Tampilkan postingan dengan label Saudi Arabia - Madinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saudi Arabia - Madinah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juli 2015

Gunung Uhud

Salah satu lokasi yang dikunjungi dalam rangkaian ziarah umat muslim ke tanah suci adalah pegunungan yang terletak tidak jauh dari kota Madinah ini, Gunung Uhud.  Tempat ini adalah tempat terjadinya salah satu perang yang sangat penting dalam sejarah Islam, yaitu Perang Uhud. Dalam peperangan ini ceritanya Kaum Quraisy dari Mekkah mau menyerang Kaum Muslimin yang pada saat itu sudah hijrah ke Madinah.

Perang Uhud terjadi setelah Perang Badar, salah satu peristiwa perang yang penting lagi dalam Sejarah Islam. Peristiwa ini tepatnya terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 2 Hijriah. 1,433 tahun sebelum saya ada kesempatan berkunjung ke tempat yang sama, nyaris 1.5 abad. Jadi jaman sekarang kalau ada yang alasan gak kuat puasa karena banyak kerjaan, malu lah sama Kaum Muslimin 1.5 abad yang lalu, lagi perang aja puasa. 

Dalam Perang Badar, Kaum Muslimin yang awalnya berencana menghadang rombongan pedagang dari Mekkah yang mau melewati jalur Madinah terkaget-kaget karena Kaum Quraisy telah mempersiapkan pasukan yang terdiri dari 1000 orang untuk berjaga-jaga kalau rombongannya diserang Kaum Muslimin. Sementara itu pasukan dari Kaum Muslimin hanya 313 orang.

Waktu jaman itu memang ada ketegangan antara Kaum Quraisy Mekkah dan Kaum Muslimin yang asalnya juga dari Mekkah tapi di bully dan diusir oleh Kaum Quraisy Kafir sehingga terpaksa hijrah ke Madinah, dipimpin oleh Rasulullah SAW. Dan jaman-jaman itu memang acara serang-serangan antar musuh gitu wajar, bukan hanya terjadi di daerah Arab, tapi di seluruh belahan dunianya jaman itu. Dalam Perang Badar itu Pasukan Muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah SAW menang telak terhadap Kaum Quraisy Mekkah.

Perang Uhud terjadi setahun setelah Perang Badar. Setelah kemenangan Kaum Muslimin di Perang Badar, Kaum Quraisy khususnya para pedagang jadi makin risau karena jalur perdagangan mereka melewati jalur Madinah yang dikuasai Kaum Muslimin. Maka Kaum Quraisy pun mulai mengatur strategi dan menghimpun kekuatan untuk melakukan serangan balasan, sekitar 3000 orang dan 1000 unta. 

Kaum Muslimin menyiapkan strategi pertahanan di Gunung Uhud. Pada saat itu Rasulullah SAW menempatkan 50 orang pemanah di satu bukit dan berpesan bahwasanya apa pun yang terjadi dengan rekan-rekan mereka dalam peperangan itu, entah menang atau kalah, para pemanah itu harus tetap di tempatnya. Tidak boleh beranjak. 

Tapi ketika saat itu posisi Pasukan Muslimin sempat berada di atas angin, sebagian Pasukan Quraisy mulai berbalik arah, di atas bukit para pemanah mulai berdebat. Sebagian beranggapan kalau mereka sudah menang jadi sudah boleh turun, sebagian bersikukuh menaati pesan Rasulullah SAW sebagai pimpinan / komandan bahwa mereka tidak boleh beranjak dari tempatnya walaupun pertempuran menang atau kalah.

Ketika sebagian pemanah turun bukit, Kaum Quraisy kembali berbalik lagi dan langsung menyerang bukit pemanah yang merupakan basis pertahanan Kaum Muslimin. Seketika itu Kaum Muslimin harus menderita kekalahan dalam Perang Uhud, banyak yang gugur termasuk para sahabat-sahabat Rasulullah SAW, yang langsung dimakamkan di lokasi itu.

