Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bekasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia - Bekasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2015

Instagrammable Batiqa Hotel


Pas di tanggal cantik 11 - 11 (november) kemarin saya jalan-jalan ke kawasan industri Jababeka di Bekasi untuk acara Grand Launching Hotel BATIQA. Ini adalah merupakan hotel unit ketiga  yang telah  diluncurkan di bawah jaringan BATIQA Hotel Manajemen, yang pertama ada di Karawang, yang kedua di Cirebon. Hotel keempat BATIQA berada di Palembang, sudah soft opening sejak 5 november 2015. 

Walaupun hotel ini termasuk kategori Budget Hotels, tapi desainnya beda banget dengan hotel-hotel sejenis yang rata-rata desain arsitekturnya minimalis dan banyak pakai warna cerah. BATIQA hotel mengusung tema Batik dengan desain interior yang didominasi oleh unsur kayu, hal ini menimbulkan kesan mewah dan nyaman, tidak seperti rata-rata budget hotel yang kadang karena terlalu minimalis sampai terasa seperti tidur di kamar kos. Dari mulai masuk Lobby, Lounge, Restoran hingga ke kamar, semuanya instagrammable. Karena itu Pihak Manajemen Hotel BATIQA - yang ternyata juga memiliki dan mengelola Hotel Bintang 5 Gran Melia - mengatakan bahwa ini adalah bintang 3 plus plus.  

BATIQA Hotel Jababeka memiliki 127 kamar yang terdiri dari  122 kamar tipe superior dan 5 kamar tipe suites. Setiap kamar tipe Suites memiliki beranda masing-masing. Selain itu BATIQA Hotel Jababeka juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung  seperti FRESQA Bistro, Gym Center, Spa and Massage, 24 jam room service serta fasilitas Wi-Fi dengan kecepatan tinggi, dan TV cable.

Superior Room

Superior Room

Suite Room
BATIQA Hotel Manajemen berharap BATIQA Hotel Jababeka dapat menjadi pilihan utama  bagi para pebisnis dalam melakukan kunjungan bisnisnya di kawasan industri Jababeka seperti halnya BATIQA Hotel & Apartments Karawang yang telah lebih dahulu beroperasi dan menjadi tempat pilihan untuk melakukan segala aktivitas relasi bisnis di dalam kawasan industri. Karena itu Hotel BATIQA Jababeka juga menyediakan paket meeting untuk kantor-kantor dan pabrik-pabrik yang banyak terdapat disana.

Hotel BATIQA memiliki 4 ruang meeting dan 1 ballroom yang kapasitas maksimalnya 250 orang. Sesuai dengan tema budaya Indonesia yang diusung, penamaan ruang meeting ini berdasarkan nama karakter wayang Pandawa Lima. Paket meeting yang disediakan beragam dari mulai Full-day meeting package, hingga Half-day meeting package dengan harga bervariasi mulai dari175.000 NETT/PAX

Tahun ini Hotel BATIQA sedang membangun Hotel baru lagi di beberapa lokasi yang rencananya akan di buka tahun 2016, yaitu Hotel BATIQA Pekanbaru dan Hotel BATIQA Lampung. Tahun 2017 rencananya juga akan dibuka Hotel BATIQA Cassablanca Jakarta (Psssttt.. bocorannya lokasinya di seberang Mal Kota Kasablanka).

Sambil menunggu itu sepertinya saya bakal coba nih Hotel BATIQA yang di Jababeka, kebetulan untuk tahun baru ada promo kamar hanya dengan Rp. 950.000,net untuk menginap di superior room untuk minimum menginap dua malam berlaku dari 24 Desember 2015 – 2 Januari 2016 sudah termasuk Welcome Drink, sarapan untuk dua orang, 5 pcs laundry dan makan malam untuk dua orang (menu pilihan). Selain itu, FRESQA Bistro juga menghidangkan hidangan spesial akhir tahun yaitu menu Soka Salty Egg Rp. 70.000,nett per porsi dan Buffet Barbecue Special tahun baru hanya dengan Rp. 100.000,++.






Hotel BATIQA Jababeka
Jl. Niaga Raya dalam Kawasan Industri Kota Jababeka II Blok CC 3A
Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.
Phone : +62 21 2809 9000
Fax : +62 21 2809 9009

twitter : @batiqahotels
Instagram : batiqahotels

Rabu, 04 November 2015

Tiba di 10 Kilometer pertama

Butuh waktu 1,5 tahun dari pertama saya mulai rutin lari hingga mencapai jarak 5km. Mulai dari awal tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2014. Sebelumnya kalau lari pagi palingan cuma 2 sampai 3 km aja, satu kali keliling komplek. 

Dari 5 km pertama ke 10 km pertama butuh waktu 1,5 tahun lagi. Sengaja momen lari 10 km pertama kali itu dipas-in sama hari ulang tahun saya ke-33, yaitu pada bulan agustus 2015. Walaupun dari saat itu sampai sekarang saya belum lari sampai 10 km lagi.  

Sebenarnya saya lari tidak punya target mau ikut marathon atau punya ambisi harus mencapai pace tertentu. Saya senang lari-lari santai sambil mendengarkan lagu yang sudah saya pasang di playlist, kadang sambil lihat-lihat orang-orang. Beberapa bulan lalu sempat ada saatnya kegiatan lari saya berantakan, efeknya langsung terasa di badan terutama saat baru bangun tidur. Waktu itu selain jadwal lari berantakan, makan saya juga sempat berantakan, badan jadi terasa capek terus dan lemas. 

Gak tahan sama kondisi badan yang sluggish dan sakit-sakit tiap bangun tidur, saya mulai lari lagi. Asiknya sekarang banyak teman-teman yang bisa diajak lari bareng. Saya memang belum minat ikut event lari berjamaah yang lagi marak akhir-akhir ini, tapi senang kalau lari bareng teman-teman. Belum lama ini kami coba lari di Kebun Raya Bogor, lari dari Sentul City ke Gunung Pancar, yang terakhir lari di Buperta Cibubur. Nanti kapan-kapan saya ceritain disini deh.

Tempat saya rutin lari kalau hari biasa di Taman Tebet yang lokasinya pas di belakang gedung kantor, tinggal nyebrang. Kalau sabtu atau minggu saya biasa lari di komplek rumah. Waktu awal-awal saya lari kayaknya jarang menemukan orang seusia saya yang olah raga di taman atau di sekitar komplek, seringnya ketemu oma-oma dan opa-opa yang masih lincah dan tampak sangat sehat di usianya. Setahun / dua tahun belakangan baru mulai banyak orang-orang muda yang pakai gear lari komplit wara-wiri lari di rute lari rutin saya. 

Kadang kalau di  kantor lagi tidak banyak pekerjaan, saya gabung sama teman-teman yang rutin lari di GBK Senayan tiap Selasa dan Kamis. Nah kalo itu banyak mas-mas cogan (cowo ganteng) yang pakai celana gemes dan adik-adik unyu yang walaupun  udah lari keringetan tetap terlihat segar. Kalau lagi iseng banget weekend lari di Ancol. 

