Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bali. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 April 2017

Sehari di Nusa Penida


Nusa Penida adalah pulau kecil dekat Pulau Bali, sekitar 45 menit - 1 jam naik boat dari Sanur. Awalnya saya tertarik ke Nusa Penida karena lihat postingan foto Angel's Billabong di Instagram. Di foto itu tampak semacam danau yang berbatasan langsung dengan laut, airnya sangat bening sampai-sampai batuan di dasarnya terlihat. Di foto itu juga ada orang floating di atas nya, keren banget saya jadi kepingin.

Sebelum matahari terbit saya sudah siap-siap check-out dari hotel di daerah Sanur, jalan kaki 5 menit saja ke dermaga tempat naik boat ke Nusa Penida. Sebenarnya saya merasa agak kurang fit waktu itu, hampir saja saya membatalkan rencana nyebrang ke pulau itu tapi setelah dipikir-pikir, kapan lagi? 

Sampai di tempat penyebrangan sudah banyak orang, kebanyakan sih orang lokal (orang Bali). saya langsung ikut mengantri di meja yang ada tulisan kapal ke Nusa Penida, bayar, dikasih tiket dan disuruh menunggu kapal berangkat. Sementara itu matahari terbit di ufuk Sanur, membuat langit dan pantulan laut berwarna keemasan. 

Sehabis melihat sunrise dan terkena hangat matahari pagi, badan saya berasa agak meningan. Sehari sebelumnya saya habis ikut Half Marathon, mungkin itu salah satu penyebab ketidak-fit-an saya. Tapi beberapa menit setelah kapal berangkat saya mulai merasa mual seperti mabuk laut, padahal seumur-umur belum pernah saya mabuk laut. Sampai di Nusa Penida kepala saya masih pening dan kurang balance.

Turun dari boat langsung banyak yang menawarkan motor untuk disewa. Saya tidak bisa nyetir motor. Dulu pernah belajar, tapi baru beberapa menit sudah jatuh dan tertiban motor, sampai sekarang masih belum punya nyali untuk mencoba lagi. Jadi saya sewa motor plus tukang ojeknya. Sebenarnya kalau hanya punya waktu satu hari lebih efektif cara begini sih, soalnya kalau pun bisa bawa motor dan jalan sendiri saya pasti bakal banyak nyasar dan nyusruk di jalan karena tanda-tanda arah jalan tidak jelas dan tidak semua jalanan beraspal, belum lagi jalanan disana berbukit-bukit, berkelok-kelok, dan sepi.

Pantai Kelingking


Pertama saya diantar ke Pantai Kelingking, karena menurut bli ojek lokasi ini paling jauh dari lokasi lain yang mau kita datangi. Saya juga penasaran kenapa namanya kelingking, soalnya sama sekali gak ada yang mirip jari kelingking disana. Katanya kalau lagi musimnya dari atas tebing bisa kelihatan Manta lagi berenang di bawah situ. Manta nya pasti gede banget kalau sampai bisa terlihat dari atas tebing, karena tinggi banget. 

Pasih Andus


Di  tempat ini ombaknya menghantam karang sampai kelihatan kayak meledak dan menimbulkan suara unik. Saya duduk cukup lama disini bareng bli ojek, nonton ledakan ombak sambil nebak-nebak ledakannya bakal besar atau biasa aja. Kayaknya saya bisa loh cuma nonton itu saja seharian, rasanya relaxing banget.

Pasih Uug 


Pasih Uug beken juga dengan nama broken beach. Mungkin karena ada bagian karang yang bolong atau broken. Mengingatkan saya sama tebing London Bridge yang pernah saya lihat di Great Ocean Road Australia. Mirip banget. Hmm.. tebing yang di bukit kelingking juga mirip sama twelve apostles yang di Great Ocean Road sih. Mungkin tempat-tempat itu mengalami fenomena geologi (entah apa itu bener atau enggak sebutannya) yang mirip. 

Angel's Billabong


Jalan sedikit dari Pasih Uug, disitulah akhirnya saya menemukan tujuan utama saya datang ke Nusa Penida. Angel's Billabong. Lebih cantik dari di foto. Dan ternyata itu adalah ujungnya sungai, bukan danau. Tapi saya gak bisa foto mengambang disitu karena ombaknya lagi besar. Ombak datang dari arah laut dan masuk melalui celah hingga memenuhi Billabongnya. Ngeri juga kalau lagi dibawah ada ombak masuk, bisa-bisa saya kebawa arus terhempas ke dinding-dinding karang di Billabong.

Crystal Bay


Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Crystal Bay. Di pantai ini ada warung-warung yang jual makanan. By the way, perasaan kurang fit saya ketika berangkat sudah lama hilang, kemungkinan besar ketika di Pasih Andus. Akibat takjub sama ledakan ombak saya jadi merasa segar bugar. Ketika melihat warung-warung saya baru sadar kalau belum sempat makan apa-apa sejak bangun tidur. Saya makan indomi ditemani dua orang cowo yang lagi makan juga disitu, mereka juga ternyata habis ikut Bali Marathon. Di Crystal Bay bisa snorkelling, tapi saya lagi gak semangat berenang. 

Petualangan saya di Nusa Penida berakhir di Crystal Bay jam 3 sore karena mau mengejar boat balik ke Sanur.


Minggu, 12 Maret 2017

Karena Diet Hanya untuk Orang Lemah

Ini cerita agak lama dari Birthday trip ke Bali tahun 2016 silam. Apalah artinya traveling tanpa cerita makan-makan, apalagi buat saya yang gak traveling aja makan melulu. Di liburan yang berdurasi kurang dari seminggu itu, saya, Tince dan Omith banyak mencoba kuliner sekitar Sanur. 

Kami menemukan Restoran Italia yang Pizza dan Gelato-nya enak banget, plus saya dapat surprise manis pas ulang tahun disana dari staff-nya, Massimo Pizza yang berlokasi di Jl. Danau Tamblingan. Tempat favorit saya adalah Warung Mak Beng karena saya suka ikan dan suka makanan pedas, bahkan nulis ini aja saya sambil menelan ludah.

Selain dua tempat makan favorit itu, kami menemukan warung makan murah meriah tidak jauh dari hotel kami di Sanur Guest House, Jl. Danau Poso. Namanya warung Moro Seneng, semacam warung nasi yang murah meriah, porsinya banyak dan sekali makan kayaknya gak pernah lebih dari 20ribu rupiah. Makan pakai lauk ayam, telur dan sayur kangkung aja hanya 14ribu, luar biasa kan? Disini nih tempat carbo loading saya dan omith sebelum acara race. Carbo loading murah meriah. 


Sehari sebelum race, saya dan Tince pindah ke Hotel Indi yang lebih dekat dengan Pantai Sanur. Sore hari kami jalan kaki kesana, jajan bakso di pinggir pantai kemudian menemukan tempat nongkrong unyu Sanur Beach Grove. Disitu kami duduk-duduk diatas rumput, sementara Tince beli dessert kue Chocolate Lava yang ditaburi gula-gula bentuk kembang warna-warni. Malamnya di arah pulang ke hotel, Tince beli nasi campur babi sementara saya jajan nasi jinggo.



Selesai lari HM, pulang ke hotel saya langsung tidur. Bangun tidur saya dan Tince kembali ke Pantai Sanur, disana kami memesan makan siang seafood combo dan kami lahap seperti orang kelaparan. Ternyata jadi supporter, Tince juga menghabiskan banyak energi dan kelaparan seperti saya. 



Jumat, 11 November 2016

Pindah-Pindah Hotel di Sanur

Beberapa hari sebelum berangkat ke Bali bulan Agustus kemarin saya masih belum memutuskan akan menginap dimana. Ada kawan yang menawarkan tempat untuk numpang di tempat kos-nya, saat itu saya belum cari-cari hotel karena rencananya memang kalau saya pergi sendiri saya mau nebeng saja di tempat kawan saya, ngirit.

2 minggu sebelum hari keberangkatan, Tince dan Omith memastikan diri akan ikut ke Bali bareng saya. Omith ikut HM di Bali Marathon juga, sementara Tince memutuskan mau ikut sebagai suporter atas nama persahabatan. Setelah diskusi sama Tince akhirnya kami pilih lokasi menetap di Sanur, dengan pertimbangan lebih dekat ke area race tapi tidak terlalu jauh dari mana-mana. 

Tawaran nebeng dari kawan saya terpaksa dipending karena kos-nya dia lebih dekat ke daerah kuta-legian. Saya dan Tince pun mulai cari-cari hotel di website Agoda. Setelah mengumpulkan beberapa kandidat, pilihan kami jatuh ke Sanur Guest House. Tapi karena masih ragu apakah lokasinya cukup dekat dengan shuttle terdekat maka kami hanya booking untuk 2 malam, nanti kedepannya akan ditentukan setelah pengambilan race pack.