Jadi dalam sejarah itu bukan hanya kemenangan yang harus dicatatkan untuk dikenang. Kekalahan yang dicatatkan dalam sejarah malahan menjadi suatu pelajaran penting yang bisa diambil hikmahnya oleh orang yang tidak mengalami sendiri. Kalau dalam konteks Perang Uhud pelajaran yang bisa diambil adalah kalah perang yang terjadi karena sebagian pasukan tidak menaati perintah pemimpin nya. Mungkin saat itu mereka juga belum mengerti jalan pikiran pemimpinnya dan kenapa mereka diberi perintah seperti itu. Pelajaran yang bisa diambil ya masalah kepatuhan terhadap pemimpin dan kesabaran menunggu. 

Skema Perang Uhud dari buku yang saya beli di Arab

Gunung Uhud dari jauh, paling depan bukit tempat para pemanah

Papan di pagar Makam Kaum Muslimin yang gugur dalam Perang Uhud

Bukit tempat para pemanah, ramai oleh pengunjung

View dari atas bukit

Kalau menurut saya bisa dilihat dari sudut pandang lebih luas lagi. Yang bisa dipelajari dari peristiwa Perang Uhud adalah kepatuhan Umat Muslim (bahkan sampai jaman sekarang) kepada Rasulullah SAW yang menyampaikan ajaran dan larangan dalam Islam. 

Dari kecil kan kita diajarkan, di likungan kita, di rumah maupun di sekolah tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan dan tentang hal-hal yang harus dilakukan sesuai dengan agama. Banyak yang masih jadi pertanyaan, kenapa sih gak boleh? Tapi mungkin lebih baik kalau....Ya ikutin aja dulu.

Saya jadi ingat dulu waktu pernah jalan-jalan sendirian di Thailand, di minivan antar kota sempat ngobrol-ngobrol sama seorang bule Amerika yang bertanya (setelah dia tahu saya muslim) kenapa saya gak makan babi. 

Waktu itu saya jawab, ya jujur aja saya ga makan babi karena dilarang oleh agama saya. Karena dengan gak makan itu saya gak merasa ada kerugiannya dan gak mati ya gak ada salahnya kalau saya menurutinya. 

Saat itu bisa aja saya mengajukan argumen gak makan babi karena penyakit-penyakit apalah itu, tapi pasti orang itu akan membantah kalau dijaman modern ini bisa dihindari dengan teknologi dan cara masak yang benar bla bla bla. Argumen yang gak akan ada habisnya karena saya yakin tidak ada satupun diantara kita yang ahli soal perbabian dan mengerti dengan yang kita omongin. Sama kayak soal berdebat tentang kepercayaan yang berbeda, buat saya itu mah buang-buang waktu. Kayak berdebat tapi yang satu ngomongin Gajah dan yang satu ngomongin Badak. 

Jadi saya hanya jawab, ya karena dilarang. Kalau ditanya kenapa, saya belum tau jawaban pastinya. Sama kayak anak kecil yang main-main dijalanan terus dimarahin sama orang tuanya, anak itu pasti belum paham soal ditabrak mobil walaupun dijelasin panjang lebar karena anak kecil belum pernah melihat kejadian gitu dan belum ngerti akibatnya. Yang mereka tahu hanya gak boleh main dijalanan. dengan bertambahnya usia dan pengetahuan mereka, akhirnya mereka baru mengerti kenapa gak boleh main dijalanan.

Sama kayak ada yang pernah tanya sama saya, kenapa sih harus puasa? Saya gak jawab dengan lagu Bimbo, ada anak bertanya pada bapaknya buat apa berlapar-lapar puasa. Saya juga gak jawab dengan berbagai teori kesehatan yang menyatakan bahwa berpuasa sebulan itu ternyata baik untuk kesehatan karena jadi semacam detoks. 

Saya bisa aja bilang kalau dengan ngerasain lapar trus gak bisa makan saya jadi merasa lebih humble dan jadi hesitate dengan kebiasaan beli makanan berlebihan trus tidak menghabiskannya. Dengan mengenal rasa lapar saya jadi lebih empati terhadap banyak orang-orang yang gak seberuntung saya karena buat mereka rasa lapar bukan hanya ketika bulan puasa. 

