun tukeran nomor henpon dan saya berjanji akan mengabari nya lagi sebelum matahari terbenam.

Ternyata kakak sepupu nya Wawan punya usaha tur juga. Kakak sepupu nya Wawan saat itu tidak ada di Labuan Bajo karena lagi ada pameran di Jakarta. Tapi kita akhirnya berkesempatan ketemu kakak nya Wawan - si pengusaha tur Labuan Bajo yang sukses itu, di bandara waktu kita mau pulang. Karena pesawat kita delay kita ngopi-ngopi di kantin bandara di temani wawan dan kakak sepupu nya itu. Pas lagi ngopi-ngopi tiba-tiba ada satu laki-laki flores datang memanggil Mba Efa, ternyata dia pria yang kita ketemu di pink beach yang nyuruh saya buka kacamata hitam untuk melihat warna pink pasirnya dan langsung aja ikut nimbrung ngobrol sama kita.  

Kita pun dibawa ke kantor agen tur kakak nya itu dan dikenalkan dengan kawan nya bernama James yang kerja disitu. James juga menawarkan kita trip 2 hari bergabung dengan 2 orang lain yang sudah mendaftar. Tapi kita hanya punya waktu sebentar di Labuan Bajo, jadi kita hanya mau trip ke pulau 1 hari sedangkan 1 hari lagi kita mau trip di darat, lihat gua dan air terjun yang kita lihat di brosur di hotel - keren banget. 

Akhirnya kita minta James mencarikan kita kapal yang bisa di charter sehari, ketika ditanyakan ternyata harganya 1,5 juta satu kapal per-hari (tujuan terserah kita) tapi kita dapat makan siang di atas kapal, dapat kopi/teh pagi-pagi dan air mineral sepuasnya. Untuk trip satu hari itu, karena kita hanya bertiga, jatuhnya jadi sama kayak trip 2 hari berlima, yaitu 500 ribu per pax.

"Kita pikir-pikir dulu deh James," kita mau berunding dulu ambil trip 2 hari atau trip 1 hari mengingat harga per orangnya yang sama dan mempertimbangkan kunjungan ke air terjun, "nanti sore kita kabarin lagi".

Kita masih punya satu alternatif, mengunjungi Pak Hans.

Kita tiba di depan agen tur Pak Hans, dekorasi kantor nya mencolok banget, dari kayu-kayu dan beratap daun kelapa kering. Sepertinya kantor turnya merangkap cafe dan tempat nongkrong turis-turis bule. Pak Hans sendiri ternyata orang asli Belanda yang sudah tinggal di Labuan Bajo selama 20 tahun dan sudah fasih berbahasa Indonesia walau kadang masih mikir-mikir untuk mencari padanan kata yang sesuai.

Pak Hans langsung membuka peta flores di meja di hadapan kita bertiga dan menjelaskan rute trip nya dengan menunjuknya langsung diatas peta. Dari penjelasan Pak Hans itu saya baru mengerti tata letak kepulauan komodo, apa saja yang bisa kita liat dan kita lakukan disana. Sebelum pergi kan saya minim riset, jadi tiba di Labuan Bajo bener-bener masih gelap tentang apa yang mau dilakuin disana. Pokoknya tujuan saya cuman mau liat komodo aja, ternyata banyak banget hal yang menarik selain komodo yang  bisa dijelajahin mulai dari laut sekitar Labuan Bajo sampai ke kepulauan komodo itu. 

Setelah kita mengutarakan keinginan kita untuk hanya sehari trip aja dia merekomendasikan untuk ke Pulau Komodo, lanjut ke Pink Beach, kemudian mampir di suatu teluk dekat situ dimana kita bisa snorkeling bersama Manta (semacam ikan pari tapi gak galak). Kalau kita mau rute itu ada satu orang bule yang lagi nunggu mau join. Biaya sewa kapal ternyata sudah standard di kalangan agen-agen tur itu, mungkin aja bisa dapat lebih murah kalau kita cari langsung ke dermaga, tapi kita sudah tidak punya waktu untuk itu. Yang mahal adalah biaya snorkeling bersama manta itu, karena harus bayar entrance fee ke pengelola konservasi itu 100 dollar per-orang. 

Kita bertiga membelalak.

Melihat tampang kita bertiga yang stress, Pak Hans mulai ngitung-ngitung lagi kemudian dia menawarkan solusi. "oke, buat kalian bertiga saya beri keringanan untuk biaya masuk manta itu, nanti bisa saya atur." Tapi biayanya paling sedikit sekitar 700 ribu per orang dan itu gak termasuk makan siang di kapal.

