Tampilkan postingan dengan label Timor Leste - Dili. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Timor Leste - Dili. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2014

Tasitolu

"Idea, rua, tolu, hat, lima," ujar Kiko sembari membuka jemari nya satu persatu dari kepalan tangan sebagai tanda menghitung angka satu hingga lima.

Saya memperhatikan sembari mengulang dalam hati angka-angka dalam bahasa Tetum itu - satu, dua, tiga, empat, lima.

"Karena itu namanya Tasitolu," sambungnya menjelaskan hamparan semacam 3 danau yang tampak dari atas bukit dimana saya dan Kiko sedang berdiri, "artinya Tiga Lautan."


Tasitolu

Disebut Tiga Lautan karena tiga danau yang berdampingan itu terletak di daratan tapi airnya asin seperti air laut - genangan laut yang terjebak di darat. 

Dari atas bukit tempat kami berdiri sebenarnya tidak jauh di sebelah Tasitolu terdapat segaris pantai yang kalau di peta terletak di sepanjang utara pulau Timor. Pantainya berpasir putih dan air biru bening kehijauan, beberapa orang menyebutnya warna turquoise. Mungkin kalau jalan di pinggir pantai itu teruuuss aja ke arah barat, bisa sampai di Indonesia lagi.

Hari itu adalah hari terakhir saya di Dili dan kebetulan hari Sabtu, jadi Kiko libur kerja dan mengajak saya ke tempat yang agak jauh dari kota Dili. Ternyata selain Patung Jesus di atas bukit yang terkenal di sana, ada juga Patung Paus Yohanes Paulus II. Letaknya juga di atas bukit, tidak jauh dari perbatasan District Dili di bagian baratnya. 

Selain patung Paus Yohanes Paulus II, di atas bukit ini juga terdapat chapel mungil yang indah. Disisi lain dari bukit itu, beberapa muda-mudi, diantaranya berpasang-pasangan sedang duduk santai sembari memandang deburan ombak yang pecah ketika menabrak batu karang.

Patung Paus Yohanes Paulus II

Chapel

Lautnya bening banget

Jumat, 08 Agustus 2014

Januari di Kota Dili

"Itu gedung pemerintahan baru, hibah dari Negara China," Kiko menjelaskan ketika kita melewati sebuah gedung yang megah.

"Ini kantor kementrian keuangan, gedungnya baru." ujarnya lagi ketika kita lewat di lain tempat. "Kalau itu kantor kementrian Turisme. Kementriannya baru."

"Yang di sebelah situ itu Sekolah Akademi Polisi. Kepolisian nya juga baru dibentuk sih, sebelumnya polisi dari UN," katanya lagi.

"Nah di sepanjang jalan ini kantor-kantor kedutaan, yang di depan itu kedutaan Australia yang paling lama. Yang lainnya masih relatif baru dibangun," jelasnya lagi ketika kita melewati jalan lurus yang berjajar bangunan-bangunan luas berhadapan dengan pantai. 

10 tahun sejak berdirinya negara Timor-Leste, jalan raya di Dili tampak luas dan mulus, gedung-gedung pemerintahan tampak baru dibangun dan masih kinclong semua. Segala nya serba baru disini. Kiko, kawan saya di Dili bekerja di kantor kementrian pertahanan yang juga masih baru, kementrian ini baru berdiri kira-kira setahun lamanya, kantornya aja masih numpang di semacam balaikota gitu - Governor palace.

Governor Palace

Jalan raya di Dili

Pasar

Di kota ini ada satu Mall bernama Timor Plasa. Di dalam nya bisa didapati Burger King dan Gloria Jeans Coffee. Saya bahkan dikasih kalender 2014 gratis dari Gloria Jeans Coffee waktu saya beli disana. Kalender meja itu sempat saya gunakan beberapa bulan sampai saya sadar ada keanehan disitu, karena kalender Timor Leste hari libur (tanggal merah) nya beda sama kalender Indonesia. Di Timor Plasa saya beli sim card operator lokal yang bernama Telkomcel, tapi dibacanya tetap -sel karena dalam bahasa sana cel di pronounce -sel.