Lokasi Sanur Guest House ternyata agak jauh dari pusatnya Sanur, enak sih kalau mau liburan menyepi karena bebas dari hiruk pikuk kegiatan turis. Ke pantai harus jalan kaki, tapi tidak sampai 10 menit kalau jalan santai. Nama pantainya Pantai Sudamala, lebih tenang dan nyaman daripada Pantai Sanur. Tapi untuk lebih mendekatkan diri ke pusat keramaian dan ke jalan raya supaya akses dini hari ke race lebih mudah saya dan tince memutuskan pindah hotel ke Indi Hotel. 

Di Indi Hotel selama 2 malam, setelah itu Tince harus berangkat lagi ke Bangkok untuk kerja dan saya pindah hotel lagi yang dekat dengan kapal untuk menyebrang ke Nusa Penida. Akhirnya saya pindah lagi ke Hotel Sanur Paradise Plaza hanya untuk semalam karena subuh-subuh saya sudah check-out dan menyebrang ke Nusa Penida.

Dari sekian banyak hotel yang tersebar di daerah Sanur, mungkin tiga darinya yang kebetulan saya tempati kemarin bisa jadi rujukan. Untuk ratenya bisa dilihat langsung di Agoda.com atau Booking.com atau website hotelnya langsung.

SANUR GUEST HOUSE 

Sanur Guest house terletak di bagian sepi dari daerah Sanur. Walaupun begitu cari makanan tidak susah dan ada minimarket, guardian dan ATM tidak jauh dari situ. Pantai terdekat adalah Pantai Sudamala, jalan kaki santai tidak sampai 10 menit dari hotel. Disekitar situ juga ada beberapa operator diving, bahkan masih satu lokasi dengan guest house ada juga operator diving, dua kali saya lihat ada yang latihan diving di kolamnya selama saya disitu.

Sanur Guest House hanya memiliki 8 kamar, 4 di lantai bawah dan 4 di lantai atas. Kamar dan kamar mandinya bersih walaupun dekornya sederhana. Kolam renangnya juga bersih. Staff hotel yang saya lihat selama disitu hanya 4 orang yang bergantian jaga, termasuk memasak sarapan. Sarapan setiap hari beda-beda dan sempat aja ditata cantik. Kalau tidak diminta kamar tidak akan dibersihkan, handuk juga kalau tidak kita minta tukar tidak akan otomatis diganti dengan yang baru. Tapi overall saya betah disini, suasananya lebih kekeluargaan daripada hotel besar dan mas-masnya selalu siap membantu. 

Salah satu sarapan di Sanur Guest House
Malam terakhir saya di Bali, pulang dari Nusa Penida saya belum booking penginapan. Setelah ditolak oleh Sanur Paradise, akhirnya saya kembali lagi ke Sanur Guest House, untungnya masih ada kamar. Staffnya langsung menyambut dengan riang ketika saya muncul kembali. Kalau ada urusan di Sanur lagi pasti saya akan kembali menginap di Sanur Guest House.

Alamat:
Jl. Danau Poso No. 53A
Sanur, Bali


HOTEL INDI

Next stop adalah Hotel Indi. Sepertinya hotel ini baru ganti nama dan ganti manajemen, atau mungkin baru ganti pemilik, soalnya di belakang namanya selalu dicantumkan dalam tanda kurung (ex. Rani Hotel). Dari depan terlihat bagus dan modern, tampak baru direnovasi. Tapi ketika masuk lihat kamarnya masih bangunan lama. 

Furniture, ubin, model jendela, model pintu, kamar mandi, model jadul. Di kamar mandinya masih ada bak mandi kayak jaman saya kecil, fiuh sudah lama banget gak lihat yang seperti itu rasanya kayak kembali ke masa lalu. Kalau lihat ke atas eternitnya sudah compang-camping. Pintu kamar mandi di kamar yang kami tempati pun bermasalah, pertama kali saya masuk kamar mandi dan mengunci pintu, saya terkunci di dalam karena handle pintunya nyangkut.

Area kolam renangnya dan tamannya sih lumayan

Kamarnya jadul
Tapi dengan rate yang saya bayar, ya kasian juga kalau saya protes. Ratenya nyaris setengahnya Sanur Guest House, padahal lokasi hotel ini ada di pinggir jalan raya dan tinggal menyebrang perempatan ke Pasar Sanur.  Staffnya semua helpfull dan ramah. Atau setidaknya berniat helpfull. Mereka bolak-balik mencoba memperbaiki handle pintu tersebut, walaupun tidak berhasil namun saya tetap kasih point positif untuk niat baiknya. 

Alamat:
Jl. Danau Buyan no.33
Bali

SANUR PARADISE PLAZA HOTEL

Hotel ini adalah hotel yang bintangnya paling banyak diantara dua hotel diatas, tapi paling tidak saya rekomen. Sebenarnya fasilitas kamar dan hotelnya sendiri bagus, sesuai dengan bintang dan rate yang saya bayar. Kolam renangnya luas dan panjang sekali. Saya pilih hotel ini karena dekat dengan lokasi express boat untuk menyebrang ke Nusa Penida. Dekat juga dengan rumah makan Mak Beng, jalan kaki hanya 5 menit. Yang bikin saya kurang menyukai hotel ini karena kesan pertama yang ditunjukan staff di bagian depan hotel.

Saya datang memang lebih awal dari jam check-in, memang niatnya hanya mau titip tas dulu kemudian jalan-jalan di pantai belakang hotel. Mungkin karena saya dan Tince jalan kaki dari gerbang masuk ke lobby, kami dicuekin sama satpam dan petugas yang ada di depan pintu masuk. Kalau pengalaman saya di hotel lain biasanya petugas di depan akan langsung menyambut dan kalau kita keliatan celingak-celinguk pasti ditunjukan posisi meja resepsionis. Lah ini mau saya samperin malah melengos, pura-pura tidak lihat. Walaupun belum sempat bertanya, sudah ketemu sendiri posisi meja resepsionis.

Saya berdiri di depan meja resepsionis cukup lama sampai mati gaya buka-buka handphone, saat itu mbak nya sedang sibuk berargumen dengan salah satu bapak customer yang lagi marah-marah. Saya juga kurang mengerti sih marah-marah kenapa, yang jelas sampai adu argumen. Setelah bapak itu pergi, masih dengan muka emosi, mba itu melayani saya. Wajahnya saat itu tanpa senyum, saya maklum karena mungkin dia masih emosi sama bapak-bapak. Saya menunjukan booking-an saya di handphone kemudian dia langsung cek di komputer. Saya langsung menjelaskan kalau saya hanya ingin titip barang, karena memang belum jam check-in. Tapi mba nya bilang akan proses dulu, jadi saya registrasi dulu saja walaupun baru bisa check in setelah jam 1 siang.

Setelah jam 1 siang saya kembali untuk check-in. Sempat lama juga menunggu di depan meja resepsionis walaupun saat itu ada 3 orang disitu, salah satunya lagi melayani ibu-ibu sasakan yang dandanannya seperti ibu pejabat jaman orde baru lagi complaint. Dua staff lagi gak jelas lagi apa. Setelah nunggu lama, sempat mengalihkan perhatian ke handpone, buka instagram, path, facebook, akhirnya ada juga yang mendatangi saya, melihat copy form yang saya bawa dan memberikan kunci kamar. Staff hotel yang mengantar saya ke kamar sih ramah, sembari jalan menjelaskan jumlah kamar di hotel ini dan fasilitas-fasilitas yang ada.   

Saya check-out subuh-subuh dan langsung menyebrang ke Nusa Penida. Saat itu saya tidak booking hotel karena belum tahu akan berapa lama di Nusa Penida dan apakah harus menginap di pulau itu. Tapi saya pikir kalau kembali hari itu juga pasti di Sanur Paradise Plaza masih akan ada kamar, karena ketika saya tinggal disitu bukan weekend dan memang hotel tampak sepi. 

Ketika saya kembali ke situ sore harinya, saya kembali ke depan meja resepsionis disambut oleh mbak yang lumayan ramah, saat itu tampak sepi jadi saya hanya satu-satu orang di lobby sore itu. Tapi ketika saya menanyakan kamar, mbak resepsionis yang ramah melirik ke mba yang memproses check-in saya di hari pertama. Tanpa melihat ke saya maupun tanpa cek ke komputernya, mba yang judes itu hanya bilang, "semua kamar full hari ini." Saya langsung pergi dan kembali ke Sanur Guest House. Rasanya beda banget, baru masuk ke Sanur Guest House saja semua staff wajahnya langsung senyum menyambut saya dengan hangat, menanyakan bagaimana race yang saya ikuti.

Ternyata ketika saya iseng lihat review pengunjung di agoda.com, tamu lokal yang menerima perlakuan 'dingin' bukan hanya saya saja. Review bagus dari tamu asing, yang bilang staff nya ramah. Jadi kesimpulan saya, hotel ini adalah hotel yang bule-friendly. Tapi kalau tidak begitu perduli sama pelayanan sih sebenarnya hotel ini lumayan bagus, lokasinya bagus dan kolam renangnya asik. 

