Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Lombok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Februari 2018

Lombok Marathon 2017 yang diselenggarakan di 2018

Inget kan postingan saya tentang Force Majeure ? kalau tidak ingat atau belum pernah baca bisa klik lagi link warna birunya. 

Setelah galau dan sempat malas mau ikut lari, akhirnya 3 hari menjelang acara saya beli tiket juga. Malasnya itu karena semangatnya untuk ikut race sudah anti-klimaks. Latihan yang untuk HM pun sudah keteteran karena awal januari saya sudah mulai training plan dari awal lagi untuk Full Marathon. 

Saya berangkat dengan persiapan minim banget, saya pikir toh ini bukan half marathon pertama. Gak ada carbo-loading beberapa hari sebelum race, ga mikirin minum yang banyak untuk hidrasi dan gak tappering karena lagi ngikutin training plan FM. 

Saya berangkat Sabtu pagi. Di pesawat, cowo yang duduk di sebelah saya potongannya jelas atlet banget, kelihatan seperti orang dari bagian timur Indonesia sih. Sewaktu ditawarkan makanan sama pramugari dia menolak dan hanya minta air putih. Ketika mau keluar pesawat saya melihat backpack yang dipakainya ada tulisan NYC Marathon. Sampai lombok langsung ke epicentrum mall untuk pengambilan race pack. Saya baru tahu kalau di Lombok ada mall besar yang isinya Starbuck, Jco, Giordano, etc etc. Keren juga. Ambil race packnya tidak pakai antri, mungkin karena saya tiba disana jam 11an jadi masih sepi. 

Selesai ambil racepack saya rencana mau cari makan siang bergizi dulu di mall sebelum ke senggigi, tempat saya booking penginapan. Kemudian saya lihat ada orang norak lagi gangguin orang Kenya. Orang norak itu pakai kaos tim lari angkatan senior almamater saya. Sudah tidak aneh lagi kalau menemukan almamater yang kelakuannya norak sih. Jadi orang itu lagi maksa orang Kenya foto bareng dia di depan backdrop  Lombok Marathon dan orang Kernya yang malang itu dipaksa pakai sarung. Muka orang Kenya tersebut tampak bingung dan sedikit takut. 

Orang norak itu melihat saya lewat dan minta tolong saya fotoin mereka. Waktu balikin handphonenya saya basa-basi, membuka percakapan dengan membahas kaos tim yang dipakainya. Ternyata dia juga sendirian ikut Lombok Marathon. Singkat cerita, dari hasil pertemuan yang tidak disengaja ini saya dapat rejeki : ditraktir makan siang, dapat tebengan gratis ke Senggigi dan ditraktir makan sore menu khas Lombok yang sangat mewah. The perks of Nepotisme.

Sebenarnya target saya finish 2 jam 45 menit, tapi karena memang kurang latihan, di km 17 sudah mulai jalan karena sudah tidak mampu lari. Yah jadi target belum tercapai. Kalau mau Full Marathon saya memang harus break limitation saya di kilometer 17, saya gak tau kenapa disitu selalu batas dimana saya mulai merasa falling apart physically dan mentally. Pun yang terjadi di race HM sebelum-sebelumnya seperti itu. Cerita tentang lari di Lombok Marathon ini telah saya publish di Vlog. Like dan Subscribe yaaah..



Kamis, 30 November 2017

Force Majeure

Jadwal race saya berikutnya semestinya berlokasi di Lombok. Sejak ikut race pertama di Bali tahun lalu, saya punya rencana  mau ikut race keliling kota-kota di Indonesia. Tahun ini pilihan saya adalah Jakarta Marathon dan Lombok Marathon. Slot untuk kedua event tersebut sudah saya amankan sejak awal-awal tahun 2017. Tapi manusia kan hanya boleh berencana. Seminggu sebelum event Lombok Marathon akhirnya terjadilah erupsi Gunung Agung setelah beberapa lama galau berstatus siaga, naik ke awas, balik lagi ke siaga, hingga sekarang kembali awas. 

Pulau Lombok yang berada tidak jauh dari Pulau Bali ternyata mengalami dampak dari peristiwa tersebut. Malahan waktu awal-awal Gunung Agung mengeluarkan abu, bandara Lombok sempat ditutup karena arah angin menuju kesana berpotensi membawa abu vulkanik. Karena itulah acara Lombok Marathon ini diundur oleh Organizer. Tadinya acara ini akan diselenggarakan tanggal 3 desember 2017, kemudian diundur menjadi 28 Januari 2018. Menurut saya sih merupakan keputusan tepat, kalau ada abu vulkanik ya mana mungkin lari, nafas biasa saja harus pakai masker. 

Sebenarnya saya merasa persiapan saya untuk race ini lebih baik daripada ketika Jakarta Marathon. Pace lari saya pun mulai kembali seperti tahun lalu saat sebelum ikut Maybank Bali Marathon. Minggu lalu saya sudah mulai mengatur strategi dengan memetakan rute race dan memperkirakan waktu dan pace saya per-5km sehingga didapat perkiraan waktu finish yang paling optimal. Target saya di Lombok Marathon mau finish di 2 jam 45 menit. Kalau sudah berhasil finish sesuai target, awal tahun depan saya akan mulai latihan untuk ikut Full Marathon.

Tiket pesawat dan hotel pun sebenarnya baru saya booking 3 hari sebelum peristiwa erupsi Gunung Agung. Untungnya saya booking hotel melalui Agoda pakai fitur Pay Later, jadi kalau dicancel sebelum tanggal 1 desember belum bayar apa-apa. Tiket pesawat Lion Air pun masih bisa dicancel dan refund. Tidak kembali 100 persen sih. Mengurus refundnya juga mudah, cuma harus sabar menunggu saja waktu menelpon call center nya. Mungkin juga karena sekarang-sekarang ini call center lagi pada sibuk karena banyak flight yang di cancel. 

Cara cancelnya seperti ini: pertama, telpon call center, kemudian dikasih nomor telepon khusus whatsapp dimana kita harus mengirimkan foto KTP dan kode booking. Kemudian setelah kita Whatsapp datanya, telpon lagi ke call center, nanti langsung di proses cancel dan kita disuruh ke kantor Lion Air di Jalan Gajahmada untuk mengurus refund paling lambat 3 bulan setelah cancelation. Nah, tadi siang saya ke kantor Lion Air untuk mengurus refund, hanya kasih printout booking dan fotokopi KTP, katanya 30 hari dana akan kembali ke rekening/ limit kartu kredit sesuai dengan cara bayar kita pas beli. 

Sepertinya bulan ini memang bukan bulan yang bagus untuk berpergian jalan-jalan karena bukan hanya bencana erupsi Gunung Agung, tapi cuacanya lagi mengerikan. Hujan dan anginnya ngeri. Kapok saya pergi-pergi saat cuaca lagi ekstrim seperti sekarang, nanti takut gak bisa pulang lagi kayak waktu dulu pas ke Timor Leste




Minggu, 27 September 2015

Sade, Desa Tradisional Suku Sasak

Berkunjung ke Lombok tidak afdol kalau tidak mengunjungi desa suku asli Lombok yaitu Suku Sasak, maka saya, Chacha dan Pagit memasukan Kampung Sade sebagai destinasi wajib yang harus kami kunjungi. 

