Selasa, 11 Juni 2013

Jalan Sore di Kompleks Prambanan

Saya dan Chacha tiba di loket Prambanan menjelang sore, tapi matahari masih semangat memancarkan panas dari lidah apinya. Kita pun masih semangat melanjutkan perjalanan Candi hopping yang dimulai dari Borobudur, Mendut, Sambisari dimana terjadi tragedi nyaris kehilangan kamera yang menyebabkan gagal narsis di Candi Kalasan, hingga akhirnya tiba di Prambanan.

Kita memutuskan beli  tiket terusan untuk masuk ke kompleks Prambanan dan Ratu Boko. Lokasi Prambanan dan Ratu Boko sebenarnya letaknya agak jauh, jadi  harus menggunakan kendaraan lagi kesananya. Pihak pengelola Prambanan menyediakan transportasi gratis dari Prambanan ke Ratu Boko dan sebaliknya, tapi karena kita naik mobil sendiri jadi ga coba fasilitas itu.

Sama seperti di Borobudur, di pintu masuk pengunjung dibagikan kain untuk dikenakan selama dalam komplek candi. Panas terik disana benar-benar menyengat, untung saya sudah sedia payung sebelom gosong. Dalam satu kompleks yang bernama Taman Wisata Candi Prambanan itu sebenarnya ada beberapa Candi, Candi Rara Jonggrang yang kita tau sebagai Candi Prambanan nya, ada juga Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu. 

Candi Prambanan atau Candi Rara Jonggrang, sebagai main attraction dari kompleks ini terdiri dari 3 Candi gede banget, 3 candi lebih kecil yang berhadapan dengan candi yang besar dan 2 candi kecil di kiri kanan yang dinamakan Candi Apit. Candi paling besar, posisi nya di tengah, adalah Candi Siwa. Tapi waktu saya kesana Candi ini masih dalam tahap renovasi setelah gempa beberapa waktu lalu, jadi di sekeliling Candi ini masih di kasih pagar dan kalau masuk harus pakai helm konstruksi. 

Berdiri gagah di kanan dan kiri Candi Siwa adalah Candi Brahma dan Candi Wisnu. Tiga candi yang posisinya berhadapan dengan candi besar yaitu Candi Angsa, Candi Garuda dan Candi Nandi masing-masing adalah kendaraan dewa yang dihadapannya. Wisnu naik Garuda, Siwa naik Nandi dan Brahma naik Angsa. 

Candi-candi itu dibangun sebagai penanda kebangkitan kembali Wangsa Sanjaya di tanah jawa setelah sekian lama berada dibawah kekuasaan Dinasti Syailendra yang di beking oleh Sriwijaya, kerajaan Melayu yang kuat dan berkuasa banget pas jaman itu. Sayangnya Raja Samaratungga - raja dari Dinasti Syailendra, melakukan kesalahan dengan menikahkan putrinya dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Mungkin maksud Samaratungga untuk bonding dengan rival nya itu dengan cara pernikahan, tapi Rakai Pikatan yang ambisius melihat ini sebagai kesempatan untuk merebut kembali kekuasaan dinastinya sebagai pendiri kerajaan Mataram Kuno tersebut. 

Selepas wafatnya Samaratungga tahta dilanjutkan oleh anak laki-lakinya bernama Balaputra. Tapi kemudian Balaputra di kudeta oleh Rakai Pikatan sehingga melarikan diri mencari perlindungan ke Kerajaan Sriwijaya, tempat dimana ibunya berasal. Wangsa Sanjaya pun kembali berkuasa di bawah pimpinan Rakai Pikatan yang kemudian membangun Candi Prambanan di abad ke 9 tersebut.

Prambanan

Bas relief yang ada ukiran burung kakaktua nya

Makara
Keluar dari Candi Prambanan, saya dan Chacha mengikuti petunjuk arah untuk melihat Candi-Candi lain, tujuan utama kita adalah Candi Sewu yang menurut legenda di bangun dalam waktu semalam. Di persimpangan kita memutuskan jalan ke kanan, walaupun sejenak ragu mau ke kiri karena melihat ada kereta.

Chacha pun bertanya, " Kak, itu kereta apa ya?"

Saya hanya menggelengkan kepala seraya tetap berjalan menjauhi kereta wisata warna-warni itu.

