Tampilkan postingan dengan label Australia - Melbourne. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia - Melbourne. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Desember 2013

Photo Blog: Last Day in Melbourne

Hari terakhir saya di kota ini, saya diajak jalan-jalan sama Diena. Ngopi di Degraves Street, beli souvenir di Victoria Market dan jalan-jalan di taman melihat orang-orang olahraga mendayung. Kali ini saya gak akan banyak cerita deh, enjoy aja the pictures seperti saya enjoy the city.

Autumn in Melbourne

abis belanja suvenir di Victoria Market, dapet tas gratis dari mba tokonya

Ga cuman jualan suvenir, di Victoria market jualan buah juga

Flinders, ga tau kenapa saya suka banget sama bangunan stasiun ini

Bangunan modern di seberang Flinders station

Ga tau ini gedung apa tapi diena & cipu dua2nya maksa saya foto di sini

with diena 

Gedung yang majang kesenian kontemporer - masuknya gratis

Polisi yang suka kasih surat tilang  buat mobil yang parkir sembarangan

Yang unik lorong di seberangnya ada tulisan The Height of the Civilized World

Dari seberang Yara river, itu yang kuning atap flinders, ada atap st. paul cathedral juga

Tim Rowing, olahraga mendayung di sungai

Taman di pinggir sungai, kayaknya nanti di Banjir Kanal Timur bakal gini deh *mimpi

Federation Square

Ini berasa kayak di film-film yang di new york gitu ya *apasih

Dan ini perpustakaan tempat janjian dan nongkrong-nongkrong

Catatan kaki:
Oia, saya sekalian mau mengucapkan selamat untuk Kak Masni, salah satu yang udah baik hati mau menampung turis kere ini di Melbourne. Kak Masni baru saja lulus dari Melbourne Uni dan baru aja di wisuda. Selamat yaaaa Kak Masni.

Selamat Ulang Tahun juga buat Cipu yang mentraktir saya makan di resto vietnam (lagi) kemarin. Happy Birthday! 

Kamis, 28 November 2013

Throwback Thursday: Williamstown dan St.Kilda

Walaupun pemerintah Indonesia dan Australia sedang bersitegang gara-gara sadap menyadap, saya akan tetap melanjutkan cerita jalan-jalan saya ke benua kangguru yang sudah dari lama gak selesai-selesai. Karena saya nulisnya tergantung mood dan seringnya diselingin sama jalan-jalan tempat lain, ga berasa ternyata udah lewat setaun sejak kepergian saya ke sana. Jadi kalau saya nulis tentang Aussie lagi, itu bukan berarti saya pergi lagi ya, ini istilahnya #throwbackthursday 

Kedatangan saya ke Melbourne bukan hanya bertepatan dengan musim gugur, tapi juga musim tugas buat para mahasiswa, termasuk Cipu. Merasa bersalah karena tidak bisa menemani saya terus selama disana, Cipu menyediakan satu  hari khusus untuk jadi guide menyusuri Melbourne. 

Seperti biasa, saya suka males mikir kalo pergi sama Cipu, enakan cuma terima beres ngintilin dia kemana-mana. Mungkin karena itu kita sering traveling bareng, soalnya si Cipu selalu antusias pengen kesana kemari, pengen liat ini itu. Ingat kan peristiwa City Council di Ho CHi Minh City? Sementara saya yang ga pernah punya ambisi untuk pergi ke suatu tempat tertentu, tanpa banyak perdebatan ikutin aja kemana dia mau pergi. Kalau buat saya sih yang penting jalan-jalan. 

Hari itu kita janjian di depan Perpustakaan Melbourne. Kata Cipu tempat ini adalah salah satu meeting point paling hits dikalangan muda mudi melbourne. Pagi-pagi Cipu ke kampus dulu, sementara saya jalan-jalan ke Old Melbourne Gaol dan ikut simulasi masuk penjara. Ketika saya tiba di depan perpustakaan, Cipu sudah duduk di kursi yang terletak di trotoar sambil baca buku karangan Dewi Lestari titipannya yang saya boyong dari Jakarta. 

Untuk mengenang salah satu trip fenomenal kita ke HCMC, Cipu mengajak saya makan Pho di RM Vietnam langganannya. Ironis nya adalah, waktu ke HCMC cipu gak sempet makan pho karena mungkin terlalu terobsesi sama city council dan ca phe sua da

Kita naik kereta dari Flinders, berhenti di stasiun Footscray. Rasanya seperti naik mesin waktu dari jaman Victorian ke masa depan, soalnya bentuk stasiun Footscray itu futuristik banget. 