Rute Komplek Rumah

Rute Komplek
Ada 3 macam rute lari di area dekat rumah yang saya rangkai hingga bisa mencapai 5 km. Yang pertama rute lari dari rumah ke arah Kalimalang dan balik lagi, bukan rute berputar jadi pulang pergi lewat jalan yang sama. Tantangannya adalah rute ini harus lewat dua kali tanjakan lumayan dashyat ketika lewat jalan jembatan yang lewat diatas jalan toll. Rute kedua lewat komplek tetangga, tapi sama seperti rute pertama jalur ini jalur ramai kendaraan apalagi semenjak ada proyek pembangunan jalan di kalimalang. Jadi agak males lewat kedua rute ini sekarang karena banyak debu dan banyak motor walaupun subuh-subuh.

Rute satu lagi adalah rute komplek. Dari sejak saya mulai lari pas jaman kuliah sebenarnya rute ini yang saya pakai, tepatnya sebagian dari rute ini, yaitu rute yang melingkar totalnya sekitar 2,5 km. Setelah saya sudah biasa lari 5 km saya tambah dengan rute melintasi jalan raya komplek bolak-balik karena kalau mau berputar belum ketemu jalurnya dan pastinya akan lebih dari 5 km (3 mil lebih), jadi untuk sementara ini masih jadi rute comfort zone saya tiap weekend.

Rute Taman Tebet

Rute Taman Tebet
Ada dua taman di Tebet Barat yang letaknya bersebelahan. Taman Honda dan Taman sebelahnya yang saya tidak tahu namanya. Nah, saya biasa lari di taman yang saya tidak tahu namanya. Kalau taman Honda satu kelilingnya hanya 400m dan lebih ramai sama orang pacaran daripada orang olahraga. Kalau taman yang saya tidak tahu namanya satu keliling 800m, walaupun kadang suka agak bau kali tapi tempatnya adem dan kontur tracknya tanjakan turunan jadi seru. Yang lari disitu juga lumayan serius larinya. Biasanya saya lari setiap selasa dan/atau kamis, dan ada beberapa orang tertentu yang selalu ketemu di hari dan jam yang sama. Kalau pagi banyak opa-opa dan oma-oma. Saya biasa lari sore, di jam pulang kantor. Jadi kalau ada yang mau lari di taman tebet hari selasa atau kamis sore, kemungkinan besar akan ketemu saya ;)

Selasa, 01 September 2015

Peliharaan-Peliharaan Tante

Sama seperti orang-orang yang saya kenal sepanjang kehidupan saya datang dan pergi, begitu pun yang terjadi dengan hewan-hewan peliharaan yang ada di rumah saya.

Ingatan pertama saya tentang hewan peliharaan kejadiannya ketika saya masih usia sekolah TK , dan itu bukan kenangan yang indah. Yang saya ingat pulang dari luar kota sama keluarga, kelinci peliharaan yang baru beberapa hari tergeletak nyaris tak bernyawa di muka pintu belakang rumah karena kelaparan. Beberapa saat setelah ditemukan nyawanya tidak tertolong dan hewan malang itu pun menghembuskan napas terakhir.

Sempat pindah-pindah rumah kontrakan di masa kecil saya membuat saya tidak pernah punya hewan peliharaan lagi. Beberapa kali saya berusaha memelihara keong-keong kecil yang dijual di depan sekolah SD saya, tapi umurnya tidak pernah lebih dari sehari. Waktu itu saya sempat berpikir, mungkin supaya hidupnya tahan lama keong itu harus dikembalikan ke habitat asalnya, yaitu air laut. Jadi saya ambil baskom, saya isi air dan garam, diaduk-aduk, kemudian saya cemplungin keong yang baru saya beli. Alhasil keong itu langsung terpisah dari cangkangnya. Sampai sekarang masih jadi misteri, kenapa bisa jadi kayak gitu ya?

Ketika saya kelas 6 SD akhirnya kami sekeluarga tinggal di rumah permanen (bukan rumah kontrakan) yang hingga sekarang masih kami tempati. Waktu lagi bermain-main di halaman samping saya menemukan seekor burung yang tampak sakit dan gak bisa terbang. Waktu itu kebetulan lagi ada guru les gambar adik saya, namanya Pak Budi. Menurut Pak Budi burung itu namanya burung cicit emprit. Saya pun langsung memutuskan akan merawat burung malang itu dengan penuh kasih sayang hingga pulih dan bisa terbang melayang ke angkasa dengan ceria bergabung bersama kawan-kawannya.

Saya menemukan keranjang anyaman rotan bekas parcel lebaran, setelah minta ijin sama Mama Said buat pakai keranjang itu saya alas bawahnya pakai kain-kain bekas. Kemudian burung yang sakit itu saya balut dengan handuk kecil dan diletakkan di keranjang. Malam harinya karena khawatir dia takut ditinggal sendirian di ruang tamu saya bawa ke kamar saya yang ber-AC. Keesokan paginya ketika saya bangun saya mendapati burung cicit emprit itu tak bernafas, kaku dan kering. Sepertinya dia mati kedinginan. 

Niat baik saya merawat burung itu malah berujung petaka baginya. Saya menyampaikan permintaan maaf kepada burung malang itu dengan menggali kubur di halaman samping rumah dan menebar bunga di atas kuburannya.

Suatu hari di halaman rumah saya ada jejak bercak-bercak darah berceceran yang ketika diikuti mengarah ke seekor anjing kampung putih yang bersembunyi di sudut garasi, tampangnya takut dan kesakitan. Setelah diamati ternyata satu kaki belakangnya dipotong orang pas di lutut dan mengeluarkan darah. Tatapan matanya meminta pertolongan. Setelah diberi susu yang awalnya dengan ragu diminum sama dia, akhirnya anjing itu mau kakinya diobati oleh Papa Said. 

Kami menamai anjing betina malang itu Kati - Kaki Tiga. 

Sehari setelah Kati tinggal di rumah kami, muncul temannya, anjing kampung betina kurus tinggi berwarna coklat. Karena dia juga akhirnya memutuskan menetap menemani Kati akhirnya saya beri nama juga - Ceking. Selama lebih dari 10 tahun Kati dan Ceking menjadi anggota keluarga kami, mereka doyan banget makan Astor. Seneng banget kalau disuapin Astor. 

Ceking sempat hamil diluar nikah (misteri siapa bapak dari anak-anaknya tidak pernah terkuak) dan melahirkan 4 ekor anak anjing, 3 ekor berwarna hitam dan tumbuh menjadi anjing hitam legam besar, 1 ekor lagi (anehnya) mirip Kati - pendek, putih dengan bercak coklat mirip sapi perah. Karena terlalu banyak peliharaan akhirnya anak-anak Ceking diberikan ke tetangga, teman Mama Said dan tante saya yang kepingin punya anjing. Padahal sempat ada dua anak Ceking yang saya kasih nama Pit dan Bleki sudah pintar banget, bisa diajak salaman, bisa disuruh berdiri dua kaki, bisa disuruh duduk. Saya yang ngajarin donk. Tapi anak-anak itu punya kebiasaan buruk suka gigitin sendal tamu yang berkunjung ke rumah, kalau sendal orang rumah sih ga digigit, cuma sendal tamu aja.

