Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bogor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bogor. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 November 2017

ITB Ultramarathon Jakarta-Bandung 170km

Beberapa bulan lalu, tidak lama sebelum bulan puasa tahun ini, saya mulai mengikuti awal terlahirnya event yg idenya berawal dari salah satu pelari ultramarathon senior saya di kampus yang sudah malang melintang di dunia perlarian. Ide pelari ultramathon tersebut kemudian disambut oleh dua orang senior saya yang sudah jadi orang-orang hebat. 

Yang saya takjub dari ketiga beliau adalah ditengah kesibukan sebagai para petinggi tingkat (multi)nasional masih sempat2nya create event lari dalam waktu kurang dari satu tahun, efektifnya mungkin hanya 4-5 bulan. Acara lari ini mengambil rute dari jakarta ke kampus ITB di Bandung lewat puncak yang diselenggarakan untuk menggalang dana yang akan disumbangkan ke Fakultas tempat saya kuliah dulu. Acaranya diberi nama Tribute to FTMD (fakultas teknik mesin dan dirgantara).

Hal ini jd semacam re-charge energi dan motivasi buat saya - anak magang yang timbul tenggelam, bahwa gak ada satu ide gila pun yang tidak mungkin terlaksana dengan semangat, kerja keras dan ..... 

koneksi.

...makanya gaul itu juga penting. 

Jarak Jakarta - Bandung yang ditempuh sekitar 170km. Boleh ditempuh sendirian, boleh juga keroyokan. Bisa ber-2, ber-4, ber-8, dan ber-16. Demi untuk menjaring banyak anggota saya ikut kategori ber-16, jadi masing-masing pelari dapat jatah sekitar 10an km.



Mengumpulkan 16 orang dalam 1 team lari ternyata gampang-gampang susah. Memerlukan skill personal approach, negosiasi dan persuasi. Terutama ketika berusaha mendapatkan pelari perempuan kedua dan satu2nya yang bergelar Doktor @kireinashit dalam tim, sempat terjadi perebutan dan negosiasi alot dengan tim sebelah yang anggotanya perempuan semua. 

Walaupun rencana latihan bersama seminggu sekali hanya tinggal wacana, namun kapten tim yang penyabar, Hamzah, tetap berhasil mempertahankan kesatuan dan kekompakan. Detik-detik terakhir sempat terjadi krisis karena salah satu anggota berhalangan, namun kapten dengan tenang berhasil menanggulangi masalah ini dan membawa anggota baru, Igan - ikhwan ganteng sebagai pengganti. 

Tantangan sebenarnya dari ultramarathon ini bukan hanya di lari, tapi strategi mengatur logistik 16 pelari yang akan melewati jalur padat di akhir minggu. Untungnya ada Shadiq, pelari sekaligus ahli strategi yang sistematis. Ada juga pelari sekaligus penasihat tim yang kadang ide2nya brilian tapi lebih seringnya sampah, Chris yang juga pencetus nama tim ini, yaitu 137runner, 137 karena NIM kami semua berawalan 137. 

Unggulan tim ini adalah Hendra, pelari kencang berprestasi atlit PON kebanggaan kami yang sudah naik-turun podium. Yang tidak kalah fenomenal juga ada Ari yang rajin ikut race, Dicky (mantan) atlit kampus, Bagus, Helmi, dan Ganjar yang berwajah lugu tapi larinya jauh. Lalu ada para pemula yang kemampuannya meningkat pesat Fino, Budi -pelari sekaligus sponsor tim, dan Dodi - tangan kanan kapten. Satu lagi adalah pelari yang paling misterius, karena banyak dari anggota tim yang belum pernah melihat sosoknya (mungkin hanya bayangannya sangking cepetnya), Alnahyan. 

Tanggal 13 Oktober malam acara race dimulai. Perjalanan ini diawali oleh Igan di lokasi start wisma BNI dengan penuh perasaan cemas dan gugup karena baru pertama kali ikut dalam ajang race. Dikarenakan terbatasnya anggota dan tim support dari KAM maka Igan harus berjuang sendiri di garis start. Tapi kecemasan tak mempengaruhi performanya di ajang perdana ini, Igan berhasil mencapai WS (Water Station)1 di daerah pasar minggu, melewati tatapan sinis dan kesal para pengendara kendaraan yang terkena imbas macet akibat event ini. Pergantian pelari dilakukan di setiap WS.

Di WS1 Igan disambut oleh pelari misterius Alnahyan. Sambil mengunyah nata de coco, Al berhasil mencapai WS2 yang jaraknya lebih dari 10km dari WS1 pada pukul 00.34 wib, hanya dengan waktu 1.15 saja. Kedua pelari awal ini mengangkat estimasi waktu finish secara drastis sehingga rombongan pelari puncak memutuskan untuk berangkat lebih awal. Meminjam istilah Hendra bahwa Djakarta adalah Koentji! 

Sementara itu tanpa ada kesepakatan sebelumnya selalu ada pantauan dari grup wa 137runner, bergantian memberi support dan memantau perkembangan race. Dari Al, estafet dilanjutkan oleh Fino hingga tiba di ws3 pada pukul 02.08. Waktu tempuh Fino jg merupakan pencapaian yang luar biasa untuk pelari yang baru perdana ikut race, langsung menempuh jarak 10km dan larinya di jam2 orang lain bobo. Budi, yang merupakan newbie di dunia perlarian sudah siap menyongsong Fino di WS4. 

Ke newbie-annya membuat saya paling khawatir dengan Budi, sampai secara personal berkali-kali menyampaikan kalau ini acara fun, tidak perlu dipaksakan, dan tidak harus menyelesaikan 10km jatahnya. Tapi ternyata Budi berhasil menaklukan tantangan dengan support dari anggota di wa grup. Pukul 04.15 Budi berhasil mencapai WS5 di cibinong. Menjelang finish saya ketemu budi di kampus dengan gaya jalan yg sudah tertatih-tatih, tapi ketika yori mendekati finish budi tetap semangat ikut mengiring dari gerbang ganesha hingga gerbang finish dengan bertelanjang kaki. 

Dicky lanjut berlari dari ws4 menuju ws5, sementara itu pelari ke7, chris sudah berangkat lebih awal dan menunggu saya (mila) yang akan melanjutkan dicky dari bogor hingga daerah ciawi. Saat itu sekitar jam 4 subuh, padahal estimasi awal chris mulai lari pukul 11 siang. Jam 5 subuh rombongan pelari puncak hamzah, hendra, shadiq, bagus sudah berangkat juga. 