Alamat:
Jl. Hang Tuah 46
Sanur, Bali

Kamis, 22 September 2016

Race Pertama, HM Pertama, Medali Finisher Pertama di Bali Marathon

Sebelumnya saya tidak pernah punya rencana mau lari sampai 20 km, awalnya saya rutin lari supaya fit dan tujuannya untuk mengurangi berat badan berlebih supaya punya stamina yang prima untuk travelling. Saya cuma pingin bisa snorkeling lama dan mengejar ikan nemo tanpa kehabisan nafas atau kecapekan di tengah jalan. Saya juga pingin kuat trekking di alam, manjat-manjat batu, mendaki jalan curam dan berjalan kaki berjam-jam tanpa merasa cepat lelah. Traveling di daerah perkotaan juga perlu stamina kuat untuk banyak jalan, kalau tidak cepat lelah akan semakin banyak tempat yang bisa dikunjungi. 

Sebenarnya saya bisa lari hingga lebih dari 5 km itu tidak sengaja. Selama 1,5 tahun mentok lari paling jauh 5km, pada suatu saat saya merasa masih kuat lanjut. Lanjutlah saya jadi 6 km. Lalu beberapa waktu lagi tiba-tiba saya sudah lari 8 km. Menjelang ulang tahun ke 33 saya punya ide mau genapin jarak lari saya jadi 10km. Lalu seperti yang sudah saya ceritakan di postingan yang lalu, momen spontan mendaftar race Half Marathon. 

Efektifnya saya hanya latihan selama 2 bulan, karena sebulan sebelumnya adalah bulan puasa dan jadwal lari saya acak-acakan. Target saya kali ini pokoknya hanya mau finish 21 km. Dua minggu sebelum race saya trial lari dengan jarak 21 km di jalur Car Free Day, cuma kuat lari sampai 13 km setelah itu kombinasi jalan dan lari. 

Saya beli air mineral ketika 8 km, kemudian beli pocari di 13 km, setelah itu masih beli minum air mineral 1 botol lagi di km 16. Badan saya sudah basah kuyup di km 16, gerah banget rasanya mau lepas baju. Matahari juga mulai panas karena sudah lewat jam 8 pagi. Tapi saya masih terus lari – jalan cepat – lari hingga sampai juga 21 km. Butuh waktu 3 jam 15 menit untuk saya menyelesaikannya di CFD. Konon kata orang-orang jalur di Bali Maraton lebih menantang karena tanjakannya dasyat. 

Punggung dan pundak saya pegal sejak km 16, saya juga bingung, lari kan pakai kaki kenapa pundak yang pegal yah. Mungkin karena gerakan ayunan tangan ketika lari. Kaki saya pegal juga, tapi untungnya tidak ada bagian yang nyeri. Keesokan harinya saya kira jalan bakal jalan seperti robot karena pegal, ternyata enggak loh. Syukurlah. Padahal sudah sedia counterpain di samping tempat tidur. 

Ketika mandi badan saya perih-perih, di punggung, lingkaran dada diatas perut dan bagian perut. Ternyata kulit saya luka lecet dibagian yang bergesekan sama baju. Garis sport bra dan garis karet celana pendek. Ternyata bukan hanya saya, omith dan nico juga mengalami hal sama kalau long run. 

Trial 21 km CFD itu adalah Half Marathon pertama saya seumur hidup. Satu minggu sebelum lomba namanya Taper week, gak ada long run. Jadi siap – tidak siap pas tanggal 28 harus lari 21 km sampai finish. Waktu itu saya mikirnya kalau bisa finish kurang dari 3 jam yang bagus banget kalau tidak ya tidak apa-apa, gak ambisius. 

Hari H, saya bangun jam 2.30 dini hari. Cuci muka, gosok gigi, gak perlu mandi karena nanti kan keringetan lagi, minum milo satu kotak sambil pakai sepatu. Jam 3 tepat sopir taksi yang sudah janjian mau antar saya ke Gianyar telpon mengabari kalau sudah di depan hotel. Saya pun langsung berangkat. 

Hotel saya di Sanur ternyata tidak jauh dari lokasi lomba, tidak sampai 15 menit sudah sampai. Waktu saya tiba di lokasi belum begitu ramai karena bus-bus shuttle belum datang. Saya langsung ke penitipan tas untuk titip tas saya yang berisi baju ganti kemudian antri toilet. Jam 5.00 peserta Full Marathon sudah start. Peserta Half Marathon dipanggil untuk mulai bersiap-siap di garis start, saya santai saja jalan. 

Sampai di garis start kaget banget karena sudah tampak seperti lautan manusia. Karena takut terinjak-injak saya lebih baik di belakang saja. Jam 5.30 start untuk lari Half Marathon. Ketika aba-aba start massa mulai bergerak maju tapi gak bisa lari, karena sesak banget sama manusia. Saya cuma bisa jalan, itu juga nyaris desak-desakan. Beberapa saat baru kerumunan mulai longgar, saya mulai bisa lari dan pelan-pelan mulai melewati pelari yang lebih lambat. 

Saya melihat segerombolan pelari yang sepertinya pacenya sama dengan saya, saya ikut lari dibelakang mereka beberapa waktu tapi kog rasanya terlalu lambat. Saya bergerak maju lagi melewati mereka, setelah lewat water station pertama saya lihat dua orang cewek lari barengan, sepertinya cocok pacenya dengan saya. Saya ikut lari dibelakang mereka, ternyata memang pas, tidak terlalu lambat tapi juga tidak sampai ngos-ngosan. 

Lewat km 6 jalur lari belok ke kiri dan tanjakannya mulai terlihat menukik dasyat. Ketika saya baru belok, pelari full marathon dari Kenya sudah melewati saya padahal buat mereka itu sudah nyaris setengah jalan menuju finish, sementara itu baru sekitar satu jam sejak full maraton (42km) start. Saya tidak sempat lihat muka-muka pelari Kenya itu, hanya merasakan anginnya berhembus di sebelah saya. 

Walaupun tanjakannya minta ampun tapi ketika mulai memasuki kawasan ini mulai menarik karena penduduk di sepanjang jalan menyambut dan memberi semangat. Malahan ada anak-anak yang pakai baju penari Bali. Saya jadi banyak foto-foto. Selain itu pemandangan sekitar juga bagus, larinya di sebelah sawah, terus ada siluet gunung di kejauhan. Indah nian. Sekitar km 9 atau 10 dua cewek yang saya ikutin mulai melambat. Saya juga sudah tidak kuat lari setelah lewat water station di km 9. Orang-orang di depan saya banyak yang minta kantong es ke mobil medic disitu untuk mengompres kaki dan lutut. Saya terpaksa jalan mendaki tanjakan hingga jalan mulai datar dan sudah kuat lari lagi. Dua cewe yang saya ikuti masih jalan ketika saya memutuskan lari lagi. Saya melanjutkan dengan lari-jalan-lari-jalan. 

Sekitar km 16 saya ketemu teman saya, Astrid, sempat ngobrol sambil jalan beberapa saat kemudian saya lanjut lari. Lewat km 19 Astrid mendahului saya, saat itu saya lagi lari tapi tertatih-tatih. Ketika mau sampai di km 20 saya whatsapp Tince untuk mengabari kalau saya sudah dekat, setelah itu saya coba mengerahkan sisa tenaga saya untuk berlari. Headset di telinga yang memutar playlist yang selama ini menemani saya latihan saya lepas. Pokoknya saya hanya terus melangkah menuju gerbang finish. Saya berlari melewati pelari-pelari lain. Mendekati finish gak lupa memutar arah topi saya jadi kalau difoto muka saya terlihat. Saya finish 3 jam 13 menit, sementara teman-teman saya yang lain standarnya bisa finish 2 jam hingga 2,5 jam. Bodo amat, yang penting finishnya tetap bergaya. 


Mendekati garis finish

Finish 


Minggu, 04 September 2016

Birthday Trip

Kalau mau jujur saya adalah orang yang lost in life, alias nyasar di dalam ruang waktu kehidupan ini. Kalau ditanya apa yang saya lihat dalam hidup saya 5 tahun ke depan, atau bahkan satu tahun ke depan, jawabannya : saya gak tau. Yang saya tahu pokoknya sekarang hanya ingin membuat setiap tahun yang saya jalani memorable, wherever it may leads.

Dipostingan sebelumnya saya sempat bilang awal saya mulai semua ini dan pada akhirnya bikin saya sadar bahwa hal yang terpenting dalam hidup adalah menikmati dan mensyukuri apa yang kita punya sekarang. Kita gak akan pernah bisa kabur dari rasa sedih atau kecewa atau emosi negatif lainnya, tapi selama kita masih bisa bahagia dan tertawa, just do it. Habisin kuota kita untuk bahagia hari ini juga karena gak bisa di akumulasi buat besok-besok.

