Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Banyuwangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Banyuwangi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2018

Leyeh-leyeh di Taman Sritanjung Banyuwangi

Taman Sritanjung adalah taman kota yang terletak di Kota Banyuwangi. Tempatnya asik buat nongkrong sore-sore. Ada air mancur, hiasan lucu-lucu yang digantung di pohon-pohonnya, halaman yang luas dan bersih. Taman ini instagrammable. 

Pose di depan air mancur taman sritanjung

Di pinggir taman ini juga ada warung-warung penjual makanan yang terkoordinasi dengan rapih. Harganya murah meriah. Disediakan meja di bawah pohon, duduknya selonjoran. Sore-sore duduk-duduk dibawah pohon, ditemani segelas kopi dan semilir angin memang kegiatan yang cocok untuk melepas stress. Selain kopi, saya juga coba semacam tahu goreng yang agak unik. kayak baso tahu tapi beda, lebih enak, tahunya digoreng sampai crunchy banget. Sayangnya saya lupa namanya apa. Hmm... jadi pengen lagi deh.

warung di taman sritanjung

Tahu lupa namanya :p

Saya, Pagit dan Susi menghabiskan waktu disana hingga malam, menunggu jadwal kereta dari stasiun banyuwangi baru ke Surabaya. Toilet umum yang disediakan juga bersih. Sejak menginjakan kaki di Banyuwangi saya agak kaget dan kagum dengan kerapihan dan kebersihan kota kecil di ujung timur pulau Jawa itu. Selama ini yang saya tahu dari Banyuwangi hanya legenda seorang istri yang berusaha membuktikan kesetiaannya dengan terjun ke laut hingga airnya jadi wangi, banyu-wangi. Ternyata asik juga buat liburan. Saya juga baru tahu kalau di Banyuwangi banyak festivalnya, jadi makin pingin balik kesana ketika ada festival seru. Pingin balik juga karena kemarin belum sempat ke Alas Purwo. 

Semoga di waktu mendatang ada acara race marathon yang digelar di Banyuwangi, pasti deh saya daftar duluan. 


Kamis, 15 Februari 2018

Mengejar Blue Fire di Kawah Ijen

Satu lagi daftar di bucket list saya yang sudah bisa dicontreng, yaitu lihat Blue Fire di Ijen. 

Blue Fire saya masukan ke dalam rangkaian Birthday Trip. Sama seperti Baluran, Kawah Ijen terkenal melalui promosi pariwisata kabupaten Banyuwangi walaupun sebenarnya Ijen letaknay di Bondowoso. Ya, di perbatasan antara kabupaten Banyuwangi dan kabupaten Bondowoso tepatnya. 

Baluransquad, yaitu saya, Pagit dan Susi mendapatkan rental mobil ke Ijen dari petugas ranger di Baluran, kebetulan adiknya yang mengantarkan kami. Pagit memutuskan tidak ikut mendaki ke Ijen, jadi dari Taman Nasional Baluran kami mampir ke Banyuwangi dulu mencari hotel untuk menitipkan Pagit sementara saya dan Susi akan berangkat ke Ijen.

Kami bertolak petang hari dari Baluran, sampai di kota Banyuwangi malam hari. Saya pun sempat tidur-tidur ayam sampai alarm berbunyi pukul 12 malam yang menandakan waktunya berangkat ke Ijen. Kami sudah harus tiba disana pukul 2 dini hari untuk memulai pendakian supaya tiba di puncak sebelum sunrise dan masih sempat lihat Blue Fire.

Sampai di Ijen ternyata dingin banget, saya hanya pakai jaket kaos tipis. Untungnya disana banyak yang jual sarung tangan, saya langsung beli sepasang. Tiket masuknya untuk wisatawan domestik Rp.5000 per orang. Kami berjalan mengikuti arah jalan wisatawan, banyak yang menawarkan gerobak untuk dinaiki dan ditarik sampai ke atas, jadi gak jalan kaki sampai ke kawahnya. Enak bener kan. Jalannya memang menanjak tapi relatif mudah. Cuma agak ngeri aja di jalan setelah lewat pos yang ada warungnya, karena jalannya di pinggir jurang, masih gelap dan anginnya kencang sekali sewaktu saya kesana itu. 

Sebelum naik ke puncak paling atas ada jalan menuju Blue Fire. Jalannya menurun lagi, nah ini agak sulit karena susunan batu-batu dan terjal. Jalan menuju Blue Fire sudah antri ketika kami tiba disana. Susi memutuskan menunggu diatas dan tidak turun lihat Blue Fire. Saya sewa masker N90 sama bapak-bapak karena katanya bau belerang dibawah sangat kuat. 