Flinders Station yang Victorian

Footscray yang futuristik

Jalan sedikit dari stasiun Footscray sampai di depan suatu rumah makan mungil. Cipu mendorong pintu kaca, serta merta disambut oleh pria berwajah viet layaknya kawan lama. satu hal yang jadi ciri khas dari Cipu adalah, semua orang adalah kawan lama nya. Bahkan kalau lagi jalan dimana gitu tiba-tiba ada yang manggil dia, kawan lama dari makasar. Lagi makan di foodcourt Grand  Indonesia,tiba-tiba dia nyamperin seorang perempuan mungil yang lagi makan sendirian,  kawan lama di ostrali. 

Cipu memesan semangkuk Pho dan segelas es kopi vietnam, saya pun memesan sama. Makan siang pesanan kita muncul dalam mangkuk besar yang dari dalamnya meruap-ruap asap panas kuah Pho. Serakus-rakusnya saya di indonesia, saya tidak akan pernah sanggup menghabiskan satu porsi makan standard aussie. Entah porsi nya yang kelewat jumbo atau ukuran lambung saya yang menciut karena udara dingin. 

Kembali ke Stasiun Footscray, kita melanjutkan perjalanan dengan kereta Metro menuju salah satu daerah sub-urban melbourne paling ujung, Williamstown. Didalam kereta metro cipu melanjutkan bacaan nya sementara saya melongok ke jendela memperhatikan stasiun-stasiun yang terlewati. Yarraville. Spotswood. Newport. Williamstown.

Terletak di pinggir teluk tepi laut, Williamstown bisa dibilang merupakan fishing village. Tapi jangan dibayangin fishing village macam di Labuan Bajo ya, disini yang parkir di pinggir dermaganya barisan yacht  warna-warni, bukan kapal nelayan dari kayu. Dari dermaganya, nun jauh di seberang lautan, terlihat skyline gedung-gedung bertingkat dari pusat kota Melbourne. 

Kenorakan saya kumat ketika  melihat pancuran air minum yang cantik banget, langsung pengen cobain minum dari keran situ. Tapi rupanya karena saya terlalu pendek, air yang keluar dari kerannya berpancur terlalu tinggi, bukannya masuk ke mulut saya tapi langsung menuju mata, membasahi sekujur muka dan belepotan sampai ke baju saya. basah semua. Cipu ngakak.

Kita masuk ke kantor tourist information, yang jaga seorang nenek. Begitu tau kalau Cipu adalah mahasiswa di Melbourne nenek itu langsung bertanya, "Kamu supporter Tim Footy apa?"

Jujur, saya kurang ngerti esensi dari jalan-jalan ke Williamstown itu. Menurut saya tidak ada yang menarik banget, kotanya sepi dan buat saya terlalu bersih dan teratur dan membosankan. Kurang dari satu jam kita di sana, mondar-mandir memotret-motret yacht dan burung (yang kata cipu namanya) Seagull. Disana emang saya nyaris gak pernah keringetan, tapi tidak selalu karena udaranya dingin. Giliran ada matahari muncul, justru terik nya lebih garang dari di Indonesia yang tropis. Mencubit-cubit kulit hingga perih. Panas tapi kering.

Yacht warna wani dengan background Kota Melbourne

Kita berjalan tak tentu arah, di taman ada serombongan ibu-ibu muda beserta bayi-bayinya lagi kumpul-kumpul, piknik, mungkin semacam arisan. Beberapa anak balita bermain ayunan dan prosotan di playground. Sepasang muda-mudi menenteng sepedanya berjalan melintasi gedung Gereja yang bangunannya bertipe gothic. Selain itu tidak banyak aktifitas yang bisa dilihat, benar-benar hening dan steril seperti di lorong rumah sakit. Cipu melihat sebuah bus dan buru-buru mengajak saya menyebrang jalan raya yang luas tapi sepi berlari mengejar bus itu.  Bus sudah akan berangkat ketika kita masuk ke dalamnya. Saya tidak tanya kemana. Di dalam bus sepi. Cipu mengambil tempat paling belakang karena mau solat dzuhur dulu. 

Bus terus melaju. Beberapa kali berhenti di tempat pemberhentian, tapi tidak ada yang naik. Sampai tiba di pemberhentian bus di depan sekolah, anak-anak sekolah seumuran anak smp menyerbu masuk  memadati bus. Saya dan Cipu nyaris tak bisa bergerak. Suasana jadi ramai, sesak dan berisik. Kita telah terjebak di dalam satu bus penuh berisi alay-alay australia. Di sebelah saya anak cewek abg heboh ngobrol teriak-teriak sama temen-temennya membahas mau ganti pesan voicemail di teleponnya pake lagu carly ray jebsen, call me maybe. 

Cipu mencolek bahu saya dari belakang, mukanya mencurigakan, mengajak saya untuk turun pemberhentian berikutnya. Pas kita turun baru cipu mengaku kalau kita salah naik bus. Saya hanya pasrah terduduk di halte menunggu bus lain lewat, di jalanan yang lebar tapi sepi. panas. kosong. tersesat. bengong di halte. bertopang dagu. mata mulai berat. kepala terantuk.

Dari kejauhan sebuah bus datang.