Karena itu saya ingin selalu melakukan hal yang belum pernah saya lakukan, yang membuat saya selalu mengingat saat itu dan ketika mengingatnya saya akan berpikir: "wooww.. gw ga nyangka gw bakal ngelakuin hal itu." Backpacking solo, cari komodo, mendaki Rinjani, melintas batas negara ke Timor Leste adalah beberapa hal yang memorable buat saya karena butuh kekuatan to push my self off my limit untuk melakukan semua itu. Tahun ini saya coba untuk ikut race half marathon pertama dalam hidup saya, kebetulan waktunya bertepatan dengan ulang tahun.

Awalnya saya daftar race bareng sama Nico, tapi di akhir-akhir Nico malah tidak jadi berangkat. Justru di saat-saat terakhir salah satu teman yang saya kenal dari Plurk dan blog, Mita atau yang lebih dikenal dengan Omith, malah memutuskan mau ikut race. Omith tergolong hebat banget sih, saya salut. Buat dia hanya butuh waktu kurang dari 3 bulan untuk persiapan half marathon, sementara saya butuh waktu lebih dari 3 tahun hingga akhirnya memberanikan diri untuk lari sejauh 21 km. 

Ya tapi kalau bukan gara-gara dijerumusin nico sih kayaknya saya sampai sekarang juga belum akan pernah ikut race dan belum akan sampai lari lebih dari 10 km. Martin yang selalu kompetitifan sama Nico juga ikut Bali Marathon, dia ambil Full Marathon dan berhasil finish. Salut juga sih saya, karena medannya itu berbukit-bukit, saya aja yang cuma lari jarak setengahnya sempat menyesal di tengah jalan. Soal lari nanti saya ceritakan komplit di postingan khusus ya.

Liburan yang bertepatan dengan ulang tahun kemarin tidak hanya khusus untuk lari, saya juga sempat main-main di pantai sanur sama Tince, yang pernah jadi partner jalan-jalan ke Dieng cari innerpeace waktu itu. Sebelum acara race saya sudah di Bali. Hari Jum'at saya, Omith dan satu kawannya ambil race pack ke Westin Resort di Nusa Dua. Malamnya saya, Omith, Tince dan Rio makan di Massimo Pizza di Jl. Danau Tamblingan, Sanur. 

ambil race pack
Sebenarnya saya tidak sengaja menemukan resto itu. Malam sebelumnya lewat situ lihat antrian orang beli gellato ramai di depannya, lalu saya tergiur sama wangi pizza yang lagi dipanggang di dapur yang letaknya juga di depan restoran itu. Keesokan harinya saya ajak kawan-kawan saya makan pizza disitu. Baru tahu setelah posting di socmed ada beberapa kawan saya yang komen, ternyata Massimo Pizza itu terkenal banget, terutama Gellato-nya. Tapi makanannya yang lain juga enak semua. Saya suka.

Waktu kita lagi order Omith sempat menyinggung-nyinggung soal ulang tahun, mba-mba yang catat orderan kita dengar dan sempat tanya siapa yang ulang tahun terus semuanya nunjuk saya. Waktu itu mba nya kesannya cool aja. 

Selanjutnya kami makan seperti biasa, dapat starter gorengan bentuk bola yang kenyal seperti cilok rasa keju yang digoreng. Pizza yang kami pesan, dipesan oleh Tince yang doyan banget sama quatro-apalah-pizza-cuma-dia-yang-bisa-ngomongnya-karena-pernah-lama-tinggal-di-Itali, pokoknya artinya pizza yang toppingnya 4 macam keju. Pizza nya enak, crustnya tipis tapi gak keras, gurih dan pinggirnya renyah. Selain itu Tince juga pesan calamari, sementara saya dan Omith yang lagi carbo loading pesan pasta bollognaise juga. Bollognaisenya enak, dagingnya banyak dan saus tomatnya ada chunks tomatnya. 

Selesai makan saya minta bill, tapi lama banget keluarnya. Kawan saya mulai gelisah pingin cepat-cepat pulang. Saya panggil lagi salah satu waiter untuk minta bill, kemudian muncul billnya dan saya langsung kasih kartu kredit. Tapi masih lama lagi diprosesnya sampai kawan saya hampir cek ke kasir. Tiba-tiba lampu padam satu per satu dan suasana jadi gelap. Para pengunjung yang lagi makan langsung berhenti dan suasana jadi sepi. Sepi dan gelap. Kami semeja juga sempat bingung dan mikir kalau mati lampu. 

Tiba-tiba mba-mba waiters yang ada disitu pada nyanyi lagu Happy Birthday. Dari dalam dapur muncul mba yang catet orderan kami membawa mangkok kecil yang atasnya ada payung kecil dan lilin. Mba itu jalan menjauh dari meja kami, jadi saya juga sempat cari-cari siapa yang ulang tahun. Ternyata setelah berputar mba-nya menghampiri saya dan meletakan mangkok kecil berisi 4 scoop gelato di depan saya. Sementara waiters yang lain tiba-tiba mendekat dan mengerubungi, muka saya langsung panas rasanya. Terharu banget. Ini salah satu momen ulang tahun yang gak akan saya lupa, mengejutkan soalnya.

surprise dari mba Massimo Pizza yang cukup bikin kaget
Satu hari sebelum race saya sempat pemanasan morning run di pantai Sanur, ditemani Tince. Terus kami berdua menyaksikan matahari terbit dan berenang-renang di pantai Sudamala, Sanur. Bagian pantai yang ini cenderung lebih sepi, jadi lebih enak untuk leyeh-leyeh. Waktu lagi berenang saya tiba-tiba teringat kamera underwater saya yang rusak, "coba kamera gw gak rusak, asik nih bisa foto-foto." kata saya ke Tince.

Tiba-tiba tince terpaku, kemudian mukanya seperti mengingat sesuatu,"eh kamera gw kan bisa dipake underwater."

Yihaaa... kami pun sukses foto-foto gaya model, gaya mengapung dan gaya duyung.

nunggu sunrise di Pantai Sudamala, Sanur sama Tince
Setelah race, saya dan Tince kembali ke Sanur untuk jalan-jalan, kali ini ke kawasan Pantai Sindhu yang lagi ramai karena ada acara Sanur Festival. Saya sempat tidur siang sebentar karena di hari itu bangun jam 2 pagi untuk siap-siap race. Bangun tidur siang saya kelaparan, baru ingat kalau sebelum dan sesudah race hanya makan roti sobek sari roti dan minum susu kotak. Saya dan Tince makan seafood di Pantai Sindhu, ikan dan cumi bakar yang enak banget mungkin karena ada faktor kelaperan. 

Setelah itu kami berdua duduk-duduk santai di tempat nongkrong lucu disitu, namanya Sanur Beach Groove, semacam food court tapi ada area berumput yang bisa dipakai duduk-duduk ala piknik. Tince beli dessert brownies yang diatasnya ada es krim vanila yang dikasih hiasan bunga-bunga mungil lucu warna biru. Malamnya kami sempat lihat pawai ogoh-ogoh dalam rangka penutupan Sanur Festival.

Ala Piknik di rumput sore-sore di Sanur Beach Groove

Rencana saya untuk liburan kali ini selain ikut Bali Marathon, saya juga pingin ke Nusa Penida lihat Angel's Billabong yang lagi trend di Instagram. Billabong itu adalah ujung dari sungai yang bertemu lautan, bisa dibilang jalan buntu nya sungai - the end of the road. Ternyata the end of the road gak mesti sendu dan sedih kayak lagunya boys II men (ketauan umur udah tua deh), jalan buntu yang ini cantik sekali. Nanti saya juga akan posting khusus tentang Nusa Penida. 

Karena tidak bisa nyetir motor sendiri jadi saya sewa ojek disana. Bli ojek, kita sebut saja namanya I Wayan Berto. Mas Berto itu sebenarnya nama yang diberikan oleh Tince ketika lihat foto selfie saya berdua dia, Mas berto = mas mas bertato. Mukanya memang tampak garang tapi orangnya periang, insiatifnya untuk jadi fotografer dan pengarah gaya tinggi banget. Waktu lagi foto saya di Bukit Kelingking tiba-tiba dia tanya, "Mba, ada keturunan Itali ya?" 

ehem.. ehem.. saya langsung keselek, untung gak kepleset dari atas tebing. Langsung ingat kejadian 3 hari sebelumnya, pasti gara-gara abis makan pizza topping 4 keju sama pasta langsung terlihat aura-aura Italia.