Blue Fire terletak di lokasi yang juga adalah tambang sulfur, jadi para pengunjung harus berbagi jalan dengan penambang sulfur yang bolak balik, naik keatas memikul bongkahan-bongkahan belerang. Api biru itu ternyata punya efek mesmerizing, kayak hipnotis gitu sangking kerennya. Sayangnya kamera handphone saya tidak bisa menangkap cahaya birunya. Karena tidak kuat bau belerang yang menyengat dan karena sudah semakin banyak orang di bawah, saya langsung naik lagi. Naiknya pun antri, dan gantian dengan pengunjung yang baru mau turun. 

Setelah mengembalikan masker, saya cari Susi. Dia lagi duduk di depan api unggun yang dibuat oleh penambang sulfur. Dini hari itu memang angin super kencang dan sangat dingin. Dinginnya sampai menusuk tulang belulang. Hidung saya saja rasanya sudah mati rasa. Ketemu hangatnya api unggun itu rasanya anugrah banget. Ketika banyak orang yang mendaki lagi hingga ke paling puncak untuk lihat sunrise, saya sudah malas beranjak. Lagi pula kata orang situ sunrise nya lagi kurang kelihatan karena sudutnya lagi kurang bagus. Dan di tempat saya duduk, di pinggir kawah juga, mataharinya juga kelihatan. 


Kedinginan di Ijen

Akhirnya saya dan susi duduk anteng menunggu matahari terbit di tempat itu. Ketika sudah mulai terang dan foto-foto, angin makin kencang. Saya minta ijin sama Susi untuk turun duluan dan menunggu di warung karena saya kedinginan dan lapar. Susi masih asik foto-foto. Sampai di warung saya langsung pesan mie instant hangat dan kopi hitam. Saya makan sambil ngobrol sama mbak-mbak, menunggu susi. 

Sudah lama menunggu Susi belum kelihatan. Jangan-jangan susi lupa letak warungnya, pikir saya. Saya pun jalan lagi ke mobil. Ternyata Susi sudah ada di dalam mobil. Katanya dia cari saya di warung tapi saya gak ada. Padahal warungnya kecil banget dan cuma ada 3 orang didalam warung ketika saya disana. Anehnya Susi merasa saya berjalan tidak jauh di depan dia, bahkan ada foto saya dari belakang. Padahal kalau dihitung-hitung waktunya, saat foto itu adalah saat saya lagi makan mie instant di warung, mana mungkin saya bisa ada di depan susi tapi sampai di mobil belakangan. Jalurnya hanya satu arah, gak ada belok-beloknya.

Jeng..jeng..jeng...


Kamis, 25 Januari 2018

Birthday Trip; Menginap di Baluran

Diluar ekspetansi ternyata penginapan yang kami tempati jauh dari bayangan saya tentang gubug reyot di tengah hutan. Penginapannya bagus. Rumah panggung dari kayu yang bers
ih dan nyaman. Tapi listrik hanya ada mulai dari jam 6 sore hingga jam 10 malam saja, karena pakai genset.

Sebelumnya juga kami khawatir soal makanan, takut susah. Ternyata sebelah penginapan ada warung makan yang komplit, ada nasi, mie instant, kopi, cemilan. Harganya pun gak jauh lebih mahal mentang-mentang warung satu-satunya disitu. Harganya wajar. Ternyata kami tidak sendirian, banyak mahasiswa yang sedang penelitian. Disana ada juga semacam asrama untuk penginapan mahasiswa yang sedang penelitian. Jadi warung satu-satunya itu ramai juga kalau siang. Bukanya hanya sampai sore, tapi saya sempat beli dan bungkus buat makan malam. Walaupun ketika disimpan dikamar ada semacam misteri tentang hewan apa yang menggerogoti ujung bungkus makanan saya itu. 

Warung makan di Baluran

Kami sangat bersemangat ketika tiba di Baluran. Setelah menyimpan barang-barang didalam kamar, kami langsung menjelajah savanna. Di baluran ada dua area savanna (yang kami tahu dan kami lewati), Savana Bekol dan Savana Bama. Di Savana Bama ada pantainya, namanya Pantai Bama. 