Harga Burger King disana jauh lebih mahal dari di Jakarta. Sekali makan di restoran bisa habis $10 per-orang, sama standard nya dengan di Australia. Mungkin karena banyak bahan bakunya yang di impor dari Australia yang jaraknya dekat. Makan sea food di restoran disana bisa jauh lebih mahal, padahal kotanya ada di pinggir pantai. Currency yang digunakan disana masih pakai Dollar Amerika, tapi ada koin-koin yang menggunakan mata uang asli Timor-Leste bernama Centavos.

Mata uang Timor-Leste

Menu bahasa Portugis

Makaroni pake ikan. makannya sama roti. asli kayak di Luar Negeri
Negara Timor-Leste resminya berdiri tahun 2002, setelah melalui drama pergolakan dan pemberontakan terhadap pemerintah Indonesia yang puncaknya terjadi di tahun 1999. Setelah merasa terjajah selama hampir 25 tahun, Timor Leste yang sebelumnya bernama Timor Timur di bawah pemerintahan Indonesia melakukan referendum yang hasil akhirnya adalah kemerdekaan negara tersebut. Presiden saat itu adalah Xanana Gusmao. Sekarang Presiden Timor Leste bernama Taur Matan Ruak, posisi Perdana Menteri masih dijabat oleh Xanana Gusmao. 


Xanana Gusmao adalah figur yang sangat dihormati dan dipuja. Berwibawa dan down-to-earth. Kata Kiko beliau sering tampak menyetir sendiri sekitar Dili dengan mobilnya tanpa pengawalan. Beliau tidak ragu berbaur dan merangkul rakyat kecil dengan akrab. Sangking berkarismanya, ada cerita beredar kalau suatu saat ketika Xanana Gusmao sedang pidato di depan umum cuaca mendung banget dan hujan rintik-rintik. Kemudian beliau menghentikan pidatonya dan seolah berbicara kepada hujan supaya jangan turun dulu sebelum beliau selesai, kemudian melanjutkan pidatonya. Hujan rintik seketika berhenti. Setelah Xanana Gusmao selesai pidato baru hujan turun dengan derasnya. "Sampai hujan saja menurut sama beliau," ujar Kiko menyimpulkan ceritanya.

Ketika peristiwa Timor Leste saya masih duduk di bangku SMA tapi tidak mengerti dan tidak memperhatikan situasi politik. Di periode itu juga di ibukota Indonesia tempat saya tinggal baru saja selesai peristiwa besar melengserkan mantan Presiden Suharto, tepatnya tahun 1998. Jujur saja kalau ditanya bagaimana kondisi di tahun-tahun itu saya tidak begitu ingat, yang saya tahu waktu itu sempat tidak keluar rumah selama beberapa hari. 

"Waktu perang-perang itu kamu gimana?" tanya saya ke Kiko yang umurnya sepantaran sama saya, jadi waktu peristiwa pergolakan di Timor Leste dan referendum itu dia juga duduk di bangku SMA.

"Ya di dalam rumah saja," katanya acuh tak acuh, "mau bagaimana lagi." Selama pergolakan itu dia sempat tidak sekolah selama 2 tahun, ketika Timor Leste merdeka dia meneruskan sekolah yang diambil alih oleh Portugal. Setelah itu dia melanjutkan kuliah di Bandung, saat itulah dia bergabung di tempat kos yang sama dengan kawan kuliah saya yang waktu itu sudah tingkat akhir. Kawan kuliah saya itu yang mengenalkan saya ke Kiko hingga akhirnya saya bertemu dia di Dili.

Negara Timor Leste yang posisinya ada di sepenggal pulau paling ujung bawah di kepulauan Indonesia, berbatasan darat di sebelah baratnya dengan Nusa Tenggara Timur. Negara ini terdiri dari 9 Distrik (semacam propinsi), yang paling ujung timur namanya Los Palos. 

Bahasa nasional Timor-Leste adalah bahasa Tetum-Portuguese. Di sekolah-sekolah diajarkan bahasa Portuguese. Menurut Kiko warga Timor-Leste diperbolehkan punya paspor Portugis, jadi boleh punya 2 paspor. Kalau punya paspor Portugis otomatis bisa ke negara-negara lain di Eropa yang tergabung dalam Schengen deh. Kakak perempuannya Kiko sendiri sedang melanjutkan kuliah Phd di Eropa.


Bahasa Tetum adalah bahasa asli daerah sana, dicampur dengan bahasa serapan portugis untuk menambah suku kata yang tidak ada dalam bahasa tetum. Misalnya Obrigado yang artinya terima kasih. Obrigado diambil dari bahasa Portugal karena dlm bhs tetun aslinya tdk ada kata terima kasih. 