Saya dan Chacha berjalan dan terus berjalan sore hari itu, dibawah bayang-bayang rimbun pohon-pohon. Menjejakan kaki-kaki kecil kita di atas jalan aspal yang membelah taman luas di selimuti rumput hijau. Sudah jauh sekali kita berjalan tapi tidak kelihatan ada orang lain selain kita berdua. Candi Lumbung dan Candi Bubrah sudah kita lewati, tetap belum ada penampakan satu orang pun. Kita mulai khawatir tersesat.

Matahari mulai menyerah dan sinarnya pun kian meredup. Semilir angin sore mulai terasa. Candi Sewu masih belum tampak. Tiba-tiba di kejauhan kita melihat lagi kereta wisata itu, penuh sama penumpang. Ternyata pengunjung-pengunjung yang barengan sama kita di Candi Prambanan pada naik kereta itu semua, yang jalan kaki cuman saya dan Chacha doang. Kita pun pasrah menyaksikan kereta itu melintas di depan kita sambil elus-elus dengkul.

Tidak lama, sampai juga kita di Candi Sewu. Ternyata sebagian candi nya berantakan, banyak batu-batu tergeletak tak beraturan di tanah akibat gempa yang beberapa waktu lalu yang sempat bikin sebagian candi ini porak poranda. Yang saya pikirkan hanya, "ihiks, kita musti balik lagi jalan kaki lagi lewat jalan yang sama...."

Candi Sewu

 

29 komentar:

  1. wah taman di sekitar candi prambanan indah juga yach mbak mila,rasanya pengen kesana ,,,,

    BalasHapus
  2. pas ke prambanan aku ga sempet keliling2. Abis puaaanaaaas bgt, pas siang bolong. Nyerah deh. Besok lg klo kesana mendingan sore ato malem skalian ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mba Cova. Kalau perlu camping. Bawa tenda. Hiheiheihiee.

      Hapus
    2. Sore juga masih panas. malem gelap sih gelap mba, ga kliatan apa2 hahahaa... aku sih bawa payung

      Hapus
  3. asyik juga ya jalan-jalan dari candi ke candi ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa.. ternyata seru candi hopping

      Hapus
  4. wahh jadi inget kampung halaman :D

    btw salam kenal & follbak sis

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahh kampung halamannya di candi ya?

      hehehe.. salam kenal

      Hapus
  5. Enak ya bisa jalan2 kemana-mana... rasanya kok gak ada capeknya :D
    Aku jadi iri lo... suer.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo jalan2 gini mah gak gak capek mba hahahaa

      Hapus
  6. Prambanan? Seumur-umur aku baru ke Prambanan saat usiaku 32 tahun hehehe... padahal sejak selepas SMA aku bolak balik lewat Prambanan tapi tak pernah sekalipun mampir #tepokjidat

    BalasHapus
    Balasan
    1. brarti sama kayak aku mondar mandir monas tapi sampe skrg blom pernah naek sampe ke atasnya

      Hapus
  7. Aku pernah kesini, mbak mil.
    namun.. saat itu terik menyengat lapar.
    jadilah kami kembali ke parkiran.
    *menyesal

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan menyesal lain waktu kita kan bisa kesana lagi ,,,,,,,,

      Hapus
    2. iya bener tuh hehehee

      Hapus
  8. Gue pernah kesini.. Bagus mbak buat jalan", tapi puanas sih. Hhee

    BalasHapus
  9. pingin ngajak anak-anak ke Candi deh mereka belum pernah soalnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, supaya anak2 tau peninggalan sejarah wkwkwkwk

      Hapus
  10. Ahhhh gw sudah pernah ciuman di candi ratu boko #ehhhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini prambanan wooii bukan ratu boko *timpuk

      Hapus
  11. loh mila dan chacha kok abis main candi gag diberesin lagi batu2nya? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. bwahahahaa... mba ratuuuu lucuuuu

      Hapus
  12. sedia payung sebelum gosong..?
    kalo ga ada payung gimana..?
    dibolak balik gitu..?
    haha

    BalasHapus
  13. gw ikut tuh paket yg prambanan-ratu boko pake mobil sewaan gitu. kalau ngga salah harganya sekitar 40rb deh. lupa berapa. tapi kalau punya mobil pribadi sih lebih enak yah. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bebas kemana2 wkwkwkwk

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...