Penginapan kami letaknya di Savana Bekol, tepat di depan rak yang berisi tengkorak kepala-kepala kerbau dan banteng yang menjadi ikon Baluran. Ternyata kalau sore hari savanna depan penginapan kami jadi tempat berkumpul kerbau dan burung merak. Jarak dari Savana Bekol menuju Pantai Bama kira-kira sekitar 3 km, kami putuskan untuk jalan kaki sambil berharap bisa ketemu satwa-satwa di perjalanan. 

Berjalan di tengah savanna yang luas dan terbuka memang sangat terekspos, susah cari tempat sembunyi kalau ketemu musuh atau predator. Satu-satunya cara mungkin adalah lari. Apalagi kalau kita, manusia yang jalannya tegak, mungkin lebih aman kalau kita jalannya melata. Mengalaminya sendiri saya baru mengerti keuntungan nenek moyang kita berjalan tegak. Dengan jalan tegak, kedua tangan bebas bisa untuk memegang senjata untuk bela diri. Walaupun saya pernah baca kalau homo sapien itu tubuhnya berevolusi agar bisa berlari secara efisien, tapi kalau soal kecepatan masih kalah jauh sama banyak jenis predator. 

Iya, ini ada hubungannya sama lari. Konon katanya tubuh homo sapien – ya kita-kita ini, beradaptasi dan berevolusi untuk dapat berlari efisien. Salah satu fitur hasil evolusi diantaranya adalah pori-pori di kulit yang membuat kita bisa berkeringat dari kulit. Keringat fungsinya mendinginkan tubuh, sehingga homo sapien bisa kuat lari lebih lama dibandingkan mamalia atau hewan lain yang tidak bisa berkeringat. Kebanyakan hewan kalau kepanasan hanya keluar air dari lidah, sehingga tubuhnya lebih cepat panas dan gak kuat lari jauh. 

Homo sapien berlari di savanna bukan hanya untuk menghindar kalau dikejar predator, tapi juga untuk mengejar buruannya. Menurut para ahli, cara berburu manusia ketika senjatanya belum canggih ya dengan mengejar mangsanya hingga mangsanya kelelahan sehingga lebih mudah diserang. 

Sebenarnya jenis satwa penghuni Baluran sangat banyak, tapi yang bisa kami temui kebanyakan hanya rusa, merak,monyet dan kerbau. Ada juga burung-burung yang kami tak tahu namanya. Katanya ada juga Lutung, macan, anjing hutan dan masih banyak lagi. Tapi kalau mau lihat hewan-hewan yang lain harus benar-benar dicari dan ditunggu di tempat-tempat yang bisa mereka datangi. Datangnya juga harus lebih duluan dan sembunyi, karena kalau tahu ada manusia hewan-hewan liat itu pada ngumpet. 

Katanya Banteng di Baluran pun mengalami perubahan perilaku. Banteng yang biasanya berkeliaran siang, di Baluran baru keluar malam hari karena males ketemu manusia. Mungkin mereka menghindari drama jadi males berinteraksi sama manusia. Kami lihat Banteng di penangkaran. Ada juga penangkaran untuk mengembak biakan Banteng di Baluran. Karena populasinya makin sedikit jadi dikembang-biakan di penangkaran. Kalau dibiarkan secara alami makin lama jumlahnya bisa makin sedikit. Mungkin karena mereka keluarnya malem jadi makin susah cari jodoh soalnya gelap. Lah, siang-siang aja saya susah cari jodoh, apalagi malem yang gelap, Teng (Ngomong sama Banteng) 

Penangkaran Banteng


Savana Bama

Pantai Bama


Pantai Bama terletak di ujung Taman Nasional Baluran. Kami tidak eksplor pantainya lebih jauh, tapi disana ada hutan bakau, resort/tempat penginapan dan warung bakso. Rata-rata pengunjung yang kami amati datang ke Baluran rutenya pertama foto di depan tengkorak kerbau, kemudian langsung ke pantai Bama. Jadi pengunjung lebih banyak menghabiskan waktu di pantai. 

Malam hari di savanna suara-suara lebih ramai daripada siang hari. Awalnya saya pikir itu suara Banteng, ternyata setelah keesokan pagi ketemu sama mahasiswa yang lagi penelitian dia menjelaskan kalau suara-suara yang saya dengar malam-malam adalah suara rusa jantan . Saat itu katanya musim kawin rusa jadi rusa jantan lebih agresif katanya, kalau saya bilang sih lebih cerewet. 