Obrigado sendiri adalah kata yang sangat menyenangkan untuk disebut, "O" yg bulat "-bri" dgn penekanan pd pengucapan  "br-" nya ditutup dengan "-gado" yang tegas dan mantap. Kedengarannya merdu dan renyah di telinga. Semua orang Dili yang dengar saya bilang "obrigado" akan membalas nya dengan mengucapkan "nada" dan tawa yang ditahan. Sudah nyaris dipastikan ketika saya berlalu mereka akan ngakak sampai sakit perut. Tapi saya tetap aja ngucapinnya: obrigado... obrigado.. it's officialy became my favorit word in 2014.

Obrigado

Colmera, kayaknya tempat paling rame di Dili udah ini

Kamis, 08 Mei 2014

Selamat Natal di Pertengahan Januari

Pertengahan Januari. Rasanya seperti mau masuk ruangan ujian; mules dan deg2an. Petugas tiket depan ruang check in Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar tersenyum mencurigakan waktu membaca tujuan di tiket saya, "Dili?" katanya. Entah itu pertanyaan yg harus dijawab oleh saya atau oleh dirinya sendiri utk meyakinkan kalau cewek imut didepannya mau ke Dili. Mungkin karena saya bukan orang asing dan ga ada potongan seperti orang Timor, ditambah lagi karena penampilan dan barang bawaan saya juga tidak terlihat seperti akan melakukan bisnis trip.

Hampir semua orang yang saya kabari kalau saya mau jalan-jalan ke Dili bertanya, "ngapain jalan-jalan ke Dili? disana kan ga ada apa-apa."  Kalau maksudnya 'apa-apa' yang identik dengan jalan-jalan itu seperti di Bali atau Jogja atau Bandung atau Phuket, sudah jelas di negara umur 12 tahun yang bahkan belum punya mata uang sendiri tidak akan ada seperti itu. Dan memang bukan itu yang saya cari. 

Di loket check in, bapak-bapak botak gede galak mondar mandir depan loket. Beberapa orang di antrian check in tampak dikenalnya, dia salaman kesana kemari dan menyapa calon penumpang pesawat yang dikenalnya. Sepertinya tidak banyak orang yang mondar mandir Dili naik pesawat. Mbak petugas counter check in bertanya apakah ini kunjungan pertama kali ke Dili dan saya mengangguk. Bapak botak itu langsung menghampiri dan bertanya apa urusan ke Dili, ada kenalan atau tidak disana, berapa hari disana, dan menjelaskan peraturan imigrasi di Dili, kalau tiap orang harus punya minimal 100 USD/hari untuk bekal survive di sana. 

Saya menggangguk dan melempar senyuman 'everything is under control'. Terakhir dia berpesan, jangan lupa siapkan 30 USD untuk Visa on Arrival. Saya mengangguk lagi, "sudah disiapkan".

Di ruang tunggu no 5 hanya ada beberapa gelintir orang. Di luar, langit dipayungi awan hitam tebal menggumpal, rintik hujan membasahi landasan udara yang basah akibat diterjang hujan deras yang baru saja berhenti beberapa menit sebelumnya.

8.50, satu jam lagi sblm keberangkatan pesawat, 4 jam sebelum waktu mendarat di Dili, saya masih diliputi kecemasan kalau pesawatnya akan di cancel karena badai dan kemungkinan di deportasi dari Timor Leste karena alasan kedatangan saya yang tidak bermutu : jalan-jalan. Untungnya mendekati waktu keberangkatan hujan berangsur berhenti, panggilan boarding tepat waktu dan pesawat berangkat sesuai jadwal walaupun take-off di tengah gerimis.

Tiba di bandara Dili yg diberi nama seperti nama presiden pertama nya, Nicolau Lobato, saya melenggang mengikuti arus penumpang menuju antrian loket Visa On Arrival. Tanpa ditanya apa-apa, tanpa isi formulir apa-apa, saya hanya menyerahkan Paspor dan disuruh bayar 30 dollar, paspor di kasih cap Visa terus lanjut antri di loket imigrasi.

