Selasa, 04 Juni 2013

Meracau tentang Borobudur

Dari kecil saya sudah seneng banget yang namanya baca buku, tapi sejak saya mulai traveling saya jadi seneng banget baca buku sejarah. Hampir tiap bulan saya memburu buku-buku sejarah di situs online Amazon.com dan Bookdepository.com. Soalnya buku sejarah yang di tulis sejarawan asing itu seru bacanya, sangat naratif jadi kayak baca novel. Jangan bayangin model buku sejarah kayak buku teks pegangan kita jaman sekolah dulu. Saya terpaksa harus menelan kembali statement yang pernah saya buat waktu sekolah dulu kalau sejarah itu membosankan

Salah satu buku favorit saya tentang sejarah Indonesia jaman kerajaan-kerajaan dulu adalah buku nya Paul Michel Munoz yang judulnya Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Baca buku ini saya jadi paham tentang kejayaan Kerajaan Sriwijaya selama 6 abad di wilayah nusantara hingga ke semenanjung malaya. Saya juga jadi paham tentang pergantian kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Jawa jaman dulu. Itulah yang membawa saya merancang perjalanan Candi Hoping di daerah Jogja dan sekitarnya

Kalau sebelumnya saya pernah datang di candi-candi ini hanya untuk melihat susunan batu yang dipahat cantik, kali ini saya datang dengan modal sedikit ilmu pengetahuan tentang asal-usul candi yang saya baca di buku ini. Dan buat saya, setelah tau sedikit sejarah latar  belakang nya kekerenan candi - candi itu levelnya meningkat drastis jadi 736 %. Begitu pula waktu melihat figur Candi Borobudur yang megah di pagi hari diantara hembusan kabut tipis yang menghiasi Stupa nya, saya merasa level apresiasi saya terhadap Candi itu meningkat 689 %. Sama hal nya sewaktu saya mencoba merunutkan kisah Lalitasvistara yang terukir di relief panel-panel dinding Candi, level kekaguman saya meningkat 820%. 

Bukan hanya kisah kehidupan Sang Buddha yang terukir di Bas Relief Panel di Borobudur, ada juga kisah tentang seorang pemuda pedagang yang hidup di abad ke-8, bagaimana dia naik kapal dan pergi untuk mempelajari ajaran Buddha. Di panel relief yang ada gambar kapalnya itu kita jadi tahu jenis kapal yang digunakan waktu jaman itu, pakaian-pakaian yang digunakan, dan kegiatan perdagangannya, karena semua terukir secara detail.

Borobudur

Dinding Borobudur

Bas Relief yang menggambarkan situasi perdagangan dan maritim di nusantara masa itu

Model kapal Nusantara abad ke-8
Kalau ditilik dari bentuk kapal yang terpahat di situ, bisa dilihat kalau dari segi maritim Kerajaan-kerajaan jaman itu yang berada di kawasan nusantara gak kalah canggih sama bangsa-bangsa lain. Kira-kira mungkin dengan kapal model gini sekumpulan orang dari wilayah nusantara pernah pergi hingga ke pulau Madagaskar dekat Benua Afrika, jauh sebelum Columbus berlayar melewati Cape of Good Hope dan menemukan Benua Amerika. Keturunan orang-orang dari wilayah nusantara yang berlayar beberapa abad lalu itu hingga saat ini masih hidup di Madagaskar.

Borobudur ini dibangun di puncak kejayaan Agama Buddha di Nusantara, yang mengikuti kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Candi Buddha yang besar ini dibangun di wilayah Kerajaan Mataram Kuno, yang diduga kuat adalah pengikut (vassal) Kerajaan Sriwijaya, dibawah kekuasaan Dinasti Syailendra. Pendiri Kerajaan Mataram Kuno ini sebenarnya adalah Sanjaya, yang konon masih merupakan keturunan dari Ratu Shima dari kerajaan Kalingga yang - kalau dilihat dari Candi Dieng yang didirikannya, adalah beragama Hindu. 

Kemudian Syailendra datang, di back-up oleh Sriwijaya, menggulingkan kekuasaan Wangsa Sanjaya dan merubah kerajaan Mataram Kuno ini menjadi kerajaan Buddha. Tapi pas jaman itu gak serta merta rakyat nya pindah agama masal semua, sebagian masih taat menganut agama Hindu. Jadi dibangunnya Candi Borobudur itu, selain untuk jadi pusat Agama Buddha dari seluruh belahan dunia juga diharapkan bisa menarik lebih banyak penganut Hindu di daerah sekitar situ untuk pindah ke Buddha. Sementara itu Wangsa Sanjaya yang telah di kalahkan oleh Dinasti Syailendra menanti saat-saat pembalasan untuk merebut kembali wilayahnya. 

Kemudian tibalah saat yang dinanti-nanti, peluang untuk mendapatkan kembali Mataram Kuno. Wangsa Sanjaya kembali berjaya. Itu terjadi tak lama setelah Candi Borobudur selesai dibangun, tapi ceritanya akan saya lanjut di postingan berikutnya. Sekitar abad ke-9, kekuasaan Syailendra di Mataram Kuno berakhir dan Wangsa Sanjaya kembali dengan pengaruh Hindu-nya dan membangun Candi Prambanan.