Suatu hari tiba-tiba Ceking menghilang entah kemana, mungkin menemukan belahan jiwanya dan memutuskan menghabiskan sisa hidup bersama anjing jantan pujaan hatinya itu. Tinggal Kati yang ada di rumah, hingga makin lama anjing betina lucu dan pintar itu semakin tua dan sudah lebih sering duduk sambil benging memandang keluar halaman. 

Kati meninggal di usia tua, kata Papa Said seperti sedang tidur di dalam kandangnya sendiri. Saya tidak ada disaat-saat terakhir hidup Kati karena waktu itu saya sudah kuliah di Bandung. 

Di kos-an saya pernah pelihara hamster yang saya beli di depan BIP. 

Waktu itu kawan satu kos saya punya peliharaan burung hantu kayak punya Harry Potter. Kamar saya sebelahan sama garasi mobil tempat dia menaruh kandang burung hantu nya, jadi saya sering dengar dia ngomong sama burung nya, "Lucky, sekarang kamu makan jaaaang....krik." Ngomongnya pake suara sok manis padahal orangnya laki, tinggi, besar.

Lucky itu lucu banget, kepalanya goyang-goyang kiri kanan kalau dengar lagu hip hop. Waktu itu kawan saya dengan sombong pamer, "Mil, Mil, liat nih si Lucky bisa joget," trus dia pasang lagu hip hop.. eh beneran loh burung nya kepalanya goyang ke kiri trus goyang ke kanan ngikutin beatnya. 

Saya Iri.

Dipenuhi perasaan kompetitif pengen punya peliharaan yang keren dan bisa dipamerin juga saya pergi ke depan BIP - Bandung Indah Plaza. Jaman saya muda di depan pelataran BIP itu memang mirip kebun binatang, segala macem binatang di jual disitu, dari mulai yang biasa-biasa aja kayak kelinci sampai hewan dilindungi kayak monyet, kukang dan burung hantu. Disitulah saya memutuskan mau pelihara Hamster. 

Dari 2 ekor hamster tiba-tiba jadi banyak dalam waktu beberapa bulan. Sepertinya mereka terus bereproduksi. Saya beli satu lagi kandang hamster yang kecil. Kemudian ada tragedi di kandang kecil itu. Saya tidak tahu kalau salah satu hamster yang saya letakkan di kandang kecil itu punya anak, tiba-tiba waktu saya pulang kuliah kandangnya sudah berdarah-darah dimana-mana kayak habis ada pembantaian. Bayi-bayi hamster tanpa kepala berceceran tak bernyawa. Satu hamster bermata merah tampaknya pelaku ganas pembantaian bayi-bayi monster itu, memandang saya dengan kejam dari balik kandangnya. Saya bahkan sempat melihat monster hamster mata merah itu nunjukin taring-taringnya, sumpah. hiih... Langsung sore itu juga saya berikan secara cuma-cuma ke abang penjual binatang di depan BIP. 

Periode memelihara hamster diakhiri dengan mati masal hamster-hamster saya sekandang. Saya curiga tragedi itu terjadi karena kesalahan saya tidak mencuci bersih sayuran yang saya beli dari pasar simpang Dago. Saya buru-buru cucinya terus langsung saya kasih makan ke hamster-hamster itu karena sudah nyaris telat kuliah. Malamnya pas saya pulang, semua hamster saya sudah tergeletak tak bernyawa. Innalilahi.

Tahun terakhir masa kuliah saya di Bandung, saat itu Chacha juga sudah gabung kuliah di Bandung jadi Papa Said kontrakin rumah buat kami berdua di kawasan Dago Pakar, saya sempat pelihara kura-kura brazil yang saya beri nama Hanamichi Sakuragi. Itu loh cowo rambut merah yang jago main basket di komik jepang Slam Dunk. Saya juga ga tau kenapa saya kasih nama itu, tiba-tiba pas saya lihat muka kura-kura brazil imut yang ukuran badannya cuma setelapak tangan saya itu tiba-tiba kepikiran aja nama Hanamichi Sakuragi.

Sempat ada perdebatan antara saya dan kawan saya, Slamet (bukan nama sebenarnya), yang nganterin saya ke jalan karapitan buat beli si Hanamichi Sakuragi. Kami berdebat si Hanamichi itu cewe atau cowo, soalnya dia kayaknya ga terima kalau saya langsung kasih nama cowo padahal gendernya masih belum jelas. Tapi saya yakin banget sama nama itu, seolah-olah si Hanamichi itu sendiri yang memperkenalkan namanya ketika ketemu saya. Walaupun agak aneh ya seekor kura-kura brazil dengan nama jepang.

Hanamichi Sakuragi saya letakkan di dalam kandang kecil bekas Hamster yang masih saya simpan, yang pernah terjadi tragedi pembantaian bayi-bayi hamster oleh monster hamster bermata merah. Waktu itu belum ada toll cipularang, jadi kalau mau pulang ke Jakarta dari Bandung naik kereta api. Setiap saya pulang ke Jakarta saya selalu bawa Hanamichi Sakuragi, saya pangku dia di dalam kandangnya yang sudah saya hias pakai batu-batuan di atas kereta. Hanamichi tampak sangat bahagia, mungkin dia adalah kura-kura yang dilahirkan sebagai traveler.

Tidak sampai 3 bulan usianya, Hanamichi Sakuragi saya temukan tergeletak tak bernyawa di dalam kandangnya. Beberapa kemungkinan penyebab matinya adalah sebagai berikut: terlalu banyak kasih makan, keberatan nama, atau mati kesepian karena gak tahan sendirian di kandang cuma bisa ngobrol sama batu.

Sempat ada periode beberapa tahun tanpa peliharan, kemudian datanglah era drama perkucingan di rumah saya. 

Di awali dari 4 ekor bayi kucing yang di terlantarkan oleh ibunya di pekarangan rumah saya. Dari 4 hanya 2 yang survive, saya kasih nama Snowy (karena warna putih polos) dan Bubu. Snowy tumbuh menjadi kucing betina yang cantik dan anggun, gaya jalan dan makannya ala-ala princess gitu. Snowy adalah idola kucing-kucing garong yang ada di sekitar rumah. Kalau datang musim kawin kucing di halaman rumah selalu ramai oleh kucing-kucing jantan yang berkelahi memperebutkan perhatian Snowy. 

