Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Flores. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Flores. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Oktober 2014

Om John di Gua Batu Cermin, Flores

Tidak jauh dari Labuan Bajo di ujung barat pulau Flores ada satu gua yang merupakan salah satu destinasi wisata di daerah itu, namanya Gua Batu Cermin. Konon setelah saya, mba efa dan Pagit diajak menyusuri lorong-lorong dan sudut gua itu, kami baru mengerti kenapa gua tersebut dinamakan Batu Cermin. 

Di pintu masuk kawasan wisata sebelum memasuki gua, kami berkenalan dengan seorang pria Flores usia 40-an bernama John. 

Setelah memperkenalkan diri, Om asli Flores itu membagikan 3 buah helm kuning dan senter kepada kami. Kesan awal melihat sosoknya kayaknya orangnya serius. Ternyata jauh menyimpang dari kesan pertama yang menipu itu. Masih di jalan setapak menuju gua aja kami sudah dibuat tertawa terus karena guyonannya yang acak dan absurd. 

Setelah tahu saya, mba efa dan pagit datang dari Jakarta Om John langsung menceritakan masa mudanya saat mengadu nasib di Jakarta. Bermodalkan wajah galak  seram serius, Om John berhasil mendapat pekerjaan menjadi preman  keamanan di Tanah Abang, kemudian sempat jadi tukang parkir, sempat juga luntang lantung jadi pengangguran sampai tidak punya uang sepeser pun untuk beli makanan. 

"Waktu itu saya dan kawan dua orang, kami sudah kelaparan sekali. Kemudian ingat kalau di kampung juga kami bisa hidup hanya makan daun ketela, akhirnya kami petik saja daun-daunan."

"Daun singkong?" tanya saya.

"Bukan. Kami tidak menemukan daun ketela, akhirnya sembarang daun saya kami petik. Mana kami petik dengan perasaan berdosa karena dari pekarangan rumah orang.

"Sebelum saya pergi ke Jakarta, Bapak saya berpesan: Apa pun yang kau lakukan disana, jangan kau mencuri. Nah itu karena terpaksa kami mencuri daun, karena kelaparan."

"Terus?" 

"Setelah kami makan daun itu, malamnya kami semua sakit perut."

Saya, Mba Efa dan Pagit langsung tertawa padahal kalau dipikir-pikir, itu kan cerita sedih ya.

Jalan Setapak  menuju Gua Batu Cermin

"Hidup di kota itu sebenarnya enak. Kalau disini kemana-mana harus jalan jauh, naik turun bukit. Maka itu orang sini makannya banyak. Yang penting nasi nya banyak."

Kemudian Om John bercerita tentang kawannya yang merantau ke Jawa kemudian menikah dengan perempuan Jawa. Beberapa tahun menikah kawan nya itu pulang kampung ke Flores membawa anak dan istrinya. Selang beberapa waktu porsi makan istri kawannya mulai tambah banyak. Awalnya makannya 1/4 piring kemudian tambah jadi 1/3 piring, sampai akhirnya makan nasinya sudah menggunung penuh sepiring. 

Suatu saat istri kawannya itu pulang ke Jawa, melihat dia makan ibu istrinya itu berseru,"Bisa mati nanti kau makan sebanyak itu!"

Saya, Mba Efa dan Pagit kembali terbahak-bahak. Saat itu kami sudah berada dalam lorong gua sehingga suara tawa kami menggema ke seluruh penjuru gua.

"Kalau dapat tamu seperti kalian itu enak, mudah dibuat tertawa," ujar Om John, "kalau dapat tamu dari Papua itu tantangan untuk saya, susah sekali dibuat tertawa. Mahal sekali mereka mau kasih unjuk gigi. Tapi saya tau kuncinya membuat mereka unjuk gigi..."

"Bagaimana?" tanya mba Efa.

"Ajak lomba lari saja. Selesai lari, ketika mereka terengah-engah baru kelihatan giginya," sembari menirukan gerakan orang terengah-engah habis lari sambil monyongin giginya.

Gua Batu Cermin ditemukan di tahun 1950-an oleh seorang Pastur Belanda yang juga seorang arkeolog bernama Verhoven. Jalan setapak untuk masuk ke  dalam gua nya sudah dibuat dari conblock dan untuk naik ke jalan masuk ke gua yang ada di atas bukit sudah dibuat tangga dari semen jadi pengunjung tidak perlu memanjat. 

Gua ini termasuk gua peninggalan jaman purbakala. Gua purbakala saya yang kedua setelah Tam Pee Hua To di Krabi, Thailand.

Flores adalah salah satu pulau yang menjadi tujuan para pastur misionaris yang memperkenalkan dan mengajarkan tentang agama kepada suku-suku asli Flores jaman dulu yang masih primitif dan mayoritas masih hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Saat ini agama sudah merasuk ke pedalaman-pedalaman Flores, jadi mayoritas masyarakatnya menganut Katolik. 

Pastur yang jadi misionaris bukan hanya memperkenalkan agama kepada suku primitif, tapi juga merubah gaya hidup mereka dengan cara membawa peradaban yang lambat laun merubah gaya hidup aslinya. Menurut Om John, Pastur di Flores yang mengkoordinasi pembuatan jalan raya di daerah tempat tinggal nya waktu dia kecil. Para kaum pria bergotong royong membangun jalan raya di gunung dan membelah bukit dengan dana sumbangan dari Gereja Katolik. 

"Yang bangun jalan di sini bukan Soeharto. Yang bangun jalan disini adalah bapak saya dan kakek saya," kata Om John.

Yang membuat Verhoven tertarik dengan gua tersebut karena di dalam gua itu, selain stalaktit dan stalakmit, terdapat juga tanda-tanda fosil dan batu-batu karang dari laut. Jadi bisa dibayangkan kalau daerah itu dulunya ada dibawah permukaan laut, termasuk Labuan Bajo juga beberapa puluh ribu tahun lalu masih berada di bawah permukaan laut.

Mba Efa, Pagit dan Saya - Anak Goa

Ukuran gua nya besaaarrr bingit

Flores sendiri sudah ada sejak jaman purbakala, tapi karena permukaan dataran dan laut di bumi masih berubah-rubah - yang dulunya daratan bisa jadi laut, yang dulunya laut bisa jadi darat maka ukuran pulau Flores jaman dulu mungkin lebih kecil dari sekarang. Bisa jadi karena perubahan permukaan laut, atau bisa jadi karena pergerakan lempengan bumi menyebabkan posisi daratannya jadi naik, saya belum cari-cari info lebih mendalam tentang itu. 

Tahun 2003 di Flores ditemukan rangka spesies Homo baru yang kemudian diberi nama Homo Floroensis. Setelah direkonstruksi di perkirakan spesies Homo yang telah punah tersebut berukuran lebih mungil daripada Homo Sapien maka spesies ini dijuluki The Hobbit. Kalau yang tau Lord of The Ring pasti tau deh. Manusia-manusia mini ini sebenarnya ada di legenda lokal yang diceritakan secara turun temurun oleh kakek nya kakek orang asli Flores, kalau tidak ditemukan fosil tulang itu mungkin beberapa generasi lagi legenda manusia mini di flores hanya akan jadi mitos. 

Fosil tulang belulang Homo Floroensis atau Hobbit itu ditemukan di daerah Ruteng, beberapa jam lagi naik kendaraan kalau dari wilayah Gua Batu Cermin. Ya kemungkinan di saat Gua Batu Cermin masih di bawah laut, di Ruteng sudah daratan. Di Gua Batu Cermin kita juga bisa melihat fosil ikan purba yang sudah menempel di bebatuan. 

Selain itu kita bisa melihat fosil-fosil batu karang dan kulit kerang yang sudah membatu. Ada batu berbentuk penis yang konon kalau diusap-usap oleh pria dewasa bisa menambah kejantanan. Ada juga yang disebut Om John sebagai Batu Bernyanyi, batunya menempel di dinding gua bentuk nya bulat-bulat dengan ukuran berbeda, tapi rupanya dalamnya kosong sehingga kalau di ketok-ketok menimbulkan suara yang nadanya berbeda. Makin kecil ukuran bulatannya nada yang dihasilkan makin tinggi. Dan tentu saja di dalam gua kita akan menemukan Stalakit dan Stalakmit, sepasang batu romantis yang harus menunggu ratusan tahun untuk bisa bersatu.

Terus kenapa namanya Gua Batu Cermin? 

Hmm.. kalau itu sepertinya kalian harus datang kesana dan lihat sendiri supaya paham darimana asal nama Gua Batu Cermin. Nanti kalau ketemu Om John, saya titip salam. 

batu bernyanyi

Foto Bareng
NB: Foto-foto di postingan ini ada yang saya pinjem dari foto Mba Efa, soalnya foto di kamera saya gak ada saya nya. 