Pkl. 5.15 Dicky tiba di WS5. Kemudian giliran saya untuk melanjutkan arm band estafet hingga WS6. Jalan padjajaran bogor yang selama ini dilalui dengan angkot dan mobil rasanya datar-datar saja ternyata merupakan tanjakan tanpa bonus. Lewat dari 10km saya mulai merasa hilang arah karena tidak melihat ada pelari lain dan atau penunjuk arah, akhirnya tanya tukang parkir dimana arah wisma kemenag, tempat finish saya. Untung katanya masih lurus saja, berarti saya ada di jalur yang benar. Setelah melewati perempatan masuk ke jalan tol, pasar ciawi, gerobak bubur ayam, lontong sayur, gorengan saya tiba juga di ws6 pukul 7 passss... menempuh jarak 11.36 km dan elevasi 200 meter. 

Perjalanan saya dilanjutkan oleh chris yang harus melalui jalan dengan elevasi yang lebih dasyat lagi di daerah cisarua menuju Cimory. Dari jatah waktu COT 3 jam yang diberikan panitia, Chris mampu menyelesaikan dalam 1 jam 20an menit saja. Hendra, atlet kebanggaan 137runner lebih parah lagi. Berhasil membuat tukang ojek puncak minder karena berlari 10km elevasi 400an dengan waktu 1 jam doang. Itu baru pemanasan doang buat dia kayaknya soalnya masih kepingin lari lagi di slotnya helmi yang tiba2 sakit menjelang race. GWS ya helmi, semoga next event bisa ikutan. 

Kapten kita, Hamzah, melanjutkan perjuangan Hendra dari WS8 menuju WS9 dengan waktu yang tidak kalah gokil, kira-kira sejam doang juga ! Fiuh. Pkl. 10.20 hamzah sudah tiba di WS9, membawa 137runner memasuki segmen menurun dari kawasan puncak. Berlari di turunan yang panjang sebenarnya sama sulitnya dari berlari di tanjakan. Malahan lebih rawan cedera karena di turunan harus melawan gaya gravitasi. Shadiq yang ditugaskan berlari menyusuri elevasi yang semakin menyusut sepanjang sekitar 12km. Banyak anggota 137runner yang khawatir ketika shadiq berlari, bukan khawatir takut cedera, tapi khawatir ketika lari tiba2 dibelakangnya jadi banyak yang mengejar - para gadis kembang desa. 

Pkl 13.40 arm band beralih dari shadiq ke bagus di WS11. Dengan ceria dan sumringah, dibawah terik matahari yang panas, bagus berhasil tiba di WS12 pkl. 13.40 dan menyerahkan arm band kepada kapten hamzah lagi yang akan berlari mewakili helmi. 

Sementara para pelari berjuang menyelesaikan segmen masing-masing, kedua orang team manager- Aldy dan Putu, juga bekerja keras dengan penuh dedikasi mensupport mobilisasi pelari dari dan ke tiap WS. Konon Aldy sampai harus berkorban kartu ATM yang tertelan di mesin atm. Saya yakin capeknya manager team juga sama dengan para pelari, bahkan mungkin lebih, karena harus menyetir selama belasan jam melewati jalur naik turun dan macet. 

Hamzah tiba lagi di WS13 pukul 15.17. Katanya sempat ada insiden kaki keram tapi untungnya tiba juga dengan selamat dan menyerahkan tugas selanjutnya ke Dodi. Sebelum race saya sempat wa putu, yang merupakan kawan seangkatan dodi. Saya curiga sama kelakuan dodi yang gak pernah ikut latian bareng, ga pernah share hasil lari di grup wa, tapi kalau ngumpul selalu ada dengan sikap kalem dan cengengesan. Waduh, jangan2 dia bisa beres 10k dibawah 1 jam, kata saya ke putu. Putu bilang, yaa mungkin juga, karena waktu kuliah dulu dodi biasa lari 10k. Dan di event race perdananya ini, dodi berhasil menaklukan jarak yang ditugaskan kepadanya dengan smooth dan banyak foto-foto. 

Pkl. 18.40, Ari mulai berlari dari WS13 ke 14. Sudah semakin mendekati garis finish. Ari yang sudah sering ikut race dan berdedikasi sama latihan larinya juga menuntaskan segmennya dalam waktu 1 jam. Jam 20.54 arm band sudah beralih ke Ganjar, pelari ke 15. Yang artinya tinggal 1 pelari lagi menuju kampus ganesha. Ganjar sempat bermasalah lututnya, tapi tim support dengan cekatan mengantarkan balsem ke Ganjar. Dengan semangat material yang kuat, tangguh, bersemangat, ganjar berhasil mengalahkan masalah lutut dan berlari menyusuri padalarang hingga tiba di WS15, dimana Yori telah menanti. 

Yori, satu2nya doktor di tim lari 137runner, adalah pelari dengan jatah lari paling banyak. Hampir 15km. Menyusuri cimahi, belok ke pasteur, naik ke jembatan layang pasupati kemudian mengarah ke tamansari menuju ganesha. Memasuki jembatan layang Pasupati, rombongan pelari puncak sebanyak 5 orang mulai mengiringi yori. Di tamansari rombongan iringan bertambah dari team manager dan adik-adik MTM yang menyerukan yell-yell sepanjang jalan ganesha hingga memasuki gerbang finish. Pukul 23.10.

NB: sebagian tulisan ini (dan lebih banyak foto-foto) telah dipublish di IG @milasaid

Selasa, 21 Februari 2017

Arch Hotel Bogor

Saat ini - sekitar jam 6 subuh, di luar hujan badai sejak dini hari. Biasanya saya sudah berangkat dari rumah jam 5.30 menuju tempat kerja, tapi mengingat pengalaman kemarin, gelap-gelapan menebak jalanan banjir atau tidak, lebih baik saya gak jalan dulu. Dapat berita dari adik saya yang baru berangkat mau kuliah, ternyata rumah saya terkepung antara banjir dan pohon tumbang. Yah makin mager.

Kemarin dalam usaha mencapai tempat kerja yang berjarak 40 km, saya menerjang genangan yang ternyata makin lama makin dalam sehingga memutuskan putar balik. Tapi diantara perjalanan membelah genangan air tersebut, selain menciptakan semacam ombak yang mengguyur pengendara motor disebelah saya (maaf banget ya mba, sumpah gak sengaja), plat nomor mobil bagian depan saya pun hilang.

Nah karena itu, hari ini saya pikir lebih baik untuk tunduk dulu sama kehendak alam, menunggu hujan reda sambil menikmati kopi hitam tanpa terburu-buru dan menulis blog.

***

Bulan Desember tahun 2016 silam saya sempat ada shortrip ke Bogor. Karena jarak Bogor yang tidak begitu jauh dari Jakarta, biasanya saya jarang menginap disana. Tapi kali itu saya mau iseng, menghabiskan malam di Bogor.