Persaingan paling ketat terjadi diantara dua ekor kucing jantan yang paling kuat di area Jatibening dan sekitarnya. Seekor kucing yang lumayan ganteng, warnan putih bercorak abu-abu, badannya besar dan kekar dengan muka persegi yang menambah kemachoannya, saya kasih nama Henry. Satu lagi kucing garong dengan warna hitam pekat di seluruh tubuh, tinggi tapi lebih langsing dari Henry, saya beri nama Temi Blekedet, temi nya itu item dibalik, sementara blekedet itu kan kalo ditulis pakai bahasa inggris jadi black-cat-dead....dibaca cepet jadi blekedet.

Karena Henry lebih ganteng dan kekar, Snowy memilih Henry dan melahirkan 4 ekor anak. Sama seperti generasi pertama, dari 4 anak kucing yang berhasil hidup sampai besar hanya dua ekor, satu ekor kucing jantan yang saya beri nama Babu (karena motifnya mirip pamannya, Bubu, jadi dikasih nama Baby Bubu) dan seekor kucing betina saya beri nama Kucan (kucing macan karena warna bulunya mirip macan).

Sementara itu saudara laki-laki Snowy, si Bubu, tumbuh menjadi seekor kucing yang judes, galak, sinis dan pemarah. Sering cari gara-gara sama kucing garong yang melintas di dekat rumah tapi selalu kalah dan akhirnya cuma bisa ngumpet di dalam rumah minta perlindungan dari orang-orang rumah. Musuh bebuyutannya adalah Henry. Bubu selalu cari gara-gara kalau Henry datang, tapi ketika Henry marah dan Bubu merasa terpojok dia akan mengeong keras memanggil pertolongan dari orang rumah yang sudah pasti akan datang mengusir Henry dan menyelamatkannya.

Snowy sempat hamil dan melahirkan lagi. Pada saat anak-anak nya masih bayi dan waktunya dipindah-pindah tempat ada seekor rubah yang mengintai. Anaknya hilang satu per satu, hingga suatu hari Snowy berhadapan dengan rubah yang mau memakan anaknya. Terjadi perkelahian, hidung snowy robek karena cakaran rubah, untungnya saya dan chacha segera keluar rumah karena dengar ribut-ribut. Begitu rubah melihat kami dia langsung kabur. Tapi anak Snowy yang tinggal satu sudah terlanjur tewas dibunuh oleh rubah kejam sadis itu. 

Sejak peristiwa itu Snowy jadi pemurung, sering bengong dan malas makan. Yang tadinya kucing idola para kucing jantan se-jatibening yang cantik, anggun seperti princess, lambat laun mulai kumal, kurus, bulu-bulu rontok, dan hidungnya yang di cakar rubah tidak bisa sembuh seperti sedia kala. Suatu hari Snowy menghilang. Saya dan Chacha menduga Snowy jadi gila, berkeliaran tanpa arah di komplek sambil mencari-cari anaknya mengeong-ngeong, "anakku dimana, anakku dimana..." Tragis sekali nasibnya.

Anaknya Snowy yang saya kasih nama Babu di adopsi dan dimanja berlebihan sama Chacha. Makannya gak mau sembarangan, musti whiskas. Dikasih fried chicken aja gak mau sembarangan, musti KFC atau Four Fingers, dan jangan harap mau dikasih tulangnya, maunya daging dan kulitnya yang crunchy. Camilan kedoyanannya Mayonaise Hokben. Tidurnya ga mau dilantai, musti di atas kasur atau dialas kain bersih. 

Walaupun kucing jantan tapi warna favoritnya pink, saya juga gak yakin kucing itu bisa bedain warna atau enggak, tapi Babu kalau ada sesuatu warna pink Babu selalu tertarik kesitu. Seperti misalnya selalu memilih untuk tiduran di keset warna pink padahal banyak keset-keset dengan warna lain. Waktu saya punya sepatu pink dan saya letakkan di depan pintu kamar, Babu memilih untuk tidur diatas sepatu saya dan menolak diusir.

Saya tidak pernah akur sama Babu. Dia selalu cari masalah sama saya. Kalau saya marahin dia bakal ngambek melengos dan cemberut di atas rak diantara panci-panci sampai Chacha datang trus dia sok-sok manja tidur diatas kasur Chacha dalam kamar yang ber AC. Kalau saya lengah dia akan membalas dendam menggigit betis saya.

Suatu hari Babu yang manja dan gendut pernah berantem sama kucing garong. Saya lupa, pokoknya antara Henry dan Temi Blekedet. Lehernya luka hingga terpaksa dibawa ke dokter hewan dekat rumah, dijahit dan disuntik antibiotik supaya tidak infeksi. Terakhir kali Babu kembali ke dokter hewan itu ketika tiba-tiba Babu jatuh sakit. Tidak mau makan dan lemas. Ketika dibawa ke dokter katanya Babu kena virus yang menyerang bagian leher. Cepat sekali dia kurus, di saat-saat terakhirnya Babu sudah seperti tulang berbalut kulit. Kemudian sudah tidak kuat berdiri dan batuk-batuk, keluar lendir seperti dahak dari mulutnya. Malam itu saya dan Chacha sempat membawa Babu kembali ke dokter hewan, tapi tampaknya nyawanya memang sudah tidak bisa tertolong.

Malam itu, sedikit lewat tengah malam saya mendengar Chacha berteriak dari kamar sebelah, "Babu kamu kenapa? Kaaakkk.. Babu kaaak... Babuuuuuuuu...." Saya bergegas ke kamar sebelah, membuka pintunya dan mendapati Chacha lagi bercucuran air mata dengan Babu di pangkuannya. Sudah kaku tak bernyawa. Paginya dilakukan prosesi penguburan Babu, sorenya Chacha menghias kuburan Babu dengan bunga Lili yang di beli di toko bunga di tebet.

Babu punya satu saudara bernama Kucan, yang kemudian melahirkan anak-anak yang saya kasih nama Kucir dan Bluwek. Kucir juga pernah dibawa ke dokter hewan karena hamil di usia yang masih sangat muda, kehamilan dini akibat pergaulan bebas. Alhasil karena terlalu kecil dia belum bisa melahirkan anaknya, jadi anaknya tersangkut ketika mau dilahirkan. Dibawa ke dokter hewan ternyata sudah tidak bisa ditolong. Jalan satu-satunya hanya operasi tapi Kucir belum bisa di operasi cesar karena terlalu kecil, resikonya terlalu besar. Akhirnya sama dokter dikasih obat pencahar untuk membantu mengeluarkan anaknya. Tapi rupanya Kucir sudah terlalu banyak mengeluarkan darah ketika pendarahan sehingga nyawanya juga tidak tertolong.

Bluwek kucing kesayangan saya. Lucu, lincah dan mukanya cantik. Saya kasih nama bluwek karena sejak lahir warnanya pudar kayak kain yang sudah keseringan dicuci atau kebanyakan pemutih. Bluwek suka nonton tivi, apalagi kalau ada acara nyanyi-nyanyi dan warna warni. Jadi setiap acara Inbox di SCTV, Bluwek akan duduk paling depan TV. Dia juga suka liatin saya main iPad dengan keponya pengen coba garuk-garuk layarnya, pake kuku. Bluwek juga suka banget masuk tas, kantong plastik, ember, pokoknya wadah-wadah yang terbuka. 