Senin, 23 Juni 2014

One Million Dollar View

"Orang Jawa manja-manja," seru Wawan sembari mengemudikan APV hitam di jalan penuh tikungan tajam yang berlubang-lubang. Sesekali badan saya, pagit dan mba efa terpental-pental ketika mobil tersebut tidak berhasil menghindar di retakan aspal yang menganga.

"BBM baru naik jadi 6,500 rupiah saja sudah demonstrasi, protes dimana-mana," jari kurusnya memantik tongkat lampu sign, APV pun meraung melewati sebuah mobil tua yang kehilangan daya merayap di tanjakan yang terjal. 

Tangan sebelah kirinya mengangkat dengan gestur berapi-api,"harga BBM disini bisa mencapai 10 ribu seliter, itu pun terkadang harus mengantri di SPBU agar tidak kehabisan stok, tapi kami disini tertawa-tawa saja." Lubang jalan yang tiba-tiba muncul di depan tak sanggup dihindari lagi oleh Wawan sehingga membuat seisi mobil terlontar dari jok masing-masing.

Sistem pemerintahan sentralisasi yang terpusat di ibukota Jakarta membuat daerah yang jauh dari ibu kota semakin merasa terlupakan. Semakin jauh dari ibukota, semakin terlupakan.

"Cabut saja subsidi, naikkan saja harga bensin jadi 10ribu rupiah, kami disini tidak akan keberatan asal stok bahan bakar dijamin selalu ada oleh pemerintah," semakin berapi-api ucapan yang keluar dari bibir Wawan, anak muda Flores yang kurus mungil tapi lincah seperti kijang. Kijang berambut keriting. "Toh selama ini juga kami beli seharga itu."

Kami berada beberapa kilometer dari Labuan Bajo, menuju suatu tempat yang menurut Wawan punya pemandangan seharga 1,000,000 dollar. Dollar Amerika. Luar biasa banyak nol nya jika di rupiah kan.

Jadi ceritanya pada suatu hari ada seorang warga asing yang jatuh cinta pada tanah yang terletak diatas bukit itu dan menawarkan akan membeli sebidang tanah itu seharga satu juta dollar. Tapi si pemilik tanah menolak dengan halus, tanah itu tidak dijual (paling tidak belum akan dijual untuk waktu sekarang), berapapun harga yang ditawarkan. 

Menurut Wawan pemandangan yang bisa dilihat dari atas bukit itu memang bagus sekali, karena itulah dia bilang ini adalah Bukit One Million Dollar View.

Mungkin beberapa tahun lagi, ketika si pemilik tanah berubah pikiran merelakan tanahnya demi lembaran jutaan dollar, yang ada disitu mungkin seonggok resort mewah dengan view jutaan dollar. Seperti wajah gadis yang cantik natural kemudian jadi OKB (Orang Kaya Baru) tiba-tiba dipoles macam-macam make up mahal yang menor, orang-orang pun jadi lupa dengan kecantikan sederhana nya yang natural karena yang terlihat adalah kemenoran yang glamor belaka. 

Di tengah jalan kami sempat berhenti di pinggir jalan atas arahan Wawan, guide kami di Flores. "Pemandangan dari sini bagus, kak," katanya penuh percaya diri, memaksakan mobil kotak ber ban kecil melipir di pinggir jurang, di jalan yang sudah tak lagi beraspal. Kami pun turun dari mobil berusaha melihat pemandangan yang dimaksud dari pinggir, berjingkat-jingkat karena pandangan tertutup oleh daun-daun dari ujung pohon yang rimbun. 

Wawan tak ingin saya, Pagit dan Mba Efa kecewa, dia pun mengambil alih kamera saya dan memanjat ke atas kap mobil untuk mengambil gambar pemandangan yang dimaksud. Tapi hasil fotonya pun tertutup pemandangan pohon dan belukar yang lebat.

Akhirnya tiba juga di tempat yang dimaksud, Wawan memarkir mobilnya di pinggir jalan raya begitu saja. 

Saya pun bertanya, "dimana tempatnya?"

"Kita harus naik dulu sedikit."

Naiknya memang sedikit, tapi tingginya lumayan bikin betis langsung berasa kencang. 

Di puncaknya terdapat satu rumah panggung sederhana, kata Wawan rumah panggung itu memang sengaja dibuat untuk wisatawan yang mau mengenal rumah suku asli di Flores. Dari jendela nya melongok sesosok wajah pria Flores yang chubby nan jenaka. Wawan memperkenalkannya sebagai Valen. Senyumnya Valen selalu malu-malu dan suara pelan sekali, kebalikan dari Wawan yang senantiasa bersemangat. Bahkan beberapa kali Wawan berusaha mengambil alih tugas Valen menjelaskan tentang rumah adat itu, yang disambut dengan senyuman bermakna 'sok tau banget sih lo' dari Valen. 

Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah panggung terbuat dari kayu, masing-masing di berikan semacam bantal berbentuk kotak, katanya untuk di duduki di atasnya. Sementara Valen dan Wawan bergantian menjelaskan tentang kebudayaan Flores.

Valen

Alat Musik 

perlengkapan tari-tarian

Wawan & Pagit lagi ngobrol apa tuuu.. serius banget

Foto bareng tuan rumah

One Million Dollar View

Kamis, 24 April 2014

Cuncawulang

Mobil Suzuki APV sewaan yang dikendarai Wawan berusaha melintasi sepotong jalan yang melintas diatas sungai kecil. Saya, Pagit dan Mba Efa pucat pasi menahan napas, khawatir mobil yang sudah mulai berasa kehilangan keseimbangan itu akan selip dari jalan yang hanya di tabur dengan sekam padi dan tergelincir ke sungai di bawahnya.

Kami berempat dalam perjalanan dari Labuan Bajo, menuju air terjun Cuncawulang. Keberadaan air terjun ini baru saya ketahui ketika melihat fotonya terpampang di tembok penginapan di Labuan Bajo, foto tampak atas dari seorang turis bule yang melompat dari atas tebing ke air dengan background air terjun yang cantik. Wawan, pemandu kami sudah memperingatkan tentang medan perjalanan yang sulit, tapi kami tidak menyangka akan mentok di satu-satu nya akses menuju ke air terjun itu yang bisa dilewati kendaraan bermotor.

Wawan terus menginjak pedal gas kuat-kuat dalam usahanya menebus jalan yang lebarnya kurang dari 3 meter itu. Bau karet terbakar yang sengit akibat gesekan ban mulai tercium, saya sendiri mulai khawatir kalau sampai ban nya terjebak di campuran sekam dan tanah liat yang licin. Masalahnya kita ada beberapa belas kilometer dari peradaban, susah banget kalau mau cari pertolongan andai mobilnya itu benar-benar stuck. 

Wawan pun menyerah, tidak mungkin mobil Suzuki APV bisa melewati jalan off road yang menanjak tajam begitu. Sebenarnya jalan itu dulunya pernah diselimuti aspal, terlihat dari bekasnya yang compang camping disana sini. Tapi sisa aspalnya lebih sedikit dari bolong nya, jadi diatas jalan tanah merah dan berlumpur itu hanya di sebarkan sekam supaya kendaraan yang melintasi tidak selip. 

Tidak lama muncul sebuah motor dikendarai seorang anak muda, akhirnya kita memutuskan saya akan menuju kampung cuncawulang duluan bersama nya kemudian meminta ojek warga disana buat jemput Pagit dan Mba Efa. Ketika saya naik ke atas motor,  mulai terasa rintik hujan. Jalan yang ditempuh juga penuh tantangan dan jebakan maut, untunglah anak muda itu tampaknya sudah biasa melewati jalan itu jadi sudah tau selah-selahnya. Sampailah kita dengan selamat di kampung Cuncawulang, saya diantarkan ke sebuah warung dimana ada beberapa orang berkumpul.

Pemuda itu segera menghampiri kawannya dan memberitahu perihal kedatangan saya ke kampung itu dan tentang dua orang kawan saya yang tertinggal di tengah jalan. Tim rescue yang terdiri dari pemuda itu lagi dan satu orang bapak pun berangkat dengan motor masing-masing. Saya ditinggal, disuruh masuk ke dalam warung.

Di dalam warung itu seperti lagi ada pertemuan. Satu meja panjang yang di sekitarnya terdapat kursi-kursi. Satu orang bapak paruh baya sedang menjelaskan sesuatu. Selain itu ada dua orang kakek-kakek, empat orang ibu-ibu dan beberapa anak kecil, mengerumuni sesuatu yang ada di atas meja itu. Awalnya saya ga jelas mereka lagi ngapain karena barang yang dikerumuni itu tertutup kepala-kepala mereka. 

Bapak paruh baya itu menoleh dan melihat saya di ambang pintu, beliau pun menyuruh saya duduk di salah satu kursi di meja itu, baru saya lihat apa yang lagi dikerumuni dengan serius. 

Sebuah iPad.

Yak, mereka sedang menonton sesuatu di iPad. 