Bisa aja saya bilang dengan puasa saya belajar buat tidak mengumbar-ngumbar emosi, ya bukan nahan sih sebenarnya, kalau laper dan lemes ya mana ada energi buat marah-marah, jadi terpaksa mengalah dan sadar ternyata dengan mengalah sedikit gak ada salahnya kog, malahan bagus hemat energi.

Tapi saya gak bilang panjang lebar kayak gitu. 

Waktu saya ditanya kenapa harus puasa, saya cuma jawab, ya karena wajib puasa buat agama saya. Karena buat saya apa pun yang saya bilang tentang efeknya puasa buat saya gak akan ada gunanya kalau orang lain gak bisa melihatnya sendiri dari perilaku saya sehari-hari. Dan kalau orang sudah bisa melihatnya dari perilaku sehari-hari, gak perlu diomongin lagi kan?






Selasa, 14 Oktober 2014

Jabal Magnet

Jabal adalah bahasa Arab untuk kata 'Bukit', jadi Jabal Magnet itu adalah bukit magnet, lokasinya berada tidak jauh dari pusat kota Madina. Di bukit yang mengandung magnet itu, ada sepotong jalan yang bila dilalui oleh kendaraan bisa melaju sendiri tanpa nyalain mesin karena di tarik oleh gaya magnet yang terkandung dalam bukit itu. Prinsipnya mungkin mirip kereta cepat Shinkansen Jepang. 

Memasuki jalan bermedan magnet dipasang papan penanda. Supir mobil sewaan kami kemudian mematikan mesinnya. Dalam bahasa Arab - yang selanjutnya di terjemahkan oleh Om saya, supir menjelaskan bahwa dia sudah harus menginjak rem nya di area tersebut kalau tidak mau mobilnya jalan sendiri.

Setelah mesin mati, rem perlahan dilepas, kami di dalam mobil merasakan mobil itu benar-benar melaju kencang. Menurut sang supir pun kakinya masih harus menginjak rem untuk mengendalikan kecepatan, itu pun kami melaju dengan kecepatan hampir 100 km/jam.

Setelah beberapa km melaju tanpa bantuan mesin kami tiba di end of the road (kalo pinjem istilah dari Boyz II Men). Konon kata supir kalau kita terusin jalan lurus-lurus aja bisa sampai di Irak. Masih pinjem istilah Boyz II Men, setelah end of the road ada water runs dry. Di ujung jalan itu hanya gurun belaka. Tampak beberapa turis wisata magnet, sebuah mobil penjual es krim dan petugas kebersihan yang sedang menyapu gurun. 

Foto dari dalem mobil pas lagi jalan tanpa mesin

Bersih-bersih gurun

Mobil Jual Es Krim

Turis-turis wisata magnet

Makan Es Krim di tengah gurun - Priceless

Rabu, 23 Juli 2014

Nenek Tikungan

Sebelumnya, ini bukan cerita horor dan tidak ada hubungannya sama film Nenek Gayung walaupun ada bumbu-bumbu misteri nya. Saya tidak  tahu nama nenek ini, tapi karena setiap sore saya hampir selalu melihatnya berdiri di tikungan exit toll Jatiwaringin ke arah Pondok Gede, saya menyebutnya dengan nama Nenek Tikungan. 

Nenek ini perawakannya kurus dan kecil. Gaya berpakaiannya setiap hari selalu sama, daster tipis, blazer kegedean dan jilbab yang model langsung pake kayak mukena gitu, ga tau apa namanya. Nenek ini belum lama ada di tikungan itu, mungkin sekitar 2-3 tahun. Di awal kemunculannya nenek itu berkulit terang dan bersih, wajahnya juga ga jelek-jelek amat sih. Saya yakin waktu mudanya lumayan manis karena udah tua aja masih kliatan bentuk mukanya mungil, hidung mancung dan bibir tipis. 

Setiap sore nenek itu berdiri di pinggir jalan memegang gelas bekas air mineral. Nenek itu tidak pernah pasang muka minta dikasihanin kayak kebanyakan pengemis di jalanan yang sengaja pakai baju compang camping, malahan pura-pura cacat dan pasang muka memble mau nangis. Nenek itu mengharapkan sumbangan dari pengendara mobil yang lewat di jalan itu dengan gaya berkelas, berpakaian rapi dan tidak memelas. Nenek itu melakukannya dengan gaya sophisticated.  