Berangkat dari kantor jam setengah lima sore, saya tiba di rest area yang sebelum exit sentul city seklitar jam setengah 6. Mampir untuk jajan Starbuck. Rencananya saya mau go show cari hotel-hotel di sepanjang Jl. Padjadjaran, tapi iseng-iseng saya lihat Agoda di handphone saya dan menemukan sebuah hotel di area yang saya inginkan lagi diskon banyak. Plus ada tambahan potongan setelah log in, insider’s deal.

Nama hotelnya Arch Hotel. Setelah booking confirmed, saya langsung cari lokasi tersebut di GPS. Saya diarahkan oleh GPS untuk exit di sentul city kemudian masuk toll yang baru. Ternyata lokasinya tidak begitu jauh dari exit toll baru itu. Hotelnya bertetangga dengan salah satu café yang lagi hits di Bogor, Lemongrass.

Hotelnya memang tidak besar, kamarnya juga standard, kalau misalkan tidak ada diskon yang besar ditambah insider’s deal menurut saya sih rate nya terlalu mahal. Yang bikin saya tertarik cuma kolam renangnya.

Bisa jalan kaki ke Lemongrass
Kamarnya lumayan, yang penting ada pemanas air untuk bikin kopi
Safety deposit box dan Kulkas
Sandal hotelnya lucu juga warna hitam

Ketika check in dengan sok tau saya tanya kolam renang buka sampai jam berapa, kebetulan di mobil bawa baju renang. Mas-mas receptionist bilang buka 24 jam, saya pun niat mau berenang malam-malam. Pas malam hari saya balik kesitu, langsung buyar niat saya ketika mencelupkan ujung jari. Dingin banget. Akhirnya saya cuma duduk dipinggir kolam, buka laptop.

Dari Agoda saya hanya booking kamar tidak include breakfast karena memang harus berangkat pagi sekali. Waktu lagi nunggu lift turun dari lantai tempat kamar saya, dari jendela tampak  puncak Gunung Salak  yang diselimuti awan tipis.



Gunung Salak View dari jendela hotel


Alamat:
Arch Hotel Bogor
Jl. Raya Pajajaran No. 225
Bantarjati, Bogor Utara




Sabtu, 07 Mei 2016

Lari di BUPERTA Cibubur

Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (BUPERTA) Cibubur jaman saya SD dan SMP dulu terkenal sebagai tempat perkemahan untuk kegiatan Pramuka. Saya juga sempat mengalami kemping di Cibubur. Waktu itu  sudah ada McDonald, tapi dari Jakarta ke Cibubur rasanya jauh sekali, rasanya kayak ke daerah puncak atau bandung. Jaman dulu  kan daerah antara jakarta dan cibubur masih sepi dan masih banyak tanah-tanah kosong. Siapa sangka hanya butuh waktu kurang dari 20 tahun untuk menjadikan daerah yang tadinya kosong jadi daerah padat pemukiman.

Terakhir saya ke BUPERTA Cibubur ketika SMP kelas 1. Waktu itu karena hujan deras lokasi camping kelompok saya tergenang air sehingga kompor minyak tanah yang akan digunakan untuk masak sumbunya basah. Waktu itu campingnya masih pakai kompor minyak tanah dan tenda yang disusun manual dari terpal pakai rangka potongan bambu yang diikat dengan tambang dan diikat pakai pasak yang ditanam di tanah, tidak pakai tenda dome. Beruntung ada orang tua salah satu kawan kelompok saya yang datang. Melihat kondisi kami kebasahan dan tidak bisa masak, kami dibelikan McDonald. Waktu itu McDonald Cibubur yang depan BUPERTA sudah ada.

20 tahun kemudian saya kembali lagi untuk lari. Awalnya karena lihat Cipu beberapa kali share foto lari di BUPERTA Cibubur, jadi suatu sabtu saya dan nico janjian sama cipu lari bareng disana. Masuk ke area bumi perkemahan bayar karcis, untuk umum 6000 dan mobil 8000. Tempat parkir luas, banyak tukang jualan makanan dan minuman, dan ada toilet. Tempat ini rasanya jauh berbeda dari yang saya ingat waktu saya kecil. Seingat saya dulu BUPERTA Cibubur ini seperti hutan yang rimbun, sekarang rasanya hanya seperti taman yang agak luas. Bahkan tempat ini rasanya tidak seluas ingatan saya. Satu keliling lari disini 5 km lebih, jalurnya banyak tanjakan turunan, seru buat latihan lari dikontur yang tidak rata.

Jalur lari di BUPERTA Cibubur

Nico, Saya dan Cipu di depan tempat yang jadi lokasi syuting sinetron

Selasa, 15 Maret 2016

Lari ke Gunung Pancar

Waktu itu saya dan beberapa kawan-kawan tiba di kawasan Sentul City sekitar jam setengah 7, agak telat memang untuk memulai lari karena matahari sudah terlanjur bersinar terang. Kami memutuskan parkir di Gedung Budaya Sentul City menunggu satu rombongan lagi di mobil terpisah yang baru datang jam 7. Ternyata dua orang kawan saya di mobil yang baru datang itu tidak mau ikut lari, mereka memilih naik mobil sambil melakukan olahraga lain, yaitu main catur. 

Tujuan rute lari saat itu adalah ke Gunung Pancar. Diantara kami belum ada yang pernah ke Gunung Pancar jadi sama sekali buta dengan jarak dan medan lari saat itu. Dari Gedung Budaya kami lari ke arah The Jungle, di persimpangan yang banyak ojek ada petunjuk arah ke Gunung Pancar dan Air Terjun. Setelah persimpangan yang ada pangkalan ojek itu jalanan mulai menanjak, dan karena kami sudah kesiangan jadi sudah ramai oleh mobil dan motor. 

Mendekati kilometer ke 3 tanjakan menjadi semakin sadis derajat kemiringannya. Saya sudah tertinggal jauh dibelakang dari Martin dan Nico, sementara Grace yang mulai ikut lari bareng sama saya mulai pangkalan ojek terpaksa menyerah dan ikut naik mobil hingga sampai di Gunung Pancar. Saat itu saya merasakan tarikan gravitasi seperti nyaris memaksa saya buat merangkak di aspal. Jalan saja sudah tidak bisa tegak karena jalannya miring sekali. 

Saat itu saya cuma bisa menyeret kaki-kaki saya yang mulai terasa kaku dengan wajah menunduk ke bawah, menyaksikan bulir-bulir keringat saya jatuh bercucuran di atas aspal. Sesekali saya menengadah melihat ke depan, nun jauh diatas sana tampak seperti ujung pendakian. Tapi ketika sampai di titik yang saya pikir ujung pendakian ternyata cuma bonus sedikit, setelah itu tanjakan selanjutnya menyambut. 