Beberapa alternatif ini membuat kita bertiga galau. Tiap alternatif punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua menarik dan semuanya sebenarnya mepet sama budget kita yang miris ini. Akhirnya setelah melalui diskusi panjang, kita bertiga mufakat kalau kita akan sewa kapal + makan siang melalui James. Saya pun menelpon guide yang saya temui di Hotel Gardenia untuk memberi tahu kita tidak ikut trip dua hari itu. Kemudian menelpon Pak Hans untuk memberi tahu kita tidak jadi ambil trip sehari yang include berenang sama manta ray itu. Setelah menutup telepon Pak Hans sebenarnya hati saya merintih sedih, saya mau berenang sama Manta Ray hiks hiks....

Sementara Pagit menelpon James yang segera mengurus keberangkatan kita untuk keesokan subuhnya termasuk mencarikan kita seperangkat google dan kaki katak untuk snorkeling. Transaksi pembayaran dilakukan saat kita makan malam di warung kaki lima pinggir laut. 

"Besok subuh jam 4 saya jemput di hotel ya, kak." seru James sebelum pergi meninggalkan kita malam itu.


Musyawarah di depan warung yang kayak seven eleven-nya labuan bajo

James di depan kantor tur nya

Minggu, 15 Desember 2013

Macaque Girl

Ini sudah kesekian kali saya terinspirasi dari total stranger yang saya temui di jalan, people who live with their passion. Kali ini namanya Niki, cewek  mungil dari Chicago yang umurnya palingan sepantaran saya. Di pesawat Manado - Jakarta dia duduk di sebelah saya. Celana jeans, sepatu sneakers, kemeja kotak-kotak dan rambut panjang pirang yang di dreadlock (gimbal) seperti bob marley. Awalnya saya pikir dia just another tourist yang bergaya hippies gitu, jadi saya gak gitu pay attention.

Hingga datang pramugari menawarkan makanan dan minuman. Cewe bule rasta itu duduk di window seat sedangkan saya di tengah, di alley seat adik saya Chacha. 

Pramugari nanya ke dia, "do you want chicken or fish?"

"Do you have vegetarian food?"cewek itu balik nanya.

"Excuse me?" pramugari itu balik nanya seolah-olah gak denger.

Jadi saya bantuin ngomong ke pramugari itu, "vegetarian, mba."

"oo.. sorry we don't have that," jawab pramugari.

Cewe itu pun menolak diberi makanan dan ketika ditanya mau minum apa, yang dia tanya juga susah banget, "do you have ginger ale?"

Lagi-lagi pramugari bingung.

"Ginger Ale," saya bantuin lagi. 

"wah ga ada juga," kata pramugarinya, kali ini ke saya, mungkin dia mulai mikir saya temenan sama cewe aneh yang permintaannya aneh-aneh ini. 

"they don't have it," kata saya menerjemahkan ke cewe itu sementara si pramugrari pasti makin yakin kalo saya temenan sama bule antik ini.

"owh it's ok, i'm fine" kata cewe itu, Pramugari pun berlalu.  Kemudian dia menjelaskan kalo dia pengen ginger ale soalnya lehernya gatel gejala flu batuk gitu. Saya menawarkan teh panas. Dia jawab dia udah minum teh panas selama beberapa hari tapi gak menolong leher nya yang gatal.

Akhirnya obrolan berlanjut, "I'm Niki by the way," katanya.

"Mila. Nice to meet you," kata saya.

Niki ternyata bukan turis. Dia antropologist yang melakukan penelitian tentang kehidupan Macaque yang ada di Hutan Tangkoko selama 6 Bulan. Selama itu dia tinggal di pondok yang terletak di dalam hutan tangkoko. Seharian mengikuti dan ngintipin kegiatan sehari-hari monyet-monyet hitam besar itu. 

"I love Macaque," katanya waktu saya tanya kenapa dia pilih riset tentang itu dan di bela-belain terbang  sendirian puluhan jam ke hutan gak jelas di propinsi gak jelas dari negara yang (mungkin) gak jelas juga kalau dari sudut pandang orang amerika, bener-bener in the middle of nowhere nya in the middle of nowhere. 

"Saya pernah ke Tangkoko, liat tarsius," kata saya.

Niki membelalakan mata gak percaya karena saya orang pertama yang dia temuin di luar hutan itu yang pernah ke tangkoko, "really? ya…. tarsius itu memang cute."

Sementara saya menghabiskan makanan saya, Niki bercerita panjang lebar tentang kehidupannya di tengah hutan itu. "I love it," katanya. Dia tinggal di pondok yang terletak di pinggir pantai berpasir hitam yang kalau malam banyak kunang-kunang. Berlari-lari ngikutin kawanan Macaque. Ngumpet seharian di belakang semak-semak memantau kegiatan Alpha Male nya, alias kepala suku kawanan monyet-monyet itu. 

Pramugari datang lagi mengambil sampah bekas makanan sambil menawarkan tambahan minuman lagi. Saya minta kopi, Niki tetap menggeleng. "You sure?" kata pramugarinya sambil tersenyum manis. Niki mengangguk. Kemudian dia mengeluarkan biskuit dari dalam tas nya.