Rasanya jadi pengen ngakak saat itu, bayangin aja, saya sudah pergi beberapa ribu kilometer ke pulau  yang sepi yang terletak di pinggir negara Indonesia, ke kota kecil banget di ujung pulau itu yang namanya labuan bajo, dari situ masih masuk ke dalam kampung yang terkucilkan dari perabadan, pas sampe yang saya liat warganya lagi nonton iPad. 

Saya juga jadi disuruh ikut nonton deh. Ibu-ibu yang duduk disebelah saya langsung menjelaskan kalau itu acara rekaman waktu Bapak Gubernur berkunjung ke kampung mereka, ada acara adatnya yang saling tuker-tuker hadiah. Ada tari-tarian penyambutan juga. Selesai acara menonton rekaman, saya masih diajak ngobrol sama warga disitu. 

Bapak paruh baya itu sepertinya salah satu orang yang berpengaruh di kampung itu, beliau cerita kalau beberapa bulan lalu kampungnya pernah dikunjungi juga sama mahasiswa-mahasiswa dari Jakarta, mereka tinggal di rumah-rumah warga selama sebulan untuk mempelajari kehidupan sehari-hari warga disitu dan membantu membereskan kampung. Saya mulai curiga kalau bapak ini mengira saya ini juga mahasiswa yang nyasar.

Mba Efa dan Pagit tak kunjung datang sementara hujan tiba-tiba turun dengan deras. Dua orang ibu-ibu berlari pulang kerumah nya, mau angkat jemuran. Saya tinggal disitu dengan bapak paruh baya itu, dua orang kakek dan sisa ibu-ibu bersama anak-anak kecilnya. Kemudian Mba Efa melongokan kepala nya dari ambang pintu, langsung di suruh duduk disamping saya sama bapak paruh baya itu. Pagit menyusul setelahnya, langsung disuruh duduk juga di samping mba efa. Dihadapan kami duduk lah warga-warga desa yang lain.

Mba efa tiba-tiba grogi, berusaha menutupi kaos tanktop nya dengan kain yang dibawanya, "Mil, ini kita ngapain ya?" katanya bisik-bisik. Mungkin Mba Efa curiga kalau kita lagi disidang warga.

"Nunggu hujan berenti, mba" jawab saya sambil bisik-bisik juga, ikutan grogi karena tampak jadi pusat perhatian di warung itu.  Kemudian si bapak yang dari tadi sibuk ngajak ngobrol kembali menceritakan soal para mahasiswa itu. Saya makin curiga dia bener-bener yakin saya, Pagit dan Mba Efa adalah mahasiswi yang nyasar.

Untungnya tidak lama hujan pun berhenti. 

Bapak itu memanggil seorang pemuda lagi yang katanya adalah putranya, perawakan pemuda itu tinggi dan kurus. Pemuda itu disuruhnya untuk mengantar kita bertiga sampai ke air terjun. "Nanti kau ajak mereka lompat dari atas tebing ya," pesan si bapak, "kalau mereka berani," tambahnya lagi dengan santai.

Perjalanan panjang dan berat menembus hutan dan melompat-lompati batu untuk menyebrang arus sungai yang deras langsung terbayar ketika melihat air terjun tersembunyi yang ada disana. Susunan batu-batu besar yang menawan dan suasananya yang damai menyejukan hati membuat saya ingin menghabiskan sisa hidup saya di tempat itu. 

Sedikit lagi sampai ke air terjun, setelah menembus hutan harus mendaki batu-batu begini

Lompaaaatttt

Pulangnya kita sama sekali tidak diminta bayaran apa-apa, padahal menurut wawan untuk wisatawan bayar masuk ke air terjun itu bisa sampai 180 ribu per orang belum termasuk bayar guidenya, karena itu wilayah konservasi hutan lindung. Saya jadi yakin kalau bapak paruh baya itu adalah orang yang berpengaruh di kampung itu, dan bapak itu mengira kita mahasiswa nyasar, jadi dia ga tega minta kita bayar uang retribusi.

Flores, memukau saya dengan keindahan alamnya dan keramahan orangnya. 

Jalan pulang dari Cuncawulang, diantar sama sunset yang cantik

Rabu, 19 Februari 2014

Kindness of Strangers

Kadang kita takut untuk pergi jauh dari lingkungan hidup kita sehari-hari karena khawatir bahwa dunia di "luar sana" adalah dunia yang kejam. Tapi buat saya ga selalu begitu. Ketika saya traveling saya selalu menemukan banyak orang  baik bertebaran dimana-mana, itu semakin membuat saya optimis dalam memandang dunia ini. 

Pengalaman saya selama traveling selalu positif, orang-orang yang saya temui di jalan kebanyakan adalah orang yang ramah dan baik. Malahan selama ini saya ga pernah (dan jangan sampe) kena modus scam atau ditipu. Kalau soal modus penipuan atau scam memang kebanyakan saya riset dulu sebelum pergi ke suatu tempat dan sebisa mungkin menjauhi tempat-tempat nya. Kalau memang tempat yang mau saya datangi itu yang banyak modus scam nya, ya saya waspada tingkat tinggi dan berusaha supaya ga narik perhatian - usaha yang ga gitu susah dengan ukuran badan segede saya gini sih. 

Sering juga saya dapet "peringatan" mengenai modus scam dari ngobrol-ngobrol sesama turis atau traveler atau backpacker atau whatever yang saya temui di jalan. Agak aneh juga kalau lagi jalan-jalan trus ketemu sesama pelancong walaupun dari beda negara, bahkan seringkali ga tukeran nama, tapi kita bisa ngobrol banyak. Tukeran informasi tempat yang sudah dan akan dikunjungi, tempat makan, sampai modus scam. Beberapa kali saya ngalamin kayak gitu, malahan di Bangkok saya sempat dapat lungsuran buku guide tentang thailand dari cowo bule agak tua yang ngobrol sama saya pas sarapan di hostel di hari pertama saya dan hari terakhirnya dia, trus dia mewariskan buku guide nya yang tebel tapi udah lusuh kumel karena di abuse selama hampir 3 bulan di Thailand. Sampai sekarang masih saya simpen.

Menemukan kebaikan hati orang yang ga kita kenal di tempat  yang asing itulah yang buat saya pengalaman paling berharga. Buat saya tingkat tertinggi dari tolong-menolong adalah yang tulus dan tanpa pamrih, satu tingkat lebih tinggi dari itu adalah tolong-menolong sesama orang yang kita ga kenal sebelumnya. Kita berbuat baik karena kita ingin berbuat baik, bukan karena orang itu adalah kawan kita atau bukan karena suatu saat kita mengharapkan kalau kita susah orang itu bakal bales nolongin kita juga karena belum tentu kita bakal ketemu lagi. 

Suatu saat ketika saya lagi bingung di pinggir jalan kota Bangkok, lagi mikir gimana caranya nyebrangin jalan dan lagi nunggu orang lokal yang nyebrang supaya saya bisa mencontoh tiba-tiba lewat di depan saya cewe bule yang nanya. "mau nyebrang jalan?".

Saya mengangguk.

Kemudian cewe itu menjelaskan, "kamu jalan dulu ke arah sana terus nyebrang di lampu merah di bawah jembatan, balik lagi ke arah di depan sana. Tadi juga saya bingung cari jalan nyebrangnya." Dan cewe itu langsung berlalu setelah saya mengucapkan terima kasih.

Sebelum saya ke Timor Leste saya ngobrol sama salah satu temen kuliah saya dulu, pas itu saya cerita kalau sebulan lagi saya mau jalan-jalan ke Timor Leste. Kemudian temen kuliah saya itu bilang kalau dia punya temen orang Dili, dulu temen satu kos di Bandung. Namanya Livio Jesus Amaral de Oliveira, panggilannya Kiko. Saya diberi nomor kontak Whatsapp nya dan beberapa hari sebelum saya ke Dili saya menghubungi nya. 

Kiko itu baik banget, pas saya sampe ke Dili saya langsung di jemput di bandara dan hotel yang sudah saya booking ga jadi ditempati karena Kiko menawarkan untuk menginap di rumahnya. Dari kantornya dia terus memantau, saya ada dimana atau apakah saya nyasar, "kalau nyasar nanti bilang aja, aku jemput," katanya. 

Tuan Rumah di Dili yang namanya kayak pemeran telenovela

Di Pink Beach Pulau Komodo, ketika saya, Pagit dan Mba Efa sedang menikmati makan siang di atas kapal sebelum kapal kita menempuh perjalanan 4 jam kembali ke Labuan Bajo, kita di samperin sama salah satu orang dari kapal lain yang lagi bawa rombongan turis dari Bali. Perjalanan mereka berhari-hari dari Bali ke Pulau Komodo, bermalam di kapal dan berhenti di beberapa tempat yang dilalui sepanjang perjalanan. Tapi baru setengah perjalanan ada seorang perempuan bule yang sakit demam, ga mungkin nunggu beberapa hari lagi sampai mereka kembali tiba di bali, jadi orang itu minta ijin supaya penumpangnya boleh numpang kapal kita bertiga sampai Labuan Bajo.