Angel's Billabong, Billabong itu ujung sungai yang ketemu laut, Angel-nya yang baju biru

Fotografer dan pengarah gaya saya di nusa penida, I Wayan Berto
Rejeki anak soleh yang lagi ulang tahun, hari terakhir di Bali saya ditraktir Mak Beng dan diantar sampai ke airport. Pas banget, memang di hari sebelumnya saya sempat kepikiran kepingin makan Mak Beng lagi sebelum pulang karena suka banget sama sup ikannya. Waktu itu dibilang mau diajak makan di tempat yang banyak didatengin artis, emosi saya standar-standar aja. Tapi ketika mobil belok ke arah mak beng saya langsung senang, yaayyy.... emang kalo rejeki gak akan kemana-mana. 

Mak Beng..paforit pisan..slurup

Akhir kata, wabillahi taufiq wal hidayah, travel live light, don't overthink because it's not worth the time you wasted, run, make art, create, swim in the ocean, swim in the rain, makes mistakes, learn, love fiercely, forgive quickly, let go of what doesn't make you happy, grow. 

Sabtu, 14 Mei 2016

Akhirnya Daftar Acara Race

Suatu sore bulan April, saya dan Nico sedang berada di sebuah café di daerah Tebet dekat kantor kita, ganti suasana sambil meneruskan pekerjaan di laptop masing-masing. Tiba-tiba dari balik laptopnya Nico bilang kalau lagi daftar acara Bali Marathon.

“Memangnya kapan Bali Marathon?” Saya sekedar bertanya. Bukan kali ini Nico heboh sama daftar acara race, tahun lalu kayaknya hampir semua acara race di Jakarta dia ikut.

Beberapa kali saya diajak tapi tidak tertarik. Pertama, saya memang kurang suka ada di acara yang banyak orangnya seperti acara karnaval, konser, pawai dan kemungkinan besar tidak akan nyaman berada di acara lari massal. Itu karena tinggi badan saya yang lebih pendek dari kebanyakan orang, jadi kalau di tempat ramai gak keliatan apa-apa, cuma bahu dan perut orang-orang. Pusing.

Kedua, karena memang belum ada acara race yang bikin saya tertarik untuk ikut. Paling tidak cukup menarik untuk bikin saya rela bayar uang pendaftaran, bangun subuh banget dan mengeluarkan extra tenaga untuk hanya mencapai lokasi racenya. Waktu itu sempat ada acara race yang nyaris bikin saya tertarik, acara lari tapi dikejar zombie. Tapi itu nyaris saja, akhirnya saya juga gak jadi daftar.

Kali ini ketika Nico menyebutkan tanggal acaranya, saya langsung jawab, “Gw ikut deh.” 

Tanggal itu pas banget sama tanggal ulang tahun saya versi KTP. Aslinya saya lahir 2 hari sebelum itu, tapi waktu bikin akta kelahiran petugasnya salah tulis dan orang tua saya terlalu malas untuk mengurus perbaikannya. Memang petugas catatan sipil itu punya peran penting dalam menentukan masa depan seseorang, saya cukup beruntung hanya salah tulis tanggal lahir, tidak salah tulis nama. Akhirnya sampai sekarang di KTP, Ijazah, dan data-data resmi lain pakai tanggal yang sesuai di KTP. 
  
Beberapa hari kemudian saya lagi jalan-jalan di Lotte Avenue Kuningan, lewat di depan toko yang pasang pengumuman diskon 50% untuk sepatu Asics. Kebetulan saya memang sudah agak lama merencakan dan menabung untuk beli sepatu baru karena Nike Free yang saya beli sebagai rewards karena berhasil lari sejauh 5km dulu umurnya sudah lebih dari 2 tahun.

Sudah agak lama saya browsing sana sini tentang sepatu yang mau saya beli, Asics memang salah satu yang masuk ke list saya. Ada 3 alternatif pilihan waktu itu, Nike Free lagi karena saya memang seneng banget pakai itu karena ringan, New Balance, dan Asics. Diantara 3 itu yang paling mahal memang sepatu Asics, tiba-tiba saja saya ketemu diskonan 50% di saat yang tepat ketika saya perlu untuk persiapan Bali Marathon. Jadi lumayan banget penghematannya. 

Sisa uang simpanan untuk beli sepatu saya belikan Sports Bra. Selama ini saya tidak pernah punya sports bra, kalau lari pakai bra biasa saja. Karena ukuran dada saya juga minimalis dan jarak lari saya juga belum jauh-jauh amat jadi saya belum merasa ada pengaruhnya. Walaupun saya sering baca kalau sports bra itu penting untuk menahan dan menjaga otot payudara dari guncangan-guncangan pas kita lari. Waktu lari, payudara itu ga cuma bergerak naik turun tapi gerakannya seperti angka 8, alias bergerak ke segala arah. Konon itu katanya lama-lama bisa bikin otot yang menopang payudara jadi lemah dan bentuknya jadi sagging. Yah karena untuk kedepannya saya bakal lari lebih dari satu jam, jadi saya pikir sudah saatnya pakai. Sports Bra jauh lebih ketat daripada bra biasa, waktu pertama kali pakai saya agak sedih liat dada saya jadi rata kayak cowok. Hiks. 

Untuk race perdana saya ini, saya daftar untuk kategori Half Marathon, 21 Km. Waktu itu impulsif aja daftarnya, saya tidak sadar hingga suatu saat lagi iseng-iseng baca postingan blog yang dulu-dulu, ternyata saya pernah bilang mau HM pas birthday run. Di postingan berjudul Tiba di 10 Kilometer Pertama tahun 2015 lalu saya berasa aneh baca balesan saya sendiri waktu Cipu komentar “Ayo ikut race, mayan dapat baju lari lucu.”

Waktu itu balasan saya, “birthday run thn dpn gw mau HM ah.” Itu ditulis tanpa tahu di masa depan memang ada acara race pas birthday saya. Ternyata ada. Kebetulan banget. 

Selasa, 29 Desember 2015

Anjing Pantai

Saya sudah pernah cerita tentang hewan-hewan yang berpengaruh dalam hidup saya, dalam postingan Peliharaan-Peliharaan Tante. Memang tidak secara langsung saya sadari tapi ternyata dari dulu saya memang punya ketertarikan khusus sama hewan-hewan. Pertanyaan terbesar dalam hidup saya adalah kenapa ikan  matanya disamping jalannya kedepan tapi kepiting matanya ke arah depan jalannya kesamping. Saya juga pernah bahas khusus tentang sapi di blog ini, tepatnya di postingan dengan judul Sapi.

Waktu traveling bukan hanya ketemu sama orang-orang unik yang saya kenal di jalan, saya juga banyak ketemu sama anggota spesies lain yang menginspirasi saya, seperti Komodo. Walaupun hanya bisa lihat sebentar tapi saya langsung jatuh cinta sama hewan reptil raksasa ini sampai-sampai saya menaruh hiasan replika komodo di dashboard mobil. 

Pernah ada tukang parkir yang komentar, "mba, itu biawaknya bagus." 

Saya langsung marah,"ini Komodo, pak. bukan biawak."

Pernah juga waktu isi bensin, komodo di dashboard mobil saya bikin takut mas-mas yang mau bersihkan kaca. Mas-mas malang itu rupanya punya fobia sama reptil, mungkin waktu kecil pernah digigit kadal atau pernah kejebak sama buaya darat seperti saya. Untungnya walaupun beberapa kali disakiti hatinya oleh buaya darat saya gak sampe trauma sama reptil. 

Sambil gemetaran si mas fobia kadal itu menghampiri jendela mobil sambil ngomong, "maaf bu, itu yang di kaca bisa ditutup sebentar, bu?". Wajahnya pucat pasi tapi dengan profesional tetap meneruskan pekerjaannya membersihkan kaca mobil saya. Kasian juga sih liatnya.

Cukup tentang komodo, saya akui memang saya belum bisa move on dari nya.

Tujuan utama posting saya kali ini sebenarnya mau cerita kejadian lucu waktu di Jimbaran, Bali. Saya lagi duduk sendirian sore-sore menjelang matahari terbenam di pasir. Dari kejauhan saya sudah lihat ada 3 ekor anjing menghampiri. Awalnya mereka duduk agak jauh dari saya, ada sekitar 1 meter. Lama-lama duduknya bergerak makin mendekat. Rupanya mereka lirik-lirik saya tidak bergeming ketika mereka duduk mendekat. lama kelamaan salah satu anjing yang berwarna putih berdiri memandang saya dan menghampiri perlahan dengan kepala agak menunduk minta dielus. Ketika saya mengulurkan tangan mengelus kepalanya, ketiga anjing itu nempel sama saya. Rupanya mereka sudah keseringan bergaul sama turis jadi manja.



Anjing termasuk hewan yang pertama kali di domestikasi oleh manusia dari serigala. Jadi nenek moyang anjing adalah serigala. Awalnya dipelihara untuk kegiatan berburu, tapi rupanya karena hewan ini yang paling cepat beradaptasi dengan kehidupan manusia, hingga sekarang anjing tetap populer sebagai hewan peliharaan. Dibandingkan dengan kucing, anjing sebagai hewan peliharaan lebih tahu bagaimana balas budi sama yang memelihara. 