Selang beberapa bulan nenek tikungan itu kulitnya mulai tampak gelap dan kumal, tapi pakaiannya tetap sama, daster dibalut blazer dan jilbab yang tidak pernah terlihat compang-camping walaupun bukan baju bagus. Belakangan nenek itu sering tampak berdiri dengan wajah yang lebih pucat dari hari-hari yang lain dan terbatuk-batuk. 

Tahun lalu di hari Jum'at, saya dan Chacha lagi duduk-duduk di Masjid Nabawi, Madinnah menunggu waktu sholat. Kemudian datang di sebelah kami rombongan perempuan-perempuan mengenakan abaya hitam yang menandakan rombongan dari daerah Arab dan sekitarnya. Di sebelah saya duduk seorang nenek, kecil mungil. Nenek itu ngeliatin saya, trus saya senyumin. Nenek itu nunjuk-nunjuk hidung saya sambil bicara dengan bahasa arab yang saya artikan dengan bahasa kalbu nanya asal saya dari mana. 

Saya menjawabnya, "Indonesia." 

Nenek itu kemudian bilang," Yaman? Yaman?" masih nunjuk-nunjuk hidung saya.

Di Madinah kalau lagi jalan di toko-toko, saya dan Papa Said memang suka diteriakin Yaman. Mungkin karena mereka lihat tipe wajah saya begini, kemudian liat gaya pakaian saya yang jamaah Indonesia banget. Nah karena tipe muka kayak saya dan Papa Said yang banyak di Indonesia itu adalah dari keturunan orang Yaman maka mereka langsung menebak kayak gitu.

Dengan bahasa Arab sepatah-patah yang saya gabung dari penggalan-penggalan kata yang saya tau saya berusaha menjelaskan kalau, iya memang kakek saya dari yaman, tepatnya dari Hadramut.

Eh tiba-tiba tu nenek langsung memeluk saya terus mengusap-ngusap kepala. Parahnya lagi dia mulai nyerocos ngomong panjang lebar bahasa Arab, saya cuman bisa ngeliatin sambil nyengir. Chacha duduk disebelah saya dengan muka ngantuk-ngantuk cuman ngelirik ga minat ketika saya melihatnya dengan tatapan minta tolong, "sukurin lo kak, lagian cari gara-gara sok ngomong arab. Gw ga ikut-ikut," katanya acuh tak acuh.

Nenek itu masih terus berbicara panjang lebar, asik bercerita. Saya memasang muka 'seolah-olah mengerti' sambil mengangguk-angguk.

Saya diselamatkan oleh Adzan yang berkumandang. Nenek itu langsung menarik lengan saya untuk merapatkan barisan dengan perempuan-perempuan dari kelompoknya. Bahkan ketika ujung bawah kain mukena saya tertiup angin dan ujung jempol saya yang terbungkus kaus kaki tipis tersingkap, nenek itu menginjakan ujung kakinya di atas ujung jempol saya untuk menutupinya dengan kain abayanya. Ketika selesai sholat dan mau bersiap meninggalkan Masjid, saya dan nenek misterius itu mengucapkan perpisahan, nenek itu masih memeluk saya sambil berkata berulang-ulang, "Barakallah, Barakallah."

Selepas kepergian nenek itu dan rombongannya saya dan Chacha cuman bisa liat-liatan. 

Klimaks dari cerita ini adalah ketika saya sudah kembali di Jakarta, ketika di jalan pulang dari kantor menuju rumah saya melewati tikungan tempat Nenek Tikungan biasa berdiri kemudian saya tersentak tidak percaya. Ketika saya lihat wajah Nenek Tikungan itu mirip sama Nenek yang saya ketemu di Nabawi waktu hari Jum'at itu. Saat itu saya pengen nangis, antara berasa aneh dan merinding. Sejak Nenek itu mulai berdiri di tikungan itu saya merasa tertarik untuk bersedekah sama si nenek karena profilnya. Saya ga pernah kepikiran bakal ketemu nenek yang mirip Nenek Tikungan di Arab yang mem- Barakallah - in saya di halaman Masjid Nabawi waktu hari Jumat. 