Saya menegakkan kepala, langsung berdiri.

"Bukan bus ini," kata Cipu.  

Ok. Saya kembali terduduk di halte menunggu bus lain lewat, di jalanan yang lebar tapi sepi. panas. kosong. tersesat. bengong di halte. bertopang dagu. mata mulai berat. kepala terantuk.

terdampar di halte mana tau gara2 guide

"Ini bus nya, mil. siap-siap," seru cipu menyambut kotak besi yang muncul dari kejauhan.

Tujuan berikut guide saya adalah melihat sunset di St. Kilda, salah satu kawasan pantai  terkenal di Melbourne. Kalau udara dingin katanya disini ada Penguin. Iyak, Penguin, burung warna putih hitam yang jalan nya lucu dan hidupnya di es itu. 

Dari Bus kita masih lanjut naik Tram hingga ke St.Kilda. Ada bangunan-bangunan yang bentuknya bagus-bagus, ada pohon-pohon palem di sepanjang jalan, ada menara jam yang tersusun dari batu bata coklat kemerahan, ada Amusement Park seperti Dufan yang gerbangnya berbentuk kepala badut yang lagi menganga lebar - Luna park, ada kembaran Luna Maya yang berpose didepannya *ditimpukrame2*, ada orang-orang yang duduk di pinggir pantai, ada es krim dan ada sunset.

Luna Park dan kembaran Luna Maya

Clock Tower di St. Kilda

es kriiiiimmmmm.....

Sunset <3 td="">

Minggu, 17 November 2013

Footy, Australian Sport

Menjelang sore di dalam mobil tur Great Ocean Road dan Grampian, mendekati kota Melbourne, saya sudah sibuk ber-text message (SMS) sama kawan saya Diena. Ingat kan waktu ketemu beberapa hari sebelumnya Diena janji mau ajak saya nonton Footy? Nah kebetulan jadwal tim favoritnya Diena tanding pas banget waktunya dengan selesainya tur 2 hari satu malam saya. Jadi sampai di Melbourne rencananya saya langsung janjian sama Diena di depan Etihad Stadium.

Etihad Stadium dimana? - isi pesan singkat saya melalui handphone.

Dari Southern Cross, ikutin aja gerombolan orang-orang yang pakai atribut suporter. - balas Diena.

Hmmm ok, ternyata caranya menjelaskan suatu tempat belum berubah. Bedanya dulu patokannya nomor angkot. Misalnya ditanya rumah nya dimana, jawabnya "pokoknya ikutin aja arah angkot nomor MXX, nanti ada pertigaan yang ada minimarket belok kiri, rumah gw pagar warna coklat." Seringnya petunjuk itu berhasil, tapi kadang salah juga sih kalo angkot yang diikutin tiba-tiba memutuskan untuk merubah rutenya. 

Belajar dari masa lalu, dari penjelasan singkat Diena itu, dalam Hati saya optimis bakal bisa menemukan Etihad Stadium walaupun sebenarnya belum kebayang sama saya atribut suporter yang dimaksud itu seperti apa.

Mobil tur menurunkan kita di dekat Flinder Station, salah satu stasiun kereta yang utama di Melbourne. Saya dan Elaine berpisah di stasiun, karena saya mau ambil kereta jurusan Southern Cross dan Elaine sudah ada janji sama kawannya juga mau nonton pertunjukan stand-up-comedy. 

Hari sudah gelap ketika saya tiba di Southern Cross Station.

Dien, gw udah sampe di southern cross. - saya mengabari Diena

Stasiun terbesar di Melbourne itu rame banget, karena bertepatan dengan waktu pulang kantor. Mata saya menyapu sekeliling berusaha mencari 'yang terlihat seperti' gerombolan suporter olah raga. 

Handphone saya berbunyi lagi, satu pesan singkat masuk - Ok Mil, gw sebentar lagi sampe. Mau beli pie dulu. Lo mau pie apa?

Aha! pandangan saya menangkap gerombolan anak muda dengan jaket seragam tim olahraga, sama topi dan syal yang senada. 

Yang enak aja, Dien. - Setelah membalas pesan Diena saya pun bergegas mengikuti arah gerombolan pemuda itu.

Para supporter itu naik escalator, menuju semacam jembatan yang ternyata lurus-lurus langsung menghubungkan stasiun dan Stadium nya. Saya mengikutinya terus. Sepanjang jalan menuju stadium itu tampak banyak banget suporter-suporter dan beberapa maskot-maskot berkeliaran. Stand-stand promosi minuman dan produk macam-macam juga tampak berdiri di pinggiran jalan, komplit dengan mba-mba SPG yang nyebar-nyebarin brosur. Antusiasme menjelang pertandingan terasa banget di atmosfir sepanjang jembatan itu. Saya menunggu Diena di depan gerbang. Udara dingin membuat perut saya minta dihangatkan, akhirnya saya jajan donat dan kopi hangat di kios donat terdekat.