Jarak dari Parkiran Gedung Budaya hingga ke Gunung Pancar memang gak jauh, tidak sampai 5km. Tapi karena tanjakannya sadis, bikin betis meringis pedih. Jalannya aspal mulus tapi lumayan gersang, tidak banyak pohon di sisi jalan untuk berlindung dari sengatan matahari pagi yang mulai terik. Saya membuat mental notes, lain kali kalau mau lari lagi kemari harus start jam 5.30 subuh dari Sentul City. 

Mendekati kilometer ke 4 saya mulai melihat ada pucuk-pucuk pohon pinus di kejauhan. Benar saja, tak lama saya saya sudah berada di tengah-tengah jajaran hutan pinus. Pohon pinus daunnya beda dengan pohon lain, bentuknya langsing dan lancip seperti jarum. Konon bentuk daun pohon pinus yang lancip berguna supaya penguapan air melalui permukaan daun berkurang drastis tanpa harus mengurangi luas permukaan hijau yang berguna untuk fotosintesis, jadi pohon pinus ini termasuk yang paling tahan dengan kondisi curah hujan yang sedikit. 

Saya mulai berlari lagi ketika memasuki kawasan hutan pinus, tidak jauh ada gerbang masuk Gunung Pancar. Suasana mendadak teduh dan rindang diantara naungan pohon pinus. Kami sempat duduk-duduk, gegoleran dan coba foto ala-ala gaya acro yoga tapi gagal. Rencananya kami mau foto plank tapi tumpuk tiga dengan posisi Martin paling bawah, Nico di tengah dan saya paling atas. Masalahnya karena tinggi badan saya yang minimal jadi buat memanjat ke atas Martin dan Nico susah, akhirnya saya memutudkan untuk sedikit melompat tapi mereka malah gak kuat dan kami pun rubuh seketika. 

Sadar kalau kami tidak bakat bergaya acro yoga kami memutuskan melanjutkan perjalanan dengan tujuan mencari air terjun. Tapi kami hanya jalan sejauh pemandian air panas karena tergoda kelapa muda yang digantung di warung dekat situ. Habis makan kelapa muda kami lupa sama air terjun dan langsung jalan balik pulang. Tapi saat itu sudah terlalu siang dan matahari sudah terlalu terik, akhirnya kami hanya mampu jalan sampai dengan pangkalan ojek di dekat pintu The Jungle kemudian minta dijemput oleh dua kawan kami yang lagi asik main catur pakai mobil. 


Rute lari Sentul City - Gunung Pancar



Jumat, 19 Februari 2016

Tea Walk

"Coba, berapa luas hutan yang dikorbankan untuk bikin kebun teh begini sama Belanda jaman dulu?" tanya saya ke Rio ketika kami tiba di kebun teh daerah puncak sore itu. Entah kenapa itu pikiran pertama yang melintas di otak saya ketika melihat hamparan pohon teh.

Kabut sore mulai menggelayut sehingga membuat pohon-pohon pinus yang tak jauh dari tempat kami berdiri tampak seperti siluet. Ide aneh jalan-jalan ke kebun teh berawal dari hari sebelumnya ketika saya, tince dan nico menyambut kedatangan Rio yang sedang berlibur di Jakarta. Terakhir kali saya ketemu Rio waktu Mendadak Bali Part 1 tahun 2015, awal tahun 2016 kami ketemu lagi di ibukota. 

Rio tertawa mendengar pertanyaan saya, "yang disuruh kerja paksa orang kita lagi ya. memang brengsek belanda jaman dulu hahaha."

"Terus," tiba-tiba muncul lagi pikiran yang lebih horor yang bikin mata saya membelalak memikirkannya, "berapa banyak hewan-hewan yang tinggal di hutan yang punah gara-gara tempat tinggalnya dibikin kebun teh?"

Perkebunan Teh
Parahnya manusia juga gak akan bisa kenyang karena makan teh,  jadi sebenarnya bukan kebutuhan pokok. Jaman dulu teh itu adalah gaya hidup alias lifestyle. VOC menanam teh di Indonesia supaya tidak perlu ambil teh jauh-jauh ke Cina untuk dijual ke Eropa. Kemudian dengan menanam sendiri, tidak perlu beli mahal-mahal dari Cina, cost lebih murah, margin lebih tinggi. Bener kata Rio, brengsek memang tuh belanda jaman dulu. 

Orang Eropa baru ngerti minum teh di abad ke-17. Karena sumbernya jauh dan mengambilnya berisiko, harga teh jadi sangat mahal. Tidak sembarangan orang bisa beli teh, maka minuman ini dianggap sebagai minuman berkelas para bangsawan. Disajikannya di cangkir-cangkir mahal yang imut supaya minumnya  gak banyak-banyak (mungkin). Sementara di Cina sendiri budaya minum teh sudah ada sejak jaman sebelum masehi (BC). Saya ingat waktu ke shanghai beberapa tahun lalu banyak orang yang jalan kaki menenteng botol minuman yang isinya teh seperti masyarakat ibukota di daerah perkantoran pagi-pagi menenteng gelas Starbuck.

Perusahaan dagang milik Belanda (VOC) dan milik Inggris di abad 17 itu bersaing berat membawa komoditas teh ke pasar Eropa, ketika Belanda mulai bikin perkebunan teh di pulau Jawa, Inggris pun bikin kebun teh di India yang merupakan daerah koloninya. Sangking berharganya itu yang namanya teh. Di jaman itu siapa yang bakal mengira kalau beberapa abad kemudian di rumah makan sunda di indonesia minuman teh tawar itu bakal jadi compliment alias gratis. Dan biasanya di rumah makan jepang teh hijau adalah minuman yang harganya paling murah dan bisa di refill sampai kembung, walaupun jaman dulunya teh itu dianggap minuman berkhasiat yang cara minumnya saja dibuat ritual khusus.

Kalau mau nongkrong di cafe selama berjam-jam tapi hemat, ada tips dan trik dari kawan saya yang selalu memesan teh hangat. Alasannya adalah karena kalau pesan teh kita dapat satu tea bag, bisa minta tambah air panas berkali-kali untuk seduh tea bag itu dan gak bayar. Jadi kalau duduk di cafe 3 jam, saya sudah pesan 2 cangkir kopi dan satu air mineral yang kesemuanya musti bayar, kawan saya itu cuma  minta air panas berkali-kali - gratis, seduh aja terus sampai airnya bening, yang penting di atas  meja keliatan ada gelasnya.