Begitu memasuki gerbang kampung yang sesak oleh turis siang itu kami langsung disambut oleh seorang bapak yang kemudian menjadi pemandu kami selama berada di sana. Kami diajak menyusuri lorong-lorong di antara rumah-rumah tradisional yang rangkanya terbuat dari kayu, dindingnya dari anyaman bambu dan lantainya terdiri dari campuran tanah dan kotoran kerbau.

"Lantai-lantai rumah ini rutin dilapisi kembali oleh kotoran kerbau," kata bapak pemandu. Lantai rumahnya berwarna abu-abu seperti semenan, tapi bukan. Warna abu-abu itu adalah warna kotoran kerbau yang mengering. Konon semakin sering dilapisi lagi maka lantainya akan semakin mengkilap.

Kami dibawa ke rumah yang pernah dijadikan lokasi syuting FTV. 


ruang tengah

dapur yang terletak di sudut kamar tidur
"Ini rumah pernah dijadikan syuting FTV, mba. Waktu itu anaknya ahmad dhani (Al) ikut menggosok lantai rumah dengan kotoran kerbau betulan. Dia tinggal disini lebih dari sebulan untuk syuting itu."

Ini sudah ketiga kalinya saya dengar warga lokal yang bangga kampungnya jadi lokasi syuting FTV dan kedatangan artis ibukota. Waktu saya ke Dieng, ngobrol-ngobrol sama warga lokal juga mereka menunjuk rumah yang pernah jadi lokasi syuting FTV. Begitu juga waktu saya ke suatu tempat di Jogja yang kayaknya sudah langganan jadi tempat syuting. 

"Jumlah rumah disini sudah tidak berubah dari bertahun-tahun lalu karena keterbatas tempat," kata si bapak.

Kami diajak masuk ke dalam rumah yang jadi tempat syuting FTV itu, rumahnya dua lantai. Lantai satu ruang tamu. Sedangkan lantai dua nya adalah kamar tidur dan dapur. Tidak ada sekat diantara kamar tidur dan dapur. Peralatan masaknya masih tradisional, menggunakan kayu bakar. 

"Terus kalau ada anaknya yang sudah besar, menikah dan punya anak semuanya tinggal di satu rumah?" 

Saya membayangkan bagaimana caranya beberapa generasi bisa hidup dalam satu rumah yang minimalis dan tidak begitu luas itu. Tapi ternyata enggak sih. Kalau anaknya sudah besar dan menikah mereka boleh memilih untuk tinggal di luar kampung Sade.

"Biasanya yang diwariskan rumah disini anak bungsu, yang sekaligus merawat orang tuanya. Kakak-kakaknya yang sudah menikah boleh tinggal di kampung yang terletak tidak jauh dari sini, tapi rumah-rumahnya sudah modern. Ada juga yang tinggalnya jauh atau merantau."
 
Atap rumah-rumah di kampung Sade terbuat dari alang-alang yang ukurannya tertentu dan dikeringkan. 

"Kalau warna atapnya sudah coklat, itu tandanya harus diganti." 

"Siapa yang ganti, pak?"

"Ya warga kampung gotong royong mengerjakannya. Disini semua anak laki-laki harus bisa membuat rumah. Kalau sudah bisa membuat rumah sendiri baru boleh menikah. Kalau anak perempuan, harus bisa menenun baru boleh menikah."

Suku Sasak sebaiknya menikah dengan sesama suku. Untuk meminang gadis Sasak biasanya keluarga pria disyaratkan membayar mahar berupa kerbau. Kalau gadis yang akan dipinang cantik dan pandai menenun, itu pasti jumlah kerbaunya yang harus dibayar calon mempelai pria pasti bakal banyak. 

Sepanjang perjalanan kami menyusuri lorong di sudut-sudut jalan ada perempuan-perempuan berbagai usia sedang asik menenun. Dari mulai nenek-nenek sampai gadis remaja. Ada seorang gadis remaja yang punya ilmu memintal benang yang diturunkan dari keluarganya, neneknya memintal benang, ibunya memintal benang, dan sekarang dia juga memintal benang. 




Kata si Bapak Sasak itu, sebenarnya kayu yang digunakan untuk alat memintal itu waktu jaman Belanda dulu bisa dipakai jadi senjata perempuan Sasak, bentuknya dikamuflase sebagai alat penenun padahal sebenarnya adalah senjata. Keren abis. 

Adzan Dzuhur berkumandang ketika kami sedang dibawa melihat sumur tua yang merupakan sumber air satu-satunya di Kampung Sade. Suku Sasak adalah penganut agama Islam. Di kampung itu terdapat salah satu masjid tertua di Lombok tapi bukan yang paling tua. Masjid paling tua di Lombok yang usianya sekitar 4 abad justru terletak di desa Bayan di kaki Gunung Rinjani. Sayangnya kami tidak sempat berkunjung kesana. 

Pagit meminta izin untuk sholat di situ.

"Sekalian saja sama saya sholat disana," si bapak pun memandu kami ke mesjid, memberi tahu dimana mengambil wudhu dan memberi pinjaman mukena ke kami. 

Dengan banyaknya turis berkeliaran di Kampung Sade, hampir tiap rumah disitu menjual souvenir khas lombok berupa kain tenun, gantungan kunci, gelang, kalung dan macam-macam. Rupanya istri si bapak pemandu jualan kain tenun. Kami pun kalap karena kainnya bagus-bagus dan harganya lebih murah dibandingkan yang dijual diluaran. Seperti biasa, yang belanja paling banyak sudah pasti si Chacha. Saya aja yang biasanya males belanja beli kain tenun, kain sarung tenun dan sajadah tenun - semuanya motif khas NTB. 

Acara belanja ditutup dengan foto bareng kami bertiga dengan Bapak Pemandu, istrinya yang jualan kain, dua orang anaknya yang lagi main-main disitu dan (tentunya) barang belanjaan. 


Sabtu, 08 Agustus 2015

Naik Angkot ke Pasar, Beli Kopi

Satu hari setelah Rinjani.

Saya bangun tidur pagi-pagi dengan sekujur badan kaku dan tulang belulang remuk redam kayak habis terinjak-injak sama serombongan badak jawa. Engsel-engsel tubuh seperti mati gak berfungsi sehingga tangan dan kaki tidak bisa ditekuk. Kalau jalan... ya bayangkan saja, tangan lurus, kaki lurus, kayak robot. 

Susahnya kalau mau duduk dan berdiri lagi dari duduk, otot-otot di paha seperti tertarik semua. Sakit minta ampun. Belum lagi kulit punggung yang perih karena melepuh terbakar matahari sembalun, untung bawa kaos yang longgar jadi kainnya ga langsung kena kulit. Telapak kaki saya pun melepuh, muncul benjolan-benjolan seperti bisul yang lumayan terasa cenat cenutnya di tiap langkah. 