Kucing-kucing di rumah saya yang tersisa, selain Babu, direlokasi sama Mama saya menjelang acara kawinan Chacha. Katanya kalau kebanyakan kucing dirumah nanti si Chacha bisa kena penyakit apa itu yang kalau hamil anaknya dimakan sama virus atau bakteri dari bulu kucing? Ironisnya kucing kesayangan si Chacha ga direlokasi, malah Bluwek yang harus tereliminasi. Eh terus kawinannya batal pula. Sekarang saya tidak tahu dia ada dimana, semoga ada orang yang menyadari kelucuan dan kepintarannya sehingga mengadopsi dan memberinya tempat tinggal yang layak dan makanan yang enak-enak.

Sekarang di rumah saya sudah tidak ada kucing, tapi masih ada dua ekor kelinci peliharaan Chacha yang saya kasih nama Gonjes (karena blasteran jadi bulunya gondrong) dan Cincha (nama panjangnya Cincharoura pake logat bule). Kayaknya di rumah yang suka kasih-kasih nama hewan peliharaan cuma saya aja deh. Papa Said gak kasih nama cuma suka rubah-rubah nama yang saya kasih, Babu jadi Babaluba, Gonjes jadi Gonjreng.

Sementara itu Papa Said pelihara ayam banyak banget, ayam-ayam kampung yang liar yang kalau punya anak tiap sore saya terpaksa musti ikut ngumpulin ngejar-ngejar nangkep anak ayam dimasukin kandangnya disuruh sama Papa Said, supaya gak dimakan tikus katanya. Selain ayam kampung ada sepasang ayam Arab dan 3 ekor ayam kate. Ayam-ayam kampung itu selalu pingin tau sama tanaman saya, kalau sampai ada satu yang berhasil masuk ke kandang tanaman saya langsung deh mengacak-acak dan mencabut semua tanaman yang ada disitu, tapi anehnya mereka gak peduli sama tanaman yang tidak dikandangin. Tampaknya memang hanya cari gara-gara. 



Minggu, 02 Agustus 2015

Dari kebun langsung ke perut

Saya tertarik dengan satu teori yang pernah saya baca di suatu tempat. Sayangnya saya lupa dimana sumbernya, udah lama banget. Teori itu menyatakan kalau apa yang kita makan akan bermanifestasi di dalam diri kita. Misalkan kalau kita makan sapi yang semasa hidup nya tidak bahagia, maka yang memakannya juga bisa merasakan emosi yang sama. Apalagi kalau ketika di pejagalan sapi tersebut mengakhiri hidupnya dengan perasaan takut dan resah, perasaan itu terbawa ke serat-serat dagingnya yang kita makan dan di pencernaan kita diproses dan ikut terbawa ke aliran darah di tubuh. 

Jadi kalau kita sering merasa gak tenang, galau, pengen marah terus atau tiba-tiba merasa sedih sendiri sampai depresi, jangan-jangan sebenarnya itu perasaan hewan ternak yang eksistensinya merupakan hasil rekaya dan manipulasi manusia sedemikian sehingga mereka merasa hidupnya hampa dan tidak bahagia karena harus berakhir di pejagalan pada usia yang relatif muda sementara nenek moyangnya bisa hidup hingga 10 kali lebih lama. Mereka yang lahir karena inseminasi buatan, bukan hasil reproduksi natural dari hewan jantan dan betina kemudian jadi daging yang kita beli di supermarket atau restoran untuk dimakan.

Saya pernah deh waktu itu ngebahas soal sapi ternak disini 

Gak ada bukti scientific yang berkaitan dengan teori ini sih, tapi menurut saya itu menarik.

"We are what we eat."

Setelah lebih dari satu tahun mulai menanam sayur-sayuran, saya jadi sadar kalau tanaman juga bisa terlihat sehat dan bahagia. Gak tau ini nyata atau hanya sugesti saja, tapi ketika dimakan rasanya berbeda - lebih segar, juicy dan tidak ada rasa sepah. Mudah-mudahan teori diatas itu benar, saya berharap kalau tanaman-tanaman yang saya besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang itu tumbuh menjadi tanaman yang bahagia dan yang memakannya juga merasa ikut merasa bahagia. 

Tomat Cherry manis 

Semua yang di piring kecuali ikan dan bawang dari kebun princess

Tumis Kangkung

Sampai saat ini, karena memang juga tidak banyak, mayoritas yang saya tanam untuk dimakan sendiri. Tapi pernah juga saya menyumbang kangkung, kacang panjang dan terong ungu ke mama said untuk dimasak. Ya tapi ujung-ujungnya saya juga yang makan.

Waktu tanaman buncis dan kacang panjang berbuah, saya suka gak tahan godaan buat metikin satu-satu dan memakannya langsung mentah-mentah dan ternyata enak. Bayam, kangkung, sawi yang langsung dipetik juga masaknya gak ribet-ribet, cuma ditumis pakai bawang dan cabe saja udah enak banget. Cabenya juga hasil kebun sendiri tentunya. Dikukus sebentar juga enak, rasa manis sayurnya lebih terasa. Saya malahan pernah campur daun bayam mentah di salad. 

Sawinya memang kurang besar karena di tanam di polybag, tapi tampak segar kan?

Seikat kangkung

Kadang saya suka sedih lihat daun bayam dan kangkung yang lesu di supermarket, mungkin mereka lelah karena sudah melalui perjalanan panjang dari tempat nya ditanam, ditambah penantian panjang di pendingin swalayan. Apalagi kalo liat harganya, jadi sensitif banget karena teringat kalau panen bayam dan kangkung di rumah daunnya besar-besar dan segar karena belum dehidrasi. Sayur juga bisa dehidrasi kayak manusia. Sayangnya keterbatasan waktu dan lahan membuat saya jadi ga bisa makan sayur hasil tanam sendiri setiap hari.

Saya pernah bilang kan kalau saya gak suka terong ungu. Saya cuma senang menanamnya saja. Tapi penasaran juga karena menurut orang di rumah rasanya lebih manis dari yang biasanya beli, minggu lalu saya mulai coba makan terong. Awalnya cuma di goreng biasa untuk dimakan pakai sambal, sengaja saya petik terong yang ukurannya paling kecil. Kemudian saya ada ide buat menggorengnya pakai tepung ala-ala tempura, ternyata enak juga. 



Jumat, 19 Juni 2015

Menanam Terong


Saya tidak pernah suka makan terong ungu.

Sama seperti saya tidak pernah suka makan jengkol, pete dan paria. Bukan karena gengsi tapi karena memang tidak suka rasanya.  Sementara di rumah saya sih sering banget muncul menu-menu masakan dari bahan-bahan yang saya sebut diatas. Soalnya orang rumah pada suka makan.