Menjelang jam 8 di penginapan kami datang pengunjung lain, dua orang cowo. Mereka datang naik motor. Sempat ada kehebohan karena ternyata kedua cowo itu takut sama tokek. Ketika mereka datang juga mereka ngaku di jalan ketakutan dikejar macan. Gak lama mereka masuk kamar tiba-tiba salah satu teriak-teriak. Gara-gara lihat tokek di dinding.

Sebenarnya waktu mereka datang, sebelum masuk kamar saya sudah bilang kalau sepertinya di kamar itu ada tokek karena saya yang lagi duduk-duduk di teras depan mendengar suaranya dengan jelas. Tapi mungkin karena baru abis ketakutan dikejar macan mereka tidak begitu sadar. Setelah terdengar teriakan kemudian keduanya berhambur keluar, saya masih di teras mengecharge handphone karena listrik hanya akan ada hingga jam 9. 

Mereka kemudian heboh mencoba menghubungi penjaga penginapan, tapi handphonenya tidak aktif atau susah sinyal. Akhirnya mereka memutuskan pergi ke pos jaga dan memboyong penjaga. Bapak penjaga datang tergopoh-gopoh bersama dua cowo itu, mengenakan sarung dan membawa sapu lidi. 

Mereka bertiga masuk kamar, yang saya dengar hanya teriakan kedua cowo itu, suara kaki menghentak-hentak di lantai kayu dan kibasan sapu lidi bapak penjaga penginapan. Kemudian ketiganya keluar dari kamar tanpa membawa tokek, katanya tokeknya kabur melalui celah kayu. 

Tokek yang malang, pasti shock berat dan mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) syndrome kalau lihat manusia. 

Saya terbangun jam 4 subuh. Dari teras penginapan saya melihat ke langit, bintang-bintang masih bertaburan. Bunyi jangkrik masih nyaring. Rasanya masih betah dan ingin tambah semalam lagi. Ketika langit mulai terang saya lari pagi. 

Siangnya saya, pagit dan susi menikmati hari terakhir di savanna bekol, duduk-duduk dibawah pohon, menyesap kopi sambil mengamati kelakuan turis-turis lokal yang datang berkunjung. Hari itu hari Minggu. Sore hari kami beranjak dari Baluran menggunakan mobil yang kami sewa dari koneksi salah satu ranger baluran, menuju Ijen.

Jumat, 05 Januari 2018

Birthday Trip ; Naik Angkot ke Savana Baluran

Saya nulis postingan ini sambil bersenandung lagu Camila Cabello yang judulnya Havana, tapi H nya diganti S. "Savana..o..na..na..."

Kata orang-orang Baluran itu seperti miniatur Afrika, mudah-mudahan sih kata orang yang pernah ke Afrika karena saya belum pernah. Hutan Nasional Baluran yang terletak di ujung timur pulau Jawa itu merupakan Hutan Savana. Perbedaan signifikan dengan hutan tropis yang kebanyakan ada di Indonesia adalah Savana ini merupakan padang rumput luas yang jarang pepohonannya, sementara kebanyakan hutan tropis di Indonesia pohon nya padat-padat. Jenis pohon atau vegetasinya juga beda. Sementara itu Afrika terkenal dengan Savana-nya.

Ada beberapa teori evolusi manusia yang berpendapat bahwa evolusi homo sapien dari generasi pertama sampai yang modern kayak sekarang itu erat kaitannya dengan savana. Ketika masa pra-sejarah, nenek moyang kita Homo Sapien generasi pertama, sebelum bermigrasi dan menguasai seluruh dunia ini berasal dari daerah yang sekarang kita kenal dengan Afrika. Diduga karena suatu peristiwa yang hingga kini masih menjadi misteri, homo sapien (mungkin terpaksa) menjelajah keluar dari tempat asalnya. 

Penjelajahan itu menyebabkan Homo Sapien harus melintasi dan hidup di savana yang kondisinya sangat kejam dan dipenuhi hewan-hewan predator yang mencari mangsa. Karena kebutuhan alias kepepet bertahan hidup itulah - di antara perjuangan mencari makanan dan perjuangan agar tidak jadi makanan hewan, Homo Sapien nenek moyang kita mulai berinovasi dan berevolusi. 