Tersiksa sedemikian sehingga tidak membuat saya kapok. Malahan dalam hati berharap bisa segera kembali lagi ke Rinjani yang indah. Mau kemping di pinggir danau Segara Anakan yang cantik dan bikin saya jatuh hati. Sekarang aja belum ada satu tahun berlalu, sembari nulis ini saya sembari menahan kerinduan yang membuncah.  

Saya, chacha dan pagit ada di sebuah hotel di kawasan Senggigi. Satu kamar hotel itu bau counterpain dan koyo. Selain saya yang sakit-sakit badan sehabis dari Rinjani, Pagit juga kakinya pegal akibat naik turun tangga air terjun di Senaru. Rencananya siang itu kami pulang ke Jakarta. Chacha bilang dia kayak lagi jalan-jalan sama nenek-nenek karena bau counterpain dan koyo. Mulutnya emang suka pedes kalo komentar, padahal sudah saya kasih chocolate Snickers yang sempat ikut naik turun Rinjani, belum termakan karena saya ikut operator tur hiking yang makanannya berlimpah ruah.

Setiap hari selama seminggu disana kami minum kopi Lombok, alhasil kami ketagihan. Chacha pun bertekad tidak akan meninggalkan tanah Sasak itu sebelum membeli kopi lombok yang asli, belum dikasih label oleh-oleh, dan bukan dibeli di airport. Dari hasil tanya-tanya sama resepsionis hotel dia dapat info kalau kopi lombok dapat di beli di pasar yang jaraknya lumayan dekat sama hotel. Tinggal sekali naik angkot. Sekilo kopi harganya 50ribu. Ada juga yang sudah dicampur dengan tepung jagung, harganya lebih murah, 1 kilo 25 rb.

Walaupun babak belur dan jadi bahan ketawaan chacha dan resepsionis hotel karena jalan saya kayak robot, saya gak mau ketinggalan cari kopi di pasar. 

Angkot di Lombok gak kayak angkot di Jakarta atau di bandung atau di bogor. Angkot nya semacam mobil bak pick-up yang di modifikasi ditambah penutup supaya penumpang tidak panas dan kehujanan. Otomatis tingginya juga lebih tinggi dari angkot mobil minivan. 

Berdiri dari duduk saja sudah tersiksa, PR banget harus memanjat masuk angkot. Pertama-tama saya harus berjuang mengangkat kaki saya yang sudah lupa cara menekuk itu untuk menapak di pijakan pintu masuk nya, sementara otot-otot paha saya yang nyeri harus menahan beban badan. 

Saya meringis.

Sampai di dalam pintu badan harus membungkuk supaya kepala tidak kena atap, pinggang yang rasanya kaku karena 3 hari menggendong backpack langsung bunyi kretekretek. Dan di punggung saya yang melepuh rasanya ada sekawanan semut yang gigit-gigit gemes.

Adudududududuuuuhh.

Overall, mungkin orang lain yang melihat saya masuk angkot itu kayak liat nenek-nenek tua rematik yang abis lari marathon.

Segala sakit dan perih saya tahan, saya bela-belain, demi kopi lombok. 

Pagi itu angkot dari senggigi menuju pasar yang kami tumpangi sudah berisi 1 orang nenek-nenek, 1 orang ibu-ibu paruh baya dan seorang anak gadis. Orang lokal. Tampaknya turis yang naik angkot saat itu hanya kami bertiga. Nenek yang diangkot itu dari awal saya masuk sudah ngeliatin, mungkin dalam hatinya mikir kalau ada lomba balap karung sama saya sudah pasti nenek juaranya.

Di tengah jalan angkot diberhentikan oleh seorang bapak ber helm, beliau menitipkan anak laki-lakinya yang masih kecil banget, pakai seragam sekolah SD, mungkin baru kelas 1. Si bapak menitipkan anaknya ke supir angkot dan ibu-ibu penumpang angkot untuk menurunkan anaknya di sekolahan yang berjarak beberapa meter dari situ karena di depan ada razia motor. Sepertinya si bapak tidak bawa surat-surat lengkap. 

Anak kecil itu pun melompat ke pangkuan ibu-ibu penumpang. Kemudian di sekolahan SD Negeri tak jauh dari situ supir angkot menepi. Diluar pagar ada seorang perempuan, tampaknya seorang guru, sudah menanti angkot itu. Rupanya di bapak tadi juga menghubungi guru anak ini untuk menjemput nya di depan sekolah. 

Mendekati pasar, pak supir sudah memberi aba-aba untuk bersiap-siap. Kami pun turun dari angkot memasuki pasar. Kami bertanya di deretan toko yang menjual sembako - macam beras, gula, minyak - dimana toko yang jual kopi lombok. Ibu itu bilang sebenarnya dia jual tapi sudah habis, kami dirujuk ke tiga toko sebelahnya. 

"Kebetulan masih ada, tapi hanya tinggal 2 kilo," kata ibu gempal yang mengenakan kain bawahan batik dan kaos oblong. 

"Ini kopi yang tidak dicampur kan, bu?" tanya chacha

"Asli ini dek, coba saja," kata ibu sambil mencontohkan memasukan serbuk-serbuk kopi ke dalam mulut dan memakannya, "enak, baru digiling tadi pagi."

2 kg kopi untuk bertiga masih kami rasa kurang. Maka kami masih terus blusukan ke dalam pasar sambil mencari kali aja ada toko lain yang jual kopi. Di dalam sempat ada ibu-ibu yang tanya, "mau cari apa?"

"Cari kopi lombok, bu."

"Ayo saya antar, ke belakang situ." katanya menunjuk ke arah deretan toko tempat kami beli kopi ini tadi.

"Tadi juga kami beli di sana, bu. Tapi katanya habis, tinggal ini," saya menjawab sambil menunjuk ke plastik yang dibawa.

"oo begitu. kalau begitu saya tahu tempat lain, di belakang tapi masuk kedalam,"kata ibu itu lagi sambil bisik-bisik.

Jadi ngeri karena pake bisik-bisik, kami langsung ambil ancang-ancang melipir sambil bilang,"eh tapi kayaknya ini cukup sih bu."

bhay!

hiiiihh.... tiba-tiba merinding.

Menuju pintu keluar kami tertarik dengan pedagang-pedagang makanan yang berjajar. Kelemahan kami bertiga memang sama makanan sih. Kalau ada tukang jualan makanan, atau bahkan hanya baunya saja sudah bisa bikin kami bertiga hilang fokus. Macam-macam makanan sarapan dan kue-kue warna warni di jual. Kami pun terpaku, membelalak, pengen ini, pengen itu.  Tapi kami paling tertarik dengan penjual yang sedang kipas-kipas sate, ketika ditanya dibilangnya itu sate rembiga. 

"Apa itu sate rembiga?"