Kalau tidak suka makan terong ungu kenapa menanam terong?

Pasti pada mau nanya gitu kan? Kan? Kan?

Ya soalnya waktu saya google soal home gardening banyak tuh nemu gambar pohon terong ungu, terus saya suka. 

Udah gitu aja sih yang memicu saya buat menanam terong ungu dari bibitnya.

Saya beli dua macam bibit terong, Terong Taiwan dan Terong Ungu. Terong Taiwan sempat tumbuh subur dan berdaun lebar-lebar, ada 5 pohon di dalam pot saya beri nama Tau Ming Tse, Hua Ze Lei, Xi Men, Mei Zuo dan San Chai yang kemudian saya sebut dengan Terong Meteor Garden (Terong Kebun Meteor). Tapi mungkin karena tidak cocok dengan cuaca Jakarta  bekasi yang panas, jadi gak pernah sempat berbuah.

Sementara Terong Ungu dalam waktu 4 bulan mulai tumbuh bunga. Bunganya cantik sekali, warna kelopaknya ungu didalamnya putik nya (atau serbuk sari?) berwarna kuning. Karena saat itu cuaca lagi galau, sebentar hujan deras berangin kencang, sebentar panas terik,  maka bunga-bunga terong yang tumbuh pertama-tama itu ga ada yang jadi buah.

Bunga Terong
Satu hal penting yang saya pelajari dari berkebun adalah kesabaran menunggu. Eh tapi kalau soal kesabaran menunggu sih saya udah ahli dink, sabar menunggu jodoh yang tak kunjung datang…eaaaaa….

Ganti deh.

Satu hal penting yang saya pelajari dari berkebun adalah bahwa tumbuhan itu sudah tahu sendiri caranya survive buat dirinya sendiri. Jadi mereka tahu sendiri gimana menentukan waktu kapan harus tumbuh daun banyak, kapan daun nya musti berkurang, kapan berbunga, kapan berbuah.

Terong Taiwan saya yang gak pernah berbuah walaupun sempat berbunga satu kali, itu mungkin karena terlalu banyak energy yang dihabiskan pohonnya untuk survive dari cuaca yang terlalu panas buat dirinya sehingga udah ga ada lebihan buat berbuah. Dan tumbuhan itu kan berbuah sebenarnya tujuannya buat reproduksi lagi, kalau buat dirinya aja mereka gak sanggup survive mungkin mereka mikirnya ya buat apa bereproduksi disitu. Dengan catatan kalo gak ada bantuan atau rekayasa apa-apa dari manusia ya.

Saya sih selalu percaya tanaman-tanaman saya adalah tanaman yang tangguh dan mandiri, jadi yang saya bisa lakukan hanyalah memberi perawatan dasar, menjaga dari hama/kutu/ulat dan menunggu mereka siap sendiri untuk berbuah. Jadi gak dipaksain berbuah pakai pupuk buah atau nutrisi-nutrisi lainnya gitu, palingan sebelum ditanam tanahnya saya campur kompos aja. Begitu juga dengan cuaca. Kalau tanaman saya ngerasa betah dengan kondisi cuaca di kebun saya ya seneng banget, tapi kalau mereka ngerasa gak cocok ya saya gak mau maksain. Saya mah selalu demokratis ama taneman-taneman saya, membiarkan mereka memilih jalan hidup (atau mati?) mereka sendiri.

Papa Said memberikan sepetak tanah di kebunnya khusus untuk saya menanam apa saja yang saya mau. Supaya gak di ganggu ayam-ayam peliharaan Papa Said yang berandalan, saya dibantu Papa Said memagari bidang tanah punya saya itu.  Disitu saya memindahkan Terong Ungu yang mulai tumbuh besar dari Polybag ke tanah, sementara satu terong yang sudah mulai berbunga di pot tidak dipindah.

Baby Terong

Petak Tanah milik saya di kebon Papa Said, ada terong, cabe, buncis, kacang panjang

Hasil panen

Kira-kira satu bulan kemudian mulai muncul bakal buah terong berwarna ungu dari dalam bunganya Warnanya kontras dan cantik bangeeettt. Gak lama saya sudah bisa memanen Terong Ungu hasil kebun sendiri.

Menurut orang rumah yang pada mencicipi Terong Ungu hasil kebun saya, rasa terong nya manis dan enak.

Ya wajarlah, kan yang nanemnya juga manis…

Selasa, 13 Januari 2015

Ketika Tukang Makan Belajar Masak

Jam terbang yang jauh berkurang tahun lalu menyebabkan waktu di akhir pekan saya luang sekali. Semakin lama pergi keluar rumah di akhir pekan juga menjadi kurang menyenangkan. Pertama, sudah susah ngajak kawan seumuran saya buat jalan-jalan karena udah pada sibuk sama keluarga atau anak-anaknya yang masih pada kecil. Kedua, jumlah kendaraan di Jakarta makin membludak sehingga jalanan makin macet dan cari parkiran di tempat umum makin menguji kesabaran. Ketiga, nongkrong-nongkrong di cafe atau restoran makin lama makin mahal. Karena alasan-alasan itulah saya jadi lebih betah di rumah, cari-cari hal aneh yang bisa dilakukan selain baca buku seharian.

Sejak rutin lari pagi, setiap weekend saya lebih semangat bangun pagi daripada di hari biasa. Tapi setelah itu jadi bingung mau ngapain lagi. Saya ga suka nonton tivi karena di rumah saya tidak ada tv berlangganan, palingan sekali-sekali nonton DVD. Lama-lama keseringan menghabiskan waktu di rumah stok dvd dan buku jadi cepat habis, saya mulai cari-cari kegiatan lain. 

Berbekal koneksi internet yang memerlukan kesabaran saya mulai liat-liat tutorial masak di youtube. Saya mulai coba-coba bikin kue kering seperti oat chocolate cookies. Ternyata ga segampang yang dilihat di youtube, selama ini hasil eksperimen saya selalu menghasilkan cookies yang beda-beda setelah di bake, ada yang crunchy, ada yang kayak kue brownies, pernah juga keras banget kayak batu padahal ukuran resep dan cara yang saya gunakan selalu sama. Tapi mayoritas sih masih bisa dimakan sendiri.

Sampai akhirnya saya lupa sejak kapan saya mulai terinspirasi banyak makan sayur. Sejak itu saya jadi sering bawa makanan sendiri ke kantor. Tadinya  saya kurang suka sayur-sayuran, di rumah saya juga jarang ada sayuran. Papa Said bilang kita ga perlu makan sayur karena kan udah makan kambing yang makan sayur, jadi secara gak langsung dengan makan kambing kita makan sayur juga. Tapi setelah saya sering makan sayur - ga tau karena sugesti atau emang beneran ngefek - saya merasa lebih segar dan ceria. Setelah eksperimen menanam tomat saya berhasil, saya mulai membeli benih-benih sayuran dan menanam bayam, sawi, buncis, tapi selain bayam belum ada yang panen sih.