Sama seperti nenek moyang kita - saya, Pagit dan Susi terpaksa berinovasi dalam mencari transportasi dari Hotel Watu Dodol Resort ke Taman Nasional Baluran. Sebelumnya saya pikir Baluran itu termasuk wilayah Banyuwangi karena selama ini pariwisata di Baluran gencar dari area Banyuwangi. Ternyata Baluran itu beda kabupaten, masuknya ke wilayah Kabupaten Situbondo. Untuk menuju Baluran dari hotel kami jaraknya sekitar 30km, lumayan jauh juga. Itu baru sampai di pintu gerbang, dari pintu gerbang ke savana-nya, tempat kami menginap, masih butuh waktu sekitar 1 jam lagi karena jalannya rusak dan memang jauh masuk ke dalamnya, mungkin ada 10km-an lagi kali.

Seperti biasa, saya males riset sebelum berangkat, jadi modal tanya sana sini ketika sudah sampai Banyuwangi. Salah satu yang saya tanya adalah supir angkot yang mengantar kami dari stasiun ke hotel ketika baru tiba di banyuwangi. Iseng-iseng saya tanya kalau carter angkot dia untuk antar ke Baluran berapa. Kami pun saling bertukar nomor handphone. 

Waktu itu saya belum pasti carter bapak itu karena masih mau cari alternatif lain. Setelah tanya sana sini rupanya untuk menuju dan masuk ke dalam kawasan baluran cara yang paling feasible adalah rental motor dan rental mobil. Karena diantara kami tidak ada yang bisa bawa motor dan punya sim motor maka terpaksa harus rental mobil. Akhirnya kami memutuskan carter angkot, karena lebih murah dari sewa mobil, anginnya alami soalnya. Sebelum saya menghubungi bapak supir angkot, bapak itu sudah berinisiatif duluan menghubungi saya. 

Pagi-pagi kami dijemput angkot, berangkat menuju Baluran. Tidak lupa mengabadikan perjalanan kami bersama pak supir angkot dan angkotnya. Perjalanan carter angkot ini semacam nostalgia dari beberapa tahun lalu disaat saya, pagit dan susi juga melakukan perjalanan ke air terjun di bogor dengan carter angkot. Waktu itu susi memasak dan bawa makanan, rencananya mau piknik makan siang di outdoor. Tapi entah kenapa waktu itu kami malah dibawa oleh sopir angkotnya ke teras rumah warga yang kami tidak kenal dan akhirnya kami piknik di teras rumah. Sementara penghuni rumahnya ada di ruang tamu menonton televisi, mungkin juga sambil nonton sekelompok cewe-cewe aneh yang numpang piknik di teras mereka.

Sabar ya, kali ini  ceritanya agak panjang.

Saya dan Susi di depan loket pintu masuk Taman Nasional
Sebelum berangkat ke Banyuwangi, saya sudah booking penginapan di dalam Taman Nasional Baluran. Nomor telepon orang Taman Nasional saya dapat dari browsing-browsing di Google. Buat yang kali aja berminat mau menginap di dalam kawasan Baluran bisa menghubungi Pak Tri Hari (HP 082332213114). Untuk harga tiket masuk, kami membayar 15ribu per orang, tarif wisatawan lokal.

Setelah mendaftar dan membayar biaya masuk petualangan naik angkot melintasi hutan savana baru dimulai. Sepertinya waktu kami kesana bulan Agustus baru masuk musim kering, jadi daun-daunan dan rumput-rumput sudah pada menguning tapi masih ada yang hijau. Jalan masuk yang bergelombang membuat angkot terguncang-guncang dan pantat kami lompat-lompatan di atas jok angkot yang keras. Saya duduk di depan di samping pak supir, sementara Pagit dan Susi duduk sambil berpegangan erat ke apa pun yang bisa di pegang dibangku belakang angkot agar tidak terhempas. 

Setelah beberapa lama melewati hutan yang kanan-kirinya tampak kering tiba-tiba angkot mulai memasuki area hutan yang hijau, rimbun dan sejuk. Ternyata ada area hutan tropis ditengah-tengah hutan savana. Kami baru tahu ketika mau pulang lewat area hutan ini lagi, katanya di kawasan ini adalah rumahnya macan loreng dan macan kumbang yang warna hitam alias phanter. Kami gak lihat macan, tapi di tengah-tengah jalan sepanjang hutan yang hijau banyak banget kupu-kupu terbang. Jadi angkot nya menembus kawanan kupu-kupu sepanjang jalan. aaaaahhh... indah banget, rasanya kayak pintu masuk menuju alam fantasi apa gitu.