"Sapi," kata penjualnya.

Kami pun langsung beli, walaupun di hotel sudah sempat sarapan nasi goreng.

Saya dan Pagit kan harus banyak makan supaya cepat pulih dari pegal-pegal. 

Di atas angkot yang ngetem di depan pasar kami mencicipi sate rembiga yang ternyata enak. Pedes Manis Gurih. Nyesel belinya kurang banyak. Tapi mau balik lagi saya mikir turun naik angkotnya yang nyiksa banget. Ah.. sudahlah. Kapan-kapan aja kalo balik lagi.

Sempat ada insiden pohon tumbang di tengah jalan sehingga angkot yang kami naiki kena macet sekitar setengah jam, menunggu pohon yang tumbang itu dievakuasi warga. 







Sabtu, 06 Juni 2015

Trekking Rinjani


Sebulan sebelum perjalanan ke Rinjani, yang saya lakukan adalah riset operator trekking. Setelah usaha ajak sana sini tidak membuahkan hasil saya memutuskan gabung dengan operator tur saja.

Konon memang biaya yang dikeluarkan relatif lebih mahal daripada kalau mendaki dengan rombongan sendiri, tapi lebih praktis karena tidak perlu menyiapkan apa-apa. Buat saya yang hanya punya waktu cuti sebentar juga lebih efektif, tinggal bawa diri sendiri dan sedikit perlengkapan pribadi. Peralatan lain seperti tenda, sleeping bag, konsumsi disiapkan oleh operator trekking.

Pilihan saya jatuh ke Rudy Trekking www.rudytrekker.com karena perlengkapan yang ditawarkan paling lengkap dan untuk ukuran naik gunung itu mewah banget. Di dalam tenda disiapkan matras dan bantal, makan tiga kali sehari ditambah snack sore. Saya sadar bahwa operator yang saya pilih memang menawarkan paket yang eksklusif.

Saya dijemput di Senggigi, komplit dengan kertas bertuliskan nama saya dan ucapan selamat datang. Tiba di basecamp Rudy trekking langsung disambut dengan ramah oleh Mas Antok dan disuguhi minuman hangat. Pembayaran dilakukan saat itu. Saya yang sebelumnya sudah menyiapkan uang  tunai karena berpikir gak mungkin di tengah hutan bias bayar pakai credit card agak shock melihat mas Antok menenteng mesin EDC. “bayar cash atau credit card?”

“Canggih banget, mas,” saya ternganga.

Dijemput di Senggigi
Perjalanan dimulai keesokan pagi, jadi malam itu saya diantar menggunakan mobil SUV double cabin sampai ke penginapan. Langsung disambut oleh pemilik penginapan - orang bule yang bahasa Indonesia nya sudah lancar. Harga paketnya memang sudah termasuk menginap semalam di hotel. Saya senang, penginapannya bagus sekali. Bangunannya dari bambu dan batu bata exposed, tempat tidurnya besar dan berkelambu. Kamar mandinya menggunakan keramik dengan warna senada  dan ada air hangat. Saya tidur nyenyak malam itu diiringi suara tokek.

Keesokan paginya saya dan 3 orang partner mendaki satu rombongan dijemput. Kami sarapan di basecamp, menunya boleh pilih roti atau pancake pisang atau keduanya. Sambil sarapan masing-masing dibagikan peralatan berupa headlamp dan sarung tangan. Masing-masing juga dipinjamkan trekking pole.

Sementara kami sarapan rupanya porter kami menyiapkan barang bawaannya, kesemuanya di angkut dalam dua keranjang anyaman yang dipikul. Menurut guide kami, Mas Antonio, masing-masing porter bisa membawa beban hingga 70kg. Porter berangkat lebih dulu dengan pick-up baru kami menyusul ke sembalun.

Bayangan saya kalau di gunung itu makannya tidak akan jauh dari makanan kaleng, mi instant dan makanan cepat saji lain. Tapi ternyata kenyataan sangat jauh dari angan, melebihi ekspektasi.

Makan siang pertama kami dibuka dengan appetizer berupa Fresh Salad dengan saus thousand island.  Sambil menunggu main course dimasak, kami disuguhi minuman kopi, teh, pulpy orange, coca cola. Main course nya Nasi ayam, tahu, tempe, sambal dan kerupuk. Ya. Kerupuk! Terakhir disuguhi potongan buah segar yang ditata cantik komplit dengan ujung nanas yang ada daunnya ditengah, persis seperti di hotel berbintang.

Fresh Salad di tengah Savana

Makan siang bergizi dan komplit

Pendaki-pendaki lain memandang kami dengan iri.

Setelah melalui penyiksaan lahir batin di Tanjakan Penyesalan, tiba di Plawangan Sembalun  tenda saya sudah siap. Saya langsung bersih-bersih dan ganti baju yang berlumuran pasir dalam tenda. Pas keluar, sudah disambut pisang goreng yang disiram susu coklat dan teh hangat. Bangku lipat sudah rapih terpasang di samping tenda menghadap matahari terbenam.

Pisang goreng di atas gunung !
Luxurious!

Setelah matahari terbenam angin bertiup sangat kencang sehingga kami semua terpaksa harus masuk tenda. Saya dapat tenda satu untuk sendiri. Makan malam berupa nasi dan soto diantar ke tenda masing-masing.

Makan malem hangat di udara Plawangan Sembalun yang dingin

Pagi hari, kopi dan roti sudah disiapkan untuk sarapan. Sepanjang perjalanan menuju danau, Mas Antonio mengeluarkan cemilan terus dari carriernya, sampai saya curiga jangan-jangan dia bukan bawa carier tapi bawa kulkas. Soalnya tiba-tiba keluarin Beng Beng, trus tiba-tiba coca cola, trus wafer, setelah itu nawarin pulpy lagi.

Di pinggir danau kami makan mewah lagi, mie goreng pakai sayur dan ayam goreng. Ditutup dengan potongan buah segar yang ditata cantik. Pendaki-pendaki lain tetap memandang iri sampai salah satu tidak tahan dan bertanya kami pakai tur apa sih?

Perut saya kenyang bukan main, padahal saya selalu minta porsi setengah dari porsi yang dikasih ke 3 orang lain, mereka kan bule makannya lebih banyak. Karena kekenyangan saya terpaksa skip makan malam di hari kedua. Benar-benar sudah tidak mampu makan. Tapi saya tetap dipaksa untuk menyimpan snack sore hari itu, 4 potong risoles, buat jaga-jaga kalau malam hari terbangun karena lapar.

Pagi hari terakhir sarapannya sangat mencengangkan. Tiba-tiba mas Antonio membawa piring-piring Burger berisi daging burger, telur mata sapi, daun selada, potongan tomat segar dan potongan acar mentimun. Kentang goreng gemuk-gemuk mengisi sela piring yang kosong. Bahkan bule-bule yang serombongan sama saya juga terkejut. Kami menikmati sarapan di tonton oleh monyet-monyet bergelantungan diwarnai semerbak bau counterpain.