Sesering mungkin saya sempatkan bangun sejam lebih pagi dan nyiapin bekal makan siang untuk dibawa ke kantor yang menunya terdiri dari sayur-sayuran. Pernah karena tiap hari makan sayur, saya jadi lupa makan daging-dagingan, tiba-tiba kepala saya terasa pusing dan ringan, tubuh saya lemas, wajah pucat. Kemudian saya ngajak chacha makan steak daging dan langsung segar lagi.

Ada saat saya terobsesi banget sama pancake. Pengen bikin pancake yang tebel tapi empuk pas dipotong dan kalau dimakan tuh langsung kayak meleleh di mulut. Saya coba belajar dari bermacam-macam tutorial youtube tentang cara bikin pancake dan eksperimen sendiri sama bahan dan ukuran resepnya. Pernah pancake saya jadinya pahit banget karena terlalu banyak ngasih baking soda. 

Waktu lagi tren martabak nutela dan toblerone, saya coba bikin martabak sendiri. Walaupun ga mengembang banget kayak punya abang-abang tapi enak juga sih rasanya. Enaknya masak sendiri itu bisa cobain hal-hal aneh yang di restoran gak ada seperti misalnya Quinoa. Bijian-bijian ini rasanya mirip nasi jagung tapi lebih kering dan teksturnya krenyes-krenyes gitu, di makan sebagai pengganti nasi tapi bukan karbohidrat, malahan lebih banyak proteinnya jadi bagus buat diet katanya.

Sejak sering ke kudus dan coba yang anamanya Garang Asem, saya jadi suka banget makanan itu. Tapi di Jakarta susah banget cari garang asem. Kebetulan di kebon Papa Said ada pohon buah Belimbing Wuluh yang dipakai untuk bikin Garang Asem. Ketika Belimbing Wuluhnya berbuah saya pakai eksperimen untuk bikin Garang Asem pertama saya. Rasanya lumayan mirip, tapi kesalahan saya adalah pakai santan ngikutin resep, sementara yang saya makan di kudus waktu itu sepertinya sih tidak pakai santan. 



Dalam rangka merayakan ulang tahun chacha, saya dan pagit membuat acara camping pakai tenda di halaman rumah saya lengkap sama acara masak-masaknya, malem-malem kami masak mi instant pakai sawi dan wortel, paginya sarapan pancake dan makan siang Spaghetti oglio olio. Cerita lengkap bisa di lihat di blog pagit disini : Dua Malam dan Dua Hari di Bekasi


Jumat, 12 Desember 2014

Menanam Tomat

Hidup saya telah di domestikasi oleh tanaman Tomat.

Berawal dari keisengan ketika ke ACE Hardware, saya membeli sekotak starter kit untuk menanam tomat tanpa tendensi apa-apa. Murni cuma iseng aja, kalau tumbuh syukur, gak tumbuh juga ga apa-apa. 

26 April 2014 , walaupun belum saya sadari saat itu tapi momen tersebut adalah titik balik perubahan dalam hidup saya yang sebelumnya lebih banyak di luar rumah jadi malahan betah banget di rumah berkutat sama taneman-taneman. 

Momen tersebut mungkin mirip sama titik balik kehidupan Homo Sapiens era Jaman Batu yang nomaden ke era mereka mengenal Farming & Agriculture, mengenal caranya bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangannya dan mereka jadi harus menetap karena harus mengurus tanamannya. 

Saya pernah baca buku yang menyatakan bahwa spesies kita, Homo Sapien, mungkin mikirnya kita yang mendomestikasi gandum, padi, ayam dan sapi. Padahal kenyataannya bisa jadi sebaliknya. Manusia yang tadinya kehidupannya berpindah-pindah (nomaden) jadi harus menetap di satu tempat - menjadi domestik - untuk mengurus gandum, padi, ayam dan sapi. Sementara spesies gandum, padi, ayam dan sapi ikut menyebar ke seluruh belahan dunia dibantu oleh manusia yang menyebar mencari lahan baru untuk ditempati. Contoh nya padi yang awalnya di domestikasi di daerah Cina, bisa menyebar ke beberapa bagian dunia, termasuk di Indonesia.  

Nenek moyang tanaman tomat yang saya tanam ini asalnya jauh banget dari Amerika Tengah, tapi sekarang hampir di seluruh belahan dunia pasti ada aja yang menanam tomat.

Mengikuti instruksi di kertas nya saya menabur benih di atas media yang telah di basahi air dalam pot keramik, kesemuanya itu sudah satu set ada dalam starter kit. Dalam hitungan hari biji yang ditanam itu berkecambah, saya girang bukan kepalang. Maklum pengalaman baru. 

Kalau lagi dirumah, setiap jam bisa dua hingga tiga kali saya mengunjungi tanaman saya itu. Tentunya belum banyak perubahan. seminggu lebih baru muncul daun sejati dari kecambah tanaman tomat itu.

Minggu demi minggu berlalu, saya punya semacam log book yang mencatat perkembangan tanaman-tanaman saya setiap minggunya. Walaupun di bungkus starter kit tertera informasi kalau tomat yang saya tanam itu adalah tomat cherry jenis pendek, yang bisa di tanam di pot kecil, tapi entah kenapa tomat saya tetap menuntut wadah yang lebih besar. Saya sampai memindahkannya sebanyak 4 kali hingga mencapai ukuran pot besar. Pohon tomatnya pun tidak kecil imut-imut seperti gambar di bungkusnya, pohon tomat saya tumbuh tinggi dengan daun yang lebar-lebar sampai saya harus membuatkan kandang dari bambu untuk menyokong batang-batangnya. 

Setelah berminggu-minggu dalam wadah kecil pohon tomat saya seperti tidak mengalami perkembangan berarti. Salah satu pohon tomat saya sempat disusupi mahluk aneh jelek yang kata mama saya bernama anjing tanah - semacam kumbang berbadan keras dengan muka mengerikan dan bercapit, mereka memakan akar tanaman tomat saya hingga ludes sehingga daun-daunnya layu. 

Awalnya saya pikir pohon itu kepanasan, jadi saya pindah ke tempat teduh, ternyata makin layu. Ketika saya bongkar tiba-tiba mata saya menangkap pergerakan mahluk asing di dalam tanahnya, sama mama saya langsung di siram karbol potnya terus anjing tanah yang muncul di bejekin satu-satu pake sekop tangan. 

Pohon-pohon tomat lain yang selamat dari serangan anjing tanah kemudian saya pindahkan ke pot besar dan saya letakan di tempat yang lebih terkena matahari. Semenjak itu pertumbuhan pohonnya jadi cepat sekali, dan beberapa minggu kemudian saya melihat bunga kuning menyembul diantara daun-daunnya.