Ga tau itu pertanda atau kebetulan, yang jelas buat saya ini adalah peristiwa yang bikin merinding dan misterius, yang entah kenapa buat saya kayak semacam pembenaran dalam diri bahwa Tuhan itu tahu apa yang kita perbuat walaupun orang lain ga ada yang tau dan Dia punya caranya sendiri untuk 'menyentuh' hati kita di saat kita ga akan pernah bisa menduganya.

Selasa, 30 Juli 2013

Lebih baik dapat Kurma daripada dapat Karma

Banyak yang bilang kalau di Tanah Suci itu musti hati-hati sama perilaku dan ucapan, gak boleh sembarangan karena niscaya cepet dapet balesan disana. Jangankan yang dilakukan disana, banyak juga kan kita denger cerita orang-orang pulang dari melaksanakan ibadah Haji yang intinya apa yang di tanam di kehidupan sehari-hari itu yang bakal dituai disana.

Percaya gak percaya tapi saya sudah buktikan sendiri.

Ceritanya musti dari awal banget, supaya ga bingung.

Saya, Chacha dan Papa Said berada dalam rombongan umroh yang berjumlah sekitar 20-an orang. Hampir setengah dari anggota rombongan itu masih saudara Papa Said. Jadi mulai di hari pertama kita kumpul bareng-bareng sekeluarga itu. Tapi ada satu peserta yang ikut umroh sendiri, bapak-bapak dari daerah Jawa yang bahasa Indonesia nya kurang lancar.

Dari pertama muncul bapak itu mengenakan handuk kecil warna pink dilingkarkan di lehernya. Mulai berangkat dari Jakarta hingga tiba di Madinah. Ketika pembagian kamar hotel, bapak itu dapat satu kamar dengan salah satu famili Papa Said, sejak itu kemana-mana bapak itu ikut sama kita-kita. Hari kedua, bapak itu masih konsisten dengan handuk pink nya di leher. Kemudian salah satu om saya berinisiatif memberinya selendang kotak-kotak yang suka dipake orang arab itu, katanya untuk menggantikan handuk pink nya yang belel itu. "Mulai besok jangan pakai-pakai handuk lagi, dosa," kata om saya itu. Kita semua yang denger pun ketawa.

Dari Madinah kita menuju ke Mekkah. Di Mekkah sekeluarga Papa Said dapat semacam paviliun yang berisi 4 kamar. Plus bapak dari Jawa itu - yang kini sudah diganti namanya jadi Abdullah dan dikasih marga Al-Katiri sama om saya, ikut di dalam paviliun itu. Letak paviliun itu di lantai paling atas hotel yang kita tempati dan sepertinya punya manajemen terpisah dengan hotelnya walaupun berada di satu gedung. Kita tiba di Mekkah hampir tengah malam, saat itu di dalam kamar kita tidak ada handuk. Karena sudah malam, hotelnya menjanjikan akan mengantar handuk keesokan harinya.

Esok harinya ditunggu, handuk tidak datang-datang. Celakanya karena menganggap tinggal di hotel jadi kita gak bawa handuk dari rumah. Pihak penyelenggara travel pun ikut repot memintakan kita handuk ke hotel, tapi hari itu tetap tidak ada handuk yang datang. Begitu pula keesokan harinya. Saya terpaksa mengeringkan badan dengan kaos. hiks. 
 
Hingga di malam hari, di hari kedua itu Chacha menyadari jangan-jangan kita gak dapet handuk gara-gara di madinah kita ngetawain bapak itu pake handuk pink kemana-mana.

Tiba-tiba ada suara pintu di ketuk. Handuk pun datang.
 
Sehari sebelum pulang, ketika kita lagi di Gua Hira, Papa Said ngobrol-ngobrol sama bapak itu yang menggunakan bahasa Indonesia sepotong-potong dicampur bahasa Jawa. Ternyata di kampungnya, bapak itu termasuk salah satu orang yang berpengaruh, semacam tetua kampung gitu. Bapak itu juga ternyata seorang juragan yang punya lahan kebun luas banget. Saat itu juga kita denger dia telepon ke anaknya di kampung untuk menyiapkan acara penyambutan kepulangannya pake acara potong sapi segala. 