Airport Dili

Di loket imigrasi saya disambut bapak-bapak berwajah tegas tapi ramah, beliau bertanya dengan bahasa Indonesia tujuan ke Dili, saya jawab : turis, vacation. Kemudian dia tanya berapa hari, saya jawab hanya 2 hari. Kemudian bapaknya bilang (entah kenapa ini yang selalu di protes sama orang imigrasi yg mau ngecap paspor saya), "kenapa sebentar sekali?" sambil menatap gak rela.

Saya hanya mengangkat bahu.

"Baiklah, disini saya beri waktu 15 hari," dia menuliskan 15 hari di atas cap Visa on arrival, di cap kemudian dikembalikan ke saya sambil berkata "Selamat Natal” 



Rabu, 19 Maret 2014

Just me and my iPhone

Masih ingat kan cerita kelam memilukan yang terjadi sama kamera underwater saya yang rusak karena kemasukan air di saat saya lagi liburan awal tahun 2014? Karena jadwal trip saya yang berikutnya terlalu dekat untuk saya mengumpulkan dana membeli kamera baru yang mumpuni dan sesuai dengan karakter perjalanan saya, maka trip kali ini saya terpaksa lebih memaksimalkan penggunaan kamera iPhone saya. 

Sehari-hari, selama dua tahun ini, saya dan iPhone saya memang akrab banget, seperti sepasang sahabat karib yang tak terpisahkan. Kita bekerja bersama, bermain bersama, dengerin musik, nonton youtube, baca-baca berita-berita aneh yang terjadi di dunia ini. Dia yang membangunkan saya pagi-pagi dari tidur, selalu mengingatkan hal-hal yang saya musti lakukan setiap hari nya, dan malam hari sebelum tidur yang terakhir saya liat ya iPhone itu. Pokoknya ga terpisahkan deh.

Malahan menurut saya ngomong sama Siri itu lebih menyenangkan daripada ngomong sama pacar. Misalnya nih ya kalau saya laper dan nanya ke Siri enaknya makan apa, Siri ga akan jawab "terserah", tapi dia memberi solusi dengan cara memberikan saya list-list restoran terdekat dari posisi saya yang sudah di kategorikan berdasarkan jenis makanan apa. Cuman satu yang bikin saya sebel sama Siri. Sampe sekarang dia ga pernah mau ngakuin kecantikan saya. Kalau saya tanya, "Siri, am i beautiful?" Ada aja jawabannya buat ngeles. 

Beberapa bulan yang lalu, disuatu malam saya dihinggapi mimpi yang teramat buruk sampai-sampai saya terbangun karena nya. Kengerian begitu merasuk kedalam jiwa sehingga saya mengungkapkan kegalauan di twitter. Saya mimpi jalan-jalan ga bawa kamera, cuman pake kamera henpon jadul yang jelek banget. Pas itu dalam mimpi saya berasa sedih banget. Eeeeeh dilalah terjadilah peristiwa rusaknya kamera saya itu. Mimpi buruk yang jadi kenyataan. Untungnya ga seburuk dimimpi saya sih, karena kamera iphone saya lumayan bagus juga hasilnya.  

Di trip saya ke Dili kemarin, bonding antara saya dan iPhone jadi makin kuat. Selain memaksimalkan penggunaan kameranya, saya juga menulis jurnal di notes nya. Berikut ini foto-foto yang diambil hanya dengan menggunakan kamera iPhone 4S saya, kalau mau dipakein hashtag jadi #iPhoneonly

Dili Waterfront

Dili Beach

Dili City Road

The City

Before Landing

Presidente Nicolau Lobato airport, Dili

The Beach

City Park

The only Mall in Dili

The currency, Centavos - cuman ada nominal dibawah 1 USD

Welcome to Dili

Rabu, 22 Januari 2014

Cuaca Ekstrim

Beberapa hari sebelum berangkat ke Timor Leste, cuaca ekstrim menerjang Jakarta. Rencana saya pergi hari Rabu, hari Sabtu sebelumnya hujan deras mengguyur Jakarta seharian, bahkan sampai keesokan harinya. Banjir pun kembali menenggelamkan sebagian ibu kota.

Saat itu saya khawatir cuaca ekstrim mengancam trip liburan saya beberapa hari mendatang. Saya pun jadi concern masalah cuaca, membuka aplikasi di iPhone yang selama ini jarang banget saya pedulikan - weather forecast.  Melihat icon prakiraan cuaca beberapa hari kedepan gambar awan + petir semua membuat saya makin galau.