Makan siang terakhir hari itu ditutup dengan spaghetti yang sudah tak bisa masuk ke perut saya lagi, jadi saya hibahkan ke porter. Baru kali ini saya naik gunung dan kekenyangan, biasanya yang ada malah berasa kurang gizi.

Kami dijemput di gerbang Senaru dengan SUV double cabin kembali ke basecamp. Pak Rudy pemilik Rudy trekker sudah menanti, bersama dengan kaleng-kaleng coca cola dingin dan handuk dingin untuk membasuh peluh.

Komentar saya, “Pak Rudy, it was fantastic. You bring luxury to the mountain.”

Jumat, 01 Mei 2015

Hopping Pantai di Lombok Selatan

Dulu saya pikir yang namanya pantai itu sama semua, batas antara darat dan laut, ada pasirnya, ada ombaknya, ada sunrise atau sunset nya. Saya salah besar. 

Ternyata masing-masing pantai punya ciri khas nya sendiri.

Dari warna pasirnya saja ternyata beda-beda, ada yang coklat muda, putih, abu-abu, hitam, bahkan ada yang pink! Teksturnya juga beda, ada yang halus banget, ada yang agak kasar, ada yang berupa serpihan, di Lombok malahan ada pasir yang bentuknya bulet-bulet kayak merica belum digerus. 

Ada pantai yang pasirnya gak mayoritas, melainkan batu-batuan, itu pun macem-macem jenisnya - ada batu karang, batu kapur atau batu - batuan raksasa yang mulus-mulus semacam di Belitung. Begitupula dari jenis ombak. Ada pantai yang ga ada ombaknya tapi ada juga yang ombaknya tinggi banget sampai 2 meter, bahkan lebih. 

Dalam satu hari melipir pantai-pantai di Lombok Selatan, singgah di 3 pantai terkenal di sana -Tanjung Aan, Pantai Mawun dan Selong Belanak - ketiganya benar-benar beda banget. 

Tanjung Aan pasirnya berwarna beige, lautnya biru jernih, pas saya disana langitnya biru cerah, ombaknya cenderung tenang, bikin jadi pengen langsung nyebur ke laut. Tapi disini rada nyebelin karena terlalu banyak orang jualan yang maksa-maksa gitu. Disana banyak yang nawarin "payung..payung..". Trus dengan polosnya saya dan pagit ngebahas kenapa kita ditawarin payung. Kesimpulan sok tau kita adalah karena panas terik jadi banyak yang nyewain payung buat orang-orang yang takut kulitnya menghitam. Ternyata belakangan kita baru tau kalau maksudnya itu nawarin kita nyebrang ke Pantai Batu Payung. Ya begitulah kalau jalan-jalan kurang riset hehee..

Tanjung Aan
Pantai Mawun pasirnya bentuknya beda, kayak serpihan-serpihan gitu. Lokasi nya masuk agak jauh dari jalan raya. Ada kejadian lucu waktu mau di pos masuk ke pantai ini. Ternyata penjaga pos pantai ini temen lama mas koko - driver kami, jadi uang yang buat bayar retribusi dibalikin dan kami melenggang gratis masuk ke dalam kawasan pantainya.

Pantainya memang ukurannya tidak terlalu luas, tapi rapi. Ombaknya besar, mungkin juga karena pas sampai disana siang-siang waktunya air laut pasang. 

Pantai Mawun

Terakhir kami tiba di Selong Belanak. Di pantai ini banyak yang kursus surfing, bikin saya jadi tergoda buat belajar surfing. Di pantai ini jadi kami cuman duduk di pinggiran sambil nontonin yang pada belajar surfing. Memperhatikan saat pemula-pemula culun berusaha naik ke atas papan dan mempertahankan keseimbang tapi terjatuh lagi dan lagi. Setelah terhempas berkali-kali dan pada akhirnya bisa bertahan di atas papan 15 detik aja saya yang nonton jadi ikut girang terbawa suasana, padahal kenal juga kagak.

Pantai Selong Belanak
Walaupun ketiga pantai itu beda-beda dan punya karakter masing-masing tapi kesemuanya punya satu kesamaan. Yaitu : Gak Bisa Dilupakan Dengan Mudah, kayak mantan terindah yang bikin susah move on.

Selalu Ingat Kamu


Minggu, 25 Januari 2015

Bumbangku Beach Cottage Lombok

Mungkin ini yang namanya panggilan hati.

Beberapa hari sebelum keberangkatan saya, chacha dan pagit ke Lombok, kami melakukan pertemuan untuk menentukan itinerary selama seminggu. Yang sudah pasti adalah selama 3 hari saya akan berpisah dengan chacha dan pagit. Kami tinggal menentukan apa yang akan kami lakukan disisa hari yang akan kami lewatkan bersama. 

Hmm.. sebenarnya kalau mau dibilang itinerary terlalu keren sih. Di hari sabtu yang cerah kami bertiga berkumpul di suatu cafe mungil di Jl. Gunawarman yang memiliki kecepatan free-wi fi yang bagus, sayangnya sekarang tempat itu sudah tutup, mungkin bangkrut. Yang kami lakukan lebih tepatnya adalah browsing tempat-tempat menarik yang mungkin kalau sempat akan kami datangi dan booking penginapan. 

Secara random kami membuka website booking hotel dan memilih lokasi yang bukan merupakan tujuan utama turis lokal yang mau ke Lombok. Itu membuat Senggigi, Gili T, Gili Nemo dan Gili air dicoret dari daftar. Menyisakan lokasi penginapan di daerah Lombok Selatan. Akhirnya kami sepakat tujuan perjalanan pencarian innerpeace kali ini akan berlokasi di sekitar Tanjung Aan. 

Dari web booking hotel itu ada dua resort yang menarik minat kami, yang satu resort bintang lima dan satu lagi resort yang dari fotonya mirip dengan resort bintang lima itu tapi dengan harga sepertiganya. Resortnya berupa rumah panggung dari bambu dengan atap yang terbuat dari alang-alang kering. Melihat namanya yang eksotis saya langsung merasakan ada semacam panggilan dari dalam hati bagaikan magnet yang langsung menarik jiwa saya untuk kesana : Bumbangku.

Bahkan dengan melafalkannya rasanya seperti sedang menyanyikan suatu nada eksotis : Bum bang ku bum bang ku bum bang ku.

Tiba di Bandara Internasional Lombok kami menunggu dan mencari jemputan dari Bumbangku, tapi ternyata tidak ada yang menjemput padahal sehari sebelum berangkat chacha sudah menelpon untuk memastikan ada yang menjemput kami di bandara. Ketika di telpon ternyata pihak cottage lupa mengirim orang untuk menjemput kami. Tak lama datang seorang pria yang mengaku kakak sepupu dari resepsionis Bumbangku yang ditugaskan menjemput kami. Kakak sepupu resepsionis itu kebetulan punya usaha rental mobil untuk turis dan kebetulan sedang mangkal di airport. 