"Gak susah kan cari makanan buat vegetarian di indonesia?" tanya saya.

Di Indonesia banyak jenis masakan yang dari sayur-sayuran, Niki cerita di pondok nya di hutan itu ada bibi-bibi tukang masak yang masakin dia makanan tiap hari. "I love Tempe," katanya.

"Seriously?," tanya says,"me too. I love it so much, i can't live without tempe"

Niki tertawa. 

Penumpang di depan dan samping mulai lirik-lirik pengen tau kehebohan apa yang lagi di obrolin dua cewek cempreng yang lagi ngakak-ngakak.

Saya jadi tertarik sama dreadlocknya, saya tanya gimana caranya dia bikin rambutnya begitu, apa harus ke salon atau bisa bikin sendiri. Ternyata rambut dreadlock nya itu terbentuk secara alami dan memakan waktu 7 tahun sampai rambutnya bisa kayak bob marley gitu. Musuhnya adalah sisir dan conditioner. Di awal pembuatan dan sekali waktu untuk perawatan, dreadlock nya harus kena air laut supaya gimbal nya tetap merekat sempurna. Sisanya ya biasanya aja, keramas pake shampo. 

Saya cerita tentang legenda anak-anak berambut gimbal di Dieng. Tentang anak yang terlahir dengan rambut gimbal dan harus dilakukan upacara khusus untuk memotong rambutnya itu. Niki tampak sangat tertarik. "Too bad saya sudah punya tiket langsung pulang ke amerika, kalo enggak saya pasti bakal ke sana, sounds interesting," sambil cekikikan terus dia mulai ngebayangin apa yang bakal di lakukan sama orang-orang sana kalau dia datang dengan rambut bob marley nya, apa dia bakal dibikinin upacara juga. 

Alasan dia memelihara dread lock nya, menurut kepercayaan orang Jamaica - termasuk Bob Marley, tuhannya mereka akan mengangkat mereka ke surga dari rambutnya. Semakin tebal dan kuat rambutnya, pegangannya akan makin kuat. Makanya mereka bikin rambutnya jadi gimbal gitu.

What a lucky girl. Niki tau benar apa yang dia suka dalam hidup nya, dan melakukannya. Just do it. Dia suka banget sama Macaque, maka dia terbang sendiri ke negara tropis yang banyak nyamuk tanpa mikirin apakah bahasanya bakalan nyambung atau enggak, tinggal sendirian di pondok di tengah hutan kadang ditemenin sama ranger-ranger pengelola hutan lindung itu, tapi dia bahagia - itu yang dia inginkan dalam hidupnya. Pergi ke jamaica terus suka banget sama konsep tuhan yang mengangkat manusia ke surga dari rambutnya, dan 7 tahun konsisten memelihara dreadlock. 

Dia seumuran sama saya dan dia boleh memilih jalan hidupnya sendiri, sementara saya masih terjebak di somebody else's masterplan - sekolah, kuliah, kerja, cari duit, mati.  What I really wanted in life? sampai saat ini masih menjadi satu pertanyaan besar dalam hidup dan sampai sekarang saya masih aja terus hidup mengikuti apa yang menurut pandangan orang pada umumnya merupakan jalan hidup yang benar. enak kali ya hidup kayak the macaque girl itu, boleh memilih hal-hal yang di sukai dan menjalani hidup yang bahagia dengan pilihan itu.  

Mungkin itulah saat saya menemukan innerpeace saya, ketika pertanyaan besar "what i really wanted in life?" terjawab. Tapi waktu terus berjalan dan saya terus hidup mencari-cari jawaban yang seperti memecahkan soal matematika dengan turunan rumus integral dan diferensial yang rumit, coret-coretnya udah berapa lembar tapi jawabannya masih belum ketemu. 

Pencarian paling sulit itu adalah kalau kita tidak tahu apa yang kita cari.

Sambil terus bercerita tentang kehidupan Macaque, Niki mengangkat satu kaki nya yang mengenakan sepatu converse warna biru muda. Saat itu dia juga mengenakan kemeja kotak-kotak biru muda, jins biru dan tas backpack nya biru. 

"Let me guess your favourite colour," kata saya.

"What?" tanyanya.

"Blue."

Terus dia akhirnya nyadar apa yang saya maksud, sambil ketawa menjelaskan kalau dia bener-bener gak sengaja matching banget hari itu. Padahal warna favoritnya bukan biru, tapi oranye. 

"You wanna know what's more funny?" katanya setengah bisik-bisik mencurigakan.

"What?" saya balik nanya.

Kemudian dia buka backpack birunya dan mengeluarkan tempat kameranya - warna biru.

Kita berdua langsung ngakak lagi sampe penumpang depan dan samping nengok makin penasaran sama kehebohan dua cewek aneh yang berisik banget.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...