Walopun sekarang kalo diinget-inget, saya dan Chacha malah jadi ketawa ngakak gara-gara pengalaman itu, ya tetep aja gak enak dapet karma kayak gitu. Meningan juga dapet kurma. 

Kebon Kurma

Kurma belom mateng di pohon

Toko kurma boleh cobanin all you can eat

Jajan Kurma

Minggu, 14 Juli 2013

Minum Susu Unta

Dalam bus yang membawa rombongan umroh saya dari Jeddah menuju Madinah, melalui jendela yang saya lihat kanan kiri hanya pasir, batu-batu dan bukit-bukit batuan. Tidak ada pohon-pohon rindang, tidak ada pegunungan yang tampak hijau dari kejauhan, tidak ada aliran sungai yang sesekali membelah jalan raya di bawah jembatan. Hanya batu dan pasir. Dan serpihan debu-debu pasir yang terangkat oleh angin, berterbangan di atas permukaan aspal yang mulus. Ada sih jumputan-jumputan semak yang tersebar jarang-jarang di atas permukaan pasir, tapi itu tidak membantu mengurangi kesan tandus dan kering.

Di bawah langit yang biru cerah tanpa awan segalanya tampak stagnan, kosong dan luas. Di tengah-tengah hamparan pasir itu tampak sekumpulan hewan bergerak-gerak. Unta. Asli. Komplit sama punuk-punuknya. 

Ternyata nasib baik, saya tidak hanya bisa melihat Unta-unta itu dari dalam jendela bus saja. Di suatu hari ketika lagi di Madinah, rombongan diajak jalan-jalan ke peternakan Unta. Konon katanya Unta itu adalah hewan yang paling penurut dan jinak. Bahkan saat Hari Raya Kurban, unta yang jadi kurban akan dengan pasrah menyerahkan dirinya untuk disembelih tanpa ada acara berontak-berontak. 

Tapi hal itu gak terjadi ketika saya mau berusaha berfoto sama anak unta yang lagi sama ibunya. Si anak unta itu kabur-kabur waktu saya ajak foto bareng. Saya kejar, eh dia malah ngumpetin muka di balik ibunya. Kayaknya unta abg kelakuannya sama kayak manusia abg yang ogah di foto, soalnya adek saya yang abg suka susah gitu kalo mau diajak potoan. 

Kandang Unta

Unta Cantik yang Putih

Ngejar anak unta

Tetep gak mau di foto

masih banyak lagi untanya

Ruang tamu nya suku Bedouin
Suku yang beternak unta ini namanya suku Bedouin, sebenarnya jaman dulunya mereka hidup nomaden, sekarang sepertinya sudah berkurang ke-nomadisannya. Tapi mereka tetap tinggal di dalam tenda yang gak permanen gitu. Walaupun begitu mereka kelihatannya sudah mengembangkan konsep living room pake sofa dan tea table, tapi tetep di outdoor. 

Kita bisa mencoba susu unta fresh yang baru di peras, di masukan ke dalam botol bekas air mineral kecil, seharga 5 real. Rasanya lebih "rich" dari susu sapi, lebih kental dan lebih gurih. Enak. Coba waktu kecil saya sering dikasih susu unta begini, pasti gedenya tinggi kayak unta yak.

Rabu, 10 Juli 2013

Mendadak Umroh

Kadang sampai sekarang kalau lihat-lihat foto saya di depan Ka'bah, saya masih berasa itu mimpi. Soalnya perjalanan umroh saya ini bukan perjalanan yang direncanakan setahun sebelumnya atau bahkan hitungan bulan. Hanya hitungan waktu 2 minggu Papa Said memutuskan untuk mendaftar perjalanan Umroh, ikut dengan travel tempat salah satu om saya bekerja.