Kita bertiga pun langsung memperbolehkan perempuan itu - ditemani sama pacar cowo nya, pindah ke kapal kita bersama barang bawaan mereka yang segambreng sampai di Labuan Bajo. Malahan kita sempat bawa mereka ke hotel tempat kita nginap karena mereka sama sekali ga ada persiapan mau terdampat di kampung kecil kayak Labuan Bajo. Beruntung mereka ketemu kita bertiga yang booking satu kapal, kalau mereka ketemunya sama kapal tur yang ada pemandunya pasti mereka bakal disuruh bayar mahal buat numpang ke Labuan Bajo. 

Buat Pagit, balasan datangnya ga lama. 

Lunch di atas kapal
Keesokannya saya, Pagit dan Mba Efa pergi ke air terjun. Kita jalan kaki lebih dari 5 km dari kampung terdekat menuju ke air terjun, menembus hutan belukar yang masih alami. Perjalanan pergi sih lumayan karena jalanan menurun, dalam hati saya udah mulai mikir ini jalan pulangnya pasti berat banget. 5 kilometer jalan menanjak di lumpur-lumpur. Mantap.

Sebelum masuk ke dalam hutan kita ketemu sama gerombolan bapak-bapak yang sedang mengatur napas nya. Mereka naik mobil 4WD ban gede yang bisa tembus jalanan Off-Road, ada 2 mobil. Melihat kita bertiga, cewe-cewe, dengan 2 orang pemandu orang lokal, bapak-bapak itu memberi semangat ke kita dengan berkata bahwa bagaimanapun perjalanan yang kita tempuh itu worth it karena air terjun nya memang indah luar biasa.

Air terjunnya memang indah luar biasa.

Perjalanan pulangnya juga luar biasa. Awalnya kita harus keluar dari hutan itu dengan posisi nyaris merayap karena jalan nya terjal. Keluar dari hutan kita masih harus jalan menanjak di tanah berlumpur, sampai ke kampung cuncawulang. Beberapa ratus meter berjalan, pagit sudah kepayahan jalan paling belakang sambil setengah sadar meracau, "Coca Cola Dingin... Coca Cola Dingin...".

Pemandu kita, seorang anak muda kurus tinggi penyabar dari kampung cuncawulang berusaha menghibur pagit, "iya sabar, nanti kalau udah sampai di warung ya, kakak."

Tapi pagit terus saja merapal , "Coca Cola Dingin.. Coca Cola Dingin..." seolah-olah itua dalah mantra yang menguatkan langkah nya yang tertatih. 

Tiba-tiba di kejauhan saya melihat dua mobil off-road milik gerombolan bapak-bapak terparkir di pinggir jalan lumpur. Saya segera menghampiri dan sok akrab ngajak ngobrol salah satu bapak yang kurus kecil.

"Kenapa, pak mobilnya?" tanya saya.

"Yang satu pecah ban," katanya sambil menunjuk salah satu mobil yang sedang di dongkrak, salah satu ban nya lagi dalam proses dilepasin,"ban  nya mau dibawa ke kota, mau dibenerin dulu."

"Oooo..." jawab saya.

"Kalian dari mana?" tanya bapak itu.

"Kita dari Jakarta, Pak. Jalan-jalan kesini," jawab saya, "Bapak rombongan darimana?"

"Kita dari Bandung." kata bapak itu.

"Naik mobil dari Bandung sampai ke sini,pak?" tanya saya takjub.

"Iya. kita dari Geologi..." bapak itu mejelaskan.

Tiba-tiba entah darimana Pagit menyeruak masuk ke pembicaraan kita.

"Bapak dari Geologi? Bandung? kenal ibu A (pagit nyebut salah satu nama yang saya luap)?" 

"Kenal lah." kata bapak itu.

"Saya ini keponakannya, pak," kata pagit dengan intonasi seperti di sinetron-sinetron disaat seorang anak yang sudah bertahun-tahun hilang menemukan kembali jejak ibu kandungnya : saya ini anaknya, pak.

Tapi rupanya ban pecah itu, bapak-bapak dari Bandung yang sedang meneliti struktur batuan di air terjun itu, bapak-bapak dari Bandung yang kerja bareng tantenya Pagit itu, adalah semacam oase di padang pasir bagi pagit, bantuan yang dikirimkan Tuhan buat Pagit. Tidak lama Pagit sudah ada di salah satu mobil yang akan membawa ban pecah untuk diperbaiki ke kota, Pagit di antar sampai ke warung di kampung cuncawulang.

Cerita lebih lengkapnya dari sudut pandang Pagit langsung di cekidot disini:

Saya optimis bahwa diantara segelintir orang jahat, maniak, psikopat, pembunuh berantai, koruptor di dunia ini, masih lebih banyak orang yang baik. 

Rabu, 18 Desember 2013

Berburu ( Tur ) Komodo

Sebelumnya saya sudah cerita kalau misi saya, Pagit dan Mba Efa melihat Komodo dan Pink Beach sudah terlaksana dengan sukses, yang belum saya ceritakan adalah suka duka mencari tur yang murah yang sesuai dengan kantong kita-kita.

Saya juga sudah ceritakan sekilas tentang riset singkat saya sebelum berangkat menelpon Pak Hans dari salah satu agen tur yang menyediakan fasilitas ke Pulau Komodo. Melalui telepon Pak Hans sempat menjelas secara singkat mengenai jenis-jenis tur yang ditawarkan, ada tur 1 hari ke Pulau Komodo dan Pink Beach, dan ada tur 2 hari ke Pulau Komodo, Pink Beach, menginap di kapal atau di pulau seraya, ke Pulau yang banyak kelelawarnya dan terakhir ke pulau rinca. Tapi waktu itu saya hanya tanya-tanya aja dan bilang ke Pak Hans itu kalau nanti kita akan langsung berkunjung ke kantor tur nya ketika kita tiba di Labuan Bajo. Rencana kita (saya, mba efa dan pagit) mau langsung membandingkan dan kalau bisa memodifikasi sendiri perjalanan kita ke pulau komodo itu.

Saya sempat cerita juga sebelumnya, bahwa dihari  kita mendarat di Labuan Bajo takdir mempertemukan kita dengan Wawan yang mengantarkan kita dari bandara ke Labuan Bajo dengan tarif 50 ribu rupiah setelah melalui proses tawar menawar yang sadis oleh Pagit. 

Di hotel Gardenia yang berbukit-bukit itu di meja resepsionis saya kenalan sama seorang guide yang lagi bawa tamu orang asing, dia menawarkan trip ke Pulau Komodo untuk 2 hari. Jadi prinsipnya ikut tur ke pulau disini adalah semakin banyak peserta maka biaya per-orangnya jatuhnya lebih murah, jumlah yang wajar kalau menurut saya sih melihat besar rata-rata kapal disana maksimal 7 orang udah sumpek sih. Si guide itu sudah ada 2 peserta yang mau ikut tur untuk keesokan harinya, jadi kalau tambah kita 3 orang, total 5 orang - jadi untuk trip 2 hari (menginap di kapal) biaya per-orang nya hanya 500 ribu-an. 

500 ribu untuk 2 hari jauh lebih murah dari pada biaya yang ditawarkan oleh Pak Hans, yaitu 800 ribu-an per orang untuk trip yang satu hari. Saya dan guide itu pun tukeran nomor henpon dan saya berjanji akan mengabari nya lagi sebelum matahari terbenam.

Ternyata kakak sepupu nya Wawan punya usaha tur juga. Kakak sepupu nya Wawan saat itu tidak ada di Labuan Bajo karena lagi ada pameran di Jakarta. Tapi kita akhirnya berkesempatan ketemu kakak nya Wawan - si pengusaha tur Labuan Bajo yang sukses itu, di bandara waktu kita mau pulang. Karena pesawat kita delay kita ngopi-ngopi di kantin bandara di temani wawan dan kakak sepupu nya itu. Pas lagi ngopi-ngopi tiba-tiba ada satu laki-laki flores datang memanggil Mba Efa, ternyata dia pria yang kita ketemu di pink beach yang nyuruh saya buka kacamata hitam untuk melihat warna pink pasirnya dan langsung aja ikut nimbrung ngobrol sama kita.  

Kita pun dibawa ke kantor agen tur kakak nya itu dan dikenalkan dengan kawan nya bernama James yang kerja disitu. James juga menawarkan kita trip 2 hari bergabung dengan 2 orang lain yang sudah mendaftar. Tapi kita hanya punya waktu sebentar di Labuan Bajo, jadi kita hanya mau trip ke pulau 1 hari sedangkan 1 hari lagi kita mau trip di darat, lihat gua dan air terjun yang kita lihat di brosur di hotel - keren banget. 