Tidak lama Diena muncul. 

Kita menuju loket untuk beli tiket. Kalau Diena sudah punya semacam member jadi tidak perlu beli tiket lagi. Dan beruntung banget pas saya hitung kembaliannya ternyata mas-mas jaga loketnya ngasih tarif pelajar buat tiket saya. Lumayan diskon nya, jadi saya diem-diem aja hihihihi…

Footy ini adalah olahraga yang paling heboh di Australia. 

Kata Cipu, sapaan basa-basi orang aussie kalau baru pertama ketemu orang biasanya pertanyaan tentang cuaca (orang-orang di melbourne kalau menurut saya agak obsesive sama weather forecast, nanti bakal saya bikinin postingan khusus deh) atau pertanyaan tentang tim footy favorit. Dari anak-anak sampai orang tua, biasanya mereka fanatik sama tim footy nya. Kawan saya, Diena, adalah  pendukung fanatik Tim St.Kilda. Saya pun dipinjami kaos tim yang sudah ada tanda-tangan pemain-pemainnya untuk dipakai nonton. 

Maap kumel, abis turun gunung langsung nonton pertandingan footy

Kaos tim pinjeman dan Diena tersayang

Pemainnya yang cekcih-cekcih *ngacai liat paha mulus*

Suporter lain datang

Dalamnya Etihad Stadium


Luarnya Etihad Stadium di foto dari dalam kereta keesokan harinya

Kalau dari penjelasan Diena, olah raga ini menurut saya semacam gabungan sepak bola, rugby (american footbal), basket dan gulat. Gawangnya modelnya cuman tiang-tiang berjajar 4, yang 2 di tengah lebih tinggi. Score sempurna kalau bisa mencetak gawang dengan cara menendang bola hingga lewat di antara 2 tiang tinggi itu. Tapi bolanya cuman wajib di tendang kalau mau cetak score, menggiring bolanya gak harus pake kaki, boleh aja dibawa pake tangan, syaratnya tetep harus ada kalanya di pantulin ke tanah, mirip basket.

Yang seru adalah rebut-rebutan bola nya. Kelihatannya sih rusuh banget, pakai acara tarik, dorong, sikut, tendang, tindih, (mungkin) jambak dan (sedikit) cakar.  

Setelah menonton satu pertandingan Footy ini saya masih gak ngerti cara mainnya sih, secara saya kurang suka nonton olahraga permainan seperti ini. Hasil akhir pertandingannya, tim favorit Diena harus mengakui kekalahan tipis dari tim lawannya (kalau tidak salah tim yang berasal dari Perth). Tapi satu hal yang saya mengerti dan saya suka dari olahraga Footy ini, pemainnyaaaaaahhhh guanteng-guanteng dan seksi-seksi. Pantesan aja si Diena doyan *lap iler pake kaos tim pinjeman*


Jumat, 07 Juni 2013

Pengalaman Jadi Tahanan Penjara di Melbourne

Waktu saya ke Old Melbourne Gaol, sebenarnya bukan pertama kalinya saya wisata ke museum model penjara gitu. Sebelumnya di Vietnam - di War Remnant Museum, ada tiruan penjara jaman perang Vietnam komplit sama alat-alat penyiksaannya. Tapi seumur-umur saya hidup baru kali ini ngerasain wisata menjadi tahanan polisi. Lumayan seru dan unik.

Gimana ceritanya bisa ada wisata roleplay  ditangkap polisi trus dimasukin ke sel penjara? Nah, saya juga baru tau ada beginian ketika membeli tiket masuk Old Melbourne Gaol. Ketika saya beli tiket seharga AUD 25 (hampir setara 250 ribu rupiah), bapak-bapak di kasirnya menjelaskan kalau tiket itu berlaku untuk 2 entry, Old Melbourne Gaol dan City Watch House Tour. Dia menyarankan saya ikut City Watch House Tour dulu karena itu ada jadwal-jadwalnya dan jadwal berikutnya tinggal kurang dari 10 menit lagi. Saya pun menuju tempat masuknya yang ditunjukin sama bapak-bapak itu.

Ketika saya sampai di depan gerbang masuk, didepan saya sudah ada antrian beberapa pengunjung, saya sendiri yang tampak asia. Ada sekeluarga suami istri dan anak laki-lakinya yang palingan baru berumur 6 tahunan. Ada seorang nenek bersama cucu perempuannya yang baru sekolah SD gitu. Ada dua orang laki-laki, keliatannya turis juga tapi dari Eropa gitu. Gak lama pintu gerbang dibuka, ada suara dari dalam yang memerintahkan kita segera masuk.