Jalan menuju cottage sepi sekali tapi aspalnya mulus mengkilat. Hampir mendekati ujung dari jalan aspal itu, sekitar 20-30 menit kami tiba di tujuan. Tau kan biasanya kalau kita melihat foto sesuatu di internet terus lihat aslinya dan ternyata tidak seindah fotonya? Di Bumbangku tidak begitu. Aslinya bahkan lebih indah dari fotonya. Kami tiba pas siang hari saat udara cerah, langit berwarna biru muda, laut berwarna biru kehijauan berkilauan, pasir berwarna putih.

Di hari itu kami bertiga adalah tamu satu-satunya. Kami dapat tempat di cottage bambu paling depan. Seluruh bangunannya terbuat dari bambu. Di dalamnya sangat sederhana, tidak ada meja dan kursi, hanya ada 3 buah kasur di letakkan di lantainya yang dilapisi tikar bambu dan sebuah lemari cabinet kecil setinggi dada. Kamar mandi nya outdoor. Bahkan kunci pintu nya saja kalau dari dalam menggunakan palang pintu yang di sematkan. Kalau dari luar pakai gembok. Di langit-langit tampak sebuah kipas dan lampu yang menggantung. 

Saya suka sekali. 




Kami sengaja pilih kamar standar yang tidak pakai AC karena kamar yang pakai AC tidak terbuat dari bambu. Padahal kami kepingin merasakan sensasi eksotis tidur di tempat yang gak konvensional. Surprisingly, karena ga pakai AC kami pikir malam hari bakal gerah, tapi ternyata kami bertiga tidur kedinginan di dalam kamar bambu itu.

Kami makan siang di pinggir pantai, Nasi Balap Puyung yang kami take-away dari restoran di seberang bandara. Malam hari pintu kamar kami di ketok oleh staff cottage yang menanyakan apakah kami mau pesan makan malam atau tidak karena dia belum lihat kami makan malam padahal kami sudah makan mi instan seduh. Sebelum ke cottage kami juga sudah mempersiapkan diri membawa mi instan seduh karena kami pikir kalau pesan makan dari hotel harganya mahal. Ternyata tidak juga. Di Bumbangku harga makanan yang di jual di cottage nya buat saya wajar banget. 

Keesokan harinya ketika sarapan saya makan pancake yang enak banget, lembut dan fluffy. Saya berkali-kali bereksperimen bikin pancake sendiri di rumah tapi ga pernah sekalipun bisa mencapai tekstur pancake yang seperti itu. Kopi lombok juga enak banget, smooth dan tidak asam. Saya suka banget kopi yang tidak asam. Sarapan kali itu buat saya sungguh membahagiakan, sebagian karena makanannya enak dan sebagian lagi karena sarapannya setelah menyaksikan matahari terbit yang sempurna seperti di gambar-gambar anak SD. 


Dini hari kami bertiga bangun dan jalan menyusuri pantai di depan cottage. Di sebelah kiri cottage ada bukit batu yang kalau air laut surut ada gua-gua kecil yang bisa kita masuki. Tapi gua-gua itu tertutup air ketika pasang. Di hari pertama kita di Bumbangku, sore hari kami main-main di pantai yang ada gua itu. Di sebelah kanan cottage ada desa nelayan, di depannya ada pasir membentang yang bisa dilalui ketika air surut, dengan berjalan kaki melintasi itu kita bisa sampai di seberang teluk. Ketika air laut pasang hamparan pasir itu akan tergenang oleh air laut, kalau mau menyebrang teluk harus pakai perahu atau boat. Di seberang teluk ada bukit yang menurut staff hotel kalau mendekati musim hujan banyak kupu-kupu. Dan dibalik bukit itu ada pantai yang banyak digunakan untuk berselancar. 

Kami berjalan sampai di bukit kupu-kupu. Di depan bukit kupu-kupu ada hutan bakau, di antara akar-akar bakau banyak ibu-ibu dari desa nelayan yang menunduk-nunduk membawa tas dari rotan dan jala, sedang mencari-cari sesuatu. Mungkin mencari ikan-ikan yang berenang ke situ ketika arus pasang dan terjebak di rongga akar bakau ketika air surut. Saat itulah saya ikut menunduk-nunduk tapi alih-alih melihat ikan saya malah melihat pasir di situ bertekstur beda dari pasir pada umumnya. Lebih kasar dan lebih bulat seperti bearing roda di mesin mobil yang super kecil. Mungkin ini yang dinamakan orang-orang pasir merica.





Kami kembali ke cottage ketika perut mulai lapar dan air laut mulai tampak akan pasang.

Seharian kami bertiga hanya tidur-tiduran di gazeboo yang memandang lurus ke pantai. Mendengarkan musik sambil membaca buku dibuai angin sepoi-sepoi. Ketika lapar kami memesan makan siang dari restoran cottage yang diantar langsung ke gazeboo kami. Hari itu diawali dengan sunrise yang sempurna dan diakhiri dengan sunset yang juga sempurna. 

La Dolce Vita. 

Ultimate Innerpeace.



Coba kalo waktu itu sudah ada ukulele.... 

Senin, 22 Desember 2014

Seminggu di Lombok

Akhir Oktober 2014, dua tahun berlalu sejak awal rangkaian perjalanan mencari innerpeace. Selama satu minggu penuh, tepat tujuh hari - saya, Chacha dan Pagit meninggalkan hiruk pikuk ibukota yang makin memenatkan. Kami berangkat untuk menambah satu episode dalam rangkaian perjalanan mencari innerpeace - destinasi : Pulau Lombok.

Sinar matahari pagi menyapa kami bertiga yang berada dalam taksi melaju menuju bandara Soetta. Perjalanan Innerpeace ini dibuka dengan sarapan paket nasi ayam A&W, beberapa potong gorengan bakwan dan Beard Papa's Cream Puff. Keberangkatan sempat tertunda beberapa puluh menit walaupun itu adalah penerbangan pertama dan cuaca cerah. Sebagai orang Indonesia yang punya sifat dasar pemaaf dan penuh pengertian, kami bertiga hanya bergumam pasrah "yaaaah.. maklum deh, namanya juga L***"

Rencana ke Pulau Lombok ini didasari oleh niat saya untuk mewujudkan cita-cita mendaki Rinjani. Chacha memutuskan ikut ke Lombok, tapi waktu saya ke Rinjani dia ke Gili Nanggu. Kami mengajak Pagit turut serta, gayung pun bersambut. 

Kami membagi perjalanan satu minggu ini menjadi dua segmen, segmen pertama di sepakati lokasi yang dipilih adalah Lombok Selatan, segmen kedua adalah saat kita berpisah - saya ke Rinjani, Chacha dan Pagit ke Gili Nanggu. Waktu cari-cari penginapan di daerah Lombok Selatan, kami menemukan satu tempat bernama Bumbangku yang langsung menimbulkan semacam panggilan jiwa buat saya. Pertama, saya suka banget sama namanya, ga tau kenapa. "Bumbangku". Kesannya eksotis gitu. Kedua, penginapan ini adalah resort yang terletak di pinggir pantai tapi harganya terjangkau.