Akhirnya kita minta James mencarikan kita kapal yang bisa di charter sehari, ketika ditanyakan ternyata harganya 1,5 juta satu kapal per-hari (tujuan terserah kita) tapi kita dapat makan siang di atas kapal, dapat kopi/teh pagi-pagi dan air mineral sepuasnya. Untuk trip satu hari itu, karena kita hanya bertiga, jatuhnya jadi sama kayak trip 2 hari berlima, yaitu 500 ribu per pax.

"Kita pikir-pikir dulu deh James," kita mau berunding dulu ambil trip 2 hari atau trip 1 hari mengingat harga per orangnya yang sama dan mempertimbangkan kunjungan ke air terjun, "nanti sore kita kabarin lagi".

Kita masih punya satu alternatif, mengunjungi Pak Hans.

Kita tiba di depan agen tur Pak Hans, dekorasi kantor nya mencolok banget, dari kayu-kayu dan beratap daun kelapa kering. Sepertinya kantor turnya merangkap cafe dan tempat nongkrong turis-turis bule. Pak Hans sendiri ternyata orang asli Belanda yang sudah tinggal di Labuan Bajo selama 20 tahun dan sudah fasih berbahasa Indonesia walau kadang masih mikir-mikir untuk mencari padanan kata yang sesuai.

Pak Hans langsung membuka peta flores di meja di hadapan kita bertiga dan menjelaskan rute trip nya dengan menunjuknya langsung diatas peta. Dari penjelasan Pak Hans itu saya baru mengerti tata letak kepulauan komodo, apa saja yang bisa kita liat dan kita lakukan disana. Sebelum pergi kan saya minim riset, jadi tiba di Labuan Bajo bener-bener masih gelap tentang apa yang mau dilakuin disana. Pokoknya tujuan saya cuman mau liat komodo aja, ternyata banyak banget hal yang menarik selain komodo yang  bisa dijelajahin mulai dari laut sekitar Labuan Bajo sampai ke kepulauan komodo itu. 

Setelah kita mengutarakan keinginan kita untuk hanya sehari trip aja dia merekomendasikan untuk ke Pulau Komodo, lanjut ke Pink Beach, kemudian mampir di suatu teluk dekat situ dimana kita bisa snorkeling bersama Manta (semacam ikan pari tapi gak galak). Kalau kita mau rute itu ada satu orang bule yang lagi nunggu mau join. Biaya sewa kapal ternyata sudah standard di kalangan agen-agen tur itu, mungkin aja bisa dapat lebih murah kalau kita cari langsung ke dermaga, tapi kita sudah tidak punya waktu untuk itu. Yang mahal adalah biaya snorkeling bersama manta itu, karena harus bayar entrance fee ke pengelola konservasi itu 100 dollar per-orang. 

Kita bertiga membelalak.

Melihat tampang kita bertiga yang stress, Pak Hans mulai ngitung-ngitung lagi kemudian dia menawarkan solusi. "oke, buat kalian bertiga saya beri keringanan untuk biaya masuk manta itu, nanti bisa saya atur." Tapi biayanya paling sedikit sekitar 700 ribu per orang dan itu gak termasuk makan siang di kapal.

Beberapa alternatif ini membuat kita bertiga galau. Tiap alternatif punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua menarik dan semuanya sebenarnya mepet sama budget kita yang miris ini. Akhirnya setelah melalui diskusi panjang, kita bertiga mufakat kalau kita akan sewa kapal + makan siang melalui James. Saya pun menelpon guide yang saya temui di Hotel Gardenia untuk memberi tahu kita tidak ikut trip dua hari itu. Kemudian menelpon Pak Hans untuk memberi tahu kita tidak jadi ambil trip sehari yang include berenang sama manta ray itu. Setelah menutup telepon Pak Hans sebenarnya hati saya merintih sedih, saya mau berenang sama Manta Ray hiks hiks....

Sementara Pagit menelpon James yang segera mengurus keberangkatan kita untuk keesokan subuhnya termasuk mencarikan kita seperangkat google dan kaki katak untuk snorkeling. Transaksi pembayaran dilakukan saat kita makan malam di warung kaki lima pinggir laut. 

"Besok subuh jam 4 saya jemput di hotel ya, kak." seru James sebelum pergi meninggalkan kita malam itu.


Musyawarah di depan warung yang kayak seven eleven-nya labuan bajo

James di depan kantor tur nya

Selasa, 26 November 2013

Hatiku Berlabuh di Labuan Bajo

Di Jakarta tahun-tahun belakangan ini, Tuesday is the new Monday. Jadi ketika hari Minggu berakhir, rasa kebencian terhadap hari senin mulai menyeruak dari dalam kalbu, I hate Monday. Tapi ketika hari senin berakhir masih ada hari selasa yang patut untuk dirutuki juga. Di hari Selasa butuh usaha, kekuatan dan kesabaran dua kali lipat dari hari senin untuk mengarungi perjalanan dari rumah menuju kantor. 

Hari Selasa pagi, sudah nyaris 2 jam saya stuck di jalan, merayap pelan-pelan seperti siput kurang gizi. Di sekeliling mobil saya puluhan motor mengerubungi seperti lalat mengerubungi bangkai. Kendaraan roda dua menyelisip diantara sela-sela mobil seperti potongan daging menyelip di sela gigi. Mereka saling berdesakan di sisi kanan jalan yang merupakan jalan untuk kendaraan dari arah berlawanan. Bagai kawanan tawon yang berlomba-lomba masuk sarangnya, motor-motor itu berebut memadati sepotong jalan, sementara dari arah berlawanan riuh bunyi klakson mobil yang berusaha membubarkan kerumunan pengendara ber-helm itu agar mereka bisa lewat memekakan telinga bersahutan.

Dua baris mobil di hadapan saya saling beradu, Avanza silver dan Taksi biru. Kedua pengendara turun dari mobil, saling cekcok adu mulut di tengah jalan dengan posisi kendaraan mereka yang malahan keliatan mesra berciuman di tengah jalan. Dari belakang saya pun serbuan klakson dari pengendara lain yang tak sabar mulai bersahutan. Bersatu padu, membentuk koor yang gak ada syahdu-syahdunya. Dari depan, belakang, samping, sepertinya seluruh semesta di kacaukan oleh bunyi klakson yang disulut oleh amarah manusia kota di Selasa pagi. 

Saat-saat seperti ini dimana saya sangat merindukan Labuan Bajo. Hanya butuh kurang dari setengah hari baginya untuk bisa menawan hati saya disana. Saya pergi kesana tanpa pengharapan berlebih terhadap kota kecil ini. Palingan cuma sepotong kampung kecil yang tidak signifikan, pikir saya, tempat wisatawan yang hanya transit untuk pergi ke destinasi lain yang lebih cantik. Pulau Komodo, Pulau Kanawa, Pulau Seraya, Pink Beach.... 

Tapi saya lupa, sepertinya hati saya selalu memilih untuk jatuh cinta kepada kampung kecil yang tidak signifikan. Sama seperti ketika saya jatuh hati dengan kampung kecil yang tidak signifikan di Thailand Utara bernama Krabi. Hati saya ini selalu gampang dirayu dan dibuai oleh kesederhanaan. Entah kenapa. 

Bandara Komodo di Labuan Bajo adalah bandara yang sederhana tanpa ban berjalan. Mengingatkan saya sama bandara di Bengkulu beberapa tahun lalu. Hmm... setelah saya pikir-pikir mungkin disitulah berawal kegandrungan saya terhadap kota-kota kecil yang bagi orang lain tidak berkesan. Kota underdog. Hanya dilewati untuk kemudian dengan cepat dilupakan. 

Dua tahun dari sekarang mungkin Bandara Komodo versi sederhana sudah tidak ada, digantikan oleh Bandara Internasional Komodo baru yang mentereng yang sedang dalam proses pembangunan. Pucuk atap dari bandara baru yang desainnya keliatan futuristik mengintip dari balik pagar seng penutup daerah proyek, menyebarkan debu-debu proyek yang berterbangan ke Bandara lama, menyelimutinya, menambah kesan kusam dan tua tak terurus. 

Sebuah patung komodo yang gagah menyambut para turis yang turun dari pesawat baling-baling. Saya, Pagit dan Mba Efa memasuki bandara, menunggu barang kita dari balik jendela kotak tempat petugas bandara mengoper bagasi para penumpang. Seorang anak muda menghampiri kita, perawakannya kecil, kurus, rambut ikal khas orang flores. 

"Sudah ada yang jemput, mba?" tanya pria itu.

Pagit segera menjawab, "sudah," tanpa menoleh. 

Sebenarnya kita tiba disana tanpa persiapan apa-apa, selain satu alinea di wikitravel tentang Labuan Bajo yang memberi informasi bahwa jarak dari bandara ke pusat kota bisa ditempuh dengan naik ojek Rp.5000. Jangan terjebak dengan tawaran sewa mobil yang harganya bisa mahal banget, kita hanya perlu jalan sedikit keluar bandara ke pangkalan ojek terdekat.