Di dalam kita disambut Pak Polisi dengan seragam lengkap. Kita dijelasin kalau kita lagi "under arrest" dan disuruh baris dan di kasih semacam formulir yang disitu udah ada namanya dan "kejahatan yang dilakukan". Masing-masing pengunjung disuruh memperkenalkan diri pakai nama di formulir itu dan membacakan "kejahatan" kita. Lucu-lucu sih, ada yang tertangkap lagi bawa mobil sambil mabuk, ada yang ketauan mencuri alat barbeque tetangganya, sedangkan "kejahatan" saya adalah membawa tanpa ijin (mencuri) mobil ibu saya. 

Terus kita dijelasin peraturan-peraturan di penjara terus di bawa ke sel masing-masing. Sel penjaranya mungkin dibikin mirip kayak asli kali yak, pengap dan ada bau-bau pesing gitu. Sempat dimatiin lampu, ceritanya udah jam tidur gitu. Trus kita disuruh keluar, dibawa ke semacam ruang serba guna, tempat para tahanan melakukan kegiatan sehari-hari. Olahraga, bermain, nonton TV, dst dst. Terus ceritanya selesai deh masa tahanan kita. Baru kita boleh bebas foto-foto. 

Ada multi media nya, ceritanya itu tahanan dalem sel lagi cerita2

Sel tahanan aku, jambannya deket banget ama tempat tidur

ini tempat buat  tahanan yang rada-rada sinting

Ini ruang serbagunanya, dan itu yang brewokan baju biru lagi ngobrol sama nenek & cucu perempuannya adalah Pak Sipir yang galak

Yang jelas disini gak ada model penjara mewah kayak penjara ibu-ibu tahanan korupsi di Indonesia - yang pake AC kayak hotel bintang 5 dan ada mesin facial pribadi.


Senin, 20 Mei 2013

Old Melbourne Gaol

Old Melbourne Gaol adalah penjara pertama di Melbourne yang pernah di huni oleh salah satu kriminal yang paling fenomenal sepanjang sejarah Australia – Ned Kelly. 

Ned Kelly memang terkenal sebagai pelanggar hukum konsisten, sudah sering keluar masuk penjara dan bermasalah sama polisi sejak usia remaja. Uniknya bagi orang Australia dia juga dianggap sebagai pahlawan yang melegenda yang dianggap berani melawan otoritas penegak hukum yang waktu jaman itu dianggap tidak adil. 

Ned hidup di abad ke-19, ayahnya adalah convict (narapidana) yang dikirim dari Irlandia. Ned sendiri sejak usia 15 tahun sudah merasakan masuk bui, beberapa kali ditangkap, beberapa kali terbukti tidak bersalah tapi sempat juga menjalani hukuman kerja paksa. Kejahatannya ya macam-macam diantaranya dituduh mencuri ternak dan sering melakukan tindak kekerasan. 

Hingga suatu insiden yang melibatkan seorang polisi di rumah keluarga Kelly mengakibatkan ibu nya Ned dan seorang saudaranya kena hukuman penjara, sementara Ned dan adiknya Dan menjadi buronan. Di pelariannya Ned dan adiknya membentuk geng dengan dua orang kawan mereka. Di suatu hari mereka membunuh 3 orang polisi yang ditugaskan mencari mereka. Menambah daftar kejahatannya, Kelly dan genk nya juga merampok 2 bank. 

Hadiah yang ditawarkan bagi yang bisa menangkap Ned Kelly pun makin besar. Kelly dan geng nya punya semacam baju baja anti peluru yang melindungi kepala dan tubuhnya, tapi tidak di bagian kaki. Ned Kelly tertembak di bagian kaki oleh seorang polisi, yang kemudian melumpuhkannya dan membuatnya ditangkap dan di bawa ke penjara. Setelah melalui persidangan, Ned Kelly di jatuhi hukuman gantung. 

Baju Baja Ned Kelly

Old Melbourne Gaol dari dalam

Bukan hanya Ned Kelly dan narapidana dari kaum pendatang yang kena hukuman gantung di sini, bahkan kaum Aborigin saja bisa kena hukum gantung. Malahan terpidana pertama yang dihukum gantung adalah  2 orang aborigin. Di salah satu keterangan yang tergantung di tembok Melbourne Gaol, pada tahun 1841 ada insiden penembakan pendatang dari Eropa oleh 5 orang Aborigin. 

Orang Eropa itu dibunuh oleh para kaum Aborigin karena mereka pernah menculik suami dari salah satu dari ke5 aborigins itu dan membunuhnya, jadi mereka balas dendam. Tapi para aborigins itu ditangkap dan diadili di pengadilan. Hakim mengirim 3 orang wanita aborigin itu ke FLinders Land, mungkin untuk kerja paksa. Tapi 2 orang pria aboriginal di jatuhi hukum gantung di muka publik.

Etapi ternyata hukum gantung itu bukan sekadar gantung, ada yang namanya "The Art of Hanging" - katanya, "Hanging is a fine art and not a mechanical trade. Is not a man an artist who can painlessly and without brutality  despatch another man?" Dan di sebelah nya ada bermacam-macam jenis simpul yang baik dan benar untuk menggantung manusia agar cepat mati nya.