Walaupun sudah bisnis impor teh ke eropa dari cina sejak abad 17, VOC baru mulai menanam teh di Jawa tahun 1800-an. Awalnya VOC beli benih teh dari Jepang untuk ditanam di Jawa. Kemudian VOC mengirim seorang ahli teh orang Belanda ke Cina. Dia dikirim untuk mempelajari secara diam-diam cara budidaya teh disana, kemudian berhasil menyeludupkan benih-benih teh dari sana berikut bawa orang Cina yang ahli menanam teh dan ahli mengolah teh. Baru setelah itu perkebunan teh berkemabng pesat di pulau Jawa hingga merambah ke pulau Sumatera. Ketika Indonesia merdeka, perkebunan teh milik VOC diambil alih oleh negara dibawah perusahaan bernama PTPN, PT Perkebunan Nusantara. 

Turis Kebun Teh
Setelah Tea Walk berkeliling kebun teh dan berusaha mendaki sampai puncaknya yang tertinggi (menurut keterangan sih 3000-an mdpl), saya dan Rio menikmati sore di kebun teh sembari ngopi di warung. Kopi sachetan yang diseduh air panas tidak mendidih. Di warung itu dijual macam-macam jenis teh: teh hitam, teh hijau dan teh putih (white tea), dari bungkusnya saya lihat yang dijual itu hasil produksi dari Jawa Tengah, bukan produksi kebun teh disitu. 

Kebun teh di puncak itu masih dipetik, dua minggu sekali, menurut informasi dari ibu penjaga warung. Dari atas bukit teh juga saya sempat lihat ada bangunan yang saya tebak seperti pabrik pengolahan teh, tapi saat itu tampak sepi. Di area perkebunan juga ada area glamping, glamour camping. Sudah ada tenda-tenda yang disiapkan disitu untuk disewakan.

Tidak lama kami duduk di warung, muncul beberapa orang turis arab. Ibu warung langsung mengambil dagangan macam-macam tehnya untuk diletakan di depan warung supaya dilihat turis arab.

"Mereka biasanya suka beli ini," kata ibu warung dengan logat sundanya yang khas.

Saya tidak tahu sejak kapan daerah puncak itu jadi destinasi untuk turis timur tengah. Pertama saya lihat banyak turis Arab di puncak sekitar 2 tahun lalu ketika saya iseng ke Puncak mau cari curug Cilember tapi nyasar dan berakhir di Taman Wisata berlogo Matahari Departemen Store. Ternyata kemarin pas lewat jalan raya puncak saya baru sadar kalau banyak sekali hotel-hotel dan rumah makan pakai huruf arab, bahkan ada salon yang keterangan di depannya berbahasa arab. Mungkin kalau di gurun lagi panas, mereka ngadem di daerah puncak. 

Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali lagi ke kebun teh ini, bukan untuk Tea Walk lagi tapi Tea Run. 


Senin, 01 Februari 2016

Lari di Kebun Raya Bogor

7 tahun lebih punya blog, baru belakangan ini saya merasakan ada pergeseran tema yang mengarah kepada pencarian jati diri. Awal-awalnya di blog ini saya cerita tentang pengalaman jalan-jalan yang absurd, kadang diselipi dengan pemikiran-pemikiran aneh sok filosofis yang suka mendadak muncul.

Tahun lalu postingan saya makin random karena frekuensi wara-wiri berkurang drastis. Saya malahan mulai menekuni hobi baru, bercocok tanam sayur-sayuran. Sementara itu kegiatan olah raga lari yang awalnya saya mulai lagi karena mulai merasa keberatan badan, makin intensif saya lakukan.

Tapi lumayan sih, kalau ada yang tanya akhir pekan saya kemana, jawabannya "gw sibuk banget, sabtu berkebun, minggu lari." Lumayan ngeles dari tatapan iba orang-orang kalau tau saya jomblo di akhir pekan. Yah sepertinya kalau saya pikir-pikir blog ini memang sudah bergeser temanya, dari blog travelling jadi blog jomblo yang menyibukan diri.

Untungnya saya gak sendiri jadi jomblo. Karena saya percaya dengan slogan : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,  maka saya seringkali mengumpulkan jomblo-jomblo disekitar saya untuk bersatu menghadapi dunia yang penuh dengan manusia berpasang-pasangan ini. Banyak yang bilang kalau mau merubah dunia kita harus mulai dari yang paling dekat dengan kita, maka saya mengumpulkan orang-orang yang saya kenal, masih single, dan membentuk squad kayak Taylor Swift. Nah salah satu agenda kita ya Lari. Bisa lari supaya bugar, bisa lari dari kenyataan, bisa lari dari masa lalu - walaupun yang terakhir itu biasanya yang paling berat buat yang susah move on, tapi kita sering melakukannya bersama-sama.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Lari di Kebun Raya Bogor sendiri berawal dari ide spontan ketika salah satu klien bisnis membatalkan janji, kami memutuskan untuk melipir ke Kebun Raya Bogor untuk lari sore. Sebelumnya kami memang sudah browsing tempat lari lain karena sudah mulai bosan lari di senayan dan di taman tebet, mau cari suasana baru sekalian cari prospek gebetan baru. Kebetulan pas harinya ketika klien membatalkan janji itu, waktu itu saya bertiga dengan chacha dan nico memang bawa baju lari karena hari itu hari selasa, hari lari di Senayan. Yasudah sekalian saja kita ganti jadwal dan lokasi lari jadi di Kebun Raya Bogor.

Sampai di Bogor kami sempat makan siang dan menunggu sore di Lemongrass, cafe yang lagi hits. 

Saya sudah lupa kapan terakhir kali masuk Kebun Raya Bogor, mungkin waktu karyawisata SMP, atau bahkan SD. Jadi kami sempat mondar-mandir menyusuri Kebun Raya dari jalan raya untuk menemukan pintu masuk yang bisa untuk parkir mobil. 

Kami menemukan pintu masuk yang bisa dilalui mobil sore itu melalui pintu ke Grand Garden Resto dan Cafe yang terletak di dalam lokasi Kebun Raya. Kami tiba jam 4 lewat, ada loket tiket tapi kosong dan satpam menanyakan mau kemana. Ketika saya bilang mau ke cafe, satpam itu mengarahkan jalan.

Nico sudah tidak sabar mau lari dan ganti baju kantor dengan perlengkapan larinya. Tapi saya yang masih ragu dengan track-nya mengusulkan kita survei dulu, apalagi kelihatannya kami sudah kesorean dan di kebun raya mulai terlihat gelap. Kami pun sepakat untuk survei rute dulu, tanpa ganti baju olahraga. Waktu itu kami jalan keliling Kebun Raya yang kami pikir sangat luas, ternyata setelah dikelilingi jaraknya tidak sampai 5 km. 