Kalau kucing itu, walaupun kita pikir kita yang memelihara mereka padahal sebenarnya kita yang diperbudak. Kucing paling gak mau kalau disuruh-suruh dan suka ngambek kalau dimarahin, maunya cuma tidur-tiduran atau main-main. Semua kemauannya harus dituruti dan entah kenapa manusia selalu aja menuruti kemauan kucing-kucing. Anehnya makin judes mukanya, biasanya makin tinggi kasta kucingnya, kalau dijual lebih mahal dan kalau kontes-kontes biasanya menang. Ada sesuatu di muka nya atau pandangan matanya yang bisa mempengaruhi alam bawah sadar manusia untuk selalu mengikuti kemauannya. Mungkin karena itu di mesir jaman dahulu yang pertama-tama mempopulerkan kucing sebagai hewan peliharaan, salah satu dewanya berwujud kucing.

Menyesuaikan dengan gaya hidup di Bali dan perilaku manusia-manusianya, maka anjing-anjing di Bali pun jadi lebih ramah dan supel. Bukan cuma anak pantai yang gaul, anjing pantai pun begitu. Waktu saya lagi tidur-tiduran di pantai yang terletak di belakang hotel pagi-pagi tiba-tiba di atas muka saya ada wajah berbulu. 


Adorable. Who can resist this kind of cuteness <3 div="">

Rabu, 14 Oktober 2015

Mendadak Bali Part 1; Dari Gunung Turun ke Pantai

Akhirnyaaaaah sampai juga kita ke postingan yang ditunggu-tunggu permisah. 

Eh ada yang nungguin gak ya?

Eniwei, untuk mengingatkan, sekuel dari postingan ini sudah dipublish di blog ini duluan dan bisa dibaca disini : Mendadak Bali Part 2; Dalam Rangka Bisnis Trip. Alasan kenapa saya nulis part 2 nya dulu baru part 1 nya juga bisa dibaca disitu.

Cerita kali ini berkorelasi dengan perjalanan saya ke Merbabu. Kenapa saya bisa tiba-tiba langsung terbang ke Pulau Dewata selepas turun dari Puncak Kenteng Songo bisa dibaca disini: Terdampar di Muntilan.

Sekarang saya akan melanjutkan cerita mulai dari dini hari di Bandara Udara Adisucipto, Jogjakarta. Waktu itu sempat deg-degan takut ketinggalan pesawat. Saya salah perhitungan waktu dan underestimate kondisi bandara udara di Jogja saat itu, saya tiba satu jam kurang sebelum waktu keberangkatan. Nah, saat itu entah kenapa hanya ada 4 loket check in yang buka, maskapai yang saya akan tumpangi kebagian dua loket yang menerima semua tujuan check-in. 

Saya tidak web check-in sebelumnya karena saya pikir toh nantinya juga harus mengantri di loket karena saya bawa tas besar banget habis naik gunung. Antrian panjang mengular dan lama banget majunya. Setengah jam berlalu, jatah waktu check in untuk penerbangan saya nyaris di tutup padahal saya ada di posisi ke 8 di antrian dan penumpang di  depan saya kopernya banyak. Di antrian sebelah, saya sempat melihat ada kawan saya yang tidak begitu kenal dekat. Karena kondisi deg-degan ketinggalan pesawat dan suasana yang sumpek karena kebanyakan orang saya males menyapa, pura-pura gak liat aja. 

Saat keringat dingin sudah mulai keluar dan mulai resah ngintip-ngintip mba-mba di loket, tiba-tiba jurusan pesawat saya dipanggilin dari depan loket untuk diutamakan karena sudah mau boarding. Saya segera meluncur ke depan antrian, sedikit menyikut orang yang ada di depan counter yang gak mau minggir (maap ya pak). Masuk ke ruang tunggu langsung meluncur ke pintu boarding. Fiuh...

Sekitar satu jam setelahnya saya sampai di Bali, dijemput sama Chacha yang begitu melihat saya di pintu keluar kedatangan bandara Ngurah Rai langsung ketawa ngakak. Waktu itu saya pakai sepatu gunung belepotan lumpur, compression pants (semacam celana legging), jaket wind breaker, keril 50L yang belepotan lumpur dan menenteng tenda yang sudah gak saya masukin lagi ke dalam tas. Sementara orang-orang lain tampak fresh dan posh gaya orang mau liburan di Bali. 

eksis pake kacamata cengdem

Pagi itu saya langsung diboyong ke Ubud. Di mobil saya sempat ganti sepatu gunung pakai sendal karet dan memoles lipsetik merah menyala supaya gak keliatan terlalu kumal. Ketika itu saya baru ingat ada satu item super penting yang lupa saya bawa, yaitu kacamata hitam. 

Jalan-jalan di Bali gak pake kacamata hitam rasanya kurang afdol. Di Pasar Ubud saya iseng-iseng nawar kacamata hitam cengdem (seceng adem), tapi harganya gak beneran seceng, setelah proses tawar menawar yang alot saya beli kacamata itu seharga 40 ribu. Si Chacha pun ikut beli topi pantai super lebar disitu.

Ubud berasa panas banget karena hari sebelumnya saya sempat menggigil di puncak gunung. Saya pun memilih ngadem sambil makan gelato. Setelah makan siang di kawasan Ubud, sorenya Chacha punya ide ke Pantai Pandawa karena kami memang belum pernah kesana. Ya memang agak ketinggalan jaman sih ya. 

Jalan menuju ke Pantai itu memang luar biasa, seperti menembus tembok bukit kapur. Tapi setelah saya mengintip dari atas ke kawasan pantainya yang berpasir putih, tiba-tiba entah kenapa jadi ga semangat buat main di pantai. Mungkin karena pantainya kelihatan ramai sekali kayak di ancol, waktu itu memang bertepatan dengan libur anak sekolah, jadi banyak bis-bis rombongan anak-anak sekolah. Mungkin juga karena saya kecapekan karena sudah berapa hari tidurnya gak bener. Tapi kalau saya ke Bali lagi sudah jelas ini bukan pantai yang akan masuk ke dalam kategori 'yang harus dikunjungi lagi', lebih cocok masuk ke kategori 'asal tau saja'. 

masih dengan kacamata cengdem
Chacha booking hotel yang lagi promo di salah satu web pemesanan hotel. Letaknya di daerah Batu Belig yang tidak terlalu ramai. Keluar sedikit dari halaman belakang hotel sudah ketemu pantai.


A photo posted by mila (@milasaid) on

Malamnya saya dan Chacha janjian sama Rio di cafe yang kebetulan banget berada di tempat yang tidak jauh dari situ. Saya dan Chacha naik shuttle dari hotel yang berangkat tiap jam ke arah Kuta dan Legian, tapi karena malam itu yang naik shuttle hanya kami berdua maka pak supir inisiatif mengantar kami sampai di depan pintu cafe. Padahal seharusnya kami diturunkan di depan jalan besar kemudian jalan sedikit beberapa meter ke cafenya.

Sampai disana Rio sudah menunggu, katanya baru pulang kondangan. Saya terakhir ketemu Rio waktu transit di Bali ketika mau ke Timor Leste. Dari sejak itu ada rencana mau kemah ceria yang hingga sekarang masih merupakan wacana yang belum sempat terlaksana.

ceritanya lagi diskusi serius sama rio. kelihatan serius kan?


Rabu, 15 Juli 2015

Mendadak Bali Part 2 ; Dalam Rangka Bisnis Trip

Sebelum yang baca ini pada bertanya Part 1 nya dimana lebih baik saya jelaskan dulu kalau Part 1 nya memang belum ditulis. Terus kenapa langsung Part 2 ?

Jadi ceritanya begini, gak panjang kog, dalam waktu dua bulan terakhir saya dua kali mendadak harus ke Bali, tanpa planning sebelumnya. Yang pertama waktu pulang dari Merbabu, tapi itu nanti akan saya ceritakan di Mendadak Bali Part 1, yang hingga saat ini belum saya tulis. Yang kedua, ya ini, yang akan saya bahas di postingan kali ini. Karena saya pengen nulis nya sesuai runutan waktu jadi yang dalam rangka bisnis trip ini tetap saya kasih judul part 2 walaupun ditulis dan diposting lebih dulu dari part 1 nya.

Ngerti kan? 

Di awali dari perkenalan saya dengan seseorang bernama Pak Made yang menawarkan untuk mengerjakan proyek di Bali. Untuk itu saya dan seorang partner kerja berangkat ke Bali untuk survei lokasi. Kami beli tiket pergi dua hari sebelum keberangkatan, tanpa tiket pulang karena rencana kegiatan kami di Bali belum jelas. 

Hari pertama.