Seragam petugas gantung dan perlengkapannya

The Art of Hanging
Old Melbourne Gaol sendiri sekarang sebagian bangunannya sudah jadi universitas RMIT, dan sebagian jadi museum. Sudah tidak ada lagi napi yang ditahan disana. Dipikir-pikir gimana rasanya ya punya kampus di bangunan tua yang bekas penjara dan banyak napi hukuman gantung nya? Yang jelas kalo saya mah ogah ngerjain tugas sampe malem di kampus.

Halaman kampus yang bekas Melbourne Gaol

Ini masih masuk area kampus, Ned Kelly katanya lewat pintu ini pas mau di gantung
 

Selasa, 05 Maret 2013

Ke Ballarat, Salah Kostum

Hari kedua saya memutuskan berkunjung ke Ballarat, 3 jam perjalanan naik kereta dari Melbourne. Pagi hari udara cukup dingin, sekitar 16 - 18 der C. Cukup lama saya tertegun di depan koper, berpikir baju apa yang akan saya pakai. 

Malam hari sebelumnya saya merasakan yang namanya dingin ketika saya jalan kaki pulang dari rumah kerabat Cipu yang sakit bersama Kak Masni, angin malam berhembus sampai menembus kulit dan daging sampai ke tulang sumsum, gigi saya pun otomatis gemerutukan. 

Akhirnya pagi itu saya memutuskan membungkus seluruh tubuh saya dengan baju dalaman lengan panjang warna hitam, dress garis-garis hitam putih dan legging hitam. Pikiran saya, di kota saja dingin,di gunung pasti lebih dingin. 

Cipu masih menginap di rumah kerabatnya yang sakit. Kak Masni di ruang tengah sedang mengerjakan tugas dengan tekun di depan laptopnya, Tony sedang membuat sarapan disela kegiatannya membuat tugas kuliah juga. “Selamat mengerjakan tugas, aku jalan-jalan dulu yaaaa...,” saya pun pamit sambil buru-buru ngacir keluar sebelum ditimpuk pakai toaster. 

Stasiun kereta Anstey - stasiun yang terdekat dari rumah Cipu, pagi itu ramai oleh para komuter yang akan berangkat kerja ke kota. Semua kereta dari daerah suburban akan mengarah ke 5 stasiun utama - Flinder Street Station, Southern Cross Station, Flagstaff Station, Melbourne Central Station dan Parliament. Semua kereta akan berputar melewati stasiun-stasiun tersebut sehingga dinamakan City Loop, arah loop nya bisa ke kanan dulu atau ke kiri dulu tergantung pagi atau sore. 

Masuk ke dalam kereta Metro, saya duduk di bangku kosong di hadapan dua orang perempuan muda kira-kira berusia 25-an berbusana kantoran. Dua-duanya mengenakan rok mini, legging hitam dan sepatu boot. Yang satu berambut pirang lurus terurai sebahu, yang satu lagi berambut brunette di ikat gaya ballerina bun (konde di atas kepala) yang agak berantakan tapi tetap kelihatan keren. Keduanya memangku chrochete, kedua tangan mereka sibuk merajut gulungan benang dengan dua jarum besar sembari terus mengobrol. 

“Vest kamu bagus deh,” kata wanita berambut coklat. Temannya mengenakan semacam vest yang panjangnya hampir menyamai rok mininya, berpola kembang dan daun-daunan warna oranye-hijau. Vest itu dibiarkan tidak terkancing dan jatuh tergerai di sisi-sisi tubuhnya. 

“Sebenarnya ini dress loh,” kata si rambut pirang. 

 “ah yang benar,” kata si rambut coklat tak percaya. 

“iyaaa… suer. Ini dress yang kancing nya dibelakang, tapi aku pakainya dibalik. Yang ada kancingnya ini aku pakai di depan,” si rambut pirang berusaha meyakinkan temannya. 

Mereka pun meneruskan rajutannya, si rambut pirang sesekali mengajarkan trik-trik pola rajutan ke si rambut coklat, mereka pun turun di Flinder Street Station. Sementara saya meneruskan perjalanan terus ke Southern Cross, stasiun kereta yang menghubungkan kereta Metro dalam kota dan kereta V/Line untuk ke luar kota. Dari sana saya akan beli tiket kereta V/Line ke Ballarat karena kartu Myki saya hanya berlaku untuk transportasi dalam kota saja. Setelah berputar di City Loop kereta akan kembali ke jurusannya, jadi yang mau ganti jurusan juga bisa turun di salah satu stasiun tersebut dan menyambung naik ke jurusan lain. 

Southern Cross terminal adalah stasiun kereta paling besar di Melbourne dan paling modern juga. Modal tanya kiri kanan saya berhasil menemukan loket penjual kereta V/Line. Beruntung sekali karena kebetulan ketika saya beli tiket kereta itu adalah jam off-peak, jadi saya bisa beli tiket dengan harga lebih murah daripada kalau saya beli di jam orang-orang berangkat dan pulang kerja (peak).