Waktu itu temperatur Jakarta Bekasi lagi panas-panasnya, kalau siang bisa mencapai 37 - 39 der celcius. Bunga-bunga kuning di pohon tomat saya mengering tanpa sempat berbuah. Yang saya bisa lakukan hanya memindahkannya kembali ke area di kebun saya yang terkena sinar matahari pagi tapi terlindung dari sinar matahari siang dan sore, kebetulan ada spot seperti itu di bawah pohon rambutan. Disitulah saya menancapkan kandang tomat dari bambu dan meletakkan pot-pot pohon tomat saya di dalamnya.

Keajaiban terjadi ketika saya pulang dari trip ke Lombok, ketika mengunjungi kandang tomat saya melihat ada satu pohon yang muncul buah sebesar kepalanya jarum pentul. Memang saat itu cuaca sudah mulai kondusif, hujan sudah mulai turun, malam hari sudah mulai sejuk dan siang tak sepanas sebelumnya. Pohon-pohon tomat saya tampak sangat segar, hijau dan bahagia. 

Tidak lama pohon tomat saya mengalami kebahagiaan, muncul pengganggu-pengganggu lagi. Lalat-lalat buah yang tiba-tiba jadi banyak di awal musim hujan  yang lembab. Lalat-lalat itu bertelur di daun-daun tomat saya. Telurnya kemudian menetas menjadi larva-larva yang memakan daun tomat dan menjadikannya kecoklatan dan layu. 

Can you see the tomatoes?

Baru kali ini dalam hidup, saya benar-benar menyaksikan bahwa satu kehidupan akan mengundang kehidupan-kehidupan lain. 

Mengikuti kemunculan lalat-lalat menyebalkan itu datanglah seekor laba-laba yang membuat jaring di atas kandang tomat saya seolah-olah menjaga dan melindunginya dari lalat. Yang nekad menerobos akan terekat di jaringnya. Semakin hari buah tomat saya yang tadinya hanya sebesar pentulnya jarum menjadi sebesar tomat cherry asli, laba-laba di kandang tomat saya pun tumbuh jadi besar sehingga saya bisa melihat jelas tubuhnya yang berwarna putih metalik garis-garis hitam.

Suatu hari minggu yang cerah ketika saya (seperti biasa) sedang mengamati pohon tomat, saya menyaksikan laba-laba itu keluar dari persembunyiannya dibawah salah satu daun tomat. Saat itu ada dua ekor lalat yang baru saja terjebak di jaringnya, masih bergerak-gerak berusaha melepaskan diri. Laba-laba itu dengan santai mendekati salah satu hasil tangkapannya, kemudian mengeluarkan semacam benang-benang halus dari badannya yang cepat sekali menyelimuti lalat yang sedang bergerak-gerak itu jadi kayak mumi. Rasanya seperti menonton acara perilaku hewan di NatGeo tapi secara live. Amazing banget.

Sayangnya satu ekor laba-laba tidak cukup melindungi pohon-pohon tomat saya dari sepasukan lalat yang menyebalkan dan menjijikan. Daun-daunnya masih saja diserang oleh larva-larva terkutuk itu.

Setelah menunggu hampir sebulan, buah tomat paling besar akhirnya bisa dipetik dan bisa dicicipi. Walaupun bentuknya kurang sempurna tapi rasanya itu adalah tomat paling enak yang pernah saya cicipi seumur hidup saya. Organik dan penuh kenangan.

Sweet, organic cherry tomato

Sabtu, 13 Februari 2010

My Australian Best Friend

Berawal di bulan Mei 2009, ketika takdir menyatukan kita dalam pekerjaan dimana kita berbagi suka dan duka bersama, melalui dunia maya. Sistem kerja kita memang agak unik, saya di Tambun dan Carly di Perth. Komunikasi antara kita ya hanya melalui e-mail dan chatting-an.

Sampai suatu ketika di penghujung tahun 2009, Carly di kirim ke Tambun untuk melihat dan mempelajari mengenai sistem di pabrik kita yang tercinta. Salahnya, karena saya yang ditunjuk sebagai guide, maka business trip tersebut jadi melenceng jauh ke acara leisure trip. Melenceng jauh dari Tambun, menelusuri Mall di Jakarta sampai ke kota Bandung.

Bagi Carly, ini merupakan kunjungan perdana ke Jakarta. Komentarnya ketika melihat gedung-gedung perkantoran, Mall-mall, mobil-mobil yang tumpah ruah di jalan raya dan kehidupan ibu kota yang ga ada matinya adalah, " WOW.. This is not Indonesia, This is New York." Selama ini anggapannya mengenai Indonesia itu adalah negara yang isinya sawah-sawah, pantai-pantai yang sunyi, hutan-hutan tropis lengkap dengan penduduk suku pedalaman yang masih mengenakan daun-daunan sebagai pakaian. Kenyataannya, menurut dia, bahkan di Australia sendiri ga ada Mall yang semegah Mall-Mall di Indonesia. Beuh.. kemana aja do'i.

Atas perintah dari Boss Besar, kita pun berangkat ke Bandung. Setelah beberapa hari di Tambun, Carly mengalami dehidrasi parah jadi boss besar memerintahkan saya untuk membawa Carly ke Bandung yang cuaca nya *katanya* lebih friendly. Baru dua jam di Bandung, Carly udah menjelma jadi selebritis. Kemana aja kita pergi, orang-orang berebutan mau foto bareng sama dia. Saya aja yang bertahun-tahun mondar-mandir di bandung, belum pernah ada orang yang minta foto bareng *ngiri*
. Pasti karena dia tinggi, putih, pirang sampai orang-orang ngira Carly adalah Paris Hilton *sirik*.

Yang menarik tentang Carly adalah, setiap saya tanya mau makan apa dia selalu bersemangat untuk mencoba makanan-makanan Indonesia. Favoritnya: Nasi Goreng dan Gado-Gado. Di Bandung saya ajak makan di Rumah Makan Sunda, semua menu di tanyain secara mendetil mengenai bumbunya, cara masaknya, cara makannya.. Kalau menjelaskan cara makan sih ga ada masalah buat saya. Tapi jelasin soal cara masak, apalagi bumbu *tepok jidat*, masak air aja gosong.

Pengalaman paling menarik buat Carly, katanya, adalah sewaktu naik becak. Ya siy.. kalo diliat tampangnya di atas becak itu.. pucat pasi. Mulutnya ga berenti-berenti nanya, "Is it safe? Is it safe?". Off course it is safe, secara ini tuh salah satu transportasi favorit dari generasi ke generasi hihihii... sayangnya tu anak belom sempet diajak naik bajaj. Sewaktu Becak membelok di tikungan tajam, sedemikian sehingga miring ke salah satu sisi, Carly pun berteriak, "We're gonna die." Ya ga sampe segitunya kali, Neng *pikir si abang becak*.


However, menyadur dari status fesbuknya Carly,"It's the best Business Trip ever," saya sebagai guide-nya jadi merasa tersanjung. Huhuhuu... kapan yah saya bisa sempet kunjungan balik ke Perth... Visa udah jadi, tapi kog kerjaan di sini masih belum bisa ditinggal pergi lama.. *hiks*

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...