Jawaban pagit yang singkat tanpa menoleh membuat anak muda itu cepat pergi untuk mencari target berikutnya.

Cerita saya harus mundur ke beberapa hari sebelum keberangkatan kita ke Labuan Bajo. Kombinasi antara kesibukan dengan pekerjaan + ingin menambahkan touch of adventure baru dalam kehidupan membuat saya dan Pagit malas untuk survei dan mempersiapkan itinerary secara detail. Tiket DPS-Labuan Bajo baru kita beli beberapa hari sebelum keberangkatan. List penginapan pun kita cari seadanya hanya untuk memberi gambaran singkat mengenai harga, beberapa sempat di hubungi oleh pagit tapi tidak satupun yang kita booking. 

Tur ke Pulau Komodo pun begitu, kita memutuskan akan cari tur untuk ke pulau komodo langsung di Labuan Bajo. Sebelumnya saya sudah menelpon pengelola tur disana yang nomornya saya dapat dari internet, namanya Pak Hans. Dari bahasa Indonesia nya yang beraksen aneh saya mulai curiga bapak ini bukan asli orang Indonesia. Dari Pak Hans saya dapat info kisaran harga paket tur dan alternatif-alternatif rutenya.

Salah satu kawan saya pernah bilang, Knowless Do More. Well, just cross our finger and let's hope so.

Fast forward lagi, kembali di Labuan Bajo. Saya dan Pagit keluar dari bandara menggendong bekpek menerjang angin yang  bercampur pasir di bawah terik matahari. Sementara Mba Efa berusaha menarik kopernya di jalan berpasir yang berhamburan batu kerikil. Kita tak tau arah mau kemana. Akhirnya Pagit memutuskan bertanya ke salah satu ibu yang menjaga kios toko suvenir. Entah apa yang ditanya sama pagit, ibu itu mengeluarkan handphonenya dan menelpon. Tak lama muncul anak muda yang sebelumnya menawari mobil sewaan ke pagit. 

O'ow... ketauan deh kalau kita sebenarnya tidak dijemput, melainkan...takut di tipu.

Wawan. Bersumpah-sumpah dia mengaku kalau dirinya asli Flores. Lahir dan besar di Flores dari kedua orang tua asal sana juga. Menurut pengakuannya sedikit darah jawa dari neneknya yang entah nenek keberapa membuat dia menyandang nama yang sangat tidak berbau flores itu. Orang Flores itu namanya keren, kebarat-baratan. Misalnya, James, Jonathan, Michael, Frans. Tidak ada Wawan dalam kamus nama orang Flores. 

Wawan yang berkulit gelap tapi keceriaan selalu terpancar dari dirinya. Cara bicaranya yang sok tau tapi masih lugu dan kekanak-kanakan langsung membuat kita bertiga jatuh hati sama Wawan. Kawan pertama yang menyambut kita dengan penuh keramahan di ujung pulau Flores. Dan jumlah kawan kita di Labuan Bajo pun bertambah signifikan dalam hitungan jam. Satu hari saja kita beredar di satu ruas jalan sepanjang pusat kota Labuan Bajo, seolah-olah kita sudah bertahun-tahun tinggal disana. Di setiap tikungan, di sisi-sisi jalan, di depan toko, semua orang tiba-tiba jadi kenal dengan 3 orang perempuan jakarta yang luntang-lantung seharian mencari tur yang paling murah untuk ke Pulau Komodo keesokan hari nya.

Anehnya, di kota kecil ini lebih banyak kita melihat turis asing daripada turis lokal. Ya wajar saja mungkin kalau tiga orang turis jakarta luntang-lantung cepet banget jadi hits, soalnya kalau turis jakarta gak akan luntang lantung, kebanyakan langsung menuju hotel-hotel atau resort-resort nyaman yang terletak di pinggir pantai. Sementara kita bertiga, bukan hanya luntang-lantung cari tur, tapi sempat luntang-lantung cari penginapan murah dan sempat pindah penginapan juga. 

Awalnya kita mendatangi salah satu penginapan terjangkau yang banyak di rekomendasikan di internet, bahkan Pak Hans dari Komodo Tur yang saya hubungi waktu di Jakarta merekomendasikan penginapan itu. Tapi ternyata ketika kita tiba di muka penginapan, Pagit langsung ragu. Pasalnya penginapannya itu terletak di bukit-bukit, jadi kamarnya  itu menyebar di berbagai ketinggian satu bukit di hubungkan dengan tangga batu yang menukik tajam. Saat itu Occupancy hotel itu nyaris full, kamar-kamar kosong yang tersisa adanya di tingkat terpuncak dari bukit itu. View nya pasti luar biasa indah di atas sana, tapi mikirin musti bolak-balik naik turun kamar itu yang langsung bikin dengkul lemes.

Wawan pun merekomendasikan penginapan yang murah di dekat situ. Sebenarnya semua penginapan murah letaknya dekat situ juga, pusat kota itu intinya hanya seruas jalan yang kiri kanannya terdapat penginapan, toko-toko, kantor paket tur dan diving, juga warung-warung makan. Satu malam di hotel yang direkomendasikan Wawan, kita pun memutuskan pindah ke penginapan lain (yang juga dekat dari situ) yang tarifnya sama tapi lebih bagus sedikit.   

Makan malam kita di warung-warung tenda yang berbaris berdampingan di pinggir laut. Di dekat satu-satunya pasar yang terletak di Labuan Bajo. Menunya mayoritas ikan, ada juga ayam. Ikan-ikan segar dipajang di muka warung, jadi kita tinggal pilih ikan yang kita mau kemudian langsung dimasak. Berbeda dari warung makan ikan di jakarta yang stok ikannya banyak sampai sepeti, disana masing-masing warung hanya sedia ikan beberapa ekor, jenisnya campur-campur random, ukurannya juga. Sepertinya hanya untuk persediaan satu hari karena disana mungkin jarang yang punya freezer untuk menyimpan ikan mentah supaya tahan lama. Mba Efa melotot tak percaya ketika bertanya harga ikan untuk makan malam kita, "murah bangeettt.,"seru mba efa berbisik.

Di warung itu banyak juga orang lokal, malam itu adalah malam minggu. Saya senang sekali curi-curi dengar percakapan orang lokal sana yang berbahasa Indonesia, kata-kata yang mereka gunakan adalah kata-kata baku yang hanya kita baca di buku pelajaran sekolah. Dan nadanya itu loh, merdu banget kalau menurut saya, naik turun berirama. Kalau diperhatikan orang Flores yang makan diluar pasti memilih menu ayam, mungkin karena di rumahnya sehari-hari makan ikan jadi kalau mau suasana beda makan diluar mereka akan memilih ayam daripada ikan.

Sahabat baru mba Efa seorang pria penjual kain kerajinan asli Flores. Bapak itu sering banget berpapasan sama kita di jalan, secara ya jalannya cuman satu itu jadi papasannya sama orang itu-itu saja. Tapi Mba Efa cepat akrab sekali dengan bapak yang satu ini, si bapak menceritakan tentang kampungnya yang ada di gunung dan perjalanan darat selama 2 hari yang harus ditempuhnya berjalan kaki hingga tiba di desanya di tengah hutan. Ketika kita lagi makan Mba Efa yang hatinya sudah terpikat dengan perjuangan hidup bapak itu tiba-tiba kepikiran, "bapak itu lagi dimana ya?". Tak lama yang diomongin muncul, Mba Efa pun histeris seolah-olah merasa sudah punya ikatan batin dengan sahabat barunya itu, "Mari Bapak, kita makan sama-sama." 

"Bapak mau makan apa? ikan atau ayam?" tanya mba efa.

Si Bapak pun menyahut lantang, "Ayam!" disambung dengan nada malu-malu,"nasi nya boleh dilebihkan sedikit?" tanyanya ragu.

Sebelum kita pulang ke Jakarta, si Bapak menghampiri Mba Efa di hotel, khusus untuk memberikan hadiah perpisahan, seuntai taplak tenun flores diiringi pesan agar jangan dilupakan dan apabila ada kesempatan kunjungi desanya di atas gunung di tengah hutan, bertemu dengan putra putri nya yang tinggal di desa.   

Pagi-pagi saya dan Mba Efa menonton kesibukan di pasar kecil di sudut Labuan Bajo. Para nelayan yang baru kembali dari laut membawa hasil tangkapannya untuk di lelang langsung dari kapalnya. Transaksi terjadi langsung di perbatasan darat dan laut, di antara dermaga dan geladak kapal. Berdus-dus Styrofoam ikan segar berpindah tangan. Di pasar kecil di sudut labuan bajo ini hiruk pikuk manusia sibuk beraktifitas dari sebelum matahari terbit, sementara sisi kota yang lain masih sunyi senyap tanpa tanda-tanda kehidupan berarti kecuali beberapa ekor anjing yang sedang tidur-tiduran malas dipinggir jalan sembari sesekali melirik pejalan kaki yang melintas di hadapannya.   