Beberapa hari kemudian kami kembali lagi. Kali ini membawa satu orang lagi anggota bernama Grace. Kebetulan waktu itu saya sekalian ada janji ketemu sama Pagit dan Mba Efa, setelah makan baso seseupan yang endess saya melanjutkan agenda berikutnya, lari di Kebun Raya Bogor. Pagit dan Mba Efa tidak ikut. 

Saya, Nico, Chacha dan Grace tiba di gerbang Kebun Raya yang kita datangi pertama kali waktu itu jam 4 kurang 8 menit. Kami disambut satpam yang menginformasikan kalau kami mau masuk jam 4 kurang 8 menit itu harus bayar, tapi kalau masuk setelah jam 4 tidak bayar. Akhirnya kami keluar lagi dan putar balik sebentar di jalan raya, ketika kami kembali ke gerbang sudah jam 4 lewat.

Kami rela buang waktu 8 menit muter-muterin jalan tak tentu arah supaya bisa masuk gratis. Pasti yang baca pada  mikir selain jomblo, kami juga kere. Tapi yaaah.. hidup itu berat, bung.

Saat itu biji kapuk randu di Kebun Raya sedang merekah, jadi di halaman parkiran semacam ditutupi bercak-bercak salju yang putih. Kami langsung ganti pakaian olahraga dan lari mengitari kawasan Kebun Raya Bogor. Lari disana rasanya kayak lari di tengah hutan karena menyusuri naungan pohon-pohon besar. Ada satu bagian yang bernama Taman Mexico, tanamannya terdiri dari macam-macam kaktus, mengingatkan saya sama scene di film donald duck yang di gurun terus donald jatuh ke pohon kaktus dan langsung terbang melesat ke udara dengan bekas jarum-jarum kaktus masih menancap di pantatnya yang putih. Rasanya bikin saya lupa kalau saat itu saya ada di tengah-tengah kota yang dijalan raya nya angkot-angkot hijau penguasa jalan saling salip berebut penumpang. Rute larinya, ikuti saja jalan aspal yang biasa dilewati mobil. 

Rute lari di dalam Kebun Raya Bogor




Senin, 17 Agustus 2015

Talas and bakso and everything nice

Ingat Pagit? Salah satu kawan jalan-jalan saya yang sering banget muncul di blog ini. Pagit sendiri juga punya blog dengan alamat sugarandspiceandeverythingnice , which is kalau kenal Pagit pasti sepakat kalau judul blognya itu merepresentasikan karakternya. Akhir tahun lalu kami mencari innerpeace di Lombok. Tahun sebelumnya kami jalan lebih jauh lagi ke timur, ke Flores. Dimana Pagit yang hampir pingsan karena masuk hutan demi air terjun terselamatkan di tengah jalan oleh rombongan bapak-bapak peneliti dari Bandung yang ternyata adalah kawan dari bibinya Pagit. 

Nah, libur setelah lebaran kemarin Pagit mengajak untuk berkunjung ke kota tempat tinggalnya di Bogor. Kebetulan waktu itu Lili - teman kami yang sama-sama pernah barengan di satu kantor, mau berkunjung ke Bogor. Saya langsung bilang iyess. Segampang itu karena saya memang gampangan. 

Saya mengajak Chacha yang sebelumnya belum pernah naik kereta commuter line sampai ke Bogor. Semakin ramai karena saya dan Chacha mengajak Tince a. k. a. Kartini, salah satu kawan jalan-jalan saya yang asik juga. Saya dan Chacha janjian ketemu dengan Pagit dan Tince di stasiun Bogor. 

Meeting point di KFC seberang stasiun. Tepat setelah Chacha menghabiskan cemilan spagetti nya, datang Pagit, Lili dan Susi. Tince datang setelah Pagit selesai menceritakan pengalaman terbarunya dijambret motor di dekat komplek rumahnya. Beberapa lama kenal sama Pagit kayaknya kehidupannya seru banget. 

Waktu itu ketika Pagit baru pulang dari jalan-jalan ke Philipina, dia sempat ikut menolong ibu-ibu mau melahirkan tengah malem. Jadi waktu itu dia sampai di Bogor tengah malah, lagi naik angkot menuju rumahnya ketika di tengah jalan ada sepasang suami istri dipinggir jalan, istrinya tampak pucat. Ternyata istrinya mau melahirkan. Pagit, satu-satunya penumpang di angkot itu langsung turun dan membantu mengangkat ibu-ibu itu. 

Sampai di bidan terdekat Pagit turun mengetuk pintu klinik tapi tak ada jawaban, sehingga dia harus memutari bangunan tersebut dan menggedor pintu belakangnya. Bidan langsung terbangun dan membuka kliniknya, Pagit secara heroik kembali membantu si ibu turun dari angkot sampai ke tangan bidan. 

Waktu dijambret pun Pagit dengan heroik nya sempat adu tarik tas dengan pencuri yang ada di atas motor hingga terjerembab dengan tali tas yang putus masih digenggamannya. Peristiwanya terjadi tidak jauh dari rumah Pagit, di komplek sebelah. Pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya dia lagi jalan menuju stasiun kereta mau berangkat ke kantornya. Di jalan yang sepi tiba-tiba ada pengendara motor dari belakang yang meraih tasnya. Sempat terpikir oleh Pagit kalau itu tetangganya yang lagi iseng pura-pura menarik tasnya, tapi ketika dia menarik kembali tas itu si pengendara motor malah menariknya lebih kuat, Disitulah terjadi adegan tarik menarik seperti lomba tarik tambang 17 agustusan.

Ketika Tince tiba, kami semua langsung bergegas meninggalkan KFC. Tince sempat nyasar ketika keluar dari stasiun Bogor karena memang sedikit membingungkan dan jalannya berputar-putar. Kami semua naik mobil Pagit menuju pusat jajanan yang terletak di sebelah Bogor Permai. Saya langsung tertarik sama gerobak yang jual Laksa Bogor. Baru kali itu saya makan Laksa Bogor, isinya lontong, tauge, telor rebus, tahu, suwiran ayam, kuah nya mirip soto tapi ada wangi-wangi yang beda. Dessertnya Es Sekoteng yang isinya kelapa muda, alpukat dan biji merah delima, seger banget.

Tujuan berikutnya ke Jalan Surya Kencana. Susi yang baru pulang dari urusan kerjaan di Los Palos secara masif, sistematis dan agresif membeli jajanan-jajanan di sepanjang jalan itu. Oia, Los Palos itu salah satu distrik yang ada di Timor Leste. Pertama-tama tujuannya adalah Lumpia Basah yang dijual di seberang toko jual alat tulis tempat Pagit belanja keperluan sekolah waktu SD. Ini jenis lumpia basah yang kayak saya suka beli di depan kampus di bandung dulu tapi unik karena ternyata masaknya masih pakai arang. Yang lebih unik lagi sih karena biasanya kan kalau beli lumpia basah kayak gitu dikasih sumpit kayu buat makan, tapi ini gak dikasih.