Selanjutnya saya akan cerita ngapain aja di dalam kawasan hutan nasional Baluran (selain lari pagi) dan gimana rasanya tidur di gubuk di tengah-tengah savana diantara hewan-hewan liar. 




Sabtu, 16 Desember 2017

Birthday Trip: Lari di Baluran

Mengobati batal lari HM di Lombok Marathon bulan ini saya bakal tulis postingan tentang lari di Baluran bulan Agustus kemarin. Yah postingan-postingan tentang birthday trip ke Baluran dan Ijen juga masih banyak yang pending sih, kayaknya akhir-akhir ini saya sulit menemukan mood untuk menulis blog, untuk lari, untuk berkebun. Gak berasa tahun 2017 sudah mau berakhir aja nih.

Setelah ketemu sunrise di Watu Dodol Banyuwangi, saya dan tim baluran yang terdiri dari Pagit dan Susi langsung berangkat ke Taman Nasional Baluran yang dikenal sebagai Little Africa of Java. Disebut demikian karena Taman Nasional Baluran merupakan hutan savana yang berbeda dengan hutan tropis yang kebanyakan terdapat di Indonesia. Kalau hutan tropis kan padat sama pohon-pohon besar, kalau savana mirip padang rumput yang luas, pohon-pohon ada tapi jarang-jrang dan bergerombol. Di musim kemarau savana berubah warna jadi kekuningan dan pohon-pohonnya meranggas, di musim hujan berubah warna jadi hijau lagi. 

Kami menginap semalam di dalam kawasan taman nasional baluran, di sana memang ada kamar-kamar yang disewakan untuk menginap. Saya memang sudah berencana mau lari pagi di savana. Rencananya saya mau lari agak jauh, tapi nyatanya hanya kuat lari 4 km. Bulan-bulan itu memang kondisi lagi tidak fit banget, jasmani dan rohani. Sekembalinya dari Birthday trip kondisi lebih drop lagi, tapi setelah beberapa lama akhirnya sekarang sudah mulai get back on track, walaupun masih tertatih-tatih.

Terlepas dari kondisi yang lagi gak fit, lari pagi kali ini bikin saya sadar kalau kesendirian itu ternyata bikin ngeri dan merinding, apalagi kalau gak ada suara apa-apa selain suara sendiri. Padahal awalnya saya sok tau pingin bikin trip ini solo trip untuk membiasakan diri dengan hidup sendirian, walaupun akhirnya gak jadi solo trip juga sih. Semakin jauh saya lari, padahal belum sampai 3 km, keadaan makin sepi, saat itu tiba-tiba saya jadi sadar kalau i don't wanna be alone, trus puter balik dan lari balik ke penginapan. 

Selain ngeri karena sepi banget, saya juga takut nyasar dan takut dikejar satwa liar semacam macan atau banteng. Ini perdana saya lari di hutan yang beneran, ternyata gak semudah yang saya lihat di film atau youtube orang-orang yang lari trail sendirian di tengah hutan, nanjak-nanjak bukit, tembus hutan. Tapi sejak kembali dari pengalaman lari sebentar di Baluran, walaupun disana ketakutan, anehnya saya jadi pingin punya sepatu trail dan pingin lari di alam bebas lagi. 

Setelah putar balik, di jalan lari balik ke penginapan saya melihat matahari terbit di seberang savana, mataharinya kelihatan lebih besaaaarrr dan dekaattt. Cantik banget. Sayangnya saya sendirian jadi gak bisa minta tolong siapa-siapa buat fotoin. Mau selfie juga jadinya backlight. 

Lari jalur kendaraan di baluran pagi-pagi sepi banget sampe merinding

Matahari terbit di seberang savana
Setelah lari 4km saya jalan mendaki ke arah menara pandang dan naik keatasnya. Dari menara pandang bisa kelihatan area padang rumput dari atas, rombongan rusa dan kerbau baru keluar cari makan di padang rumput. Saya sempat ketemu sama mahasiswa asal lombok yang lagi penelitian di Baluran, dia sudah tinggal selama beberapa minggu mengamati aktifitas rusa. Saya sempat dijelaskan mengenai satwa-satwa yang ada di Baluran dan rutinitas rusa-rusa yang ada disana. Gak kebayang sih beberapa minggu tinggal dalam hutan, tapi kayaknya asik juga.