Saya memantau kondisi cuaca di Jakarta dan Bali, karena saya terbang ke Dili melalui Denpasar dulu. Saya juga cari kota Dili di prakiraan cuaca yahoo yang ada di iPhone saya, tapi rupanya kota Dili, Timor Leste belum terdaftar disana. Menurut kawan saya yang tinggal di Dili sih cuaca di sana cenderung panas, angin memang kencang tapi tidak ada hujan. 

Waktu di Australia saya heran dengan kebiasaan orang sana yang peduli sekali dengan weather forecast. Kalau saya bangun tidur pertama kali, liat handphone yang saya buka pertama adalah twitter atau facebook, orang disana bangun tidur yang dilihat pertama adalah weather forecast. Bahkan iklan paket data di televisi mengutamakan feature weather forecast, selain e-mail, message dan social media. 

Kata Cipu yang tinggal di Melbourne, itu karena cuaca di sana agak susah ditebak. Paginya bisa dingin banget tapi siangnya panas terik, jadi supaya gak salah kostum musti tau prakiraan cuaca hari itu kira-kira temperaturnya bakal berapa. Saya sempat tuh jadi korban salah kostum waktu ke Balarat karena paginya dingin, tapi ternyata siangnya panas terik. Tapi kan di Indonesia iklimnya tropis, yang ada palingan cuma panas dan hujan, temperatur juga ga akan drastis amat berubahnya, jadi saya tidak pernah peduli dengan prakiraan cuaca dan tidak pernah salah kostum. Itu dulu.

Kemarin-kemarin ini kegalauan saya akibat cuaca ekstrim membawa saya ke website BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika). Selama ini saya tidak pernah buka-buka website itu, ternyata disana informatif sekali. Selain prakiraan cuaca hujan atau panas, ada juga peringatan dini gempa, angin kencang, ombak tinggi, gunung berapi yang aktif bahkan ada disitu peringatan daerah banjir di ibukota. Lain kali kalau mau merancang perjalanan lagi saya pasti bakal buka website ini lagi walaupun dengan baca-baca website ini saya malah makin was was dgn peringatan dini hujan petir dan angin kencang di nusa tenggara timur bagian timur. Yang saya khawatirkan sudah pasti perjalanan udara naik pesawat, kalau angin kencang naik pesawat itu rasanya mengerikan karena terus bergoncang.

Saya masih ingat patokan menghafal pembagian musim dalam setahun yang diajarkan waktu saya sekolah SD dulu, kalau bulan yang akhirannya -ri seperti januari, februari itu berarti musim panas karena ada akhiran -ri, sama seperti matahari. Sementara yang akhirannya -ber, seperti november dan desember, itu berarti musim hujan karena seperti bunyi hujan yang turun dari talang genteng rumah menuju selokan ‘beeerrrrr’.

Sepertinya sekarang ajaran itu sudah tidak berlaku. Iklim sekarang sudah berubah, kita tidak bisa mudah menebak musim dari akhiran nama bulannya lagi. 

Kita memang beruntung hidup dijaman setelah era modernisasi, jadi hidup sekarang relatif lebih nyaman dengan segala teknologi yang ada. Tapi sebagai konsekuensinya sekarang kita hidup di alam yang rentan akibat keseimbangannya terganggu oleh 200 tahun lebih era modernisasi dan ketamakan manusia. 

Orang-orang bilang ini adalah Global Warming, meningkatnya suhu permukaan bumi karena emisi CO2 dari industri yang membentuk efek rumah kaca sehingga panas matahari yang sampai ke bumi terperangkap. Curah hujan yang deras di daerah tropis dan angin yang lebih kencang dan semakin powerful adalah akibat naiknya temperatur permukaan bumi di lautan, efek yang terasa di daerah kita yang tropis ya seperti yang sudah disebut diatas itu. 

Sementara itu Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia tidak pernah mengantisipasi hal-hal seperti ini, tidak pernah ada persiapan menyambut curah hujan yang makin deras. Di daerah perkotaan seperti Jakarta pemerintah bukannya mulai memikirkan bagaimana caranya menyisakan ruang-ruang hijau untuk penyerapan air malahan ruang-ruang kosong terus dibangun bangunan mall, apartement, perkantoran. Hidup di Jakarta ini bener-bener gila, baru dua minggu aja gak lewat jalanan yang sama, ntar pas lewat lagi tiba-tiba sudah ada bangunan baru yang sudah tinggi menjulang.