Susi tanya ke abangnya, "ga ada sumpit nya?"

"Gak pake sumpit, neng. Makan aja kayak burger," jawab abangnya acuh tak acuh.

Setelah itu kami berjalan menyusuri trotoar sepanjang Surken, beberapa meter dan beberapa gerobak sate babi kemudian kami tiba di penjual Talas Kukus. Ini enak banget, saya suka. Talasnya bukan sate babinya, kalo sate babi saya belum pernah coba. Talas bogor di kukus, dikasih parutan kelapa terus makannya pake gula merah. The best lah. Favorit pisan.

Rencana awal, kami semua mau mengantar Pagit potong rambut di Botani Square layaknya rombongan mengantar orang naik haji. Yang berangkat satu orang, rombongan pengantarnya satu metromini. Tapi akhirnya kami malahan duduk-duduk di IPB samping Botani Square sambil makan jajanan talas kukus, combro dan lumpia basah yang makannya kayak burger.

Dulu saya, pagit, lili dan susi juga pernah piknik di Bogor. Waktu itu ada Tante Debi yang lagi pulang dari Kanada. Susi menyewakan angkot dan memasak untuk kami - ikan goreng, tempe, tahu, lalapan, sambal dan pete bakar. Bekal itu kami gelar di teras rumah orang. Numpang piknik. 

Setelah jajanan surken habis kami lahap dan Pagit mengurungkan niat untuk potong rambut, tujuan selanjutnya adalah ke suatu kedai kopi yang pemiliknya kenal dekat sama Tince, Ranin Coffee. Lokasinya dekat dengan tempat makan bakso favorit - baso seuseupan. Bakso nya enak banget, kuahnya segar ditambah lemak tetelan yang digoreng. Kami tidak mungkin hanya melewatkannya tanpa mampir. Akhirnya setelah ngopi-ngopi lucu sambil duduk santai di Ranin, kami makan bakso. 



Kamis, 08 November 2012

Pura Jagatkarsa

Ini bukan postingan hasil perjalanan mencari innerpeace kemarin ke Bali walaupun judulnya tentang Pura. Postingan ini adalah hasil jalan-jalan terstruktur naik angkot charteran bersama para perempuan cantik di Bogor, tepatnya di sekitar kaki Gunung Salak. 

Waktu saya cerita ke teman saya yang orang Bali mengenai keberadaan Pura yang megah ini di suatu tempat beberapa kilometer dari kota Bogor saya malah di cemooh, "Mil, ternyata kamu ga gaul ya?" gitu katanya. Ternyata dia malah sudah pernah ke situ jauh sebelum saya dan jauh sebelum Rossa yang mengaku warga Bogor mengetahui ada Pura disitu. 

Menurut teman saya Pura itu dari jaman dahulu kala sebenarnya sudah ada, dipercaya tempat itu dulunya adalah tempat Prabu Siliwangi bertapa. Daerah Bogor memang dipercaya merupakan pusat dari Kerajaan Sunda, Pakuan Pajajaran yang salah satu rajanya yang terkenal adalah Prabu Siliwangi itu. Seperti di postingan sebelum ini tentang Cirebon, sebelum Sunan Gunung Jati datang kan Cirebon masuk wilayah Kerajaan Sunda juga dan mereka masih mengakui kebesaran Prabu Siliwangi hingga sekarang.

Kerajaan Sunda itu cakupan wilayahnya luas juga  ternyata, coba aja bayangin jaman dulu yang belum ada mobil, belum ada kereta api, berapa waktu yang dibutuhkan jalan kaki dari daerah Banten ke Cirebon coba? Orang-orang jaman dulu pasti betisnya seksi-seksi. 

Berakhirnya kejayaan Kerajaan ini adalah ketika Pakuan Pajajaran diserang oleh Sultan Banten, cucu nya Sunan Gunung Jati, bernama Maulana Yusuf. Dari istana Pajajaran, Sultan Banten memboyong bagian dari tahtanya raja itu dan hingga sekarang masih ada di Surosowan di Banten Lama. Benda itu adalah Watu Gilang. 

Yup! Watu Gilang yang itu, yang dipaksa untuk di potret oleh Pak Kuncen Surosowan berkumis lebat itu, yang sama sekali tidak menarik bagi saya dan Rossa. Betapa uniknya yah cerita sejarah saling berhubungan dan menjalin sebuah kisah yang kompleks tapi bertautan. Ibarat cerita telenovela tentang seorang bayi perempuan kaya yang ditukar sama bayi laki-laki miskin sehingga pas udah gede yang cewe jadi miskin dan yang cowo jadi kaya, trus mereka ketemu dan saling jatuh cinta, tapi ibu nya si cowo ga setuju padahal sebenarnya yang cewe miskin itu adalah anak kandungnya. Yah kira-kira begitu deh maksudnya, ngerti kan?

Ketika kita tiba disana sempat bingung karena lagi ramai ada acara perayaan Odalan, tapi setelah di pinjami tali pinggang dan di ciprat air suci kita diperbolehkan masuk ke pelataran Pura nya. Ngobrol-ngobrol sama salah satu bapak-bapak disana katanya baru-baru ini aja jalanan menuju Pura itu diaspal bagus, sebelumnya jalannya kecil dan masih jalan batu. Bapak itu sendiri sudah sejak beberapa tahun yang lalu sering mengunjungi Pura ini untuk beribadah dengan sepeda motor dari rumahnya di daerah Cinere di Jakarta.

Pura di kaki gunung

Foto bersama

Patung Ganesha

Selasa, 18 September 2012

Angkot

Angkutan Kota, bisa disingkat Angkot adalah transportasi umum berbentuk kendaraan minibus yang bisa berisi hingga 12 penumpang (tergantung ukuran penumpangnya), ditambah satu sopir (kadang 1 kenek), dan kalau jam sibuk bisa ditambah 3 orang yang bergelantungan di pintu (tapi yang ini kayaknya sudah jarang banget).

Yang saya suka takjub adalah ketika memberhentikan sebuah angkot kemudian melongok ke dalamnya tempat duduk sudah penuh oleh penumpang yang duduk bersisian berhadap-hadapan, kalau menurut logika saya kayaknya tidak mungkin bisa tambah satu orang lagi. Tapi hanya dengan satu mantera dari pak sopir, "geser..geserr..," seperti Magic *triiiiing* tiba-tiba tercipta satu ruang duduk pas untuk satu orang.