Selepas sahur saya langsung minta diantar ke pool taksi dekat rumah saya oleh Chacha. Tiba di terminal 3 saya langsung menghampiri kawan saya yang lagi sahur sarapan Bakmi GM. Pesawat berangkat tepat waktu. 

Pagi itu cuaca sangat cerah, langit biru bersih tanpa selembar awan terlihat. Pesawatnya juga sepertinya terbang lebih rendah, jadi dari jendela sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Denpasar bisa menyaksikan pemandangan pulau Jawa dari atas, saya dan kawan saya mulai sok tau menebak-nebak gunung-gunung yang terlihat. 

Sampai di pegunungan yang saya duga pegunungan di Banyuwangi, "Gw pengen kesitu tahun ini, Ijen, Baluran, trus ke pantai yang katanya lihat sunrise pertama kali di Jawa," kata saya sambil menunjuk ke arah pegunungan itu. Tepatnya sekitar 2 minggu lalu, saat itu Gunung Raung masih tampak stabil.



difoto dari Pesawat, yang paling besar itu kayaknya Gunung Raung


Tak lama kemudian tampak ujung dari pulau Jawa dari atas, diikuti dengan pemandangan Selat Bali. Tidak sampai 15 menit kemudian pesawat sudah melintasi selat dan berada di atas Pulau Bali. Hari itu kayaknya naik pesawat dengan view paling cakep sepanjang perjalanan hidup saya. 

Kami di jemput oleh Pak Made di bandara. Pak Made yang ini lumayan unik, beda dari Made-Made lain yang tersebar di penjuru Bali. Pertama, jago ngomong sunda dan logatnya sunda. Kedua, pas jemput kita mobil nya juga plat nya D. Jadi Pak Made yang ini kayaknya Made in Bandung.

Dari bandara langsung survei lokasi proyek. Setelah itu Pak Made dan kawan saya makan siang nasi campur babi di daerah Canggu. Rencana saya dan kawan saya memang gitu, karena saya puasa jadi siangnya dia mau makan babi, makan malamnya baru yang non-babi karena saya ikut makan. 

Setelah itu kami berdua sempat mati gaya karena ikut Pak Made meeting di proyek yang lagi dikerjakan oleh beliau di daerah Canggu. Saya sempat jadi pengarah gaya dan motret-motret kawan saya di depan sawah yang ada di depan lokasi proyek. Udah kehabisan gaya, kami terduduk di samping sungai kecil, kemudian pegawai Pak Made bilang, "200 meter dari sini kan ada pantai."

Kami berdua langsung semangat lagi dan segera berangkat menuju arah yang dimaksud. Saat itu tengah hari panas terik, tapi karena dengar kata "pantai" saya langsung semangat jalan kaki tanpa merasa haus. Ternyata pantai yang dimaksud adalah Echo Beach. Kami pun memutuskan duduk di pinggir pantai, kawan saya memesan bir dingin.

Echo Beach yang terkenal tempat surfing

Baru beberapa menit merasakan angin pantai Pak Made telpon memberitahu kalau meeting sudah selesai dan akan jemput di Echo Beach. Kawan saya segera menenggak bir dinginnya yang masih banyak dan kami bergegas ke gerbang.

Hampir sore kami beranjak dari daerah Canggu, sebenarnya ada janji ketemu sama 3 orang, tapi satu orang ternyata masih di jakarta, satu orang lagi setelah didatangi ke kantornya ternyata ada urusan mendadak ke Surabaya, akhirnya kami ketemu satu orang. Sampai magrib. Akhirnya saya bisa minum juga, es teh manis tentunya, bukan bir dingin. Pak Made mentraktir makan malam kemudian ke kami ke kantornya di Jalan Dewi Sri. Di depan kantor Pak Made ada semacam resto yang jualan pizza. Tapi karena sudah kenyang, malam itu kami tidak sempat mencicipi pizzanya.

Sementara Pak Made membereskan urusannya di kantor, saya dan kawan saya melipir ke seberangnya, hotel Ibis Style. Saat itu kami belum booking penginapan, setelah tanya-tanya ratenya akhirnya kami memutuskan untuk menginap di situ saja semalam. Ketika check in langsung diinfokan oleh front desk kalau breakfast bisa diganti sahur yang diantar langsung ke kamar masing-masing.

Hotel Ibis Style warnanya di dominasi hijau, kamarnya luas, malahan sepertinya lebih luas dari Ibis reguler yang warna nya merah. Ini bukan jenis budget hotel, karena komplit ada lemari, ada sofa, di tempat tidurnya ada guling - hotel kedua yang saya temui yang ada gulingnya. Ada kulkas, safe deposit box, pemanas air, hairdryer dan kamar mandinya luas. Ohiya, ada swimming pool juga, bukan di dalam kamar tapi ya.

Cuma menyimpan barang-barang aja di kamar, setelah itu kami langsung memutuskan jalan kaki ke wilayah Kuta modal google map, gps dan insting. Kawan saya katanya sekalian mau survei rute morning run besok paginya. Setelah jalan melewati legian, memotong jalan Popies kami tiba di Beachwalk dan duduk-duduk di Luna Negra. Jam 11 lewat kami kembali ke Ibis Dewi Sri naik taksi.

Hari Kedua.

Jam 4 dini hari saya terbangun. Belum ada tanda-tanda ketukan pintu dari yang mau ngantar sahur, akhirnya saya telpon ke reception. Tidak lama sahur saya diantarkan. Nasi goreng dengan lauk mie goreng, sosis, ayam goreng, kerupuk, sepiring potongan buah segar dan secangkir teh hangat. 

Sahur di IBIS Style

Di Bali imsak jam 5. Setelah solat subuh saya tidur lagi sementara kawan saya pagi-pagi tetap melaksanakan ibadah morning run sejauh 13 km. Saya ketemu lagi sama dia di resto pas dia lagi sarapan piring kedua. Kami pesan tiket pesawat untuk pulang di hari itu. Masih ada janji ketemu satu orang lagi jam 2 siang, yang kemarinnya masih di Jakarta. 

Kami pun luntang lantung jalan kaki ke arah Legian sampai ke Discovery Mall. Sekitar jam 1 kami naik taksi lagi ke Jl. Dewi Sri, ke kantor Pak Made, tapi beliau ternyata masih di proyeknya di Canggu. Sambil nunggu Pak Made kawan saya makan pizza bertaburan bacon.

"Ini parah, mil, enaknya. " kata kawan saya dengan mulut masih penuh pizza yang lagi dikunyah.

Saya nelen ludah.

Memang pizza nya keliatan yummy sih, tipis dan ujungnya kliatan crunchy, trus kejunya melted dan wangi. Adonan pizza nya dibikin langsung di situ dari tepung banget, kemudian langsung di panggang di wooden stove.

"gilaakk paraaah," katanya lagi sambil menyuap potongan pizza tipis kedalam mulutnya.

Saya nelen ludah.

Waktu bill nya keluar malah dia makin seneng karena pizza nya seloyang harganya hanya 35ribu.

"Gilaaak murah bangeett," terus difoto-foto deh bill nya.

Sayangnya saya lupa nama restonya, tapi ada di Jalan Dewi Sri, di seberang Ibis Style. Tungku Pizza nya ada di depan kog jadi gak mungkin salah.

Jam 2 kurang, Pak Made mengabari kalau beliau sudah menuju kantornya. Tiba-tiba saya punya ide mau nyebrang sedikit beli Nasi Tempong Indra yang kata si Chacha enak, kebetulan ada di jalan yang sama. Mau bungkus untuk buka puasa. Tapi kawan saya yang udah makan pizza seloyang ukuran medium sendirian gak mau kalah, dia mau ikut juga dan mau bungkus nasi buat dimakan pas buka puasa. Sewaktu lagi nunggu pesanan Pak Made telpon, langsung menyusul kami di Rumah Makan Nasi Tempong.

Ternyata orang yang janjian jam 2 sama kami tidak jadi berangkat ke jakarta karena telat beli tiket. Sementara itu saya dan kawan saya sudah terlanjur beli tiket pulang malam hari dari Denpasar. Akhirnya Pak Made meminjamkan mobilnya. Kawan saya girang banget, karena sebenarnya dia udah prepare bawa holder smartphone & charger mobil karena rencana awalnya dia memang pingin sewa mobil. Akhirnya terwujud juga keinginannya walaupun hanya tinggal beberapa jam menuju waktu pulang.

Sudah ada mobil pun ternyata kami bingung mau kemana.