Melihat foto-foto nya di internet saya langsung membayangkan duduk di pinggir pantai, dibawah payung bambu beratap alang-alang kering khas Lombok saat matahari terbenam, langit berwarna kuning keemasan, sambil bermain ukulele menyanyikan lagu Cayman Island - Kings of Convenience. Ide ukulele itu langsung ditentang secara keras oleh Chacha. Padahal saya sudah mengusulkan dia buat ikut main pukul-pukul galon kosong gaya-gaya perkusi untuk mengiringi ukulele, tapi tetap saja Chacha ga setuju.




 Jadi garis besar perjalanan innerpeace kami kali ini adalah sebagai berikut, 3 hari di Bumbangku, 1 hari menyusuri pantai-pantai indah di sepanjang Lombok Selatan - Pantai Kuta, Selong Belanak dan Mawun, 3 hari di Rinjani untuk saya, 3 hari di Gili Nanggu untuk Chacha dan Pagit, terakhir menginap semalam di Senggigi sebelum kembali ke Jakarta. 

Di hari menyusuri pantai-pantai Lombok Selatan kami sewa mobil dari rekomendasi Cipu. Drivernya yang asik dan gaul bernama Mas Koko ternyata masih inget banget sama Cipu, entahlah ada apa diantara Cipu dan Mas Koko sampai berkesan banget. 

Saya mendapat kejutan ketika baru turun dari Rinjani. Saat itu jam 12 siang, saya mengabari Chacha kalau sudah turun dari Rinjani dan akan diantar ke Senggigi. Tapi chacha kemudian menelpon, mengabarkan kalau dia, Pagit dan Mas Koko sedang dijalan menuju Senaru. Rencananya mereka mau ke air terjun Sindang Gile dan Tiu Kelep sembari menunggu saya turun gunung. 

Di halaman kantor Rudy Trekker (operator tur saya ke Rinjani) mereka bertiga berhamburan keluar mobil demi buru-buru melihat kondisi saya udah sehancur apa. Raut kecewa di wajah-wajah mereka ketika melihat kondisi saya ga hancur-hancur amat. Dan dengan penuh ketegaan saya masih juga di seret untuk ikut ke air terjun. Blisters di telapak kaki saya menggigit-gigit perih di tangga menuju dan pulang dari air terjun. Walaupun begitu saya tidak menyesal karena air terjun nya indah banget, terutama yang Tiu Kelep walaupun jalan kesana nya lebih jauh dan harus nyebrang-nyebrang aliran sungai. 

Jalan menuju air terjun Tiu Kelep
Keesokan paginya saya bangun di kamar hotel di Senggigi dengan kaki yang tidak bisa ditekuk dan meruapkan bau Counterpain dari sekujur tubuh.




Kamis, 06 November 2014

Rinjani, Keindahan yang Penuh Perjuangan

Malam itu malam pertama saya di Rinjani. Saya tidak bisa tidur. Angin bertiup kencang sekali di Plawangan Sembalun dan saya yang hanya sendirian dalam tenda khawatir kalau tenda itu diterbangkan angin dengan saya di dalamnya yang kemudian akan berakhir di dalam kawah gunung berapi. Beberapa kali saya hampir terlelap, namun terbangun kembali karena tubuh saya serasa mau di jungkirbalikan oleh angin. 

***

Perjalanan yang cukup melelahkan di hari pertama saya di Rinjani dimulai pagi hari di Sembalun, sekitar 45 menit perjalanan dengan mobil dari Senaru. Driver mobil yang membawa saya, Alix, Liz dan Al, awalnya tidak mengira kalau saya asli orang lokal. Ketika saya berbicara bahasa Indonesia pak supir langsung bersenda gurau sembari memberi tips-tips untuk survive di Rinjani.

"Pokoknya apa pun yang terjadi jangan lihat ke atas, mba. Lihat saja ke bawah dan terus berjalan. Jangan pikir apa-apa, pokoknya terus saja melangkah," katanya.

Tips-tips itu kemudian saya alih bahasakan ke kawan-kawan baru saya satu tur itu. Ketika pak supir menyinggung tentang Bukit Penyesalan, saya pun mengalih bahasakan ke 3 orang turis asing itu - The Hills of Regret. 

Awalnya medan yang ditempuh tidak terlalu berat, hanya saja panas di daerah dataran savana yang menyengat itu menguras tenaga, seolah-seolah energi dalam tubuh menguap bersama hawa panas. 

Satu hari jalan sampai ke atas  gunung yang di belakang itu 

Mulai ke atas savananya mulai berkabut 

Porter Rinjani yang tangguh

Setelah makan siang medan perjalanan semakin menantang. Kombinasi jalan menanjak yang sudah mulai curam, melompati dan memanjat batu-batu besar dan terik matahari yang menyengat membuat saya ketinggalan dari 3 orang kawan bule saya. Di pos 3 ternyata saya sudah ditunggu oleh Mas Anto, guide saya. Di situ saya istirahat sejenak, karena menurut Mas Anto jalan selanjut yang ditempuh hingga sampai ke Plawangan lumayan berat.

Ternyata saya dibohongi. Jalan selanjutnya yang di tempuh hingga ke Plawangan itu berat aja ga pake lumayan. Saya rasanya sudah nyaris menghempaskan diri ke tanah dan meneruskan perjalanan dengan merayap.

Sudah 2 jam lebih berjalan tapi saya belum sampai juga. Mas Anto sudah saya minta tunggu di Plawangan saja. Udara mulai terasa dingin dan angin mulai terasa kencang, kadang hembusan angin turut menerbangkan pasir-pasir dari tanah, hingga sekujur tubuh saya dilekati oleh debu-debu pasir. Saya bisa mendengar suara angin di sekitar saya dan siulan burung-burung yang seolah-olah mengejek saya yang kehabisan napas.

"Mas, ini kita di Bukit Penyesalan ya?" tanya saya ke Mas Anto sebelum dia jalan duluan.

"hahahaa iya betul," dia malah tertawa-tawa.

"Akhirnyaaaaa.... saya menyesal juga," saya pun mengerahkan sisa napas yang saya punya hanya untuk sekedar terkekeh.

Mulai tidak kuat menahan dingin saya minggir sejenak, duduk diatas batang kayu sambil mengeluarkan sweater saya dan mengenakannya. Seorang  bapak berusia sekitar 45-an menghampiri dan duduk disamping saya. Beliau tampak mengatur napas juga. Saya sempat bertemu rombongan bapak ini, bersama kawan-kawannya berseragam sama semua, bapak-bapak semua, mereka adalah komunitas pecinta alam PT. Krakatau Steel. 