***

Kereta V/Line tiba di Stasiun Ballarat yang mirip stasiun Jatinegara versi lebih bersih nya. Saya menghampiri loket informasi dan bertanya cara ke Sovereign Hill. “Kamu keluar pintu ini, terus tunggu saja bus nomor 9,” sambil menjelaskan perempuan muda berambut pirang itu keluar dari booth nya, mengantar saya sampai ke depan pintu keluar dan menunjuk halte bus yang terletak di muka stasiun dengan ramahnya.

Ballarat Station

Ballarat Station dalamnya

Keluar dari stasiun kereta Balarat rasanya seperti terlempar dari mesin waktu dan tersesat di abad ke – 19. Semua bangunan nya bergaya Victoria, elegan dengan detil-detil dan berwarna dominan kecoklatan. 

Sejak mulai ditemukannya bahan tambang emas di tahun 1850-an di daerah ini, perkembangan Ballarat menjadi maju dengan pesat. Berita penemuan emas di daerah ini cepat menyebar luas ke seluruh penjuru dunia, sehingga orang-orang dari seberang benua mulai berdatangan selama periode Gold Rush itu. Untuk menertibkan penambangan emas pada jaman itu, pemerintah menetapkan peraturan untuk para penambang agar memiliki Miner’s license. Tapi kelamaan Miner’s license itu terasa memberatkan dengan pajak dan biaya-biaya lain yang mencekik para penambang. Akhirnya penambang emas di Ballarat membuat aksi pemberontakan yang dinamakan Eureka Rebellion . 

Konon jaman dahulu kala, seorang ilmuwan bernama Archimedes pusing bukan kepalang tatkala sang Raja menanyakan kepadanya apakah mahkotanya terbuat dari emas asli atau tidak. Inspirasi datang ketika beliau berendam di bak mandi dan menyadari ada air yang tumpah sebanding dengan berat nya. 

“Eureka! Eureka!,” Archimedes berseru kegirangan, dengan cara itulah dia dapat membuktikan bahwa ternyata mahkota raja itu tidak asli emas. 

Mungkin kata Eureka yang diserukan oleh Archimedes ketika menemukan cara menentukan keaslian emas itulah yang menginspirasi nama dari pemberontakan tersebut. Tapi terlepas dari adanya kericuhan itu, penambangan emas di daerah ini lah yang membuat negara bagian Victoria berkembang pesat dan ikut mengangkat nama kota Melbourne. 

Udara di Ballarat berbeda sekali dengan Melbourne, matahari nya disini terasa lebih dekat ke kepala. Saya mulai merasa terpanggang didalam kostum serba hitam-hitam ini. Tak lama bus nomor 9 muncul dari ujung jalan. 

“Sovereign hill?” saya melongok dari pintu depan dan bertanya ke supirnya. 

“Yep,” jawabnya memberi kode dengan kepala agar saya naik ke atas bus. 

Ketika saya mau memasukan uang kedalam mesin, pak supir segera mencegah dan menjelaskan kalau saya tidak perlu bayar fare bus lagi kalau mau ke Sovereign Hill, cukup menunjukan tiket kereta V/Line saya. Dia juga menanyakan apakah saya tahu dimana harus berhenti kalau mau ke Sovereign Hill. 

Saya menggeleng. 

“Alright. I’ll tell you where to stop,” katanya dengan ceria. 

Sejauh ini pengalaman saya selama di Australia positif banget, orang-orangnya ramah dan helpful. 

Saya masuk ke Sovereign Hill yang merupakan lokasi wisata terkenal disana. Saya perhatikan para pengunjung rata-rata menggunakan T-shirt dan celana pendek, sementara saya dengan baju lapis-lapis semacam baru turun dari gunung bersalju. Saat itulah saya baru menerima kenyataan pahit dengan lapang dada bahwasanya saya telah membuat kesalahan fatal. Salah kostum. 

Saya sedang duduk di depan salah satu bakery sembari mengunyah strawberry pie ketika ada ibu-ibu tambun usia 50-an tiba-tiba menghampiri saya, “Baju kamu bagus deh, beli dimana? Di Melbourne bukan?” Rupanya si ibu tertarik dengan baju dalaman hitam saya yang sebenarnya adalah semacam manset buat yang pakai jilbab karena ada penutup kepala yang menyambung di kerah kaos nya. Entah itu ibu benar-benar tertarik sama baju saya atau ibu itu hanya heran melihat pakaian saya yang kayak orang meriang sementara dia pakai tank top, celana pendek dan sneakers. 