Memang banyak yang bilang kalau Borobudur itu adalah sebuah kitab berbentuk bangunan, begitu banyak pesan-pesan dan ajaran Buddha yang terangkum di detail-detail candi tersebut. Kalau mau dikulik-kulik dan dibahas satu-satu, wuih bisa gak akan selesai-selesai nih postingan saya. Apalagi ternyata bukan cuman kemegahan Candi pada saat matahari terbit, kemolekan ukiran relief nya, dan perayaan Waisak tiap tahun lengkap dengan pelepasan lampion-lampion di sana aja yang bisa dibahas. Peristiwa yang terjadi dibalik pembuatan candi Borobudur juga ternyata menarik banget- ada intrik-intrik, konspirasi, perebutan kekuasaan dan pertumpahan darah. Seru gak tuh.



  

23 komentar:

  1. Membaca tulisan mba tentang Candi Borobudur langsung mengingatkan saya saat pertama kali Ke Jogjakarta tahun 2004 yang lalu. Saya ke sana waktu itu dalam rangka silaturahmi dengan calon istri hiehiehee. Alhamdulillah sekarang sudah punya buntut dua orang, sudah sepasang.

    Saat saya ke Candi Borobudur tahun 2004 lalu saya naek motor boncengan dari KulonProgo. Agendanya ya liat liat aja maklum saya kan dari Pontianak. Lalu sempat foto dengan tukang foto keliling yang ada di sana. Panas cuacanya saat itu tapi berkesan hiehiheiehiee

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah penuh kenangan ya, Pak Asep hehehee

      Hapus
  2. 736, 689, ama 820 % datengnya dari mana ya? #kunyah permen karet

    BalasHapus
    Balasan
    1. itung2 di kalkulator karce, pasti untung

      Hapus
  3. taukah, aku belum pernah ke Borobudur ... walaupun udah bolak balik ke Jogja, lah borobudur kan di magelang neeng *toyor diri sendiri* :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya tauk, udah berapa kali gitu lo komen di blog gw ini bilang klo blom pernah ke borobudur

      Hapus
  4. hihihi... postingan mu ini sebagai rangkuman dari buku2 sejarah import yang tidak membosankan itu yah?
    bener lohh, bacanya jadi gag bosen.
    apakabar bu hajjah? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan rangkumna, cuman cuplikan sedikit ajah.. aslinya panjang itu ceritanya hehehee

      Hapus
  5. Ke borobudur yg ngak enak cuman naik tangganya doang bikin dengkul ogep hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah tangganya kan dikit cuman segitu doang wkwwkwkwk

      Hapus
  6. ikan hiunya gak mau ngunyah gw, pait katanya. gw habis semedi cukup lama buk, banyak masalah yg perlu diselesaikan satu2, dan skrng baru mulai kembali bergerilya

    BalasHapus
    Balasan
    1. lo sih kebanyakan makan jengkol makanya pait bwahahahaa....

      Hapus
  7. hi mila, salam kenal...

    baca tulisan km kayaknya menarik ya baca2 sejarah dan emang sebenernya sejarah itu menarik, tapi kenapa pas di sekolah dulu kayaknya membosankan ya hahahahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener kan pas sekolah pelajaran sejarah bosenin

      Hapus
  8. menikmati situs sejarah, apalagi tau latar belakang kisahnya... pasti lebih menarik ya Mil..

    buku2 sejarah yg ditulis oleh sejarawan asing lebih menarik tentunya ya.. ^_^

    andai saja buku2 sekolah itu yang seperti itu ya Mil, pasti pelajaran sejarah menyenangkan sekali.. :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. enaknya tuh pas sekolah belajar sejarahnya pke gambar-gambar, foto-foto, film, diskusi, roleplay, klo perlu datengin bareng2 situs2 sejarahnya jd bisa liat langsung, baru deh tuh jadi seru hehehehee

      Hapus
  9. Aku justru dulu paling suka sejarah lho, Mil. Karena gurunya menjelaskan kayak cerita dan sama sekali gk liat buku paket. Keren. Berasa nonton monolog di teater.
    Kitab berbentuk bangunan.. bagus banget perumpamaannya :)
    Aku sih blom pernah ke sana. Sungguh malang.. hixs..
    Btw berarti totalnya berapa sih? 1000% dong ya? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu guru sejarah yang asik.
      Borobudurnya buka di malang, mba. tp di magelang *ditimpuksendal* bwahahahaa

      Hapus
  10. Mila, dari dulu gw penasaran, itu relief perahu ada di lantai berapa sih? Bagian Kamadhatu, Rupadhatu, atau Arupadhatu ya? Eh kayaknya klo Arupadhatu gak mungkin ding :)

    BalasHapus
  11. infonya sangat bagus mbak mila ........

    BalasHapus
  12. artikelnya sangat bagus nie gan ,,,,,,,

    BalasHapus
  13. Mila, mari bertemu dan saling meminjamkan buku. Gw pinjam buku Paul Michelnya, nanti gw bawain Lalita nya Ayu Utami (ato lo malah udah baca? :p)

    -Lili-

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...