Menara pandang di Baluran

View dari atas menara pandang


Kamis, 23 November 2017

Watu Dodol Hotel, Banyuwangi

Saya pilih hotel ini karena ketika riset tentang tempat melihat matahari terbit di Banyuwangi, nama daerah Watu Dodol yang sering muncul dan satu kali pernah saya lihat nama Watu Dodol Hotel. Ketika saya cari di web booking hotel ternyata rate-nya cocok dengan budget saya. Tapi waktu itu saya tidak langsung booking. Kira-kira seminggu sebelum berangkat, ketika Pagit dan Susi sudah memutuskan ikut saya baru booking. 

Jarak resort ini tidak jauh dari Stasiun KA Banyuwangi Baru, tapi jauh kalau ke pusat kota. Kami bertiga naik angkot kuning yang sudah menguntit kami sejak keluar dari stasiun dan sempat makan siang depan stasiun. Tapi kalaupun tidak ada angkot itu kami juga bingung mau naik apa (waktu itu belum tahu kalau di Banyuwangi sudah ada Uber dan Grab), karena jalur itu tidak dilalui angkot. Kami membayar 20,000 / orang, yang memang mahal banget sih tapi yah daripada jalan kaki siang bolong bawa-bawa gembolan. Walaupun pada akhirnya yang mengantarkan kami bertiga ke baluran ya angkot itu juga. 

Ketika memasuki kawasan resort, saya senang sekali karena diatas ekspektasi. Tempatnya enak, nyaman, hommy banget. Kami dapat kamar yang menghadap kolam renang dan laut. Kamarnya juga luas dan bersih, bergaya arsitektur resort di Bali yang kamar mandinya ada open space-nya. Bedanya kalau di Bali, untuk mendapatkan resort macam begitu yang posisi dipinggir pantai, harus keluar uang paling tidak dua kali lipat. 

Waktu kami datang resortnya sepi, karena waktu itu hari Jumat. Tapi di halaman resort yang pas bersisian dengan pantai sedang dipasang dekor pernikahan. Rupanya ada yang mau menikah disitu keesokan harinya. Saat kami tiba hanya ada kami bertiga dan sekeluarga bule, jadi puas main-main dan foto-foto di kolam renangnya. 

View from our room
Dari halaman hotel di sebelah kanan terlihat Pelabuhan Ketapang dan kapal-kapal yang sedang menyebrang menuju Pulau Bali. Sosok Pulau Bali tampak pas di depan, bersebrangan dipisahkan laut. Di spot inilah keesokan pagi kami menyaksikan matahari terbit. Di sebelah kiri kami bisa lihat patung Penari Gandrung ikon Banyuwangi. Konon disitu terdapat Watu Dodol. Seperti biasa saya selalu kurang riset kalau jalan-jalan, jadi ketika Pagit bertanya seperti apakah Watu Dodol say atak bisa jawab.

Pertanyaan terjawab ketika kami bertiga makan malam di restoran hotel. Di kotak tissue meja makannya terdapat gambar batu lonjong warna hitam dibawahnya ada tulisan Watu Dodol. Ternyata Watu Dodol adalah Batu yang warnanya hitam dan bentuknya lonjong seperti dodol. Tapi anehnya Watu Dodol letaknya di tengah-tengah jalanan banget. Banyak cerita urban legend dan ada juga yang rada mistis ketika kami google tentang Watu Dodol. 

Yang paling penting buat saya adalah misi melihat matahari terbit pertama kali di Pulau Jawa sudah terlaksana.

View Sunrise dari Watu Dodol Hotel


Lokasi:
Jl. Raya Situbondo No.290
Ketapang, Kalipuro
Kabupaten Banyuwangi



Minggu, 03 September 2017

Birthday Trip 2017 : The Beginning

Ini cerita tentang birthday trip. Sepertinya trip semacam ini akan jadi ritual, setiap tahunnya saya akan melakukan satu perjalanan yang ada misinya di hari ulang tahun. Tahun lalu saya lari half marathon untuk pertama kalinya di Maybank Bali Marathon. Tahun ini misi saya adalah menyusuri pulau Jawa dari Barat ke Timur dengan kereta api dan melihat sunrise di ujung timur Pulau Jawa. Misi ini membawa saya ke Banyuwangi. 

Awalnya saya merancang perjalanan ini untuk solo backpacker karena di usia yang sekarang agak susah mengajak kawan-kawan sebaya untuk ikut traveling, karena di umur-umur segini lagi sibuk-sibuknya dengan pekerjaan dan keluarga, kebanyakan kawan saya pada punya baby atau balita. Karena itu pula saya memilih lokasi selanjutnya yaitu Ijen. Secara tidak sengaja saya pernah dengan ada bapak-bapak di kantor yang bilang kalau Ijen itu artinya “sendiri”. Seketika itu saya putuskan mau ke Ijen. Kebetulan searah dengan misi matahari terbit. 