Di Ballarat. Salah kostum

Ballarat musim gugur

Kamis, 28 Februari 2013

Shrine of Remembrance

Selama di Melbourne, saya perhatikan sedang ada dua event yang sedang berlangsung yaitu festival komedi dan persiapan ANZAC day yang diperingati setiap tanggal 25 April. Sayangnya tanggal segitu bertepatan dengan tanggal saya harus pulang ke Indonesia, jadi tidak bisa menonton acara tahunan yang terkenal dengan nama Dawn Service, upacaranya dilakukan subuh-subuh. 

Di sepanjang jalan banyak bertebaran sukarelawan berseragam ANZAC menjual pin yang uang hasil penjualannya akan digunakan untuk membantu para veteran-veteran perang dunia. ANZAC itu kepanjangan dari Australian and New Zealand Army Corps. Dibentuk untuk membantu Inggris pada saat Perang Dunia I berperang melawan Ottoman empire di Gallipoli. Daerah itu sekarang jadi Turki. 

Tidak lama setelah negara-negara bagian di Australia membentuk negara federasi sendiri di tahun 1900, pecahlah Perang Dunia Pertama di tahun 1914. Inggris yang waktu itu bersekutu dengan Rusia mau minta jalan men-supply keperluan perang melalui daerah Ottoman Empire itu. Tapi Ottoman empire condong memihak Jerman, yang merupakan musuh Inggris dan Rusia waktu itu sehingga mereka menolak permintaan Inggris. Maka diseranglah empire itu. Inggris meminta bantuan kepada negara persemakmurannya, Australia dan New Zealand untuk merekrut pasukan yang kemudian diberi nama ANZAC. 

Sayangnya, nasib pasukan ini tidak beruntung di medan laga Gallipoli. Pasukan Ottoman yang dipimpin oleh Mustafa Kemal berhasil melumpuhkan penyerangan terhadap daerah teritorinya. Peristiwa itu terjadi di tahun 1915. Tanggal 25 April dini hari dimana pasukan ANZAC mendarat di Gallipoli kemudian diperingati sebagai ANZAC day. 

Relawan berseragam ANZAC yang menjual pin

Untuk menghormati pengorbanan prajurit ANZAC yang gugur di medan perang dibangun sebuah monumen yang dinamakan Shrine of Remembrance. Selanjutnya monumen tersebut bukan hanya menghormati pejuang ANZAC di perang dunia I, tapi juga perang-perang lain dan seluruh pejuang-pejuang perang dari berbagai negara di dunia.

Shrine of Remembrance dari jauh tampak seperti sebuah bangunan bergaya Yunani. Mirip seperti salah satu istana rasi bintang di film kartun Saint Saiya. Lokasinya yang lumayan jauh dari pintu gerbang membuatnya tampak lebih kecil dari pohon-pohon cemara yang berbaris di kiri dan kanan membentuk suatu garis perspektif yang seolah mengantar pengunjung menuju Shrine. Semakin kita mendekati bangunan itu semakin terlihat ukuran aslinya, menjulang dengan megah.

Susunan balok-balok batu sewarna pasir membentuk satu bangunan kokoh yang tegak berdiri di atas undakan-undakan anak tangga yang seragam. Atap nya berbentuk seperti piramida, tapi tidak mengerucut di puncaknya, semacam piramida yang terpotong. Di akhir anak tangga, paling atas, delapan batang pilar batu berdiri jangkung menyokong atap bangunan yang dihiasi ukiran patung Yunani. Patung dewa bersayap terukir di tengah sementara di sebelah kiri kanannya figur para dewa dan dewi yunani lainnya. 

Sebuah kalimat terukir di salah satu batu yang terdapat di muka Shrine, “This stone was laid November 11th 1927 by His Excellency LIEUT. COL THE RT. HON. ARTHUR HERBERT TENNYSON BARON SOMERS”. Di dalam Shrine, tepat di tengah ruangan di atas atap ada sebuah lubang yang konon setiap tanggal 11 November akan memantulkan cahaya matahari menyorot ke tulisan di tengah ruangan itu, “GREATER LOVE HATH NO MAN”. Karena ada lubang di atas itu makanya dari luar atap piramida terlihat seperti terpotong tanpa kerucut di pucuknya. 

Sekarang tidak perlu menunggu 11 November untuk bisa melihat sinar matahari memantul tepat menyinari tulisan itu karena di atas atap itu sudah dilengkapi dengan semacam cermin yang mengatur agar setiap hari kita bisa melihat cahaya matahari otomatis menyinari kalimat itu. 

Naik ke atas Shrine of Remembrance, di lantai dua ada balkon dimana kita bisa melihat rumput hijau yang melapisi halaman monumen itu seperti karpet hijau yang mulus dan pemandangan gedung-gedung kota di kejauhan.






Kita pulang melewati obor api abadi, seperti harapan para pendiri monumen Shrine of Remembrance ini agar ingatan dan penghormatan terhadap mereka yang berjuang dalam perang mengorbankan diri mempertaruhkan nyawa demi membela negaranya tak pernah padam.
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...