"Yang penting disiplin, dik," kata bapak itu,"coba melangkah dengan jumlah konstan, kalau  bisa 15 langkah bagus, kalau tidak bisa 10 saja cukup. Jadi, 15 langkah berhenti 5 detik, kemudian melangkah lagi 15 langkah, berhenti 5 detik. Terus begitu, niscaya akan sampai di atas."

Saya pun mencoba tips dari bapak itu. 15 langkah, berhenti 5 detik, kemudian lanjut lagi 15 langkah. Saat itu saya belajar bahwa mendaki itu tidak sekedar kekuatan fisik tapi juga keteguhan dan konsistensi. Akhirnya saya sampai juga di Plawangan Sembalun, sekitar jam 5 sore, matahari masih belum terbenam.

Saya sempat berbincang dengan Bapak dari pencinta alam KS itu di pinggir Plawangan sebelum berjalan lagi ke arah dimana tenda saya didirikan. Sampai di tenda, Alix, Liz dan Ali sudah santai-santai sambil makan pisang goreng dan minum teh. Setelah membersihkan debu-debu pasir yang menempel di tubuh dan ganti baju di dalam tenda, saya bergabung dengan mereka. Tidak lama matahari terbenam dengan indahnya di seberang danau Segara Anak yang tampak di bawah.

Matahari Terbenam dari Plawangan Sembalun


***

Dari luar tenda saya merasa ada yang memanggil-manggil nama saya, Mas Anto. Saya pun segera membuka resleting tenda, angin dingin menyeruak masuk membuat saya menggigil. Mas Anto menjelaskan bahwa karena angin terlalu kencang maka dia tidak berani ambil resiko untuk membawa kami ke puncak Rinjani. 

Saya lihat jam di ponsel saat itu menunjukan pukul 2 dini hari. Saya sudah tidak bisa memejamkan mata lagi, selain angin kencang yang seolah-olah masih berusaha menerbangkan tenda, saya kebelet buang air kecil. Operator tur saya, Rudy Trekker, sebenarnya menyediakan tenda toilet tapi saya takut keluar tenda sendirian di malam gelap dan berangin seperti itu, takut kebawa angin ga ada orang yang lihat.

Jam 5 lewat baru saya berani mengintip ke luar tenda, langit mulai terang. Saya pun buru-buru lari ke tenda toilet dan menuntaskan hasrat yang terpendam sejak beberapa jam sebelumnya. Setelah itu saya menunggu matahari terbit di depan tenda saya. Ketiga kawan baru saya baru keluar tenda mereka setelah matahari sudah bulat sempurna melayang diatas hamparan awan. 

Matahari terbit dari Plawangan Sembalun

Puncak Rinjani
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan rombongan lain, ternyata hari itu tidak ada satu pun yang naik ke puncak. Ada satu rombongan yang mencoba, tapi baru jalan beberapa ratus meter sudah kembali lagi karena tak kuat menerobos angin. 

Setelah sarapan kami meneruskan perjalanan turun ke Danau Segara Anak. Perjalanan turun memang menantang karena harus melewati bebatuan dan jalan terjal berpasir. Tapi setelah melewati bagian terberat nya yang curam kami seperti masuk ke alam mimpi, sabana luas yang kehijauan dibatasi deretan pohon pinus dikejauhan. Begitu saya melihat ke belakang tampak tebing yang baru saja kami turuni, ternyata tinggiiii hahaha.

Jalan dari Plawangan Sembalun ke Segara Anak

Saya ikut ke pemandian air panas yang ada tidak jauh dari Segara Anak, sebenarnya saya pun sudah pakai baju renang, tapi begitu lihat tempat pemandiannya ramai dan tidak ada tempat tersembunyi saya pun urung melepaskan baju dan berendam. Akhirnya saya pamit ke guide saya mau ke Segara Anak saja.

Saya pun duduk di pinggir danau Segara Anak yang cantik sekali sambil merendam kaki di airnya yang sejuk.

Segara Anak
"Target kita hari ini sampai di Pos 3," kata Mas Anto setelah kami menyelesaikan makan siang dan bersiap mau pergi lagi.

Saya curi-curi start jalan duluan sementar ke-3 orang bule itu masih mau berenang di danau segara anak. Saya tau pasti kalau di jalanan yang tanjakannya curam saya pasti ketinggalan langkah sama bule-bule yang tinggi-tinggi dan porsi makannya dua kali porsi makan saya. 

Eh benar saja. Sudah pake curi-curi start tetap saja mereka bertiga bisa nyusul saya ketika sedang manjat-manjat batu menuju Plawangan Senaru. Alhasil saya ketinggalan lagi. Saya tiba di Plawangan Senaru jam setengah 5, bule-bule itu sudah tidak ada disana. Sementara itu guide kami Mas Anto menemani saya yang ketinggalan di belakang. Kami meneruskan perjalanan dari Plawangan Senaru menuju Pos 3, dimulai jam 5 sore dan sampai di Pos 3 jam 7 malam lewat. Alix, Liz dan Al baru selesai makan malam, berselimut sleeping bag mereka di Shelter Pos 3 sambil mengoles kan salep muscle pain reliever di kaki mereka. 

Malam itu saya tidur dengan nyenyak tanpa merasa takut diterbangin angin seperti malam sebelumnya.

Paginya kami mulai perjalanan dari Pos 3 menuju Desa Senaru. Saat itu karena saya tidak menggunakan sepatu hiking, kaki saya mulai terasa lecet dan melepuh, mungkin akibat menahan beban di jalanan menurun yang curam dan berpasir hari sebelumnya. Belum lagi bagian paha saya nyeri akibat manjat-manjat batu. Jadi di senaru tetap saja saya ditinggal sama bule-bule itu. Seorang porter ditugasi menemani saya yang tertinggal di belakang. Tapi kali ini selisih saya dan ketiga bule itu sudah tidak jauh, hanya beda beberapa menit saja, karena mereka juga sudah pada mengeluh "all my body hurts". 

Saya berhasil tiba di gerbang senaru jam 12. Makan siang terakhir kami di Rinjani adalah Spagetti, tapi saya tidak mampu menghabiskan nya, karena masih kekenyangan sama burger dan kentang yang merupakan menu sarapan kami. Ya, makanan yang di masakin porter nya Rudy Trekker memang canggih-canggih semua, kayak di restoran. 

Babak belur tapi sampai juga di finish line

Setelah makan kami masih jalan sekitar 20 menit menuju mobil SUV yang menjemput kami dan mengantarkan kami kembali ke kantor Rudy Trekker. Alix, yang kelihatan sangat kepayahan melihat ada motor di parkir di tempat kami makan siang dan dia pun menanyakan ke Mas Anto apa bisa minta diantar sama motor itu karena sudah tidak kuat jalan lagi.

Mas Anto nyengir-nyengir sambil menjelaskan kalau itu motor pribadi bukan ojek. Dengan penuh keputus-asaan Alix pun berkata, "I'll Pay."

Tapi tetap saja pada akhirnya Alix pun harus menyeret kaki nya yang kaku menyusuri jalan menurun landai selama 20 menit. *puk puk Alix*


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...