Meanwhile lagi di daerah sana, sekalian saja ke Taman Nasional Baluran. Sudah lama saya kepingin kesana, Little Africa in Java. Saya belum pernah ke savana. Tince sudah mendahului saya pergi ke Baluran tahun lalu bersama keluarganya dan menyewa resort disana, jadi saya tinggal ikuti jejaknya Tince. Kalian bisa kenalan lagi sama Tince di postingan birthday trip saya tahun lalu. 

Sebulan sebelum pergi Pagit memutuskan ikut. Setelah cutinya di approved kantor, kami langsung pesan tiket. Diluar dugaan ada satu lagi yang gabung, Susi. Perjalanan yang tadinya saya pikir akan saya jalani sendirian (seperti kemungkinan besar sisa hidup saya beberapa tahun mendatang), berubah menjadi perjalanan pakai hashtag girlsquad atau boleh juga hashtag TimBaluran. 

Rencana awal pulang dan pergi mau pakai kereta, tapi setelah pesan tiket berangkat baru sadar kalau tanggal 1 september - dimana trip berakhir, bertepatan dengan Idul Adha. itinerary pun direvisi. Kami pulang lebih awal 2 hari dari yang direncanakan, menggunakan pesawat dari Surabaya dan menambah satu hari untuk jalan-jalan di kota Surabaya. 

Kami berangkat jam 10 pagi dari stasiun kereta Pasar Senen naik kereta Ekonomi-AC. Saya pernah tulis kalau perkembangan kereta api tahun-tahun belakangan ini luar biasa meningkat, jadi jauh lebih nyaman. Bahkan sekarang kalau mau tukar bookingan tiket tidak perlu antri di loket, langsung print boarding pass di mesin yang sudah disediakan. Keretanya pun sekarang bersih dan dingin karena dipasang AC walaupun kereta Ekonomi. 

Tempat duduk di kereta ekonomi memang lebih padat dari kereta bisnis dan eksekutif, tapi buat saya sih tidak masalah. Apalagi kebetulan kami dapat tetangga tempat duduk yang seru, seorang laki-laki muda dan seorang ibu-ibu dengan anak balita perempuannya. Dengar cerita mereka tentang masa-masa kelam kereta ekonomi jaman dulu, saya jadi makin takjub dengan transformasi PT. KAI. Bukan hanya keretanya, tapi stasiun-stasiunnya terlihat jauh sangat berbeda. Kalau naik kereta di Jawa sekarang sudah tidak kalah dengan waktu saya naik kereta dariMelbourne ke Ballarat di Australia

Tidak ada kereta langsung dari Jakarta ke Banyuwangi, kami harus turun dan ganti kereta dari Jogja atau Surabaya. Karena waktunya lebih pas, maka kami transit di Surabaya dan lanjut naik kereta lain ke Banyuwangi. Kereta dari Jakarta tiba tepat waktu di Stasiun Gubeng Surabaya, sekitar pukul 1.30 dini hari. Kereta dari Surabaya ke banyuwangi berangkat jam 4 dan tiba di Stasiun Banyuwangi Baru sekitar jam 11. 

Keluar dari stasiun kami di sambut oleh orang-orang yang menawarkan transport ke kota. Ternyata kotanya jauh dari stasiun banyuwangi baru, tapi kalau mau ke Pelabuhan Ketapang tinggal menyebrang jalan. Kami melewati semua orang yang menawarkan transport tapi ada satu bapak-bapak di angkot yang saya tanya, apakah angkotnya lewat ke hotel watu dodol atau tidak. Disitu tempat kami menginap. Ternyata tidak lewat, tapi si bapak menawarkan untuk mengantar. 

Awalnya kami mengelak dengan bilang mau cari makan dulu karena lapar. Kami jalan sampai ke jalan raya dan makan di depot dekat stasiun. Ketika kami keluar mau menunggu angkot, tiba-tiba si bapak angkot kuning muncul. Ya akhirnya kami naik angkot itu juga, dengan membayar 20 ribu per orang hingga tiba ke hotel. Kelak angkot kuning itu pula yang mengantar kami hingga ke Taman Nasional Baluran.

TimBaluran dan angkotnya (photo credit: susi)


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...