Hal-hal seperti itu yang buat saya selalu punya pesona magis tersendiri untuk membuat saya selalu merindukannya, seperti mantan pacar yang gak akan pernah bisa kita lupain. Disaat-saat himpitan ibukota yang kejam membuat warganya ubanan sebelum tua dan menjadi gila, yang saya inginkan hanya melabuhkan hati saya kembali di Labuan Bajo.

Senja di Labuan Bajo

Lelang ikan subuh-subuh

Rabu, 02 Oktober 2013

Pink Beach, Translucent Sea. Pink Heart, Translucent Emotion

Komodo Dragon bukan satu-satu nya hal langka yang ada di Pulau Komodo. Pink Beach yang juga terletak di pulau itu merupakan salah satu dari (hanya) 7 pink beach yang ada di seluruh dunia. Matahari tepat berada di atas kepala ketika saya menginjakan kaki di pantai ini, mengenakan kacamata hitam karena cerahnya langit menyilaukan mata. 

Dua orang laki-laki sedang duduk di bawah pohon, salah satunya berteriak ke saya, mba efa dan pagit yang sedang berjalan di pasir yang hangat,"keliatan gak warna pinknya?"

Terus terang waktu itu saya kurang memperhatikan pasir yang saya injak-injak itu.

"Buka dulu kacamata nya," laki-laki itu berseru lagi.

Saya pun segera membuka kacamata dan melihat kebawah, ke butiran pasir lembut yang mengerubungi telapak kaki saya. Awalnya saya agak kurang yakin dan berpikir itu hanya pantulan cahaya. Saya berlutut mendekatkan wajah saya hingga hanya sejengkal di atas hamparan pasir. 

Pink!

Bukan hanya pantulan, tapi warna pasirnya memang terlihat bertaburan pink. Mirip seperti bubuk detergen yang bertaburan butiran konsentrat. 

"Pasir nya Piiiiink !!!" saya berteriak-teriak kegirangan, ada sesuatu yang membuncah dari dada ini. Selama ini saya sering  browsing-browsing mengenai pink beach, setidaknya saya sudah antisipasi membayangkan (dari cerita orang-orang lain yang pernah kesini) bahwa pasirnya memang berwarna pink. Tapi menyaksikan sendiri rasanya berbeda dari hanya membayangkan dari cerita-cerita orang.

Saya pun berlarian, melompat-lompat, berteriak-teriak, tertawa diatas pasir yang bercampur dengan butiran pink yang berasal dari serpihan koral itu. Tiba-tiba panas yang tadi menyilaukan sudah tidak berasa lagi. Saya hanya merasa.... pink.... dan bahagia. Merasakan hal baru membuat saya sangat bahagia, membuat saya merasa hidup. Itulah yang membuat saya ingin terus pergi ke tempat yang baru, melihat sesuatu yang berbeda, experience new things. Memberi makna dalam hidup. 

Dengan banyak merasakan hal baru saya gak merasa hidup saya ini sia-sia walaupun hingga di usia saya ini 31 of my age, statusisasi saya masih jauh dari yang namanya kemapanan alias masih labil ekonomi. Dalam hal materi saya memang gak  belum punya apa-apa, tapi saya punya experience, saya pergi ke Labuan Bajo naik pesawat baling-baling, melihat komodo, merasakan pantai yang pasirnya pink, berenang di lautan yang airnya transparan, menyaksikan sendiri apa yang ada di dasar laut. 






Experience new things juga gak harus dengan traveling ke tempat yang jauh sih. Saya selalu seneng baca dan belajar hal baru - history, philosophy, music. Hal-hal simpel yang terjadi sehari-hari kalau kita bisa melihatnya sebagai suatu experience, bisa memberi warna beda dalam hidup juga. Kayak misalnya, hari Senin kemarin, I have a bad day..I have a bad day.... *nyanyi*

Berawal dari pagi hari, waktu mau masuk ke parkiran kantor saya baru sadar kalau saya gak bawa kartu parkir, jadi saya musti bayar parkir 3000 di jam pertama dan 2000/jam berikutnya. Nah kalau saya seharian di kantor, sekitar 10 jam gitu ya itung aja sendiri. Itu satu. 

Kemudian saya mau kirim surat ke luar kota, saya jalan kaki ke agen JNE terdekat dari kantor ternyata loketnya tutup, secarik kertas menempel di kaca loketnya - Libur sampai tanggal blablabla. Saya jalan lagi ke cabang kantor pos yang ada di gedung kantor sebelah gedung saya, ternyata masih tutup juga walopun itu udah jam 10. Karena itu surat urusan kerjaan penting banget harus dikirim secepatnya, saya akhirnya memutuskan pergi ke kantor pos cabang tebet naik mobil. 

Di kantor pos itu, waktu mau bayar mas-masnya nanya, "punya uang 500 ga mba?". Saya pun membuka bagian dompet saya tempat menyimpan uang receh dan lupa nutup lagi, pas saya kasih tuh logam ke mas-masnya uang-uang logam lain yang ada di dompet saya pun berjatuhan tumpah ruah berceceran ke seluruh penjuru kantor pos dengan bunyi yang rama berdentingan. 

Keanehan hari senin itu gak hanya sampai disitu aja. Sore hari nya saya baru sadar kalau seharian saya pakai baju terbalik, yang belakang di depan yang depan di belakang. 

Saya pun bingung harus nangis atau tertawa.

Experience new things gak selalu membuat bahagia dan tertawa, kadang hal baru itu membuat kita jadi mengenal yang namanya gagal, sakit hati dan menangis. Yang mana memang menyakitkan, tapi kan hanya orang yang hidup yang berasa sakit. Coba kalo orang mati, di cubit-cubit kayak apa tauk juga gak bakal ngerasa sakit. 

Makanya kalo lagi berasa sedih, saya gak berusaha melupakan kalau saya lagi sedih - buat apa? Kalau lagi sedih ya di rasakan lah kesedihan itu - experience. Bahkan walaupun saya terbangun dan merasa sangat sedih entah kenapa, ya saya jalanin aja hari itu sambil sedih walaupun muncul di kantor dengan tampilan berantakan dan muka bete. 

Nah kalo sekarang ini pas lagi nulis postingan ini mood saya lagi bagus, makanya jadi panjang lebar gak jelas begini. Kalo mood saya lagi jelek, mau pesen ketoprak aja males ngomong sama mas-masnya.

Dipikir-pikir, kalau saya ini adalah pantai mungkin saya bakal jadi pink beach. Saya punya hati yang pink dan romantic sampai-sampai bisa jatuh cinta sama seseorang, ngerasa berbunga-bunga, kemudian gagal, nangis-nangis berurai air mata dengan melankolisnya bersumpah gak akan jatuh cinta lagi dan memutuskan untuk hidup selibat. Tapi kemudian saya jatuh cinta lagi sama orang yang sama dan cycle itu kembali terulang, lagi dan lagi. Kalau emosi saya seperti air laut yang ada di pink beach, translucent sampai semua orang bisa melihat kedasarnya. Tapi dengan itu setidaknya saya memberi sinyal ke orang-orang kalau, "Hei, I'm alive and I'm not afraid to fly or to fall."

Senin, 02 September 2013

Weleh Weleh.... Si Komo

Langit biru cerah dengan sedikit sapuan awan putih lembut ketika perahu kami merapat ke dermaga Pulau Komodo. Setelah 4 jam perjalanan dari Labuan Bajo dengan perahu, menyusuri gugusan pulau-pulau indah di area kepulauan komodo akhirnya tiba juga saat yang sudah saya impikan sejak lama. Melihat Komodo secara langsung. Salah satu spesies hewan tertua yang hingga kini masih hidup di bumi ini. 

Saya, Pagit dan Mba Efa melompat dari perahu, menjejakan kaki-kaki mungil kita di atas titian kayu yang memanjang membentuk dermaga. Berjalan dengan riang gembira menuju pintu masuk area konservasi komodo. Tiba-tiba seekor Komodo muncul, menghadang jalan masuk dengan pandangan sinis yang bikin hati langsung ciut. Memberi makna baru yang lebih pas untuk kata "judes". 

Komodo memang hewan besar yang tidak banyak bergerak dan tampak malas-malasan, tapi menurut hasil browsing-browsing saya, kalau hewan buas ini sudah bergerak bisa cepat sekali. Dalam sekejap mata bisa-bisa kaki kita sudah hilang di gigit. Hewan ini juga jago berenang di laut. Sebelum kita berangkat ke Pulau Komodo Pagit bertanya apa kita bisa snorkeling di pulau komodo situ? Saya cuman bilang, ya boleh aja sih kalo mau balapan renang sama komodo. 