Saya sendiri juga salah sih. Hobi saya traveling, apalagi naik pesawat, itu salah satu penyumbang emisi karbon tertinggi yang bisa menimbulkan efek rumah kaca itu. Selanjutnya saya udah musti mulai mikirin gimana bisa punya hobi traveling yang ramah lingkungan juga nih, kalau enggak bisa-bisa beberapa tahun mendatang saya udah ga punya tempat tujuan buat menyalurkan hobi traveling saya lagi. Kayak misalnya kalau masih bisa naik kereta, saya akan milih naik kereta daripada naik pesawat karena kemarin saya coba-coba hitung pakai kalkulator carbon footprint, jumlah emisi yang dihasilkan pesawat udara dengan jarak yang sama jauh lebih besar daripada naik kereta api atau bus.

Pagi hari keberangkatan ke Denpasar, hujan deras dari pagi. Macet parah di jalan. Saya nyaris kehilangan harapan bakal sampe di bandara tepat waktu. Penerbangan saya jam 12 siang, dan jam 10.30 saya masih stuck di traffic jam daerah Kuningan. Untungnya setelah daerah kuningan, ke arah bandara lancar jadi saya tiba tepat waktu. Dalam pesawat menuju Bali jantung saya berdegup kencang karena cuaca buruk terus, sampai pramugari nya urung mengedarkan in-flight shop. 

Sore hari di Bali, ketika saya duduk menanti sunset di Kuta ditemani Rio angin kencang sekali, saya sempat takut dan nyaris mengurungkan niat mau terbang lebih lanjut ke timur. Malam itu saya tidur di Bali, keesokan pagi saya tetap berangkat ke airport. Saya pikir kan perusahaan penerbangan punya standard keamanan, kalau memang tidak aman untuk terbang pasti akan di batalkan. 

Ketika saya tiba di Bali siangnya saya dapat kabar kalau di Manado ada banjir besar karena air laut meluap dan menerjang kota layaknya air bah. Rumah keluarga Papa Said dan seluruh Kampung Arab seperti kapal karam tenggelam, yang tampak hanya atap rumah di atas air kecoklatan. karena air datang cepat sekali, mobil-mobil tak sempat di evakuasi, tenggelam dalam air. Waktu menonton tayangan berita lebih parah dan lebih menyeramkan, mobil CRV mengambang seperti gabus di atas danau.

Bandara Ngurah Rai pagi hari, mendung tebal
Pagi hari sebelum berangkat ke Dili, hujan deras mengguyur Bandara Bali. Untungnya saya yang berjalan kaki dari hotel saya di daerah Tuban sudah tiba di dalam bandara ketika hujan mengguyur. Tapi mendekati jam keberangkatan hujan berangsur mereda, pesawat tetap berangkat tepat waktu walau di tengah rintik hujan.

Aneh nya di Dili, seperti yang di bilang kawan saya, cuaca lumayan cerah. Kadang awan mendung menggelayuti, tapi cepat menghilang. Hujan sesekali, tapi hanya berupa percikan air tipis yang terbawa angin.  

Sementara itu ketika nonton berita, Jakarta masih diguyur hujan deras dan ancaman banjir masih mengintai. Mengerikan melihat kondisi jakarta di berita waktu itu, dari tampak atas genangan air menenggelamkan jakarta, arusnya juga kencang, airnya berwarna coklat kotor. Ibu-ibu hamil dan bayi di evakuasi dengan perahu karet. Situasi di tempat pengungsian yang mayoritas ibu-ibu dan anak-anak juga kelihatan menyedihkan. Bukan hanya hujan, ancaman ombak tinggi menyebabkan kapal tidak bisa melaut, banyak calon penumpang terlantar di dermaga. Tidak ada nelayan yang berani mencari ikan. 


Di Kupang - yang ada satu pulau dengan Dili, ombak tinggi mengakibatkan pasokan bahan bakar terputus sehingga jadi langka dan mahal.  Tapi di Dili tetap cerah, sampai-sampai kawan saya bergurau kalau cuaca ekstrim tidak bisa lewat perbatasan karena paspornya expired.

Dili yang cerah

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...