Ada juga satu hal yang sampai sekarang masih merupakan misteri tak terpecahkan bagi saya. Beberapa penumpang angkot sepertinya sudah punya insting mau turun dimana. Walaupun lagi serius baca buku, lagi ngobrol, bahkan yang lagi tidur pun kalau sudah waktu nya turun seolah-olah seperti ada yang memanggil langsung otomatis mengetuk-ngetuk atap angkot atau memberi instruksi ke abangnya, "kiri, bang."

Di suatu siang yang panas beberapa tahun lalu di Bandung, saya sedang ada di dalam sebuah angkot hijau. Di dalam angkot itu hanya berisi 3 penumpang di bangku belakang: saya, seorang mbak-mbak berjilbab yang duduk disamping saya menghadap ke pintu dan seorang bapak-bapak di hadapan saya. Rupanya dikarenakan angin semilir yang menyusup melalui jendela angkot menerpa wajahnya si bapak itu mengantuk. 

Kepala bapak yang agak tambun itu beberapa kali nyaris terjatuh, tapi tegak lagi, nyaris terjatuh lagi, kemudian tegak lagi, begitu seterusnya dengan mata tetap terpejam dan mulut menganga. Setetes air liur nyaris menetes dari ujung bibir nya, batal karena si bapak terbangun, menghirup kembali tetesan air liur yang nyaris menetes tadi itu *sluuurp*, mengangkat tangannya dan menyentilkan jari di atas kap angkot. Bapak itu pun turun, membayar angkot dan masuk ke dalam gerbang bank BCA Dago persis di tempat dia meminta untuk berhenti.

Saya juga punya pengalaman menyedihkan naik angkot, ini terjadi di Bandung juga. Waktu itu adalah 4 hari menjelang uang kiriman datang, di saku saya tinggal ada 20 ribu rupiah dan recehan beberapa ribu lagi untuk ongkos angkot. Rencananya saya mau belanja ke Superindo Dago, beli mie instant dan telur untuk menyambung hidup selama 4 hari dengan uang 20 ribu itu. Handphone saya taruh di saku jaket. Ketika mau turun, ada seorang penumpang laki-laki yang menabrak saya dari belakang. Respon saya agak telat tapi insting saya mengatakan ada yang tidak beres, saya segera merogoh saku jaket dan benar saja handhone saya telah di copet.

Posisi saya waktu itu masih berdiri di samping pintu angkot, tapi pria pencopet di belakang saya telah kabur duluan setengah menit sebelum saya sadar dan berteriak, "copeeeeeet..." 

Dua orang pria, seperti anak kampus gitu, langsung turun dari angkot dan mengejar pencopet itu sementara si angkot masih menunggu di pinggir jalan. Saya pun segera berlari ke arah pencopet dan kedua pria yang mengejarnya itu. Tapi tak lama saya menyusul, yang saya lihat hanya kedua pria itu sedang kebingungan di antara persimpangan. Akhirnya mereka kembali dan mengucapkan kalimat simpati kepada saya. Mereka kembali naik ke angkot yang sama yang masih menunggu di sisi jalan depan Pizza Hut Dago, ketika saya mau bayar angkot itu Pak Supir menolaknya. Tentu saja kasihan karena saya baru kena musibah. 

Ada lagi kejadian seru ketika saya naik angkot di suatu daerah di Bekasi. Waktu itu saya mau ambil mobil saya yang lagi di body repair di bengkel yang terletak di Bekasi. Tiba-tiba ada motor melintas di samping angkot itu dan menyerempet kaca spion angkot hingga kacanya pecah. Motor itu tetap berlalu malahan semakin ngebut, kabur. Supir angkot pun naik pitam. Dia menginjak dalam-dalam gas angkotnya *bruuuuum* para penumpang semuanya tertolak ke belakang saling bergencetan.

Motor meliuk-liuk menyusup diantara mobil-mobil, angkot pun mengikuti jejaknya zig zag kiri dan kanan. Para penumpang berpegangan erat di mana saja yang bisa di pegang dengan wajah pucat pasi. Tapi Supir angkot tak peduli, Motor berbelok ke arah komplek perumahan dan angkot pun mengikuti walaupun itu sudah melenceng jauh dari trayek nya. Pak supir tetap menginjak gasnya dalam-dalam, tak rela kehilangan jejak motor tak bertanggung jawab itu, bahkan melewati polisi tidur tanpa menginjak rem sehingga angkot pun terbang melayang. Malang bagi penumpang yang tinggi karena beberapa kali kepalanya harus terantuk kap mobil.

Motor berbelok ke jalan kecil yang hanya muat satu mobil pas banget, angkot itu masih berusaha mengejar. Ketika tiba di ujung jalan kecil itu ternyata yang ada hanya sebuah gang yang tak mungkin bisa dilewatinya, angkot itu pun rem mendadak. Para penumpang terlontar ke arah depan saling bergencetan. Supir angkot memaki-maki selama beberapa saat, kemudian kembali mengarahkan angkotnya ke trayek semula. Para penumpang yang tampaknya sejak awal adegan kejar-kejaran seperti di film hollywood ini pada menahan napas semua tampak menghembuskannya dengan lega *fiuuuh*

Setelah agak lama juga tidak naik angkot lagi, di Bogor saya ikut teman-teman trip ke Pura dan Curug nangka dengan mencharter angkot hijau. Minggu sebelumnya, kita juga keliling-keliling Kota Bogor naik angkot, malahan kita dapet angkot yang canggih banget - ada tivi  nya. Si Blue On aja kagak ada tivi nya, kalah gaul sama angkot. 

Muka-muka kepanasan di angkot
Tapi saya perhatikan akhir-akhir ini, dengan semakin mudahnya orang mendapatkan motor sepertinya mereka mulai meninggalkan angkot. Sering banget saya lihat angkot di jalan kalimalang yang sepi penumpang di jam-jam sibuk. Padahal jaman saya dulu sering naik angkot, penumpangnya bisa tumpah ruah sampai banyak anggota-anggota badan yang keluar.

Sekarang saya lihat beberapa angkot berjalan tak tentu arah di jalanan, kadang memberi tanda lampu ke kanan tapi angkotnya mengarah ke kiri. Kadang angkotnya pindah jalur ke kanan, tapi kepala supirnya nengok ke kiri. Sampai-sampai saya menarik kesimpulan, kalau angkot itu ga mungkin jalannya bisa ditebak, hanya supirnya dan Tuhan yang tahu. Banyak juga yang tampak nge-tem di muka-muka gang berharap dapat satu atau dua penumpang untuk menutup setorannya. Kelihatannya pangsa pasar angkot ini sudah tergerus oleh sepeda motor.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...