Waktu itu paspor saya dan Chacha yang expire bulan Oktober 2013 sudah tidak bisa digunakan untuk perjalanan luar negeri lagi karena sudah lewat batas waktu 6 bulan sebelum waktu kadaluarsa paspor. Dibantu sama travel penyelenggara umrohnya, kita berdua dibantu memperpanjang paspor express, sehari jadi. Kemudian langsung digunakan mengurus visa umroh.

Visa belum di dapat, tapi kita sudah di suruh suntik Meningitis - vaksinasi untuk menambah daya tahan terhadap virus yang menyerang otak. Harusnya kita sudah harus di vaksinasi 2 minggu menjelang keberangkatan, tapi waktu itu karena mendadak ya kita disuntik kurang dari 2 minggu menjelang keberangkatan.

Soal keberangkatan pun masih galau, karena kita belum punya tiket. Sementara itu saya juga sedang siap-siap untuk trip ke Pulau Komodo yang tiket JKT-DPS pulang-pergi-nya sudah ditangan sejak beberapa bulan sebelumnya. Kalau dari jadwal travel nya, saya berangkat ke Arab hanya beda waktu 2 hari dari kepulangan saya dari Pulau Komodo. Jadi bener-bener saya tidak ada persiapan apa-apa berangkat umrohnya. Buku panduan umrohnya aja baru say abaca sepulang saya dari Pulau Komodo, jadi masih pakai sistem kebut semalem a la anak SMP yang mau ulangan umum.

Ketika saya sedang di Pulau Komodo, Visa Umroh dari kedutaan Saudi Arabia sudah menempel manis di paspor, tapi kita bertiga - Saya, Chacha, dan Papa Said masih belum punya tiket. Katanya karena saat kita mau pergi itu waktu yang ramai buat orang-orang pergi umroh jadi susah dapat tiketnya. Sehari sebelum berangkat, malam-malam ketika dijalan pulang kerumah dari kantor, saya dan Chacha baru dikabari bahwa tiket sudah didapat dan kita berangkat umroh keesokan harinya.

Malam itu pun kita packing.

Pagi hari nya saya dan Chacha masih ke kantor, membereskan beberapa urusan di kantor. Oh iya, kalau belum pernah saya mention sebelumnya, saya dan Chacha - adik saya, bekerja di satu kantor. Waktu itu kebetulan ada Pagitta juga lagi "magang" di kantor kita. Jadi saya sangat bersyukur, disaat harus meninggalkan kantor dalam jangka waktu lama ada Neng Pagit yang bersedia menggantikan saya. Hatur nuhun ya, Neng Pagit.

Kita berangkat ke Bandara Soekarno Hatta pakai batik seragam (dan saya tetap dengan tas bekpek), dari kantor. Menjelang malam hari baru kita bertolak dari Jakarta menuju Dubai untuk transit, menggunakan pesawat Emirates. Pagi hari kita tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Langsung naik bus menuju Madinah.

Bandara King Abdul Aziz

Masjid Nabawi, Madinah

Orang-orang bilang kalau ke Tanah Suci itu adalah orang yang dapat "panggilan", tapi saya ga pernah menyangka kalau panggilan buat saya model instant begini. Mungkin ini sentilan, karena saya udah kemana-mana dan masih punya mimpi ke Eropa tapi belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Makanya jadi langsung deh saya diseret buat melapor ke markas besar Nya dulu, sebelum lanjut kemana-mana lagi.

Tapi selama disana itu berkesan banget, bisa melihat sendiri yang selama ini cuman saya baca di buku-buku, yang dijelasin dari kecil pas pelajaran agama, yang saya lihat di tivi setiap tayangan langsung Sholat Ied. Saya bahkan sempat pergi ke Goa Hira, tempat Nabi Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu, itu saya bener-bener takjub sampai merinding. Begitu pula ketika dari atas Masjidil Haram saya melihat arus manusia berputar mengelilingi Ka'bah, itu juga tiba-tiba saya merasa takjub banget sampai-sampai gak berasa udah mengeluarkan air mata terharu. Pesona dan kemegahannya membuat saya terpukau. Baru kali itu saya spechless dan hanya kepikiran satu kata buat mendeskripsikan semua itu. Subhanallah.

Masjidil Haram. Lagi ada renovasi perluasan Masjid jadi ada crane2 dibelakangnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...