Kawan saya terakhir ke Bali dua tahun lalu, jadi dia belum coba toll laut, ya akhirnya kami naik toll sampai ke Nusa Dua. Sudah di Nusa Dua bingung lagi mau kemana, waktu buka puasa masih lama. Sempat memutuskan mau ke Pantai Pandawa karena melihat di maps ada jalan yang tinggal lurus-lurus aja dari nusa dua. Sempat kami susuri jalan itu, jalannya sepi tapi mulus, di sepanjang jalan itu resort-resort super mewah. Tapi jalan mulusnya berhenti di tengah, selanjutnya jalan tanah yang belum diaspal dan kami gak mau ambil resiko mobil nya selip di tengah jalan yang sepi, gak ada orang lewat, stranded dan gak bisa pulang karena ketinggalan pesawat malamnya. Jadi kami putar arah.

Masih berjalan tanpa tujuan pasti, secara spontan kami memutuskan berbelok ke arah GWK - Garuda Wisnu Kencana. Terakhir saya kesana tahun 2008, sama chacha. Sekarang tahun 2015, ternyata patungnya masih sama. Patung Wisnu sedada dan patung Garuda yang baru kepala nya aja. Yang berubah cuma lapangan di depan Garuda yang sebelumnya kosong sekarang sudah ada taman yang bagus. Saya dan kawan saya goler-goleran di rumput sambil menunggu waktu berbuka puasa. Nasi Tempong Indra yang kami bungkus sebelumnya dibawa turun dan kami makan di GWK ala-ala piknik gak jelas. 


Lotus Pond-GWK. Pinggir nya bukit batu yang di belah-belah jadi lorong
Buka Puasa Nasi Tempong di GWK
Nasi Tempong itu ternyata semacam nasi timbel komplit, tapi nasinya gak dibungkus daun sih. Kami pesannya Nasi Tempong Ayam goreng, isi paketnya ternyata ada ayam goreng, ikan asin, tahu tempe goreng, terong rebus, labu siam rebus, ketimun, daun kemangi dan sambal yang (katanya) pedasnya dasyat.

Ya begitulah bisnis trip yang berakhir jadi acara piknik yang aneh.



Jumat, 25 Januari 2013

Hotel Budget Ceria

Setelah konsep budget airlines yang memacu jiwa petualangan orang-orang untuk jalan-jalan ke berbagai tempat, muncul juga konsep budget hotel. Konsep budget hotel ini mirip dengan budget airlines, harganya relatif terjangkau tapi fasilitas yang ada hanya yang fungsional saja. Jadi rata-rata hotel begini ukuran kamarnya efisien banget dan isinya juga minimalis, cuman ada tempat tidur, ac, kamar mandi, tv, meja dan kursi seadanya. Kelebihannya, biasanya terletak di lokasi yang strategis (dekat dengan pusat kota / wisata).

Saya ini memang selalu termasuk ketinggalan jaman, pertama kali masuk ke dalam budget hotel model gini waktu ke Bali sama chacha. Kita mengunjungi Tante Pungky dan Siba yang menginap di Hotel Pop di Kuta. Penampilan gedungnya semarak banget dengan warna-warna vibran yang mencolok. Lebih mirip TK daripada hotel sih, tapi lucu. Staff front desk nya muda-muda dan pakaiannya casual, t-shirt, celana pendek, sneakers. Bandingin sama hotel-hotel biasa yang tampilan front desknya rapi mengkilat. 

Masuk ke dalam kamarnya Tante Pungky, memang kecil sih tapi desainnya menarik. Semuanya serba nempel di tembok, mejanya nempel di tembok, kursinya nempel di tembok, tivinya nempel di tembok. Tidak ada lemari, cuman rak kecil dan gantungan baju yang (pastinya) nempel di tembok. Tidak ada kulkas, minibar dan pemanas air. Kamar mandinya keren, model kapal selam dari stainless steel gitu, walaupun buat sebagian orang yang ukuran tubuhnya agak panjang-panjang susah juga bergerak di dalem situ kayaknya karena sempit.

Kalau standar kebersihan dan pelayanan sih, karena masih dibawah manajemen hotel yang punya standar pelayanan bagus jadi ya bagus juga. Setelah kunjungan singkat ke hotelnya Tante Pungky, mempertimbangkan lokasi strategis, kebersihan bagus dan harga yang terjangkau, ditambah pengen nyobain kamar mandi model kapal selam, saya dan Chacha memutuskan untuk booking hotel Pop di perjalanan pencarian innerpeace kedua kita ke Jogja. Sayang banget, ternyata di Jogja kamar mandi nya yang standar, model kotak biasa bukan model submarine.
 
Jarak dari pintu masuk ke ujung kamar

segala furniture yang nempel di tembok

Kamar mandi kotak, bukan kapal selam
Saya dan chacha sih ga ada masalah sama ukuran ruangan secara kita kan semacam hobbit-hobbit yang ukurannya juga minimalis. Barang-barang saya kalo pergi kemana-mana juga selalu minimalis. Barang-barangnya Chacha aja yang tumpah ruah, roll rambut berantakan dimana-mana, belanjaannya yang segambreng berjejer di kursi yang nempel di tembok itu sampai-sampai berubah fungsi jadi meja juga.

Yang bikin sengsara karena saya dan Chacha adalah pecandu kopi berat. Kalau pagi-pagi bangun tidur ga langsung  ketemu kopi bisa-bisa kita udah cakar-cakaran dan gigit-gigitan. Jadi sebelum terjadi pertumpahan darah di antara kita berdua harus ada segelas kopi hitam pas bangun tidur. Di dalem kamar itu tidak ada pemanas air, sementara kita berdua bangun subuh-subuh demi mengejar matahari terbit di Borobudur jadi sudah pasti breakfast complimentnya belum tersedia. Ada sih mesin minuman di lobby, jadi kita turun dulu ke lobby subuh-subuh demi segelas kopi. 

Masalah lain muncul ketika si Chacha beli oleh-oleh Gudeg. Karena penerbangan kita pulang ke Jakarta pagi-pagi, jadi beli gudeg nya di malam sebelum pulang itu. Karena ga ada kulkas di dalam kamar jadi kita hanya bisa berdoa semoga gudegnya ga akan basi dalam jangka waktu semalam. Soal yang lain sih ga masalah. Tempat tidurnya nyaman, sprei nya bersih, kamar mandi bersih, handuk setiap hari diganti, air panas lancar, ada channel cable TV. Secara fungsional sih fasilitas nya terpenuhi. 

Waktu ke Semarang, saya minta rekomendasi hotel ke Arie Goiq. Dia rekomendasi beberapa hotel tapi pilihannya saya dengan pertimbangan lokasi dan harga akhirnya ke hotel Whizz Semarang. Pas sampe sana ternyata hotel ini juga konsep budget hotel seperti Pop hotel. Desain interior nya dominan warna hijau terang seperti daun muda di pagi hari habis kena embun gitu, seger. Desain kamarnya juga mirip sama Pop hotel, segalanya serba nempel di tembok.

Disini saya baru sadar satu macam "luxury" lagi yang tidak ada di hotel konsep begini. Sandal hotel. Karena kebiasaan di sediakan sandal hotel di hotel, kalau bisnis trip saya ga pernah bawa sandal supaya bawaan saya ringkas. Sialnya sepatu cantik yang saya pakai waktu ke semarang membuat kaki saya lecet karena dipakai jalan jauh, jadi di pagi hari waktu mau sarapan saya telanjang kaki aja berkeliaran di hotel itu. Oia, sambil berdoa semoga pas antri sarapan tidak ada bapak-bapak pakai sepatu kantor yang menginjak kaki saya yang imut.

Di Pop hotel jogja saya ga sempet cobain sarapannya, karena dua hari tinggal di hotel selalu pergi sebelum jam 6 pagi, sedangkan sarapan baru mulai tersedia jam 6. Denger cerita tante Pungky di Pop hotel Bali sarapannya makanan tradisional gitu, ada nasi jenggo, nasi jagung, dan semacamnya. Di Whizz ini sarapannya ada menu tradisional - nasi ayam dan pecel, ada juga roti dan selai ala kadarnya. Bagus juga sih saya bilang, sarapan yang ditawarkan sama hotelnya memang menu murah meriah tapi sekalian mengenalkan menu khas daerah itu.

Kamar mandi

Kamar desain minimalis

yang ini kursinya ga nempel tembok, cuma mejanya aja

wastafelnya diluar supaya ngirit,cerminnya jadi cuman satu
Selain dua hotel yang sudah saya cobain masih banyak hotel-hotel konsep budget hotel gitu. Ada Tune hotel yang satu manajemen sama Air Asia. Ada Amaris yang satu manajemen sama Hotel Santika. Grup hotel internasional besar Accor juga punya, dulu sempat namanya hotel formule 1, katanya sekarang berubah nama jadi Ibis Budget. Ya masih banyak deh budget-budget hotel lain dan malah makin banyak aja, dan yang saya ga ngerti kenapa rata-rata pilihan warna interior nya yang ceria-ceria gitu ya? Apa karena target segmen nya anak muda kali ya? Tapi konsep desain kamarnya yang serba nempel tembok itu lucu juga sih buat diterapkan di kamar saya yang ukurannya juga mini.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...