Di saat kita lagi ragu-ragu dan merasa terintimidasi oleh tatapan galak komodo betina itu munculah seorang ranger (pemandu yang sudah dilatih khusus untuk menghadapi komodo) dengan tongkat kayu yang ujungnya bercabang dua, mirip galah untuk memetik mangga di atas pohon. Cabang di ujung kayu itu berfungsi untuk menahan leher komodo supaya gak bisa menjilat. Jadi kalau anjing kan kalau menjilat-jilat majikannya itu tandanya sayang, nah jangan di samakan sama komodo ya. Soalnya kalau sampai kena jilatan komodo itu bisa fatal banget, gak bisa cuman di basuh tanah 7 kali, malahan kalau dalam waktu 4 jam gak dapet pertolongan khusus kita bisa mati kena racun yang ada di lidahnya itu.

Ranger itu pun menyambut dan mempersilahkan kita bertiga untuk masuk dan melewati komodo yang lagi mejeng di pantai itu. "Jangan goyang-goyangin tas ya," kata ranger itu. Kita bertiga pun patuh, berjalan kaku melewati komodo yang hanya melirik jutek, berjingkat-jingkat sambil nunduk-nunduk sopan. Takut menyinggung perasaannya. 

"Itu dia mencium bau sesuatu yang ada di antara kapal-kapal itu," kata ranger berperawakan mungil itu sembari menunjuk ke jajaran perahu-perahu yang lagi parkir di dermaga, seolah-olah bisa membaca pikiran kita yang lagi bertanya-tanya ngapain ada komodo disitu. Ranger yang ternyata bernama Latif itu menjelaskan lebih lanjut, "komodo kan penciumannya bisa sampai 5 kilometer, ya tergantung angin juga sih, kadang bisa lebih jauh." 

Komodo Judes

Karena itu lah kalau ada wanita yang lagi datang bulang dilarang banget deket-deket komodo kalo gak mau langsung dicaplok gara-gara kecium bau darah. 

Latif mengantarkan kita bertiga menuju loket administrasi untuk membayar biaya-biaya masuk. Sebelum-sebelumnya kita bertiga survei di labuan bajo, kira-kira berapa biaya masuk yang harus kita keluarkan. Hasil survei itu membuat kita galau, konon menurut khalayak ramai mau masuk sana aja musti bayar sampai ratusan ribu per-orang. Ternyata pas kita sampai sana dan melakukan transaksi sendiri, murah bangeeettt... ternyata yang selama kita survei tanya-tanya di Labuan Bajo itu tarif masuk untuk turis asing, sementara untuk turis domestik bedanya jauh. *elus-elus dada, elus-elus dompet*

Sebelum mulai tracking pencarian komodo kita bertiga di briefing mengenai rute yang akan kita jalani. Ada rute gampang, menengah, dan susah. Yang membedakannya adalah jaraknya, dan juga possibility ketemu komodonya, walopun di setiap akhir kalimat penjelasan Latif selalu menambahkan "Ya belum pasti juga sih."

Contohnya nih.

"Nanti kita akan jalan ke sini," menunjuk suatu lokasi di peta yang gambarnya berupa kolam,"komodo-komodo biasanya suka menunggu mangsa disini karena disini tempat minum rusa, babi hutan dan hewan-hewan lainnya di pulau itu yang jadi buruan komodo. Biasanya sih ada. Ya tapi belum pasti juga sih."

Contoh lain.

"Di sini adalah dapur umum ranger, nah biasanya suka ada komodo disini nunggu jatah makanan. Ya tapi belum pasti juga sih."

Pokoknya tidak ada yang pasti kalau menurut Latif. Kita jadi ragu-ragu mau mulai tracking, takutnya udah capek-capek masuk hutan malah gak ketemu komodo.

Akhirnya setelah saya, pagit dan mba efa berdiskusi, kita memutuskan mengambil rute yang tingkat kesulitannya menengah. Eh bener aja, di tempat kolam air yang ditunjuk Latif, yang katanya suka ada komodo mengintai mangsa, kita gak nemu satu pun komodo.

Latif malah dengan semangat memperlihatkan sebuah pohon yang katanya adalah pohon bernama Palang Sandi. "Ini daunnya suka di pakai di acara gereja-gereja."

Mba efa yang rajin ke gereja berpikir keras, "oooo.... buat acara yang hari Rabu itu ya."

Sementara Pagit diam-diam masih mikir itu jenis tanaman yang biasa digunakan di kegiatan Pramuka soalnya ada kata-kata Palang nya dan ada kata-kata Sandi nya.

"Ini Palang Sandi," Latif masih ngotot seolah-olah mikir ini cewek-cewek kota kog bodoh-bodoh amat yak. "Palang Sandi itu biasa dipake di hari Minggu. Sandi kan Minggu."

Ternyata saudara-saudara, Latif itu okkots. Saya sih sudah curiga karena dia senantiasa menambahkan huruf G di kata-kata yang berakhiran N. Yang dimaksud nya dengan Palang itu ternyata adalah Palm. Dan Sandi itu adalah Minggu. Jadi tanaman itu tulisannya adalah Palm Sunday, dibaca Palang Sandi.

Mungkin dalam hati Latif berpikir, ini cewek-cewek kota kenapa bodoh-bodoh amat yak. Jelas-jelas Sandi itu Minggu, kalo Rabu yang namanya Wenesdi.

Dan kita pun meneruskan perjalanan kita menyusuri hutan-hutan. Kata Latif sebenarnya di kepulauan komodo ada 3 pulau yang dihuni oleh Komodo, yang sering dikunjungi wisatawan adalah Pulau Komodo dan Pulau Rinca yang letaknya lebih dekat dengan labuan bajo. Sementara pulau satunya lagi itu jauh banget. Kita gak sempat ke Pulau Rinca, tapi kata Latif, komodo di pulau Rinca lebih kecil-kecil tapi lebih agresif. Kebanyakan insiden penyerangan komodo ke manusia terjadi di Pulau Rinca. Kondisi alamnya juga beda banget sama Pulau Komodo, kalau di pulau komodo adem, rindang, banyak pohon-pohonnya, sementara di Pulau Rinca itu adanya savana dan panas.

Sampai di atas bukit, kita bisa memandang pulau komodo dari atas. Kemudian tiba-tiba Latif menyuruh kita jangan berisik. Ternyata ada seekor komodo sedang leyeh-leyeh di antara rumput. Kepalanya aja yang keliatan lagi melongok-longok ke kiri dan kanan. Lagi-lagi kita terintimidasi oleh kegagahannya. 

Di atas bukit di Pulau Komodo

Pagit yang sedang merenung

Komodooooooo

Berusaha mendekati walopun sambil gemeteran
Kata Latif, walopun komodo itu sangat gesit dalam mengejar mangsanya tapi sebenarnya trik berburunya adalah menyamar jadi batu. Jadi komodo akan diam gak bergerak sama sekali sehingga mangsanya gak sadar kalau ada bahaya yang sedang mengincar nyawanya, mangsa pun lengah dan hap! komodo pun akan menerkamnya.

Konon populasi komodo di pulau itu ada ratusan, tapi karena mereka pemalu dan mungkin pas kita lewat lagi pada menyamar jadi batu makanya kita tidak melihat mereka. Tapi menurut Latif kita sudah sangat beruntung bisa lihat komodo yang diatas bukit itu. 

Di belakang dapur umum ranger, sesuai kata Latif, kita ketemu dua komodo lagi sedang tumpuk-tumpukan. Latif pun segera menghampiri sambil teriak-teriak, " woooi homooo." Soalnya menurut latif itu dua-duanya komodo jantan lagi peluk-pelukan, tapi ya gak gitu juga kali ya sampe musti teriak-teriak homo di muka komodo itu. Untung kayaknya mood mereka lagi bagus, jd cuman ngelirik judes males-malesan aja ke si Latif, coba kalo moodnya lagi jelek, pasti tuh langsung di cabik-cabik si Latif.

Komodo gay

Pagit, Mba Efa, Saya dan Latif

Pantai Komodo
Yang pertama menemukan hewan-hewan Komodo Dragon di Pulau Komodo ini adalah pelaut-pelaut Belanda waktu jaman kolonial dulu. Tapi sebenarnya penduduk lokal punya satu legenda tentang reptil raksasa ini. Jaman dahulu kala ada seorang putri yang melahirkan anak kembar, yang satu adalah manusia dan satu lagi adalah komodo. Karena rupanya yang menyeramkan maka komodo di kucilkan. 

Hingga suatu hari kembaran manusianya komodo sedang berburu dan nyaris membunuh komodo, munculah sang putri ibu mereka memberi tahu bahwa sebenarnya mereka bersaudara, jadi gak boleh saling menyakiti. Nah karena itulah di Pulau Komodo ini ada penduduk manusia yang hidup berdampingan dengan aman bersama Komodo tanpa saling menyakiti satu sama lain.

Tapi..tapi.. kalau manusia dan komodo tidak boleh saling menyakiti satu sama lain, trus kenapa hati ku masih sering disakiti sama buaya darat sih? kan sama-sama reptil *hiks 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...